
Risda tengah duduk seorang diri di dalam kelasnya saat ini, seluruh murid sudah pulang ke rumah mereka masing masing sementara Risda menunggu jadwal untuk latihan bela diri. Karena dirinya yang merasa gabut, dirinya pun pergi kekelas Anna untuk mengajak gadis itu mencari makan diluar.
Nampaknya kelas Anna pun terlihat sangat sepi, Risda tidak tahu kemana perginya gadis itu. Dirinya pun pergi ke arah parkiran sekolahan, dan mendapati bahwa gadis yang dicarinya itu tengah berada di sana sambil menyalakan sepeda motornya.
"Eh lo mau ke mana, An?" Tanya Risda.
"Gue lupa gak bawa baju beladiri, gue mau pulang ambil sebentar," Jawab Anna.
"Gue ikut ya? Gue pengen tau rumah lo juga,"
"Boleh,"
Risda pun langsung naik ke atas motor milik Anna, Anna langsung melajukan motor tersebut untuk keluar dari halaman sekolah. rumah Anna memang jauh dari tempat itu, sehingga membutuhkan waktu kurang lebih 30 menit untuk sampai.
Masih ada waktu 1 jam sebelum latihan dimulai, kali ini Anna naik sepeda motornya dengan kecepatan penuh karena takut ketinggalan. Risda pun berpegangan sangat erat pada baju milik Anna karena saking takutnya dirinya untuk terjatuh, beberapa kali Risda berteriak karena Anna yang tanpa sengaja terkena sebuah lubang di jalan.
"Lo bisa bawa motor nggak sih sebenarnya?" Tanya Risda dengan kesalnya karena perutnya terasa kram akibat terkena jalan berlubang.
"Sorry gue kan takut telat, lo tau sendiri kan kalau telat latihan gimana? Bisa bisa kita kena hukuman lebih parah soalnya dulu pernah telat,"
"Iya juga sih, tapi ngak begini juga kali caranya. Gue kagak mau mati sama lo, apalagi gue belom mencetak prestasi buat ngebanggain Nyokap gue,"
"Gue juga kagak mau mati sama lo, Da. Siapa juga sih yang pengen mati sekarang,"
"Lo bawa motornya udah kayak ngajak balapan tahu, yang lu ajak bukannya orang tapi lo ngajak malaikat juga sekalian. Lo mau bawa motor ke rumah lo atau ke akhirat?"
"Yaudah nanti lo yang bonceng deh, biar kagak protes mulu jadi orang,"
"Dih, gue kagak bisa pake motor lo. Gue bisanya pake motor metic bukan manual,"
"Ngapain lo ikut tadi kalo lo protes mulu,"
"Gue gabut dikelas."
"Lah ngapain lo ngak nyamperin aja tuh si pelatih? Biasanya lo kan sering sama dia,"
"Dia ada urusan, kagak ada disekolahan. Katanya sih mau ngurusin acara milad perguruan,"
"Oh."
Sebelumnya memang Afrenzo bilang kepadanya kalau dia ada urusan untuk acara milad, sehingga waktu pulang sekolah Risda tidak langsung menuju ke aula bela diri. Biasanya setiap pulang sekolah dirinya langsung menuju ke aula bela diri, karena Afrenzo tidak ada sehingga dirinya tetap berada di kelas.
Oleh karena itu Risda sangat gabut, karena tidak ada teman sekelas yang bisa diajak untuk mengobrol akhinya dirinya mendatangi teman yang beda kelas. Akan tetapi temannya itu pulang terlebih dahulu untuk mengambil pakaiannya yang ketinggalan, sehingga tidak ada pilihan lain akhinya dirinya ikut pulang temannya itu.
Jalanan menuju kerumah Anna begitu indah, karena jalanan tersebut terlihat sangat sepi dan juga pemandangan alam terlihat jelas. Jalanannya juga berkelok kelok, sehingga Risda kebingungan jika dirinya sendirian menuju kerumah Anna.
Risda yang memang orangnya bingungan itu, jikalau dibiarkan ke sana sendirian mungkin akan nyasar. Dirinya tidak mudah menghafalkan arah sebuah jalan, tapi jika dirinya ke sana beberapa kali dia pun akan hafal.
Rumah Anna ternyata jauh dari para tetangga, sehingga dapat dilihat bahwa rumah itu terkucilkan. Akan tetapi hal itu justru sangat enak, karena jauh dari pembincangan para tetangga.
"Eh, An. Lo tau perumahan Kabiel?" Tanya Risda kepada Anna.
