Pelatihku

Pelatihku
Episode 75


__ADS_3

Risda pun mendorong tubuh Kartika untuk duduk dibangkunya itu, ia pun bersedekap dada dihadapan Tika dan keempat temannya itu.


"Lo apa apa'an sih, Da?" Tanya Kartika sambil nyolot.


"Jelaskan semuanya!" Sentak Risda.


"Lo ngumpulin kita buat apa, Da?" Tanya Mira dengan nada yang tidak bersahabat.


Keempatnya itu pun merasa bingung dengan maksud dari Risda, apalagi Risda yang mendorong tubuh Kartika dengan kerasnya dibangkunya bahkan menyuruhnya untuk duduk dibangku tersebut. Sudah seminggu mereka musuhan, akan tetapi baru kali ini Risda melakukan itu.


"Soal ponsel milik Nyokap lo, Nda." Jawab Risda sambil menatap kearah Nanda.


"Ponsel Nyokap gue?" Tanya Nanda yang sepertinya tidak paham dengan ucapan Risda.


"Katakan Tika!" Sentak Risda.


Mendengar itu langsung membuat seluruhnya melontarkan begitu banyak pertanyaan kepada Kartika, Kartika seakan akan tengah kebingungan saat ini. Entah pertanyaan siapa yang harus dirinya jawab, seakan akan dirinya kebingungan harus menjawab seperti apa.


"Jujur Tika! Lo tadi ngomong apa ke gue?"


"Lo ngejebak gue, Da?" Tanya Kartika dengan tatapan yang tidak suka kepada Risda.


"Lo emang ngak tau? Ini permainan gue, Tik. Gue ngak mudah percaya sama orang," Jawab Risda.


"Permainan? Maksud lo apa'an, Da?" Tanya Rania.


"Permainan seperti apa yang lakuin, Da?" Tanya Septia.


"Kalo kita jelaskan, kalian pasti tanpa sengaja membocorkannya," Ucap Mira.


*Flash back on*


Mira dan Risda kini berada disebuah gazebo yang ada disekolahan itu, keduanya hanya duduk berdua. Setelau selesai melakukan sholat dhuhur mereka berdua tidak langsung kembali ke kelas melainkan mampir disebuah gazebo.


"Da, gue kok ngerasa curiga sama Tika sih," Ucap Mira kepada Risda.


"Curiga gimana maksud lo?" Tanya Risda yang pura pura tidak mengerti arah pembicaraan dari Mira.


"Coba bayangin, kenapa tiba tiba ponsel milik Nyokapnya Nanda hilang. Kan waktu itu hanya ada lo dan Tika doang disana, apa lo ngak ngelihat dia ngelakuin apapun?"


"Gue juga ngerasa kayak gitu, Ra. Jujur aja gue udah curiga banget sama tuh orang, kan waktu itu gue fokus sama ponsel gue, jadi gue ngak tau gerak geriknya. Anehnya juga, dia nyembunyiin dimana tuh ponsel? Bukankah kita sudah ngeledah semuanya? Tapi tidak nemuin juga,"


"Iya juga sih, Da. Gimana dia bisa nyembunyiinnya, dan juga bagaimana ponsel itu langsung tidak bisa dihubungi?"


"Ada dua kemungkinan, Ra. Dia matiin ponselnya, atau ngak dia cabut kartu SD nya. Kan tidak bisa lagi kalo ngak dua itu,"


"Bida, Da. Dengan mode pesawat, telpon tidak akan bisa masuk,"


"Iya juga sih, bagaimana kalo kita buat sebuah rencana? Tapi jangan sampai yang lainnya tau, ini hanya untuk kita berdua.


"Rencana lo apa, Da?"


"Bagaimana kalo kita musuhan untuk sementara waktu, dengan cara itu gue bisa deketin Kartika tanpa membuat dirinya curiga."


"Bagus juga, baiklah gue setuju soal itu,"


*Flash back off*


"Kalian membuat rencana tanpa ngelibatin kita?" Tanya Rania.


"Sorry," Ucap Risda.


"Jadi ini rencana lo? BANGSAAT LO, DA!" Bentak Kartika.


Brakkk...

__ADS_1


Bentakkan tersebut langsung membuat Risda memukul meja yang ada didepannya dengan sangat kerasnya, hingga membuat Kartika gelagapan tanpa bisa berbicara lagi. Tatapan tajam Risda pun terarah kepada Kartika, Kartika belum pernah melihat Risda bersikap seperti itu hingga membuatnya sedikit ngerasa merinding.


"JAWAB SEKARANG!" Bentak Risda balik.


"Iya ya, gue yang ngambil!" Teriak Kartika.


Situasi ditempat itu pun kini tengah memanas, banyak kata kata kasar yang dilontarakan untuk Kartika, hingga membuat Kartika menangis dan menyesali perbuatannya itu. Akan tetapi, tangisan tersebut seakan akan tudak dipedulikan oleh mereka semua, bahkan Risda sendiri pun tidak segan segan memberikan kata kata yang menyakitkan.


