Pelatihku

Pelatihku
Episode 161


__ADS_3

"Lagi lagi nih motor mogok mulu, kagak pernah gitu melayani pemiliknya dengan bener," Gerutu Risda yang tengah berada ditepi jalan sendirian karena motornya yang tiba tiba mati.


Cuaca saat itu sedang terik, hingga panas sinar matahari pun menyelimuti kulit Risda. Kini Risda seorang diri berada ditepi jalan dengan keadaan motornya yang tiba tiba mati ketika di naiki, entah mengapa motornya mendadak mogok seperti ini.


Dirinya tidak kuat jika harus standar tengah, apalagi jalanan itu sangat jauh dari rumah warga lebih tepatnya ditengah tengah ladang. Risda bingung harus seperti apa, jika mendorongnya pun butuh tenaga penuh karena jauhnya dari pemungkiman warga sekitar.


Tubuhnya merasa tidak enak saat ini, kepalanya pusing, nafasnya panas, tenggorokannya kering, bahkan dirinya terasa meriang sekaligus gemetaran. Apalagi ditengah tengah panas seperti ini, dirinya ingin sekali jatuh pingsan akan tetapi dirinya terus berusaha mempertahankan kesadarannya.


Tut.. tut.. tut..


Risda menghubungi keluarganya yang ada dirumah, akan tetapi tak seorang pun yang mengangkat telponnya itu. Ia mencoba untuk menghubungi tetangganya agar memberitahu hal itu kepada keluarganya, akan tetapi tetangganya yang dihubungi itu tidak ada dirumah saat ini.


Berkali kali dirinya menghubungi kakaknya, sama sekali tidak ada sahutan darinya. Karena tidak ada yang mampu dihubungi, Risda pun sedikit mendorong motornya untuk berteduh dibawah pohon yang ada ditepi jalan.


"Kenapa sih nih motor nggak mau nyala? Kalo gini ceritanya bagaimana gue bisa buru buru istirahat dirumah?"


Risda pun turun dari sepedanya, dirinya pun langsung duduk dibawah pohon sambil menyandarkan tubuhnya disana. Rasanya seakan akan dunia sebentar lagi akan berhenti baginya, dan seakan akan dirinya tidak memiliki semangat saat ini untuk tetap hidup.


"Tidak ada yang bisa diandalkan selain diri sendiri, apa gue akan mati saat ini?" Risda pun memejamkan matanya sambil nampaklah sebuah senyuman tipis setelah dirinya mengatakan itu.


Jalanan itu pun terlihat sangat sepi, seakan akan tidak ada yang melalui jalan itu sehingga tidak ada yang mengetahui posisi Risda saat ini. Sakit, itulah yang dirasakan olehnya, bahkan hanya dirinya yang talu bagaimana rasa sakit itu.


"Nggak! Gue nggak boleh nyerah. Gue masih punya Renzo."


Bayangan Afrenzo sekilas melintas didalam pikirannya, hal itu membuat Risda membuang jauh jauh pikirannya tentang kematian. Risda mencoba untuk membuka matanya dan mengangkat ponselnya, dirinya pun mencari nama Pelatihku disana, dan lalu menekan nomornya untuk melakukan panggilan.


"Halo Renzo,"


"Da, ada apa?"


"Lo sibuk nggak? Lo bisa bantuin gue nggak?"


"Lo kenapa, Da. Kok suara lo berat banget?" Tanya Afrenzo diseberang sana.


"Motor gue mogok dijalan, lo bisa bantu gue nggak? Gue nggak bisa pulang."


"Posisi lo dimana?"


"Jalan anggrek, ditepi jalan."


Tut.. tut.. tut..


Afrenzo pun memutuskan telponnya dengan sepihak, mendengar suara telpon yang terputus membuat Risda menghela nafas berat. Bahkan tanpa sepatah kata pun diucapkan oleh Afrenzo, akan tetapi telponnya langsung diputuskan begitu saja tanpa keterangan.


Risda pun memutuskan untuk memasukkan ponselnya kedalam saku bajunya, ia tidak tau lagi harus menghubungi siapa bahkan kepalanya semakin terasa berat. Risda kembali memejamkan matanya, ia berharap ada seseorang yang bisa membantunya saat ini.


*****


"Siapa yang telpon?" Tanya Farzan kepada Afrenzo.


"Temenku yang telpon tadi, Pa. Dia butuh bantuan," Jawab Afrenzo.


