
Risda pun menghirup nafas dalam dalam, pagar pembatas yang ia naiki itu tidak terlalu tinggi sehingga dirinya bisa naik dengan mudahnya. Ia pun menatap kearah pergelangan tangan kirinya yang kini hanya berjarak kurang lebih 1 Senti dari cutter yang ada ditangan kirinya itu.
Tiba tiba seseorang langsung mengenggam erat cutter yang ada ditangan Risda itu, hal itu langsung membuat Risda begitu terkejut karena tangan itu menggenggam tajamnya cutter yang ada ditangannya itu.
"Lo apa apa'an sih, Da!" Sentak orang tersebut.
Orang itu adalah Afrenzo, tangannya yang tengah menggenggam cutter itu pun meneteskan begitu banyak darah segar. Tatapannya menajam kearah Risda, Risda terkejut bukan main ketika melihat tangan Afrenzo berdarah.
"Renzo, tangan lo!" Ucap Risda panik.
"Lepasin cutternya sekarang juga!"
Risda pun langsung melepaskannya begitu saja, dengan kencangnya Afrenzo membuang cutter yang melukai tanyannya itu kearah sungai yang dalam tersebut. Tatapan mata yang tajam masih terarah kepada kedua manik mata Risda yang mengeluarkan air mata itu.
Afrenzo menarik tangan Risda untuk turun dari pagar pembatas itu dengan kasarnya menggunakan tangan kanannya itu. Karena tinggi pagar pembatas tersebut tidak terlalu tinggi, sehingga Risda mampu mendarat dengan sempurna didepan Afrenzo.
"Renzo tangan lo terluka," Ucap Risda pelan sambil meraih tangan Afrenzo.
Afrenzo pun melepaskan pegangan tangan Risda dengan kasarnya, seakan akan Afrenzo tidak mau disentuh oleh Risda saat ini. Risda bisa melihat bahwa darah milik Afrenzo itu mengucur keluar dengan derasnya, akan tetapi Afrenzo sama sekali tidak peduli dengan kondisinya itu.
"Maksud lo apa'an? Lo mau bunuh diri lagi ha? Sampai kapan lo akan ngelakuin hal bodoh seperti ini!"
"Luka lo,"
"NGAK USAH PEDULIIN GUE!" Bentak Afrenzo.
Untuk pertama kalinya, Afrenzo yang dingin tersebut pun membentak Risda dengan kerasnya. Bentakkan tersebut langsung membuat Risda terkejut dan tidak menyangka bahwa Afrenzo akan membentaknya seperti itu.
"NGAK USAH IKUT CAMPUR DALAM URUSAN GUE! Gue mau mati sekarang atau nanti itu bukan urusan lo sama sekali, Renzo! Gue gak suka orang yang ikut campur dalam hidup gue. Lo bukan siapa siapa gue, lo ngak berhak ngatur hidup gue, lo ngak tau apa yang gue rasakan saat ini. Lo jahat! Lo jahat, Renzo!" Bentak Risda kepada Afrenzo.
Gadis itu benar benar terluka saat ini, Afrenzo sendiri juga salah karena telah membentaknya disaat hati gadis itu hancur berkeping keping. Justru bentakkannya itu akan semakin membuatnya terluka, dan Risda memang tidak suka diatur.
"CUKUP!" Bentak Afrenzo. "Lo memang tidak bisa dibilangin, Da. Sudah berapa kali gue bilang ke lo, kalo ada masalah cerita ke gue, bukan ngambil keputusan kayak gini. Emang lo yakin kalo lo mati, lo bakalan tenang di akhirat?"
Entah ketika hanya bersama Risda, lelaki itu akan berbicara panjang lebar. Afrenzo melakukan itu hanya karena dirinya peduli dengan Risda, dan dia tidak ingin gadis itu mati dengan sia sia.
"GUE CAPEK, RENZO! Kalo lo hanya mau buat gue semakin terluka, mending lo pergi dari sini! Gue ngak butuh lo ada disini!" Usir Risda kepada Afrenzo.
"RISDA!" Bentak Afrenzo lagi.
"Apa lo! Mau mambahin luka gue? Ayo sakiti gue, mumpung gue masih hidup! Kalo gue udah mati, lo ngak bakalan bisa nyakitin gue lagi!" Teriak Risda.
