
"Kami berjanji tidak akan mengulanginya lagi,"
"Kami berjanji tidak akan mengulanginya lagi,"
"Kami berjanji tidak akan mengulanginya lagi,"
"Kami berjanji tidak akan mengulanginya lagi,"
"Kami berjanji tidak akan mengulanginya lagi,"
Ketuju anak tersebut pun mengulangi kalimat tersebut beberapa kali sambil memegangi telinganya masing masing, dengan mengangkat satu kakinya. 6 cowok dan 1 cewek tersebut pun berdiri didepan tiang bendera, dengan diawasi oleh seorang guru.
"Mulut gue rasanya kebas anjiiir!" Ucap Risda lirih kepada David yang ada disebelahnya.
"Emang lo saja apa ha? Kita juga kali," Jawab David sambil mendengus kesal.
"Hufttt .. Capek, Kami berjanji akan mengulanginya lagi besok!" Teriak Risda.
"Lo aja gue kagak," Ucap David sambil menyenggol bahu cewek itu.
"Bangsaat lo! Ngak asik ah kalo ngak diulangi lagi,"
"Tenang, Da. Besok gue beli deh kartu remi lagi, besok main sama gue," Sela Rizal.
"Ide bagus lo, Zal. Nah gitu dong namanya teman, ngak kayak sih David." Sindir Risda.
"Apa yang kalian katakan!" Sentak seorang guru kepada ke tujuhnya itu.
Mendengar sentakkan itu langsung membuat ketujuhnya langsung diam membisu, Risda pun menutup mulutnya dengan kedua tangannya itu. Mereka langsung menundukkan kepalanya dalam, tidak ada yang berani menatap guru yang sedang marah itu.
"Kan tadi Bapak suruh ngomong kami berjanji tidak akan mengulanginya lagi, apa salah kami Pak?" Tanya Risda dengan nada polosnya.
"Kalian merencanakan akan membawa kartu remi lagi kan?" Tanya guru itu kepada Risda dan yang lainnya.
"Iya Pak, eh ngak Pak... Anda hanya salah dengar saja kok," Ceplos Rizal.
Risda pun menyikut pinggang Rizal dengan kerasnya, hingga lelaki itu pun menekik lirih. Dirinya seakan akan tengah mengeluh akan tetapi sangat lirih sehingga tidak didengar oleh Risda saat ini.
"Dia bohong, Pak. Jangan dengarkan ucapannya," Ucap Risda.
"Kamu ini cewek, kenapa main begituan? Kamu mau jadi anak nakal?"
"Pak, sekolah tanpa kasus tidak akan ada cerita saat lulus. Saya memang sudah nakal sejak dulu, ciee... Bapak baru tau ya?" Emang Si Risda itu tidak punya akhlak, disaat seperti ini pun masih saja bercanda.
Sepersekian detik kemudian, sebuah tangan langsung menarik telinganya itu. Risda pun memekik kesakitan akibat tangan guru itu yang tengah menarik telinganya, para siswa yang melewati tempat itu pun saling menertawakan Risda.
"Pak... Pak... sakit," Keluh Risda sambil mencoba untuk melepaskan tangan guru itu.
"Kamu memang tidak bisa diatur ya? Berani sekali bercanda seperti itu kepada guru. Mau ditambah lagi hukumannya?"
"Jangan atuh, Pak. Bisa kurus saya nanti kalo kebanyakan hukuman,"
"Biarin kurus, kalo perlu sampai tersisa kulit dan tulang saja."
"Pak sakit..." Risda pun berpose se melas mungkin.
"Biarin sakit, kamu ngak bisa dibilangin,"
"Ada apa ini, Pak?" Tanya seseorang tiba tiba.
Mereka pun menoleh kearah sumber suara siapa yang bertanya itu, nampak sosok seorang Afrenzo berdiri disebelah guru lelaki itu dengan pakaian rapinya itu. Afrenzo lalu memandangi satu persatu siswa yang tengah dihukum itu, dan hanya Risda seorang yang berjenis kelamin perempuan.
"Renzo tolong! Sakit," Ucap Risda sambil meminta bantuan kepada Afrenzo.
"Mereka berani main kartu remi disekolahan, dan ini anak perempuan berani meladeni ucapan guru. Benar benar ngak punya aturan," Ucap guru tersebut.
Afrenzo pun langsung mentap kearah Risda, melihat tatapan tersebut langsung membuat Risda menundukkan kepalanya dihadapan Afrenzo. Gadis itu tidak bisa berkutik dihadapan seorang Afrenzo, seperti saat ini.
