Pelatihku

Pelatihku
Episode 144


__ADS_3

Tanpa terasa bahwa saat ini sudah hampir sore, biasanya jam segini Risda akan berangkat mengaji. Akan tetapi, kali ini dirinya tidak bisa berangkat ketempat menjadi, karena dirinya tengah terkurung didalam kamar tersebut.


"Kalau Ayah tidak datang saat ini, mungkin besok diriku tidak bisa melihat matahari terbit lagi," Batin Risda.


Tubuhnya sangat lemah, sehingga dirinya hanya bisa membatin saja tanpa bisa mengeluarkan suaranya. Meskipun kedua matanya masih terpejam dengan rapatnya, akan tetapi dirinya masih sadarkan diri dan belum sepenuhnya tidak sadarkan diri.


Selama 3 hari 2 malam, Risda terkurung didalam kamar itu tanpa bisa berbuat apa apa, ataupun melakukan apa apa. Risda hanya bisa meratapi nasibnya yang lemah itu, kenapa dirinya harus memiliki tubuh dengan kondisi seperti itu, begitu sangat memperihatinkan.


Tok tok tok


"Da!"


Tiba tiba Risda mendengar seseorang yang tengah mengetuk pintu utama rumah itu, meskipun suaranya sangat pelan akan tetapi Risda mampu untuk mendengarnya. Risda berusaha membuka kedua matanya, dirinya tidak tau harus bagaimana untuk memberitahu Ayahnya bahwa dirinya ada didalam dan dikunci.


Risda juga mendengar bahwa Lasmi telah membukakan pintu rumah itu, Risda juga mendengar langkah kakinya karena biasanya Lasmi kalau berjalan dirumahnya menggunakan sandal yang berbulu.


"Risda dimana?" Tanya Sandi langsung ketika pintu rumah itu dibuka oleh Lasmi.


"Dia tidak ada dirumah, tadi dia berangkat mengaji," Jawab Lasmi yang masih didengar oleh Risda.


"Aku sudah ketempat mengajinya, tapi kata gurunya dia tidak datang hari ini," Ucap Sandi dengan tegasnya.


"Aku nggak tau, dia tadi izin untuk mengaji. Coba cari aja ditempat lain,"


"Dimana Risda!"


"Mungkin dia kerumah temannya,"


Didalam kamarnya, Risda merasa sakit ketika mendengar Lasmi mengatakan bahwa dirinya tidak ada didalam rumah itu. Setelah perdebatan cukup panjang itu, Sandi akhirnya hendak pergi dari tempat itu untuk mencari Risda.


Risda tidak ingin kehilangan kesempatan untuk keluar begitu saja, jantungnya berdebar sangat kerasnya seketika. Dirinya berusaha untuk mengangkat tangannya yang lemas itu, dengan sekuat tenaga yang dirinya bisa, dia lalu memukul dengan keras pintu tersebut.


"Yah!" Dengan sisa tenaga yang dirinya miliki, Risda lalu berusaha untuk berteriak dengan semampu dan sebisanya.


Risda pasrah ketika sudah tidak mendengar lagi ucapan dari keduanya, dirinya pun berpikir bahwa Ayahnya telah pergi dari sana. Risda berpikir bahwa kesempatannya untuk bisa keluar telah berakhir, dirinya tidak tau kapan dia bisa keluar dari dalam kamar itu.


"Mungkin sudah takdirnya diriku akan mati. Hamba pasrahkan segalanya kepadamu ya Allah, jika hamba harus mati saat ini, hambanya ini hanya punya satu permintaan semoga Bunda bahagia tanpa adanya diriku. Berikanlah sebuah kebahagiaan kepada Bunda, karena diriku sudah tidak mampu untuk membahagiakannya lagi. Bunda maafin Risda ya? Risda pamit," Batin Risda menjerit.


Risda sendiri pun tidak bisa berbuat apa-apa saat ini, dirinya bahkan sudah tidak berharap bahwa bisa hidup lebih lama lagi. Ia mulai memejamkan kedua matanya karena sudah tidak sanggup menahan rasa sakit di tubuhnya, meskipun dia berusaha untuk sekuat dan semampu yang dia bisa agar bisa keluar dari kamar itu akan tetapi usahanya itu hanyalah sia sia.


Tidak seorangpun yang bisa menyelamatkannya saat ini, bahkan harapan terakhirnya pun telah pergi meninggalkan tempat itu. Risda hanya bisa berharap kepada Allah semoga Beliau mengirimkan seseorang untuk menyelamatkannya, tiada tempat lagi untuk bisa berharap selain kepada Allah daripada kepada makhluk-Nya.