Risda pun mencengkeram erat kerah baju Afrenzo, seakan akan dirinya tengah menantang sosok Afrenzo. Risda pun mendorong dorong dada bidang milik Afrenzo itu, seakan akan Risda tengah mengusir cowok itu akan tetapi tangannya yang terus berpegangan erat pada baju Afrenzo.
"Sakiti gue, Renzo! Bunuh gue sekarang juga! Jika kehadiran lo dihidup gue hanya untuk menambah luka gue, mending lo pergi saja dari hidup gue. Apa lo hanya ingin nyiksa gue saja sebenernya? Mending lo akhiri saja hidup gue sekarang juga, lebih baik gue mati ditangan lo, Renzo. Daripada gue terus hidup dunia ini,"
"Sudah cukup Risda! Lo emang ngak bisa dibilangin ya,"
"Ngak usah bilangin gue lagi, gue emang ngak bisa dibilangin! Gue bandel, keras kepala, ngak punya hati. Kalo lo ngak suka sama sikap gue, menjauh saja lo dari hidup gue! Gue bakalan berhenti latihan beladiri dengan lo,"
"Lo sadar dengan apa yang lo ucapkan itu, ha?"
"Gue sangat sadar betul dengan apa yang gue ucapkan! Gue ingin lo menjauh dari hidup gue,"
"Gue akan menjauh selamanya dari kehidupan lo, setelah lo lunasi semua hutan lo ke gue."
"Gue akan segera lunasi hutang gue, agar lo menjauh dari gue,"
"Gue tunggu!"
Risda pun terdiam membisu, ucapan Afrenzo itu seakan akan menyayat hatinya. Ia pun melihat kebawah aspal, dan melihat darah Afrenzo mulai menggenang disana. Tangan Afrenzo kini sudah berlumuran darah miliknya sendiri, dan tetesan air mengalir dari sela sela jemarinya.
Kepala Risda seakan akan begitu pusing ketika melihat banyaknya darah ditempat itu, kedua matanya seakan akan tengah berkunang kunang. Afrenzo pun melangkah ke arah motornya untuk meninggalkan Risda, akan tetapi ketika akan menjalankan motornya itu ia melihat bahwa tubuh Risda pun terjatuh tidak sadarkan diri ditempatnya.
"Risda!" Teriak Afrenzo.
*****
Afrenzo menyentuh kening Risda yang terasa panas saat ini, Risda masih belum sadarkan diri dari pingsannya sampai detik ini. Dirinya begitu tertekan saat ini hingga memengaruhi kondisi tubuhnya, bertengkar dengan Afrenzo sebelumnya membuat kondisinya semakin parah.
"Da, bangun! Gue bawa lo kerumah sakit ya?"
"Bunda, Risda pergi ya?" Ucap Risda lirih dan masih memejamkan kedua matanya.
__ADS_1
"Da, sadar!"
Afrenzo menggoyang goyangkan pundak Risda untuk menyadarkan gadis itu, ia pun menepuk pelan pipi Risda akan tetapi gadis itu masih tetap setia untuk memejamkan kedua matanya. Suhu badan Risda pun semakin panas saat ini, Afrenzo pun memijat pelan kaki Risda untuk melancarkan peredaran darahnya.
"Da, sadar Da! Lo harus kuat,"
Risda pun merasakan seseorang tengah memijat kakinya dengan perlahan lahan, dirinya pun mulai membuka kembali kedua matanya itu. Pandangannya masih memburam, ia melihat bayangan seorang pemuda yang ada didepannya sambil memijat kakinya itu.
"Renzo," Panggil Risda lirih.
"Lo sudah sadar, Da?" Tanya Afrenzo.
Pandangan Risda pun perlahan lahan mulai menjernih, ia melihat sosok Afrenzo yang tengah memijat kakinya itu. Risda lalu menjauhkan kakinya dari pangkuan Afrenzo, ia masih teringat bentakkan yang dilontarkan oleh Afrenzo sebelumnya.
"Ngapain lo masih disini? Gue udah bilang, jangan peduliin gue lagi!" Teriak Risda sambil membuang muka dari wajah Afrenzo.
"Lo sakit? Gimana gue bisa ninggalin cewek yang ngak sadarkan diri begitu saja, lo mau dibuat mainan sama lelaki yang ngak bertanggung jawab yang nemuin lo?"
"Lo jahat."
