Pelatihku

Pelatihku
Episode 68


__ADS_3

Kartika masih terlihat tidak tenang, Risda lalu memegangi tangannya dengan erat. Risda tidak mau menuduh orang sembarangan, apalagi dia tidak mau hubungan pertemanannya rusak hanya karena tuduhan yang tidak beralasan itu.


Setelah 1 jam mencari, akan tetapi ponsel milik keluarga Nanda pun tidak ditemukan. Akhinya Ibunya Nanda pun mengikhlaskan ponsel miliknya hilang, jam pun telah menunjukkan pukul 4 sore dan mereka hendak berpamitan untuk pulang.


Ketika Risda hendak menyalakan sepedah motornya akan tetapi mesinnya sepertinya tidak mau menyala. Risda pun nampak bingung saat ini, tapi untunglah Ayahnya Nanda pulang dari kerjanya.


"Sepertinya ini akinya yang harus diganti," Ucap Ayah Nanda.


"Lalu bagaimana, Om? Jadi ngak bisa pulang dong," Ucap Risda panik.


"Yah, usahain bisa dong. Kasihan mereka ngak bisa pulang nantinya," Ucap Nanda.


"Hayo hayo ngak bisa pulang, jalan kaki aja sono, Da. Biar lo kurusan nanti," Ucap Rania.


"Anjiiiirrrr! Gini aja udah kurus malah lo suruh jalan kaki, bisa bisa tinggal tulang dan kulit doang malahan. Sialan lo, Ran!" Umpat Risda sebal.


Nanda pub memanggil saudaranya yang rumahnya berada tidak jauh dari rumah Nanda, saudaranya itu memang ahli dalam mesin. Risda nampak panik ketika sepedahnya tidak bisa dinyalakan seperti ini, ia takut jika tiba tiba dijalan malah mogok dan ngak ada yang nolong dirinya.


Risda nampak gelisah karena sudah setengah jam, akan tetapi motornya masih tidak mau jalan juga. Waktu pun menunjukkan pukul 5 sore, kepanikannya semakin bertambah, ia takut tidak bisa pulang tepat waktu dan ia takut sepedahnya tidak bisa dinyalakan.


"Minum dulu, Da. Jangan terlalu dipikirkan," Ucap Nanda sambil memberikan segelas es kepada Risda.


"Gue takut kagak bisa pulang, Nda. Nanti gue diomelin lagi,"


"Biar Nyokap gue saja yang telpon Kakak lo, lo tenang aja. Lo ngak bakalan diomeli Kok,"


"Lo yakin?"


"Siniin ponsel lo, biar Nyokap gue yang telpon ke nomor Kakak lo,"


Risda pun memberikan ponselnya kepada Nanda, Nanda lalu memberikan ponsel tersebut kepada Ibunya. Tak beberapa lama kemudian, telpon tersebut pun terhubungkan, Ibunya Nanda pun menjelaskan semuanya kepada Indah tentang sepeda motor Risda yang ngak bisa nyala.


Nanda lalu menyuruh Risda untuk meminum minuman yang telah dirinya buatkan itu, karena hausnya Risda lalu meminumnya hingga habis tak tersisa. Ia pun langsung duduk diteras sambil melihat motornya yang sedang diperbaiki itu.


"Da gimana nih? Motor lo kok mogok gini sih," Bisik Kartika yang seperti tengah ketakutan.


"Ngak tau, kalo gue tau juga udah gue bawa ke bengkel sebelumnya, Tik. Gue sendiri aja bingung sekarang," Gerutu Risda dengan kesalnya.


Kartika bukannya memberi solusi untuk Risda, justru dia seakan akan tengah menyalahkan Risda disini. Mendengar ucapan Kartika yang seperti itu, langsung membuat mood Risda pun memburuk.


Ingin sekali dirinya melemparkannya kejurang sekalian, tapi ya bagaimana lagi dia tidak mampu untuk melakukan itu. Cukup lama motor itu dibetulkan akan tetapi tidak mau menyala juga, Risda pun merasa semakin gelisah saat ini.


"Kalo masih belum bisa nyala, nanti kamu Om antar pulang saja ya," Ucap Ayahnya Nanda.


"Iya Om," Jawab Risda.


Mendengar itu, Kartika pun langsung menarik narik lengan baju milik Risda hingga Risda menoleh kepadanya.


"Terus gue dimana, Da?" Tanya Kartika kebingungan.


"Kan masih ada yang lain, Tik. Kalo ngak nyala juga, gue ngak bisa antar lo pulang,"


"Da kok lo gitu sih, lo tadi kan bilang kalo lo bakalan nganterin gue balik ke sekolahan."