"Serahkan semuanya kepada saya, Pak. Biar saya yang akan menghukum mereka," Ucap Afrenzo.
"Baiklah, karena kamu ketua OSIS disini, jadi urusi semuanya,"
"Baik Pak. Saya akan melaksanakan tugas dengan baik,"
Guru tersebut pun meninggalkan lapangan itu, sementara Afrenzo langsung bersedekap dada dihadapan ketujuh orang itu. Umur mereka memang sama akan tetapi kedudukan mereka berbeda, disini Afrenzo juga termasuk sebagai guru, guru beladiri diperguruan yang paling unggul disana.
__ADS_1
Afrenzo cukup hanya berdiam diri sambil menatap kearah mereka, dan hal itu mampu membuat mereka merasa terintimidasi. Cukup lama Afrenzo memperhatikan mereka dalam diamnya, tak seorang pun bersuara karena ditatap seperti itu.
Risda pun juga ikut berdiam diri, tanpa berbicara dihadapan Afrenzo. Yang dirinya takutkan hanyalah Afrenzo, sementara dia sama sekali tidak takut dengan para guru yang ada disekolahan itu.
"Apa kalian menyesal?" Tanya Afrenzo kepada mereka.
Mereka semua pun mengangguk kecuali Risda yang hanya berdiam diri saja, dirinya sama sekali tidak mengangguk ataupun membalas ucapan dari Afrenzo, dan dirinya hanya menundukkan kepalanya dalam.
"Risda!" Panggil Afrenzo dan langsung membuat Risda mengangkat kepalanya.
"Iya?" Tanya Risda.
Afrenzo justru menatapnya dengan tatapan tajam, melihat itu langsung membuat Risda memegangi telinganya dengan kedua tangannya dihadapan Afrenzo. Risda sama sekali tidak berani untuk menatap kedua mata Afrenzo saat ini, dan dirinya justru menatap kearah lain.
"Maaf," Cicit Risda pelan.
"Diulangi lagi ngak?" Tanya Afrenzo lagi.
"Iya,"
"Iya apa?"
"Iya diulang lagi,"
"Risda!"
"Eh maksudku ngak, ngak berhenti untuk mengulanginya lagi,"
"Mau ditambah hukumannya?"
"Jangan!"
Risda pun langsung memberanikan diri untuk menatap kedua mata Afrenzo, dia tidak mau cowok itu menghukumnya. Karena Afrenzo tidak akan segan segan untuk menambah hukumannya lagi, dan dirinya tidak mau untuk terus diawasi oleh cowok itu.
"Tetap berdiri ditempat sampai bel untuk sholat berbunyi, ketahuan ngomong ataupun bergerak maka hukum kalian ditambah sampai pulang nanti," Ucap Afrenzo.
"Jangan! Lah kok ditambah sih," Keluh Rizal.
"Jangan!!! Jangan ditambah lagi dong, Renzo. Nanti kalo gue kelelahan gimana? Terus gue pingsan lagi gimana?"
Risda pun langsung berdiam diri karena dirinya tidak mau hukumannya bakalan ditambah jika dia berisik, lelaki yang ada didepan mereka nampak begitu sangat menyeramkan saat ini. Aura yang dikeluarkan olehnya pun terlihat sangat menyeramkan, dan membuat mereka tidak mampu untuk bergerak.
Apalagi dengan tatapan tajam yang selalu ia lontarkan untuk mengintimidasi lainnya itu, mereka seakan akan tengah terkena sebuah aura yang sangat mencengkeram erat sehingga tidak ada yang berani untuk bergerak ataupun bersuara.
Bukan hanya mereka saja yang berdiri dengan panas panasan, akan tetapi Afrenzo juga melakukan hal itu untuk mengawasi mereka. Cowok itu sepertinya tidak bergerak sama sekali, bahkan yang bergerak hanyalah bola matanya saja untuk melihat satu persatu diantara mereka.
Entah kenapa cowok itu mampu berdiri cukup lama tanpa bergerak sama sekali, seakan akan seperti tengah menjadi sebuah batu. Bahkan, bernafas saja tidak membuat pundaknya bergerak naik turun.
"Dia aneh, kenapa dia bisa berdiri tanpa bergerak seperti itu sih? Dia punya ilmu apa'an sampai bisa seperti itu. Gue aja kagak bisa diam terlalu lama seperti ini," Batin Risda menjerit sambil menatap kearah Afrenzo.
