
"Gue ngak mau pulang," Cicit Risda pelan sambil menundukkan kepalanya.
"Sampai kapan lo disini?" Tanya Afrenzo sambil memincingkan sebelah matanya.
"Ngak tau, gue takut."
"Semuanya akan baik baik saja,"
"Lo yakin? Gue sama sekali ngak yakin soal itu, Renzo. Kakak gue galak banget, ucapnya sangat tidak enak dihati, gue masih belum siap untuk menerima ucapan tersebut nantinya. Gue ragu untuk pulang,"
"Jangan dengarkan,"
"Gue emang ngak mau mendengarkannya, Renzo. Tapi meski gitu, tetep aja kedengaran, dan sakit banget rasahya.
"Langsung masuk kamar, kunci pintu, tutup dengan bantal."
"Kamar gue ngak ada pintunya, dan hanya ditutup dengan kain doang sebagai kelambu,"
Mendengar jawaban itu langsung membuat Afrenzo melotot kearah Risda, bagaimana bisa kamar seorang gadis tidak ada pintunya apalagi didalam rumah itu tidak ada kedua orang tua Risda dan ia tinggal bersama dengan Kakak dan Kakak iparnya.
"Gue pernah minta untuk dipasangkan pintu, tapi kagak ada yang mau masang," Ucap Risda lirih karena tau maksud dari tatapan Afrenzo saat ini.
"Mau gue pasangin?"
"Ngak usah, yang ada malah ngerepotin lo lagi, Renzo. Mending lo jangan ketemu sama Kakak gue deh, gue takut nanti lo malah sakit hati,"
"Gue sudah biasa,"
"Maksud lo? Lo biasa kena ucapan seperti itu? Siapa yang tega ngomong kayak gitu ke lo?"
"Ngak penting, mending lo cepat pulang," Ucap Afrenzo sambil berjalan kearah motornya.
"Renzo!" Panggil Risda.
Mendengar panggilan itu langsung membuat Afrenzo berhenti ditempatnya, Risda langsung bergegas menghampiri pelatihnya itu. Kini Risda sudah berdiri dihadapan Afrenzo, sementara Afrenzo membuang muka dari hadapan Risda.
"Jangan bahas soal gue," Ucap Afrenzo dengan nada sedikit sebal.
Risda tau bahwa Afrenzo sangat tidak suka dengan seseorang yang membahas masalah pribadinya, itulah kenapa Afrenzo mengatakan dengan nada seperti itu kepadanya saat ini.
"Gue ngak bahas soal itu kok, gue hanya ingin tau. Kenapa lo bisa ada disini? Kenapa lo bisa datang ke sini saat gue mau bunuh diri?"
"Gue hanya lewat, rumah temen gue tidak jauh dari sini," Jawab Afrenzo.
"Temen? Lo punya temen? Bagaimana bisa lo punya temen" Tanya Risda yang seakan akan tidak percaya bahwa cowok sedingin itu bisa punya teman.
Afrenzo tidak menjawab pertanyaan dari Risda itu, ia langsung menaiki motornya itu. Afrenzo lalu menyuruh Risda untuk pulang, awalnya Risda menolaknya akan tetapi karena tatapan tajam dari seorang Afrenzo membuatnya mau tidak mau harus menuruti ucapan dari Afrenzo.
*****
Risda memberanikan diri untuk pulang setelah bertemu dengan Afrenzo saat itu. Risda sebenarnya takut dimarahi oleh Indah akibat kejadian saat ini, akan tetapi Afrenzo terus memaksanya untuk pulang kerumah karena tidak baik semoga gadis berkeliaran dijalanan.
Afrenzo terus meyakinkan bahwa semuanya akan baik baik saja, Risda menghentikan sepeda motornya didepan rumahnya, dan ia pun mengambil nafas dalam dalam untuk mempersiapkan mentalnya yang akan dihajar habis habisan saat ini.
__ADS_1
Risda tidak yakin bahwa dirinya akan selamat kali ini, akan tetapi perkataan Afrenzo begitu sangat membekas didalam pikirannya. Afrenzo terus mengatakan bahwa dirinya akan baik baik saja nantinya, dan hal itulah yang membuat Risda mau untuk pulang kerumah.
Firasatnya mendadak tidak enak setelah dirinya menginjakkan kakinya diteras rumahnya, benar saja apa yang sedang ia pikirkan saat ini. Tiba tiba Indah keluar dari rumah tersebut dengan wajah yang sangat tidak bersahabat.
