
Risda kebingungan bagaimana caranya untuk membawanya turun, sementara makanan itu begitu banyak. Tadi Afrenzo menyuruhnya untuk dibawa turun, sehingga dirinya kebingungan untuk membawanya karena itu sangat berat.
"Renzo tolong!" Teriak Risda dari lantai atas.
Afrenzo yang sedang bersiap diri pun langsung terkejut, dirinya pun langsung segera menuju ke lantai atas tepat di mana Risda berada. Dia takut terjadi sesuatu dengan gadis itu, sehingga gadis tersebut berteriak seperti itu.
Afrenzo langsung melototkan matanya ketika melihat Risda yang menenteng dua buah kantung plastik yang cukup besar ditangan kanan dan kirinya, Risda yang melihat wajah panik diraut wajah Afrenzo pun hanya meringis tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Renzo, gue ngak bisa bawa semuanya sendirian. Jadi gue panggil lo kemari," Ucap Risda sambil menyengir.
"Gue nggak minta lo bawa semuanya Risda, gue hanya minta lo ambil buat lo makan, bukan semuanya."
"Gue kagak paham, jadi gue bawa semuanya, Renzo. Lo tadi juga ngak jelasin ke gue,"
"Taruh lagi ditempatnya, lalu ambil satu saja. Setelah itu turun,"
"Baik Renzo."
Afrenzo lalu kembali turun kelantai bawah meninggalkan Risda disana, sementara Risda meletakkan apa yang dirinya bawa itu kembali ketempat sebelumnya. Risda pun langsung mengambil sekotak makanan itu sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Afrenzo, dan dirinya langsung bergegas untuk turun.
Risda langsung duduk ditempatnya sebelumnya, dirinya pun langsung menakannya begitu saja sambil melihat Afrenzo yang tengah berlatih untuk menghafalkan jurusnya. Gerakannya terlihat sangat indah, terlihat lentur dan bertenaga.
"Renzo, ada minum?" Tanya Risda setelah selesai menghabiskan makanannya.
"Ambil sendiri," Ucap Afrenzo sambil menunjuk kearah sudut ruangan.
"Baiklah baiklah."
Risda pun langsung bangkit dari duduknya, dirinya bergegas untuk mengambil minuman itu. Nampak terlihat ada beberapa kardus minuman disana, dan Risda pun mengambil satu kemasan gelas air mineral.
Tak beberapa lama, para siswa yang mengikuti karnaval tersebut berdatangan, melihat itu langsung membuat Afrenzo bergegas menuju ke lantai atas. Entah mengapa lelaki itu tiba tiba naik ke lantai atas, sementara Risda langsung bergegas untuk berkumpul bersama teman temannya.
"Lo datang jam berapa, Da?" Tanya Vina.
"Gue datang habis salat subuh, jadi gue di sini sudah sejak pagi,"
"Lo dan pelatih berangkatnya lebih dulu yang mana? Kok kalian berdua sudah di sini sejak pagi?"
"Apa jangan jangan kalian berangkat bareng?" Tanya Anna.
"Ngawur aja kalian, gue aja ngak tau dia datangnya kapan. Gue sampe disini dia sudah latihan kok," Jawab Risda.
Risda memang tidak tau kapan datangnya Afrenzo ketempat itu, karena ketika dirinya datang dia sudah melihat lelaki itu latihan seorang diri disana. Entah sejak kapan dirinya datang, sehingga sepagi itu dirinya sudah ada ditempat latihan seorang diri.
"Aneh tapi nyata ya? Sangat misterius tuh orang," Ucap Anna.
"Lebih misterius lagi kalau dengan tatapannya itu, menyeramkan sekali," Ucap Risda.
Risda masih mampu untuk membayangkan tatapan yang selalu diberikan oleh Afrenzo, bahkan meski tidak secara langsung melihat tatapan itu, hanya membayangkannya saja sudah membuatnya merasa merinding. Mengapa lelaki itu bisa sedingin itu? Mengapa aura yang dikeluarkan berbeda dari yang lainnya? Aneh memang tapi itu sebuah kenyataan.
__ADS_1
Tak beberapa lama kemudian, Afrenzo turun kembali ambil membawa sekantung plastik dengan ukuran yang besar. Dirinya pun meletakkannya ditengah tengah mereka, dan lalu membuka ikatan dari plastik tersebut.
