
Risda dan yang lainnya langsung turun ke parit parit tersebut dan merayap sesuai dengan perintah dari Afrenzo, air tersebut begitu sangat dingin ketika dipagi hari, rasanya tubuh Risda dan yang lainnya seperti tengah membeku, bahkan nampak gigilan diujung bibirnya.
"Dingin banget, Ya Allah. Sampai kapan kita akan disini?" Ucap Risda lirih sambil mendekap erat tubuhnya sendiri.
"Diamlah, jangan berisik atau ini akan lebih lama lagi," Ucap salah satu senior yang memang ada disebelah Risda.
Entah apa tujuannya dari latihan itu, seluruhnya hanya bisa melaksanakan tanpa ada yang berani untuk membantahnya. Mereka semua melaksanakan dengan diam tanpa ada yang bersuara sehingga tempat itu terasa sangat sepi padahal ada begitu banyak orang disana.
Setelah cukup lama berendam disana, mereka pun merasa bahwa suhunya tidak terlalu dingin seperti sebelumnya karena pancaran matahari di pagi hari itu membuat tempat itu terasa hangat akibat sinarnya. Risda dan yang lainnya pun terus merayap menuju hilir sesuai dengan perintah Afrenzo, sebagian dari mereka yang telah sampai dihilir itu pun langsung keluar dari parit parit itu dan berdiri disebelah parit.
Akhinya semuanya pun selesai melakukan tugas itu, dan kini mereka tengah berjemur dibawah sinar matahari pagi itu. Mereka tidak mempedulikan bahwa kulit mereka akan hitam nantinya, dan mereka hanya melakukan perintah dari pelatih mereka.
"Kalian tau, apa tujuannya berendam diair pagi hari?" Tanya Afrenzo kepada seluruhnya yang ada disana.
"Kami tidak tau pelatih!" Jawab mereka serempak.
"Manfaatnya begitu besar bagi kesehatan tubuh, bisa melancarkan sirkulasi darah kalian. Dengan lancarnya aliran darah keseluruh tubuh maka seluruh organ tubuh pun juga tetap terjaga dan terpelihara kesehatannya, ada manfaat lainnya yaitu mempercepat proses penyembuhan, serta menguragi berbagai jenis peradangan pada tubuh. Jadi setelah berendam tubuh kalian akan merasa ringan," Jelas Afrenzo kepada seluruhnya.
Setiap metode yang diberikan oleh Afrenzo, bertujuan untuk meningkatkan stamina tubuh, apalagi hal itu baik dilakukan ketika dalam keadaan perut yang masih kosong. Setiap pelatihan beladiri, para siswa akan diajarkan untuk menjaga kesehatan tubuh, bukan hanya bagaimana caranya untuk menghadang serangan bahkan menyerang balik, akan tetapi beladiri yang sesungguhnya adalah menjaga diri agar tetap sehat dan kuat.
Risda membelalakkan kedua matanya, dirinya akhirnya tau kenapa Afrenzo menyuruh mereka untuk berendam diair dingin dipagi hari, itu juga untuk kesehatan mereka masing masing. Afrenzo memiliki pengetahuan tentang menjaga kesehatan tubuh yang luas, itulah mengapa meskipun dirinya sakit sekalipun, Afrenzo masih bisa melakukan aktivitas fisik.
"Ngak kebayang gimana jadi istrinya nanti ya, pasti sangat ketat, dan bahkan istrinya pasti langsung ketakutan dengan cowok dingin itu," Guman Risda pelan sepelan mungkin, sehingga tidak bisa didengar oleh siswa lain yang ada disebelahnya.
Risda tidak bisa membayangkan gimana nasib istri seorang Afrenzo nantinya, entah bagaimana caranya Afrenzo bisa menaklukkan hati seorang wanita jika dirinya selalu bersikap dingin kepada setiap wanita. Membayangkan itu membuat Risda tersenyum senyum sendiri, bahkan tidak ada yang tau mengapa gadis itu mendadak tersenyum.
Mereka pun kembali menuju kelapangan yang ada diarea aula beladiri, disana mereke kembali berlarih meskipun dengan pakaian yang basah kuyup. Semakin bertambah siang, baju mereka semakin kering dan seperti tidak terkena air sama sekali.
"Baiklah, latihan malam telah selesai dilaksanakan, lakukan upacara penutup," Ucap Afrenzo sambil melihat kearah jam yang ada dipergelangan tangannya.
Mereka pun langsung berbaris rapi seperti sebelumnya, dan kini mereka melakukan upacara penutup diacara itu. Setelah selesai mereka pun saling bersalaman satu sama lain untuk mengeratkan hubungan mereka seperti saudara sendiri, tanpa membedakan kedudukan dan jabatan didalam organisasi beladiri itu.