"Gue ngak nyangka lo pelakunya, Tik."


"Emang keluarga lo suka maling ya? Bisa bisanya lo ngambil ponsel milik orang lain,"


"Lo emang keturunan iblis, Tik. Tangisan lo itu palsu semua!"


"Apa lo juga yang ngambil uang kas kelas?" Tanya Risda.


"Iya gue yang ngambil!"


"Gue sudah curiga sejak awal, sejak uang itu gue pegang, lo ngak tau kan dimana tempat uang itu?"


"Lo harus ganti rugi semuanya!" Sentak Rania.


"Gue akan ganti rugi secepatnya!"


"Gue tunggu lo hari senin, kalo sampai lo ngak ngebalikin semuanya, gue dan yang lainnya akan datang kerumah lo. Biar mereka semua tau sikap lo," Ancam Rania.


"Kalian kagak bakalan tau rumah gue, kalian belom pernah kesana."


"Tapi gue tau, Tik. Dengan mudahnya gue bisa datang kerumah lo kapan saja," Ucap Risda.


"Lo belom pernah kesana,"


"Teman gue tidak sedikit, Tik. Tanpa lo kasih tau juga, gue udah tau rumah lo dimana,"


Risda terlihat begitu licik saat ini, bahkan Kartika dibuatnya menjadi tidak bisa berkutik apapun. Sebelumnya, Risda sudah mengetahui rumah dari Kartika karena teman seperguruannya yang bernama Anna itu pun tinggal berada tidak jauh dari rumah milik Kartika.


"Siapa suruh lo bermain main dengan gue? Gue ngak suka orang yang pembohong kayak lo, Tika. Mau pindah sekolah? Pindah aja lo, gue kagak peduli, yang penting balikin apapun yang lo ambil lebih dulu."


Mendengar ucapan tersebut langsung membuat Kartika mengepalkan tangannya erat kepada Risda, dirinya pun bergegas untuk pergi dari tempat tersebut meninggalkan mereka. Kini keempatnya pun menatap kearah Risda, sementara Risda yang ditatap pun hanya menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.


"Lo ngerencanain ini tanpa ngomong ke gue, Da?" Tanya Rania.


"Sorry, Ran. Sorry juga telah membuat kalian kecewa sama gue sebelumnya, gue ngak bener bener marah kok sama kalian, gue hanya ingin pelakunya segara ketemu saja."


"Gue pikir lo bener bener marah ke kita, Da. Gue ngak nyangka dengan apa yang lo lakuin," Ucap Septia.


Septia pun langsung menggerakkan tangannya untuk menarik tubuh Risda kedalam pelukannya itu, hal itu pun membuat ketiganya ikut serta berpelukan. Disaat saat seperti ini, Risda merasa bahagia karena dipertemukan oleh teman teman seperti mereka.


"Bagaimana mungkin gue bisa marah ke kalian?" Tanya Risda.


"Marah lo kayak beneran emang, Da. Lebih serem dari Afrenzo," Ucap Mira.


"Eh lo belom jawab pertanyaan gue, Ra. Jawab sekarang!" Perintah Risda sambil melepaskan diri dari pelukan mereka semua.


"Pertanyaan apa maksud lo, Da? Lo ngak pernah tanya apapun ke gue belakangan ini deh,"


"Bukan belakangan ini, kan kita musuhan anjiiirrr! Gue tanya ke lo, kenapa lo bisa ngebenci Renzo seperti itu? Dan sampai sampai lo ngomongin soal Renzo yang buruk buruk,"


"Gue ngerasa cemburu, Da. Lo lebih dekat dengan dia daripada gue, lagian Satria juga yang memprovokasi gue untuk benci ke Renzo dan nyuruh gue misahin lo sama Renzo,"


"Si*lan emang tuh orang. Gue ngak akan tinggal diam setelah ini, Renzo ngak salah bisa bisanya disalahin oleh tuh orang,"


"Sorry juga, Da. Gue telah ngelarang larang lo gitu aja,"


"Bukan masalah, yang terpenting gue udah tau siapa pelakunya yang bikin lo benci ke Renzo."

__ADS_1


"Iya Da,"


"Gue pulang dulu ya, soalnya nanti ada latihan malam. Mumpung ekstrakurikuler gue libur hari ini, jadi gue bisa nyiapin barang barang yang harus gue bawa nanti,"


"Iya Da, kita semua juga mau pulang kok. Sekalian kita bareng bareng ke parkiran aja,"


Mereka semua pun bergegas untuk menuju keparkiran, sesampainya disana, mereka langsung menuju kearah sepedah motor mereka masing masing. Mereka semua pun segera meninggalkan halaman sekolahan itu dengan bersama sama.


*****


"Apa saja yang harus gue bawa ya? Mukenah sudah, sakral sudah, minum sudah, bekal sudah, baju ganti sudah, handsaplass sudah, Al Qur'an sudah, peralatan mandi sudah,"


Risda pun menjadwal apa saja yang harus dibawa disaat latihan malam yang akan dilakukan nanti malam itu. Dirinya tidak mau ada sesuatu yang terlewatkan yang belum dirinya bawa, sehingga dirinya pun menjadwal ulang peralatannya itu.


