Pelatihku

Pelatihku
Episode 146


__ADS_3

Risda melupakan rasa sakit yang ada dipipinya itu, dirinya hanya takut jika Afrenzo sampai berkelahi dikelas tersebut. Sementara Satria juga kini tengah menatap tajam kearah Afrenzo, guru dan murid tersebut saling berhadapan dan tidak memperdulikan ucapan dari Risda.


"Jika lo nggak bisa ngehargai seorang wanita, lo nggak pantes disebut sebagai lelaki," Ucap Afrenzo dingin kepada Satria.


Satria pun menatap kearah wajah Risda yang sembab habis menangis, dirinya pun merasa sedikit bersalah karena telah menampar Risda sebelumnya. Sehingga, Satria hanya diam membisu meskipun Afrenzo tengah mencengkeram dengan erat kerah bajunya itu.


"Renzo... Jangan berkelahi lagi ya?" Ucap Risda sambil mengusap pelan tangan Afrenzo dan berharap bahwa keduanya tidak akan berkelahi ditempat itu.


"Minta maaf sekarang pada Risda," Ucap Afrenzo kepada Satria dan mengabaikan ucapan dari Risda.


"Gue nggak mau!" Jawab Satria dengan tegasnya.


Bhukkk...


Afrenzo langsung memukul perut Satria dengan sangat kerasnya hingga menimbulkan bunyi nyaring, hingga membuat Risda langsung membelalakkan matanya melihat itu. Sementara Rania langsung memejamkan matanya, karena dirinya juga takut melihat orang yang berantem apalagi saling memukul.


"Renzo sudah," Ucap Risda panik.


Bukannya Risda khawatir dengan Satria yang telah dipukul oleh Afrenzo, akan tetapi dirinya takut jika Afrenzo akan terkena masalah lagi disekolahan itu. Jika lelaki itu berada dalam masalah, dia takut jika Afrenzo akan kembali dihajar oleh Ayahnya itu.


"Renzo, hajar saja dia sampe bonyok. Dia sudah nyakitin Risda tau," Suara si kompor Rania.


"Eh lo kok malah dukung sih, Ran! Lo pisahin dong, jangan malah dukung orang untuk berkelahi. Kagak manusiawi sekali lo," Ucap Risda sambil memukul pelan lengan Rania.


"Habis gimana lagi, Da. Gue sendiri juga tidak bisa misahin mereka, jadi gue dukung aja. Daripada susah susah misahin, mending diem."


"Bukan manusia lo, Ran. Manusia kagak mungkin setega itu,"


Risda semakin jengkel dengan jawaban yang diberikan oleh Rania itu, entah mengapa wanita itu justru mendukung Afrenzo untuk berkelahi dengan Satria. Disatu sisi, Risda semakin bingung untuk memisahkan mereka, apalagi suasana masih terlalu pagi dan belum ada bapak atau ibu guru yang datang.


"Renzo, jangan berkelahi lagi. Gue nggak papa kok, bekasnya juga nggak ada," Ucap Risda sambil menunjuk kearah pipinya.


Afrenzo sama sekali tidak mendengarkan ucapannya itu, Risda semakin bingung harus berbuat apa saat ini. Apalagi Rania tidak mau membantunya untuk memisahkan keduanya, sehingga hal itu semakin membuat Risda bingung.


Plakk..


Risda pun memampar pipi Satria dengan kerasnya, hal itu langsung membuat pandang Afrenzo terarah kepadanya seketika. Sementara Satria langsung memegangi pipinya yang merah itu, bahkan dirinya tidak bisa berkata kata.


"Sudah impas kan? Jadi nggak perlu lagi untuk berkelahi disini, udah gue wakili kok, Renzo. Jadi nggak perlu berkelahi lagi," Ucap Risda dengan entengnya.


"Tamparan lo kurang keras, Da. Lebih keras lagi lah, mana impas kalo seperti itu doang? Tambahin yang lebih keras lagi," Seru Rania.


"Emang tamparan gue nggak keras sama sekali ya?" Tanya Risda kepada Rania.


"Mana ada keras? Tamparan lo tuh kek tamparan anak bayi yang baru lahir,"


"Emang bayi bisa nampar?"


"Da..."


Risda pun merasa demikian, karena Afrenzo masih saja memegangi kerah baju milik Satria dengan eratnya. Afrenzo sepertinya belum puas dengan tamparan yang dilakukan oleh Risda itu, sehingga tangannya masih mengenggam baju itu dengan eratnya.


