Pelatihku

Pelatihku
Episode 45


__ADS_3

Kini waktunya mereka untuk pergi kesebuah museum, mereka telah sampai dihalaman area parkiran. Risda dan yang lainnya langsung turun dari bus tersebut dan berkumpul disebuah lahan kosong untuk memeriksa kelengkapan semuanya.


Mereka semua kini berdiri dihadapan sebuah gedung yang cukup besar, Risda yang memang belum pernah datang kesana itu pun merasa sangat kagum. Mungkin besar gedung itu 100 kali lebih besar daripada rumahnya itu, hal itu membuatnya begitu terpana dengan besarnya bangunan itu.


"Didalam sana ada apanya ya? Sampek sebesar itu," Ucap Risda terkagum kagum.


"Ada kutu airnya anjiiirr!" Ucap Mira yang mendengar pertanyaan dari Risda.


"Emang sialan lo, Ra. Gue tanya bener bener lo nya malah jawab kayak kagak punya dosa aja, males banget gue tanya sama lo," Ucap Risda sambil menjitak kepala Mira.


"Ini musium binatang anjiiir! Ya kali ada pendekar pedang darah disana atau pendekar naga sejati, emang lo mau ditebas sama pedangnya? Main jitak jitak aja lo, udah tau musium binatang eh malah nanya didalamnya ada apaan." Omelan yang tanpa berhenti dari seorang Mira.


"Biasalah, emang tuh anak agak konslet kalo bertanya, lo sih ditanggapinya kayak begono, Ra. Sama sama aneh kalian," Seru Rania yang mendengar keduanya berantem.


"Ada pertarungan apa'an nih? Gue mau daftar buat ikutan, kali aja gue menang agar bisa dapatin pendekar pencak silat." Septia pun tidak mau kalah untuk ikut ikutan.


"Noh pendekarnya," Ucap Risda sambil menunjuk kearah Afrenzo yang berada cukup jauh darinya.


Mereka semua pun menoleh kemana arah jari Risda menunjuk, mereka mendapati sosok Afrenzo yang menatap tajam kearah mereka. Mendapatkan tatapan seperti itu langsung membuat mereka menelan ludahnya dengan susah payah, tatapannya saja mampu membuat orang terintimidasi apalagi dengan suara bentakannya.


"Gila lo, Da! Kalo yang itu mah gebetan lo," Ucap Septia sambil bergidik ngeri.


"Gue kagak gila anjiiir! Lo tadi mau nyari pendekar kan? Nah dia pendekarnya, julukan pendekar dia dapatkan diperguruan." Jelas Risda kepada teman temannya.


"Kalo pendekar yang itu sih ngeri banget, Da. Boro biri untuk mendapatkannya, ditatap begitu aja gue kagak berani noleh apalagi mendapatkannya," Ucap Mira.


"Mungkin pendekar yang itu hanya takluk dihadapan Risda seorang, lihat saja mereka. Bahkan mereka kayak punya ikatan batin saja," Seru Rania.


"Ikatan batin? Maksud lo apaan, Ran?" Tanya Septia yang tidak mengerti maksud dari ucapan Rania.


"Iya ikatan batin lah, secara nih ya, jarak kita kan jauh darinya. Lalu, mana mungkin dia mendengar suara kita? Sehingga dia menoleh dan menatap tajam seperti itu kan?"


Teman temannya itu hanya mengangguk anggukkan kepalanya mendengar penjelasan dari Rania, benar juga apa yang dikatakan oleh Rania mengenai hal tersebut. Bagaimana mungkin Afrenzo bisa langsung menoleh kearah mereka ketika Risda menunjuk kearahnya itu.


"Cielah, jangan jangan jodoh kali,"


"Gue yakin kalo mereka beneran jodoh."


"Fiks! Cinta sejati ini mah. Da, lo beruntung banget bisa menaklukkan cowok dingin itu,"


"Setaan! Ikatan batin apaan anjiiir! Orang emang sejak tadi dia ngehadap kearah sini, ya jelas lah langsung natap tajam setajam pisau pemotong kue kearah kalian semua," Umpat Risda yang tidak terima dengan ucapan mereka itu.


"Halah Da, emang ngapain dia berhadap kearah sini kalo bukan karena ngawasin lo," Mira pun tersenyum licik kearah Risda.


"Ya tanyain aja sono ke orangnya, jangan tanya gue! Gue kagak tau,"


"Sudah anak anak jangan berisik, sebaiknya kita segera berbaris untuk masuk kedalam museum" Ucap seorang guru wanita kearah mereka.