Risda tidak bisa berpikir dengan jelas saat ini, bahkan yang ada di dalam ingatannya hanyalah rasa bersalah kepada ibunya yang belum bisa menjadi anak yang baik baginya. Seandainya waktu bisa diputar kembali, dirinya tidak ingin terlahir ke dunia ini, dunia di mana semua orang tidak bisa menerima kehadirannya.


Untuk apa dirinya dilahirkan ke dunia ini sementara begitu banyak orang yang menolak kehadirannya, bahkan keluarganya sendiri pun tidak menganggap dirinya ada di dunia ini. Apa kesalahan yang pernah ia lakukan sehingga diperlakukan sebegitu kejinya, dirinya bahkan tidak pernah mengganggu kehidupan orang lain.


"Dimana Risda?"


Tiba tiba Risda kembali mendengar suara ayahnya itu, sebuah senyuman tipis mengembang diwajari sedang meskipun Risda tengah terpejam kedua matanya. Risda yakin bahwa ayahnya kembali lagi ke rumah itu, sehingga dirinya bisa mendengar kembali suara ayahnya.


"Aku nggak tau," Suara dari Lasmi pun juga yang terdengar oleh Risda.


"Yah!" Dengan sekuat tenaga Risda pun berteriak dan berharap bahwa ayahnya mendengar teriakannya itu.


Meskipun Risda sudah berteriak dengan sekuat dan semampu yang dia bisa, akan tetapi suaranya itu masih terdengar sangat pelan bahkan tidak terdengar dari di mana ayahnya berdiri. Risda sendiri pun tidak mau menyerah begitu saja, dirinya terus mencoba untuk berteriak memanggil ayahnya itu.


"Risda!" Teriak Ayahnya.


"Dia nggak ada di rumah sekarang, jangan teriak teriak di rumah orang!" Sentak Lasmi.


Brakk... Brakk... Brakk...


Seketika itu juga Sandi mendengar suara seperti pintu yang tengah, dirinya merasa sangat yakin bahwa suara tersebut berasal dari kamar Risda. Sementara Risda yang ada di dalam kamar itu sangat berusaha untuk mengetuk pintu, dirinya pun memakai alat alat yang ada di dekatnya untuk mengetuknya.

__ADS_1


"Risda!"


Sandi pun langsung berlari untuk menghampiri kamar di mana Risda tinggal, dirinya segera berlari menuju ke tempat itu tanpa mempedulikan suara Lasmi yang mencegahnya. Hingga akhirnya dirinya pun berhenti tepat di balik pintu yang ada di kamar Risda, Sandi pun mendapati bahwa pintu tersebut terkunci dengan rapat.


"Risda!" Teriak Sandi sambil mengetuk pintu itu.


"Yah..." Ucap Risda lirih tapi tetap bisa didengar oleh Sandi.


Sandi lalu bergegas mencari celah bagaimana untuk membuka pintu itu, dirinya pun menemukan sebuah slot yang membuat pintu itu tertutup. Pintu itu tidak terkunci akan tetapi terslot dari luar, Sandi pun membuka pintu itu dan mendapati Risda yang tengah terbaring dengan lemasnya.


"Risda!" Teriaknya dengan cemas.


"Ayah..." Ucap Risda dengan lirihnya.


Sandi lalu menarik tubuh Risda ke dalam pelukannya, tubuh Risda terasa sangat panas dan seluruh tubuhnya gemetaran. Risda pun hanya bisa meneteskan air matanya tanpa bisa menggerakkan tubuhnya, dirinya pun tidak merasakan detak jantungnya sendiri karena detak jantungnya terasa sangat lemah.


"Risda kamu kenapa? Apa yang sakit? Beritahu Ayah,"


"Haus..." Ucap Risda tanpa terdengar suara dan hanya gerakkan bibir saja.


"Risda mau ngomong apa? Ayah nggak ngerti,"


"Haus..."


"Pelan pelan bilangnya, Ris. Biar Ayah paham,"


"Ha..Us..."


Sandi mencoba memahami ucapan Risda melalui gerak bibirnya itu, Sandi yang baru mengerti ucapan Risda itu langsung membuka tas yang mengikat di tubuhnya. Sandi pun mencari sesuatu yang ada di dalam tasnya itu, dan mendapati sebuah botol yang berisikan air.