Plakk...


"RISDA!" Bentak Satria akan tetapi dirinya tidak melawan balik karena adanya Afrenzo.


"Hehe maaf, muka lo nyeselin deh. Gue tambah lagi ya? Sayang sekali kalo cuma dua tamparan doang," Tanya Risda sambil terkekeh pelan.


Mereka semua pun langsung dibuat bingung oleh Risda, bisa bisanya gadis itu berbuat seperti itu dihadapan mereka, apalagi masih bisa tertawa setelah ditampar keras oleh Satria. Afrenzo pun terlihat kebingungan dengan gadis yang ada dihadapannya itu, bahkan wajah kebingungannya itu masih terpapang jelas diwajahnya.


"Lo tambah, gue bakalan hajar lo nanti. Gue nggak akan lepasin lo, ingat itu!" Ancam Satria.


Mendengar ucapan itu langsung membuat Afrenzo mencengkeram erat kembali kerah baju milik Satria itu, Afrenzo sendiri pun tidak berkata apa apa mendengar percakapan keduanya.


"Renzo, boleh gue menamparnya lagi?" Tanya Risda seakan akan menggoda.


"Silahkan," Jawab Afrenzo singkat.


Risda pun menggosok kedua telapak tangannya sambil tersenyum misterius kearah Satria, sementara Satria tengah menatap tajam kearahnya saat ini. Satria terlihat sangat geram kepada Risda saat ini, sementara Risda justru tersenyum, dan....

__ADS_1


Plakk... Plakk.. Plakkk...


"Akh..."


Tiga tamparan sekaligus langsung mendarat dipipi kanan kiri milik Satria, setelahnya langsung membuat Risda tersenyum dengan lebarnya karena telah memukul Satria dengan kerasnya. Rania sendiri pun sampai menyengir melihat apa yang dilakukan oleh Risda itu, pasti rasanya sangat sakit sekaligus panas.


"Lima tamparan tidak cukup untuk menghukum orang yang berani menyakiti wanita," Ucap Afrenzo dingin.


Ucapan itu seketika membuat Risda bingung, senyuman yang lebar diwajahnya itu mendadak menghilang begitu saja. Afrenzo masih saja terlihat marah, meskipun Risda telah membalas tamparan yang diberikan oleh Satria sebelumnya.


"Renzo... Maksud lo apa? Bukannya gue udah membalasnya?" Tanya Risda dengan mengerutkan keningnya tidak paham.


Risda pun melihat tangan Afrenzo yang semakin mencengkeram erat itu, dirinya sampai bisa melihat otot otot milik Afrenzo yang sampai menimbul itu. Risda lalu memegangi tangan tersebut karena takut, Afrenzo lalu mendorong tubuh Satria menggunakan tangan satunya.


"Kalo lo berani nyakiti wanita lagi, lo harus berhadapan dengan gue, Sat. Bukan hanya dengan Risda, tapi dengan semuanya," Ucap Afrenzo setelahnya.


"Gue nggak ngelawan kali ini karena gue salah. Nggak seharusnya gue main tangan, apalagi dengan Risda," Ucap Satria.


"Kenapa dengan gue?" Tanya Risda heran.


"Gue nggak bisa bohong soal perasaan gue sendiri, Da. Gue suka sama lo, tapi lo nggak pernah mempedulikan perasaan gue,"


Deg...


Rasa suka itu masih saja ada didalam hati Satria, akan tetapi Risda tidak menyukai itu karena Satria memiliki sikap yang tidak disukai oleh wanita, yakni sikap kasar, suka memaksa, mudah emosi, bahkan dengan entengnya dia main tangan.


"Kalo lo suka sama dia, seharusnya lo menjaganya bukan malah menyakitinya. Tapi apa yang lo lakuin kedia?" Tanya Afrenzo kepada Satria.


"Bener tuh, mana ada cowok yang suka kepada cewek tapi justru menyakiti ceweknya. Lo sadar nggak sih apa yang lo lakuin itu?" Tanya Rania yang langsung menyela pembicaraan itu.


"Mending lo lupain saja perasaan itu ke gue, Sat. Gue tidak bisa membalasnya," Ucap Risda.


"Tapi kenapa, Da? Gue kurang apa agar lo bisa suka balik ke gue?"


Satria pun mencoba untuk meraih tangan Risda, akan tetapi Risda langsung menjauhkan tangannya agar tidak dipegang oleh Satria. Melihat itu langsung membuat Afrenzo berdiri ditengah tengah keduanya, dan menengahi keduanya.