"Apa itu?" Tanya Risda yang merasa penasaran.
"Serembong sama udeng," Jawab Afrenzo. "Kalian pilih yang sesuai dengan tubuh kalian, dan cocokkan warnanya,"
Risda dan yang lainnya langsung memilih serembong yang cocok untuk mereka, setelah cukup lama akhinya mereka menemukan selera mereka masing masing. Risda memilih warna merah dan berpoleskan warna kuning mengkilap, itu terlihat sangat bagus dan sesuai dengan kesukaannya.
"Maaf telat semua, jalanan sangat macet," Ucap Carline yang baru tiba sambil membawa sebuah tas ransel yang cukup besar.
Carline langsung bergabung dengan yang lainnya, dirinya membawa peralatan make up seadanya untuk memberi kesan ksatria bagi para peserta yang ikut. Dirinya hanya membawa bedak, pelembab, eyeliner, maskara, pensil alis, listik, dan beberapa peralatan yang lainnya.
"Untuk mempersingkat waktu, para senior bantu untuk make up," Ucap Afrenzo.
"Baik Pelatih!" Jawab para senior serempak.
Para senior wanita langsung disibukkan untuk make up i para siswa yang ikut, sementara Afrenzo sibuk membantu mereka untuk memasang serembong karena Afrenzo sendiri tidak bisa untuk make up. Mereka terlihat sangat sibuk saat ini, bahkan tidak ada yang terlihat nyantai disana.
Beberapa siswa baru yang bisa untuk make up, mereka juga ikut serta untuk membantu merias temannya sesuai dengan arahan dari Carline. Risda sendiri tengah dimake up i oleh Carline, karena sebelumnya Carline berada bersebelahan dengan Risda.
"Kak, Renzo juga dimake up?" Tanya Risda kepada Carline.
"Pelatih? Dia ngak suka kalo dimake up, jadi ngak ikut make up."
"Oh,"
Carline pun kembali fokus untuk membuat alis diwajah Risda, Risda yang tidak pernah make up itu pun hanya pasrah dibuatnya tanpa ada bantahan. Risda tidak tau wajahnya akan jadi seperti apa saat ini, entah make up seperti apa yang akan dilakukan oleh Carline.
"Baik Kak,"
Risda langsung bangkit dari duduknya dan menyambar serembong yang ada disebelahnya itu. Risda langsung bergegas untuk menuju kearah dimana Afrenzo berada, dirinya langsung menghadap didepan Afrenzo.
"Renzo, pasangin dong," Ucap Risda sambil menyodorkan serembongnya.
"Ngak dipasangin sama Carline?" Tanya Afrenzo sambil mengerutkan keningnya.
Sejak tadi memang dirinya membantu untuk memasangkan serembong, akan tetapi itu hanya dirinya lakukan untuk siswa laki laki bukan perempuan. Hal itulah yang membuatnya merasa kebingungan karena kedatangan Risda tiba tiba didepannya sambil menyodorkan serembongnya itu.
Risda nampak begitu cantik, hingga membuat Afrenzo seperti pangling melihatnya. Ketika tatapan keduanya bertemu, keduanya saling menatap dalam waktu yang cukup lama.
"Ngak. Katanya suruh gue datang ke lo buat masangin serembong," Jawab Risda jujur.
Afrenzo pun menoleh kearah dimana Carline berada dengan tatapan yang aneh, Carline yang melihat itu hanya mengacungkan kedua jempol tangannya itu kepada Afrenzo. Ini semua adalah perbuatan Carline, yang menyuruh Risda untuk meminta bantuan kepada Afrenzo.
"Sudah, pasangkan saja pelatih. Biar tidak membuang buang waktu," Ucap Carline.
Afrenzo pun mengepalkan tangannya karena perbuatan dari Carline itu, benar benar rencana yang luar biasa. Melihat Afrenzo seperti merasa tidak enak, membuat Risda langsung menyambar serembongnya kembali karena dirinya tidak ingin merepotkan Afrenzo.
"Biar gue pasang sendiri saja," Ucap Risda dengan rasa yang tidak enak.
__ADS_1
"Ngak. Biar gue pasangin," Afrenzo kembali mengambil serembong tersebut dari tangan Risda.
