Pelatihku

Pelatihku
Episode 48


__ADS_3

Pertengkaran dikeluarga itu pun terjadi lagi, Risda menangis didalam kamarnya dengan menutupi wajahnya dengan bantal karena ia tidak mau mendengar ucapan ucapan yang membuatnya semakin terluka itu.


Risda sangat lelah mendengarkan hal tersebut, bahkan seakan akan pertengkaran itu tiada habisnya. Setiap Ayahnya pulang bekerja, rumah tersebut akan dipenuhi dengan air mata, mereka tidak tau bahwa saat itu mental anaknya sendiri yang sedang dihajar mati matian.


Memang mereka yang bertengkar, tapi anak mereka yang merasakan kesedihan yang paling mendalam. Apalagi gadis yang baru menginjak usia 7 tahun itu, gadis sekecil itu harus merasakan sakitnya pertengkaran itu.


Saat ini, Risda tengah tidur dikamarnya dengan lampu kamar yang mati, ditengah tengah kegelapan itu dirinya duduk sambil memeluk kakinya yang ditekuk. Ia sangat ketakutan ketika mendengar suara yang sangat menyayat hatinya itu.


"Kenapa Ayah dan Bunda seperti ini? Apa mereka sudah ngak sayang sama Risda lagi? Bunda, Risda takut," Ucap Risda lirih sambil membenamkan wajahnya diantara kedua lututnya itu.


Risda menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya, ia benar benar ketakutan. Bukan takut karena kamarnya yang gelap gulita, akan tetapi dirinya takut mendengar suara suara kasar tersebut yang membuat hati kecilnya menjerit ketakutan.


Bukan hanya mendengar suara kasar saja, akan tetapi dirinya pun mendengar sebuah barang yang seakan akan tengah dilempar, bahkan almari pun terdengar seperti sedang digebrak, pintu seakan akan tengah didobrak. Hal itu, semakin membuat Risda ketakutan, dan bahkan dirinya tidak berani untuk membuka kedua matanya itu.


"Pergi kamu dari sini! Kau telah mengkhianatiku!"


Suara Dewi seakan akan menggema didalam rumah tersebut, tidak ada hal yang lebih menakutkan daripada suara tersebut bagi Risda. Risda pun memberanikan diri keluar dari kamarnya, ia membuka sedikit kelambu yang terpasang dipintu kamarnya untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi.


Dirinya begitu terkejut ketika melihat kondisi rumah yang berantakan, barang barang berserakan, gelas dan piring pun pecah berceceran dilantai. Risda yang melihat itu pun merasa semakin takut, ia juga melihat Ibunya dan Ayahnya saling mendorong.


Ibunya pun menabrak sebuah tembok hingga terdengar suara benturan yang sangat keras, melihat itu langsung membuat Risda bergegas untuk memeluk Ibunya, ia tidak mau Ibunya kenapa kenapa.


"Jangan pukuli Bunda lagi! Huaaa....." Teriak Risda dengan memeluk Ibunya dengan sangat eratnya.


"Minggir kamu!" Sentak Ayahnya sambil menarik tangan Risda dengan kerasnya.


"Ngak!! Jangan pukuli Bunda!"


Risda sama sekali tidak mau melepaskan pelukannya dari dalam pelukan Ibunya, melihat itu langsung membuat Sandi meninju tembok yang ada disebelah mereka dengan sangat kerasnya. Setelah itu, Sandi langsung bergegas meninggalkan tempat tersebut dengan marahnya.


"Bunda, Risda takut," Cicit Risda pelan dan membenamkan wajahnya didada Dewi.


"Jika suatu saat Risda disuruh memilih untuk ikut Bunda atau Ikut Ayah, Risda mau pilih yang mana?" Tanya Dewi dengan linangan air mata.


Risda sama sekali tidak paham dengan maksud dari ucapan tersebut, karena dirinya yang masih kecil dan belum mengerti arti dari perceraian sehingga dirinya tidak tau maksud dari pertanyaan itu.


