Pelatihku

Pelatihku
Episode 81


__ADS_3

Risda dan kedua temannya langsung disuruh untuk masuk kedalam, ketiganya kini tengah berdiri dihadapan sebuah gapura yang bertuliskan pemakaman umum didesa setempat. Ketiga memandangi kearah tempat itu dengan tatapan yang sulit untuk diartikan, rasa takut bercampur merinding pun telah jadi satu.


"Da, ini pemakaman loh, apa kita mau masuk?" Tanya Vina yang begitu sangat merinding.


"Apapun itu ya harus masuk, lo mau Renzo marah nanti?" Tanya Risda balik.


"Iya deh, pokoknya jangan berpencar ya? Gue takut,"


"Kalo ngak berpencar gimana bisa nemuin tuh tiga benderanya? Lagian tempatnya juga sangat luas didalam,"


"Kalian berdua berisik amat deh, meskipun tempatnya luas kalo bersama sama kan meskipun lama tidak akan terasa, kalo sendiri sendiri yang ada kagak bakalan fokus," Sela Affan.


"Baiklah bersama sama, tapi saling berpegangan biar ngak ilang,"


Risda pun mengangkat kedua tangannya, kedua temannya itu langsung menautkan tangan mereka satu sama lain. Setelah saling berpandangan, ketiganya pun bergegas untuk melangkah masuk diarea pemakaman itu.


Deg


Risda merasakan sesuatu yang berbeda ketika kakinya mulai melangkah masuk, ada sebuah kesedihan yang muncul tiba tiba didalam lubuk hatinya. Bukannya merasa takut akan tetapi dirinya justru merasa sedih, dan ingin sekali menangis.


"Da, kenapa lo diem aja?" Tanya Vina ketika merasakan bahwa Risda menghentikan langkah kakinya.


"Vin, gue ngerasa agak aneh ditempat ini," Ucap Risda lirih.


Sekilas bayangan putih pun melesat cepat dihadapan Risda, dan dirinya sempat untuk melihatnya dengan kedua matanya. Hal itu langsung membuat Risda membuka kedua matanya lebar lebar, tubuhnya terasa sedikit agak bergetar.


"Siapa?" Tanya Risda entah kepada siapa.


"Siapa apa maksud lo, Da? Lo tanya kesiapa?" Tanya Affan yang merasa kebingungan.


"Iya nih, disini ngak ada siapa siapa, Da. Emang lo lihat apa'an?" Tanya Vina.


"Gue sekilas ngelihat orang yang jalan disana, Vin. Tapi sekarang kagak ada," Ucap Risda sambil menunjuk kearah sebuah arah.


"Ngak ada siapa siapa disana, Da. Lo salah lihat kali," Ucap Vina yang ikut serta menoleh kearah yang ditunjuk oleh Risda.


"Gue serius tadi gue lihat ada yang jalan disana, rambutnya panjang dan pakaiannya berwarna putih tulang," Risda tetap kekeh pada ucapannya itu.


"Lo jangan nakut nakutin deh, Da. Mending kita segera mencari benderanya sekarang," Ucap Affan memberi saran.


"Baiklah, kita cari bersama sama,"


Risda dan keduanya pun segera menyusuri tempat itu untuk mencari benda yang dimaksudkan tersebut, ketika hendak melangkah tiba tiba sebuah batu krikil yang kecil melayang kearah kaki Risda. Hal itu langsung membuat Risda menghentikan langkah kakinya, dirinya pun merasa sakit akibat batu krikil tersebut.


"Akh... Siapa sih yang ngelempar batu?" Tanya Risda sambil mendes*ah kesakitan.


"Kenapa, Da?" Tanya Vina.


"Ngak tau juga, Vin. Kaki gue sakit, kayak ada yang ngelempar batu ke gue," Ucap Risda.


"Mungkin ngak sengaja kelempar kali, Da. Secara kan kita jalannya berdempetan,"


"Iya juga sih, tapi aneh aja kenapa sekeras itu ngelemparnya,"


Ditempat yang gelap itu pun, Risda tidak mengetahui apapun yang ada disekitarnya saat ini. Ketiganya pun kembali melanjutkan perjalanannya untuk mencari benda yang disuruh, akhirnya mereka pun menemukan 1 diantara ketiga bendera itu.


