
"Da!" Panggil teman temannya itu dan langsung ikut bangkit dari duduknya dan memegangi tangan Risda.
"Sadar! Semua masalah bisa diselesaikan dengan keadaan dingin, dan lo jangan ngambil keputusan begitu saja," Ucap Mira dengan tegasnya.
"Untuk apa gue hidup? Jika orang satu satunya yang membuat gue bertahan, sudah ngak percaya dengan ucapan gue!" Sentak Risda kepada Mira dan mengibaskan tangannya begitu saja.
Mendengar teriakan Risda seperti itu, langsung membuat Mira memeluk tubuh Risda dengan eratnya. Mira tau bahwa telah terjadi sesuatu dengan gadis itu saat ini, tidak biasanya Risda seperti itu.
"Lo punya kita, Da. Kapanpun lo butuh, gue akan selalu ada untuk lo," Ucap Mira.
Mendengar itu bukannya membuat Risda makin tenang akan tetapi justru membuat Risda menangis semakin kencang. Ia lalu semakin memeluk Mira dengan kencangnya, rasa sesak yang ada didadanya perlahan lahan mulai berkurang.
Ketika rasa sesaknya sudah berkurang, Risda langsung melepaskan pelukannya. Dirinya sudah sedikit merasa tenang saat ini, meskipun air matanya masih terlihat jelas diwajahnya saat ini.
"Gue harus gimana, Ra? Gue ngak tau kenapa Bunda gue bisa nuduh gue kayak gitu, gue ngak pernah bolos sekolah selama ini. Lalu gue harus berbuat apa untuk buktiin ke semua orang nantinya? Gue ngak berani pulang sekarang," Curhat Risda.
"Lo jelasin yang sebenarnya aja, Da. Jika lo ngak berani pulang, lo bisa tidur dirumah gue nanti, tapi gue yakin perlahan lahan lo bisa nyelesaiin masalah lo yang ini."
"Gue udah jelasin kepada mereka, Ra. Tapi mereka, kagak ada yang bisa percaya sama gue,"
"Apa perlu kita kerumah lo untuk jelasin kepada mereka, Da?"
"Gue ngak tau harus gimana, gue ngak mau kalian justru kena marah nantinya. Bagaimana bisa gue dituduh seperti itu? Bahkan disaat gue sedang njenguk temen gue,"
"Jika lo ngak berani pulang, lo juga bisa tinggal dirumah gue kok, Ra. Rumah gue ngak jauh dari sini kok," Ucap Septia.
"Atau ngak lo nginep disini aja, nemenin gue dirumah," Tambah Rania.
"Lo harus pulang, kalo lo nginep justru masalahnya akan semakin rumit. Jika tuduhan itu salah seharusnya lo kagak usah takut, Da. Buktikan kalo lo kagak salah," Ucap Putri.
"Lo bener, kalo gitu gue pulang dulu ya. Gue ngak mau kalo Bunda gue akan semakin marah kalo gue kagak pulang. Tika, Lo sama Putri aja ya baliknya, gue ngak bisa antar lo kembali kesekolah,"
Kartika pun sama seperti Mira, dirinya tidak bisa naik sepedah sehingga harus diantar jemput oleh orang rumah. Kartika biasanya dijemput oleh Tantenya karena Ibunya sudah meninggal, sementara Ayahnya bekerja untuk menghidupinya.
"Terus gue sama siapa?" Tanya Mira.
"Gampang, nanti gue anter balik kesekolah, Ra. Terus Nanda biar jalan kaki dari sini, rumahnya kan deket," Seru Septia.
"Heleh, gue tunggu lo disini aja, Tia. Nanti pulangnya ke sana nebeng lagi gue," Ucap Nanda.
"Bisa dibicarakan biaya nebengnya," Septia terkekeh pelan saat ini.
"Harga teman bro, masak lo gitu amat sih sama gue. Lo kan temen gue sejak kecil, Tia."
"Ya ya, gitu aja ngambek,"
"Ya sudah, gue balik dulu ya," Seru Risda.
Risda pun berpamitan untuk pulang lebih dulu daripada teman temannya, mereka semua pun hanya bisa mengangguk mendengarkan keputusan dari Risda. Akan tetapi, mereka juga takut kalau Risda berbuat nekat seperti kebanyakan anak broken home lainnya.
"Da," Panggil Rania.
"Ada apa?" Tanya Risda.
"Kalo ada apa apa, lo bisa kesini. Jangan bertindak nekat ya nantinya, gue ngak mau temen gue kenapa napa," Ucap Rania.
"Iya Da, lo ngak sendirian kok. Kita semua ada disini untuk lo," Tambah Mira.
