Pelatihku

Pelatihku
Episode 174


__ADS_3

Risda merasa sangat lelah jika harus di kurung berhari hari didalam rumahnya itu, dirinya tidak bisa pergi kemana mana karena Abie yang terus mengincar dirinya itu. Bahkan untuk pergi ke sekolah saja, Risda tidak diizinkan akan hal itu.


Rasanya sangat bosan, sama sekali tidak ada hiburan untuknya selain ponsel yang ada didalam genggamannya saat ini. Ia ingin bisa bebas seperti yang lainnya, bebas untuk melakukan apapun yang mereka inginkan tanpa ada larangan dari siapapun, termasuk orang yang ada disekitarnya.


Sudah 6 hari ini dirinya tidak masuk sekolah, dan bahkan tidak ada kabar apapun darinya untuk pihak sekolah. Mereka semua tidak mengetahui alasan apa yang membuat Risda tidak masuk sekolah, karena pihak Risda tidak ada yang memberitahukan hal itu.


"Bun, kalo aku dikeluarkan dari sekolah, gimana?" Tanya Risda dengan tatapan yang mengarah pada jendela kamarnya untuk menatap lingkungan diluar rumah.


Pertanyaan yang tidak ingin ditanyakan oleh Risda kepada Dewi, akhirnya pertanyaan itu telah lolos dari mulut Risda begitu saja. Risda juga ingin seperti yang lainnya, akan tetapi dirinya adalah wanita pilihan yang dipilih oleh Allah untuk menjadi wanita paling tegar dan kuat.


"Mereka nggak akan mengeluarkan Risda kok," Jawab Dewi yang tengah terbaring diatas kasur kamar Risda.


"Tapi kalo beneran di keluarkan bagaimana? Rasanya lebih cape dirumah daripada harus ke sekolah."


Belum sempat mendapatkan jawaban dari Dewi, tiba tiba ponsel Risda berdering. Pandangan Risda langsung ter tolehkan kearah ponsel yang dirinya letakkan di atas meja, terlihat nama Ana terpampang jelas dilayar ponsel tersebut.


"Aku harus beri alasan apa kepada mereka?" Tanya Risda.


Beberapa hari ini, Risda sama sekali tidak pernah berhubungan dengan teman temannya. Dirinya tidak pernah mengangkat telpon dari siapapun, ataupun membalas pesan dari siapapun, tanpa terkecuali sedikitpun bahkan jika itu Afrenzo yang menghubunginya.


Tingg...


Sebuah pesan masuk kedalam ponselnya, dan pesan itu berasal dari nomor Ana. Risda langsung bangkit dari duduknya ketika membacanya pesan dari Ana, yang dimana Ana mengatakan bahwa dirinya sudah berada didepan rumah Risda saat ini.


"Bun, didepan ada temenku," Ucap Risda dan langsung membuat Dewi bangkit dari tidurnya.


"Temui saja dia," Ucap Dewi.


"Tapi gimana kalo dia tanya yang aneh aneh? Lalu aku harus jawab apa?"


"Temui dulu."


"Baiklah Bun."


Risda langsung bergegas pergi dari dalam kamarnya, dirinya langsung menemui Ana yang sudah ada didepan rumahnya saat ini. Risda yang tampilannya acak acakan merasa malu dihadapan Ana, yang kini sudah berpakaian rapi lengkap dengan seragam beladirinya.


"Lo kemana aja sih, Da? Semua orang panik tau kalo lo nggak bisa dihubungi seperti itu," Omel Ana kepada Risda.


"Gue nggak bisa jelasin apa apa ke kalian, maaf ya?"


"Gue kemari karena perintah dari Renzo, dia nyuruh gue datang untuk ngecek keadaan lo, Da. Lo udah nggak masuk lama, dan nggak ada kabar apapun. Lo tau kan kalo Renzo yang bertanggung jawab atas lo, jadi lo buat pikirannya makin ruwet, Da."


"Maafin gue, An. Gue udah bikin kalian cemas, dan udah nggak ngasih kabar ke kalian. Terus gimana kabar Renzo sekarang?"


"Lo ikut gue ke tempat latihan sekarang."


