Pelatihku

Pelatihku
Episode 25


__ADS_3

Setelah membagi sakral kepada mereka, Afrenzo kembali melatih mereka dengan caranya. Risda ingin sekali protes, akan tetapi dirinya sendiri tidak mau Afrenzo mengusirnya dari perguruan yang dia ikuti itu, jika Afrenzo melakukan itu sama halnya bahwa perjuangannya selama ini sia sia.


Setelah 1 jam penuh dengan perjuangan untuk berlatih akhinya mereka berhenti untuk berlatih, Afrenzo memerintahkan mereka untuk kembali pulang dirumah masing masing. Dengan senangnya, mereka semua pun bergegas meninggalkan lapangan tersebut, begitupun juga dengan Risda.


"Da, tungguin gue!" Teriak Anna.


"Ada apa?" Tanya Risda yang langsung menghentikan langkahnya.


"Ngak papa sih, cuma bareng aja ke parkiran,"


"Oh gitu, ayolah,"


Kedua gadis itu pun saling berbincang bincang sambil melangkah menuju kearah parkiran sepeda motor mereka. Setelah sampai keduanya langsung menuju kearah rumah mereka masing masing, dari sekolahan itu Anna menuju kearah kiri sementara Risda menuju kearah kanan.


*****


Risda terkejut bukan main disaat mengetahui bahwa rumahnya kini dipenuhi oleh banyak orang, Risda langsung buru buru masuk kedalam rumahnya untuk melihat apa yang tengah terjadi saat ini.


Ada dua orang yang tengah menangis disana, wanita yang berusia 40 tahunan dan seorang wanita sepuh yang berusia sekitar 60 tahunan. Kedatangan Risda langsung membuat perhatian mereka terarah kepadanya saat ini, Risda nampak bingung dengan apa yang terjadi.


"Ada apa ini?" Tanya Risda kebingungan.


"Dia anaknya yang terakhir, sudah berusia 16 tahun," Ucap Kakek Risda sambil menunjuk kearah Risda.


"Apa maksudnya ini? Jelaskan kepadaku sekarang!" Sentak Risda, dengan perasaan yang campur aduk.


Nenek Risda nampak sedang menghela nafasnya mendengar suara Risda. Sementara itu, wanita yang berusia 40 tahun langsung menangis kearah Risda, wanita itu tengah menggendong seorang anak kecil yang berusia 5 tahun.


"Dia, Ibu tirimu, Nak. Dia juga adalah Ibumu"


Duarrr...


Ucapan tersebut bagaikan sebuah sambaran petir dihati Risda. Risda termundur beberapa langkah kebelakang hingga tubuhnya menabrak sebuah tembok yang ada dibelakangnya, Risda mengepalkan kedua tangannya dengan erat dan juga linangan air mata membasahi kedua pipinya.


"TIDAK AKAN PERNAH! SELAMANYA IBUKU HANYA SATU, DAN KAU TIDAK PANTAS DISEBUT SEBAGAI SEORANG IBU!" Bentak Risda sambil menunjuk kearah wanita itu.


"Maafkan aku, aku tidak tau kalau suamiku ternyata punya seorang anak. Dia bilang kepadaku, bahwa dia seorang bujangan," Ucap wanita tersebut dengan linangan air mata.


"Selama 8 tahun kau menghancurkan hidupku! Dan baru kali ini kau menginjakkan kaki disini? Aku tidak akan pernah memaafkanmu. Kau perusak keluargaku, kau merampas semua kebahagiaanku! Kau merenggut masa kecilku!" Tangis Risda semakin menjadi dikala itu.


"Risda. Tenanglah, dia sudah minta maaf, dan sudah mengakui semua kesalahannya. Dia datang kemari untuk meminta maaf kepada kita, biar bagaimanapun juga dia adalah istri dari Ayahmu," Ucap Kakeknya.


"Minta maaf. Apakah dengan kata maaf dia bisa mengembalikan segalanya? Apakah dengan kata maaf dia bisa memberikanku kebahagiaan masa kecil yang tidak pernah aku rasakan?"