"Gue hanya takut lo nanti berbuat nekat dirumah, secara kan emang lo orangnya nekatan," Ucap Rania.
"Mau gue anterin pulang aja, Da? Sekalian gue bisa jelasin ke mereka, gue ngak ada acara apapun kok setelah ini, lo tenang aja." Ucap Septia.
"Gue juga ngak senekat itulah, gue punya Tuhan. Ngak mungkin gue nekat bunuh diri, lagian gue juga takut kalo dihukum bolak balik dinereka nanti," Ucap Risda.
"Lo yakin, Da?" Tanya Mira yang sedikit tidak yakin dengan ucapan Risda.
"Tergantung, mental gue aman atau ngaknya." Dengan mudahnya Risda menjawab.
__ADS_1
"RISDA!" Teriak mereka bersamaan kearah Risda hingga membuat Risda reflek menutupi kedua telinganya.
"Iya ya, tapi gue ngak bisa janji. Ya udah gue pulang dulu,"
"Kalo lo nekat nyakitin diri lo sendiri, gue hajar lo, Da. Gue ngak akan pernah ampunin lo," Seru Mira.
"Hajar hajar aja, gue ngak akan ngelawan."
Setelah mengatakan itu, Risda langsung bergegas menjalankan sepedah motornya untuk menjauh dari tempat tersebut. Teman temannya yang melihat kepergian Risda merasa kasihan dengan gadis itu, entah seberapa besar rasa sakit yang kini ditanggungnya sendiri.
"Da! Besok lo harus masuk sekolah!" Teriak Mira dengan kerasnya.
Risda yang mendengar teriakan itu hanya mengangkat tangan kirinya tinggi tinggi, ia pun melambaikan tangannya pelan. Tanpa mereka ketahui, bahwa saat ini Risda tengah menangis dengan derasnya, ia melajukan motornya sekitar 20 meter dari rumah Rania, lalu berhenti ditepi jalan.
Risda pun menepikan motornya disebuah warung yang sedang tutup, jujur saat ini Risda sedang ketakutan untuk pulang kerumah. Sebenarnya Risda tidak ingin pulang, akan tetapi dirinya tidak mau kelihatan lemah didepan teman temannya itu.
Di buah warung yang ada ditengah tengah sawah, dan warung tersebut berada didekat sungai yang cukup curam menjorok kedalam. Kini Risda berdiri dipingir trotoar pembatas jalan dan sungai, dengan wajah yang menatap kearah aliran air yang sangat deras.
Setetes air mata meluruh jatuh menuju keair sungai, sangking tingginya jembatan yang dinaiki oleh Risda dari aliran sungai, sampai sampai tetesan air mata Risda tidak terlihat menetes mengenai arus sungai.
"Untuk apa gue hidup didunia ini? Orang satu satunya yang membuat gue bertahan hidup sudah ngak mempercayai gue lagi, kebohongan apa yang telah gue ucapkan? Risda ngak pernah membohongimu Bun, GUE PENGEN MATI!" Teriak Risda mengutarakan isi hatinya saat ini.
Risda pun bersandar pada pagar pembatas tersebut, ia begitu sangat terluka saat ini. Menurutnya tidak ada lagi yang bisa membuatnya bertahan hidup didunia yang kejam ini, meskipun teman temannya peduli dengan dia akan tetapi dirinya hanya merasa sendirian sakarang ini.
Jalanan itu terlihat sangat sepi, sehingga Risda bisa menyuarakan isi hatinya disana. Risda tidak tau kesalahannya apa saat ini, sehingga membuat Ibunya sangat marah kepadanya. Disatu sisi Ibunya sangat khawatir dengan Risda yang sejak tadi dihubungi tidak bisa karena Risda mematikan ponselnya begitu saja.
Risda benar benar tidak ingin diganggu untuk saat ini, hal itu membuat Ibunya semakin panik dengan keadaan Risda. Apalagi, Risda saat ini belum sampai dirumah, sudah 1 jam yang lalu mereka saling ngobrol, hal itulah yang membuatnya sangat gelisah, Ibunya salah paham dengan anak bungsunya karena ucapan orang lain.
"Kenapa sih, ngak ada yang sayang dengan Risda! Lantas untuk apa Risda dilahirkan kalau akhinya disia siakan seperti ini, kenapa malaikat maut ngak ngambil nyawa gue saja? Gue lelah, pengen mati Arghhhhh!" Teriak Risda.
Risda pun memanjat pembatas jalan tersebut, hatinya benar benar kecewa saat ini. Tidak ada alasan untuknya agar tetap mempertahankan nyawanya, ia ingin sekali mengakhiri semuanya saat ini, dan yang ada didalam pikirannya hanyalah lompat kesungai itu.