"Terserah lo,"
Afrenzo paham bahwa Risda saat ini sedang marah kepadanya, ia pun menghela nafasnya dengan kasarnya. Ia lalu bangkit dari duduknya dan bersiap untuk pergi meninggalkan Risda, sementara Risda hanya berdiam diri sambil menatap punggung Afrenzo.
"Gue pengen mati," Ucap Risda yang langsung membuat Afrenzo menghentikan langkahnya.
"Lo udah gila?" Tanya Afrenzo tanpa menoleh kearah Risda.
"Gue emang gila, kenapa ngak lo bunuh saja waktu gue ngak sadarkan diri? Pasti gue ngak bakal ngerasain sakit,"
Risda pun menundukkan kepalanya dalam, tubuhnya seakan akan tidak bisa tegak sehingga harus bertumpu tangannya. Ia mengepalkan tangannya dengan erat, dirinya benar benar sudah tidak sanggup untuk mempertahankan hidupnya lebih lama lagi itu.
"Gue lelah, gue pengen mati. Mending lo bunuh saja gue sekarang, Renzo. Gue udah ngak sanggup untuk ngelanjutin hidup gue, gue pengen akhiri semuanya sekarang hiks.. hiks.. hiks.. Bunuh gue, Renzo!" Teriak Risda dengan isakkan tangisnya.
Afrenzo pun membalikkan badannya dan berjalan kembali kearah Risda yang tengah menundukkan kepalanya itu. Afrenzo menggerakkan tangannya untuk mengangkat dagu gadis itu, kedua mata Risda nampak memerah karena menangis, mata keduanya saling bertemu.
"Ceritakan!" Perintah Afrenzo kepada Risda.
"Lo ngebentak gue?" Tanya Risda dengan kedua mata yang berkaca kaca.
"Lo tadi ngebentak gue, ngapain lo peduliin gue lagi?"
"Gue minta maaf."
Afrenzo pun mengulurkan tangan kanannya kearah Risda untuk meminta maaf kepada gadis itu, Risda pun menatap kearah tangan kanan Afrenzo, dan tak kunjung menerima uluran tangan dari Afrenzo.
"Ngak mau!" Sentak Risda sambil membuang muka dari hadapan Afrenzo.
"Iya gue salah, gue minta maaf."
"Kalo gue maafin lo, nanti lo bakalan ngulangin lagi,"
"Ngak, gue janji,"
Risda pun menerima uluran tangan dari Afrenzo, keduanya pun kembali baikan lagi. Risda yang sebelumnya pingsan itu pun disandarkan oleh Afrenzo disebuah pohon yang cukup besar, Afrenzo lalu duduk didepan Risda sambil menunggu gadis itu berani untuk bercerita.
"Tangan lo terluka, pasti rasanya sakit kan?" Tanya Risda yang tidak sengaja melihat tangan Afrenzo yang sudah berbalut sebuah kain.
Didalam jok sepedah motornya, terdapat sebuah kain panjang yang sewaktu waktu bisa dia gunakan untuk hal hal seperti ini, kain yang tadinya berwarna biru itu kini sebagian telah berubah menjadi hitam kecoklatan karena darah milik Afrenzo itu.
Risda lalu meraih tangan tersebut dan memeganginya dengan kedua tangannya, ia merasa bersalah dengan Afrenzo, karenanya Afrenzo bisa terluka sampai seperti itu.
"Ngak sesakit luka dihati lo," Jawab Afrenzo.
"Maafin gue ya, Renzo. Karena gue lo terluka seperti itu,"
"Abaikan luka gue, lo sebenarnya kenapa? Lo demam? Wajah lo pucat banget, Da. Kita kerumah sakit ya?"
Risda pun menggelengkan kepalanya beberapa kali dengan cepatnya, "Gue ngak papa, jangan ngebentak gue lagi," Kedua mata Risda pun kembali berkaca kaca, "Hanya lo yang gue percaya, Renzo. Hanya lo satu satunya lelaki yang berarti bagi gue, ketika lo bentak gue seperti itu, langsung membuat hati gue sakit."
"Maafin ya? Apa Kakak lo nyakitin lo lagi kali ini? Lo diapain sama dia?"
"Bukan Kakak gue,"
__ADS_1
"Lalu siapa?"
"Bokap gue hiks... hiks... hiks..." Setelah mengatakan itu langsung membuat Risda kembali terisak tangis.
