
"Akh, sakit Renzo, perih." Pekik Risda yang kini tengah diobati oleh Afrenzo diruang UKS yang ada disekolah tersebut.
"Tahan bentar, daripada nanti memarnya makin parah," Ucap Afrenzo.
Afrenzo terus mengobati luka memar yang ada dipipi Risda dengan perlahan lahan, meskipun begitu Risda masih tetap saja memekik pelan karena sakit. Dengan perlahan lahan Afrenzo meniup luka memarnya tersebut, hal itu membuat Risda merasa lebih baik daripada sebelumnya.
Risda pun merebut kapas yang ada ditangan Afrenzo, dirinya pun menempelkan kapas yang terdapat obat tersebut diujung bibir Afrenzo yang tengah meniup luka memar yang ada diwajahnya itu.
"Luka gue udah ngak papa," Ucap Afrenzo.
"Tapi bekasnya masih biru, pasti itu jauh lebih sakit daripada memar gue kan?"
"Bekas tidak mudah hilang, begitu juga dipipi lo,"
"Kita sama sama bonyok ya? Gue dipipi sementara lo diujung bibir, nanti orang orang bakalan ngira kalo kita habis main tinju tinjuan,"
Mendengar itu hanya membuat Afrenzo menggelengkan kepalanya lirih sambil tersenyum tipis kearah Risda, bagaimana bisa main tinju tinjuan hingga menimbulkan bekas seperti ini? Yang ada bukan main justru keseriusan memukul.
"Renzo, kenapa lo bisa tahan sakit? Padahal ini perih banget," Keluh Risda.
"Sudah biasa."
"Jadi Bokap lo sering ngelakuin itu sama lo? Tega banget deh,"
"Jangan berantem, kalo ngak mau sakit lagi."
Setelah itu, Afrenzo pun langsung mengembalikan obat salep yang dia pakai sebelumnya. Afrenzo meninggalkan Risda ditempat itu sendirian, hal itu langsung membuat Risda bergegas untuk menyusulnya karena tidak mau ditinggal.
Afrenzo tidak suka membahas masalah keluarganya kepada siapapun, hal itulah yang membuat dirinya bergegas pergi dari tempat itu, karena dia tidak mau Risda terus membahas mengenai lukanya. Risda lalu mengejarnya dan berusaha untuk menghentikan langkah kakinya.
"Renzo! Tungguin gue lah," Keluh Risda.
Afrenzo lalu menghentikan langkahnya ketika Risda memanggil dirinya, Risda pun lalu berdiri dihadapannya dengan segera untuk mencegah kepergian dari Afrenzo.
"Kenapa lo ninggalin gue sih," Keluh Risda dengan nafas yang tersengal segal.
"Ngak usah dibahas."
"Lo marah sama gue? Renzo, gue ngak bermaksud seperti itu kok, maafin gue." Risda pun memegangi kedua telinganya dengan kedua tangannya dihadapan Afrenzo sambil meminta maaf.
Afrenzo pun menggerakkan tangannya dan mengusap pelan kepala Risda, setelahnya dirinya kembali bergegas pergi meninggalkan Risda begitu saja. Risda berpikiran bahwa Afrenzo sangat marah kepadanya saat ini, sehingga dirinya sama sekali tidak berbicara dan tidak seperti biasanya meskipun hanya deheman saja.
"Renzo marah ya?" Tanya Risda dengan nada sedihnya kepada Afrenzo yang tengah berjalan menjauh darinya.
"Ngak," Jawab Afrenzo singkat dan masih tetap berjalan menjauh.
Risda pun kembali mengejar Afrenzo, ia tidak mau ditinggal oleh Afrenzo begitu saja saat ini. Dirinya tidak mau temannya itu membencinya hanya karena pertanyaannya sebelumnya, ketika Afrenzo hendak melewati pintu kelasnya tiba tiba Risda menghalanginya didepan pintu.
"Renzo, kenapa lo ninggalin gue sih? Lo marah sama gue?" Tanya Risda sambil membentangkan tangannya mencegah Afrenzo masuk.
"Gue mau lewat," Ucap Afrenzo.
"Ngak boleh,"
"Risda," Ucap Afrenzo dengan tatapan dingin yang langsung membuat nyali Risda menciut.
Tapi apa yang dilakukan oleh Risda diluar ekspektasi seorang Afrenzo, "Wajah lo lucu kalo gitu, jadi gemes banget deh," Ucapnya sambil mencubit pipi Afrenzo.