"Kalian pengen gue mati kan? Jangankan kalian, gue sendiri pun pengen mati saat ini. Maafin Risda yang telah mengecewakan kalian semua, entah nantinya jasad Risda akan ditemukan atau ngak, Risda hanya berharap kalian bahagia tanpa Risda. Risda lelah, Risda pengen istirahat untuk selamanya,"
Rasa sesak didada Risda kembali menyeruak kembali, ia begitu terluka saat ini dan tidak akan bisa dengan mudah untuk diobati. Orang satu satunya yang membuatnya bertahan didunia ini, telah kecewa dengan hal yang sama sekali tidak ia ketahui.
Risda membentangkan kedua tangannya, ia pun memejamkan kedua matanya dengan erat. Sungai itu adalah sungai yang cukup besar dan dalam, arusnya pun sangat tenang akan tetapi mampu untuk menghanyutkan. Entah berapa banyak nyawa yang telah dimakan oleh arus tersebut, akan tetapi jasadnya sama sekali tidak ditemukan.
"Lompat aja kalo mau," Ucap seorang lelaki dibelakang Risda hingga membuat Risda membuka kedua matanya untuk melihat siapa lelaki itu.
"Ngapain lo disini?" Tanya Risda dengan mata yang terus mengalirkan air mata.
"Lihat pertunjukan." Jawabnya dengan singkat, padat, dan jelas.
"Gue bukan topeng monyet, pergi saja lo dari sini," Usir Risda kepada pemuda itu.
"Lompatlah, gue rekam."
Pemuda itu pun langsung mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celananya, melihat itu langsung membuat Risda merasa jengkel dengan sosok lelaki yang tidak lain adalah Afrenzo yang entah sejak kapan sudah ada ditempat itu.
"Seharusnya lo bujuk gue biar ngak lompat, tapi lo justru malah dukung gue untuk lompat," Keluh Risda.
"Ngak penting." Jawabnya singkat.
"Yaudah gue lompat aja,"
Entah mengapa kedatangan Afrenzo ketempat itu langsung membuat Risda merasa kesal sekali dengan pemuda itu. Entah sejak kapan pemuda itu sudah ada disana dengan sepedah motor yang terparkir didekat sepedah milik Risda.
"Pake salto kalo bisa," Afrenzo pun mengarahkan kameranya ponselnya kearah Risda.
"Lo jahat banget, Renzo. Lo kan belom ngajarin gue caranya salto, tapi lo nyuruh gue salto."
Karena sebalnya langsung membuat menghentakkan kakinya, tanpa ia ketahui bahwa pihaknya meleset sehingga dirinya sangat terkejut. Risda pun berteriak karena dirinya yang akan terjun bebas kesungai tersebut akan tetapi dengan sigap Afrenzo menangkap tangannya.
"Renzo tolong! Jangan lepasin tangan gue!" Teriak Risda ketakutan ketika tubuhnya sudah bergelantungan dipagar pentas sungai.
"Katanya lo mau mati," Ucap Afrenzo dingin dan datar.
__ADS_1
"Lalu untuk apa lo nangkap tangan gue? Lepasin tangan gue sekarang, biarin gue mati." Pungkas Risda.
Risda kini tengah bergelantungan dipinggir jembatan, jika bukan karena tangan Afrenzo yang memeganginya saat ini mungkin dirinya sudah lama terjebur kesungai itu. Risda merasa merinding ketika melihat aliran sungai yang ada dibawahnya itu, ia pun memegangi tangan Afrenzo yang tengah memegangi tangannya itu.
"Aaaa... Jangan dilepasin! Gue takut,"
Risda ketakutan sendiri ketika merasakan bahwa tangannya sedikit meleset dari tangan Afrenzo, Afrenzo pun tersenyum tipis kearah Risda ketika melihat Risda ketakutan seperti itu. Afrenzo lalu menarik tangan Risda untuk mengangkat tubuh gadis itu, Afrenzo pun membantu Risda untuk kembali berpijak pada trotoar.
Risda langsung duduk ditrotoar tersebut dan besandar kepada pagar pembatas itu, ia memeluk lututnya sendiri dengan air mata yang membasahi pipinya saat ini. Melihat itu langsung membuat Afrenzo berjongkok didepannya, Risda hanya bisa menundukkan kepalanya didepan Afrenzo.
"Cengeng?" Tanya Afrenzo.
"Gue emang cengeng dari dulu, lo nya aja yang ngak tau tentang gue," Jawab Risda dengan bibir yang bergetar.
"Kenapa?"
"Hah? Kenapa apanya?"