"Asik, kurang dua lagi," Ucap Risda.


"Kira kira dimana ya? Sudah lama nyusuri tempat ini cuma menemukan satu doang," Guman Affan.


Tiba tiba Risda merasa ada seseorang yang seperti tengah memegangi bajunya itu, Risda pikir itu adalah tangan Vina atau ngak itu tangan Affan.


"Vin, ngapain sih lo narik narik baju belakang gue," Ucap Risda sambil menoleh kepada Vina.


"Gue ngak narik, Da. Tangan gue aja dua duanya pegangan sama tangan lo,"


"Iya juga sih, lo kali Af Af," Ucap Risda sambil menoleh kearah Affan.


"Enak aja lo bilang, ngapain gue narik narik baju lo? Kek kurang kerja'an aja deh, Da."


"Lalu ini tangan siapa?"


"Jangan aneh aneh lo, Da. Ingat ini dipemakaman jangan rame,"


"Betul juga sih," Ucap Vina setuju.


"Gue ngak aneh aneh tau, gue ngomong apa adanya,"


Risda pun mencoba merabah baju belakangnya itu, dirinya sama sekali tidak menemukan apa apa disana bahkan tarikan tersebut pun hilang. Dirinya kembali merasa aneh saat ini, ketiganya lalu buru buru untuk mencari bendera yang dimaksud agar mereka tidak perlu lama lama ditempat itu.

__ADS_1


Setelah berputar putar ditempat itu, mereka menemukan kembali satu bendera yang dimaksud. Kini hanya kurang satu bendera saja agar mereka bisa keluar dari area pemakaman itu, akan tetapi sangat sulit untuk menemukannya.


"Da, kayaknya cuma ada 2 saja deh benderanya, soalnya dari tadi muter muter juga kagak nemuin apa apa," Ucap Vina.


"Tapi kita harus nemuin tuh benda, atau kita kagak boleh kembali ke aula beladiri,"


Ucapan Risda itu langsung membuat keduanya merasa lemas, kaki kaki mereka sudah lelah untuk terus berjalan apalagi sejak tadi tidak ada istirahatnya sama sekali untuk mereka, dan kini mereka disuruh untuk berkeliling demi mencari sebuah bendera.


Benar benar pengalaman yang sangat menyeramkan bagi mereka, dimana mereka diminta untuk menyatuh dengan alam bebas tanpa memakai ponsel, senter, ataupun yang lainnya. Bahkan nyamuk sekalipun tidak segan degan untuk mengigit mereka, karena tidak memakai obat nyamuk.


"Da, itu bukannya bendera ya?" Tanya Vina sambil menunjuk kearah yang tidak jauh dari tempat mereka berada saat ini.


"Kita lihat kesana yuk! Siapa tau itu memang benar benderanya."


Risda dan keduanya langsung bergegas untuk mendekat kearah yang ditunjukkan oleh Vina. Mereka pun mengambil benda yang dimaksudkan itu, dan mereka merasa senang karena berhasil menemukannya.


"Alhamdulillah, akhirnya ketemu juga, setelah sekian lama muter muter akhinya nemu iugs," Ucap Risda senang.


Mereka pun langsung bergegas untuk keluar dari area pemakaman itu, dan mereka langsung disambut oleh beberapa senior dipintu gerbang pemakaman itu. Risda lalu menyerahkan tiga buah bendera kepada mereka, dan mereka pun membiarkan ketiganya untuk kembali ke aula beladiri.


*****


Sesampainya didalam aula beladiri, mereka pun langsung bergegas untuk mengambil pakaian mereka yang kering, karena pakaian mereka yang basah membuat mereka takut masuk angin nantinya sehingga mereka mengganti pakaian mereka sebelum waktunya tidur tiba.


"Setelah ini, kalian berdua tidur diatas dan gabungan dengan lainnya," Ucap Afrenzo kepada Risda dan Vina.


"Lalu yang cowok tidur dimana?" Tanya Affan.