"Mungkin kata kata sabar tidak berarti bagi lo saat ini, Da. Lo pasti bisa ngelewatin semuanya, lo tenang saja, ada gue untuk lo,"
Afrenzo pun membelai rambut Risda yang terurai itu, Risda keluar rumah sebelumnya tanpa berganti pakaian sehingga dirinya masih menakai celana pendek dan baju santainya itu. Karena kencangnya laju motornya sebelumnya itu, membuat kuncir rambutnya terlepas sehingga rambut panjangnya terurai.
"Thanks ya,"
"Lo ngak pantes nangis untuk orang orang seperti itu, air mata lo itu mahal. Jangan sia siakan hanya untuk menangisi mereka yang sama sekali tidak memedulikan perasaanmu,"
"Renzo, lo ngak bakalan ninggalin gue kan? Gue takut lo sama kayak lelaki yang pernah gue temuin dulu, dan akhirnya dia pergi setelah mengetahui bahwa gue hanya anak seorang pembantu."
"Iya Da. Lo udah gue anggap kayak Adik gue sendiri, gue juga punya seorang Adik perempuan usianya masih baru 8 tahun."
"Dan gue punya Kakak baru dong?" Tanya Risda dengan semangatnya.
"Lo bisa anggap seperti itu,"
Risda pun menerbitkan sebuah senyuman kepada Afrenzo, akan tetapi disaat dirinya tersenyum justru air matanya terus mengalir sehingga membuat Afrenzo lalu menghapus air matanya dengan ibu jarinya itu.
"Cengeng,"
"Ini tangisan kebahagiaan tau, gue merasa bahagia punya Kakak baru seperti lo, Renzo."
"Bedanya apa?"
"Apanya yang beda?"
"Tangisan kebahagiaan dan kesedihan,"
"Ya seperti ini,"
Risda pun menyengir dihadapan Afrenzo hingga memperlihatkan giginya yang gingsul itu. Afrenzo lalu mencubit pipi Risda dengan kerasnya hingga membuat Risda menjerit dan mengusap usap pipinya yang terasa sakit itu.
"Lo tega sama gue, sakit tau pipi gue ini," Keluh Risda sambil mengusap pipinya.
"Ayo pulang," Ajak Afrenzo dan langsung bangkit dari duduknya itu.
Afrenzo lalu berjalan mendekati sepedah motornya dan diikuti oleh Risda dibelakangnya, sepedah keduanya itu tengah berjejer dan keduanya naik disepedah masing masing.
"Pulang habis itu istirahat, wajah lo pucat."
"Apakah semengerikan itu wajah gue?"
"Lo belom makan?" Tanya Afrenzo tanpa menjawab pertanyaan dari Risda.
"Belom,"
"Jangan kebiasaan telat makan, lo harus sayangi diri lo sendiri, kalo bukan lo siapa lagi?.Memaksa semua orang untuk menyayangi lo itu tidak akan mungkin bisa, mangkanya lo harus menyayangi diri lo sendiri."
"Iya, habis ini gue bakalan makan."
"Lo masih sanggup bawa motor sendirian?"
"Gue masih sanggup kok,"
"Dekat sini ada warung, kita kesana dulu buat ngisi perut lo."
"Tapi gue ngak bawa uang,"
"Lo tenang saja soal itu, gue yang bayar."
"Ngak usah, gue malah terkesan kayak ngerepotin lo banget, Renzo. Gue langsung pulang saja,"
"Da! Gue ngak suka dibantah,"
"Tuh kan lo kasar lagi ke gue."
Kedua mata Risda kembali berkaca kaca. Afrenzo pun menghela nafasnya kasar, dirinya harus benar benar ekstra sabar untuk menghadapi gadis seperti Risda, dikasar dikit langsung nangis, diberitahu pelan pelan tidak didengarkan, dan nasehatnya pun diabaikan.
"Mangkanya jangan bantah,"
__ADS_1
Risda pun hanya menundukkan kepalanya, dirinya begitu rapuh saat ini sehingga ucapan Afrenzo yang nampak biasa itu membuat Risda menitihkan air matanya. Bagaimana jika dikasar? Mungkin dirinya akan bernada tinggi seperti sebelumnya.
Afrenzo pun menjalankan motornya untuk meninggalkan tempat tersebut dan diikuti oleh Risda dibelakangnya. Keduanya berhenti tepat disebuah warung nasi soto ayam, dan Afrenzo menyuruhnya untuk masuk kedalam warung bersama dengan dirinya.