Pelatihku

Pelatihku
Episode 50


__ADS_3

Risda menikmati semangkuk soto ayam yang hangat itu dengan lahapnya, sejak pagi memang dirinya belum makan. Kalau liburan sekolah dirinya paling malas untuk yang namanya makan pagi, dan biasanya dia akan makan jam 10 siang ataupun 12 siang.


Sementara Afrenzo yang memang sudah makan itu pun hanya memesan segelas teh hangat, dirinya paling anti yang namanya minuman yang dingin apalagi yang mengandung es. Keduanya saling berhadapan dan hanya terpisahkan oleh sebuah meja yang ada dihadapan keduanya.


"Habis dari sawah?" Tanya Afrenzo ketika melihat Risda memasukkan satu sendok makanan yang terakhir.


"Hah? Gue ngak pernah ke sawah, ngapain gue ke sawah?" Tanya Risda yang tidak mengetahui maksud dari Afrenzo.


"Makanmu lahap banget."


Mendengar itu hanya membuat Risda menyengir bagaikan kuda, "Sotonya enak," Jawabnya tanpa rasa bersalah. Ia tidak tau bahwa Afrenzo memang sejak tadi memperhatikannya, karena dirinya yang terlalu fokus dengan semangkuk soto itu.


"Mau nambah lagi?" Tanya Afrenzo masih tetap tanpa ekspresi.


"Ngak usah ngak usah!" Jawab Risda dengan cepatnya. "Gue udah kenyang banget soalnya, Renzo. Kalo ditambah lagi nanti perut gue ngak muat,"


"Mau dibungkuskan?"


"Ngak usah, Renzo. Gue ngerepotin lo banget,"


"Lo Adik gue."


"Iya Kakak Renzo, ngak usah dibungkuskan, nanti ngak ada yang makan. Kan sayang nasinya, gini aja udah cukup kok,"


"Buat makan sore lo nanti,"


"Gue ngak enak aja sama orang rumah, udah dimasakin tapi malah bawa makanan dari luar."


"Yaudah, ayo pulang."


Afrenzo lalu bangkit dari duduknya untuk mendekat kearah gerobak soto tersebut, ia pun mengeluarkan dompet miliknya yang ada disaku celananya, dan membayar makanan itu.


Keduanya lalu keluar dari warung soto itu, dan kembali mendekati kearah dimana keduanya memarkirkan sepedah motornya itu. Risda merasa bahwa badannya sudah jauh lebih mendingan saat ini daripada sebelumnya, karena perutnya yang sudah terisi dengan makanan.


"Renzo, kok lo bisa tau gue ada dijembatan?" Tanya Risda yang sejak tadi memang penasarannya dengan kehadiran dari Afrenzo.


"Ngak sengaja, lo nangis waktu dijalan. Jadi gue ikutin lo," Jawab Afrenzo.


"Kenapa gue ngak tau soal itu? Gue ngak ngerasa ketemh sama lo dijalan deh,"


"Mungkin lo nya saja, Da. Gue panggil aja lo kagak dengar,"


"Mungkinkah seperti itu?"


Afrenzo memang sebelumnya berada disebuah pertigaan yang berada tidak jauh dari rumah Risda, pagi ini dirinya bertemu dengan pelatih yang ada dicabang lainnya untuk membicarakan acara pertandingan yang akan diadakan. Ketika hendak menyebrang jalan, dirinya melihat Risda yang tengah melaju dijalanan itu dengan linangan air matanya.


Hal itu lalu membuat Afrenzo melajukan motornya untuk segera menyusul Risda, beberapa kali dirinya memanggil gadis itu, akan tetapi Risda sana sekali tidak menyahuti ucapannya karena suasana hatinya yang sedang memburuk.


Ia pun melihat Risda berhenti disebuah jembatan yang memang jarang dilewati oleh orang orang sekitar. Afrenzo memperhatikan apa yang tengah dilakukan oleh Risda, ia juga mendengar ucapan ucapan yang sebelumnya telah diucapkan oleh Risda.


