
Risda kembali masuk kedalam kantin untuk membeli minuman yang telah ditumpahkan oleh teman sekelasnya itu. Sebenarnya dirinya begitu terluka ketika mendengar perkataan dari temannya, akan tetapi dirinya memilih untuk pergi agar tidak mendengarnya begitu lama.
Rasa sakit didalam hatinya tidak terbendung lagi, sehingga dirinya langsung menghapus air mata yang hendak menetes dipipinya. Setelah membelinya, dirinya langsung bergegas untuk menuju kehalaman yang jarang didatangi oleh teman temannya untuk menyembuhkan sakit hatinya seorang diri.
"Pengen mati," Ucap Risda lirih.
Waktu itu, Risda benar benar kacau. Sehabis adanya masalah besar yang menimpa keluarganya, membuatnya kehilangan segalanya. Perceraian keluarga yang dialami oleh keluarganya, sekolah baru yang baru saja dirinya masuki, dan dirinya kehilangan teman temannya dan tempat untuk bercanda gurau.
Dirinya dijauhkan dari semuanya, bahkan dia masuk kedalam sekolah yang muridnya sangat sangat memandang kedudukan. Risda yang hanya anak pembantu pun tidak dianggap sama sekali oleh mereka, bahkan dirinya seolah olah hanyalah beban bagi mereka.
"Ris, kamu ngapain disini sendirian?" Tanya seorang gadis yang tiba tiba menghampiri Risda.
Mendengar ucapan itu langsung membuat Risda menghapus air matanya dengan kasar, dan berusaha untuk tidak menampakkan kesedihannya itu. Risda tengah berjongkok dipojokkan halam kelas dan berada didekat sebuah tanaman yang rimbun, sehingga tidak akan diketahui oleh orang lain.
"Nggak papa kok," Jawab Risda setelahnya.
"Kamu kenapa? Cerita saja sama diriku," Ucap gadis itu sambil berlutut didepan Risda.
"Kenapa kamu peduli denganku?"
"Kita sama, Ris. Oh iya pasti kamu belum mengenal namaku kan? Kenalin namaku Rena Aku juga bukan anak orang kaya seperti mereka, aku hanya anak penjual nasi goreng,"
Karena Risda yang baru bersekolah disekolah itu, membuatnya tidak terlalu mengenal teman sekelasnya. Apalagi sejak pertama masuk sekolah, dirinya sudah dikucilkan oleh yang lainnya, bahkan dirinya juga dihina oleh mereka karena hanya anak seorang pembantu.
"Lalu kenapa kamu bisa bertahan disekolah ini?"
"Awalnya aku juga nggak tahan, mereka itu terlalu egois kalo dikata. Tapi setelah naik kekelas 3 waktu itu, mereka tidak pernah seperti itu mungkin saja karena kecape'an,"
Setelah pengenalan itu, Risda mengenali Rena dengan baik. Keduanya bahkan menjadi teman akrab meskipun tidak terlalu akrab karena Risda yang terlalu banyak diamnya daripada berbicara, karena bagi Risda tidak baik kalau banyak berbicara yang tidak bermanfaat.
*****
"Ayo main lompat tali, Ris. Gabung sama yang lainnya," Ajak Rena ketika melihat teman temannya bermain lompat tali.
Risda pun ragu untuk ikut bermain bersama mereka, apalagi anak anak itu telah membully nya karena hanya anak seorang pembantu. Risda pun menolak ajakkan tersebut, karena dirinya tidak mau bergabung dengan yang lainnya.
Rena terus memaksanya untuk bisa bergaul dengan teman teman yang lainnya, akan tetapi Risda tetap tidak mau meskipun telah dipaksa. Risda memilih untuk duduk dikejauhan sambil menyaksikan mereka bermain, dapat dirasakan apa yang saat ini dialami oleh Risda.
"Nggak papa kok, Ris. Ada aku,"
"Nggak deh, Na. Aku lihat kalian saja dari sini,"
"Kamu beneran?"
"Iya. Lagian kakiku juga sakit, nggak bisa untuk lompat," Bohong Risda.
"Ya sudah deh, aku main dulu,"
Rena langsung bergegas untuk bergabung dengan teman temannya untuk bermain lompat tali, melihat itu membuat Risda bersedih dan teringat waktu dirinya bersekolah disekolah sebelumnya. Dulunya Risda adalah sama seperti ketua geng dalam sekolahnya, akibat banyaknya pikiran yang ditanggungnya diusia masih anak anak membuatnya menjadi pendiam dan banyak menangis.