Mereka pun lalu segera berbaris rapi sesuai dengan arahan dari guru guru itu. Satu persatu mulai masuk kedalam museum setelah melalui pemeriksaan, mereka dilarang membawa makanan, minuman, ataupun benda benda tajam.


Risda begitu kagum melihat indahnya pemandangan yang ada didalam museum tersebut, begitu banyak jalan yang bisa dilalui untuk menyaksikan pameran yang ada didalam. Begitu banyak hewan hewan langkah yang telah dibekukan agar menghiasi tempat tersebut.


Tak beberapa lama kemudian, Risda pun terpisah dari mereka semua. Entah kemana kakinya membawanya untuk melangkah sehingga dirinya terpisah dari kawan kawannya. Afrenzo yang tidak sengaja bertemu dengan teman teman Risda itu pun menghentikan langkahnya.


"Risda kemana?" Tanya Afrenzo.


"Ada dibelakang," Jawab Mira.


Keempatnya pun menoleh kebelakang dan tidak mendapati sosok Risda disana, mereka pun menoleh kesana kemari untuk mencari sosok Risda, akan tetapi tidak ditemukan juga. Afrenzo yang tidak sengaja melihat mereka pun bertanya tentang Risda karena dirinya tidak mendapati sosok Risda diantara mereka.

__ADS_1


"Astaga, kemana lagi sih nih bocah!" Mira pun terkejut ketika tidak adanya Risda diantara mereka.


"Tadi ada dibelakang gue kok, beneran. Tapi sekarang gue kagak tau kemana perginya," Ucap Rania.


"Iya bener, tadi Risda ada dibelakang kita kok."


"Kalian temen macam apa'an? Kenapa bisa ngak ada sih" Sentak Afrenzo.


Sentakannya tersebut langsung membuat mereka terdiam, Afrenzo pun berlari kearah mereka berasal untuk mencari Risda. Bahkan ketika dirinya sampai pintu masuk pun dia tidak menemukan sosok Risda.


Afrenzo pun terus berlarian untuk mencari Risda disepenghujung gedung tersebut, karena dirinya yang sering ketempat itu sehingga dirinya sangat hafal dengan jalanan yang ada ditempat tersebut, dan dirinya sama sekali tidak menemukan meskipun sudah mencapai pintu keluar dari bangunan tersebut.


Bukan hanya dirinya saja yang mencari Risda akan tetapi teman temannya juga yang ikut mencari Risda, akan tetapi gadis itu sama sekali tidak ditemukan keberadaannya, Afrenzo pun memegangi kepalanya karena tidak bisa menemukan keberadaan dari gadis tersebut.


"Sudah ketemu?" Tanya Afrenzo ketika kembali bertemu dengan teman teman Risda itu.


"Ngak ada, Renzo. Kita juga udah nyari," Jawab Rania.


"Gue udah bilang awasi dia! Kenapa lo masih aja lalai," Sentak Afrenzo kepada Mira.


Melihat itu langsung membuat Mira ketakutan dihadapan Afrenzo, memang Afrenzo sudah bilang kalau dirinya harus mengawasi Risda akan tetapi dia gagal untuk menjaga gadis tersebut hingga mereka berpisah.


Para guru dan siswa yang lainnya pun ikut serta mencarinya akan tetapi didalam bangunan itu seakan akan Risda lenyap begitu saja, sudah sekitar 1 jam mereka terus mencarinya akan tetapi tidak ditemukan juga.


Niat hati untuk menikmati pameran yang dipajang disana pun lenyap karena Risda yang hilang tiba tiba itu, mereka akhirnya berniat untuk menjaga dipintu keluar siapa tau Risda kebingungan untuk mencari jalan keluar dari tempat itu.


Sudah puluhan menit mereka berada disana akan tetapi Risda sama sekali tidak terlihat muncul ditempat tersebut, Afrenzo memutuskan untuk keluar dari museum tersebut dan mencari Risda diluar museum siapa tau memang dirinya sudah keluar lebih dulu.


Melihat itu langsung membuat teman temannya ikut menyusulnya, dan mereka berniat untuk ikut mencari Risda diluar. Afrenzo menghentikan langkahnya sambil menatap seseorang dari kejauhan, ia pun melipat kedua tangannya didepan dadanya.


Rania, Mira, dan Septia pun terkejut ketika Afrenzo menghentikan langkahnya tiba tiba. Mereka tidak tau apa yang membuat pemuda itu menghentikan langkah kakinya mendadak, mereka pun kebingungan dibuatnya.