"Diaula sekolah,"


Affan hanya memanggut manggut mendengar jawaban dari Afrenzo, dirinya pun langsung bergegas untuk menuju ketempat yang dimaksudkan oleh Afrenzo. Vina langsung bergegas untuk menuju kelantai atas yang ada didalam aula beladiri, sementara Risda masih diam ditempatnya.


"Tidur, sudah malam," Ucap Afrenzo.


"Renzo, gue laper. Lo punya makanan ngak?" Tanya Risda sambil memegangi perutnya.


"Lo mau jagung bakar?" Tanya Afrenzo balik.


"Lo punya jagung bakar?"


"Ada di kulkas yang ada diaula atas, ambil."


"Ha? Jagung bakar kok dimasukkan ke kulkas sih? Kan jadi dingin ngak enak nanti,"


"Baiklah,"


Risda langsung bergegas untuk buru buru menuju kelantai atas yang dimaksud oleh Afrenzo, dirinya pun merasa bersemangat ketika Afrenzo mengatakan keduanya akan melakukan bakar bakar jagung untuk mengisi perut Risda yang sejak tadi meronta ronta untuk diisi itu.


"Ini Renzo, udah gue ambil," Ucap Risda sambil menyerahkan sekantung plastik jagung kepada Afrenzo yang tengah duduk didalam aula itu.


"Ayo kehalaman belakang,"


Afrenzo pun bergegas untuk berjalan keluar dari dalam area aula beladiri itu, Risda langsung bergegas untuk mengikutinya dari belakang tanpa banyak protes sama sekali. Afrenzo sebelumnya juga telah menyiapkan pemanggangan untuk membuat jagung bakar itu, sehingga ketika keduanya sampai disana semuanya sudah siap.


Risda lalu bergegas untuk memisahkan rambut jagung dari jagungnya itu, setelah itu Risda lalu mencuci jagung tersebut. Sementara Afrenzo tengah menyalakan arang batok untuk memanggang, hanya ada dua orang ditempat itu, yakni Risda dan Afrenzo sendiri.


"Sudah siap, Renzo. Tinggal bakar doang," Ucap Risda sambil menyerahkan beberapa jagung kepada Afrenzo.


Afrenzo lalu menerima uluran tersebut dan langsung menaruh jagung itu diatas pemanggangan, keduanya lslu bergegas untuk membakarnya. Risda akan membolak balik jagung itu hibgga matang merasa, sementara Afrenzo mengipasi arang itu agar terus menyala.


"Hem.... Aromanya enak sekali, Renzo. Jadi ngak sabar pengen segera makan," Ucap Risda sambil menghirup nafas dalam dalam.


"Sabar, sebentar lagi matang kok," Ucap Afrenzo.


"Baunya harum sekali, Renzo. Apalagi ketika dimakan dalam keadaan masih panas, hufff pasti enak sekali,"


"Lo suka jagung?"


"Gue suka sekali, Renzo. Dulu waktu kecil gue sering beli jagung sama orang tua gue, waktu umur gue masih 4 tahun, Bokap gue sering ngajak jalan jalan lalu pulangnya beli jagung yang banyak. Rasanya enak banget apalagi dimakan ketiga masih hangat, manis dan enak."


"Beli jagungnya dimana?"


"Lo tau pasar dekat sini kan? Nah aku sering beli disana sama Bokap gue, dulu waktu gue minta apapun selalu saja langsung dibelikan, Renzo. Bahkan dia juga sering banget ngakak gue jalan jalan sama Nyolap gue, kami pun pergi ke kolam renang sambil membawa jagung,"


Ketika mengingat hal itu, Risda selalu menitihkan air matanya, dirinya merasa sangat rindu akan kasih sayang dari keluarganya. Dimasa anak anak, dirinya mendapatkan kasih sayang itu akan tetapi tidak berlangsung lama karena Ayahnya telah tergoda dengan seorang janda dari desa yang cukup jauh dari rumah Risda itu.


"Cengeng," Ucap Afrenzo sambil mengusap pelan puncak kepala Nadhira.


