
"Ya Allah, kepalaku sakit sekali. Mungkin gara gara diriku yang telat makan,"
Risda pun menjatuhkan tubuhnya diatas lantai, sebelumnya dirinya menuju kekamar mandi untuk mencuci kain yang dirinya gunakan untuk membersihkan muntahannya sendiri itu. Ketika dirinya kembali sampai didalam kamarnya, tiba tiba dirinya terjatuh dilantai karena pusing yang dirinya rasakan.
Risda merasa bahwa seluruh dunianya tengah berputar putar didalam kepalanya, bahkan untuk berdiri dengan tegak lagi dirinya tidak mampu untuk melakukan itu. Risda harus merayap untuk bisa naik diatas kasurnya, dan istirahat dengan nyaman disana.
Ini adalah kali pertamanya dirinya melakukan semuanya sendiri, termasuk untuk merawat dirinya sendiri dari sakit yang dia rasakan. Beberapa kali dirinya mencoba untuk bangkit, akan tetapi dirinya terus gagal karena rasa pusing yang dirinya rasakan saat ini.
Dengan terpaksa dirinya hanya menutup pintu kamarnya itu, dan menyandarkan tubuhnya ditembok yang dimana dirinya duduk saat ini. Risda meluruskan kakinya dan mencoba untuk memejamkan matanya saat ini, karena posisinya yang masih bersandar ditembok membuatnya tidak nyaman jika terus terusan seperti itu.
"Kenapa nggak mati aja? Capek seperti ini terus terusan. Bunda, ini sangat menyakitkan,"
Tubuh Risda pun mengigil saat ini, udara sekitar rasanya sangat dingin akan tetapi tubuhnya terasa sangat panas. Karena panas tubuhnya itu, membuat kedua mata Risda ingin sekali terpejam akan tetapi tidak bisa tidur dengan nyenyak.
Didalam kamar sendirian, tubuhnya panas sekaligus kepalanya pusing dan seperti tengah ditusuk tusuk. Hal itu membuat Risda merasa tidak nyaman, rasanya ingin seperti mengakhiri hidupnya saja saat ini.
Risda berpikir bahwa dirinya akan mati beberapa saat lagi, karena suhu tubuhnya yang terus meningkat seiring bertambahnya waktu. Dinginnya lantai sekaligus tembok tersebut, membuat Risda mengigil kedinginan akan tetapi tubuhnya masih terasa panas.
"Sebentar lagi aku akan mati."
Sebuah senyuman terbit diwajah Risda, dirinya sangat yakin bahwa dia akan mati karena kondisi tubuhnya yang bertambah buruk. Karena panas tubuhnya, hingga membuat bibirnya menjadi pecah pecah, dirinya dengan kasarnya langsung menyobek bibirnya yang pecah itu hingga mengeluarkan darah.
Sangat tidak nyaman jika bibirnya pecah pecah, sehingga Risda mengelupas bibirnya yang pecah itu sampai berdarah darah. Risda tidak mempedulikan darahnya yang mengalir, karena kedua matanya masih terpajam dengan erat saat ini.
"Kapan lagi aku akan merasakan sakit seperti ini? Sebentar lagi diakhirat aku tidak akan merasakannya lagi. Bunda, bolehkah Risda pergi? Ini sangat menyakitkan, tidak ada harapan agar diriku terus bertahan. Maaf..."
Risda menatap sekeliling kamarnya dengan tatapan yang redup, dirinya hanya mampu menatap sebuah kehampaan dengan tubuh yang terus diselimuti oleh rasa sakit. Darah yang ada diujung bibirnya membuatnya terlihat sangat menyeramkan, bahkan kondisi tubuhnya yang lemas tak berdaya menambah kesan menyayat dihati.
Rasanya seperti sudah tidak ada harapan untuk terus hidup saat ini, bahkan tubuhnya tidak mampu untuk diajak berjuang kembali. Lemah, itu lah yang dirasakan olehnya saat ini, bahkan halusinasi pun menyerangnya tentang sebuah kematian.