Sandi memang membawa botol tersebut karena dirinya yang baru pulang bekerja, sandi membekal sehingga di dalam tasnya terdapat sebuah air minum. Sandi lalu membantu Risda untuk meminum air itu, tenggorokan yang kering itu terlihat sedikit kesusahan untuk meminum air.


Risda meminumnya dengan cepat, mungkin gadis itu kehausan beberapa hari ini sehingga dirinya meminumnya hingga habis. Setelahnya dirinya pun muntah muntah, dirinya pun memuntahkan air keruh dari mulutnya, karena memang tidak ada nasi atau makanan yang masuk selama beberapa hari ini diperutnya.


"Da, kita kerumah sakit saja ya?" Tanya Sandi yang panik melihat anaknya.


Sandi tidak mau mendengar jawaban dari Risda, dirinya pun lalu membantu Risda bangkit dari duduknya begitu saja. Tubuh Risda pun terlihat sangat berat karena sangking lemasnya, Sandi mengalungkan sebelah tangan Risda dilehernya.


"Kamu apakan anakku!" Sentak Sandi kepada Lasmi.


"Aku nggak ngapa ngapain dia, aku juga nggak tau dia ada didalam," Ucap Lasmi ketakutan.


"Kalau sampai dia kenapa kenapa, akan ku tuntut kau!"


"Aku nggak tau dia didalam, aku pikir dia pergi mengaji,"


"Alasanmu tidak masuk akal. Bagaimana kamu mengira dia pergi mengaji? Sedangkan pintunya dikunci dari luar. Alasan apa ini, ha? Jangan pura pura nggak tau kamu!"


"Risda sendiri juga kenapa tidak bilang kalau terkunci didalam? Seharusnya dia bilang, biar aku tau kalau dia didalam,"


"Jangan salahkan Risda! Kamu tidak tau kondisinya selemah ini, ha? Berapa lama kamu kunciin dia didalam sana?"


Mendengar pertengkaran itu membuat kapala Risda terasa sangat sakit, Sandi pun memeganginya agar tidak terjatuh dilantai. Berdiri cukup lama, membuat Risda merasa semakin pusing bahkan pandangannya pun berkunang kunang saat ini.


Risda pun menggerakkan tangannya untuk mengoyang goyangkan tangan Sandi untuk menghentikan lelaki itu marah, Risda tidak ingin adanya pertengkaran disana saat ini. Apalagi tubuhnya yang bertambah lemas, membuatnya tidak mampu untuk berdiri lebih lama lagi.


"Berapa lama kamu dikunciin didalam kamar, Ris? Katakan saja sama Ayah," Tanya Sandi.


"Itu tidak penting, Yah. Ayo pulang saja, aku sudah tidak kuat," Ucap Risda dengan lirihnya.


"Risda. Kamu kenapa, Nak?"


"Sakit banget, Yah. Ayo pulang,"

__ADS_1


Wajah Risda tidak bisa berbohong kalau dirinya memang tengah menahan rasa sakit, terlihat dari sebuah kernyitan yang tercipta diwajahnya yang pucat itu. Sandi pun langsung membawa Risda keluar dari rumah itu, dirinya takut jika sampai Risda kenapa kenapa karena telat membawanya pergi dari tempat itu.



Bonus Visual Risda kecil


Kira kira seperti itulah wajahnya waktu kecil, memiliki tailalat dileher, alis mata tipis, rambut panjang bergelombang warna sedikit merah.


Karena Author tidak bisa menapak wajah aslinya, sehingga kalian boleh berimajinasi sesuka hatinya. Lanjut...


*Flash back off*


Risda menitihkan air matanya ketika mengingat kejadian yang pernah terjadi kepadanya itu. Afrenzo yang mendengarkan ceritanya itu dapat merasakan apa yang gadis itu rasakan, bahkan dirinya merasa sangat sakit hatinya ketika mendengar bahwa Risda hampir tiada ketika Risda masih kecil.


Begitu banyak hal yang telah dilalui oleh Risda, bahkan mungkin saja Afrenzo sendiri pun tidak mampu menjadi setegar Risda. Kini Afrenzo tau alasan mengapa Risda ingin sekali mengakhiri hidupnya, karena begitu banyak penderita yang gadis itu alami.


"Renzo... Sekarang, Bokap gue terus ngungkit ungkit masalah itu. Lama lama gue ingin mati saja kalo seperti ini, Renzo. Nggak ada gunanya gue untuk terus hidup didunia ini," Ucap Risda sambil terisak tangis.


