
Risda pun duduk termenung dengan bosannya karena harus menunggu Afrenzo selesai ujiannya, dirinya merasa sangat gabut jika tidak ada lelaki itu disampingnya saat ini. Risda tidak kenal dengan teman teman seregunya itu, bahkan mereka semuanya hanya diam saja tanpa ada yang mencoba untuk memulai pembicaraan.
Jika dirinya memulai pembicaraan terlebih dahulu, takutnya nanti malah dikira dirinya yang sok kenal sok dekat ( SKSD ). Maklum, gengsi anak seumuran Risda memang masih tinggi, dan dirinya tidak mau disebut dengan kata SKSD.
Rasa dingin, lelah, ngantuk, capek, seakan akan tengah menjadi satu. Ditambah lagi tidak adanya Afrenzo yang bisa diajaknya berbicara saat ini, ya meskipun Afrenzo jarang menanggapi pembicaraannya dengan benar. Risda pun hanya bisa memainkan jemarinya saja, dan entah apa saja yang dilakukannya saat ini.
Setelah menunggu lama, akhirnya giliran Risda pun tiba, dan dirinya langsung bangkit dari duduknya setelah sekian lamanya. Risda pun menatap jalanan yang gelap yang ada didepannya dengan ngeri, apalagi jalanan itu terlihat seperti tak berujung karena jaraknya terbentang jauh dengan jalanan yang ada lampunya.
"Pak, nggak ada penampakan kan?" Tanya Risda sambil menyengir.
"Jalan saja, dan periksalah sendiri nanti."
Mendengar jawaban itu hanya membuat Risda mendengus dengan kesalnya, dirinya pun memberanikan diri untuk melangkahkan kakinya menuju jalanan itu. Yang ada di dalam pikiran tidak hanyalah menyelesaikan ujian ini dengan benar, agar dirinya tidak membawa nama buruk cabang latihan beladirinya.
Tidak lupa dirinya terus berdoa agar tidak ada yang mengganggunya dalam perjalanan sendiri, dan dirinya berharap bahwa dia segera menyelesaikan ujian ini untuk bisa kembali ke dalam gedung yang disiapkan. Setelah cukup lama melangkah akhirnya dia merasa seperti berada di tengah tengah kegelapan yang sangat sunyi, tidak ada siapapun yang ada di sana selain suara para binatang kecil yang selalu menemani di mana kesunyian malam berada.
Seketika hawa dingin pun menyelimuti dirinya dan membuatnya merasa sangat merinding, hal ini tidak pernah ia rasakan selama dirinya keluar dari rumah dengan diam diam melalui jendela kamarnya. Biasanya dirinya merasa biasa meskipun berjalan sendirian di antara kegelapan malam, akan tetapi suasananya kali ini terasa sangat berbeda dari biasanya.
Risda pun tetap melangkahkan kakinya meskipun tubuhnya sedikit gemetaran, dirinya takut jika tiba tiba melihat sesuatu yang sangat mengerikan ataupun bahkan melihat hewan menggeliat seperti ular, dirinya paling takut ketika melihat hewan itu melintas di depannya.
Bukan karena bisa yang dia miliki, lebih tepatnya karena tekstur tubuhnya yang sangat lunak dan sangat keras itu. Kulitnya ya sedikit licin sekaligus bergerak gerak membuat Risda merasa geli, dia paling histeris ketika melihat seekor ular masuk ke dalam rumahnya.
"Mak lampir, Mbak kunti, Paman pocong, Teteh Suster ngesot, Mbah genderuwo, tolong jangan ganggu diriku yak! Pliss... Diriku cuma ingin lewat doang kok, beneran," Suara Risda pun menyebutkan nama nama mahluk astral dengan sebutan layaknya menyebut keluarganya sendiri.
Bukan Risda namanya jika tidak penasaran, meskipun dirinya takut akan tetapi dia juga merasa sangat penasaran. Jalanan yang dirinya lewati tidak semenakutkan seperti yang dibayangkannya, cahaya rembulan nampak terpancar dengan jelasnya dihadapannya, sehingga membuat jalanan itu hanya sepintas remang remang saja tanpa gelap gulita.
Risda pun menghentikan langkahnya, dirinya pun menghadap keatas sambil membentangkan kedua tangannya, dia merasakan hembusan angin malam yang begitu dingin ditambah dengan bajunya yang basah saat ini. Suasana yang begitu tenang, membuatnya merasa sangat damai saat ini, dan hal ini tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
"Tuhan! Izinkan aku untuk bahagia," Ucap Risda yang setengah berteriak.