"Tapi gue nggak bisa, An. Gimana tanggapan mereka jika gue berangkat latihan sementara hari ini gue nggak masuk sekolah? Apalagi sekarang sekolahan juga belum tentu sepi dari siswanya,"


Kebiasaan siswa yang ada disekolahan itu adalah selalu menunda pulang akan tetapi buru buru meminta pulang. Ketika bel pulang berbunyi, mereka tidak langsung pulang melainkan memilih untuk tetap disana sambil menyambungkan wifi sekolahan.


Tidak jarang diantara mereka yang memilih untuk pulang telat karena tidak nyaman dirumah, begitupun juga dengan Risda yang memilih untuk mengikuti semua ekstrakulikuler yang ada hanya untuk menunda kepulangannya. Berbagai macam ekstrakulikuler diikuti olehnya, hingga rasanya seminggu full dirinya berada disekolah dan hanya akan ada dirumah ketika malam hari.


Bahkan Risda sendiri tidak kenal dengan tetangganya, karena dirinya yang tidak pernah berkumpul dengan tetangga yang ada didekat rumahnya. Banyak orang yang tidak mengenalinya, karena memang Risda tidak suka dikenal banyak orang tapi memilih untuk menjadikan kisahnya sebagai kisah novel untuk tetap abadi.


Tidak perlu mengenal orangnya, cukup mengenal kisahnya.


"Lo tenang saja, Da. Meskipun tanpa izin dari lo, Renzo mengatakan kalo lo dalam masalah kepada mereka jadi tidak bisa pergi untuk ke sekolah. Jika ada yang bertanya nanti, lo tinggal jawab saja kalo ada masalah pribadi yang tidak suka diketahui oleh orang lain," Ana memberikan saran kepada Risda.


Ana adalah teman yang paling pengertian kepada Risda, dan paling baik kepadanya selama ini. Meskipun mereka berbeda kelas, akan tetapi hubungan mereka begitu sangat baik, hingga semua orang tau bahwa Ana adalah sahabat dari Risda selama disekolah itu.

__ADS_1


"Lo yakin akan hal itu?" Tanya Risda ragu.


"Iya. Kita langsung menuju ke aula saja, biar pertanyaan mereka tidak semakin menjorok nantinya. Lo yakin saja sama gue, Da."


"Baiklah. Kalo gitu gue minta izin sama Bunda gue dulu ya? Nggak tau nanti di izinkan atau nggak."


Ana pun menganggukkan kepalanya kepada Risda, dan Risda sendiri langsung bergegas masuk kedalam rumahnya untuk menemui Dewi. Risda meminta izin kepada Ibunya untuk pergi berlatih, awalnya Dewi tidak mengizinkannya karena takut jika nanti Risda dihadang oleh Abie di jalanan.


Risda terus saja memaksa dan terus meminta izin kepada Ibunya, karena ia yakin bahwa Afrenzo akan melindunginya nanti. Dia akan pulang ke rumah dengan selamat, tanpa kekurangan suatu apapun itu.


Dan pada akhirnya, Dewi pun terpaksa untuk mengizinkan Risda pergi berlatih dibawa bimbingan Afrenzo. Biar bagaimanapun juga dirinya tidak boleh egois untuk memikirkan dirinya sendiri, sementara anaknya akan tertekan nantinya dan menghambat pertumbuhannya nanti hingga akan tertinggal dengan teman temannya.


Risda merasa senang dan dirinya langsung bergegas untuk mengganti pakaiannya. Setelahnya dirinya langsung bergegas untuk menemui Ana dan diikuti oleh Dewi dibelakangnya untuk mengantarkan kepergian Risda yang meminta izin untuk berangkat latihan.


"Kalian hati hati dijalan, kalau ada orang yang mencurigakan jangan dihiraukan dan lebih baik menjauh. Kamu, tolong jaga anakku," Ucap Dewi sambil menatap kearah Ana.


"Aku akan menjaganya, Tante. Tante nggak perlu khawatir," Ucap Ana.


"Bun, Risda sama Ana berangkat dulu ya?"


"Hati hati, ingat jangan pulang terlambat."


"Iya Bun, assalamualaikum."


"Waalaikumussalam."


Risda langsung meraih tangan Ibunya untuk mencium tangan Ibunya, begitupun juga Ana yang melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan oleh Risda sebagai berpamitan. Keduanya langsung bergegas untuk pergi dari rumah itu, dan Ana melajukan motornya dengan kecepatan normal layaknya di pedesaan.