Setelah mendapatkan jawaban dari Risda, ponsel tersebut langsung direbut oleh Farzan dan langsung diputus begitu saja. Farzan pun mengenggam erat ponsel tersebut didepan Afrenzo, dan membuat Afrenzo semakin khawatir karena sebelumnya dirinya mendengar suara Risda yang seperti tengah menahan sakit.


"Berani beraninya mengangkat telpon ketika Papa sedang bicara sama kamu!" Farzan pun bernada tinggi kepada Afrenzo.


"Pa, Renzo mohon sekali saja. Pikirkan perasaan anak Papa, Renzo nggak mau menentang Papa, tapi temenku sedang membutuhkan bantuan. Gimana kalau dia dalam bahaya?"


"Itu bukan urusan kamu, Renzo! Dalam bahaya ataupun sakaratul maut sekalipun, itu bukan urusan kamu. Kamu lebih mentingin keluarga kamu atau temen kamu?"


"Dua duanya sangat penting bagiku, Pa. Kalau dia kenapa napa, Renzo yang paling merasa bersalah."


"Papa nggak peduli, masuk kamar sekarang!"


Afrenzo hanya mengepalkan tangannya dengan kuat, dengan terpaksa dirinya masuk kedalam kamarnya tanpa bisa menghubungi Risda balik karena ponselnya masih dipegang oleh Farzan. Ia tidak tau apa yang terjadi dengan Risda, dengan suaranya saja ia yakin bahwa Risda sedang tidak baik baik saja.


Sementara disatu sisi, Risda memejamkan kedua matanya sambil menunggu kedatangan dari Afrenzo yang entah kapan datangnya. Dirinya bersandar sambil memejamkan kedua matanya, karena rasa pusing yang tengah dirinya alami saat ini.

__ADS_1


"Sudah hampir 1 jam, Renzo belum datang. Kemana dia? Kenapa dia belum datang?" Risda pun melihat jam dilayar ponselnya.


*****


Afrenzo melajukan motornya dengan cepat, dirinya pun bergegas menuju ketempat yang dikatakan oleh Risda. Ketika sampai disana, dia pun melihat motor Risda yang terparkir ditepi jalan, akan tetapi tidak ada Risda disana.


Dirinya pun semakin panik karena hanya ada motornya saja, ia lalu menoleh kesana kemari untuk mencari Risda, dan menemukan Risda bersandar dibatang pohon dengan memejamkan mata.


Deg...


Pikiran Afrenzo pun langsung kacau begitu saja, apa yang dirinya takutkan benar benar terjadi saat ini, Afrenzo mengira bahwa Risda mengalami kecelakaan dijalanan. Dirinya pun langsung bergegas mendatangi Risda dengan paniknya, dan langsung menggoyangkan pelan tubuh Risda.


"Da, lo kenapa? Maafin gue yang datang telat, Gue akan bawa lo kerumah sakit. lo bertahan ya."


Afrenzo pun hendak mengangkat tubuh Risda saat itu juga, akan tetapi tiba tiba Risda membuka matanya karena merasa terganggu dengan apa yang dilakukan oleh Afrenzo. Hal itu langsung membuat Afrenzo mengurungkan niatnya, dan langsung melepaskan tangannya yang terlihat tengah memeluk Risda.


"Kenapa lo datangnya telat? Keburu gue mati kepanasan tau," Tanya Risda dengan tersenyum tipis ketika melihat Risda Afrenzo.


"Maafin gue. Apa yang terjadi sama lo? Tubuh lo semakin panas daripada sebelumnya."


"Motor gue mogok, tadinya gue mau pulang tapi kagak bisa. Yaudah gue neduh disini, sambil nungguin lo dateng,"


"Lo habis dari mana? Bukannya gue tadi nyuruh lo istirahat? Kenapa masih kelayapan dijalan seperti ini?"


"Ada hal yang perlu gue lakuin. Tolong bantu gue untuk nyalain motor gue ya? Gue mau pulang, istirahat."


"Biar Fandi yang ngurus motor lo, gue anterin lo pulang sekarang."


"Nggak nggak, gue bisa kok bawa motor sendiri. Gue hanya nggak bisa nyalain saja, tolong bantu gue nyalain ya?"


"Nggak! Gue anterin lo pulang."


"Renzo. Kalo lo anterin gue pulang, yang ada bikin orang orang pada khawatir. Gue nggak mau bikin Nyokap gue kepikiran, tolong ngertiin posisi gue saat ini. Gue hanya pusing saja kok, gue bisa pulang sendiri."