"DASAR ANAK KURANG AJAR!" Bentak Indah kepada Risda.
Deg
Bentakan tersebut terasa sangat menyakitkan bagi Risda, Risda mendengarkan ucapan Afrenzo yang menyuruhnya untuk langsung masuk kedalam tanpa mendengarkan ucapan Indah. Akan tetapi, Indah langsung mendadak mendorong tubuh Risda hingga menabrak ke tembok rumahnya.
Dhuk
Kepala Risda pun terbentur tembok dengan sangat kerasnya hingga menimbulkan sebuah bunyi yang nyaring, Risda pun memegangi kepalanya dan syukurlah bahwa kepalanya tidak mengeluarkan darah, dan mendadak kepalanya terasa sangat pusing.
"DASAR ANAK KURANG AJAR! SUDAH ENAK DISEKOLAHKAN MASIH SAJA MEMBOLOS, NGAK TAU DIUNTUNG BANGET. Anak kok kayak iblis, ngak tau rasa terima kasih, udah untung masih ada yang peduli. Apa kau mau seperti anak gelandangan diluar sana ha? Ngak usah pulang sekalian, nyusahin aja!" Bentak Indah lagi, dan dirinya terlihat sangat marah saat ini.
Risda tidak terlalu memperhatikan omelan dari Kakaknya itu karena rasa pusing yang saat ini ia rasakan, ia sama sekali tidak memerhatikan perkataan itu, dan yang ia dengar hanyalah sebuah dengungan yang cukup keras.
Risda perlahan lahan berjalan kearah kamarnya sambil memegangi kepalanya, sesampainya dikamar dirinya pun langsung merebahkan tubuhnya dikasur, dan dirinya sama sekali tidak memerhatikan omelan yang saat ini dilontarkan oleh Indah.
"Kenapa ngak mati aja?" Tanya Risda dengan pelan sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit dan pusing itu. Risda pun mendengar suara ponselnya berbunyi, ia menoleh sekilas dan kembali merebahkan tubuhnya itu, itu adalah telpon dari Ibunya.
Ia benar benar tidak mau mengangkat telponnya saat ini, ia tidak ingin bahwa dirinya akan semakin tidak tahan mendengar ucapan ucapan yang menyakitkan dan akhirnya akan berujung bunuh diri. Risda mengabaikan ponselnya yang terus berbunyi dan pada akhinya dirinya men silent ponselnya itu karena tidak ingin mendengarnya berbunyi.
"Jangan ganggu gue dulu," Ucap Risda.
Karena telponnya yang sejak tadi tidak diangkat oleh Risda, hal itu membuat Dewi langsung menelpon Indah. Ponsel Indah pun berdering tak beberapa lama kemudian suara Indah pun terdengar oleh Risda.
Karena rumah mereka tidak terlalu besar sehingga Risda bisa mendengar suaranya itu, Indah pun menekan tombol pengeras suaranya dan hal itu membuat Risda mampu mendengarkan suara dari Ibunya itu.
"Sudah pulang Bun, barusan sampai dirumah. Dia ngak berani ngangkat karena emang bener dia salah, suka mbolos, orang hari ini libur dia malah masuk,"
"Risda ngak salah, ini salah paham saja. Kalo dia salah bagaimana mungkin dia berani memberikan nomor telpon guru gurunya itu. Sudah, jangan dimarahi lagi dia, cepat suruh dia angkat telpon Bunda sekarang," Perintah Dewi.
Indah pun masuk kedalam kamar Risda dan mengetahui bahwa Risda kini tengah tengkurap sambil memeluk bantalnya itu, akan tetapi Risda sama sekali tidak mau menjawab panggilan dari Indah yang berkali kali memanggil namanya itu.
"Ngak mau, Bun." Adu nya kepada Dewi.
"Berikan saja telponnya kepada dirinya, Bunda pengen ngomong sama dia, Ucap Dewi.
"Iya,"
Akan tetapi Risda sama sekali tidak mau menerima ponsel tersebut, ia mengibaskan tangannya begitu saja ketika Indah menyentuh tangannya. Risda benar benar terluka saat ini, pikirannya kacau dan juga kepalanya yang terasa sangat pusing berkunang kunang.
Ia benar benar tidak ingin berbicara kepada siapapun, ia tidak ingin mendengar suara siapapun kali ini, dan isak tangis lirih pun mulai terdengar dari balik bantal yang ia gunakan untuk menyandarkan kepalanya itu.