Afrenzo langsung menunjuk kesuatu arah, mereka pun mengikuti kemana tangan Afrenzo menunjuk. Sosok seorang gadis yang tengah duduk disebuah kursi yang ada disebuah kedai dengan es cream didepannya, nampak gadis tersebut menikmati es cream yang dirinya beli sebelumnya itu.


"Astaga Risda, dicariin orang banyak ternyata malah santai santai disini, dasar kayak kagak punya dosa!" Ucap Rania sambil menggeleng gelengkan kepalanya.


Mereka lalu bergegas untuk menemui Risda, keempatnya langsung berdiri dihadapan Riada yang sedang menikmati dinginnya es cream disaat cuaca sedang terang benerang. Menikmati es cream disaat saat seperti itu terlihat sangat mengenakkan.


"Eh kalian, mau juga ngak?" Tawar Risda sambil memasukkan sesendok es cream dingin kemulutnya itu, "Ini enak banget loh, dingin dan segar."


"Kagak punya akhlak lo, Da. Semua orang nyariin lo didalam, eh lo nya malah enak enakan disini makan es cream lagi. Lo bikin semua orang panik tau ngak sih ha? Kalo mau makan es cream disini itu bilang, jangan main asal pergi pergi aja, lo ngak tau seberapa paniknya kita tadi. Eh lo nya disini malah santai santai lagi," Omel Mira yang bagaikan tanpa jeda itu dengan nada yang cukup keras.


Risda langsung bangkit dari duduknya dengan wajah cemberutnya, tingginya menyamai tinggi ke empat orang yang ada dihadapan saat ini. Afrenzo hanya diam saja tanpa ikut berbicara dan membiarkan teman temannya mengomeli tindakan Risda yang pergi tanpa pamit itu.


"Lo ninggalin gue bangsaat! Lo ngak tau gue nungguin kalian diluar sejak tadi, gue ngiket tali sepatu eh lo semua udah kagak ada aja. Gue muter muter nyariin kalian tapi gue ngak ketemu sama kalian, kalian tega ninggalin gue!" Ucap Risda dengan marahnya untuk menyamai nada suara biacara Mira kepadanya.


"Lo ngak bilang kalo lo ngiket tali sepatu! Seharusnya lo teriak kearah kita kita, biar kita tau dan kagak nyasar seperti ini,"


"Gue udah teriak! Kalian semua aja kagak dengar,"


Bukan Risda namanya jika tidak menang dalam berdebat, mendengar perdebatan itu langsung membuat Afrenzo menggeleng gelengkan kepalanya. Ia pun menarik tali yang ada dijaketnya, ia lalu mengikatnya dipergelangan tangannya dan pergelangan tangan Risda.


"Lo apa apa'an sih?" Tanya Risda dengan memberontak ketika tangannya diiket oleh tali tersebut.


Simpul yang digunakan oleh Afrenzo itu cukup rumit untuk dibuka sehingga Risda tidak mudah untuk melepaskan ikatan tali itu. Kini keduanya sudah terhubung dalam ikatan tali jaket milik Afrenzo, melihat itu langsung membuat teman temannya terdiam.


"Susah biarin lo berkeliaran," Ucap Afrenzo dengan nada dingin khas miliknya itu.


"Tapi ngak gini juga caranya kali, Renzo. Gimana kalo yang lainnya tau tentang ini? Gue bisa dibuat bahan bullian nantinya," Ucap Risda menatap nanar kearah pergelangan tangannya itu.

__ADS_1


"Gue ngak peduli,"


"Kalo lo emang kagak peduli, ngapain lo ngiket tangan gue kayak gini ha?"


"Cielah, diiket sama ayang nih," Ucap Rania sambil tersenyum malu malu melihat keduanya itu.


"Ayang pala lo ha! Gue kayak binatang aja anjiirr pake diiket iket kayak gini segala." Umpat Risda.


"Sudahlah, Da. Nikmatin aja kali, salah lo sendiri sih ngapain pencar dari kita kita," Ucap Mira.


"Nah kalo kayak gini kan lo kagak bakalan keluyuran kemana mana," Seru Septia.


"Renzo, pliss lepasin gue," Ucap Risda sambil memohon kepada Afrenzo untuk melepaskan ikatannya itu.