Anak korban dari perceraian keluarga, akan terlihat berbeda dengan anak yang dicintai oleh keluarganya. Mungkin mereka akan terlihat nakal, tidak mengetahui aturan, bahkan keras kepala. Mereka seperti itu karena kurangnya didikkan dari kedua orang tuanya, bahkan tidak ada yang peduli dengan mereka.
"Aku ingin kembali seperti dulu," Guman Risda lirih sambil melihat teman sekelasnya tertawa bersama sama.
Risda juga ingin bermain dengan mereka semua, apalagi permainan itu terlihat sangat mengasikkan. Tapi apalah daya, karena dirinya tidak dianggap ada oleh teman temannya, bahkan mereka seakan akan jijik ketika melihat Risda.
Masa kecil yang harus dinikmati dengan bahagia, akan tetapi Risda harus menikmatinya dengan penuh luka lara. Ini sangat menyakitkan, di umur yang masih belasan tahun Risda dipaksa untuk berpikir dewasa sebelum waktunya.
Di saat teman temannya sibuk dengan mainannya, justru Risda sibuk dengan air matanya. Disaat mereka semua masih diperhatikan oleh kedua orang tuanya, justru Risda harus mandiri sebelum waktunya dan melakukan segalanya dengan seorang diri tanpa ada yang menemani.
Rasanya sangat menyakitkan, dimana kita terbiasa dengan kehadiran kedua orang tua tiba tiba mereka terpisah dan pergi entah kemana. Kalian tau apa yang dirasakan oleh Risda? Dan hanya anak broken home yang bisa mengerti satu sama lain. Dimana anak broken home harus berjuang seorang diri untuk mengerti dunia luar, tanpa bimbingan, tanpa nasehat, tanpa kasih sayang, tanpa tau salah dan benar, dan bahkan meskipun mereka salah tiada yang membenarkannya.
__ADS_1
Mungkin para orang tua merasa bahwa mereka tersakiti dengan pasangannya, dan memutuskan untuk berpisah karena tidak sanggup untuk melanjutkan rumah tangganya. Tapi sadarkah kalian? Siapa yang paling menderita? Siapa yang paling tersakiti? Mereka adalah anak kalian sendiri.
Dimana anak yang masih membutuhkan perhatian dan kasih sayang, mereka harus kehilangan itu semuanya dalam sekejap. Kehilangan rumah yang nyaman baginya, membuat mereka tidak memiliki tempat untuk mengadu.
Dunianya hancur, kasih sayangnya hilang, kebahagiaannya lenyap, dan tidak sedikit yang memilih untuk bunuh diri. Rasanya seakan akan dunia ini tidak berarti apa apa, mereka hanya ingin istirahat dengan tenang tanpa beban pikiran yang ditanggungnya.
Kalau menikah sudah pasti jodoh, lantas kenapa ada perceraian? Kenapa harus anak yang menjadi korban kalian? Jangan mengatakan seolah olah kami anak broken home itu lebay, kalian tidak akan bisa mengatakan itu jika tidak merasakannya sendiri.
( Author : Aku menulis ini, bukan untuk menyiksa tokoh yang ada disini. Mungkin kalian akan menyalahkan diriku karena alur yang ada, sebuah kisah nyata tidak mampu aku ubah dengan sendirinya. Asal kalian tau, dibalik ini semua ada mata Author yang bengkak, kisahnya terlalu menyayat, jika kalian benar benar masuk dalam kisahnya kalian akan merasakannya )
*****
"Boleh aku pinjam buku paketnya untuk mengerjakan tugas? Aku belom punya soalnya," Tanya Risda kepada salah satu temannya.
"Dih sok mengerjakan tugas lagi. Nanti bukuku kotor kena tanganmu," Jawab ketus temannya itu.
"Miskin miskin aja kali, untuk apa juga sekolah?"
"Tapi aku nggak minta, aku hanya pinjam sebentar untuk menulis soalnya," Ucap Risda.
"Ngak sudi kita minjemin, pinjem aja tuh sama yang lainnya,"
Risda pun hanya tersenyum kecut, sudah 10 anak dirinya bertanya, akan tetapi tak seorangpun yang mau meminjamkannya. Kali ini Rena tidak masuk sekolah, dan memiliki tugas untuk besok pagi.
Risda juga tidak mengetahui rumah dari Rena, karena keduanya juga baru saja akrab sehingga belum mengetahui rumah masing masing. Risda benar bena bingung soal mengerjakan tugas itu, karena tidak ada diantara mereka yang mau meminjamkan buku tersebut sebentar saja.
"Boleh pinjam bukunya nggak?" Tanya Risda dengan hati hati takut sosok lelaki yang ada didepannya tidak mau meminjamkannya.
