
Bonus Visual Afrenzo Alfiansyah
*****
Afrenzo berdiri didepan kelas dengan melipat kedua tangannya didepan dadanya, seraya memperhatikan kedua orang yang tengah ia hukum itu. Sementara Risda kini duduk ditempat duduk guru yang juga tengah memerhatikan apa yang dilakukan oleh Satria dan Farhan itu.
Satria dan Farhan masih saling melemparkan tatapan dingin, kedua orang itu nampak saling bermusuhan satu sama lain. Melihat kedua orang itu hanya membuat Risda tersenyum kecut, ini semua karenanya sehingga membuat keduanya saling bermusuhan.
"Gue pulang dulu ya Renzo," Ucap Risda.
Afrenzo hanya melirik sekilas kearah Risda, memang hari ini bukan jadwal latihan sehingga Risda berpamitan untuk pulang. Risda yang mendapatkan tatapan seperti itu hanya bisa menundukkan kepalanya dihadapan Afrenzo.
"Renzo, kalo gue telat sampe rumah, nanti gue dimarahin lagi," Ucap Risda lagi ketika tidak mendapatkan sahutan dari Afrenzo.
"Pulanglah," Ucap Afrenzo singkat.
"Thanks, gue duluan ya,"
Risda langsung bergegas pergi meninggalkan mereka begitu saja, ia berlari sambil melihat kearah jam yang ada ditangannya itu. Pulang sekolah mereka pukul 2 siang, sementara sekarang sudah pukul setengah 3 sore.
"Gawat, bisa dimarahin gue."
Risda langsung bergegas menuju ketempat parkiran yang berada agak jauh dari kelas mereka, Risda pun langsung menaiki sepdahnya dan melaju meninggalkan halaman sekolah itu.
Tak beberapa lama kemudian Risda telah sampai dirumahnya, setelah ia memarkirkan sepedah motornya dirinya pun langsung masuk kedalam kamarnya untuk mengganti pakaiannya. Risda langsung merebahkan tubuhnya diatas kasur, ia merasa lega kalau Kakaknya itu sedang tidak berada dirumah saat ini.
Risda langsung bangkit dari tidurnya dan duduk dikursi yang ada didekat cendela kamarnya, ia menatap kearah langit yang terbentang luas dengan burung burung kecil yang berterbangan dengan gembiranya.
"Gue ingin jadi burung, bisa terbang bebas diangkasa yang luas, tanpa harus mendengarkan omelan dari orang itu," Guman Risda seraya menitihkan air matanya.
Hatinya diselimuti oleh kesedihan yang teramat mendalam, didepan banyak orang dirinya terlihat sangat bahagia dan bahkan bisa tertawa dengan kerasnya akan tetapi disaat dirinya sendirian hanya akan ada air mata yang tersisa.
"Dimana kebahagiaan? Dimana kasih sayang orang tua? Gue pengen seperti yang lainnya, gue pengen ngerasain kasih sayang keluarga kayak temen temen gue, gue iri sama mereka,"
Risda menghapus kasar air matanya itu ketika mendengar adanya seseorang orang membuka pintu depan rumahnya. Kamar Risda begitu dekat dengan ruang tamu sehingga dirinya bisa mendengar kedatangan seseorang dan hal itu membuat Risda berhenti untuk menangis.
"Dasar ngak berguna! Bukannya beres beres rumah malah enak enakan aja dikamar," Teriak seseorang yang tidak lain adalah Indah yang baru saja tiba dirumah.
Mendengar itu hanya membuat Risda menghela nafasnya kasar, bukan hanya sekali dua kali dirinya mendengar ucapan Indah yang tidak mengenakkan tapi rasanya dirinya sudah khatam mendengar suara kasar itu.
*****
"Renzo! Tungguin gue," Teriak Risda dari kejauhan ketika melihat sosok Afrenzo yang tengah berada dilorong sekolahan.
Mendengar teriakan tersebut langsung membuat Afrenzo menghentikan langkah kakinya, Risda yang tengah mengejarnya itu pun akhirnya telah sampai didepan Afrenzo dengan menundukkan kepalanya untuk mengatur nafasnya yang memburu.
"Huftt... Capek," Ucap Risda sambil menghapus keringatnya yang ada dikeningnya.
"Ada apa?" Tanya Afrenzo.
