Pelatihku

Pelatihku
Episode 56


__ADS_3

Risda pun mendengus kesal karena Afrenzo, bukannya meladeninya yang memesan makanan, justru dirinya tengah sibuk meladeni yang lainnya. Karena tidak dihiaukan oleh Afrenzo, Risda langsung bergegas masuk ke tempat dimana Afrenzo berada.


Dirinya pun langsung bergegas untuk membuat sendiri pesanannya itu, Afrenzo yang melihat itu langsung bergegas mengambil capit yang ada ditangan Risda itu dengan paksa, dan menyuruh gadis itu untuk keluar dari warung.


"Pembeli dilarang masuk kesini," Ucapnya dengan dingin.


"Lo kan juga pembeli, kenapa gue ngak boleh kesitu?"


"Mau membantah?"


"Hak asasi manusia! Dari tadi gue pesen ngak lo bikinin, yaudah gue bikin sendiri tanpa bantuan lo. Salah gue dimana coba?"


"Gue yang jualan,"


"Pembeli adalah raja, jadi lo harus ngelayanin pembeli,"


"Penjual adalah dewa, jadi terserah dong."


"Dih dewa kok jualan,"


"Dih, raja kok nawar."


Baru kali ini Afrenzo berdebat dengannya, akan tetapi Risda langsung dibuat tidak bisa berkata kata didepannya. Ucapan Afrenzo tersebut langsung membuat Risda mencerucutkan bibirnya dihadapan Afrenzo, sementara Afrenzo langsung menjitak kepalanya begitu saja.


"Akh.. Sakit woi!" Teriak Risda sambil mengusap kepalanya yang dijitak oleh Afrenzo.


"Duduk diam disitu, jangan membantah."


Meskipun begitu, nada dingin dari seorang Afrenzo sama sekali tidak menghilang dari tubuh lelaki itu. Dingin dan tegas adalah ciri khas yang dimiliki oleh seorang Afrenzo, dan tidak ada yang menyamainya selama ini.


Risda pun duduk disebuah kursi yang ada didalam warung tersebut sesuai dengan perintah dari Afrenzo. Dengan malasnya, dirinya pun meletakkan kepalanya diantara kedua tangannya sambil menatap kearah Afrenzo yang tengah meladeni pembeli.


"Renzo! Gue lapar!" Teriak Risda dan langsung memegangi perutnya yang berbunyi nyaring itu.


Tak beberapa lama kemudian, Afrenzo lalu menyodorkan somay kuah kehadapan Risda, dan langsung diterima olehnya begitu saja. Itu adalah makanan favoritnya ketika sedang berada disekolahan tersebut, hal itu langsung membuat senyuman diwajah Risda mengembang cerah.


"Lo tau aja kalo gue suka ini," Ucap Risda dan langsung memakannya.


Afrenzo pun kembali meladeni pembeli yang ada disekolahan itu, dirinya sama sekali tidak menoleh kearah Risda lagi setelah itu. Risda memakan somay miliknya sambil menatap kearah Afrenzo yang tengah sibuk meladeni pembeli, entah kenapa cowok itu justru menjadi penjual saat ini.


Tak beberapa lama kemudian, warung itu nampak begitu sepi karena para siswa sudah mendapatkan pesanan masing masing. Risda lalu menyahut sebuah botol minuman yang ada dihadapannya, seakan akan tutup botol itu sangat keras sehingga dia tidak bisa membukanya dengan mudah.


Melihat Risda yang kesusahan, langsung membuat Afrenzo menyahut botol tersebut dan membukanya. Dengan begitu sangat mudah dirinya melakukan hal tersebut, hingga membuat Risda membulatkan kedua matanya dengan lebar.


Afrenzo lalu menyodorkan kembali minuman botol itu kearah Risda, dan dengan senang hati Risda lalu menerimanya begitu saja.


"Makasih," Ucap Risda dan langsung meminumnya.


Afrenzo hanya menganggukkan kepalanya saja, setelah itu dirinya pun duduk disamping Risda. Tak beberapa lama kemudian, pemilik warung pun datang dan langsung membuat Afrenzo berdiri kembali.


"Makasih ya, sudah jagain warungnya," Ucapnya.


"Iya Pak, hasil dagangannya sudah ada di laci," Jawab Afrenzo.


"Iya,"


Afrenzo pun memberikan sebuah hormat khusus perguruan tersebut, melihat itu langsung membuat Risda membelalakkan kedua matanya. Risda pun langsung bangkit dari duduknya, dan Afrenzo pun meminta kepadanya untuk melakukan hal yang sama.


"Kenapa memberi hormat kepadanya?" Tanya Risda yang kebingungan kepada Afrenzo.