"Kenapa nangis?"
"Gue ngak tau, tadi tiba tiba Nyokap gue telpon dan ngomong ke gue kalo dia kecewa pada gue karena ada yang nuduh gue suka bolos disekolahan, Renzo. Dan lo tau kan kalo hanya Nyokap gue yang buat gue tetap semangat hidup, dimarahi seperti itu rasanya sakit banget. Apalagi hal itu sama sekali tidak pernah gue lakuin, gue ngak pernah bolos sekolah selama ini kan? Lo tau sendirikan, Renzo?"
Tangis Risda pun pecah seketika dihadapan Afrenzo, Afrenzo hanya berdiam diri menyaksikan tangisan itu tanpa menyelanya. Sampai akhirnya Risda merasa sedikit tenang saat ini, Afrenzo pun memegangi pundaknya membuat Risda menoleh kearahnya.
"Gue tau, sudah dijelasin ke Nyokap lo?"
"Gue udah jelasin yang sebenarnya, tapi dia sama sekali tidak percaya dengan ucapan gue. Gue bahkan sudah ngasih nomor Guru ke Nyokap gue, agar Nyokap gue bisa tanya langsung ke para Guru,"
"Lalu kenapa nangis?"
"Ya sedih lah, pertanyaan lo kagak masuk akal sekali, Renzo. Orang nangis itu karena sedih, emang lo yang ngak bisa nangis, wajah pun selalu datar,"
"Masalahnya sudah selesai kan?"
"Ngak tau. Ponsel gue udah gue matiin dari tadi, gue ngak mau ada yang ngehubungi gue saat ini. Nyokap gue nyuruh gue pulang, tapi gue ngak mau pulang kerumah, gue takut dimarahi lagi, Renzo." Air mata Risda pun kembali bercucuran dengan derasnya.
"Gue antarin pulang," Ucap Afrenzo sambil berdiri.
"Kalo lo yang nganterin gue pulang kerumah, justru gue bakalan semakin diomelin karena datang dengan cowok. Gue kan ngak pernah keluar bareng cowok, bagaimana bisa gue pulang dianter oleh lo," Ucap Risda sambil menghapus air matanya.
"Mana ponsel lo?" Tanya Afrenzo sambil menyodorkan tangannya.
"Mau ngapain? Itu kan benda privasi gue, lo ngak bisa ngambil gitu aja,"
"Serahin sekarang!" Ucap Afrenzo semakin dingin dengan tatapan tajam.
Risda pun terlihat ketakutan dihadapan Afrenzo saat ini. Ia pun melepaskan tas ranselnya yang ada dipunggungnya saat ini, dengan terpaksa dirinya lalu mengeluarkan ponselnya itu dan menyerahkannya kepada Afrenzo dengan ketakutan.
Waktu menunjukkan pukul 4 sore, itu artinya sudah 2 jam yang lalu Risda keluar dari lingkungan sekolah. Afrenzo memencet tombol on diponsel milik Risda akan tetapi ponselnya sama sekali tidak mau menyalah dan hal itu langsung membuat Afrenzo melirik kearah Risda.
"Udah gue matikan, Renzo." Cicit Risda pelan.
"Sejak kapan?" Tanya Afrenzo dengan tegasnya.
"Ngak tau, pokoknya tadi sejak gue keluar dari rumah temen gue"
Afrenzo pun memejamkan kedua matanya dan menghela nafas pelan. Menurutnya tindakan Risda kali ini akan semakin membuat Ibunya merasa cemas, apalagi sampai ngak ada kabar setelah sambungan telpon itu terputus.
"Maafin gue," Ucap Risda pelan karena ketakutan dihadapan Afrenzo.
Afrenzo pun menekan tombol power ponsel tersebut dengan lama, tak beberapa lama kemudian ponselnya pun kembali menyala. Terlihat disana begitu banyak panggilan telpon yang masuk setelah beberapa saat ponsel kembali dinyalakan.
Begitu banyak pesan yang masuk kedalam ponsel Risda, bukan hanya pesan dari Ibunya saja melainkan pesan dari teman temannya juga yang menanyakan keberadaan dari Risda. Ponselnya ifu terlihat sangat ramai dengan pesan masuk, sekitar ada 50 pesan dari Ibunya, dan 100 pesan dari teman temannya.
"Lo tau seberapa khawatirnya mereka?" Tanya Afrenzo sambil mengarahkan layar ponsel tersebut kearah wajah Risda.
Risda memerhatikan pesan yang masuk tersebut, dan kembali menundukkan kepalanya, "Maafin gue,"
__ADS_1
"Minta maaf kepada mereka, bukan ke gue."