"Mau ikut Bunda, Ayah jahat sama Bunda. Risda ngak mau sama Ayah, Risda maunya sama Bunda,"


Mendengar ucapan Risda, hal itu langsung membuat Dewi memeluk erat tubuh anaknya itu. Saat ini, Indah sedang pergi merantau untuk bekerja sehingga dirinya tidak mengetahui apa yang terjadi dirumahnya, dirinya hanya bersekolah sampai dijenjang SMP saja.


Hal itulah yang membuat Indah merasa iri dengan Risda yang bisa sekolah sampai dijenjang SMA, karena itu adalah pilihannya sendiri agar bisa menikah dengan seorang yang dicintainya itu, dan tanpa memikirkan masa depannya akan seperti apa nantinya.


***


Risda tengah berlarian ditengah tengah kegelapan untuk mencari sosok Ibunya, ia tidak menyangka bahwa Ibunya pergi dari rumah tanpa pamit dengan siapapun. Perkelahian dirumahnya itu pun semakin parah dengan bertambahnya hari, seakan akan tidak ada surutnya sedikitpun itu.


"Bunda! Bunda dimana?" Teriak Risda sambil memanggil Ibunya.


Dibelakang rumahnya, ada sebuah kebun yang cukup luas dan kebun itu adalah milik orang. Risda berlarian ditempat tersebut ketika waktu menunjukkan pukul 11 malam untuk mencari Ibunya seorang diri, dan dirinya sama sekali tidak mempedulikan lingkungan disekitarnya itu, bahkan dirinya yang selalu takut dengan kegelapan itu kini berubah menjadi penyuka kegelapan.


"Bunda jangan tinggalkan, Risda. Risda takut Bunda, hiks.. hiks.. hiks.." Risda pun mencari cari keberadaan dari Dewi.


Dewi pergi dari rumah sejak sehabis adzan isya', sejak kedua orang tuanya bertengkar lagi, dan Dewi berlari diantara kegelapan malam. Risda takut ditinggal oleh Ibunya sehingga dirinya tidak memerhatikan lingkungan yang ada disekitarnya itu, tanpa dirinya sadari bahwa dirinya melangkah terlalu jauh dan memasuki area kuburan yang ada didesa itu.


"Bunda hiks.. hiks.. hiks.." Tangis Risda malam malam ditengah tengah kuburan.


Gadis 7 tahun itu, memangis sejadi jadinya didalam area pemakaman itu, ia tidak tau bahwa dirinya telah memasuki area kuburan yang dikenal angker itu. Risda menangis sesenggukan mencari Ibunya, akan tetapi dirinya sama sekali tidak menemukan keberadaan dari Ibunya.


Pemakaman itu nampak begitu gelap karena tidak adanya cahaya disana, karena dikampung tersebut memang tidak ada cahaya lampu untuk pemakaman. Jalannya pernah diberi lampu akan tetapi langsung dicabut oleh lurah baru. Lurah itu pilih kasih terharap dusun yang ditinggali oleh Risda karena tidak ada orang yang memilihnya waktu itu.


Risda memang tinggal didesaan dan jauh dari kota, sekolahnya saja yang berada dikota akan tetapi buruh waktu yang cukup lama untuk bisa sampai dirumahnya. Jarak antara rumah dan sekolahnya ada sekitar 40km, hal itu membuat Risda berangkat sekolah menaiki motornya.

__ADS_1


"Pulanglah, Nak. Ngak baik anak kecil menangis disini seperti itu," Ucap seseorang sambil memegangi pundaknya.


Pandangan Risda tidak terlalu jelas melihat wajah orang tersebut, karena gelapnya tempat itu dirinya hanya melihat bayangan hitam saja. Risda tau dari suaranya bahwa dia adalah seorang lelaki tua dan Risda tidak pernah mendengar suaranya itu.