"Buku ini dibeli dengan mahal, tangan kotor sepertimu tidak pantas memegangnya," Ucap lelaki itu dengan sangat menusuk.
"Jika seperti itu, aku menulisnya saja dan kamu membukakan bukunya biar aku nggak pegang,"
Lelaki itu pun mengusir Risda, seperti mengusir hewan yang menjijikkan saja. Risda pun hanya menundukkan kepalanya dalam, dirinya pun pergi dari bangku lelaki itu dan kembali kebangkunya sendiri.
Dirinya pun langsung meluruh dibangkunya, dan menutupi wajahnya disana. Risda lalu menangis tanpa diketahui oleh yang lainnya, dirinya sangat bingung bagaimana caranya untuk mengerjakan tugas tersebut, sementara yang lainnya tidak ada yang mau meminjamkan buku itu kepadanya.
Dirinya benar benar merasa sakit hati, dan sangat terluka hatinya. Dia bingung dan juga kecewa atas apa yang terjadi kali ini, harus bagaimana lagi agar dirinya bisa mengerjakan tugasnya itu.
Sepulang sekolah, Risda berjalan sambil menundukkan kepalanya dalam agar tidak ada yang mengetahui bahwa dirinya tengah menangis. Jarak sekolahan itu dengan rumah majikan Ibunya cukup dekat, sehingga hanya memerlukan jalan kaki saja.
Risda berhenti ketika ada didepan rumah tersebut, dirinya lalu menghapus air matanya dengan kasar dan mencoba untuk menerbitkan sebuah senyuman. Setelah dirasa bahwa kondisinya baik baik saja, Risda lalu bergegas masuk kerumah tersebut sambil menampakkan sebuah senyuman ceria.
"Assalamualaikum," Ucap Risda sambil membuka pintu rumah itu.
"Waalaikumussalam,"
Risda begitu terkejut ketika sudah banyak orang yang berkumpul dirumah itu, dan seluruhnya langsung menjawab salam Risda secara bersamaan. Ternyata majikan Ibunya tengah berkumpul dengan teman temannya, sehingga rumah itu nampak begitu ramai.
"Gimana sekolahnya, Ris?" Tanya seseorang yakni majikan dari Ibunya.
"Alhamdulillah, teman teman baik semua kok, Tan. Sekolahnya sangat seru," Bohong Risda dengan senyuman yang mengembang cerah.
Majikan Ibunya bernama Ifah, sementara Risda kalau memanggilnya dengan sebutan Tante Ifah. Risda berpura pura bahagia didepan semuanya, bahkan dirinya tidak mau menampakkan wajah sedihnya didepan banyak orang.
"Alhamdulillah kalo semakin hari semakin baik,"
"Iya Tan, kalo begitu aku masuk dulu ya? Mau ganti baju juga,"
"Iya habis itu jangan lupa makan,"
"Iya Tan."
__ADS_1
Ifah adalah orang yang baik bagi Risda, meskipun dia adalah orang kaya akan tetapi dia tidak pernah melupakan Risda. Apa yang diberi kepada anaknya, Risda juga ikut serta diberi olehnya, akan tetapi anak anaknya sama sekali tidak ada yang meniru dirinya.
Risda pun langsung bergegas untuk masuk kedalam kamar yang disediakan untuknya dan Ibunya, dirinya pun langsung mandi untuk mengganti pakaiannya. Sambil menunggu adzan ashar, Risda gunakan itu untuk menonton televisi yang memang ada didalam kamarnya itu.
"Jelas kena panggilan nih," Guman Risda.
Belakangan ini memang Risda jarang mengerjakan pekerjaan rumah, alasannya adalah karena belum memiliki buku sehingga para guru masih memakluminya. Entah esok akan alasan apa lagi, karena gurunya memintanya untuk meminjam buku milik temannya.
Jika Risda tidak mengerjakan tugasnya, maka guru itu mengancam untuk memanggil orang tuanya kekantor sekolah. Dirinya bingung akan hal itu, ingin sekali dirinya menangis akan tetapi dia tidak mau tangisannya itu dilihat oleh Ibunya.
Risda lalu fokus kepada apa yang dirinya lihat, sambil menunggu waktu untuk pergi mengaji disebuah TPQ Shofia yang tidak jauh dari rumah besar itu. Ditempat itu pun dirinya tidak mampu untuk bersosialisasi dengan yang lainnya, karena dirinya takut mereka juga seperti teman temannya yang ada disekolahannya.
