
Risda dan yang lainnya tengah berada didalam aula beladiri, mereka tengah bersiap siap untuk berangkat dalam acara pelatihan gabungan itu. Afrenzo kini berada dilantai atas aula tersebut, dan dirinya juga tengah bersiap siap saat ini. Risda sangat gugup dengan pelatihan itu, karena baru pertama kali dirinya mengikuti pelatihan ditingkat yang lebih tinggi.
"Da, gue takut pelatihnya nanti keras keras. Gimana kalo kena hukuman nanti?" Tanya Anna yang sedang merem*as jemarinya karena takut.
"Keknya nggak terlalu keras deh, perasaan lebih kerasan Renzo kalo ngelatih. Santai saja, selama lo hafal materinya, lo kagak bakalan kena hukuman nantinya," Ucap Risda yang menguatkan temannya itu.
"Tapi gue kagak hafal."
"AN!" Teriak Risda sambil mengepalkan tangannya dengan erat kearah Anna karena gadis itu tidak hafal dengan materinya.
Kemarin mereka telah menghafalkannya sangat lama, kenapa gadis itu belum juga hafal soal itu. Hal itulah yang membuat Risda sangat geram, itu artinya latihannya kemarin sama sekali tidak memiliki dampak bagi Anna.
"Maapin, Da. Gue sudah berusaha semaksimal mungkin tapi takdir berkata lain," Ucap Anna sambil menyengir kearah Risda.
"Bodoamat sama urusan lo!"
Risda pun sangat kesal dibuat Anna, dirinya pun langsung bergegas untuk pergi meninggalkan ruangan itu. Risda langsung bergegas untuk naik kelantai atas, untuk memeriksa Afrenzo yang tengah bersiap siap saat ini.
"Renzo," Ucap Risda sambil membuka pintu ruangan itu dan, "Aaaa....." Teriak Risda ketika melihat Afrenzo yang telanj*ng dada.
Risda langsung kembali menutup pintu itu karena tidak jadi masuk kedalam ruangan tersebut, sementara Afrenzo yang mendengar teriakan seseorang langsung segera bergegas untuk memakai pakaiannya itu. Niatnya Afrenzo hendak mengganti pakaiannya menjadi pakaian beladiri, berhubung ada seseorang yang berteriak membuatnya memakai kembali pakaiannya itu.
Risda masih mengatur nafasnya yang memburu, dirinya tidak memercayai apa yang baru saja dia lihat didalam sana. Risda pun bersandar pada pintu itu sambil memegangi handle pintu, tiba tiba pintu tersebut dibuka oleh Afrenzo dari dalam sehingga membuat Risda hendak terjatuh kebelakang, akan tetapi beruntunglah karena Afrenzo langsung menangkap tubuhnya itu.
"Renzo maafin gue," Cicit Risda lirih dan tidak berani untuk menoleh kearah Afrenzo.
"Ngapain lo masuk sembarangan tanpa mengetuk pintu?" Tanya Afrenzo dengan nada dinginnya, Risda dapat mengetahui bahwa lelaki itu sedang marah hanya dengan cara bicaranya.
"Gue mau masuk ambil minum doang, lo sih kenapa pake ganti baju didalam sana sih?" Risda sangat kesal dengan apa yang dilakukan oleh Afrenzo sebelumnya.
"Itu ruangan gue, terserah gue mau berbuat apa."
"Tapi nggak begitu juga kali,"
"Nggak begitu gimana?"
Risda pun langsung menunjukkan kearah dada Afrenzo dengan jari telunjuknya, dirinya menunjuk tanpa menoleh kearah Afrenzo karena takut. Afrenzo pun hanya berdiam saja tanpa berbuat apa apa, dirinya memandang kearah dimana Risda menunjuk saat ini.
"Seharusnya lo pake baju lo itu," Ucap Risda lagi lagi yang tanpa menoleh.
"Tatap gue sekarang!" Perintah Afrenzo dengan tegasnya kepada Risda.
"Nggak mau, lo nggak pake baju. Nanti mata gue ternodai lagi,"
Terdengar helaan nafas dari mulut Afrenzo, mendengar itu membuat Risda merasa merinding dengan lelaki itu. Afrenzo pun memegangi pundak Risda, dan langsung membuat Risda terkejut bukan main setelahnya.
"Siapa yang nggak pake baju?" Tanya Afrenzo.
"Lo kan emang nggak pake baju."
"Balik badan sekarang!"
"Nggak mau!"
"Da... Balik badan sekarang atau gue paksa."