"Keadaannya beda, Tik. Lo lihat motor gue nyala atau ngak? Pikir dong, jangan mentingin perasaan lo sendiri. Gue juga kagak bisa berbuat apa apa sekarang," Omel Risda dengan kesalnya.


"Iya ya, Da. Sorry gue ngerepotin lo,"


Risda pun tidak membalas ucapan dari Kartika, karena dirinya juga sedang kesal saat ini. Kartika benar benar merusak moodnya sekarang, tidak ada lagi yang bisa Risda lakukan selain berdoa semoga motornya segera menyala kembali sebelum adzan magrib.


"Alhamdulillah nyala," Ucap Ayahnya Nanda.


Mendengar itu langsung membuat Risda merasa lega, mereka pun mencoba untuk menyalakan motor itu dan akhinya bisa menyala juga. Tepat dipukul 5 lebih 15 menit, motor milik Risda pun kembali menyala.


"Sesuai rencana awal?" Tanya Rania.


"Iya," Jawab Risda.

__ADS_1


"Baiklah, gue takut motor lo mati lagi, Da. Jadi kita semua akan ikut ke sekolahan bareng bareng sambil ngawasin lo," Saran Nanda.


"Wokay!" Seru semuanya.


Mereka semua pun ikut kembali kesekolahan, Risda dengan tika, Rania dengan Mira, dan Septia dengan Nanda. Mereka pun tancap gas untuk pergi meninggalkan halaman rumah Nanda setelah itu, Mira langsung menghubungi Ayahnya untuk menjemputnya disekolahan, karena jarak rumahnya dengan sekolahan itu cukup jauh.


Sesampainya disana, mereka melihat bahwa Kartika sudah dijemput oleh Tantenya, Kartika adalah anak yatim yang ditinggal Ibunya pergi lebih awal setelah melahirkan Adiknya. Kartika tinggal bersama dengan Tantenya, sementara Ayahnya pergi merantau dengan keluarga barunya.


"Guys... Gue pulang dulu ya," Ucap Kartika.


"Okeh! Hati hati," Jawab mereka serempak.


Kartika pun bergegas untuk mendatangi Tantenya yang telah menunggunya ditepi jalan. Setelah kepergian dari Kartika, semuanya pun mulai mengutarakan perasaannya yang sejak tadi ditahannya ketika bersama dengan Kartika.


"Gue ngerasa curiga kalo Tika yang ambil tuh ponsel milik Nyokap lo, Nda. Lo kagak curiga apa?" Tanya Rania kepada Nanda.


"Betul tuh, Nda. Kan hanya dia dan Risda yang ada dirumah lo tadi," Ucap Septia.


"Gue juga mikirnya gitu guys, tapi setelah digeledah tadi kagak nemu. Apa mungkin dia ahli dalam menyembunyikan barang?" Tanya Nanda.


"Kalian ngak curiga ke gue? Bisa jadi kan gue yang nyuri tuh barang. Bener kata Tia, hanya gue dan Kartika yang ada dirumah lo," Ucap Risda dengan santainya.


"Modelan kayak lo itu kagak bisa dicurigai, Da. Gue malah ngak yakin kalo lo yang ambil," Ucap Rania.


"Guys... Jangan tertipu oleh penampilan, belum tentu kan Tika yang ngambil. Bisa jadi emang lo yang lupa naruh barang itu dimana," Ucap Risda yang seakan akan tengah membela Kartika.


"Lo bener juga sih, Da. Tapi lo tau sendirikan ponsel nyokap gue kayak gimana? Tadi kan gue taruh dimeja depan lo kan, Da?"


"Gue tau, gue keasikan main game jadi gue kagak ngelihat sekitar gue tadi. Sorry ya, gara gara keteledoran gue, ponsel Nyokap lo hilang,"


"Bukan salah lo kok, Da. Emang sudah takdirnya,"


"Gue ngak mau kalian nuduh orang sembarangan, gue akan selidiki soal ini, dan kalian kagak perlu ikut campur sampai gue ketemu siapa pelakunya. Gue juga ngerasa curiga," Batin Risda.


Tak beberapa lama kemudian, Mira pun akhinya dijemput oleh Ayahnya. Ketika hendak turun dari sepedah milik Rania, kue brownies yang ia bawa sebelumnya pun terjatuh keatas tanah.


"Yah, sia sia dong gue bawa kemari," Ucap Mira.