"Kakek siapa?" Tanya Risda sambil menghapus air matanya itu.


"Kakek rumahnya disini, cepatlah pergi sebelum banyak makhluk yang akan mengincar dirimu,"


"Risda takut,"


"Ngak papa, Kakek akan jaga disini sampai kamu pergi dari tempat ini,"


"Ini dimana Kek? Kenapa gelap sekali?"


"Ini dipemakaman,"


"Pemakaman?" Tanya Risda dengan terkejutnya.


Suara burung hantu pun didengar olehnya dengan sangat jelas, beberapa detik kemudian Kakek kakek tersebut pun menghilang dari hadapan Risda begitu saja. Seakan akan tubuhnya lenyap begitu saja, ia pun menoleh kesana kemari dan dirinya melihat banyaknya batu nisan ditempat itu.


Melihat itu langsung membuat Risda melangkah mundur perlahan lahan, akan tetapi tiba tiba kakinya tersandung oleh batu nisan yang ada dibelakangnya itu. Risda pun terjatuh dengan sangat kerasnya diatas tanah, hingga membuat telapak tangannya tergores bebatuan.


"Akh.. Tangan Risda sakit, hiks.. hiks.. hiks.." Tangis Risda sambil meniup niup telapak tangannya yang tergores itu.


Risda lalu bangkit dari duduknya, ia sangat ketakutan saat ini dan dirinya berusaha untuk pergi dari tempat itu. Ketika melangkah pergi, dirinya seakan akan ada yang sedang mengikutinya dari belakang, ia pun menambah kecepatan jalannya karena sangking takutnya.


Dijalanan itu, Risda sekilas melihat sosok wanita dengan pakaian yang serba putih melayang layang diatas pepohonan. Melihat itu langsung membuat Risda tercengang tanpa mampu untuk melangkahkan kakinya, sosok tersebut adalah sebuah sosok kuntilanak yang muncul dihadapan Risda.


Melihat itu langsung membuat Risda menelan ludahnya dengan susah payah, tangisannya pun berhenti tiba tiba. Sudah tidak mampu lagi untuk dijelaskan seberapa takutnya dirinya saat ini, kedua matanya sama sekali tidak berkedip.


Untuk pertama kalinya dirinya menyaksikan langsung sosok menyeramkan yang biasanya ada didalam film film horor, sosok wanita berbaju putih panjang dengan rambut yang terurai panjang itu pun membelakangi Risda. Risda seakan akan merasakan energi yang luar biasa saat ini, energi yang mampu membuatnya langsung merasa merinding dan lemas.


Ia tidak tau apa yang terjadi saat ini, bahkan dirinya tidak menyadari hal itu karena pikirannya yang entah pergi kemana itu. Risda pun menggeleng gelengkan kepalanya untuk menyadarkan dirinya sendiri, sekilas ia melihat bayangan Ibunya yang berada cukup jauh darinya.


"Bunda!" Teriak Risda memanggil Ibunya itu.


Risda lalu berlari kearah Ibunya itu tanpa memerhatikan lingkungan yang ada disekitarnya itu, ia pun menjatuhkan tubuhnya didalam pelukan Ibunya itu, akan tetapi Ibunya hanya berdiam diri saja tanpa membalas pelukan dari Risda.


"Bunda kemana aja? Risda sangat takut ketika Bunda pergi," Ucap Risda yang kembali terisak tangis.


Sosok tersebut masih diam saja tanpa menjawab ucapan dari Risda, merasakan bahwa Ibunya hanya berdiam saja membuat Risda melepaskan pelukannya itu. Ia melihat wajah Ibunya yang teramat sangat pucat, seakan akan tidak ada darah yang mengalir didalam tubuhnya itu.


"Bunda sakit ya?" Tanya Risda.


"Risda!" Panggil seseorang dari belakangnya.