Rasa sesak menyelimuti dada Risda, ia mengepalkan tangannya dengan erat. Sakit yang ia rasakan saat ini, Ayah yang selama ini menghilang entah kemana, kini datang kerumah berserta istri barunya yang dulunya menjadi selingkuhannya. Kedua orang itu telah menorehkan luka yang paling dalam dihati Risda, dan bahkan adanya sosok anak kecil diantara mereka.


"Nak," Panggil Ayahnya lirih.


"Kalian jahat, aku benci kalian semua!" Ucap Risda yang memelan dan langsung menjatuhkan tubuhnya dilantai saat itu juga.


"Risda, maafkan Ayah," Ucap Ayahnya.


"Pergi dari sini, aku tidak mau melihat kalian lagi berada disini. Jangan harap kalian bisa mendapatkan maaf dariku, sampai aku mati sekalipun, aku tidak akan pernah memaafkan kalian!"


"Disini bukan hanya kamu saja yang terluka! Kami semua juga terluka, Risda!" Sentak Indah yang tidak suka cara bicara Risda kepada Ayahnya.


"KAU TIDAK AKAN PERNAH TAU APA YANG AKU RASAKAN SELAMA INI!" Bentak Risda untuk yang pertama kalinya kepada Indah.

__ADS_1


Indah tidak pernah melihat Risda yang kasar seperti itu, ini adalah kali pertamanya Risda membentaknya dihadapan banyak orang. Risda yang selalu nampak pendiam dirumahnya itu pun mulai mengutarakan suaranya didepan banyak orang.


"Jangan pernah menyelesaikan ini dengan kemarahan, Nak"


"Semua orang bisa salah, dan tugas sesama manusia adalah saling memaafkan,"


"Dia datang kemari untuk meminta maaf kepada kalian berdua yang merupakan anak dari Sandi,"


"Biar bagaimanapun keluarga kalian sudah berakhir, Dewi dan Sandi tidak bisa bersama lagi. Sekuat apapun kau menolak takdir, takdir sendiri yang akan menentukan jalannya,"


Bhukkk...


Dengan kerasnya, Risda meninjau sebuah tembok yang berada tidak jauh darinya. Tembok yang ia tinju tersebut pun sampai retak, hal itu langsung membuat semua orang berhenti berbicara. Tangan Risda pun gemetaran karena rasa sakit yang menyelimuti punggung tangannya yang sobek.


"Aku bukan Nabi yang sempurna! Yang bisa memaafkan seseorang dengan mudah, kalian menasehatiku seolah olah kalian menyalahkan diriku disini!" Sentak Risda kepada seluruhnya.


Tidak ada yang bersuara untuk menyahuti ucapan dari Risda, kemarahan yang selama ini ia pendam akhirnya pun keluar juga. Kedua mata Risda nampak memerah karena kemarahannya, dia yang kelelahan itu pun tidak bisa berpikir dengan baik dan justru melampiaskan semua kemarahannya melalui kata katanya.


"Aku kecewa dengan kalian yang lebih memilih perempuan itu daripada aku, seorang wanita yang dengan tega merebut kebahagiaan seorang anak. Apakah wanita seperti itu pantas disebut sebagai seorang Ibu? Jika kalian berada diposisiku dan dinasehati seperti ini, APA KALIAN BISA TERIMA ITU!" Bentak Risda diakhir katanya.


Tersirat sebuah luka yang cukup mendalam didalam kata kata yang dilontarkan oleh Risda kali ini, luka yang selama ini ia tahan akhinya sudah tidak mampu untuk ditahan lagi. Tidak ada yang bisa berkata kata saat ini, semuanya diam membisu tanpa bisa menyahuti ucapan Risda.


Risda langsung mengangkat tangannya untuk menghentikan Sandi yang tengah melangkah ke arahnya, "Seorang Ayah yang menjadi cinta pertama bagi anaknya, tega menorehkan luka paling dalam dihati anaknya. Apakah Ayah seperti itu bisa dimaafkan? Karena perbuatanmu, kau menghancurkan hidup putrimu sendiri,"


"Risda, Ayah ngak bermaksud seperti itu. Dan kini Ayah datang ingin memperbaiki semuanya,"


"Apa yang harus diperbaiki lagi? Semuanya sudah hancur lebur, Yah. Tidak ada yang bisa diperbaiki lagi, putrimu sudah mati, dan tidak akan bisa kembali,"


"Apa gunanya seorang anak? Anak harus patuh kepada orang tuanya,"


"Apa gunanya seorang anak?" Risda mengulangi pertanyaan tersebut, "Anak mana yang kau maksud itu? Hahaha..." Tawa Risda ditengah tengah lukanya, tawa yang sangat mengerikan.