"Ya sudah guys... Gue balik dulu ya? Dah semua,"


Mira pun melambaikan tangan kepada keempat temannya itu, Risda dan ketiganya pun langsung ikut serta melambaikan tangannya kepada Mira. Setelahnya, Mira langsung bergegas untuk pergi dari halaman rumah itu untuk menemui Ayahnya.


"Da, lo kenapa?" Tanya Septia ketika melihat Risda seperti tengah memasang wajah sedih.


"Gue ngak papa kok," Risda langsung menerbitkan sebuah senyuman kepada ketiga temannya.


Jujur, ada rasa iri yang sangat mendalam didalam hati Risda ketika melihat teman temannya diperlakukan dengan baik oleh keluarganya. Risda juga ingin diperlakukan seperti itu oleh orang tuanya, tapi dirinya tidak akan pernah bisa merasakan hal itu.


Risda sangat merindukan kasih sayang dari keluarganya, Risda juga ingin diperlakukan seperti mereka, diperhatikan, dan bahkan sangat dilindungi. Ia melihat kehidupannya sendiri yang jauh berbeda dengan teman temannya, bahkan dirinya harus merasa sakit hati setiap harinya.


"Da, coba nyalain sepedah lo. Bisa kagak?" Ucap Rania.


Risda hanya menganggukkan kepalanya, dirinya pun mulai menyalakan motornya itu, akan tetapi motornya tersebut langsung menyala. Ia tidak menyangka kalo motornya berhasil menyala.


"Ternyata langsung bisa," Ucap Risda senang.


"Baguslah, ayo pulang. Habis ini adzan magrib akan berkumandang," Ajak Septia.


"Wokeh.. Jangan lupa besok masuk sekolah!" Seru Nanda.


"Gimana bisa lupa? Orang besok masih hari sabtu. Waktunya ekstrakulikuler tata busana!" Seru Risda dengan semangatnya.


Disekolah itu, Risda mengikuti beberapa ekstrakurikuler yang ada disana. Setiap hari senin dia akan mengikuti ekstrakurikuler beladiri, selasa dia akan ikut ekstrakurikuler desain grafis, rabu dan kamis dirinya kembali mengikuti ekstrakurikuler beladiri, sementara jum'at dirinya libur dari kegiatan ekstrakurikuler, dan sabtunya dirinya kembali ikut ekstrakurikuler tata busana.


Begitu banyak kegiatan yang dirinya ikuti, sehingga setiap harinya dia akan pulang sore sebelum adzan magrib berkumandang. Risda memang tidak betah dirumah sehingga dirinya mengikuti begitu banyak ekstrakulikuler disekolahan itu.


Ia tidak peduli jika nantinya dirinya akan sakit atau kelelahan karena begitu banyak kegiatan sekolah yang dia ikuti, yang terpenting adalah tidak berada dirumah kecuali disaat tidur saja. Selama bersekolah disana, Risda menghabiskan waktunya untuk disekolahan daripada dirumah, ia bahkan menganggap aula beladiri sebagai rumah kedua baginya.

__ADS_1


Mereka pun langsung berpisah setelah itu, Risda pun langsung melajutkan perjalanannya menuju kerumahnya. Ia merasa aneh motornya itu, biasanya tidak pernah mogok tapi kali ini tiba tiba mogok disaat ingin mengantarkan Kartika kesekolah.


Setelah mengantarnya pun motornya kembali baik baik saja, entah kenapa motornya bisa seperti itu. Risda sangat keheranan saat ini, karena tidak biasanya motornya rewel.


"Lo ngak mau nganterin Tika pulang? Mangkanya lo mogok gitu? Lo ngerasa ya kalo Tika itu mencurigakan," Ucap Risda sambil mengusap motornya itu.


Risda pun tertawa kecil, motornya benar benar aneh saat ini. Risda pun menambah kecepatan laju motornya agar segera sampai dirumahnya, ia ingin buru buru untuk merebahkan tubuhnya karena dirinya merasa sangat kelelahan.


*****


Risda dan Fika kini tengah berada disebuah podium untuk menyaksikan perlombaan beladiri yang diadakan di kota itu. Sepulang dari ekstrakurikuler tata busana, Risda langsung bergegas untuk menjemput Fika dan mengajaknya untuk melihat pertandingan beladiri yang diberitahukan oleh Afrenzo sebelumnya.


Risda merasa ngeri dengan perbandingan beladiri itu, dimana kedua orang saling bermusuhan untuk bisa menjatuhkan lawannya dan menyerang lawannya itu. Disana pun sangat ramai para penonton yang mendukung tim perguruan mereka masing masing, begitu banyak organisasi beladiri yang berkumpul disana.