Mendengar itu justru semakin membuat Risda panik, dirinya pun memejamkan mata sambil berbalik untuk berhadapan dengan Afrenzo. Risda benar benar takut dengan lelaki itu, apalagi nada bicaranya yang seakan akan tidak bersahabat dengan dirinya itu.
"Buka mata lo!" Perintah Afrenzo lagi lagi dengan nada yang membuat Risda takut.
"Nggak mau."
Risda masih saja tidak mau menurut dengan ucapan Afrenzo, dan akhirnya Afrenzo menarik tangannya itu dan menempelkan telapak tangan Risda didadanya. Seketika hal itu langsung membuat Risda membuka matanya, dan dirinya pun melotot ketika mengetahui bahwa tangannya menyentuh dada bidang milik Afrenzo yang hanya terpisahkan oleh selembar kain.
"Detak jantung lo keras banget, Renzo. Lo habis lomba maraton?" Tanya Risda yang mampu merasakan detak jantung milik Afrenzo melalui salah satu telapak tangannya itu.
Afrenzo langsung melepaskan pegangan tangannya begitu saja, sementara Risda langsung menarik tangannya kembali dari dada bidang milik Afrenzo itu. Afrenzo pun menjadi salah tingkah dihadapan Risda, entah wajah Risda yang seperti itu langsung membuatnya menjadi salah tingkah.
"Wajah lo kok kek hello kitty sih, Renzo? Merah gitu,"
Kedua pipi Afrenzo pun terasa sedikit panas dan gerah, hal itu membuat kedua pipinya terlihat sedikit memerah dan bahkan sikapnya menjadi salah tingkah dihadapan Risda. Risda hendak meletakkan punggung tangannya dikening Afrenzo, akan tetapi lelaki itu segera menyingkirkan tangan milik Risda itu.
__ADS_1
"Gue hanya mau meriksa apakah lo sakit atau nggaknya, Renzo. Wajah lo merah gitu sih,"
"Gue nggak sakit. Lo mau ngapain kemari?"
"Gue tadi kan sudah bilang, kalo gue mau ngambil minuman disini,"
"Nggak ada. Semuanya udah dilantai bawah,"
"Iya kah? Kok gue nggak lihat tadi,"
Risda pun menoleh ke sekelilingnya itu, dirinya sama sekali tidak melihat adanya sebuah kardus yang berisikan minuman gelas disana. Risda lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal, karena dirinya sebelumnya hanya beralasan kepada Afrenzo karena merasa penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Afrenzo diatas sana.
"Turun sekarang, gue mau ganti baju," Usir Afrenzo kepada Risda dari tempat itu.
"Lo kok ngusir sih?" Risda seakan akan tidak terima jika dirinya diusir dari tempat tersebut.
"Emang lo mau lihat gue ganti baju?"
"Nggak! Nanti gue kena sawan lagi, mending gue turun aja daripada lihat lo ganti baju sembarangan. Nanti mata gue sakit,"
"Gue nggak nyuruh lo untuk tetap disini."
"Tapikan... Ya sudahlah, gue pergi saja kalo gitu."
Risda dengan kesalnya langsung menuruni tangga tersebut, Afrenzo yang melihat itu langsung tersenyum tipis karena merasa lucu ketika wajah Risda sedang kesal seperti itu. Afrenzo pun kembali masuk kedalam ruangan aula itu, dan dirinya menutup pintu tersebut.
Risda yang mendengar bahwa pintu itu ditutup, hal itu seketika membuatnya menoleh kembali kearah pintu itu. Risda tidak jadi turun kelantai dasar, melainkan dirinya tetap ditempatnya sambil menandang kearah pintu yang tengah tertutup dengan rapatnya itu.
"Menyebalkan sekali, gue pikir dia tengah menghafalkan materi diatas karena terlalu lama berada diatas. Eh nyatanya? Dia bahkan belom berganti pakaian, udah kayak cewek aja kalo dandan habis seabad." Gerutu Risda sambil menatap kearah pintu itu.
5 menit kemudian, Afrenzo lalu membuka pintu ruangan itu, dan dirinya begitu terkejut ketika melihat Risda yang masih berada ditangga ruangan itu. Afrenzo langsung menghampiri Risda, sementara gadis itu langsung bergegas untuk pergi ketika melihat pintu ruangan aula atas tiba tiba terbuka.
"Da!" Panggil Afrenzo dan langsung bergegas untuk mengejarnya.