"Setelah ini kembali ke kelas, buatkan saya surat penyesalan atas apa yang kalian lakukan saat ini. Dan beri materai beserta tanda tangan dari orang tua kalian," Ucap Afrenzo dengan tegasnya.
"APA!" Teriak mereka secara bersamaan.
"Tanpa ada penolakan, besok pagi kumpulkan kalau sampai tidak bawa, kalian semua akan aku hukum lebih parah." Ancam Afrenzo.
"Baik!" Jawab mereka bersamaan.
Mereka pun langsung membubarkan diri dari barisan mereka masing masing. Akan tetapi, Risda justru meluruh kelantai setelah mendengar ucapan dari Afrenzo itu. Bagaimana dirinya bisa meminta tanda tangan dari orang tuanya? Jika dia melakukan itu maka dia sama saja dengan mengecewakan Ibunya.
"Lo kenapa?" Tanya Afrenzo ketika melihat Risda seperti tengah melemas.
"Udah tau pake nanya segala lagi, kayak ngak punya dosa segala," Jawab Risda dengan ketusnya kepada Afrenzo.
"Lo sakit?"
"Iya, sakit hati sana lo. Gimana coba cara gue untuk bisa dapat tanda tangan dari orang tua gue? Lo tau sendiri kan gimana keluarga gue? Kenapa harus pake sarat seperti itu lagi? Lo sengaja buat gue seperti ini? Lo jahat banget, Renzo. Ngak ada sarat lainnya lagi apa gimana? Kenapa harus seperti itu?" Omel Risda kepada Afrenzo yang hanya membuat lelaki itu diam untuk menunggu Risda puas untuk mengomelinya.
Afrenzo hanya berdiam diri meskipun Risda terus mengomelinya, layaknya seorang suami yang takut akan omelan istrinya. Ia menunggu Risda lelah untuk mengomelinya, akan tetapi dirinya sama sekali tidak menyahuti ucapan Risda itu.
"Lo denger ngak sih apa yang gue bilang ini? Kenapa lo diam saja?" Ucap Risda yang semakin kesal karena kediaman dari Afrenzo.
"Udah selesai?" Tanya Afrenzo.
"Apanya yang selesai? Gue marah sama lo, Renzo. Kenapa lo hanya diam saja? Gue sebal sama lo,"
__ADS_1
"Mau gue marahin balik?"
"Lo kok gitu sih? Kenapa lo harus marahin gue? Lo tega banget sama gue, Renzo. Gue ngak nyangka sama lo,"
"Lalu gue harus gimana?"
"Cabut kek hukumannya, atau ngak ganti yang lainnya saja. Gue ngak bisa minta tanda tangan orang tua gue,"
"Ini bukan tuntutan pengadilan yang bisa dicabut begitu saja."
"Renzo,,, Ayolah, hukum gue yang lainnya saja ya? Kalo soal gitu gue kagak bisa," Risda terus memohon kepada Afrenzo untuk mencabut hukuman tersebut.
"Ngak bisa,"
"Awas aja nanti, gue bakal ngulangin lagi kalo lo maksa gue untuk itu,"
"Meski gue ngak maksa, lo tetap ngilangin lagi."
"Ngak akan pernah, Renzo. Kenapa lo ngak percaya sama gue sih?"
"Kembali ke kelas, dan lakuin hal yang gue minta."
Afrenzo pun meninggalkan tempat itu, dirinya meninggal Risda yang masih bersimpuh dilapangan tersebut. Melihat kepergian dari Afrenzo langsung membuat Risda mencerucutkan bibirnya, entah apa yang dipikirkan oleh lelaki itu saat ini.
*****
"Gimana gue mintanya? Nyokap gue aja berada jauh dari gue, kalo perjalanan kesana juga buruh waktu sekitar 4 jam an, dan itu pun belum juga macetnya kota Jakarta ini." Ucap Risda yang kini tengah berada didalam kamarnya.
Dia merasa sangat bingung dengan bagaimana caranya untuk mendapatkan tanda tangan dari orang tuanya itu. Surat yang dirinya buat itu pun sudah jadi dan sudah ditempeli oleh materai yang diminta oleh Afrenzo, akan tetapi masih kurang tanda tangan dari orang tuanya.
"Kalo gue coret sendiri, Renzo bakalan percaya ngak ya?" Munculah sebuah ide kecurangan didalam pikiran Risda saat ini.
Risda pun langsung duduk dikursi dan didepan meja belajarnya itu. Ia pun membaca ulang tulisannya itu, dan dirinya langsung menyambar sebuah bulpen yang ada diatas meja itu.