Risda tak sengaja melihat sosok Afrenzo yang tengah berada disudut gelanggang dengan pakaian beladiri kebanggaannya, ia pun duduk bersandingan dengan seorang wanita disebelahnya yang juga memakai pakaian yang sama seperti yang dipakai oleh Afrenzo.


"Cantik sih, apa gue kalah cantik dengan dia?" Guman Risda lirih yang bahkan tidak didengar oleh Fika yang ada disebelahnya itu.


"Da, coba tebak. Yang akan menang kira kira tim mana? Tim merah apa biru?" Tanya Fika.


"Gue yang menang," Jawab Risda yang tidak memperhatikan pertanyaan dari Fika.


"Menang apa'an lo? Lo kan kagak ikut lomba, Da. Bagaimana bisa lo yang menang?" Tanya Fika sambil memukul lirih lengan Risda.


"Eh sorry. Lo tadi nanya apa'an ke gue?" Tanya Risda sambil menoleh kearah Fika.


"Lo dukung mana? Tim merah apa biru yang menang?" Fika pun mengulangi pertanyaannya itu.


"Merah lah,” Ucap Risda.


"Bagaimana lo tau?"


"Lihat noh, tangan pesilat merah yang diangkat," Jawab Risda dengan santainya.


Fika pun menoleh kembali kearah gelanggang, ia pun mencerucutkan bibirnya kearah Risda. Risda menjawab pertanyaannya dengan telat sehingga Risds langsung tau siapa pemenangnya saat ini, hal itu langsung membuat Fiks mendengus kesal.


"Fik, gue kagak paham dengan jalan pertandingan ini," Ucap Risda yang sedari tadi memerhatikan akan tetapi dia tidak paham dengan cara bertandingnya.


"Lo tau posisi pelatih yang ada disana?"


"Iya kenapa?"


"Nah dia itu jadi official untuk memberi arahan kepada pesilat yang ada dibawah bimbingannya. Terus satu orang yang ada ditengah gelanggang itu sebagai wasit, orang yang mengatur jalannya pertandingan. Enam orang yang ada disamping gelanggang itu sebagai juri untuk mencatat seberapa serangan dan tendangan yang diberikan."


Fika pun menjelaskan kepada Risda tentang bagaimana cara berjalannya suatu pertandingan digelanggang, meskipun sudah dijelaskan panjang lebar akan tetapi Risda masih tetap tidak mengerti tentang pertandingan beladiri.


Babak baru pun dimulai, Afrenzo memasangkan sebuah body protector kepada seorang pesilat. Afrenzo pun mengatakan sesuatu yang sangat serius kepada anak didiknya itu, entah apa yang tengah dirinya katakan itu Risda tidak mengetahuinya.


"Setiap satu pukulan akan dihargai satu poin, Da. Kalo satu tendangan akan dihargai dua poin, kalau satu bantingan akan dihargai empat poin. Jadi meskipun lawannya telah mencetak tiga kali serangan pukulan akan kalah jika dirinya terkena sebuah bantingan," Jelas Fika sambil memperhatikan kearah gelanggang.


"Jadi lebih harus belajar bantingan dong biar bisa nenang?" Tanya Risda.


"Iya harus, sekali banting saja poin yang didapatkan pun banyak. Tapi kelemahannya juga besar, jika kita membanting eh ikut jatuh juga maka bantingan kita dianggap gagal, dan kita tidak akan mendapatkan poin apa apa."


"Ketat banget ya aturannya, kalo yang menang jelas jelas menjadi pesilat yang hebat."


"Mangkanya lo harus belajar lagi, dunia gelanggang lebih kejam daripada latihan. Tapi jika digembleng betul betul maka digelanggang tidak ada apa apanya daripada latihan tiap harinya."


"Lo pernah ikut tanding? Kok lo paham sekali?"


"Lo lupa? Kita beda satu tingkat, Da. Lo belum dapat sabuk sementara gue sudah, jadi gue sudah paham aturan yang ada digelanggang."


"Lo pernah menang?"


"Kagak sih, soalnya musuh gue berat waktu itu. Jadi, gue kalah dalam keadaan cidera,"


"Bisa gitu ya?"

__ADS_1


"Lihat aja noh gimana jalannya pertandingan? Serangan yang diberikan pun kagak pernah main main, Da. Intinya merasa itu gini, gue atau lo yang mati, begitu,"


"Ohh.. Gue paham!"


__ADS_2