Akan tetapi, dirinya sama sekali tidak bertindak apapun, ia membiarkan Risda untuk mengutarakan isi hatinya itu, sampai akhinya dirinya menghentikan apa yang dilakukan oleh Risda yang hendak bunuh diri itu. Sudah dua kali dirinya yang mendapati gadis itu tengah berusaha untuk bunuh diri.


"Sekarang pulang, dan istirahat."


"Gue ngak papa kok, gue ngak sakit,"


"Wajah lo ngak bisa bohong, Da. Pucet kayak gitu lo bilang ngak papa? Mulut lo yang ngak papa,"

__ADS_1


"Sejak kapan lo jadi bawel ke gue? Biasanya aja cuma hem hem hem, ditanya selalu jawabnya hem, dipanggil jawabnya hem, diajak bicara jawabnya hem. Sekarang lo bener bener sudah bawel ya, beda dari Renzo yang gue kenal dulu,"


"Lo pengen gue balik kayak dulu?" Tanya Afrenzo dengan nada dinginnya.


"Ya jangan gitulah, ngambek nih ya?"


"Hem..."


"Yah jawabnya gitu lagi, ngak ada kata lain apa?"


"Hem..."


"Gue serius, Renzo. Kenapa lo hanya berdehem aja sih, ngomong aja panjang lebar kayak tadi,"


"Hem..."


"Lama lama gue dorong lo ke sungai."


"Hem..."


Risda pun mengerucutkan bibirnya dihadapan Afrenzo, sementara Afrenzo mengabaikan gadis itu dan memilih untuk memakai kembali helmnya itu. Dirinya pun naik keatas motornya itu, setelah itu Afrenzo lalu menyalakan motornya. Melihat itu langsung membuat Risda ikut serta menyalakan motornya juga,


"Renzo,"


"Hem?"


"Lo ngak punya cita cita, ngajakin gue ke pantai lagi?"


"Gue ngak punya cita cita."


"Lah kalo besar nanti, lo mau jadi apa?"


"Maksud gue, kalo lo lulus sekolah nanti. Lo lanjut kuliah atau kerja?"


"Gue udah kerja,"


"Kerja apa'an? Kan lo masih sekolah."


"Ngelatih beladiri."


"Eh iya gue lupa, lo kan pelatih beladiri disekahan itu, dan pastinya lo juga dapat gaji kan. Jadi, intinya lo lanjut kuliah?"


"Insya Allah,"


"Langsung jawab kuliah gitu aja susah, dari tadi kek jawab gitu. Kenapa harus diputarin kemana mana dulu sih?"


"Takdir."


Risda pun menghela nafasnya, cowok itu memang sangat sulit untuk diajak bicara. Jika sudah menjawab seperti itu, maka akan sulit untuk menang bicara ketika melawan Afrenzo, apapun itu karena memang sudah tertulis dalam takdir.


"Jalan!" Perintah Afrenzo dan langsung membuat Risda memutar gasnya.


Motor milik Risda pun melaju meninggalkan tempat itu terlebih dulu daripada motor milik Afrenzo, dipertengahan jalan Risda melihat kearah spion motornya dan mendapati sosok Afrenzo yang tengah mengikutinya dari belakang.


"Mau kemana tuh bocah? Kenapa ngikutin gue?" Tanya Risda entah kepada siapa sambil melihat kearah spion miliknya itu.


Meskipun Risda tengah berbelok, Afrenzo terus membuntutinya dan ikut berbelok. Hingga Risda pun menghentikan motornya ketika hendak berbelok ke gang rumahnya, Afrenzo pun ikut serta menghentikan sepedah motornya itu.

__ADS_1


"Ngapain lo mbuntutin gue?" Tanya Risda sambil membuka kaca helmnya.