Risda hendak menandatanganinya sendiri agar tugasnya itu selesai, akan tetapi tiba tiba muncullah sebuah kebimbangan didalam hati Risda, seakan akan hatinya mengatakan bahwa dirinya tidak boleh melakukan itu.
"Terus gue harus gimana dong? Gue harus minta tanda tangan ke siapa? Minta ke Kakak gue? Yah, bisa bisa gue diomeli lagi oleh orang itu. Belom juga diberi tanda tangan udah diomeli setengah mati lagi, Renzo bener bener membuat gue susah."
Risda lalu meletakkan bulpen yang ada ditangannya itu, dirinya pun langsung bangkit dari duduknya dan mondar mandir didalam kamarnya untuk mencari jalan keluar dari masalahnya itu. Dirinya benar benar tidak bisa berpikir dengan jernihnya saat ini, entah apa yang harus dia lakukan untuk mendapatkan tanda tangan itu.
"Coret aja terserah, dia juga ngak bakalan tau kalo tanda tangan ini palsu kan?"
Setelah mengatakan itu, Risda lalu duduk kembali dikursi yang dirinya duduki sebelumnya itu. Dia langsung menyambar kembali bulpen yang sebelumnya ditaruhnya itu untuk mendandani kertas yang ia tulis, akan tetapi ketika mata bulpen tersebut hendak menyentuh kertas, Risda lalu menghentikannya.
"Cowok itu kan misterius, bagaimana kali dia tau nanti? Bisa bisa hukuman gue malah makin parah karena kebohongan gue saat ini."
Risda kembali melemparkan bulpen yang ada ditangannya itu. Dirinya benar benar berada didalam kebimbangan tanpa tau bagaimana cara mengatasi masalahnya saat ini, ia lalu mengacak acak rambutnya karena sebalnya itu.
"Gue harus gimana Anjiiing! Sialan lo emang Renzo. Kayak kagak ada cara lain aja,"
Risda lalu membenamkan wajahnya diantara kedua tangannya itu, dirinya benar benar tidak bisa berpikir dengan baik saat ini. Entah harus seperti apa dirinya saat ini, ia pun tidak tau apa yang harus dia lakukan.
"Gue coret aja, terus bilang kalo ini tanda tangan Bokap gue. Dia kan pasti percaya dengan ucapan gue nanti, gue yakin itu. Eh...."
Risda pun teringat akan sesuatu, sebuah senyuman tipis pun menyembang diwajahnya. Pikirannya itu pun rasanya seperti kembali segar lagi daripada sebelumnya, sebuah ide pun terlintas didalam benaknya.
"Kenapa gue bisa lupa sih kalo didepan sana ada Bokap gue, bener bener anak durhaka sampe lupa sama Bokap sendiri. Ya habisnya sih, ada dan ngak adanya pun sama saja bagi gue,"
Risda benar benar melupakan sosok Ayahnya itu, selama ini dirinya sudah terbiasa hidup tanpa kehadirannya seorang Ayah. Hal itu membuatnya melupakan sosok lelaki tersebut yang sangat berarti baginya, tapi itu dulu dan sebelum kejadian yang menimpa dirinya setelah perceraian keluarganya.
Kini dirinya tengah memahami apa yang diucapkan Ibunya dulu, yang menyuruhnya untuk memilih antara ikut Ibunya atau ikut Ayahnya itu. Kejadian waktu itu sama sekali tidak ingin diulanginya lagi, bahkan dia tidak ingin orang lain mengalami nasib yang sama seperti dirinya.
"Gue minta saja tanda tangan ke dia, kalo perlu gue rekam sekalian biar Renzo percaya. Bener bener ide yang paling bagus yang elo miliki, Da. Gue kagum sama diri gue sendiri,"
Risda pun dengan semangat langsung bangkit dari duduknya, dirinya pun langsung bergegas keluar dari kamarnya sambil membawa selembar kertas dan juga sebiji bulpen untuk meminta tanda tangan kepada Ayahnya itu.
Dengan diam diam dirinya pun melangkah keluar dari kamarnya karena takut ketahuan oleh Indah, dirinya pun seperti maling yang masuk kedalam rumahnya sendiri. Dengan sembunyi sembunyi dirinya pun melangkah keluar dari kamarnya, ia tidak mau sampai Indah mengetahui apa yang tengah dirinya lakukan itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...Jangan lupa untuk selalu dukung Author ya...
...Biar Author makin semangat updatenya...
......Mampir juga dikarya Aurhor lainnya... Salam cinta dari Author untuk semuanya......
__ADS_1