"Tapi gue ngak mau ngerepotin lo, Renzo. Gue bisa sendiri,"
"Da! Jangan membantah,"
Afrenzo pun mengenggam pergelangan tangan Risda yang hendak pergi itu, hal itu langsung membuat Risda menghentikan langkah kakinya. Risda merasa sangat merepotkan Afrenzo, dirinya merasa tidak nyaman ketika melihat Afrenzo mengepalkan tangannya itu.
"Maafin gue yang selalu ngerepotin lo," Ucap Risda sambil menundukkan kepalanya dalam.
"Lo ngak ngerepotin kok," Jawab Afrenzo.
"Tapi gue tadi lihat, kalo lo ngak suka ketika gue minta bantuan ke lo. Mending gue masangin sendiri aja, gue ngak mau jadi beban siapapun, Renzo. Gue ngak mau itu," Terlihat setetes air mata dipelupuk mata Risda saat ini.
"Ikut gue keatas," Ucap Afrenzo.
"Ngak mau. Gue ngak mau ngerepotin orang,"
"Da, jangan membantah. Gue ngak suka itu,"
"Gue bisa sendiri!"
Hati seorang wanita mudah sekali merasa sensitif, dan bahkan mereka mudah terluka karena hal hal yang sepele. Wanita memang sangat sulit untuk dipahami, wanita adalah mahluk yang paling rumit didunia ini.
Risda lalu bergegas untuk menjauh dari Afrenzo, dirinya lalu berlari keluar dari dalam aula beladiri itu. Karena seluruhnya sibuk dengan urusan mereka masing masing, sehingga tidak ada yang memperhatikan hal itu.
Afrenzo sendiri langsung mengejarnya. Risda nampak kecewa saat ini, dan Afrenzo merasa bersalah karena hal sebelumnya itu. Risda lalu berlari menuju kearah parkiran, tiba tiba moodnya berubah dan tidak ingin mengikuti acara itu lagi.
"Da!" Panggil Afrenzo.
Afrenzo dengan sigap langsung meraih tangan Risda untuk menghentikan gadis itu, Risda sudah tidak mampu untuk membendung air matanya sendiri hingga membuat air mata itu tumpah begitu saja.
"Maaf ya?" Ucap Afrenzo lagi.
Sekuat apapun hati seorang wanita, wanita itu juga masih bisa menangis ketika orang yang dianggapnya begitu berarti itu mengabaikannya begitu saja. Itulah yang dirasakan oleh Risda, apalagi Risda sudah menganggap Afrenzo seperti sosok pengganti Ayahnya sendiri yang selalu melindunginya.
"Hei jangan nangis. Gue bukannya ngak mau bantuin lo, tapi tidak enak dilihat yang lainnya, Da. Soal persiapan cewek sudah menjadi tugas Carline," Ucap Afrenzo sambil mengusap air mata Risda yang hendak jatuh.
Risda seakan akan tidak mau mendengarkan penjelasan dari lelaki itu, dirinya pun langsung menolehkan wajahnya untuk membuang muka dari hadapan Afrenzo. Afrenzo sendiri pun hanya bisa menghela nafas dengan kasar, ternyata Risda mudah sekali untuk merajuk.
Afrenzo tidak pernah melihat Risda yang mudah marah seperti ini, bahkan ini kali pertamanya melihat Risda marah seperti ini kepadanya. Afrenzo pikir bahwa wanita seperti Risda tidak akan bisa merajuk seperti cewek kebanyakan umum lainnya, akan tetapi kali ini dirinya melihat langsung bahwa Risda juga masih seperti cewek pada umumnya.
"Lepasin gue! Gue mau pulang," Ucap Risda sambil mencoba untuk melepaskan pegangan tangan Afrenzo.
"Ngak."
Mengapa lelaki sangat sulit untuk memahami wanita padahal lelaki diciptakan lebih dulu daripada seorang wanita? Karena ketika Hawa diciptakan, saat itu Adam sedang tertidur. Oleh karena itu lelaki tidak mampu untuk memahami seorang wanita, dan sangat sulit untuk bisa melakukan itu.
"Biar gue pasangin. Jangan nangis nanti make up nya luntur,"
__ADS_1
Sama sekali tidak ada jawaban dari Risda, gadis itu hanya diam membisu saja saat ini. Afrenzo benar benar merasa bersalah terhadap Risda, sehingga membuat Risda langsung merasa sangat badmood tiba tiba.