"Perumahan Kabiel? Emang lo mau ngapain kesana? Jaraknya sih agak jauh dari sini, mau gue antarkan?"
"Ngak, gue hanya nanya doang kok. Kira kira butuh berapa jam untuk ke sana?"
"Palingan sekitar 30 menitan juga sih,"
"Andalan lo selalu 30 menitan mulu, kagak ada waktu yang lain apa?"
"Lo itu sebenarnya nanya apa nguji emosi gue?"
"Kalo bisa keduanya, ngapain cuma satu?"
"Lo emang gila, Da. Saudara gue juga ada yang tinggal di sana kok,"
__ADS_1
Mendengar itu membuat Risda menganggukkan kepalanya paham, Risda ingin menanyakan hal yang lebih lanjut mengenai perumahan itu, tapi dirinya bingung harus mulai dari mana terlebih dulu. Bukan perumahannya yang membikin Risda penasaran, akan tetapi tentang orang yang tinggal disana.
"Lo pernah ke rumah saudara lo sebelumnya?" Tanya Risda lagi lagi.
"Ya pernah lah bahkan gue aja sering ke sana, emang lo mau cari apa'an ke sana, Da? Apa jangan jangan lo mau beli rumah disana ya?"
"Ya alhamdulillah lah kalau gue bisa beli rumah, biar ngak numpang lagi sama orang lain. Tapi bukan itu masalahnya An, gue hanya pengen tahu orang yang tinggal di sana saja,"
"Siapa? Mungkin gue kenal,"
Risda terlihat bimbang antara mengatakannya atau tidak, bagaimana jika Anna ingin tahu lebih lanjut tentang apa yang dia tanyakan? Lalu dirinya harus menjawab apa tentang pertanyaan gadis itu?
"Sudah lupakan saja, lagian itu juga ngak terlalu penting penting amat kok."
"Yang bener?"
"Iya,"
"Jangan jangan lo naksir ya sama cowok cowok yang tinggal disana, gue denger denger sih disana cowoknya ganteng ganteng dan tajir. Gue yakin lo naksir kan?"
"Gila lo! Sudah ah, ayo balik ke sekolahan kalo sudah selesai,"
"Cie cie..."
"Matamu!"
Risda pun sangat terlihat kesal mendengar ucapan Anna, melihat kekesalan dari Risda pun membuat Anna langsung menurutinya. Keduanya langsung bergegas untuk kembali menuju ke sekolahan, Risda masih penasaran dengan perumahan tersebut.
"An," Panggil Risda diatas motor.
"Apa?" Tanya Anna.
"Di perumahan Kabiel apa ada orang yang memiliki perusahaan batu bara?"
"Ngak ada kok, Da. Emang ada apa'an?"
"Kelihatannya lo pengen nyari seseorang ya? Emang siapa?"
"Ngak kok."
Risda masih ngeles dari pertanyaan Anna, dirinya ingin sekali bilang bahwa dia sedang mencari seseorang, tapi dia juga takut jika Anna makin curiga dengan apa yang dia tanyakan. Apalagi ketika mendengar bahwa di sana tidak ada orang yang dimaksud, benar benar masalah yang rumit baginya.
*****
"Karena pelatih tidak hadir, aku yang akan menggantikan dia untuk melatih disini," Ucap seorang wanita yang tidak lain adalah Carline.
Seorang wanita yang terlihat begitu gagah, tingginya lebih tinggi daripada Risda, dan tubuhnya lebih berisi. Dia adalah salah satu senior yang ada di perguruan itu, dan sekarang wanita itu menjadi tangan kanan Afrenzo.
"Iya Senior!" Jawab mereka serempak.
Entah mengapa, Risda lebih suka jika dilatih oleh Afrenzo daripada Carline saat ini. Dulunya Risda suka jika dilatih Carline karena wanita itu benar benar melatihnya, akan tetapi ketika masuk kedalam hafalan jurus, Risda sama sekali tidak paham dengan gerakannya.
Risda terus memperhatikan apa yang dilakukan oleh Carline, setiap gerakannya Risda mencoba untuk menghafalkannya. Meskipun dirinya sangat sulit untuk memahami gerakan yang dilakukan oleh Carline, karena gerakannya itu tidak terlalu indah seperti gerakan yang dilakukan oleh Afrenzo.
Gerakan yang dilakukan oleh Carline terlihat agak kaku daripada Afrenzo, meskipun Afrenzo adalah seorang lelaki akan tetapi tubuhnya begitu lentur dan bertenaga. Aebelumnya Afrenzo pernah mengajari sedang mengenai gerakan itu, akan tetapi dirinya yang mudah pelupa itu akhirnya lupa dengan gerakan tersebut.