Afrenzo pun hanya menundukkan kepalanya mendengar ucapan Risda, dirinya pun terpaksa untuk menganggukinya pelan. Afrenzo pun membantu Risda untuk berdiri, keduanya pun berjalan menuju kearah motor mereka yang tengah terparkir.


"Bukan motor gue, ini punya tetangga gue."


"Motor lo kemana?"


"Ada dirumah,"


"Terus kenapa pake motor ini? Nggak biasanya lo pinjem tetangga."


"Bokap gue marah, gue nggak dibolehin keluar."


"Terus?"


"Sama kayak lo, keluar lewat jendela," Afrenzo pun menatap kearah Risda dengan tatapan yang sangat sulit untuk diartikan.


Mendengar itu membuat Risda pun tertawa lirih, bisa bisanya lelaki yang ada dihadapannya itu keluar lewat jendela yang lumayan tinggi. Apalagi sampai menyama nyamakan dirinya dengan Risda, entah mengapa sikap itu langsung nular kepada Afrenzo.


"Ada yang lucu?" Tanya Afrenzo melihat Risda tertawa lirih.


"Renzo, jangan bilang setelah berteman dengan gue, lo jadi suka kabur kaburan seperti itu." Risda pun terkekeh pelan.


"Lo gurunya."


"Seriusan?"


Afrenzo pun mengusap puncak kepala Risda pelan, disertai dengan senyuman tipis diwajahnya. Risda selalu menikmati setiap usapan dari Afrenzo, terasa begitu sangat nyaman dan mampu menenangkan hatinya.


"Maafin gue yang lagi lagi ngerepotin lo seperti ini, pasti Bokap lo marah gara gara gue kan?" Tanya Risda sambil menatap kearah wajah Afrenzo.


"Jangan pikirin soal gue, sekarang pikirin diri lo sendiri. Lo harus segera istirahat,"


"Kalo Bokap lo sampai tau, lo bisa dihajar lagi, Renzo. Kenapa lo nggak ngomong sebelumnya kalo Bokap lo lagi marah? Jadi gue nggak bakal ngerepotin lo seperti ini."

__ADS_1


"Itu urusan nanti."


"Renzo, gue ngerasa nggak enak sama lo, gue selalu ngerepotin lo, gue hanya bikin masalah buat lo, gue..." Risda tidak mampu untuk melanjutkan kata katanya, karena disaat dirinya mengatakan itu, air matanya ingin sekali menetes saat itu juga.


"Gue lebih suka direpotin, jadi gue bisa ngerasa lebih berguna. Kalo ada masalah, hubungi gue secepatnya. Kalo bukan lo yang nganggep gue berguna, lalu siapa lagi?"


"Lo satu satunya temen yang baik buat gue, gue jadi terharu karena lo."


Afrenzo pun mengusap air mata Risda yang baru saja menetes akibat ucapannya itu, dirinya langsung menghapus jejak air mata yang menetes tersebut. Risda sendiri pun langsung mengusap kedua matanya dengan kasar, dirinya merasa malu karena hanya karena ucapan Afrenzo, air matanya bisa mengalir begitu saja.


"Kalo sama gue, jangan nangis. Air mata lo nggak seharusnya tumpah."


"Kalo nggak sama lo, bukan hanya air mata yang keluar, tapi bisa bisa darah pun ikut keluar bersama dengan air mata. Hanya lo yang gue punya, jangan pernah tinggalin gue."


"Gue nggak akan ninggalin lo, gue akan selalu ada untuk lo,"


"Janji?" Risda pun mengangkat jari kelingkingnya kearah Risda.


"Janji." Afrenzo dan Risda pun saling menautkan jari kelingking mereka sebagai tanda bukti tentang janji itu.


Keduanya saling bertatapan, terlihat sebuah senyuman cerah diwajah keduanya. Afrenzo pun langsung mencoba untuk menyalakan motor milik Risda itu, cukup lama dirinya melakukan itu akhirnya motor tersebut bisa nyala juga.


"Lo yakin bisa bawa sendiri?" Tanya Afrenzo merasa khawatir dengan Risda.


"Gue bisa kok."


Risda pun langsung mengambil alih motornya itu, sementara Afrenzo membiarkan Risda melakukan hal tersebut karena memang gadis itu tidak bisa dilarang, jika dilarang dia akan semakin memberontak nantinya. Afrenzo sendiri langsung menaiki motor yang ia pake sebelumnya, dan lalu menaikinya dan menyalakannya.