"Gue ngak cengeng, gue hanya rindu masa kecil gue, tapi gue ngak mau kembali dimasa itu,"

__ADS_1


"Kenapa?"


"Ya ngak mau aja, kalo gue kembali dimasa itu, itu artinya nakalan ada ujian yang besar dikemudian hari, jadi gue ngak mau mengalami kasus yang sama."


"Lo bener,"


"Gue udah ngejalanin semua ini meskipun dengan tanpa tau arah kemana kaki ini akan melangkah, begitu banyak rintangan yang telah gue lalui selama ini, Renzo. Gue ngak mau dimarahi lagi karena hal yang sama,"


"Sudah matang,"


Afrenzo pun mengalihkan pembicaraan dari Risda, semakin Risda mengingatnya maka Risda akan semalin terluka. Afrenzo tidak mau melindungi Risda kembali merasa terpuruk seperti sebelumnya. Apalagi Risda yang mudah menangis jika dihadapan seorang yang bernama Afrenzo.


Afrenzo lalu menyerahkan jagung bakar yang telah selesai dibakar olehnya itu pun kepada Risda, Risda lalu menerimanya begitu saja dan langsung memakannya. Karena dirinya yang merasa lapar, hal itu membuat jagung bakar itu terasa semakin enak ketika masuk kedalam perutnya.


"Enak sekali, Renzo. Lo bakar yang banyak ya, gue suka rasanya," Ucap Risda senang.


"Makan jangan berbicara,"


"Baik."


Entah sejak kapan Risda menjadi gadis yang penurut dihadapan seorang yang sedingin Afrenzo itu. Dirinya sama sekali tidak membantah ucapan Afrenzo justru dia langsung patuh begitu saja kepada ucapan dari seorang Afrenzo.


Jagung yang dibakar oleh Afrenzo kembali itu pun saat ini tengah matang, Afrenzo pun menyodorkannya dihadapan Risda hingga membuat Risda menatap kearahnya itu.


"Lo ngak ikut makan sekalian?" Tanya Risda ketika melihat Afrenzo kembali fokus untuk membakar jagung itu.


"Makan saja sampai kenyang, setelah itu tidurlah,"


"Baik Afrenzo, rasanya bener bener sangat enak, Renzo. Entah mengapa sensasinya berbeda dari jagung bakar yang selalu gue beli selama ini. Mungkin karena efek kelaparan kali ya,"


Satu buah jagung pun habis dimakan oleh Risda, kini dirinya mengambil jagung yang kedua, dirinya pun langsung menikmati jagung bakar itu dengan lahapnya. Tanpa terasa dirinya sudah menghabiskan 4 buah jagung bakar, dan dirinya merasa sangat kenyang saat ini.


"Renzo, gue udah kenyang jangan bakar lagi," Ucao Risda.


"Kembalilah ke aula dan tidur, ini sudah malam."


"Emang sekarang jam berapa? Gue ngak lihat jam sama sekali,"


"Sekarang jam 2 lagi, sebentar lagi adzan subuh akan berkumandang. Tidurlah sebentar, nanti sholat subuh berjama'ah,"


"Tapi kalo gini gue kagak bisa tidur dengan nyenyak, Renzo. Bukan karena tempatnya atau yang lainnya, tapi karena waktunya yang cuma sebentar itu. Gimana kali gue baru saja tidur lalu langsung lo bangunkan? Itu kagak enak sama sekali, Renzo. Mending ngak usah tidur, terus melakukan sholat tahajjud sekarang,"


"Ngak bisa, Da. Syarat sholat tahajjud itu harus tidur lebih dulu, kalo ngak tidur itu masih dianggap sebagai sholat isya', kalo sekarang langsung sholat itu ngak bisa,"


...*****Sedikit ilmu dan jangan diskip ya*****...


Apa Boleh Sholat Tahajud Tidak Tidur Dulu?


Perkara ini banyak didiskusikan oleh para ulama sehingga menghasilkan dua pendapat. Pendapat pertama ada yang mewajibkan tidur sebelum sholat tahajud, namun pendapat lain membolehkan amalan sunnah ini tanpa didahului tidur.