"Rasa suka tidak bisa dipaksakan, Sat. Semakin lo paksa, semakin lo buat orang yang lo suka itu menderita. Gue nggak akan biarin temen gue sakit hati gara gara lo," Ucap Rania.


"Da. Beri gue kesempatan untuk membuktikan, cinta itu datang karena terbiasa," Ucap Satria kepada Risda.


"Semakin lo paksa gue, gue akan semakin memberontak, Sat. Gue nggak suka dipaksa," Pungkas Risda.


"Jangan paksa dia, lo hanya akan menemukan kekecewaan nantinya. Gue nggak akan biarin dia menderita gara gara paksaan lo," Sela Afrenzo.


Satria yang sama sekali tidak mendapatkan dukungan itu, hal itu langsung membuatnya mengepalkan tangannya dengan erat. Satria pun langsung bergegas untuk pergi meninggalkan tempat itu karena ucapan mereka, Satria dengan marahnya langsung pergi begitu saja.


"Renzo," Panggil Risda lirih ketika melihat Afrenzo hanya menundukkan kepalanya, dan seakan akan dirinya merasa kecewa.


"Gue balik ke kelas dulu,"


Afrenzo pun melangkahkan kakinya untuk pergi dari tempat itu, Risda merasa ada yang berbeda dari Afrenzo saat ini. Tidak mau ditinggal begitu saja, Risda pun langsung mengejarnya untuk menghentikan kepergian dari lelaki itu.


"Renzo, tungguin gue!" Teriak Risda memanggil Afrenzo.


"Ada apa?" Afrenzo pun menghentikan langkah kakinya itu seketika.


"Apa lo marah sama gue?" Tanya Risda ketika sampai dihadapan Afrenzo.


"Nggak. Gue hanya kecewa sama Satria, dulu dia adalah murid gue yang paling patuh tapi sekarang justru dia mengabaikan ucapan gue,"


"Semuanya gara gara gue, Renzo. Karena gue dia sampai keluar dari perguruan, gue ngerasa bersalah kalo begini, seharusnya gue nggak perlu belajar beladiri,"


Risda masih mengingat dengan jelas ketika Satria memutuskan untuk keluar dari perguruan itu, dan Risda selalu merasa bersalah ketika dirinya mengingat tentang kejadian itu. Risda adalah penyebab utama yang membuat Satria keluar dari perguruan itu, dan dirinya tidak akan bisa untuk memaafkan dirinya sendiri.


"Lo nggak salah, Da. Memang sudah waktunya dia pergi, dan gue kehilangan murid gue itu. Lagian bukan karena lo dia pergi, melainkan ada masalah tersendiri dibalik semuanya,"


"Gimana gue nggak salah, Renzo? Gue ingat dengan jelas waktu itu,"


Afrenzo pun menatap tajam kearah Risda, melihat tatapan itu langsung membuat Risda nyalinya seketika menciut. Afrenzo pun melangkahkan kaki mendekat kearah Risda, dan hal itu membuat Risda menjadi panik dan melangkah mundur untuk menjauh dari Afrenzo.

__ADS_1


Tapi hal yang dilakukan oleh Afrenzo sama sekali tidak bisa dipikirkan oleh Risda, Afrenzo justru mengusap pelan puncak kepala Risda. Usapan itu seakan akan memiliki arti yang begitu mendalam, bahkan usapan itu mampu untuk membuat Risda merasa nyaman.


"Jangan salahin diri lo sendiri, Da. Didalam perguruan sudah tertulis peraturannya kalau dilarang berpacaran sesama anggota beladiri, jadi itu bukan salah lo. Dia keluar dari perguruan atas kemauannya sendiri," Ucap Afrenzo.


Suara Afrenzo mampu membuat Risda merasa nyaman, bahkan dirinya pun menjadi lebih tenang setelah mendengar penjelasan dari Afrenzo. Memang Satria keluar dari perguruan tidak sepenuhnya karena Risda, melainkan dirinya yang tidak kuat untuk menjalankan peraturan yang ada didalam perguruan.


"Tapi gue juga salah kan, Renzo? Seandainya..."


"Nggak ada kata seandainya, Da. Apapun yang terjadi memang sudah seharusnya terjadi," Potong Afrenzo sebelum Risda menyelesaikan perkataannya.


"Gue..."


"Jangan banyak biacara lagi, gue ke kelas dulu."