"Sudah paham semuanya?" Tanya Carline.
"Sudah!" Jawab mereka serempak karena tidak mau membuat gadis itu marah.
"Belom Kak!" Teriak Risda dengan kerasnya untuk menyamai ucapan seluruhnya.
Fokus Carline langsung tertuju kepada Risda, gadis yang diduga dekat dengan Afrenzo itu langsung membuat perhatiannya tertuju kepada gadis itu. Carline lalu berjalan mendekat kearah Risda, dengan sebuah senyuman yang mengembang.
"Belum paham dibagian mananya? Bukannya gerakan ini sudah diajari oleh Pelatih secara privat denganmu?" Tanya Carline.
__ADS_1
"Kok Kakak senior tau soal itu?" Tanya Risda yang terkejut mendengarnya.
"Memang diriku tidak terlalu memperhatikan latihan kalian semua, tapi Pelatih pernah membatalkan janjinya karena ingin mengajari siswanya latihan private, dan aku yakin kamu itu siswa yang dimaksud."
"Janji? Dia sampai membatalkan janji apa'an Kak?"
Risda begitu terkejut ketika mendengar ucapan dari Carline, memang setiap hari minggu Risda dilatih secara private oleh Afrenzo. Risda tidak tau hanya demi dirinya, Afrenzo pun membatalkan janji yang entah apa.
"Iya, kami pernah mengadakan makan makan sesama teman seangkatan. Pelatih sudah janji mau menghadiri acara itu juga, tapi tiba tiba membatalkannya begitu saja dan mengatakan bahwa dia mau melatih siswanya dengan cara private dihari itu,"
Risda pun membelalakkan kedua matanya ketika mendengar ucapan Carline, bahkan Afrenzo sampai membatalkan janjinya hanya untuk bisa melatih Risda secara private. Risda begitu terkejut ketika mengetahuinya, bahkan dirinya tidak habis pikir dengan jalan pikiran Afrenzo.
"Aku paham soal jurusnya, Kak. Meskipun cuma sedikit, tapi gerakan Kak Line beda jauh dengan apa yang ditujukan oleh Pelatih,"
"Benarkah? Gerakan yang mana?"
"Hitungan ke 14, disana Pelatih dulu melakukan gerakan langkah balik badan dan melakukan tangkisan. Tapi disini, Kakak melakukan hal yang beda, justru melakukan gerakan geseran dan pukulan,"
"Oh dibagian yang itu, mungkin gerakannya sudah dirubah oleh pimpinan pusat. Soalnya dulu aku mempelajari gerakan ini dari pendekar utama, sementara Pelatih mempelajari gerakan ini dari pendekar besar. Baiklah, kita nurut saja apa yang diajarkan oleh pelatih,"
"Baik Kak,"
Risda memang tidak sepenuhnya hafal mengenai jurus itu, disana ada lebih dari 30 gerakan yang harus dihafalkan dalam 1 jurus. Akan tetapi, Risda akan mengingatnya jika ada gerakan yang tidak sesuai, dan hal itulah yang membuat Risda mengetahui bahwa gerakan Carline tidak seperti apa yang diajarkan oleh Afrenzo.
Mereka secara bersama sama menghafalkan jurus tersebut, sebuah jurus memang tidak berguna jika mendapatkan serangan bebas, akan tetapi dengan cara menghafalkan mereka bisa secara reflek untuk melindungi diri.
Maksudnya, jika mereka sudah terbiasa melakukan sebuah gerakan tangkisan atau pukulan. Mereka akan terbiasa menangkis atau memukul lawan dengan refleknya, seperti seseorang yang tiba tiba memegangi bahunya, jadi mereka bisa dengan reflek melakukan gerakan balik badan dan melakukan pukulan atau serangan.
Tujuannya adalah untuk berhati hati ketika berada dijalanan, karena dijalanan biasanya terlalu banyak orang yang ingin berniat jahat. Jika kita berjalan sendirian disebuah jalan, tiba tiba ada orang yang ingin berniat jahat maka kita bisa mengatasinya sendiri tanpa meminta bantuan orang lain.
Jangan terlalu sering mengandalkan bantuan dari orang lain, karena belum tentu mereka akan membantunya ataupun menolong kita. Kita harus bisa berusaha dengan sendirinya, agar ketika ada masalah kita bisa mengatasinya sendiri tanpa menunggu uluran tangan dari orang lain.
Zaman sekarang, orang yang mau menolong itu jarang sekali ada, kalaupun kita kesusahan bukannya malah ditolong akan tetapi kadang kala malah difoto dan diposting. Setelah itu mereka yang mendapatkan simpati, bukanlah orang yang diposting itu.