Mendengar panggilan itu langsung membuat Risda terdiam ditempatnya, dirinya pun langsung menoleh kearah Afrenzo yang masih berjarak beberapa anak tangga darinya. Risda langsung tersenyum kearah Afrenzo ketika mengetahui bahwa lelaki itu sudah berdiri dihadapannya sast ini.
"Lo ngapain masih disini?" Tanya Afrenzo.
"Maksud gue, kenapa lo berdiri ditempat lo sebelumnya? Bukannya gue udah bilang sama lo untuk pergi ke lantai dasar?"
"Ucapan lo panjang bener? Lo masih Renzo kan? Biasanya tuh Renzo paling anti soal berbicara," Bukannya menjawab pertanyaan dari Afrenzo, Risda pun mencoba untuk mengalihkan pembicaraan itu.
"Ngapain?"
Afrenzo sama sekali tidak bisa dialihkan dalam pembicaraannya itu, dan dirinya masih mempertanyakan tentang hal yang ingin dirinya ketahui. Risda pun menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, karena melihat tatapan Afrenzo yang semakin menajam kearahnya.
"Gue... Gue... Gue bosan!" Ucap Risda dengan terbata bata dan mempertegas dikalimat akhirnya.
"Hafalin jurus semuanya," Ucap Afrenzo.
"Gue sudah hafal."
Afrenzo pun mendekatkan wajahnya diwajah Risda dengan tatapan yang sangat melekat, hal itu langsung membuat Risda berjalan kebelakang sambil menuruni tangga tersebut. Sementara Afrenzo berjalan semakin mendekat kearahnya, dan hal itu langsung membuat Risda merasa merinding setelahnya.
"Lo mau ngapain?" Tanya Risda panik.
"Mau lo...." Belum sempat Afrenzo melanjutkan perkataannya, akan tetapi Risda langsung menyelanya.
"Tapi kan kita belom halal," Cicit Risda lirih.
Afrenzo pun menghela nafasnya dengan kasar, gadis itu sangat polos dan pikirannya agak mengarah ke hal yang lain. Melihat Afrenzo yang menghela nafas, membuat Risda hanya meringis kearahnya saja.
"Perkataan gue salah, ya?" Tanya Risda.
"Salah."
Afrenzo sebenarnya ingin menguji keseriusan dari ucapan Risda itu, akan tetapi Risda malah beranggapan yang lainnya. Dengan cara menatap seseorang seperti itu, bagi Afrenzo tatapan itu mampu membuat seseorang berkata jujur kepadanya tanpa dirinya minta.
"Terus apa dong?"
"Praktikkan semua jurus yang lo pelajari sekarang,"
__ADS_1
"Tapi jangan natap gue seperti itu lah, gue kan jadi ngeri lihatnya tau. Kayak kagak bersahabat sama sekali tatapan lo itu,"
Bukannya malah meredah, akan tetapi tatapan dari lelaki itu justru semakin menajam. Risda langsung berlari menuju kelantai dasar untuk bergabung dengan yang lainnya, dirinya pun langsung berdiri diatas matras yang ada dilantai dasar hingga membuat seluruhnya bingung.
"Diriku sudah hafal materi yang diujikan, Pelatih yang terhomat. Semalam aku sudah hafalin mati matian sampe larut malam," Ucap Risda.
Ucapan itu seketika langsung membuat seluruhnya merasa bingung, akan tetapi ketika mereka menatap kearah dimana Risda memandang, akhinya mereka paham dengan ucapan dari Risda sebelumnya itu.
"Praktikkan sekarang!" Perintah Afrenzo.
"Baiklah."
Afrenzo masih berdiri ditangga yang ada disana sambil melipat kedua tangannya didepan dadanya, dirinya pun memandang kearah Risda yang tengah melakukan sikap pasang siap bertarung. Risda lalu mempraktikkan apa yang dirinya pelajari semalaman, dan Afrenzo memperhatikan apa yang tengah dilakukan oleh Risda.
Risda masihlah calon siswa dan belum memasuki siswa dasar, karena dirinya belum pernah melakukan ujian untuk pengambilan sebuah sabuk. Sehingga hafalannya belumlah cukup banyak, dan masih menghafal beberapa gerakan sekaligus sikap pasang saja.
Risda benar benar telah menghafalkannya dengan baik dan benar, hal itu langsung membuat Afrenzo kagum kepadanya karena ingatan Risda sangat tajam mengenai materi tersebut. Afrenzo merasa berhasil mendidik gadis itu, dan bahkan mendapati hasil yang memuaskan baginya.