Risda pun tertawa pelan, mengingat sakit yang dirinya rasakan sekaligus mengingat akan kematian yang hendak mendatanginya. Siapa sangka dirinya pun tertidur, karena dinginnya lantai sekaligus ruangan itu membuat suhu tubuh Risda turun perlahan lahan.
*****
Risda bangun dari tidurnya, dirinya pun mendapati kedua matanya sulit untuk dibuka karena tetesan air matanya yang telah mengering. Dirinya pun bangkit dari tidurnya itu, rasanya tubuhnya sedikit merasa ringan daripada sebelumnya.
Risda dapat bangkit dan berjalan menuju ke kasurnya, setelah itu dirinya langsung membandingkan tubuhnya di atas kasur tersebut. Entah dirinya sendiri tidak tau sekarang jam berapa, dan dirinya juga tidak mengetahui berapa lama dirinya tertidur di atas lantai.
Luka yang ada di ujung bibirnya itu sudah kering, dan mendapati darah yang dihasilkan dari luka dibibirnya tersebut sudah kering dan berubah warna. Wajahnya masih terlihat pucat, bahkan bibirnya terlihat putih karena sakit.
"Lapar. Bude masak apa ya kali ini," Guman Risda.
Risda pun mencoba untuk bangkit kembali dari tidurnya, dirinya pun mencoba untuk melangkahkan kakinya menuju kedapur yang ada dirumah itu. Dirinya pun berjalan sambil berpegangan tembok yang akan membawanya menuju kedapur, dengan perlahan lahan dirinya terus berjalan.
Hingga tibalah dirinya didekat meja makan yang ada disana, karena jarak dapur dengan kamarnya memang tidak terlalu jauh. Kamar yang ditempati oleh Risda memang berada dibelakang, dan dekat dengan dapur sebalinya kamar mandi yang ada disana.
Rumah itu cukup besar, bahkan masing masing kamar terdapat kamar mandinya kecuali kamar yang ditempati oleh Risda. Sehingga Risda harus berjalan keluar kamar untuk bisa pergi kekamar mandi, kamar yang ditempati Risda sangat kecil sehingga tidak ada kamar mandi dalamnya.
Risda pun membuka tudung saji itu, dan tidak menemukan adanya makanan sama sekali. Risda hanya menghela nafasnya, karena Lasmi sama sekali tidak masak apapun saat ini. Melihat dimeja itu kosong, membuat Risda harus bergegas kembali kekamarnya karena dirinya tidak mampu untuk lama lama berdiri dalam kondisi seperti ini.
Risda lalu kembali membaringkan tubuhnya, dirinya pun mencoba untuk memejamkan matanya. Dirinya harus menahan rasa laparnya jika seperti ini, bahkan bayangannya akan kematian rasanya terlihat jelas didalam pikirannya.
Kali ini Ayahnya juga tidak datang ditempat TPQ nya, karena masih ada kesibukan dengan pekerjaannya saat ini. Risda berharap bahwa Ayahnya akan mendatanginya disana, tapi harapannya itu sama sekali tidak terkabul dan saat ini sudah menunjukkan pukul 10 malam.
Disaat Risda memejamkan matanya, dirinya merasakan angin semilir yang menusuk kekulitnya hingga tembus ketulang tulangnya. Dirinya pun bermimpi sesuatu yang teramat sangat menyeramkan, dirinya merasa rohnya dihisap oleh sesuatu.
Dirinya tidak mampu untuk bergerak, bahkna bersuara hanya sekedar suara lirih. Untuk bernafas saja dirinya sangat sulit, karena rasanya seperti ada yang tengah menahan udara yang ingin keluar dan masuk melalui lubang hidungnya itu.
