
Risda dan Septia saling berpandangan, keduanya saling menguatkan tanpa ucapan. Itu hanyalah pertandingan biasa yang diadakan oleh pihak sekolah, akan tetapi rasanya seperti mereka akan berjuang mati matian untuk bisa mendapatkan kemenangan.
Risda dan Septia kini menjadi lawan dari kelas Xl Akutansi, dan dijuri'i oleh Bagas. Risda memiliki masalah pribadi dengan lelaki itu, sehingga membuatnya merasa gelisah kalaupun Bagas membuatnya seakan akan melakukan kecurangan nantinya.
"Kenapa harus lo sih?" Tanya Risda dengan kesalnya kepada Bagas.
"Apa lo? Awas aja nanti lo, Da. Gue akan buat lo mendapatkan kartu merah," Ancam Bagas.
"Nggak adil! Gue nggak mau tanding jika lo yang sebagai jurinya,"
Tapi apalah daya, Risda tidak bisa memundurkan diri karena teman temannya yang terus mengsuportnya. Risda merasa tidak nyaman dengan adanya lelaki itu, bahkan dirinya ingin sekali memundurkan diri saat ini juga.
"Tia, gimana nih? Rasnaya gue kagak ingin tanding,"
"Kenapa lo nggak bilang saja sama Renzo? Dia kan ketua OSIS, mungkin bisa mencarikan solusi untuk lo nanti. Coba aja," Saran Septia.
"Tapi, gue nggak ingin menganggu Renzo saat ini. Apalagi dirinya terlihat sangat sibuk,"
Risda pun menatap kearah Afrenzo yang tengah sibuk, entah begitu banyak hal yang harus ia lakukan saat ini. Afrenzo pun tidak bisa diam ditempat, dirinya terus berjalan kesana kemari untuk mengobrol dengan anggota OSIS yang lainnya.
Risda tidak mau menganggu lelaki itu, karena ia tau bahwa lelaki itu sangat sibuk saat ini. Dirinya tidak mungkin untuk meminta bantuan kepada lelaki itu, hanya karena masalah sepele seperti ini saja dirinya menganggu Afrenzo.
"Iya juga sih, Da. Dia kan ketua OSIS jadi dirinya sibuk banget. Sudahlah terima nasib saja, lagian gue juga nggak terlalu bisa kok,"
"Keputusan ditanggung akhir ya, Tia. Kalo kalah kagak papa,"
"Nah tuh. Keep strong untuk kita,"
Risda dan Septia pun melakukan sebuah tos, keduanya saling menguatkan satu sama lain. Ketika Septia lemah Risda lah yang menguatkannya, begitupun sebaliknya jika Risda lemah maka Septia lah yang menguatkan.
Perlombaan pun dimulai, Risda dan Septia langsung bergegas untuk menuju kearea pertandingan. Risda pun menganggukkan kepala yakin kepada Septia, begitu pun dengan Septia yang mengikuti apa yang dilakukan oleh Risda.
"Lo tenang aja, Da. Dia kagak bakalan bisa ngapa ngapain, lihat tuh ada Renzo disebelahnya," Ucap Septia setelah melihat keberadaan dari Afrenzo.
"Bagus. Sekarang gue yakin bahwa pertandingan ini akan adil," Ucap Risda sambil memancarkan sebuah senyuman tipis.
"Semangat."
Risda dan Septia langsung menempati tempat yang telah disediakan, keduanya memegangi sebuah raket dengan sangat erat. Keduanya merasa siap untuk mengikuti lomba bulu tangkis, dan keduanya berdiri dengan tegaknya.
"Pertandingan dimulai!"
Ketika sebuah Kok diletakkan diatas jaring pembatas, kok tersebut pun jatuh dibagian Risda dan Septia. Hal itu berarti bahwa keduanya yang akan memulai untuk melemarkan kok itu, dan dengan yakinnya Risda pun melemarkannya diudara dan langsung dipukulnya dengan menggunakan raket yang ada ditangannya.
Kok itu pun terpental kebagian musuhnya, dan langsung berhasil ditangkis oleh musuhnya itu. Septia dan Risda pun membagi tugas, Risda berdiri didepan septia untuk menjaga bagian depan, sementara Septia berada dibelakang Risda untuk menjaga dibagian belakang.
Pertandingan itu tidak berlangsung lama, karena Septia yang gagal untuk menangkis laju dari kok tersebut. Dirinya sudah berusaha sebisanya, akan tetapi hal itu membuat lawan mereka mendapatkan satu point.