Setelah dirasa semuanya sudah lengkap, dirinya pun langsung memasukkan semuanya kedalam tas ransel yang akan dirinya pakai untuk acara tersebut. Begitu banyak yang harus dirinya bawa, sehingga tas ransel tersebut terlihat sangat penuh dan berat untuk diangkat.


"Ini pertama kalinya gue ikut latihan malam, disaat semua remaja berpasangan untuk malam mingguan, gue lebih fokus untuk latihan malam daripada malam mingguan. Kan gue juga jomblo, untuk apa gue malam mingguan anjiiirr! Penuh penuhin jalan aja,"


Risda pun langsung bergegas masuk kedalam kamar msndinya untuk mengganti pakaiannya itu sekaligus membersihkan tubuhnya. Setelahnya, dirinya pun bergegas untuk menata tas ranselnya diatas sepedah motor miliknya.


"Kak, aku berangkat dulu," Ucap Risda tanpa sahutan dari Indah.


Risda juga tidak mengharapkan bahwa Risda akan mendapatkan balasan dari Indah, karena dirinya tau jika indah membalas ucapannya itu justru akan membuat Risda sakit hati lagi. Tanpa menunggu jawaban dari Kakaknya itu, Risda langsung tancap gas untuk pergi dari tempat itu.


Risda langsung bergegas untuk menuju ke aula beladiri yang berada didekat sekolahan itu, bahkan tempat tersebut memiliki pagar yang sama dengan sekolah itu karena memang tempatnya jadi satu.


Aula beladiri yang besar tersebut berada didalam halaman sekolahan itu, sehingga bisa dikatakan bahwa beladiri disana begitu unggul. Sekolahan dan aula beladiri itu saling berdempetan, sehingga kedua tempat itu sama saja.


"Kayaknya masih sepi, apa gue berangkat terlalu cepat ya?" Guman Risda ketika sudah sampai diarea parkiran aula beladiri.


Risda pun langsung memarkirkan sepeda motornya itu, setelahnya dirinya pun masuk kedalam aula beladiri sambil membawa tas ransel miliknya itu sambil menunggu teman teman yang lainnya datang.


Risda berangkat lebih awal daripada yang lainnya, sehingga tempat tersebut terlihat sangat sepi dan hanya ada dirinya saja disana. Tak beberapa lama kemudian, sosok seorang lelaki pun berjalan menuruni tangga yang ada didalam aula beladiri itu.


"Lo sudah berangkat?" Tanya orang tersebut kepada Risda hingga membuat Risda langsung menoleh kearahnya.


"Iya, Renzo. Guru pembimbing ekstra gue sedang ada acara, jadi ekstranya libur tadi."


Afrenzo pun menganggukkan kepalanya paham atas penjelasan dari Risda, "Taruh tas mu di rak yang ada disana," Ucap Afrenzo sambil menunjuk kearah sebuah rak yang cukup besar.


"Baik pelatih yang terhormat,"


Risda pun langsung bergegas untuk mengangkat tasnya yang berat itu, dirinya pun langsung menaruh tasnya tersebut disebuah loker yang ada di rak tersebut. Setelahnya, dirinya pun duduk kembali ditempatnya sebelumnya itu.


"Renzo, ini pertama kalinya gue ikut latihan malam. Apa latihannya sama seperti latihan biasanya?" Tanya Risda kepada Afrenzo yang tengah sibuk membersihkan sebuah golok.


"Beda, dan latihan ini bukan hanya manusia yang hadir."


Jawaban tersebut langsung membuat Risda merasa merinding, memang namanya latihan malam jelas akan ada penampakan hantu yang akan mereka lihat dimalam hari. Dan hal itu membuat Risda langsung merasa merinding karena ucapan Afrenzo.


"Maksud lo?" Tanya Risda.


"Lo akan tau nanti, kalo sudah dimulai, jangan kebanyakan ngomong."


"Iya iya, gue akan selalu ingat ucapan lo, Renzo. Meskipun agak ngeri membayangkannya, gue yang paling takut dengan hal seperti begituan, justru lo kelihatan biasa saja,"


"Lama lama lo juga akan terbiasa, Da. Kita dan sebangsa mereka itu hidup berdampingan, bahkan sekarang saja jika lo bisa ngelihat maka lo akan tau sosok seorang wanita yang berambut panjang tengah duduk tidak jauh dari kita,"


Afrenzo lalu menunjuk kesuatu arah, sementara Risda langsung mengikuti kemana Afrenzo menunjuk itu. Akan tetapi, Risda tidak melihat apapun disana, bahkan hanyalah ruangan hampa yang ditempati oleh Risda dan Afrenzo saat ini.


"Lo bohong!"


"Ada, apa lo mau lihat?"


"Ngak, gue takut!"

__ADS_1


"Penakut,"


"Bodoamat!"


__ADS_2