"Woi minggir napa sih, kita mau lewat nih!" Seru seseorang dibelakang Risda, dan mereka adalah teman sekelas dari Afrenzo.
"Bodoamat sama lo lo pada!" Teriak Risda lagi yang membuat mereka ingin sekali memukul gadis itu.
"Lo!!"
Afrenzo lalu menarik tangan Risda untuk menyingkir dari pintu tersebut, Risda hanya diam saja dan menuruti kemana Afrenzo akan membawanya saat ini. Keduanya kini telah sampai didepan kelas Risda, karena memang kelas mereka saling berhadapan.
"Masuk!" Perintah Afrenzo kepada Risda.
"Renzo, jangan marah ke gue dong. Gue ngak bermaksud seperti itu kok tadi, beneran deh."
"Waktu istirahat sudah habis, sebentar lagi pelajaran akan dimulai," Ucap Afrenzo yang sama sekali tidak menanggapi ucapan Risda.
"Ngak mau," Jawab Risda sambil menundukkan kepalanya dihadapan Afrenzo.
"Gue ngak marah, nanti lo ketinggalan pelajaran,"
__ADS_1
"Beneran?"
"Iya."
Risda pun masuk kedalam kelasnya dengan menundukkan kepalanya dalam, melihat kedatangan Risda langsung membuat teman temannya bergegas untuk menemuinya. Bekas luka memar yang ada dipipi Risda pun mulai nampak sedikit membiru, melihat itu langsung membuat teman temannya menghujaninya dengan banyak pertanyaan.
"Risda, ini pasti sangat sakit kan?"
"Da, lo ngak papa kan?"
"Muka lo bonyok kek gitu, Da. Nyeremin banget tau ngak sih?"
"Sampek biru gitu, emang kebangetan tuh si ikan lohan. Sampek bengkak kek gitu,"
"Da, is kek preman aja kau ini. Ngeri banget lihatnya,"
Begitu banyak suara yang didengar oleh Risda hingga dirinya kesulitan untuk menjawab pertanyaan dari teman temannya itu, entah pertanyaan yang mana yang harus dia jawab saat ini. Risda pun menghela nafas dengan kasarnya mendengar pertanyaan pertanyaan itu.
"Tepak makan gue dimana?" Tanya Risda tanpa menjawab pertanyaan pertanyaan dari teman temannya itu.
"Ada didalam tas lo, Da. Udah gue cuci juga sebelumnya," Jawab Septia.
"Thanks ya," Ucap Risda sambil berjalan kearah bangkunya.
*****
Brakkk...
Afrenzo dengan kerasnya menendang perut Farhan setelah pulang sekolah, sesuai dengan ucapannya bahwa dirinya akan menunggu Farhan dilapangan depan sekolahan itu. Farhan yang belum siap untuk menerima tendangan bebas dari Afrenzo itu langsung terjatuh diatas paving.
"Bangun lo!" Sentak Afrenzo, sambil memegangi erat kerah baju Farhan.
Afrenzo yang memang tidak pernah memukul orang sembarangan itu pun tanpa segan segan untuk menghajar Farhan yang telah melukai Risda, Afrenzo masih tidak terima dengan luka yang didapatkan oleh Risda sebelumnya itu. Perkelahian itu tak luput dari perhatian para siswa yang melintas ditempat itu, Risda yang tengah membeli sari kedelai itu pun terkejut menyaksikan hal itu.
Baru kali ini dirinya melihat Afrenzo yang tengah bertarung, Afrenzo memang jago beladiri sehingga hal itu membuat Farhan kewalahan untuk menghadapi dirinya. Farhan yang memang ikut beladiri dari perguruan lainnya itu pun mampu untuk menangkis serangan yang diterimanya.
"Renzo ngapain bertarung?" Tanya Risda entah kepada siapa.
Pertarungan tersebut pun tak luput dari perhatian para siswa yang ada ditempat itu begitupun dengan Risda, Risda bingung kenapa Afrenzo mau bertarung hanya demi dirinya, dan Risda sudah menganggap bahwa masalahnya telah berakhir.
"Renzo!" Teriak Risda dari kejauhan sambil meminum es sari kedelai didalam kantung plastik.
"Jangan bertarung lagi," Ucap Risda pelan sambil memegangi tangan Afrenzo.