Risda pun tersenyum sambil menatap kearah langit malam ini, dirinya pun langsung bergegas meninggalkan tempat itu untuk menuju kearah yang telah ditentukan. Dirinya ingin segera bertemu dengan Afrenzo, dan dirinya berniat untuk menunjukkan indahnya rembulan malam kepada lelaki itu.
Ketika sedang bersantai dalam berjalan, tiba tiba Risda melihat bayangan dikejauhan, dirinya langsung berlari menuju kearah bayangan itu. Sesampainya ditempat tujuan, dirinya pun bertemu dengan seorang pelatih yang memang ditugaskan untuk menjaga ditempat itu.
"Lama sekali, dari mana saja?" Tanya pelatih itu ketika Risda baru saja menghentikan langkahnya.
"Maaf kan saya, Pak. Tadi diriku melihat rembulan sesaat," Jawab Risda jujur.
"Baiklah, kita mulai ujiannya."
"Siap Pak!"
Pelatih tersebut pun mulai menguji Risda, disana ujiannya benar benar parah hingga membuat Risda sampai menitihkan air matanya. Ujian mental pencak silat identik dengan bentakkan, marahan, dan hukuman. Mereka akan ditanyai beberapa pertanyaan sulit tentang seputar pencak silat, jika tidak menjawabnya mereka pasti akan dibentak bahkan dimarahi habis habisan, tapi jika mereka tidak mampu menjelaskan maksud dari jawaban mereka, mereka pasti akan terkena hukuman.
Ujian mental bisanya dilakukan disaat akhir rute atau di pos terakhir, dan kebanyakan akan menghabiskan banyak tenaga untuk menguji maupun yang diuji. Tidak sedikit dari mereka yang akan menangis, bahkan ada yang sampai sesenggukan dan bahkan begitu sangat ketakutan dengan pelatih yang menguji.
Soal ujiannya, hanya seorang pesilat yang mengetahui tentang hal itu, dan mereka mengetahui apa artinya berjuang agar mendapatkan sebuah sabuk beladiri. Tanpa terasa Risda menjalani ujian selama 30 menit, waktu yang sangat lama untuk menyelesaikan seluruh ujian yang ada di pos terakhir.
"Jadikan ini pelajaran untuk menjadi lebih baik lagi, dunia itu keras dan ini belumlah seberapa. Jangan beranggapan bahwa para pelatih disini tidak menyayangi kalian, pelatih disini justru sangat menyayangi kalian dan kami mau menjadikan mental kalian lebih kuat lagi," Ucap pelatih itu setelah mengakhiri ujian tersebut terhadap Risda.
"Saya sangat paham, Pak. Ujian ini belumlah seberapa daripada jahatnya orang orang dirumahku, mereka bahkan mampu memperlakukanku dengan keji tanpa memperdulikan perasaanku."
"Maksudnya?"
"Orang tuaku sudah pisah, Pak. Dan aku ikut Kakakku dirumahku sendiri, tapi aku diperlakukan layaknya beban," Ucap Risda sambil mengusap kasar wajahnya.
"Kamu hebat, maka tunjukkan kepada mereka bahwa kamu bisa jauh lebih baik dari apa yang mereka bayangkan. Siapa namamu?"
__ADS_1
"Siap, Pak! Namanya ku Risda Vanatasya Almaira,"
"Baiklah, silahkan lanjut perjalanan, dan nanti diujung jalan sudah ada Renzo,"
"Baik, Pak."
Risda pun kembali melanjutkan perjalanannya, ketika diperjalanan sekilas dirinya melihat sebuah bayangan yang melintas dikejauhan. Risda berpikir bahwa itu adalah pengawas yang menjaga disepanjang perjalanan yang para peserta lalui, akan tetapi nyatanya bayangan itu mendadak melayang diangkasa yang membuat Risda langsung membelalakkan kedua matanya.
Risda terbengong beberapa saat ditempatnya itu, hal itu pernah dirinya alami ketika dirinya pulang dari rumah neneknya, sosok bayangan kuntilanak melintas kembali kedalam ingatannya. Tanpa sadar hal itu langsung membuat Risda termundur beberapa langkah kebelakang, dirinya bahkan tidak mampu untuk merasakan tubuhnya sendiri saat ini.