Dilemparan kedua, Risda sendiri yang gagal untuk bisa menangkisnya. Keduanya kini impas karena keduanya melakukan kesalahan yang sama, Risda pun tertawa ditengah tengah pertandingan diikuti oleh Septia yang ikut tertawa.
Menang atau kalah memang sudah biasa dalam sebuah pertandingan, keduanya sama sama tidak mampu untuk bermain bulu tangkis, akan tetapi keduanya seakan akan menikmati lomba itu tanpa mengkhawatirkan kekalahan.
Pertandingan tersebut tidak berlangsung lama, karena mereka dapat mengetahui siapa pemenangnya. Risda dan Septia harus menerima kekalahan dironde pertama dan selanjutnya, sehingga tidak ada harapan untuk mereka bisa memenangkan pertandingan tersebut.
"Sudahlah, Da. Kita emang kalah," Ucap Septia ditengah tengah pertandingan.
"Bukan kemenangan yang dicari, Tia. Tapi pengalaman," Ucap Risda.
Meskipun dapat diketahui hasilnya, akan tetapi Risda masih tetap santai dalam permainan itu. Memang bukanlah sebuah kemenangan yang diincar oleh Risda saat ini, akan tetapi sebuah pengalaman yang mampu membuatnya lebih mengenal situasi perlombaan.
Afrenzo pernah mengatakan kepadanya tentang lomba beladiri, mungkin suasana seperti inilah yang dirasakan jika suatu saat nanti dirinya mengikuti lomba beladiri. Awal memasuki sebuah lapangan, Risda merasa gugup dan gemetaran, mungkinkah hal ini akan sama seperti yang dirasakan oleh para fighter.
Suasana pun menjadi heboh ketika melihat kelas musuh dari Risda itu menang dalam pertandingan, akan tetapi keduanya sama sekali tidak merasa kecewa karena kekalahan. Karena keduanya sudah mengetahui bahwa mereka akan kalah, dapat dilihat dari bagaimana cara musuhnya untuk bisa memukul kok tersebut.
Musuhnya itu begitu lincah, bahkan lemparan seperti apapun itu mampu untuk ditangkisnya. Meskipun keduanya kalah, akan tetapi pandangan Afrenzo mamancarkan sebuah senyuman tipis kepada keduanya. Hal itu langsung membuat Risda tersenyum kearahnya, senyuman yang begitu cerah merekah.
"Hai guyss!" Teriak Risda dengan semangatnya.
__ADS_1
"Udah selesai tandingnya?" Tanya Rizal.
"Selesai dong, dan gue ... kalah" Jawab Risda dengan terkekeh geli.
Baru kali ini ada orang aneh seperti Risda, bukannya sedih karena sebuah kekalahan justru dirinya tertawa dengan senangnya karena kekalahan. Bukan hanya dirinya yang mendapatkan kekalahan, akan tetapi dirinya juga mendapatkan sebuah pengalaman mengenai lomba bulu tangkis.
Emang Risda adalah cewek yang aneh, bukannya sedih seperti seseorang yang mendapat kekalahan pada umumnya, justru dirinya merasa senang karena sebuah kekalahan. Risda langsung mendapat beberapa tatapan tajam sekaligus tatapan malas dari teman temannya itu.
"Ya elah, kira in menang, rupanya kalah. Dasar pecundang," Ucap Farhan dengan sensinya.
"Halah, lo sendiri juga kalah. Dasar kagak ngaca diri," Ucap Risda yang ikut bernada sensi.
"Iya nih, emang dirumah lo kagak ada kaca, Han? Apa perlu gue pasangin kaca sekalian?" Tanya Septia sambil mengejek.
"Apa perlu gue buatin kotak sumbangan dana untuk buat beli kaca?" Tanya Risda dengan nada tajam.
"Emang kalian berdua gila!" Umpat Farhan dengan kesal.
Sangking kesalnya dengan kedua teman wanitanya itu, Farhan langsung bergegas keluar dari kelasnya dengan kesal. Dirinya pun pergi meninggalkan ruang kelas itu, hal itu langsung membuat Risda dan Septia tertawa cekikikan melihat kekesalan temannya.
Bagi mereka kekesalan yang lainnya adalah sebuah candaan, akan tetapi mereka tidak pernah membawa kekesalan tersebut sampai berlarut larut. Sekarang mereka memang kesal, akan tetapi berbeda cerita jika satu jam kemudian.
"Gue kira kalian bakalan menang tadi, nyatanya hanya main main dalam lomba," Ucap Rania malas.
"Gimana nggak main main? Musuh kita hebat tau, daripada berlarut larut dalam kekalahan, mending bersenang senang dalam mainan. Habis ini giliran lo, Ran. Lomba gigit sendok," Ucap Risda.