Afrenzo langsung bergegas untuk melangkah meninggalkan Risda, kelas mereka yang memang berhadapan pun membuat Risda bisa melihat lelaki itu masuk kedalam kelasnya. Sementara Risda masih mematung didepan kelasnya sambil melihat kearah kelas Afrenzo, tiba tiba sosok seorang lelaki yang paling nyebelin muncul dihadapan Risda.


"Hai My beby Risda," Ucapnya dengan nada menggoda.


"Aaaaa.... Eh lo ngapain sih muncul disini? Kek demit aja Anjiiirrr!!" Risda pun berteriak karena kemunculan dari Benni yang tiba tiba.


"Sudah lama ya kita tidak bertemu, My beby Risda rindu nggak sama Ayang?"


"Najiss!! Meski lo ditelan bumi sekalian gue kagak peduli," Ucap Risda dengan sensinya.


Risda pun melangkah pergi dari tempat itu, dirinya merasa sangat risih dengan lelaki yang agak eror otaknya itu. Akan tetapi, tangan Risda tiba tiba ditarik oleh Benni hingga membuat Risda harus termundur kebelakang setelahnya.


Bhuaakkk...


Risda tidak segan segan langsung melontarkan sebuah tendangan kepada Benni, hingga membuat Benni terpental kebelakang karena tidak siap untuk menerima tendangan dari Risda itu. Bukannya panik ketika melihat Benni jatuh, justru dirinya merasa senang karena tendangannya mampu membuat orang lain jatuh.


"Tendangan gue hebat juga ya rupanya, Renzo harus tau soal ini biar gue bisa ikut tanding nanti. Pasti gue bisa juara," Guman Risda.


"Auhhhh... Ayang kenapa sih nendang nendang aku? Sakit tau. Bantuin berdiri," Ucap Benni sambil mengulurkan tangannya.


"Renzo! Renzo! Ini temen lo tolongin deh, gue males banget. Cepetan tolongin keburu jadi santapan cacing tanah!" Teriak Risda tanpa mau membantu Benni untuk berdiri.


Afrenzo yang merasa namanya dipanggil itu langsung keluar dari dalam kelasnya, dirinya pun melihat Risda yang melambaikan tangannya kepadanya itu. Dirinya juga sangat terkejut ketika melihat Benni yang tengah duduk selonjoran didepan Risda.


Karena penasaran dengan apa yang terjadi, hal itu langsung membuatnya bergegas untuk menghampiri Risda. Risda sendiri langsung bersembunyi dibalik punggung Afrenzo, ketika Afrenzo sudah mendekat kearahnya.


"Dia mau macam macam sama gue, Renzo. Berani sekali narik narik tangan gue," Risda pun mengadu kepada Afrenzo.


"Apa yang lo lakuin, Ben? Apa benar itu?"


"Iya Renzo, kata kamu kan kalo kita suka sama seseorang terus tarik tangannya dan peluk dia. Aku mau peluk Risda doang kok," Jawab Benni dengan polosnya.


"Jadi lo yang ngajarin dia, Renzo?" Tanya Risda sambil mencerucutkan bibirnya kepada Afrenzo.


"Aku sama Renzo kan sudah berteman baik, jadi aku dan dia itu sama."


"Gue nggak ngomong sama lo, Ben. Mending lo diem aja,"


"Tapi My beby Risda, aku kan cuma mengutarakan isi hatiku,"


"Diem lo! Gue nggak ngomong sama lo, diem atau mau gue tendang lagi?"


Seketika Benni langsung terdiam, bahkan rasa nyeri akibat tendangan Risda sebelumnya pun masih membekas saat ini. Bagaimana tidaklah membekas? Tendangan tersebut mengenai uluh hatinya dan bahkan langsung membuatnya terjatuh begitu saja.


"Renzo jawab!" Ucap Risda geram karena lelaki itu hanya diam saja. "Jangan jangan kalian berdua emang sekongkol ya? Ngaku kalian!"


"Gue nggak sekongkol sama dia, Da. Lo salah paham sama gue," Ucap Afrenzo membela diri.


"Terus apa kalo bukan sekongkol?"


"Katanya Benni ingin mengungkapkan perasaannya kepada seorang wanita, jadi gue.."


"Jadi lo yang ngajarin gitu?" Pungkas Risda tanpa membiarkan Afrenzo melanjutkan perkataannya.


Afrenzo hanya menganggukkan kepalanya mendengar pertanyaan dari Risda, dirinya tidak tau jika wanita yang dimaksudkan oleh Benni adalah Risda.

__ADS_1


__ADS_2