*****


Benar saja apa yang ditakutkan oleh Risda memang terjadi, dirinya mendapatkan begitu banyak pertanyaan dari teman temannya yang masih berada disekolah. Tidak dipungkiri bahwa banyak yang membicarakan dirinya dibelakang, karena dia yang tidak masuk sekolah akan tetapi masih berangkat untuk berlatih.


Mendengar itu langsung membuat Ana menarik tangan Risda untuk pergi dari sana menuju ke aula beladiri, Risda pun hanya pasrah ketika tangannya ditarik begitu saja oleh Ana. Sesampainya didepan aula beladiri, tiba tiba Risda menghentikan langkah kakinya begitu saja.


"Gue takut Renzo marah, An. Anterin gue pulang saja," Ucap Risda dengan tangan yang sudah berkeringat dingin.


"Gue nggak marah, masuk aja," Tiba tiba terdengar suara seorang lelaki dari dalam aula beladiri itu.


Risda sangat hafal bahwa itu adalah suara Afrenzo, dirinya perlahan lahan masuk kedalam ruangan itu. Pandangan yang dilihat pertama kali olehnya adalah sosok Afrenzo yang membelakangi dirinya, terlihat bahwa Afrenzo tengah memegangi sambil melihat lihat sebuah trisula besi ditangannya.


"Renzo," Panggil Risda kepada lelaki itu.


Mendengar panggilan dari Risda, Afrenzo langsung memutar tubuhnya untuk menghadap kearah Risda. Afrenzo pun meletakkan trisula yang ada ditangannya disebuah meja, setelahnya dirinya langsung duduk di kursi panjang yang tidak jauh dari tempat dimana Risda berdiri.


"Duduk," Ucap Afrenzo menyuruh keduanya untuk duduk.


Dengan ragu, Risda dan Ana langsung bergegas untuk duduk. Tubuh Risda terasa gemetaran melihat tatapan Afrenzo yang sulit untuk diartikan olehnya, dirinya sendiri pun tidak terlihat seceria sebelumnya dan bahkan seketika itu juga Risda terlihat seperti seorang pendiam.


"Gimana kabar lo?" Tanya Afrenzo dengan nada lembut agar Risda tidak semakin ketakutan melihatnya.


"Gue...." Ucap Risda menggantung karena takut untuk melanjutkan bicaranya.


"Gue udah tau semuanya, Da. Gue nggak butuh penjelasan dari lo, gue hanya ingin tau gimana kabar lo hari ini. Berat bagi lo untuk cerita, gue tau itu."


"Lo tau darimana? Gue nggak pernah cerita sama lo."


Risda tidak tau apa yang diketahui oleh Afrenzo tentangnya, dan hal itu membuat Risda penasaran dengan apa yang diketahui oleh lelaki itu darinya. Afrenzo pun melihat kearah jam yang ada disana, dirinya pun mengakhiri hal itu dengan mengajak mereka untuk memulai latihan.


Didepan aula beladiri, sudah berkumpul begitu banyak siswa dan mereka menunggu aba aba dari Afrenzo untuk memulai latihan. Mereka pun segera memulainya ketika melihat kedatangan Afrenzo, bukan hanya Afrenzo saja yang ada disana, melainkan pelatih pelatih di pimpinan pusat daerah pun hadir untuk melihat perkembangan mereka.

__ADS_1


Mereka pun berlatih dengan semangat, bahkan keringat yang ada ditubuh mereka terus bercucuran membasahi lantai lapangan yang mereka gunakan untuk berlatih. Risda yang memang kurang gerak itu pun merasa sangat pusing, bahkan karena dirinya yang tidur terus terusan membuat kepalanya terasa sangat pusing dan sakit.


Pandangan di sekeliling terasa seperti berkunang kunang, langkahnya semakin sempoyongan ketika melakukan gerakan jurus yang diajarkan oleh Afrenzo. Karena dia merasa sudah tidak sanggup lagi, Risda pun menghentikan gerakannya ditengah tengah.


"Pelatih. Saya izin istirahat," Ucap Risda.


Afrenzo pun menoleh kearahnya, dan dirinya mendapati bahwa wajah Risda sudah berubah pucat. Terik matahari sore menembus ke tubuhnya, hingga membuat keringatnya semakin deras mengalir dari pori pori tubuhnya itu.