Ucapan Risda langsung membuat Rania merasa sangat malas, dirinya seakan akan tidak memiliki semangat untuk mengikuti lomba itu. Bukannya dirinya tidak ingin mengikuti lomba tersebut, akan lebih tepatnya dirinya merasa malu jika dilihatin oleh banyak orang.
"Lo mau gantiin gue kagak, Da? Gue males," Ucap Rania.
"Dih... Gue tadi minta ganti, kagak ada yang mau gantiin gue, sekarang lo datang buat minta ganti? Jangan harap."
"Ya elah, baperan banget sih lo, Da. Tubuh gue nih agak berisi buat lompat lompat, jadi gue kagak bisa lompat,"
"Bukan berisi, lebih tepatnya lo males olah raga."
Risda dan yang lainnya langsung bergegas untuk menuju ketepi lapangan menyaksikan lomba itu. Risda pun mendekat ke arah seseorang yang terlihat sangat sibuk itu, sebelum kesana dirinya membeli sesuatu terlebih dulu dikantin sekolah.
"Renzo, minum dulu," Ucap Risda sambil memberikan sebotol minuman kepada Afrenzo.
Afrenzo pun terkejut ketika melihat kedatangan Risda begitu saja, Risda lalu menyodorkan minuman itu ketangan Afrenzo, dan Afrenzo langsung menerimanya setelahnya. Afrenzo pun langsung mengajaknya untuk duduk disebuah kursi yang berada tidak jauh dari tempatnya itu, dan Risda mengikutinya begitu saja.
"Gue tau lo pasti capek, kan? Jadi gue beliin lo minum," Ucap Risda lagi.
"Thanks ya,"
"Lo minum dulu. Dari tadi lo kagak istirahat sama sekali,"
Afrenzo pun langsung membuka tutup botol plastik itu, dirinya pun langsung meminum minuman yang diberikan oleh Risda. Risda tau bahwa lelaki itu tidak bisa minum minuman dingin, sehingga dirinya membelikan minuman yang tidak dimasukkan kedalam lemari es.
"Gue balik dulu, kagak enak dilihatin siswa lainnya lama lama. Apalagi tatapan mereka yang menyebalkan itu," Ucap Risda kepada Afrenzo.
"Balik kemana?" Tanya Afrenzo.
"Lihat Rania lomba lah, habis ini juga yang lainnya ikut lomba," Ucap Risda.
"Iya. Thanks atas minumannya,"
Risda pun menganggukkan kepala pelan, dirinya lalu mulai bangkit dari duduknya. Risda langsung bergegas untuk pergi dari tempat itu, dirinya pun menuju kearah dimana Septia berada, sementara Afrenzo terus memperhatikan langkah kepergian dari Afrenzo sambil mengenggam minuman yang ada ditangannya itu.
Risda akan memperlakukan seseorang dengan begitu penting, jika orang tersebut juga memperlakukannya dengan sangat penting. Begitu pun dengan orang yang hanya menganggapnya sepele, dirinya bahkan mampu untuk memperlakukan mereka lebih dari apa yang mereka lakukan kepadanya.
Dalam pikiran Risda, jika mereka bisa berbuat sadis kepadanya maka dirinya juga mampu untuk berbuat sadis. Biar bagaimanapun juga mereka memakan apa yang Risda makan, dan baginya tidak ada perbedaan antara dirinya dan orang lain.
"Lo habis dari mana, Da?" Tanya Mira.
"Habis kekamar mandi, emang kenapa?" Jawab Risda beralasan.
__ADS_1
"Nggak papa sih, yok balik kelas," Ajak Mira.
"Balik? Bukannya kita mau menyaksikan Rania lomba ya?" Tanya Risda bingung.
"Lo telat! Rania udah kalah dibabak pertama juga," Jawab Septia dengan tegasnya.
Nyatanya kelas mereka tidak ada yang memenangkan lomba ditahun ini, mereka pun hampir saja frustasi karena kekalahan yang bertubi tubi. Akan tetapi mengingat perkataan Risda, membuat mereka justru tertawa.
Rania dan yang lainnya langsung bergegas untuk meninggalkan halaman tersebut, sementara Risda masih mematung untuk mencerna apa yang dikatakan oleh Septia itu. Dirinya hanya membeli minuman dan mengobrol sebentar dengan Afrenzo saja, nyatanya dirinya terlambat untuk menyaksikan perlombaan yang dilakukan oleh Rania.
"Kalah? Kok bisa?" Tanya Risda yang langsung mengejar teman temannya.