Dahulu, jika ada orang yang kesusahan, maka orang lain akan dengan senang hati untuk membantunya. Akan tetapi sekarang, mereka niat membantu hanya ingin mendapatkan pujian dari orang lain.
Apa gunanya memosting kesusahan orang lain? Biar dikomen bagus oleh para netizen? Lantas gunanya apa jika dikomen bagus oleh netizen?
Stop! Jangan mengumbar kebaikan kita di sosial media, amal sedikit di posting, sedekah di posting, membantu orang kesusahan dijalan pun di posting. Terkadang kita memang beramal, akan tetapi apa gunanya di posting? Sekali memosting amal yang kita keluarkan, ingat bisa jadi postingan itu menjadi jalur menuju neraka dan menjadi dosa jari'ah yang mengalir sampai ke alam kubur.
Tiada gunanya kalau beramal hanya ingin mengharapkan pujian dari orang lain, itu adalah hal yang sia sia juga.
...*****Sedikit ilmu jangan di skip*****...
"Katakanlah wahai Muhammad sesungguhnya aku ini hanyalah seorang manusia seperti kalian, yang diwahyukan kepadaku bahwa sesungguhnya Tuhan kalian adalah tuhan yang Maha Esa. Barangsiapa mengharapkan perjumpaan dengan tuhannya maka hendaklah ia megerjakan amal yang shalih dan janganlah ia mempersekutukan seseorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya" (QS. Al-Kahfi:110).
"Sesuatu yang paling aku khawatirkan menimpa kamu sekalian ialah syirik paling kecil. Maka beliau ditanya tentang itu. Beliau berkata: Riya" (HR. Ahmad, Thabrani, Ibnu Abid Dunya dan Baihaqi).
"Bahwa Rasulullah Saw bersabda: Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan menimpa kamu sekalian ialah syirik yang paling kecil. Mereka bertanya: Apakah itu syirik yang paling kecil ya Rasulullah? Beliau menjawab: Riya'! Allah berfirman pada hari kiamat, ketika memberikan pahala terhadap manusia sesuai perbuatan-perbuatannya: "Pergilah kamu sekalian kepada orang-orang yang kamu pamerkan perilaku amal kamu di dunia. Maka nantikanlah apakah kamu menerima balasan dari mereka itu." (HR Ahmad).
Pada hadits di atas, jelas sekali, jika kita pamer ibadah (amal kebaikan) di media sosial, maka di akhirat nanti kita akan diperintahkan Allah SWT untuk menemui fans, friends, atau follower yang memberi jempol, komentar, atau share. Karena kita beramal bukan karena Allah SWT semata, tapi disertai riya' alias syirik kecil. Na'udzubullah min dzalik. Wallahu a'lam bish-shawabi.
...*****Semoga bermanfaat****...
"Baiklah untuk latihan hari ini, kalian hafalkan terlebih dulu jurusnya," Ucap Carline.
"Habis ini pulang, Kak?" Tanya Risda.
Risda begitu terkejut mendengarnya, biasanya dirinya akan pulang ketika hampir mendekati waktu adzan magrib. Akan tetapi kali ini, baru juga jam 4 akan tetapi dari perkataannya mengatakan bahwa latihan selesai dilaksanakan.
"Belum, aku beri waktu 30 menit untuk menghafalkan. Setelah itu, kalian lakukan gerakan itu satu persatu,"
Mendengar jawaban itu, langsung membuat seluruhnya merasa lemas setelahnya. Mending latihan fighter ( berduel ) daripada menghafalkan jurus, karena akan sangat pusing jika disuruh untuk menghafalkan daripada menumbangkan musuh di medan matras.
Kalau soal seni, mereka harus bisa menyesuaikan tekukkan kuda kuda dan juga gerakannya harus terlihat jelas. Sementara kalau fighter, mereka bisa melakukan gerakan apapun hanya untuk mendapatkan sebuah point untuk menumbangkan musuhnya.
__ADS_1
Lama sebuah pertandingan, ditentukan oleh seberapa kuat musuhnya. Jika dibabak pertama dimenangkan oleh regu merah, dan babak kedua dimenangkan oleh regu biru maka akan ada babak ketiga yakni babak penentuan.
Jika babak pertama dimenangkan oleh regu merah begitupun juga babak kedua, maka tidak akan ada yang namanya babak ketiga sebagai penentuan. Otomatis regu merah lah yang akan menang karena sudah bisa untuk memenangkan kedua babak tanpa perlu tambahan babak lagi.