Pelatihku

Pelatihku
Episode 102


__ADS_3

Karena mereka yang merasa lapar pun langsung memesan makanan yang dijual oleh Ibunya Abdul. Mereka pun langsung menikmati makanan itu secara bersama sama, kebersamaan seperti inilah yang sering dinantikan oleh Risda akan tetapi dirinya sama sekali tidak pernah merasakannya, dan baru kali ini dirinya bisa merasakannya.


Betapa indahnya di saat mereka makan bersama sama seperti ini, bahkan Risda sendiri pun tidak ingin hari ini berakhir dengan cepatnya. Risda Masih ingin bermain bersama teman temannya, seandainya dia bisa menghentikan waktu dia ingin menghentikan waktu untuk saat ini.


Apalah daya dirinya yang tidak bisa melakukan hal itu, karena dirinya hanyalah manusia biasa yang tidak memiliki kekuatan apapun untuk bisa menghentikan waktu. Afrenzo yang pernah melarangnya untuk makan sambil berbicara, hal itu membuat Risda hanya mendengarkan teman temannya yang saling bercanda gurau.


Sesekali dirinya tersenyum, karena canda gurauan dari mereka semua yang seakan akan membuatnya tidak bisa berhenti untuk terus tersenyum. Bahkan hal seperti ini sama sekali tidak pernah ia rasakan, selama ini dirinya terus menyendiri tanpa memiliki teman.


Risda benar benar merasa seperti hidup untuk saat ini, dirinya ingin terus terusan berada di dekat teman temannya dengan saling canda gurau.


"Seandainya waktu ini bisa berhenti, gue ingin terus terusan berada di saat saat seperti ini. Tapi kenapa di saat saat seperti ini justru waktu berjalan lebih cepat daripada biasanya, apakah mungkin Tuhan tidak menginginkan aku untuk bahagia?" Batin Risda menjerit.


waktu seakan akan terus berjalan, tanpa terasa waktu itu sudah menunjukkan pukul 5 sore. hal itu membuat teman-temannya saling berpamitan untuk pulang, Risda ingin sekali mencegah teman temannya untuk pulang Akan tetapi teman temannya tidak bisa untuk tetap berada di sana, teman temannya juga memiliki keluarga dan mereka takut keluarganya itu akan marah.


Bahkan, ketika mereka bergegas untuk pulang ke rumah mereka, di pertengahan jalan Rania menghentikan motornya karena mengetahui bahwa Ayahnya sudah datang di sekolah itu untuk mencarinya. Melihat itu membuat teman temannya ikut serta menghentikan motornya, ketika tepat berada dijalanan di depan sekolahan.


"Ayah ngapain kemari?" Tanya Rania kepada Ayahnya itu.


"Kenapa kamu nggak pulang pulang? Ayah hanya takut kamu kenapa napa di jalan, kalau mau main setidaknya bilang dulu," Ucap Ayahnya kepada Rania.


"Tadi aku sudah bilang Ibu, Yah. Apa Ayah nggak diberitahu sama Ibu tadi?"


"Iya tadi sudah bilang tapi kenapa kok belum pulang pulang?"


"Maafin, Yah. Soalnya terlalu seru main sampai lupa waktu,"


"Ya sudah ayo pulang, keburu magrib dijalan nanti."


"Iya, ya udah guys.. gue pulang dulu ya?" Ucap Rania berpamitan dengan teman temannya itu.


"Yoi, hati hati dijalan," Ucap Risda.


"Kalo gitu gue sama Nanda juga sekalian pulang ya, soalnya sejalur," Ucap Septia.


"Iya," Jawab Risda.


Mereka pun langsung berpisah dari sana, kini hanya tersisa Mira dan juga Risda saja. Karena Mira menunggu jemputan dari Ayahnya, sementara Risda hanya menemani Mira, takut gadis itu kenapa kenapa nantinya kalo dibiarkan sendirian ditempat itu.


"Da, lo ngak papa kan pulang telat?" Tanya Mira yang sedikit takit kalo Risda dimarahi dirumahnya nanti.