"Bilangin tuh sama dia! Seenaknya aja mukulin orang," Ucap Farhan sambil memegangi ujung bibirnya yang sobek.
"Awas sampe lo macem macem ke Risda!" Ucap Afrenzo dingin kepada Farhan.
Afrenzo langsung membawa Risda pergi dari tempat tersebut, dan Risda hanya menurutinya sambil mengenggam erat es sari kedelai yang ada dikantung plastik tersebut. Keduanya telah sampai didepan aula beladiri yang berada didekat sekolahan tersebut, Afrenzo langsung menyuruh Risda untuk duduk.
"Lo kenapa sih, Renzo? Lagi PMS ya? Gue tadi kan sudah bilang kalo masalah gue sudah selesai sama tuh orang," Ucap Risda.
"Dia mau nyakitin lo sepulang latihan, karena tidak terima jika dia diskors dari sekolahan ini selama 3 hari," Ucap Afrenzo.
"Nyakitin gue?" Tanya Risda yang tidak paham dengan ucapan dari Afrenzo.
Sebelumnya, Afrenzo mendengar rencananya yang akan dilakukan oleh Farhan beserta teman temannya untuk menghadang Risda yang pulang setelah latihan. Karena disaat itu dirinya akan jauh dari Afrenzo, sehingga tidak ada yang akan menolongnya itu.
Memang masalah mereka telah selesai sebelum, akan tetapi karena mendengar itu langsung membuat Afrenzo menghajar Farhan saat itu juga. Farhan menang beraninya sama cewek akan tetapi jika berhadapan dengan Afrenzo dirinya pasti langsung berubah menjadi Hello Kitty.
"Gue ngak paham dengan apa yang lo katakan, Renzo. Emang dia mau nyakitin gue?"
"Pulang latihan gue antar pulang,"
"Tapi gue ngak mau ngerepotin lo, Renzo."
"Gue ngak suka dibantah!"
"Iya ya," Jawab Risda acuh tak acuh.
Afrenzo lalu mengambilkan sebuah kotak bekal dan memberikannya kepada Risda, melihat itu membuat Risda tidak langsung menerima kotak bekal tersebut. Hal itu langsung membuat Afrenzo menaruhnya dipangkuan Risda.
"Kenapa lo kasih ini ke gue?" Tanya Risda.
"Makan, gue tau lo belom makan sejak pagi,"
__ADS_1
"Tapi ini kotak bekal milik lo, Renzo. Lo sendiri juga belum makan kan?"
"Lo butuh tenaga lebih banyak untuk berlatih daripada gue,"
"Gue malah ngerepotin lo kan jadinya. Gara gara gue, lo jadi ngak makan,"
"Gue udah makan, cepat makan setelah itu ganti baju."
Afrenzo pun meninggalkan Risda yang tengah duduk didepan aula beladiri tersebut, Afrenzo pun lalu masuk kedalam aula itu untuk mengganti pakaiannya diruangannya yang ada dilantai atas. Melihat itu langsung membuat Risda memakan makanannya tersebut karena dirinya yang memang merasa lapar saat ini.
Setelahnya, Risda kembali kekelasnya untuk mengambil pakaiannya yang memang dirinya taruh didalam tasnya. Setelah itu dirinya kembali lagi ke aula beladiri dengan pakaian beladirinya, ia melihat teman teman seperguruan sudah ada ditempat itu.
"Tumben baru datang lo, Da?" Tanya Vina yang melihat kedatangan Risda.
"Datang terlambat salah, datang terlalu cepat salah. Emang gue harus datang kek gimana anjiiir!" Umpat Risda.
"Kagak salah sih, cuma heran aja sama lo. Oh iya Da, lo tadi kenapa berantem dikelas? Lihat tuh muka lo juga bonyok,"
"Biar kembaran sama Pelatih lah, wajahnya kan juga bonyok." Ucap Risda dengan bangganya.
"Aneh banget lo, Da. Suka cari gara gara sih lo, mangkanya sampe dihajar sama orang,"
"Bukan gue yang cari gara gara sama orang, tapi mereka yang cari gara gara sama gue,"
"Baris!" Teriak seseorang dan langsung membubarkan mereka yang sedang ngerumpi.
Teriakan itu berasal dari Afrenzo yang berada tidak jauh darinya, melihat itu langsung membuat mereka membubarkan diri masing masing untuk bergegas kebarisannya. Latihan disore hari itu pun telah dimulai, seluruhnya melakukan gerakan yang diajarkan oleh Afrenzo.