"Gue udah ada uang 200 ribu, gue cicil ngak papa ya?"
"Kumpulin dulu, kalo sudah pas baru kasih ke gue,"
"Gue malah takut kalo uangnya ngikut gue beliin makanan Renzo, jadi gue harus nabung ulang dong?"
"Hemm..."
Setelah berdehem, Afrenzo pun bergegas meninggalkan Risda yang diam membisu, Afrenzo sama sekali tidak bisa diajak negoisasi. Afrenzo pun langsung memasuki kelasnya sementara Risda langsung bergegas menuju kekelasnya itu.
"Ultah lo kapan, Da?" Tanya Septia.
"Emang mau ngapain?" Tanya Risda yang baru saja tiba dikelas.
"Ngak papa, gue hanya nanya doang."
"Lagian udah kelewat jauh, waktu kita masuk sekolah ini pertama kali itu,"
"Jadi ulang tahun lo pas masuk sekolah ini? Tanggal 15 Juni kemaren itu?"
"Iya, emang mau ngapain sih? Mau bikin surprise buat gue? Halah ngak perlu,"
"Idih, kepedean sekali lo, Da. Ngapain gue bikin surprise buat lo, yang ada gue mau buang lo disungai depan sekolahan."
"Sialan lo, Tia. Tanpa lo buang sekalipun, gue bisa buang diri gue sendiri,"
"Bercanda, Da. Jangan dimasukin kehati nanti kamu sakit hati, mending masukin saja ke lambung biar sakit lambungmu,"
__ADS_1
"Gue denger sakit lambung bisa berakibat kematian, apa itu benar?"
"Gue juga pernah denger sih, lo jangan aneh aneh ya,"
"Gue pengen mati, siapa tau itu adalah jalan alternatif yang gue butuhin,"
"Bangkeeekk lo, Da. Kalo lo ngelakuin itu, gue bakalan benci sama lo selamanya,"
"Ngak bakalan demi lo, Tia. Gue bakalan jaga diri gue kok, lo jangan pernah benci gue ya, dengan kalian disini udah bikin gue bahagia soalnya,"
"Nah gitu dong."
Septia pun mengacungkan kedua jempolnya untuk Risda, melihat itu membuat Risda tersenyum dengan cerahnya. Hanya dengan bersama teman temannya disekolah itu, hal itu sudah cukup untuk membuat Risda nampak sangat bahagia.
"Eh, gue punya sesuatu," Ucap Mira yang baru tiba.
"Apaan?" Tanya Septia.
"Gincu dong, bagus banget warnanya kalo dibibir," Ucap Mira sambil meletakkan sebuah lipstik didepan Risda dan Septia.
"Gue ngak minat," Ucap Risda yang acuh tak acuh.
"Lain kali lo harus lebih mengutamakan kecantikan, Da. Sini gue make up in deh, biar lo cantik,"
"Anjiirrr jadi selama ini gue ngak cantik gitu? Gue lebih suka natural daripada harus pake gituan,"
"Percaya deh sama gue, Afrenzo bakalan kelepek kelepek sama lo, Da."
"Ngak, gimana bisa cowok ngak berperasaan seperti itu tertarik sama gue? Natap mukanya aja udah serem banget anjiiirrr,"
"Jangan kek gitu, Da. Lama lama lo yang suka nanti, kita kan ngak tau takdirnya akan seperti apa nanti, sekarang lo bilang ngak suka, tapi hati lo ngak bisa berbohong, Da. Gue yakin itu,"
"Gue ngak percaya yang namanya cowok, semua cowok sama sama sukanya nyakitin. Gue ngak bakalan jatuh cinta sama cowok!"
"Hahaha... pikiran lo kagak nyambung, Da. Bagaimana bisa sosok seorang wanita tidak jatuh cinta, lo nya aja yang belom pernah ngerasain jatuh cinta, sekali ngerasain jatuh cinta, kualat lo nanti."
"Ngak bakal, udah ah. Gue ngak mau make up make up an, jangan paksa paksa gue,"
"Ra, pegangin nih orang!" Teriak Septia.
Mira langsung memegangi Risda dengan erat, ini namanya pemaksaan. Risda tidak bisa memberontak karena Rania juga ikut serta memegangi tangan Risda, sementara Risda hanya bisa pasrah ketika diberi lipstik oleh Septia.
"Cantikkan?" Tanya Mira kepada Risda.