Aku sudah mati bertahun tahun yang lalu, orang yang sudah mati tidak bisa dihidupkan kembali oleh manusia sepertimu. Aku sudah tidak membutuhkanmu lagi disini, anak yang sudah hancur ini, sudah tidak mampu untuk diperbaiki lagi.


Kalian semua telah membuat anak ini mati lagi. Aku yang berusaha mati matian untuk bangkit kembali, dan kalian hancurkan begitu saja dengan mudahnya. Kalian memang tidak memiliki hati nurani, kalian jahat, kalian egois dan hanya mementingkan diri sendiri."


"RISDA!" Bentak Sandi.


"Apa? Mau bunuh aku sekalian? Bunuh saja! Aku sudah tidak mau hidup lagi," Sentak Risda yang tidak kalah tingginya.


Ketika nada seorang Ayah tinggi kepada anaknya, disaat itulah seorang anak akan hancur. Jika seorang Ayah bisa berbuat kasar kepada anaknya, maka anak juga mampu untuk membalasnya. Orang tua adalah madrasah pertama bagi anaknya, jika orang tua menanamkan sikap kasar kepada sang anak, maka anak tersebut mampu lebih kasar daripada orang tua.


"Sudah sudah, adzan magrib akan berkumandang. Tidak baik jika saling berbentakan seperti ini," Ucap Nenek Risda yang mencoba untuk menenangkan Risda.


"Pergi kalian dari sini! Jangan pernah kembali," Usir Risda kepada Ayah dan Ibu tirinya itu.


"Sebaiknya kalian biarkan Risda tenang dulu, dia masih anak anak jadi wajar saja jika dia mengambil keputusan tanpa berpikir panjang terlebih dahulu," Jelas Neneknya kepada mereka.


"Risda bukan anak kecil lagi! Seharusnya dia tau apa yang dia ucapkan itu, memang anak yang tidak tau diuntung. Biar bagaimanapun juga, Ayah pernah menemani masa kecilnya," Ucap Indah.


"Sejak kapan aku jadi anak kecil? Aku tidak punya masa kecil seperti yang kau katakan itu! BANGSAAATTT!" Umpat Risda dengan kerasnya.


Mendengar umpatan dari Risda langsung membuat Indah membelalakkan matanya lebar. Indah pun hendak melontarkan sebuah pukulan kepada Risda akan tetapi langsung ditahan oleh Kakeknya itu.


Risda yang selalu diam disaat dihina, Risda yang selalu patuh disaat dimarahi, Risda yang tidak pernah melawan meskipun dibentak. Kali ini, Risda itu menampakkan sifat aslinya didepan banyak orang, yang biasanya pendiam kini tengah berselimut dengan kemarahan.


Bahkan dengan beraninya dirinya mengumpat dengan kata kata kasar didepan semuanya. Air mata yang ada dipelupuk matanya pun mulai mengering, melihat itu membuat Risda semakin tertawa karena rasa sakit yang ia rasakan dihatinya saat ini.

__ADS_1


"Kenapa? Mau pukul aku?" Tanya Risda dengan bertepuk tangan keras.


"Adik yang ngak tau diri!" Seru Indah.


"Hahaha... Dasar Adik yang ngak tau diri, kenapa masih hidup aja sampai saat ini? Seharusnya kau sudah dipendam dalam tanah, tapi kenapa kau masih saja bernafas? Kau hanya beban, dan kau tidak pantas hidup lebih lama. Kau orang yang buruk, Da. Tidak ada gunanya lagi kau hidup didunia ini, kau kasar, kau egois yang hanya menginginkan kebahagiaanmu saja," Ucap Risda kepada dirinya sendiri.


Risda berjalan masuk kedalam kamarnya dengan langkah sempoyongan. Tidak ada yang menghentikan langkah kaki Risda, Risda membaringkan tubuhnya diatas kasur kamarnya dengan keras. Ia memukuli anggota tubuhnya sendiri dengan kerasnya, tanpa mempedulikan rasa sakit yang ia rasakan.