Afrenzo sama sekali tidak menerima permohonannya itu, Afrenzo pun membuang muka dari hadapan Risda saat ini sambil melipat kedua tangannya didepan dadanya. Tak beberapa lama kemudian, para guru dan siswa datang ketempat itu, melihat itu langsung membuat Risda menyembunyikan tangan dibalik tubuhnya itu.


"Ya Allah, Risda. Kemana saja sejak tadi? Kami semua nyariin tau," Ucap Bu Rita dan langsung menghampiri Risda dan keempat orang tersebut.


"Kenapa bisa ketemu disini sih? Lah kapan keluarnya dari museum?" Tanya Pak Hadid kepada Risda.


Semuanya pun hemboh untuk memberikan pertanyaan pertanyaan, mendengar banyaknya pertanyaan itu langsung membuat Risda kebingungan harus menjawab pertanyaan yang mana, dan menjawab pertanyaan dari siapa.


"Semuanya sudah aman kok Bapak dan Ibu guru," Ucap Mira tiba tiba.


"Aman gimana? Yakin ngak bakalan hilang lagi?" Tanya Pak Hadid dengan penasarannya.


Mira pun meraih tangan Risda yang terikat tersebut, Risda yang tiba tiba dipegangi itu pun mendadak langsung terkejut begitu saja. Semua orang pun baru menyadari bahwa tangan kedua orang itu telah terikat dengan sebuah tali, mereka seakan akan tidak memercayai apa yang mereka lihat itu.


"Dia adalah murid saya, Bu. Dia seperti itu karena kurangnya kasih sayang keluarganya, mohon dimaklumi apa adanya. Saya yang akan bertanggung jawab atasnya disekolah ini," Mendadak salah satu guru yang ada disana teringat kembali dengan ucapan Afrenzo sebelumnya.


Didalam sekolahan tersebut, Afrenzo pernah mengatakan hal itu kepada salah satu Guru BK yang pernah menghukum Risda. Mungkin hanya Risda saja yang dikecualikan disekolahan tersebut, dan dirinya paling dibela oleh Afrenzo sehingga saat ini, Afrenzo mengikat tangannya dengan tangan Risda.


"Awasi dia dengan benar, jangan biarkan dia berkeliaran lagi," Ucap Guru tersebut kepada Afrenzo dan hanya dibalas anggukan kepala oleh Afrenzo.


"Loh Bu, kok malah dukung dia sih." Keluh Risda karena tidak dibela oleh Guru tersebut.


"Kamu terlalu bandel untuk dilepaskan begitu saja," Jawab Guru wanita itu.


"Bu!" Seru Risda dengan wajah yang nampak sedih.


"Semuanya, kembali ke bus sekarang. Kita akan menuju kekebun belimbing buah," Ucap Guru itu tanpa memedulikan suara Risda.


Afrenzo pun langsung berjalan menuju kearah bus tersebut, sementara Risda mau tidak mau harus mengikuti langkahnya karena ikatan yang sangat kuat tersebut. Didalam bus tersebut Afrenzo melepaskan ikatannya itu dan membiarkan Risda untuk duduk dibangkunya bersama dengan Mira.


"Thanks ya," Ucap Risda merasa senang karena akhinya Afrenzo melepaskan dirinya.


"Untuk di bus saja, nanti kalo turun gue iket lagi," Ucap Afrenzo dan langsung bergegas menuju ketempat duduknya itu.


Mendengar itu langsung membuat Risda seakan akan melemas dan tidak bersemangat lagi untuk melanjutkan acara rekreasi tersebut, diikat seperti itu oleh Afrenzo sama saja seperti tidak membiarkan dirinya untuk bebas jalan jalan.


Mira pun memberikan jalan kepada Risda untuk duduk kembali dibangkunya itu, Risda pun langsung bergegas untuk duduk dibangkunya. Ia pun menatap kearah jalanan yang ada disana, karena busnya belum berjalan sehingga dirinya masih bisa melihat megahnya bangunan museum tersebut.


"Nikmati aja kali, Da. Kapan lagi coba diiket dengan Ayang," Ucap Mira.


"Dia bukan ayang gue, gue ngak minat ayang ayangan kayak lo lo pada, kalo diikat seperti ini tandanya gue kagak bisa bebas seperti sebelumnya,"


"Yaudah nikmati aja kali, Da. Salah lo sendiri sih ngilang sebelumnya jadi dia yang turun tangan sendiri,"


Risda pun membuang muka dari hadapan Mira dan memilih untuk menatap kearah cendela saat ini, ia melihat bahwa perlahan lahan bus tersebut mulai jalan meninggalkan tempat tersebut.

__ADS_1


__ADS_2