"Gila, lo kayak cewek banget anjiirrrr!" Teriak Septia.
"Ngak nyangka kalo lo bakalan secantik ini, Da." Rania kagum melihat wajah Risda.
Risda berdiam diri sambil menatap wajahnya melalui cermin, Risda langsung mencerucutkan bibirnya ketikan menyaksikan wajahnya itu, dan dirinya sama sekali tidak memperhatikan ucapan teman temannya itu.
"Gue kayak badut anjiirrr!" Teriak Risda sambil memegangi wajahnya itu.
"Cantik, Da. Lo emang ngak tau sih, itu udah cantik banget," Ucap Septia.
"Cantik dari Hongkong? Orang wajah gue kayak badut gini dibilang cantik," Gerutu Risda.
"Ya ampun, cantik banget lo, Da" Ucap Kartika yang baru tiba, Kartika adalah teman sekelasnya.
"Asem lu, Ka. Kek gini dibilang cantik," Umpat Risda.
Risda pun mencerucutkan bibirnya sebal karena ulah teman temannya itu, ia pun menghapus lipstik tersebut menggunakan pakaiannya sehingga menimbulkan warna merah dipakai yang berwarna biru terang tersebut.
"Anjiirr lo jorok banget, Da. Ngak ada yang lain apa selain pake seragam lo?" Umpat Mira.
"Ngak ada, kalian sih bikin gue kek badut,"
"Cantik gitu dibilang kek badut, gue make up in kek badut baru tau rasa lo, Da" Ucap Septia.
Tak beberapa lama kemudian akhinya bel masuk pun berbunyi, seluruh teman teman Risda langsung membubarkan diri untuk menuju kebangku mereka masing masing.
*****
"Ha.. Ha.. Ha.. Ha.. Ha.."
Seluruh siswa beladiri sedang melakukan gerakan mereka bersamaan dengan diiringi suara teriakan mereka. Afrenzo sedang mengitari mereka sambil membawa sebuah kayu yang akan digunakan untuk memukul mereka jika gerakan mereka salah.
Mereka melakukan latihan yang sangat berat kali ini, kalo mereka tidak gerak maka Afrenzo yang akan gerak untuk menyerang mereka. Keringat mulai membasahi tubuh mereka, termasuk juga Risda yang saat ini sedang melakukan gerakan jurus dalam beladiri.
"Akhh... kaki gue sakit!"
__ADS_1
"Kaki gue gemetaran,"
"Capek banget!"
Seluruh siswa pun terjatuh karena kelelahan, melihat itu hanya membuat Afrenzo menghela nafasnya. Afrenzo langsung bergegas menuju ke aula beladiri untuk membiarkan mereka beristirahat, sementara Risda langsung mengejarnya saat itu.
"Renzo!" Panggil Risda yang nafasnya tidak stabil.
Afrenzo sama sekali tidak memedulikan panggilan Risda dan justru bergegas masuk kedalam aula beladiri. Melihat itu membuat Risda langsung bergegas mengejarnya dan menghentikan langkah kakinya itu.
"Renzo, gue minta lo untuk ngelatih gue privat agar gue bisa masuk turnamen beladiri, bukan berarti mereka ikut serta lo bikin seperti ini, Renzo. Dengan cara latihan lo seperti ini, membuat mereka terkapar sepeti itu," Protes Risda kepada metode pelatihan Afrenzo.
"Kalo lo ngak suka, lo bebas pergi dari perguruan ini. Lo ngak berhak meragukan metode pelatihan gue!" Ucap Afrenzo dengan tegasnya.
"Renzo!"
Afrenzo langsung menyuruh Risda untuk keluar dari aula beladiri tersebut, dan menguncinya dari dalam. Risda hanya memperhatikan apa yang dilakukan oleh Afrenzo itu, aula beladiri tersebut begitu transparan karena kaca yang terpasang dicendela.
Afrenzo menendang sebuah samsak yang terpasang ditempat itu dengan kerasnya, suara tendang tersebut begitu nyaring sehingga bisa terdengar sampai luar karena melalui cela cela yang ada dicendela itu.
"Renzo buka!" Teriak Risda.
Afrenzo sama sekali tidak mempedulikan teriakan Risda yang terus mengetuk pintu ruangan tersebut, Risda pun lelah untuk itu. Risda memutuskan untuk kembali ke lapangan bersama dengan teman temannya itu.