Pemilik warung yang ada disekolahan itu pun terkekeh mendengar pertanyaan dari Risda, hal itu semakin membuat Risda kebingungan dengan apa yang dilakukan oleh keduanya itu. Terciptalah sebuah tanda tanya besar dibenak Risda saat ini, apalagi Afrenzo yang hanya tersenyum tipis kearahnya.


"Apa ada yang lucu?" Tanya Risda.


"Sudah, kalian kembali saja ke kelas, sebentar lagi pelajaran akan dimulai," Ucap pemilik warung.


"Kalian belom menjawab pertanyaan gue," Risda pun memegangi tangan Risda untuk menunggu jawaban dari pertanyaannya sebelumnya.


"Beliau adalah pendekar besar," Jawab Afrenzo sambil menunjuk kearah lelaki itu.


"Pendekar besar? Lah kenapa jualan?" Risda lagi lagi tidak dapat mengerti ucapan Afrenzo.


"Bukan karena pekerjaan seseorang yang mengukur kedudukan orang tersebut. Apapun pekerjaannya selagi berada dijalan Allah, kita wajib menghormatinya, jangan hanya karena kedudukan lalu memandang yang lainnya itu rendah. Beliau adalah pendekar kita, pendekar besar Bapak Hajirohman, dan beliau juga adalah pelatihku." Ucap Afrenzo tersenyum tipis kearah Risda.


"Jadi, dia pendekar utama? Lo pernah bilang ke gue, kalau pelatih lo itu pendekar utama. Jadi dia orangnya?"


"Iya, beliau dagang disini untuk mengawasi generasi penerus perguruan Kembang Sepasang. Kalian semua tidak menyadari akan hal itu, oleh karena itu, tidak semua orang bisa masuk kedalam perguruan dengan mudah. Dari sini beliau mengetahui tentang tingkah laku seseorang yang ikut perguruan disekolahan ini, dan kebanyakan dari mereka akan merendahkan pekerjaannya."


"Kenapa lo baru bilang sih? Maafin saya, Pak. Saya tidak tau soal itu," Ucap Risda sambil meminta maaf kepada Bapak Hajirohman.

__ADS_1


"Kalo gue bilang sebelumnya, apa lo bisa ngehormati orang lain yang pekerjaannya rendahan?" Tanya Afrenzo balik.


"Gue salah, Renzo. Gue ngak kepikiran soal itu, tapi setalah lo ngasih tau soal ini, gue janji ngak akan memandang rendah siapapun itu melalui pekerjaan yang mereka miliki."


"Belajarlah untuk menghormati orang lain, apapun pekerjaannya itu, mereka juga pantas untuk dihormati. Entah itu pedagang, penyapu jalanan, penjual asongan, pemulung, pengamen, penyemir sepatu, petani, pembantu rumah tangga, tukang kebun, dan lain sebagainya. Mereka juga pantas untuk dihormati, apapun yang kita lihat pasti tentang kekurangan mereka, tapi kita juga tidak tau orang hebat seperti apakah dibalik pekerjaannya itu." Ucap Pak Hajirohman kepada keduanya.


"Ibuku juga seorang pembantu rumah tangga, beliau adalah wanita terhebat bagiku. Seumur hidup, aku tidak akan pernah membiarkan dia terluka walaupun hanya dengan perkataan," Ucap Risda sambil membayangkan wajah Ibunya.


"Nah, apalagi itu adalah seorang Ibu, kita wajib menghormatinya dan patuh kepadanya. Lalu Ayahmu kemana, Nak?"


"Ayah... Ayah dirumah, tapi ngak bekerja sama sekali. Bahkan tidak pernah memberikan nafkah kepada anak anaknya." Ucap Risda sambil menundukkan kepalanya.


Sejak saat itu, Ayahnya telah tinggal dirumah yang ada didepan rumah Risda. Rumah yang kosong tersebut kini tengah ditinggali olehnya, dan istri barunya itu sama sekali tidak ada kabar. Seakan akan dirinya menghilang ditelan bumi, dan tidak tau dimana keberadaannya itu.


"Ayah lo udah pulang?" Tanya Afrenzo.


"Udah, tapi bukan dengan kasih sayangnya. Ada dan tidak ada dirinya disampingku itu sama saja, meskipun raganya ada akan tetapi kasih sayangnya entah kemana."


"Yang sabar, mungkin nanti dia bisa kembali seperti awal lagi. Untuk saat ini, jangan bersedih lagi," Afrenzo pun mengusap kepala Risda dengan pelan.