Indah lalu menaruh ponselnya didekat telinga Risda sehingga Risda bisa mendengar suara Ibunya dengan jelas, sudah tidak bisa dihitung lagi berapa banyak air mata Risda yang menetes itu, dan bantal yang ia gunakan tersebut pun basah karena air mata.
"Risda, angkat telpon Bunda sekarang! Bunda khawatir sama Risda jika Risda seperti ini, Bunda minta maaf karena telah salah paham dengan Risda. Risda, maafin Bunda ya, Bunda salah paham dengan Risda tadi," Ucap Dewi melalui ponsel yang ada disebelah Risda saat ini.
Risda sama sekali tidak menjawab ucapan dari Dewi, akan tetapi Risda terus mendengarkan perkataan dari Dewi itu. Hatinya terlalu sakit saat ini apalagi karena ucapan Dewi sebelumnya bahwa kini dirinya sangat kecewa dengan Risda, Risda kembali mengingat tentang ucapan Dewi berulang ulang kali dipikirannya.
"Risda jawab dong ucapan Bunda, jangan diemin Bunda kayak gini. Iya, Bunda salah kali ini sama Risda, Bunda salah paham dengan anak Bunda sendiri. Maafin ucapan Bunda sebelumnya ya Nak, Bunda hanya takut kalo Risda sampai salah pergaulan, kamu tau sendiri kan kalo Bunda hanya bisa mengawasi Risda dari telpon, Bunda ngak bisa selalu ada untuk Risda selama ini," Ucap Dewi lagi dan masih tetap tidak mendapatkan jawaban dari Risda.
__ADS_1
Risda justru tetap berdiam diri sambil memeluk bantalnya dengan erat, disampingnya terdapat Indah yang tengah berdiri sambil melipat kedua tangannya. Karena ucapan Ibunya yang tidak disahuti oleh Risda membuat Indah langsung menarik tangan Risda dengan kasar.
"Kalo orang ngomong itu dijawab!" Sentak Indah.
"LEPASIN!" Bentak Risda dan dengan kasar melepaskan pegangan tangan Indah dari tangannya.
"Sudah Ndah, jangan kasar dengan Adikmu itu," Ucap Dewi dari ponselnya.
Tangis Risda semakin keras setelahnya, Dewi pun mampu mendengar suara tangis Risda saat ini. Ia tahu bahwa anaknya itu sangat terluka karena kesalah pahaman ini, ia menyesal karena telah memarahi Risda sebelumnya karena dia tidak mengetahui kejadian yang sebenarnya.
"Risda, maafin Bunda ya Nak, iya Bunda salah dan Bunda ingin minta maaf kepada Risda. Bunda sangat sayang dengan Risda dan Bunda ngak ingin Risda terperosok kedalam hal hal yang buruk, Bunda hanya ingin Risda bisa menjadi anak yang berguna bagi bangsa dan agama. Bunda ngak ngelarang Risda untuk main, tapi perhatikan juga waktunya ya Nak, Jawab ucapan Bunda," Ucap Dewi melalui ponselnya akan tetapi sama sekali tidak mendapatkan jawaban dari Risda.
Entah harus berkata apa saat ini untuk membujuk anaknya yang sedang merajuk itu, kata katanya seakan habis sehingga dirinya tidak mengetahui perkataan apa lagi yang harus ia ucapkan untuk membujuk anaknya yang merajuk itu.
"Risda sayang, maafin Bunda ya. Bunda hanya punya Risda saat ini sementara Kakakmu sudah menjadi milik suaminya, kalo Risda ngak mau ngomong seperti ini nanti Bunda makin sedih. Bunda benar benar minta maaf karena salah paham dengan Risda, Risda anak baik kok, Bunda yakin itu,"
Risda membenamkan wajahnya didalam bantalnya agar suara isak tangisnya tak terdengar untuk saat ini. Entah kenapa sekali terluka dirinya akan sangat sulit untuk mengembalikannya moodnya itu, mungkin karena tidak adanya bimbingan dari orang tua selama ini sehingga dirinya sendiri yang harus berusaha untuk mengembalikan moodnya dengan sendiri.
Risda pun mendengar suara isak tangis dari Bundanya itu, entah kenapa hal itu terdengar sangat menyakitian bagi Risda, ketika sudah sakit akan tetapi ditambahi sakit lagi. Risda ingin mengucapkan sesuatu akan tetapi ucapan tercekal karena isak tangisnya.