"Baiklah kamu boleh istirahat," Afrenzo pun memberikan izin kepada Risda untuk istirahat.


"Terima kasih."


Risda pun berjalan pelan menuju ke tepi lapangan, ketika sampai ditempatnya, tubuhnya langsung ambruk begitu saja. Melihat itu langsung membuat Afrenzo berlari kearahnya, dan dengan paniknya dirinya hingga meninggalkan barisan latihan.


*****


Perlahan lahan Risda mulai membuka kedua matanya, pandangan yang dilihatnya pertama kali adalah sosok Afrenzo yang berjongkok didepannya. Afrenzo pun terlihat sedikit tersenyum ketika melihat Risda mulai membuka kedua matanya, dan Risda langsung memposisikan tubuhnya agar terasa lebih nyaman.


"Istirahat saja, jangan dipaksakan," Ucap Afrenzo kepada Risda.


Keduanya kini berada didalam aula beladiri, karena Risda yang tidak sadarkan diri membuat Afrenzo langsung bergegas membawanya masuk kedalam aula. Sedangkan yang lainnya, mereka tengah sibuk untuk melanjutkan latihannya.


"Belakangan ini lo sering pingsan, Da. Lo nggak papa, kan?" Tanya Afrenzo sambil memberikan sebotol air putih kepada Risda.


"Gue nggak tau, Renzo. Belakangan ini juga gue mudah sakit," Ucap Risda setelah menerima sebotol air putih itu.


Risda langsung membuka tutup botol itu, dan meminum air yang ada didalamnya. Afrenzo terus memperhatikan Risda, entah ada yang salah dengan kondisi wanita yang ada dihadapannya itu.


"Apa perlu ke Dokter untuk memeriksa? Biar lo tau hasilnya apa nanti," Saran Afrenzo.


"Nggak usah. Gue nggak papa kok, paling cuma kecapekan sekaligus telat makan. Mending gue nggak tau penyakit gue, daripada harus jadi beban pikiran bagi gue nanti, Renzo."


"Kalo makin memburuk gimana?"


"Paling nggak ya mati, di dunia hanya tempatnya sakit. Kapan lagi bisa sakit selain didunia?"


"Jadi lo putus asa? Allah paling nggak suka sama hambanya yang putus asa kayak lo, Da. Gue udah bilang sama lo, kalo ada apa apa cerita sama gue. Lo itu murid gue, sebagai pelatih gue harus tau perkembangan dari murid murid gue."


"Kenapa lo jadi banyak bicara, sih? Awal ketemu aja lo cuek banget jadi orang, bahkan gue hampir nggak ngenalin lo sekarang, Renzo."


"Ingat, lo masih ada hutang sama gue, Da. Mau ditagih sama malaikat nantinya kalo lo belum bayar tapi udah dipanggil Allah?"


Mendadak wajah Risda menjadi cemberut ketika Afrenzo mengatakan itu, ia pikir Afrenzo beneran peduli dengannya tapi nyatanya dia peduli hanya karena uangnya yang dipinjam oleh Risda. Risda pun berpikir bahwa jika hutang itu lunas, maka rasa peduli Afrenzo kepadanya pun ikut musnah.


"Besok atau kapan akan ada ujian kenaikan tingkat, persiapkan diri lo dengan baik, Da. Jangan sampai membuat malu perguruan ini," Ucap Afrenzo sambil berdiri karena hanya melihat kediaman dari Risda.


"Apa gue harus ikut?"


"Terserah lo, jika lo tidak mau ketinggalan dengan yang lainnya, lo wajib ikut. Kalo lo pengen ketinggalan dengan yang lainnya, nggak usah ikut."


"Apa Kak Charlie juga ikut?"


"Charlie? Tidak. Ini hanya untuk siswa dasar saja, Charlie bukan lagi siswa dasar, tapi dia sudah siswa tiga."


"Kirain dia ikut."


"Hmmm..."


"Nah ini baru Renzo yang gue kenal, hehe... Pelatih yang terhormat, saya izin istirahat dulu ya?"

__ADS_1


"Di lantai atas ada makanan, lo makan aja dulu."


"Memang terbaik!"


__ADS_2