"Da, lo dari mana?" Tanya Anna yang langsung bangkit dari duduknya ketika melihat kedatangan Risda.
"Dari aula beladiri, kenapa?" Tanya Risda balik kepada temannya itu.
"Ngak papa sih, gue pengen keluar dari perguruan ini, Da. Capek banget deh,"
"Jangan nyerah gitu aja dong, An. Lo harus buktiin bahwa lo juga bisa mencetak prestasi nanti, biar belajar lo disini juga ngak bakalan sia sia,"
"Lo bener sih, tapi dengan metode seperti ini ngak ada yang sanggup, Da. Lo tau sendiri kan?"
"Mungkin ini emang metode darinya, An. Kan perguruan disini paling banyak mencetak prestasi, mungkin dengan cara seperti itu kita bisa berlatih dengan baik dan menunjukkan kemampuan terbaik kita di gelanggang nantinya,"
"Iya juga sih, gue akan coba untuk bertahan deh."
Risda dan Anna langsung duduk ditepi lapangan dan berteduh dibawah pohon yang ada dipinggiran lapangan tersebut. Tak beberapa lama kemudian Afrenzo datang sambil membawa sebuah kantung plastik yang cukup besar.
"Kumpul semua!" Ucap Afrenzo dengan tegasnya.
Mereka pun langsung berkumpul didekat Afrenzo dan duduk melingkar dilapangan tersebut setelah mendengar perintah dari Afrenzo. Afrenzo pun ikut serta duduk melingkar bersama dengan mereka, ia lalu membuka ikatan kantung plastik tersebut dan mengeluarkan beberapa sakral beladiri ( seragam beladiri ).
"Wih keren sekali," Ucap Risda dengan kagum.
"Disakralnya sudah ada nama kalian masing masing," Ucap Afrenzo.
Afrenzo langsung membagikan sakral tersebut kepada mereka dengan nama yang sesuai, Risda menerima sakral tersebut dengan senang hati. Selama mereka berlatih, mereka akan membayar sebesar 5000 ribu rupiah untuk bisa membeli sakral tanpa merepotkan orang tua mereka.
Ketika uang mereka sudah pas, Afrenzo langsung membelikan sakral beladiri untuk mereka. Sakral beladiri tidak diperjual belikan begitu saja, dirinya akan membeli kain untuk dijahitkan kepada seorang penjahit sesuai dengan sketsa yang ia berikan.
"Loh kok ngak ada sabuknya?" Tanya Risda setelah membuka plastik sakralnya.
"Sabuk, badge, tingkatan tidak diperjual belikan. Jadi kalian harus mengambilnya sendiri melalui ujian yang akan diadakan nantinya," Ucap Afrenzo menjelaskan kepada siswanya.
"Ujian? Kapan itu?" Tanya Risda.
"Nanti, kalo ada pemberitahuan."
Hanya Risda yang berani menanyakan hal itu kepada Afrenzo, sementara lainnya hanya memanggut manggut mengerti tentang jawaban yang diberikan oleh Afrenzo tersebut. Mereka tidak berani bertanya karena Afrenzo yang terlihat sangat galak itu.
"Da, coba lo pakek," Ucap Vina memberi saran kepada Risda.
"Kenapa ngak lo aja, Na?" Tanya Risda balik.
"Baju gue kayaknya kebesaran deh, Da. Coba lihat baju lo,"
Risda pun menjabar sakralnya tersebut dan menempelkannya kepada tubuhnya itu. Sakral tersebut nampak terlihat besar dibadan Risda yang kurus kayak lidi itu, ia pun menaruh kembali sakralnya dengan wajah cemberut.
"Gue juga kebesaran, Vin. Kayak layangan tau ngak sih?"
"Nah, gue juga gitu,"
"Sakral memang lebih besar dari tubuh kalian, itu digunakan untuk memperluas gerakan kalian," Ucap Afrenzo dan langsung membuat seluruhnya berdiam diri.
"Dengerin tuh, Na."
Risda pun tersenyum dengan cerahnya, ia langsung menempelkan kembali sakral yang tanpa badge tersebut ditubuhnya, ia merasa senang karena akhirnya dirinya memiliki seragam beladiri dan tidak harus memakai pakaian olah raga terus terusan.
__ADS_1