"Kuda kuda sejajar!"
*****
Selesai latihan, mereka pun membubarkan diri masing masing untuk menuju kerumahnya. Risda masih tetap berada ditempat itu untuk menunggu Afrenzo yang tengah bersiap siap diruangan atas, Risda tidak diizinkan untuk pulang terlebih dulu oleh Afrenzo, sehingga dirinya harus menunggu Afrenzo dulu.
"Huft... Kenapa gue bisa punya musuh ya?" Tanyanya kepada dirinya sendiri sambil menghela nafas kasar.
Tak beberapa lama kemudian akhinya, Afrenzo telah selesai mengganti pakaiannya diruangan atas. Dirinya pun memakai jaket hitam yang biasanya dia pakai, melihat kedatangan Afrenzo langsung membuat Risda bangkit dari duduknya.
"Ayo pulang, gue takut dimarahin sama Kakak gue," Ajak Risda.
"Iya," Jawan Afrenzo singkat dan langsung bergegas menuju keparkiran ditempat itu.
Afrenzo lalu memakai helmnya tersebut, begitupun dengan Risda yang memakai helmnya sendiri. Keduanya pun menyalakan motor mereka masing masing dan bergegas meninggalkan tempat itu, Afrenzo menjalankan motornya dibelakang Risda.
Risda pun menghentikan motornya ketika hendak berbelok menuju gang yang akan mengarah kepada runahnya, hal itu membuat Afrenzo pun menghentikan motornya disebelah Risda dan membuka kaca helmnya itu.
"Disini aja ya, gue ngak mau nanti ada yang ngompor ngomporin gue. Lagian gue juga baik baik saja kok, kan ini gang rumah gue sendiri," Ucap Risda yang agak takut dengan tatapan dari Afrenzo.
"Baiklah, gue pulang," Ucap Afrenzo sambil menurup kembali kaca helmnya.
"Renzo!" Panggil Risda.
"Ada apa?" Tanya Afrenzo.
"Maaf ya, gue ngerepotin lo lagi. Lo memang temen terbaik gue,"
"Santai aja,"
Afrenzo pun menjalankan motornya untuk meninggalkan Risda ditempat itu, sementara Risda kembali menjalankan motornya menuju kerumahnya. Tak beberapa lama kemudian dirinya lalu memarkirkan sepedahnya ditempat biasanya menaruh motornya.
Risda langsung masuk kedalam kamarnya dan bergegas menuju kekamar mandi untuk membersihkan tubuhnya itu, setelahnya dirinya kembali masuk kedalam kamarnya tanpa banyak berbicara kepada Indah.
"Kemaren gue sama Bunda beli nugget deh, gue mau goreng ah sekalian buat cemilan dikamar."
Risda pun bangkit dari duduknya untuk menuju kearah lemari es untuk mengambil nugget ayam yang dirinya beli bersama dengan Ibunya, ia pun mencari keberadaan dari makanannya itu akan tetapi dirinya tidak menemukannya.
"Kak, dimana nuggetku?" Tanya Risda untuk pertama kalinya bertanya kepada Kakaknya itu.
"Udah habis," Jawan Indah.
Mendengar jawaban tersebut membuat hati Risda merasa kecewa, padahal dirinya meminta kepada Ibunya membelikan itu untuknya, akan tetapi justru Indah telah menghabiskannya seorang diri. Ia pun kelepasan menutup pintu kulkas itu dengan keras, bukan maksudnya untuk membanting pintu tersebut akan tetapi dirinya kelepasan untuk hal itu.
"Ngak terima aku habisin nuggetnya? Ini kulkas aku yang beli, jadi terserah aku dong," Ucap Indah dengan nada kasar kepada Risda.
Risda sama sekali tidak menyahutinya dan memilih untuk kembali kekamarnya, dirinya pun langsung membaringkan tubuhnya diatas kasurnya itu. Padahal dirinya pengen memakan nugget tersebut, baru saja kemaren dirinya beli akan tetapi hari ini telah habis dimakan oleh keluarga Kakaknya itu.
__ADS_1
"Gue memang numpang disini, jadi gue ngak berhak soal apapun itu," Ucap Risda lirih.
Ada perasaan kecewa didalam harinya, karena apa yang dilakukan oleh Indah itu. Risda bahkan belum sempat untuk mencicipinya satu, akan tetapi nugget miliknya telah habis tak tersisa sedikitpun itu.