"Santai aja, Ra. Gue sudah biasa soal itu, jadi lo nggak perlu khawatirin gue,"


"Bukannya gitu, Da. Kakak lo kan katanya galak, gimana kalo diomelin lagi?"


"Gue malah nggak mikirin sampai saja, Ra. Gue hanya ngerasa iri dengan Rania yang sampai dijemput Ayahnya, karena telat pulang kerumah padahal tadi kan sudah izin. Gue juga pengen seperti itu, Ra. Kapan ya gue bisa gitu?"


"Lo yang sabar ya, Da. Kebahagiaan seseorang beda beda, ada yang bahagia karena keluarganya tapi pertemanannya sangat buruk, ada yang bahagia karena temannya sementara keluarganya buruk, bahkan ada yang bahagia dengan orang lain yang tidak dikenalnya sementara orang yang dikenalnya selalu menorehkan luka."

__ADS_1


"Lo bener, Ra. Gue emang tidak beruntung kalau soal keluarga, tapi gue merasa beruntung memiliki orang orang yang baik seperti kalian. Bagi gue adanya kalian di samping gue sudah menjadi anugerah terindah, meskipun keluarga gue sama sekali tidak pernah menganggap gue ada,"


"Semangat, Da. Gue yakin lu bisa melalui ini semua, tidak ada manusia yang kuat tanpa diuji terlebih dulu. Seandainya gue jadi lo, gue pun tidak bisa seperti lo, lo tau sendiri kan gue itu cengeng. beda jauh dengan lo, lo itu sangat kuat, bahkan masalah apapun itu lo tetap bisa tersenyum sementara gue hanya masalah kecil saja sudah bikin gue nangis,"


"Tingkat kuatnya seorang itu beda, Ra. orang yang kuat bukanlah orang yang tidak bisa menangis, tapi orang yang kuat itu orang yang bisa menahan emosi meskipun harus menangis. Gue sudah biasa kalau soal diomelin dibentak tapi tapi gue tetap bisa nangis juga kok, gue tidak sekuat apa yang lo bayangkan, Ra."


"Tetep aja, Da. Bagi gue lo itu wanita yang sangat kuat, gue aja yang ditinggal Nyokap gue pergi ke pasar cuma sebentar sudah nangis, sementara lo untuk bertemu aja butuh waktu yang sangat lama. Bahkan gue sehari saja tidak melihat Nyokap gue, gue sudah merasa sangat sedih,"


"Sudah lah, Ra. Jangan banding bandingkan hidup lo dengan hidup gue. Tidak ada perbandingan antara matahari dan bulan, mereka akan tetap bersinar di waktu yang sangat tepat."


"Lo bener, Da. Itulah sebabnya Kenapa kita harus saling melengkapi, kalau lo punya masalah ceritakan ke kita jangan lo pendam sendiri. sekuat Apapun seorang wanita mereka juga bisa lemah di saat waktu tertentu,"


"Iya, Ra."


Keduanya pun saling melontarkan sebuah senyuman, bahkan di saat seperti ini Mira pun langsung merangkul Risda. Mira merasa senang jika berada di dekat Risda daripada yang lainnya, karena hanya Risda yang ketika diganggu tidak akan marah, tidak seperti lainnya yang diganggu akan sangat marah bahkan sampai bertengkar.


Tak beberapa lama kemudian, seseorang yang mengendarai sepeda motor pun berhenti di depan mereka. Orang itu tidak lain adalah Ayah dari Mira, Mira pun langsung melepaskan pelukannya itu dari Risda.


"Gue udah dijemput nih, Da. Gue langsung pulang dulu ya lo juga langsung pulang jangan banyak keluyuran di jalan, lo juga cewek."


"Iya dah, Ra. Hati hati di jalan ya, gue juga pulang dulu ya,"


"Oke, jangan lupa besok masih sekolah. Jangan datang telat,"


"Syiapp..."


Risda pun berusaha untuk mengendalikan perasaannya sendiri, agar air matanya tidak jatuh begitu saja. Dirinya pun langsung menyalakan motornya, setelah itu dirinya pun melajukan motornya untuk menuju kerumahnya.