Begitu berat untuk dirinya melangkah maju, apalagi setelah melihat bayangan putih yang terbang dihadapannya itu. Rasanya sangat sulit untuk mempercayai apa yang dia lihat, akan tetapi itulah kenyataan yang sedang dirinya saksikan sendiri dihadapannya.
Tubuhnya seakan akan membeku tanpa mampu dirinya gerakkan, bahkan untuk berlari saja kedua kakinya sudah merasa sangat lemas apalagi itu hanyalah sebuah rencana untuk kabur dari tempat itu. Risda pun langsung menjatuhkan tubuhnya ditanah, dirinya pun melipat kedua kakinya dan memeluknya dengan erat karena ketakutan.
Apalagi disana hanya dirinya seorang diri, tanpa ada seseorang yang berada ditempat itu saat ini. Udara dingin semakin mendominasi tempat itu, apalagi ditambah dengan pakaiannya yang basah membuatnya semakin merasa mengigil saat itu.
Risda pun membenamkan wajahnya diantara kedua lutut yang telah ditekuknya itu, dirinya tidak berani untuk mengangkat kepalanya walaupun hanya sesaat saja. Dirinya benar benar ketakutan saat ini, bahkan suaranya seakan akan tidak bisa keluar dari tenggorokannya, dan dirinya hanya bisa membuka dan menutup bibirnya saja.
Tiba tiba ada seseorang yang menyentuh pundaknya, dan hal itu sontak langsung membuat Risda sangat terkejut namun tidak mampu untuk berteriak. Tubuhnya gemetaran sangat hebat, apalagi tangan itu terasa sangat berat tanpa ada suara yang dikeluarkan oleh seseorang yang memegangi pundaknya itu.
"Tolong jangan culik gue," Ucap Risda lirih tanpa berani menoleh.
"Lo kenapa disini, Da?" Tanya seseorang yang langsung membuat Risda merasa lega.
Risda langsung menoleh kearah Afrenzo yang sudah ada disampingnya, dirinya pun langsung memegangi baju Afrenzo dan menyembunyikan wajahnya didalam dada lelaki itu. Dapat dirasakan oleh Afrenzo bahwa wanita itu tengah ketakutan saat ini, Afrenzo pun menenangkannya dengan cara mengusap punggungnya pelan.
"Lo kenapa, Da?" Tanya Afrenzo lirih.
"Gue takut, Renzo. Ini beneran lo kan? Lo bukan hantu kan, Renzo?" Tanya Risda yang masih menyembunyikan wajahnya didalam dada bidang milik Afrenzo.
"Ini gue, Da. Mana mungkin lo bisa nyentuh gue kalo gue ini hantu,"
Mendengar jawaban itu langsung membuat Risda melepaskan pegangannya itu, dirinya pun langsung menatap wajah Afrenzo dan sedikit melangkah mundur karena merasa tidak enak dengan Afrenzo. Afrenzo sendiri pun menurunkan tangannya kembali, dan langsung bersedekap dada.
"Gue pikir lo tadi itu hantu, Renzo. Untung gue kagak jadi diculik sama kuntilanak,"
"Mana ada dia nyulik lo, Da. Yang ada dia bakala. struck karena lo,"
Bhukk...
Risda pun memukul keras dada Afrenzo karena merasa bahwa Afrenzo mengejeknya saat ini, "Nyebelin banget sih lo, mana ada hantu yang kena penyakit."
Uhukk... Uhukk...
Afrenzo pun terbatuk batuk setelah mendapatkan pukulan dari Risda itu, hal itu langsung membuat Risda panik seketika, dirinya takut kalau Afrenzo kenapa kenapa.
"Renzo, lo kenapa?" Tanya Risda panik sambil memijat leher belakang Afrenzo.
Biasanya hal itu akan dilakukan oleh Dewi ketika mengetahui bahwa Risda tersedak, oleh karena itu Risda melakukan hal yang sama karena berpikir bahwa Afrenzo tengah tersedak kali ini. Afrenzo pun menyentuh dadanya dengan kuat, beberapa saat kemudian dirinya pun berhenti terbatuk.
"Maafin gue, Renzo. Sakit ya?" Tanya Risda yang merasa bersalah terhadap lelaki itu.
"Sakit banget, Da. Tapi gue kagum sama lo, tenaga lo kuat banget," Jawab Afrenzo sambil menyengir.