Hatinya terasa sakit yang teramat sangat, ia lelah dan ingin sekali menyerah untuk saat ini. ia memandangi langit langit kamarnya dengan rasa sesak menyeruak kembali, pandangannya menerawang jauh entah kemana.


"Gue ingin mati,"


Hanya kata kata itu yang terlintas dalam pikirannya, ia pun memukul kepalanya dengan sangat kerasnya dan dirinya juga memukul tembok kamarnya tanpa mempedulikan lukanya yang ada dipunggung tangannya itu. Tak beberapa lama kemudian ponselnya berbunyi, pertanda ada pesan masuk.


Isi pesan, "Da, nanti malam ada orkes, lo berangkat ngak, kalo iya nanti kumpul ditempat biasanya"


"Ide bagus. Sekalian menghancurkan diri sendiri, gue ngak peduli dengan diri gue sendiri, mabuk dan lupakan segalanya," Ucap Risda dengan senyuman terbit diwajahnya.


*****


Pukul 9 Malam


Kini Risda tengah bersiap siap didalam kamarnya, Risda memalai pakaian pendek yang tidak memiliki lengan berwarna hitam, dirinya juga memakai celana mini yang panjangnya diatas lutut sambil mengurai rambut panjangnya itu.


Risda memang suka memakai pakaian seperti itu apalagi saat ini ada orkes yang bakalan dihadiri oleh banyak seorang pemuda berbagai daerah. Risda segera keluar dari kamarnya melalui cendela yang ada dikamarnya itu karena tidak ingin diketahui oleh siapapun.


Dengan langkah pelan, Risda segera bergegas meninggalkan rumahnya tanpa diketahui oleh siapapun. Ia menuju kehalaman yang tidak memiliki lampu ( gelap gelapan ) untuk menemui temannya itu, disana sudah ada setidaknya 7 orang laki laki dan juga 3 orang perempuan.


"Sorry gue telat, berangkat sekarang?" Tanya Risda.


"Lo kemana aja, Da? Tumben banget lo telat ngak kayak biasanya," Ucap Nugraha.


"Banyak. Kalo gue cerita, lalu kapan berangkatnya anjiirr?"


"Eh iya, yaudah. Lo naik motor bersama Deva aja, tempatnya ada didesa sebelah yang agak jauh dari sini,"


"Oke"


Mereka adalah teman teman sedesanya, dan mereka juga teman teman masa kecil Risda selama ini. Risda memang suka berkawan dengan laki laki seperti mereka, oleh karena itu juga Risda pernah dicap jelek didesa tersebut.


Karena masalah keluarganya itu, hal itu membuat Risda memilih jalan yang buruk. Risda merasa bahagia bersama dengan mereka, dan seakan akan luka yang tadi ia rasakan itu menghilang begitu saja.


"Va, lebih kencang lagi naik motornya!" Teriak Risda.


"Lo kerasukan apaan, Da? Kecepatan 70 gini lo bilang pelan," Guman Deva.


"Gue kerasukan setan dibawah pohon asem deket rumah lo, gue pengen mati!" Teriak Risda.


Jalanan itu nampak terlihat sepi, dengan berteriak seperti itu langsung membuat Risda merasa bahagia. Dengan teriakan dia bisa melepaskan beban yang ia tanggung saat ini, ini adalah saat saat dimana dirinya bisa melepaskan beban pikirannya.


"Mati mati sendiri! Jangan ajak ajak,"


"Lo ngak asik, Va."


Mendengar itu hanya membuat Deva mendengus kesal karena ucapan Risda, Risda sama sekali tidak mempedulikan dengusan itu dan justru dirinya memejamkan matanya untuk menikmati angin malam yang kini ia rasakan itu.


Angin yang dingin tersebut langsung membuat kulit Risda terasa dingin, akan tetapi hal itu tidak cukup untuk membuat Risda kedinginan karena malam itu. hembusan angin langsung membuatnya merasa sangat lega dan bahagia.

__ADS_1


Tidak ada hal yang lebih membahagian selain berteriak disaat hati merasa berat. Pikirannya seakan akan melayang dan kepalanya sekarang terasa sangat ringan seperti tanpa adanya beban berat yang ada didalam kepalanya.


__ADS_2