Setelah melakukan gerakan, Risda pun menghafalkan arti lambang dan fisi misi perguruan tersebut sekaligus hal yang dilarang dan diperbolehkan dalam perguruan itu. Karena Risda yang sering dilatih secara privat oleh Afrenzo, hal itu membuatnya lebih hafal daripada yang lainnya.
"Selesai?" Tanya Risda kepada Afrenzo setelah memperaktikkan apa yang dirinya hafalkan itu.
"Gerakan lo emang udah bagus, tapi masih ada beberapa gerakan yang sengaja atau nggaknya lo hilangkan, Da. Termasuk juga tangkisan waktu balik badan," Jelas Afrenzo yang sejak tadi memperhatikan gerakan yang dilakukan oleh Risda.
"Tapi gue ngerasa udah bener deh, Renzo. Lo kan ngajarin gitu ke gue," Risda masih mengeyel dengan penjelasan dari Afrenzo itu, dan merasa bahwa gerakannya memang sudah benar.
"Tapi gerakan tangkisannya mana?"
"Ini nggak pake tangkisan, Renzo. Gue ingat banget kok,"
Sangat sulit untuk berdebat dengan seorang wanita, apalagi wanita selalu menggunakan hati untuk berdebat. Risda merasa benar, akan tetapi Afrenzo mengatakan salah kepadanya. Jika tidak ada bukti mengenai kesalahannya, maka Risda masih saja mengeyel tentang hal itu.
"Da, bagaimana bisa lo mendebat seorang pelatih?" Tanya Vina yang mendengarnya.
Risda pun cemberut mendengar perkataan dari Vina, memang yang ada dihadapannya saat ini adalah pelatihnya. Akan tetapi, Risda masih saja mengeyel bahwa gerakannya itu memang sudah benar.
"Gerakan ini memiliki lawan gerakan lain, serang gue dengan gerakan lo itu. Biar lo tau kesalahan lo itu dimana," Tantang Afrenzo kepada Risda.
"Lo yakin, Renzo?"
"Sangat yakin."
Risda pun melakukan sikap pasang yang langsung diikuti oleh Afrenzo yang melakukan sikap sama. Keduanya kini tengah berhadapan dengan kuda kuda kiri didepan, Risda merasa ragu untuk menyerang lelaki itu karena lelaki yang ada didepannya memang ahlinya beladiri.
"Renzo, nangkisnya jangan keras keras ya? Tangan gue nanti sakit," Ucap Risda memperingatkan kepada Afrenzo.
"Tergantung."
"Tergantung apa?"
"Serang sekarang!" Perintah Afrenzo dengan tegasnya.
Risda langsung bergegas untuk melontarkan sebuah pukulan kepada Afrenzo, dan langsung ditangkis dengan kasarnya oleh Afrenzo menggunakan tangan kirinya. Risda melakukan gerakan kedua yang dimana dirinya menendang, akan tetapi lagi lagi Afrenzo menangkisnya dan kini memakai kedua tangannya itu.
Risda pun melakukan gerakan yang dirinya ingat itu, tiba tiba pinggangnya hampir terkena tendangan Afrenzo akan tetapi langsung dihentikan oleh Afrenzo karena Risda belum siap untuk menangkisnya. Risda yang melihat sebuah tendangan terarah kepadanya, sontak langsung membuatnya memejamkan matanya rapat.
"Aaaa..." Teriak Risda.
"Belum juga kena," Ucap Afrenzo sambil menggeleng gelengkan kepalanya.
"Eh belom kena ya?" Tanya Risda sambil membuka kedua matanya, karena dirinya tak kunjung merasakan sakit akibat tendangan itu.
Risda pun menatap kearah Afrenzo dengan kekehan pelan, karena dirinya merasa beruntung tidak terkena tendangan keras tersebut. Risda pun menyengir dan mengetahui bahwa gerakannya memang kurang, dan dirinya salah dalam berdebat dengan Afrenzo sebelumnya.
"Iya iya gue paham sekarang," Ucap Risda mengalah.
"Jadi gimana?" Tanya Afrenzo.
"Gue salah dan lo bener, Renzo." Risda pun mencerucutkan bibinya panjang kearah Afrenzo.
Afrenzo pun tersenyum tipis kearah Risda, karena disaat seperti itu wajah Risda sangat lucu baginya. Akhinya Risda pun mengakui kesalahannya, dan mencoba untuk memperbaiki gerakan yang kurang dirinya lakukan itu.
__ADS_1