*****
Risda duduk diam dibangkunya seorang diri, yang lainnya duduk berdua dengan temannya sementara dirinya duduk sendirian tanpa ada yang mau duduk bersamanya. Dirinya merasa takut karena belum mengerjakan tugasnya saat ini, sementara yang lainnya sudah selesai.
Bel masuk pun berbunyi, mereka langsung mengeluarkan buku tugasnya itu sementara Risda hanya mengeluarkan buku tulisnya saja. Memang dirinya sekolah disana sudah 3 minggu, akan tetapi dirinya belum memiliki buku baru karena pihak sekolahnya yang lambat.
"Yang sudah mengerjakan, kumpulkan!" Perintah guru yang baru saja masuk kedalam ruang kelas itu.
Seluruh siswa pun bangkit dari duduknya serempak untuk mengumpulkan tugas itu, sementara Risda hanya duduk berdiam diri tanpa bangkit dari duduknya untuk mengumpulkan tugasnya itu. Apa yang dikumpulkan? Sementara tugasnya saja belum dikerjakan.
"Risda, nggak ngumpulin lagi?" Tanya guru itu yang terus memperhatikannya.
"Lupa Bu," Jawab Risda lirih.
"Kamu ini bagaimana? Niat sekolah ngak sih? Kemaren alasannya nggak punya buku, alasan ngak tau tugasnya apa, sekarang alasannya lupa, besok lagi alasan apa? Kalo nggak punya buku kan tinggal pinjam sama teman temanmu, apakah pinjam saja sulit? Kamu itu murid baru disini, seharusnya lebih disiplin daripada yang lainnya. Sudah berapa kali tidak mengerjakan tugas, mau dipanggilkan orang tua?" Omel guru itu kepada Risda.
"Sudah pinjam, Bu. Tapi nggak ada yang mau meminjamkannya," Jawab Risda jujur.
"Bohong, Bu! Dia sama sekali tidak pinjam dengan kita, kita ngerasa nggak ada yang dipinjami olehnya," Seru salah satu siswa.
"Iya Bu, ketika aku tanya dia sudah mengerjakan atau belum, dia malah jawabnya nggak peduli. Ya sudah kami diam saja," Seru yang lainnya.
"Sebenarnya kami mau minjemin juga, Bu. Tapi kesannya kayak kita yang ngerasa buruh dia, bukan dia yang butuh,"
"Kami mau minjemin dia buku, tapi dia nggak nanya kekita kok,"
"Ibu dengar sendiri kan? Tidak ada yang ngerasa dia pinjam, alasan kali mungkin dia,"
"Tapi Bu..." Risda mencoba untuk membela diri, karana dirinya merasa difitnah dalam hal ini.
"Diam!" Sentak guru itu yang langsung memotong ucapan Risda.
Mereka semua langsung berdiam diri tanpa ada yang berbicara sedikitpun, termasuk juga Risda yang hanya bisa menundukkan kepalanya dalam. Risda tidak suka dibentak ataupun orang yang berbicara kasar kepadanya, karena itu membuatnya mudah sekali meneteskan air matanya.
Risda tidak mampu membela dirinya sendiri dihadapan guru itu, karena seluruhnya tengah memojokkan dirinya saat ini. Bahkan Rena pun tidak mampu berkata kata saat ini, karena dirinya tidak masuk sekolah dan juga tidak mengetahui soal itu dengan jelasnya.
"Keluar sekarang, jangan ikut pelajaran ku saat ini," Ucap guru itu mengusir Risda dari kelasnya.
"Bu, beri aku kesempatan," Ucap Risda.
"Sudah beberapa kali kamu tidak mengerjakan tugas yang aku berikan? Kamu minta kesempatan, tapi tidak menggunakan kesempatan itu dengan baik. Keluar sekarang atau panggilan orang tua?"
"Maaf Bu,"
Risda pun menundukkan kepalanya dalam, dirinya lalu memasukkan buku tulisnya kembali kedalam tasnya. Setelah itu dirinya keluar dari kelas itu, Risda pun duduk didepan kelas tersebut sendirian, tanpa ada seseorang yang menemaninya.
Risda duduk berdempetan dengan pintu ruang kelasnya, dirinya mencoba untuk mendengarkan materi yang disampaikan. Meskipun pikirannya begitu banyak akan tetapi Risda merasa tidak ingin ketinggalan pelajaran, meskipun akhinya masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri.
Pikirannya yang entah kemana, membuatnya tidak mampu fokus dengan jalan hidupnya sendiri. Nilai raportnya mendadak turun drastis, bahkan dirinya tidak bisa berpikir dengan jernih saat ini.
__ADS_1