Risda pun menoleh kearah siapa yang memanggilnya itu, ia melihat Ibunya yang tengah berada tidak jauh darinya itu. Risda merasa kebingungan kenapa Ibunya itu ada dua, ia pun menoleh kembali kearah sosok sebelum akan tetapi sosok yang ada dibelakangnya itu sudah menghilang.


"Kamu ngapain disini, Nak?" Tanya Ibunya.


"Bunda kemana aja? Risda dari tadi mencari Bunda, Risda takut dirumah sendirian," Ucap Risda seakan akan terasa begiti beratnya.


"Maafin Bunda ya, kalo Risda sudah besar nanti, Risda bakalan tau apa yang Bunda lakukan. Ayo pulang, jangan ditempat ini malam malam," Ajak Dewi.


Risda masih bingung dengan apa yang dirinya alami malam ini, tentang sosok kakek tua yang ada dipemakaman, tentang sosok seorang wanita yang melayang diudara, dan juga sosok seorang mahluk yang menyamar menjadi Ibunya itu.


Risda pun menuruti ajakan dari Ibunya, keduanya pun langsung bergegas meninggalkan tempat tersebut. Sesampainya dirumah, Dewi langsung menyuruh Risda untuk masuk kedalam rumahnya itu, sementara dirinya masih diluar.


"Bunda ngak ikut masuk?" Tanya Risda sambil mengerutkan keningnya.


"Ngak, Risda masuk saja."

__ADS_1


"Ngak mau, Risda maunya sama Bunda. Risda ngak mau masuk sendirian,"


"Risda, dengarkan Bunda ya, Bunda ngak kemana mana kok. Nanti kalo Ayahmu nyari Bunda, bilang saja Bunda pergi,"


"Bunda mau pergi kemana? Risda ikut,"


"Bunda ngak pergi kemana mana, Bunda mau sembunyi dari Ayahmu."


"Bunda janji ya? Bunda ngak akan ninggalin Risda,"


"Iya, Bunda janji sama Risda. Bunda akan selalu menemani Risda, kemanapun Risda pergi,"


Tepat pukul 12 malam, Risda kembali masuk kedalam rumahnya itu. Suasana rumah itu nampak begitu sepi dan sunyi, Risda lalu membaringkan tubuhnya diatas kasur kamarnya itu karena kelelahan. Risda masih memikirkan tentang kejadian sebelumnya itu, bayangan bayangan mahluk gaib itu terus bergentayangan didalam pikirannya itu.


Risda lalu memejamkan matanya karena kelelahan, tidak biasanya dirinya tidur dijam segini karena biasanya Risda akan tidur dijam 8 malam. Belum sempat dirinya tertidur pulas, dia merasakan ada seseorang yang masuk kedalam kamarnya itu, dan Risda langsung membuka kedua matanya.


"Dimana Ibumu?" Tanya Sandi dengan nada kasarnya kepada Risda.


"Aku ngak tau, Yah." Ucap Risda dan langsung menangis karena tidak pernah mendapatkan kata kata kasar seperti itu.


Brakkk...


Sandi pun memukul almari pakaian yang ada didalam kamar Risda dengan kerasnya, hal itu langsung membuat Risda terkejut bukan main. Risda reflek menutupi kedua telinganya dan memejamkan erat kedua matanya itu.


"Anak ngak berguna! Cepat katakan dimana Ibumu!" Sentak Sandi kepada Risda.


"Aku ngak tau! Dia pergi ninggalin aku!" Sentak Risda dengan kerasnya hingga menyamai suara Ayahnya.


Seakan akan Risda tidak ada rasa hormat lagi kepada Ayahnya, nada bicaranya tidak jauh berbeda dari nada bicara Ayahnya kepada dirinya itu. Mendengar itu langsung membuat Sandi menampar keras pipi Risda, hingga membuat Risda menjerit kesakitan karenanya.