Sesampainya dirumah, dirinya melihat Indah yang sedang duduk didepan rumahnya dan disebuah kursi yang ada disana. Risda pun merasa agak takut ketika melihat sosok Kakaknya itu, karena hari ini dirinya pun telat untuk pulang kerumah.


"Darimana saja kamu?" Tanya Indah dengan ketusnya.


"Maaf, Kak. Aku habis dari rumah temen tadi sama temen temen yang lainnya," Jawab Risda sambil menundukkan kepalanya.


"Kamu ini main saja, apa kamu nggak kasihan sama orang tua yang Banting tulang setiap harinya hanya untuk dirimu? Sementara dirimu hanya main mulu tanpa memikirkan pelajaran, mau jadi apa kamu kalau besar nanti? Apa kamu mau jadi gelandangan dijalanan ngak jelas?" Omel Indah dengan nada tinggi.


"Kapi Kak, kesuksesan orang itu beda beda, orang yang suka bolos pun belum tentu hidupnya akan sengsara, dan orang yang sering juara pun belum tentu hidupnya akan enak suatu saat nanti." Risda mencoba menjawab ucapan dari Indah, selama ini kata kata itu selalu dirinya pendam. Akan tetapi, entah kenapa hari ini dirinya berani untuk mengucapkannya.


Memang benar bahwa kesuksesan seseorang itu berbeda, bahkan orang yang tidak sekolah pun belum tentu mereka akan sengsara. Allah sudah menakar rezeki mereka masing masing sejak dalam kandungan, yang perlu dilakukan manusia hanyalah berbakti dan bekerja keras.


Soal rezeki sudah Allah yang ngatur. kita tidak akan tahu rezeki apa yang akan kita dapatkan, bahkan teman yang baik yang menuntun kita ke jalan yang benar adalah sebuah rezeki dari Tuhan. harta yang sangat berharga bukanlah uang, akan tetapi diberi hati yang sabar dan penuh lapang dada.


Orang yang memiliki banyak harta belum tentu memiliki rezeki sebuah kesabaran, sabar memang bisa diucapkan tapi tidak semua orang bisa melakukannya. semua orang bisa bilang sabar, tapi untuk menjalankannya tidak semua orang bisa melakukan itu.


"Mulai berani membantah kamu ya? Kalau nggak terima nggak usah pulang sekalian,"


"Sabarku juga memiliki batas, Kak. Ini adalah rumah kedua orang tuaku juga, dan Kakak tidak berhak untuk mengusirku dari sini,"

__ADS_1


"Dasar anak kurang ajar! Rumah ini sudah diserahkan kepadaku oleh kedua orang tuaku, apapun di sini harus mematuhi perintahku."


"Meskipun rumah ini sudah diserahkan padamu, aku juga masih memiliki hak atas rumah ini. Bukan hanya kamu anak satu satunya dari orang tuaku, kamu lupa bahwa kita ini saudara sedarah. Jika memang aku anak angkat, maka aku nggak berhak atas rumah ini, tapi nyatanya apa aku juga anak mereka!"


"Awas aja nanti aku adukan kepada Bunda,"


"Silakan saja, aku nggak takut soal itu. Aku nggak peduli jika aku harus kehilangan saudara sepertimu, mending orang lain yang tidak aku kenal akan tetapi mereka baik. bukan seperti saudara sedarah sepertimu,"


"Apa hanya karena latihan bela diri kau berani membantuku seperti ini?"


"Jangan salahkan beladiriku Kak, beladiriku sama sekali tidak salah. Setiap orang juga memiliki batas kesabaran, jangan salahkan aku jika aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri."


Brakkk...


Risda pun membanting pintu rumah itu dengan sangat keras setelah mengatakan itu, dirinya benar benar seakan kehabisan kesabaran untuk saat ini. Ia tidak mau kalau sampai dirinya bertengkar hanya karena hal ini, Risda tahu sendiri bagaimana emosinya itu, dan dirinya tidak ingin melukai orang lain di saat dirinya lepas kendali.


bantingan pintu yang sangat keras itu langsung membuat Indah merasa sangat marah, Risda sama sekali tidak peduli jika wanita itu marah. Karena dirinya juga merasa marah saat ini, bahkan kesabarannya seakan akan habis untuk menghadapi kakaknya itu.