"Gue ikuti dari belakang, jangan ngebut ngebut."


"Baik Pelatih yang terhomat. Muridmu ini akan patuh dengan ucapanmu, janji nggak bakal ngebut."


Risda pun meringis kearah Afrenzo, dirinya pun langsung memutar gasnya dan melajukan motornya untuk meninggalkan tempat itu. Afrenzo mengikutinya dari belakang karena khawatir dengan gadis itu yang sakit tapi masih mampu membawa motornya sendiri, benar benar tidak mampu untuk dipaksa.


Dengan pelan Risda menaiki motornya, sesekali dirinya melihat kearah sepionnya untuk menatap Afrenzo yang ada dibelakangnya saat ini. Cukup lama diperjalanan, akhirnya Risda menghentikan motornya didepan gang yang menuju rumahnya, seperti biasa dirinya tidak akan membawa siapapun menuju rumahnya karena takut dengan ucapan Kakaknya ataupun tetangganya.


"Sampe sini aja ya, Renzo. Gue bisa kok, sekali lagi terima kasih atas pertolongan lo. Andai tidak ada lo, gue tidak tau lagi nasib gue akan jadi seperti apa nantinya. Mungkin sampe sekarang gue masih tiduran ditepi jalan," Risda pun terkekeh pelan mengingat kejadian sebelumnya yang dirinya alami itu.


"Lo yakin bisa?" Tanya Afrenzo yang tidak tega.


"Ya elah, Renzo. Gue juga bukan anak kecil kali, jadi gue masih mampu kok,"


"Ya sudah. Lo masuk rumah lo dulu, biar gue lihatin dari sini,"


"Nggak perlu,"


"Gue nggak suka dibantah."


Risda pun terdiam menatap wajah Afrenzo yang sedikit kesal itu, mungkinkah ucapannya telah melukai hati lelaki itu? Entah mengapa wajah lelaki tersebut terlihat sangat kesal. Risda hanya bisa menghela nafas sambil membuang muka dari hadapan Afrenzo, dirinya pun menatap kosong kedepan.


"Gue nggak bakalan mati secepat ini, Renzo. Jadi, lo nggak perlu secemas ini sama gue, gue sudah terbiasa hid.." Ucap Risda dengan nada yang berat.


Afrenzo pun langsung mendekatkan jari telunjuknya dibibir Risda, agar Risda berhenti untuk berbicara. Risda pun menghentikan ucapannya itu, setitik air mata pun timbul di pelupuk matanya, akan tetapi Risda memaksakan dirinya untuk tersenyum.


"Lo harus tetap hidup dan buat mereka bangga milikin lo, pokoknya lo harus sembuh. Gue nggak mau lihat lo sakit," Ucap Afrenzo.


"Nyatanya gue nggak pernah sembuh, Renzo. Tiap hari, tiap jam, tiap detik mereka selalu bikin gue sakit. Setiap hari mereka selalu menorehkan luka di hati gue,"


"Demi gue, lo harus bertahan."


Risda pun tertawa dengan kerasnya, ia seakan akan menganggap ucapan Afrenzo sebagai candaan. Akan tetapi ditengah tengah itu air matanya pun menetes, sungguh sebuah rasa tidak mampu untuk diutarakan dengan kata kata.


"Ternyata orang seperti lo, juga bisa bikin gue terharu, ya? Gue akan bertahan kok, demi lo dan Nyokap gue, gue pasti akan bertahan. Gue hanya punya lo dan Nyokap gue saja sebagai penyemangat gue saat ini, gue nggak mau ngecewain kalian berdua."


Afrenzo pun menganggukkan kepalanya, Risda sendiri langsung menghapus air matanya dengan kedua tangannya. Risda langsung memutar gasnya untuk menuju kerumahnya, sesampainya disana Risda pun menangis sesenggukan.


Tubuhnya membelakangi Afrenzo, sehingga Afrenzo tidak tau bahwa dirinya sedang menangis saat ini. Risda kembali menghapusnya dengan kasar, setelahnya dirinya langsung menoleh kepada Afrenzo dan melambaikan tangan dengan seolah olah dirinya tengah bahagia.

__ADS_1


Afrenzo pun membalasnya dengan mengangkat tangannya, melihat itu langsung membuat Risda bergegas masuk kedalam rumahnya. Sementara Afrenzo, dirinya pun langsung bergegas untuk pergi dari tempat itu, dengan kecepatan penuh dirinya melaju karena takut Farzan mencarinya dirumah.


__ADS_2