Risda seakan akan merasa senang ketika diusap seperti itu oleh Afrenzo, seperti adanya kebahagiaan tersendiri dibalik usapan tangan Afrenzo itu. Risda pun mengembang sebuah senyuman yang merekah kepada Afrenzo, dirinya benar benar merasa seperti hidup ketika bersama dengan Afrenzo.


"Iya, Renzo. Gue akan selalu berdoa untuk itu,"


"Bagus. Ya sudah, ayo kembali ke kelas, sebentar lagi bel masuk akan berbunyi."


"Ayo!" Risda pun meninju angin dengan semangatnya.


Afrenzo pun meraih tangan gurunya itu dan langsung menciumnya, melihat itu pun langsung membuat Risda ikut serta melakukan hal yang sama seperti apa yang dilakukan oleh Afrenzo. Setelahnya, keduanya langsung bergegas untuk kembali ke kelas mereka masing masing.


*****


"Budrek banget! Masih banyak kah yang harus ditulis? Gue capek banget anjiiirrr!" Keluh Risda sambil bertanya kepada Mira yang tengah menulis dipapan tulis.


"Kurang 10 halaman lagi, Da. Emang lo mau gantiin gue nulis disini? Gue juga capek," Ucap Mira sambil menunduk lesu.


"Gila lo? Dari tadi gue tanya jawaban lo kurang mulu, kapan selesainya cobak kalo kayak gitu?"


"Mending lo diem, Da. Gue kagak fokus kalo lo teriak teriak kayak gitu," Sela Rania dengan tangan yang masih berkutik dengan pulpen miliknya.


"Dih, nulis nulis aja jangan merhatiin gue!"


"Arghhhhh Risda!" Teriak Septia, "Gara gara lo, Da. Gue jadi nulis bangsaat nih! Lo sih kagak bisa diem," Keluh Septia dengan tulisannya itu, dirinya lalu ngambil tip x untuk menghapusnya.


"Kenapa jadi gue sih? Itu derita lo, Tia. Salah sendiri lo malah fokus ke gue, coba lo fokus ke buku lo, palingan hal ini kagak terjadi. Gitu aja pake ngalahin gue segala lagi," Gerutu Risda dengan bibir yang mencerucut.


"Gue ngak bakalan salah kalo lo kagak rame, udah tau lagi nulis dan fokus. Eh, lo malah ngerusak ke fokusan gue,"


"Stop! Sampai kapan kalian berdebat seperti ini terus ha? Ngak bosan apa gimana sih?" Rania pun menghentikan perdebatan mereka.


"Rame denda 100 ribu!" Teriak Mira untuk menghentikan perdebatan mereka.


"Lo makin gila aja, Ra. Uang saku aja cuma 20 ribu, eh lo malah seenaknya denda orang aja," Risda tidak terima mendengar ucapan dari Mira.


"Gue peringatin ke lo, Da. Sampai rame terus, gue bener bener denda lo, dan wajib lo bayar nantinya."


"Ya ya gue diem, lajutin nulisnya," Putus Risda.


Risda pun kembali diam ditempatnya, tangannya kembali fokus untuk menulis dibukunya. Kelas tersebut kembali hening karena mereka semua fokus untuk menulis, entah apa yang terjadi dengan Risda sehingga gadis itu berhenti untuk terus mengoceh.


"Lo bawa kartu remi ngak?" Tanya Risda berbisik kepada David.


"Bawa dong, ayo main lagi." Ajak David kepada Risda.


"Ayok, bangku belakang ya?"


"Oke, lo kesini aja."


"Siap."


Risda pun segera berpindah tempat untuk bermain kartu dengan teman teman cowoknya, memang gadis itu tidak bisa diam walaupun hanya sesaat saja. Mira yang tengah fokus menulis dipapan itu pun diabaikan oleh Risda, dan justru dirinya malah sibuk dengan permainannya itu.


Risda pun melakukan permainan kartu itu dengan beberapa teman cowoknya, ada David, Bima, Seto, Rama, Dimas, dan Rizal.


"Keriting! Sial, lo kok selangkah maju sih daripada gue!"


"Anjiiing! Ya kalah kalo gini ceritanya, gue kagak punya kartu AS woi! Sialan, pembagian tidak rata,"


"Asikk ah, gue dapat yang bagus bagus nih."

__ADS_1


"5 keriting, ada yang bisa ngalahin gue ngak?"


"Nih 7 keriting, lo kalah anjiirr!"


"Sialan lo, Da. Keknya lo lagi beruntung aja kali ini,"


"Ya ya lah, secara kan gue anak alim. Mangkanya gue beruntung,"


"Jangan senang dulu, nih rajanya! A keriting"


"******!"


"Kalah dilempar tepung! Kagak boleh dihapus sampai bel untuk sholat,"


"Setuju!"