"Ini semua gara gara Rizal, Da. Salahin aja tuh orang," Jawab Rania kesal.
"Emang Rizal ngapain? Kok bisa bikin lo kalah sih," Tanya Risda lagi karena masih bingung.
Risda masih kebingungan dengan kejadian yang sebenarnya, mengapa Rania bisa kalah karena Rizal. Padahal keduanya berasal dari kelas yang sama, dan keduanya adalah bagian dari kelas tersebut.
"Tau nggak sih? Dia tuh bikin gue ngakak waktu lomba. Nah gara gara itu sampe buat sendoknya jatuh," Jawab Rania.
"Wajib kita basmi tuh hama," Seru Mira.
"Habislah kau Rizal, mending lo kabur dari kelas sekarang," Guman Risda yang menyesali nasib dari Rizal.
Setelah mengetahui bahwa Rania kalah karena ulahnya, Rizal pun langsung bergegas untuk meninggalkan lokasi perlombaan itu. Dirinya pun bergegas pergi entah kemana saat ini, yang pastinya dirinya segera bergegas meninggalkan lapangan sekolahan.
Mereka pun bergegas menuju kekelas dengan rasa kesalnya terhadap Rizal, dan mereka bergegas dengan dipimpin oleh Rania sendiri. Risda hanya mengikuti mereka dari belakang, dan sesekali cekikikan pelan melihat kekesalan teman temannya itu.
"Tia," Panggil Risda.
"Ada apa?" Tanya Septia tanpa menoleh kebelakang, karena memang Risda tengah berada dibelakangnya saat ini.
"Biarin mereka marah, ayo foto foto," Ajak Risda.
Kapan lagi mereka bisa mengabadikan sebuah kenangan seperti ini? Apalagi perlombaan itu tidak diadakan setiap hari, jadi Risda tidak ingin kehilangan kesempatan seperti ini. Mendengar itu langsung membuat teman temannya menghentikan langkahnya, mereka pun langsung menghadap kearah Risda.
"Foto bareng aja, Da. Mumpung semuanya lagi masuk sekolah saat ini," Ucap Mira.
Biasanya setiap harinya akan ada siswa yang tidak masuk sekolah, entah mereka sengaja bergantian atau gimana, akan tetapi selalu saja ada yang tidak masuk sehari dua hari. Dan sekarang adalah saat yang tepat karena seluruhnya sedang masuk sekolah, tanpa ada yang izin tidak masuk.
"Okelah, lo panggilin aja tuh yang lainnya. Kita kumpul ditaman kelas," Ucap Risda.
"Oke."
Rania dan Mira langsung bergegas untuk mengumpulkan siswa dikelasnya itu, dan yang lainnya juga tidak tinggal diam begitu saja melainkan ikut serta mencari teman teman sekelasnya. Setelah mereka semua berkumpul, mereka pun langsung berbaris untuk diambil gambarnya.
"Sudah kumpul semua?" Tanya Risda.
"Sudah kok, Da. Mereka sudah kumpul semua," Jawab Rania.
"Terus yang pegangin kameranya siapa?" Tanya Risda lagi.
Mereka pun langsung saling berpandangan, karena tidak ada yang mau memegangi kamera tersembunyi karena jika memeganginya maka dirinya tidak ada didalam foto tersebut. Percumah dong kalau mereka kumpul akan tetapi tidak ada yang mau memegangi kamera itu, karena tidak akan ada gambar yang diambil.
"Eh boleh minta tolong nggak?" Ucap Rania sambil menghentikan langkah kaki seorang gadis.
"Ada apa?" Tanya gadis dari kelas sebelah itu.
"Boleh fotoin kita nggak?"
"Mana sini ponselnya?"
Rania lalu menyerahkan ponsel miliknya itu, dan mereka semua langsung berpose senyaman dan sebagus mereka. Cukup lama mereka berpose, dan menghasilkan beberapa foto yang bagus bagus karena efek yang tepat bagi mereka.
Foto ini adalah sebuah kenangan, dimana mereka mengikuti banyak lomba akan tetapi sama sekali tidak mendapatkan sebuah kemenangan sedikitpun itu. Hanya kekalahan yang mereka dapatkan saat ini, dan masih ada hari esok untuk berjuang kembali demi mendapatkan sebuah kemenangan bagi mereka.
Besok adalah bagian dari final seluruh lomba, dan juga ada beberapa lomba yang harus mereka ikuti juga, termasuk hafalan Alquran, tajwid, puisi, vokalis, dan juga pelepasan sebuah balon udara dengan harapan harapan yang akan mereka tuliskan didalamnya.
__ADS_1