Tubuhnya sendiri tengah dipegangi sesuatu yang sangat kuat hingga membuatnya tidak bisa bergerak sedikitpun, didalam mimpinya dirinya melihat sebuah mahluk yang menyeramkan, tubuhnya besar dan juga berbulu warna hitam legam. Mahluk tersebut seakan akan menatap kearahnya dengan tatapan yang mengintai, dan juga bola mata yang berwarna merah menyala.
__ADS_1
Risda berusaha untuk membuka matanya dengan lebar dan bergerak untuk menghindar dari mahluk yang menyeramkan itu. Akan tetapi, Risda sama sekali tidak mampu untuk melakukan hal tersebut karena tubuhnya tidak mampu untuk digerakkan sama sekali.
Risda mencoba untuk berteriak karena merasakan hisapan kuat ditubuhnya, jantungnya berdebar sangat kencangnya karena dirinya yang ketakutan. Untuk pertama kalinya dirinya melihat mahluk yang teramat menyeramkan itu, sehingga membuatnya sangat ketakutan saat ini.
Selama 10 menit dirinya berjuang untuk lolos dari hal itu, dan akhinya dirinya mampu untuk membuka kedua matanya dengan lebar setelahnya. Pernafasannya sudah kembali normal akan tetapi tidak dengan detak jantungnya yang justru semakin kencang.
"Apa itu tadi? Kenapa mimpinya sangat buruk? Ya Allah, hamba takut,"
Risda pun melihat kearah sela sela cendela yang ada didalam kamarnya itu, dirinya pun melihat halaman rumah tersebut yang sangat gelap. Karena sangking ketakutannya dirinya itu, Risda lalu menutup cendela tersebut menggunakan gorden dan selimutnya.
Cendela tersebut terbuat dari kaca, sehingga cendela itu mampu untuk tembus keluar dari kamar itu. Risda tidak berani untuk tidur lagi karena takut mimpinya itu akan terulang kembali, dirinya pun tetap membuka kedua matanya agar dirinya bisa terjaga sepanjang malam.
*****
Tubuh Risda masih terasa sangat panas sekaligus nyeri disekujur tubuhnya itu, dirinya pun kembali tidak sekolah untuk saat ini karena dirinya yang belum sepenuhnya sehat itu. Tanpa dia sadari bahwa sudah 3 hari dirinya tidak masuk sekolah, bahkan selama itu dirinya tidak bisa berbuat apa apa karena hanya mampu untuk berdiam diri diatas kasurnya.
Risda tidak bisa bangkit dari tidurnya walaupun hanya sebentar, bahkan Erin pun sampai harus menyuapinya dengan dirinya yang terbaring lemah. Untuk membuka kedua matanya saja dirinya sangat sulit untuk melakukan itu, kedua matanya rasanya ingin sekali terpejam tanpa mau untuk dibuka.
Tidak ada niatan untuk membawa Risda kerumah sakit, bahkan Ibunya saja sama sekali tidak diberi tahu mengenai keberadaan Risda. Risda sendiri yang tidak kuat untuk memegangi ponselnya itu pun tidak mampu untuk memberitahu Ibunya, kondisinya benar benar sangat memperihatinkan untuk saat ini.
Risda merasa bahwa dirinya sangat mengantuk, sehingga dirinya sangat sulit untuk membuka kembali kedua matanya itu. Suhu tubuhnya masih tetap panas, bahkan rasanya dirinya hanya mampu merasakan panas tubuhnya saja.
"Ya Allah, dosa apa yang telah aku perbuat? Sampai sampai dalam kondisi seperti ini pun Engkau tidak segera mengambil nyawaku. Ini sangat menyakitkan,"
Tiga hari ini dirinya tidak kemasukan nasi, karena jika nasinya masuk maka dirinya akan muntah muntah. Karena seringnya dirinya muntah hingga tenggorokannya terluka, dan bahkan dirinya mengeluarkan darah dari mulutnya ketika dirinya muntah muntah.