Meskipun Risda mampu mengatakan itu, akan tetapi setelah dirinya sampai di kamar air matanya pun menetes. Ia pun menyesali perkataannya itu, seharusnya dirinya tidak mengatakan itu sebelumnya.


Ia tidak mau bersaudaraannya putus begitu saja, bagaimana bisa hanya memiliki dua bersaudara saja mereka sudah bertengkar. Risda hanya memiliki satu kakak dan indah juga memiliki satu Adik, tidak akan pantas jika keduanya bertengkar hanya karena masalah sepele.


Semenjak itu, Indah tidak lagi mengajari sedang untuk mengobrol, bahkan rumah itu terlihat sangat sunyi bagi Risda. karena sama sekali tidak ada percakapan di antara keduanya meskipun saling bertemu dan menatap.


Dista juga sangat malas untuk memulai percakapan dengan kakaknya itu, bahkan dirinya sama sekali tidak mau untuk berbicara dengan kakaknya itu. Rasa sakit di dalam hatinya pun semakin bertambah, akan tetapi dirinya tidak mau membuat hal itu menjadi dendam.


Keduanya memiliki sikap sangat keras kepala, bahkan keduanya sendiri pun sangat sulit untuk diatur. Keduanya memang tidak bisa dibilang, akan tetapi Risda masih memiliki hati, dan masih mampu untuk bersikap baik meskipun hanya sedikit.


Rasa sakit didalam dadanya itu pun langsung menyeruak begitu saja, dirinya merasa sakit hati ketika selesai mengatakan itu. Seandainya waktu bisa diputar kembali, dirinya hanya ingin berdiam diri tanpa menyahutinya, biar bagaimanapun juga keduanya adalah saudara sedarah.


"Maafkan aku," Ucap Risda lirih sambil merebahkan tubuhnya.


Dirinya benar benar merasa sesak saat ini, bahkan seperti tidak memiliki tenaga untuk berdiri lagi. Dirinya merasa menyesal akan ucapannya itu, akan tetapi semuanya sudah terjadi dan tidak perlu ada yang disesali lagi.


Meskipun menyesal seperti apapun itu, waktu tidak akan bisa diputar kembali. Bahkan yang terjadi memanglah harus terjadi, sudah sekian lama Risda bersabar untuk menghadap Kakaknya itu, akan tetapi kali ini kesabarannya sangat menipis.


Tok tok tok


Waktu sudah menunjukkan jam 9 malam, Risda terbangun dari tidurnya yang tiba-tiba itu ketika mendengar suara seseorang mengetuk pintu rumahnya. Sepertinya tidak ada yang membukakan pintu itu, sehingga orang itu terus terusan mengetuk pintunya.


Hal itu membuat Risda sangat terganggu, dirinya pun langsung melihat ke arah ponselnya yang menunjukkan pukul 9 malam itu. Dengan malasnya dirinya pun bangkit dari tidurnya, Risda lalu bergegas menuju ke arah pintu rumahnya.


Risda seakan akan ragu untuk membukakan pintu rumah itu, karena di jam semuanya orang sudah tidur tiba tiba ada tamu yang datang. Risda pun mematung di belakang pintu, dirinya pun bimbang antara dibukakan atau tidak.


Karena pintu itu yang tak kunjung dibuka hal itu membuat orang tersebut terus mengetuknya, sehingga Indah pun terbangun dari tidurnya. Indah pun mendatangi di mana di setiap berada, dan keduanya gini tengah berdiri berjajar.


melihat itu langsung membuat Risda bergegas untuk membukakannya, karena dirinya merasa sangat yakin bahwa tamu itu adalah penting, sehingga dirinya datang di larut malam seperti ini.

__ADS_1


"Anda...." Ucap Risda menggantung di saat mengetahui siapa orang itu.


__ADS_2