"Lo bercanda? Gue bahkan hanya pake sedikit tenaga buat mukul lo," Risda merasa tidak terima jika dikatakan bahwa dirinya telah memukul Afrenzo dengan keras karena memang dirinya tidak memukulnya dengan tenaga kuat. "Lo kenapa, Renzo? Kenapa sakit?"
"Gue nggak punya penyakit parah, Da. Lo kira gue sakit?" Tanya Afrenzo dengan wajah seriusnya.
__ADS_1
"Bercanda lo nggak lucu."
Afrenzo justru tersenyum kepada Risda, dengan senyuman yang nampak begitu cerah, dan senyuman itu selalu berhasil membuatnya terpanah dengan wajah lelaki itu. Setiap kali Afrenzo tersenyum cerah seperti itu kepadanya, dirinya merasa seakan akan beban yang tengah ia lalui menghilang begitu saja. Damai, itulah yang dirinya rasakan ketika melihat senyuman Afrenzo.
"Senyuman lo bagus, Renzo. Gue ingin punya senyuman seperti itu, agar bisa membuat orang lain tenang melihatnya," Ucap Risda tanpa sadar karena dirinya begitu terpanah dengan senyuman Afrenzo.
"Lo kagak bakalan bisa memiliki senyuman ini," Suara Afrenzo yang langsung membuat Risda cemberut seketika.
"Iya, karena wajah gue kagak seperti wajah lo," Jawab Risda dengan jutek sekaligus kesalnya.
"Gue belum selesai ngomong. Tapi, lo bisa milikin yang lebih baik daripada yang gue punya,"
"Lama lama lo jadi hobi ngegombal, ya?"
"Terserah."
Afrenzo pun membalikkan badanya, dirinya pun hendak pergi dari tempat itu akan tetapi tangan Risda langsung berpegangan pada bajunya. Risda pun melangkah untuk pergi juga, akan tetapi dirinya justru mendahului langkah Afrenzo dengan serta menarik pakaian Afrenzo untuk mengajak lelaki itu pergi dari tempat itu.
"Janga..."
"Gue tau! Gue emang penakut, jadi lo mau ninggalin gue kan? Jangan harap." Tanya Risda dan tidak membiarkan Afrenzo untuk melanjutkan perkataannya sebelumnya.
"Nggak bisa pegangan yang lain apa?" Tanya Afrenzo kepada Risda yang tengah membelakanginya.
"Nggak bisa!"
"Lihat apa yang lo pegangi dulu,"
Risda pun menoleh kearah Afrenzo, nyatanya dirinya menarik tali celana Afrenzo yang mengikat dipinggangnya. Afrenzo langsung melepaskan pegangan tangan Risda dengan cepat dan langsung membenarkan kembali pakaiannya itu.
Risda pun langsung membungkam mulutnya melihat pakaian bawah Afrenzo yang sedikit terbuka itu, untung saja dirinya tidak bisa melihat apa apa selain kulit diperut Afrenzo. Risda langsung membuang muka dari hadapan Afrenzo, apa yang dirinya rasakan tidak dapat lagi dijelaskan karena rasanya begitu campur aduk.
"Lo sengaja, kan? Lo sengaja buka buka didepan gue, kan? Jawab jujur lo!" Tanya Risda sambil menuding Afrenzo, akan tetapi tidak berani menatap wajah Afrenzo karena malu.
"Kalo gue sengaja, sudah gue buka semuanya, Da."
"Dasar mes*m!"
Cletak...
Sebuah jitakkan pun melayang dikening Risda, dan Risda pun langsung memekik pelan karena sakit itu. Risda pun mengusap kepalanya yang telah dijitak oleh Afrenzo, dirinya merasa tidak suka dengan apa yang dilakukan oleh Afrenzo.
"Lain kali kalau mau pegangan itu lihat lihat,"
"Lo sendiri sih, salah lo mau ninggalin gue gitu aja,"
"Yang pegangan siapa?"
"Gue."
"Jadi salah siapa?"
"Lo yang salah."
"Kalo kebuka lo mau tanggung jawab?"
"Kok gue sih? Padahal lo sendiri yang salah tadi, terus saja nyalahin wanita, emang ya wanita selalu salah dimata lelaki. Padahal yang selalu salah itu cowok,"
__ADS_1
"Ter se rah."
"Dasar cowok sama saja!"