"Bu, apa sebaiknya kita bawa dia saja kerumah sakit saja, Bu?" Tanya Erin.
"Tidak perlu. Dia hanya manja, sakit gitu aja udah lebay banget," Ucap Lasmi.
"Tapi Bu, kalau dia sampai mati gimana? Suhu tubuhnya saja tidak kunjung turun turun,"
Risda yang mendengar percakapan kedua orang itu pun menitihkan air matanya, bukan kematian yang dirinya takutkan, melainkan dirinya yang tidak ingin menjadi beban bagi siapapun. Perkataan itu sangat menyakitkan baginya, bahkan dirinya sampai menitihkan air matanya tanpa kemauannya sendiri.
"Sudah mau mati saja, masih ada aja acara merepotkan orang lain. Risda bukan beban ya Allah, jika hari ini Risda ingin diambil maka Risda iklas," Ucap Risda lirih bahkan sama sekali tidak terdengar oleh keduanya.
Semakin hari dirinya semakin tersiksa disana, meskipun dirinya sakit seperti itu akan tetapi Lasmi terus saja mengomelinya. Wajah Risda yang lucat sama sekali tidak membuat wanita itu merasa iba kepadanya, dan justru akan semakin bersikap semena mena dengannya.
Risda kembali memejamkan kedua matanya dengan erat, dirinya berharap bahwa ada sesuatu yang ada dirumah itu yang perhatian kepadanya. Tapi harapan hanyalah sia sia, karena tak seorangpun yang peduli dengannya saat ini.
Tok.. Tok.. Tok..
Tiba tiba terdengar suara seseorang yang mengetuk pintu rumah besar itu, hal itu langsung membuat Lasmi segera bergegas menuju kearah pintunya untuk membukakan pintu tersebut. Nampak seorang lelaki yang pakaiannya sangat rapi, sekaligus sebuah tas ransel yang ada dipundaknya.
"Cari siapa ya, Mas?" Tanya Lasmi kepada lelaki itu.
"Risda mana? Kenapa nggak berangkat mengaji 2 hari ini?" Tanya lelaki tersebut.
Karena dua hari ini dirinya datang ke TPQ tempat diamnya Risda belajar mengaji itu, dirinya sama sekali tidak menemukan keberadaan dari Risda. Akhirnya dirinya pun menemukan alamat tempat dimana Risda tinggal,
Lelaki itu tidak lain adalah Sandi, Ayah kandung dari Risda. Risda tidak mengetahui tentang kedatangan dari Ayahnya itu. Risda masih asik terlelap dalam tidurnya, karena percuma saja dirinya membuka matanya karena dirinya hanya akan mendapati bahwa seluruh dunia sedang bergetar.
"Risda, Ayahmu datang," Ucap Lasmi kepada Risda.
Risda yang keadaannya masih lemas itu pun dengan perlahan lahan mulai berusaha untuk membuka kedua matanya kembali, dirinya pun melihat sosok Ayahnya yang tengah berdiri sambil bersandar di pintunya itu.
"Risds sakit apa?" Tanya Sandi sambil bergegas untuk mendatangi Risda yang terbaring tidak berdaya itu.
"Risda nggak papa kok," Jawab Risda lirih dan berusaha dengan kuat untuk bisa bersuara.
__ADS_1
Belakangan ini dirinya jarang bersuara karena dirinya sakit dan lemas, sehingga suaranya tersebut sedikit hilang. Risda berusaha untuk bangkit dari tidurnya karena tidak mau membuat Ayahnya mengkhawatirkan dirinya itu, akan tetapi usahanya gagal karena dirinya tidak memiliki energi sana sekali.
"Risda, jangan dipaksakan. Nanti akan semakin sakit loh," Ucap Lasmi dengan nada sedikit lembut.
"Yah, Risda mau kekamar mandi," Ucap Risda lirih tanpa memedulikan ucapan dari Lasmi.