Afrenzo tau seberapa besar beban yang ditanggung gadis itu, dirinya pun hanya bisa mendengarkan keluhan Risda tanpa memberi nasehat kepadanya. Nasehat apapun yang dirinya berikan itu sama sekali tidak berguna untuknya, apalagi dalam posisi seperti sekarang ini.


"Lo masih punya gue, Da. Jangan putus asa sebelum menang ya?" Ucap Afrenzo pelan sambil mengusap puncak kepala Risda.


Risda pun menatap kearah kedua mata Afrenzo, terdapat ketulusan yang tercipta dikedua matanya itu. Pandangan keduanya pun bertemu, setetes air mata Risda pun jatuh membasahi pipinya akan tetapi langsung dihapus oleh Afrenzo menggunakan ibu jarinya.


"Renzo, gue ingin bahagia. Apakah itu sangat sulit untuk gue?" Tanya Risda dengan bibir yang bergetar karena menahan tangisnya.


"Kebahagiaan yang sesungguhnya adalah disaat kita iklas menerima segala ketentuan yang telah Allah berikan, menangislah jika itu dibutuhkan. Bunuh diri bukanlah solusi untuk keluar dari masalah, lo bisa ngelewatin hal hal yang sulit sebelumnya, dan yakinlah bahwa kali ini lo juga bisa melewati itu semua."


Risda pun menyandarkan kepalanya dipundak Afrenzo, dan hal itu langsung membuat Afrenzo sangat terkejut akan tetapi dirinya tetap membiarkan gadis itu bersandar dipundaknya.


"Da? Lo nggak papa, kan?" Panggil Afrenzo ketika merasakan bahwa Risda sama sekali tidak bergerak.


Afrenzo lebih terkejut lagi ketika mendapati bahwa gadis itu sudah tidak sadarkan diri, dirinya mencoba untuk mengoyang goyangkan tubuh Risda berharap bahwa gadis itu akan sadar. Akan tetapi, gadis itu masih memejamkan kedua matanya dengan erat, ketika hendak terjatuh tangan Afrenzo pun memeluknya untuk mencegah gadis itu jatuh.


Afrenzo lalu mengangkat tubuhnya ala bridal style, dirinya pun membawanya pergi dari tempat duduk itu. Risda pun tidak menyadari apa yang terjadi kepadanya, karena tiba tiba pandangannya itu menggelap begitu saja.


*****


Risda pun mencium aroma minyak kayu putih yang kuat dihidungnya, dirinya pun perlahan lahan mulai membuka kedua matanya. Risda mendapati bahwa dirinya berada dilantai atas aula beladiri, dan ia pun melihat sosok Afrenzo berada disampingnya.


"Alhamdulillah lo sadar juga, Da. Gue ambilin minum dulu," Ucap Afrenzo senang ketika melihat Risda mulai membuka kedua matanya.


Afrenzo pun membantu Risda untuk duduk dari terbaringnya itu, dirinya pun lalu mengambil segelas air yang telah dia siapkan disebelah Risda. Afrenzo pun mengangkat gelas tersebut agar Risda bisa meminumnya, Risda pun meminumnya sedikit.


"Gue kenapa, Renzo?" Tanya Risda setelahnya.


"Lo terlalu banyak pikiran, Da. Jangan bebani diri lo sendiri dengan pikiran pikiran itu," Jawab Afrenzo sambil meletakkan balik gelas itu.


"Thanks ya, udah nolongin gue lagi. Rasanya gue begitu banyak hutang sama lo,"


Afrenzo pun menganggukkan kepalanya, dirinya pun berkata, "Jangan pikirkan hal hal yang tidak seharusnya lo pikirin, Da. Ingat kondisi lo sendiri, setiap manusia juga punya rasa capeknya masing masing. Kalo terus seperti ini, lo bisa ngedrop nanti,"


"Gimana gue bisa nggak mikirin, Renzo. Setiap perkataan dari orang orang selalu menyayat hati gue, mereka berkata tanpa memikirkan perasaan orang lain,"


"Lo tenangin diri lo dulu disini, gue beli makanan dulu. Jangan kemana mana,"


"Gue ikut, boleh?"


"Lo disini saja, lagian lo juga baru sadar. Gue aja yang pergi beli,"


"Tapi Renzo..."


"Gue nggak suka dibantah. Tetap disana dan jangan kemana mana,"

__ADS_1


"Iya Renzo."


Jika keputusan Afrenzo sudah bulat, maka tidak ada yang bisa membujuknya. Akhirnya, Risda pun pasrah ketika Afrenzo menyuruhnya untuk tetap diam ditempat itu dan tidak diperbolehkan untuk kemana mana.


__ADS_2