"Setuja!"


"Sejuta!"


"Gue kagak mau anjiiirr! Bisa bisa gue cemong semua gara gara kalian, kalian sama sekali tidak kasih sama cewek seperti gue apa?"


"Kagak, lo kagak pantes dikasihani, Da. Udahlah kagak bakalan mati juga, gue juga udah bawa tepung terigu,"


"Keknya lo emang sengaja buat gue kalah ya? Buktinya gue kagak punya kartu AS sama sekali,"


"Lo kalah, Da!"


"Bangkeeekk! Kagak adil woi,"


"Sudahlah, terima saja hukuman lo,"


David dan yang lainnya pun langsung menyerbu kearah Risda dan memberikan tepung terigu diwajah Risda, Risda pun berteriak sangking histerisnya ketika dirinya dilempari oleh tepung.


"Sialan lo semua!" Umpat Risda.


"Woi kagak boleh dihilangkan sampe jam istirahat untuk sholat,"


"Lalu gue harus kayak gembel gini ha?"


"Sudah kesepakatan, jadi terima saja."


Mira yang mendengar keributan tersebut pun langsung menoleh kebelakang, dirinya pun menepuk jidatnya sendiri ketika melihat kelakuan dari Risda. Wajah Risda pun penuh dengan tepung terigu, dan beberapa teman yang lainnya juga.


"Ya ampun, Risda! Lo ngapain?" Tanya Mira.


"Nulis saja sono, fokus ke buku lo," Ucap Risda yang masih tetap fokus kepada kartu remi yang ada ditangannya itu.


"Hih! Nih bocah emang kagak bisa dibilangin," Mira pun merasa gemes kepada Risda.


Risda pun terlihat sangat fokus untuk memenangkan permainan itu, hanya dirinya, Rama, dan Rizal saja yang berlumuran tepung terigu. Untuk yang lainnya masih bersih karena belom ada yang kalah, tak beberapa lama kemudian datanglah seorang siswa yang berteriak.


"Woi ada guru! Sembunyikan kartu remi kalian!" Teriaknya.


Belum sempat untuk menyembuhkan kartu kartu remi itu, guru yang dimaksud tersebut pun masuk kedalam kelas Risda dan merampas kartu remi itu, dirinya pun langsung membuang kartu kartu tersebut kedalam tong sampah yang ada didepan kelas mereka.


"Lo sialan, udah tau ada guru kenapa ngak lo sembunyikan," Ucap Dani pelan, anak yang berlari untuk memberitahukan bahwa adanya pemeriksaan.


"Lo telat ngomongnya anjiir! Lo bilang pas ada guru yang masuk kekelas," Gerutu Risda.


Guru tersebut langsung memanggil beberapa anak yang terlibat dalam permainan kartu remi itu, mereka pun diminta untuk berdiri ditengah tengah lapangan. Risda pun sebenarnya malu karena dihukum dengan pakaian yang berlumuran tepung terigu itu, apalagi disuruh berdiri dilapangan saat ini.


"Kalian benar benar! Kenapa kalian main remi disekolahan ini?" Tanya Guru lelaki itu dengan marahnya.


"Gabut Pak," Jawab Risda lirih.


"Kamu lagi, cewek kok main gituan! Hanya kamu sendiri yang cewek disini, bagaimana cara orang tuamu mendidikmu dirumah?" Tanyanya lagi dengan nada menyolot.


"Saya tidak dididik dengan kasih sayang, tapi saya dididik dengan uang. Jangan tanya bagaimana orang tua saja mendidik saya," Sentak Risda.


Berani beraninya dirinya menyentak seorang guru apalagi dalam keadaan seperti ini, mungkin hanya Risda yang berani melakukan itu. Mereka pun langsung dihukum berjemur dilapangan sampai jam istirahat berbunyi lagi, itu artinya mereka dihukum berdiri selama 2 jam.


Mendengar itu langsung membuat Risda membelalakkan matanya, ia tidak menyangka bahwa dirinya akan dihukum berdiri selama itu apalagi dengan cuaca yang sangat panas saat ini.


"Pak, itu terlalu berat," Keluh David.


"Betul tuh, Pak. Apa tidak bisa diberi keringanan lagi?" Tawar Bima.


"Iya nih, mentang mentang guru malah ngehukum seperti ini," Seru Rizal.

__ADS_1


"Apa kalian mau hukumannya ditambah? Kalo masih protes lagi, maka kalian harus berdiri disini sampai jam pulang tiba."


"Ishhh... Kalian bisa diam ngak sih? Nanti ditambah lagi hukumannya woi!" Teriak Risda kepada teman temannya itu.


__ADS_2