Afrenzo lalu membuka kaca helmnya itu, "Mastiin lo selamat sampai tujuan," Jawab Afrenzo.


"Gue baik baik saja kali, gue bilang juga apa? Gue baik baik saja, Renzo. Gue kagak sakit, dan ngak perlu lo awasi sampai rumah seperti ini,"


"Buat mastiin saja, pulanglah."


"Maaf merepotkan, lo buruan balik. Gue udah ngak papa kok,"


"Iya,"


Afrenzo mempersilahkan Risda untuk menjalankan motornya menuju kerumahnya, ia tidak akan pergi dari tempat itu sebelum memastikan Risda masuk kedalam rumahnya. Setelah melihat Risda sudah masuk kehalaman rumahnya, Afrenzo lalu bergegas meninggalkan tempat tersebut untuk menuju kerumahnya sendiri.


*****


Diparkiran sekolah, Risda tengah memarkirkan sepedah motor milinya. Tanpa sengaja dirinya melihat Afrenzo yang sedikit kesulitan untuk memarkirkan sepedahnya itu karena parkiran sudah penuh dengan motor para siswa.


"Gue bantuin," Ucap Risda.


Risda pun mencarikan sebuah celah untuk memarkirkan motor milik Afrenzo, Ia pun mencoba untuk menggeser geser motor motor yang ada ditempat itu untuk memberi celah untuk Afrenzo memarkirkan motornya.


Setelah lama berusaha akhinya usaha mereka berhasil. Risda pun mengusapi keringat yang ada dikeningnya menggunakan jilbabnya, benar benar usaha yang melelahkan baginya.


"Tumben lo berangkat telat jam segini, Renzo? Biasanya lo sudah berjaga digerbang dan memeriksa kelengkapan para siswa. Ngak mungkin lo telat bangun kan?" Tanya Risda sambil memincingkan sebelah matanya karena penasaran.


"Ada urusan penting," Jawab Afrenzo singkat.


"Urusan penting apa'an?"


Afrenzo pun tidak menjawab ucapan Risda, tatapan Risda pun tertuju kearah tangan kiri Afrenzo yang berbalut dengan kain kasa dan perban. Melihat itu langsung membuat Risda mengangkat tangan Afrenzo dengan kedua tangannya.


"Luka lo tambah parah? Dan rasanya kayak bengkak," Risda pun merasakan telapak tangan Afrenzo yang terasa lebih besar dari biasanya itu.


"Udah diobatin,"


"Diobatin pake apa? Sampai bengkak seperti ini,"


"Disuntik, terus lukanya dibersihkan oleh Dokter."


"Ini pasti sakit kan? Maafin gue, Renzo. Gara gara gue, lo jadi terluka seperti ini. Gue bener bener ngak enak sama lo,"


"Jangan lakukan hal bodoh lagi, kalo lo benar benar ngerasa ngak enak sama gue,"


"Iya Renzo, gue minta maaf."


"Sudah, sebaiknya lo segera masuk kekelas lo, sebentar lagi jam masuk sekolah berbunyi."


"Lo ngak kekelas juga? Kelas kita kan bersebelahan,"


"Nanti aja, gue ada perlu dengan OSIS."


"Baiklah kalau seperti itu. Gue duluan ya?"


"Iya."


Risda lalu bergegas meninggalkan Afrenzo ditempat itu untuk masuk kedalam kelasnya itu, sementara Afrenzo lalu bergegas untuk menuju keruangan OSIS yang memang jaraknya dari parkiran motor tidak begitu jauh.

__ADS_1


Mereka mengadakan rapat pagi pagi untuk membahas sesuatu yang penting. Karena hal itu membuat kelas Risda nampak sepi karena ketidak adanya Mira dan Septia dikelas tersebut, kedua temannya itu kini juga berada diruangan OSIS, karena keduanya adalah anggota OSIS baru.


__ADS_2