"Biar Ayah antar," Ucap Sandi.
Sandi lalu membantu Risda untuk duduk, karena Risda yang tidak kuat untuk duduk sendiri pun langsung mendapatkan pertolongan dari Ayahnya. Kening Risda mengkerut karena merasakan pusing yang teramat sangat, ternyata meskipun sakit jika kebanyakan tidur maka kepalanya terasa sangat berat sekaligus nyeri.
Risda berjalan dengan perlahan lahan sambil berpegangan erat dengan tangan Sandi, karena dirinya yang takut untuk terjatuh dilantai. Sandi pun mengantarnya masuk kedalam kamar mandi, Risda pun mengerutkan keningnya.
"Ayah ngapain ikut masuk?" Tanya Risda bingung.
"Takut kamu terpeleset," Jawab Sandi.
"Risda sudah besar, Yah. Bukan anak anak lagi,"
"Ya sudah, Ayah tunggu diluar ya? Kalau ada apa apa panggil saja,"
"Iya."
Sandi pun keluar dari dalam kamar mandi itu, dan Risda lalu menutup pintu kamar mandinya itu. Didalam sana dirinya pun muntah muntah kembali karena lamanya berdiri ketika dirinya berjalan menuju kekamar mandi, hingga tenggorokannya rasanya sangat panas karena asam lambungnya yang ikut serta naik.
"Risda, kamu muntah muntah?" Tanya Sandi dari luar ketika mendengar suara Risda yang termuntahkan itu.
"Risda nggak papa, Yah. Ayah tunggu saja diluar,"
Risda pun melihat gumpalan darah yang ikut serta keluar ketika dirinya termuntahkan, gumpalan itu terlihat sangat hitam karena darahnya yang sudah kering tapi belum dikeluarkan dari dalam tubuhnya.
Setelah muntah, dirinya pun lalu membasuh wajahnya dengan air dingin. Seusai itu, dirinya pun lalu keluar dari dalam kamar mandi, dan mendapati bahwa Sandi masih berdiri disana untuk menunggu Risda keluar dari dalam kamar mandi.
"Risda nggak papa, kan?" Tanya Sandi sambil memegangi pundak Risda.
"Nggak papa kok, Yah. Sudah mendingan kok," Jawab Risda dengan lemasnya.
"Kita pulang ya? Biar dirawat Nenek dan Kakakmu dirumah, kalau disini nanti Ayah jadi kepikiran terus,"
"Risda nggak papa kok,"
"Nggak nggak, ayo pulang,"
Karena tubuh Risda yang lemas sekaligus tidak mampu berjalan dengan benar itu, langsung membuat Sandi menggendongnya menuju kesepedah miliknya itu. Risda didudukkan disana, karena takut Risda terjatuh dijalanan, Sandi pun mengikat tubuh Risda dengan tubuhnya itu menggunakan sebuah selimut.
Risda pun menyandarkan kepalanya dipundak Ayahnya, ikatan tersebut membuatnya tidak takut jika tiba tiba dirinya tidak sadarkan diri ketika diperjalanan. Memang caranya terlihat sangat aneh, akan tetapi sangat bermanfaat jika digunakan untuk membawa Risda pulang kerumahnya.
"Yah, apakah mati itu sakit?" Tanya Risda ketika diperjalanan.
Ekspresi wajah gadis itu tidak bisa berbohong bahwa dirinya sedang baik baik saja, dia seakan akan menahan rasa sakit yang teramat sangat. Oleh karena itu, dirinya bertanya mengenai rasa sakit ketika kematian kepada Ayahnya itu.
"Kenapa tanya begituan? Apa perlu kita kerumah sakit dulu?"
"Nggak usah, Yah. Risda hanya bertanya saja kok,"
"Kita kerumah sakit dulu, ya?"
"Nggak usah. Risda ingin cepat cepat sampai rumah dan istirahat,"
"Baiklah."
__ADS_1