Suara tangisan Risda pun semakin kerasnya, ia tidak peduli bahwa para tetangganya akan berdatangan nantinya kerumahnya itu. Sakit hati, sakit fisik, bahkan sakit mental yang kini ia rasakan. Seakan akan mentalnya dihajar habis habisan saat ini, tidak ada lagi kasih sayang, tidak ada lagi cinta seorang Ayah baginya lagi.


Risda memegangi pipinya dengan kerasnya, rasa perih, panas, kebas, dan nyeri pun ia rasakan dibagian pipinya. Untuk pertama kalinya Sandi menampar anaknya yang masih berusia 7 tahun itu, Risda tidak menyangka bahwa Ayahnya akan tega melakukan itu kepadanya.


*Flash back off*


Risda mengenggam erat tangannya itu, ia pun memukulkan kepalan tangan tersebut kepada tembok yang ada disebelah itu. Hal itu sama persis yang pernah Sandi lakukan kepadanya, Risda adalah Sandi dalam versi wanita.


"Gue ngak peduli lo mati atau hidup! Mending lo pergi aja dari dunia ini! Apa lo ngak puas ngehajar mental anak lo sendiri ha! Apa nunggu gue mati baru lo akan menghargai gue!" Teriak Risda didalam kamarnya.


Risda pun memukul mukulkan kembali tangannya ditembok itu, ia tidak peduli bahwa tangannya akan terluka nantinya. Rasa sakit didadanya pun menyeruak kembali dan terasa sangat menyakitkan hatinya, ia baru berhenti memukul tembok ketika tangannya mulai mati rasa.


"Gue ngak mau hidup lagi, hiks.. hiks.. hiks.." Tangis Risda yang sangat menyayat hati.


Risda pun mengambil cutter yang ada didalam laci disebelahnya, ia pun melihat bahwa benda tersebut terlihat begitu tajamnya. Tangannya bergetar ketika memegangi benda tajam itu, dengan kedua matanya yang terus mengalirkan air mata itu.


"Kalo gue mati, apakah kalian semua bakalan sadar akan keberadaan gue? Gue lelah, biarkan gue pergi dan tidak akan pernah kembali lagi. Seorang itu berharga kalo sudah tiada, dan gue pengen dihargai oleh kalian semua."


Air mata Risda sudah tidak mampu dibendung lagi, dirinya lalu memasukkan cutter tersebut kedalam saku bajunya. Ia pun menyahut sebuah kunci sepedah motor miliknya itu, ia lalu bergegas keluar dari kamarnya dan mengendarai motornya untuk pergi entah kemana.


Risda pun menghentikan sepedah motornya disebuah jembatan yang berada tidak jauh dari rumahnya itu. Ia pun melihat aliran air yang sangat tenang, akan tetapi sungai itu arusnya cukup untuk membuat seseorang hanyut dan tenggelam karena kedalamnya.


"Gue pergi dulu, ya? Gue ngak mau kalian repot repot untuk nguburin jenazah gue nantinya, dan biarkan air sungai yang melakukan semuanya untuk Risda, maafin Risda ya. Risda sudah ngak sanggup untuk hidup lebih lama lagi,"


Risda lalu mengeluarkan cutter yang ia bawa sebelumnya dan memeganginya ditangan kananya. Ia lalu memanjat tembok pembatas sungai itu, dan bersiap siap untuk lompat nantinya. Risda mengangkat tangannya kirinya dan bersiap untuk untuk menyayat nadinya itu.


"Darah gue sedikit, dan jika kehabisan maka gue akan lebih cepat untuk bertemu ajal."


Risda pun tertawa, tawa yang penuh dengan kesedihan didalamnya. Meskipun dia tertawa akan tetapi air matanya terus mengalir tanpa hentinya, pandangan tertuju kepada cutter yang ada ditangan kanannya dan cutter itu ia arahkan ke pergelangan tangan kirinya itu.


"Selamat tinggal, Risda ngak mau mengusahakan kalian lagi. Terima kasih atas luka yang telah kalian torehkan dihati Risda selama ini, Risda pamit ya?"

__ADS_1


__ADS_2