Pendapat yang mewajibkan tidur sebelum sholat tahajudi diungkap oleh seorang ulama Mahzab Syafi'i, Ar Rafi'i. Dalam kitabnya yang berjudul As-Syarhul Kabir, ia berkata, "Tahajud istilah untuk sholat yang dikerjakan setelah tidur. Sedangkan sholat yang dikerjakan sebelum tidur, tidak dinamakan tahajud."


Untuk mendukung pendapatnya, Ar Rafi'i merujuk pada riwayat hadits dari Katsir bin Abbas dari sahabat Al Hajjaj bin Amr. Berikut bunyi hadits yang diterjemahkan Ibnu Watiniyah dan Puspa Swara dalam buku Tuntunan Lengkap 99 Salat Sunah Superkomplet.


"Di antara kalian menyangka ketika mengerjakan sholat pada malam hari sampai Subuh dia merasa telah bertahajud. Tahajud adalah sholat yang dikerjakan setelah tidur kemudian sholat setelah tidur. Itulah sholatnya Rasulullah SAW,"


Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Fathul Bari juga berpendapat serupa. Ia mengutip beberapa pendapat ulama, salaf, dan pakar tafsir yang mengatakan bahwa turunan kata tahajud sendiri adalah mutahajjid yang artinya orang sholat malam secara khusus setelah diawali dengan tidur.


Imam At Thabari juga berpendapat, makna tahajud dalam bahasa Arab adalah berjaga setelah tidur terlebih dahulu. Sebab, asal katanya adalah hajjada yang berarti bangun tidur.


"Dari beberapa pemaknaan ini turunlah penjelasan imam-imam fiqih tentang tata cara dan waktu pelaksanaan sholat tahajud," tulis Muhammad Muslih Aziz, Muhammad Abd. Syakur, dan Muhammad Syamsul Yakin dalam buku 7 Sunah Harian Nabi SAW.


Ulama dengan berpaham mewajibkan tidur sebelum sholat tahajud ini membedakan sholat tahajud dengan qiyamul lail. Bila melaksanakan sholat malam dengan memahaminya sebagai qiyamul lail maka dapat dikerjakan tanpa didahului tidur terlebih dahulu.


Sementara pendapat kedua yang membolehkan amalan sholat tahajud tanpa tidur, salah satunya diungkap dalam kitab Hasyiyah Ad Dasuqi. Menurut kitab ini, sholat tahajud adalah segala sholat sunnah bentuk apapun yang dikerjakan setelah Isya.


"Sholat tahajud adalah semua sholat sunah yang dikerjakan setelah Isya, baik sebelum tidur maupun sesudah tidur," bunyi kitab tersebut.


Kitab Hasyiyah Ad Dasuqi juga memaknai tahajud sebagai mujanabah al hajud atau menjauhi tempat tidur. Untuk itu, sholat tahajud didefinisikan sebagai sholat yang diamalkan pada waktu banya orang tidur.


Di samping itu, sebagian ulama memahami huruf ta pada kata tahajud mengandung makna meninggalkan. Hal ini pun membuat tahajud diartikan sebagai meninggalkan tidur.


"Huruf ta pada awal kata tahajjud mengandung makna meninggalkan sehingga tahajjud berarti meninggalkan tidur, bukan berarti bangun sesudah tidur," demikian penjelasan yang dikutip dari tulisan Quraish Shihab dalam buku Kosakata Keagamaan.


Kemudian makna kedua adalah sholat setelah tidur. Pendapat yang kedua ini juga diyakini oleh Mahzab Maliki dan Syafi'i.


"Pendapat yang ketiga (sholat tahajud) adalah sholat setelah sholat Isya," kata Abu Bakar Ibnu Al A'rabi dalam Al Mausu'ah Al Fiqhiyah yang diterjemahkan Ibnu Watiniyah dan Puspa Swara.


Itu semua tergantung kita meyakini mahzab yang mana ya, setiap pendapat seseorang itu berbeda beda, tergantung kepercayaan dan keyakinan masing masing

__ADS_1


...****************...


Jangan lupa dukungannya


__ADS_2