"Risda mau apa? Risda, Bunda akan berusaha untuk nurutin keinginan Risda. Risda jawab dong ucapan Bunda, masak dari dari Bunda ngomong sendiri sih," Ucapnya dengan isak tangis.
"Risda ingin mati."
"Risda!"
Sekali bersuara saja Risda langsung membuat Ibunya sangat terkejut, Risda tidak tau kenapa kata kata itu langsung keluar begitu saja dari mulutnya. Tanpa Risda sadari bahwa kini Ibunya menangis mendengar jawaban dari Risda, entah kenapa anaknya tiba tiba mengatakan hal seperti itu.
"Kenapa Risda ngomong seperti itu Nak? Ngak baik ngomong seperti itu hiks.. hiks.. hiks.. Kenapa Risda berpikiran seperti itu? Apa yang telah Risda katakan saat ini? Apa yang kurang dari Bunda? Bunda hanya tidak bisa menemani Risda karena Bunda ingin Risda agar tetap bisa sekolah sama seperti teman teman Risda yang lainnya, agar Risda bisa jajan tiap harinya. Apa yang Bunda lakukan itu hanya untuk Risda, kenapa Risda tega mengatakan itu kepada Bunda?"
Bunda maafin Risda, Risda ngak bermaksud untuk menyakiti hati Bunda tapi entah kenapa kata kata itu langsung keluar begitu saja. Bunda Risda tidak bermaksud untuk membuatmu menangis, Risda hanya ingin dimengerti bukannya dimarahi. Bunda, Risda salah dan ingin meminta maaf kepada Bunda, hanya Bunda harapan satu satunya yang bisa membuat Risda bahagia. Batin Risda menjerit.
Entah kenapa dirinya sama sekali tidak bisa berkata apa apa saat ini, dan yang ada didalam pikirannya hanyalah kata menyesal atas ucapan yang telah terlontarkan itu. Mulut Risda terbuka tertutup akan tetapi sama sekali tidak ada suara yang keluar dari bibirnya saat ini, hanya isak tangis yang mampu keluar saat ini.
"Risda, jawab ucapan Bunda sakarang, jangan diam saja seperti itu, Nak. Bilang ke Bunda, apa yang harus Bunda lakukan untuk Risda, Risda ingin Bunda berhenti bekerja? Lalu uang siapa yang digunakan untuk menyekolahkan Risda? Kamu tau sendiri kan kalo Ayahmu saja sudah tidak memberimu uang, apalagi menyekolahkan dirimu. Apa Risda sudah ngak mau menjadi anak Bunda?" Isak tangis pun terdengar dari ponsel tersebut dan hal itu semakin membuat Risda tersayat hatinya.
"Maafin Risda, Bun. Risda salah," Ucap Risda lirih.
"Lalu kenapa Risda ngomong seperti itu?"
Risda lelah, Risda sudah tidak kuat lagi hidup bersama dengan Kak Indah, dia jahat sama Risda, Bun. Seandainya Bunda tau tentang apa yang Risda alami selama ini, mungkin Bunda tidak akan sanggup untuk melihat kehidupan Risda. Risda yakin bahwa Bunda akan paham dengan ucapan Risda saat ini, Risda pengen tidur dan ngak bangun lagi. Batin Risda.
"Jawab Bunda, Risda!" Dewi memberi perintah kepada Risda untuk menjawab pertanyaannya itu.
"Lupakan saja soal itu, Bun. Risda ngak mau bahas ini lagi," Ucap Risda.
"Maafin Bunda ya, Bunda usahakan akan pulang dan akan ngajak kamu jalan jalan nantinya. Risda, Bunda sangat sayang dengan Risda, sampai kapanpun itu,"
"Risda..." Risda tidak mampu untuk melanjutkan perkataannya itu.
"Bunda tau, kasih sayang seorang anak ke Ibunya tidak akan pernah sama dengan kasih sayang seorang Ibu ke anaknya. Telpon pake ponsel Risda saja ya, ini Bunda matikan, nanti cepat diangkat,"
"Iya Bun," Jawab Risda singkat.
__ADS_1
Ponsel tersebut pun langsung terputuskan sambungannya, hal itu langsung membuat Indah membawa pergi ponsel miliknya dan keluar dari kamar Risda. Melihat kepergian dari Indah langsung membuat Risda bangkit duduk ditempat tidurnya, bayangan Indah sudah tidak ada lagi dikamarnya akan tetapi rasa pusing dikepala Risda masih membekas.