Sebelum pulang, mereka membereskan aula beladiri terlebih dahulu sebelum membubarkan diri dari tempat itu. Kini aula tersebut terlihat kembali rapi dan bahkan sangat nyaman untuk dipandangi, mereka pun membubarkan diri untuk pulang kerumah masing masing setelahnya.
"Renzo!" Panggil Risda ketika melihat Afrenzo berjalan masuk kedalam aula beladiri.
Mendengar panggilan itu langsung membuat Afrenzo menghentikan langkahnya, dirinya lalu menoleh kearah Risda yang sedang bergegas untuk berlari menuju ketempatnya. Risda pun menghentikan langkah kakinya tepat dihadapan Afrenzo, tinggi badan Afrenzo yang lebih tinggi sedikit darinya itu pun membuat Risda sedikit mendongak keatas.
"Lo ngak pulang?" Tanya Risda kepada Afrenzo.
"Ngak,"
"Hufttt... Emang ngak dicariin sama Nyokap lo? Lo kan belum sepenuhnya sembuh, Renzo. Kenapa ngak pulang?"
"Gue ngak sakit,"
"Gue ngak peduli lo ngomong apa, lo itu ngak bisa bohong didepan gue, Renzo. Ucapan sama kondisi tubuh lo itu ngak sama,"
"Mau lo apa?"
Risda pun meringis didepan Afrenzo, "Sepedah gue mogok lagi, bantuin dong. Gue ngak bisa nyalain,"
"Iya,"
Risda dan Afrenzo pun langsung bergegas untuk menuju ke parkiran motor yang ada disamping aula beladiri itu, setibanya disana Afrenzo pun langsung mengstandar dua motor itu. Dengan mudahnya Afrenzo melakukan itu, padahal Risda sendiri pun kesusahan sebelumnya.
Afrenzo pun mencoba untuk menyalakan motor tersebut dengan cara dobble stater, akan tetapi motor itu sama sekali tidak nyala. Dirinya pun terus berusaha untuk melakukan itu, akan tetapi tidak nyala juga.
"Sepertinya ini ada masalah dengan akinya, Da. Berapa bulan kagak diganti?" Tanya Afrenzo.
__ADS_1
"Gue ngak tau, Renzo. Dulu Nyokap gue belikan motor itu bekas, pas waktu gue kelas naik ke kelas 3 SMP, dan gue ngak tau soal ganti aki. Terus gimana dong? Ngak bisa pulang dong gue," Ucap Risda jujur meskipun sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.
Dirinya mengingat ingat bahwa motor itu memang tidak pernah diservis sebelumnya, ketika Afrenzo menanyakan itu, Risda sama sekali tidak bisa menjawabnya. Mungkin hanya laki laki yang paham dengan motor atau servis motor, sementara perempuan tidak tau menau soal itu.
"Dasar perempuan!"
"Gue ngak tau soal itu, Renzo. Yang gue tau hanya isi bensin full saja sudah bisa jalan, jadi selama ini gue cuma isi bengsin doang dan kagak pernah diservis. Gue ngak tau kalo motor itu juga harus diservis,"
"Yang lo tau hanya naik aja, tanpa peduli yang lo naiki,"
"Emang motor itu perlu diservis ya?"
"Ngak, perlu dibuang!"
Risda pun langsung mencerucutkan bibirnya mendengar jawaban Afrenzo yang terlihat kesal itu, baru pertama kali Risda bisa membuat Afrenzo sekesal itu, ini adalah sebuah prestasi terbesar bagi Risda. Wajah Afrenzo yang kesal itu terlihat sangat lucu bagi Risda, hingga hal itu membuat Risda mengembangkan senyumannya kearah Afrenzo.
"Renzo, lo imut banget kalo seperti itu, pengen gue tampol aja tuh muka,"
Risda emang ngak ada akhlak, pelatihnya sendiri pun mau ditampol olehnya, ucapan itu langsung membuat Afrenzo melototkan matanya kearah Risda. Risda yang melihat itu pun langsung menyembunyikan wajahnya dibalik kedua tangannya yang telah menutupi wajahnya.
"Pelatih ampun! Jangan bunuh saya!" Teriak Risda sambil cengengesan.
Melihat itu langsung membuat Afrenzo merogoh kenalpotnya dan menoletkan noda hitam dipipi Risda, muka Risda itu pun langsung cemong karena itu. Afrenzo pun tertawa untuk pertama kalinya, tawa yang tidak pernah ditunjukkan selama ini kepada siapapun itu.
"Yah, lo nakal sih, kan jadi item semua wajah gue," Keluh Risda sambil mengaca dikaca motornya.
"Cantik kok, jangan dihapus," Ucap Afrenzo.
"Gila lo! Gini lo bilang cantik? Lo mau bully gue ya? Gue aduin lo ke Mak gue," Ancam Risda kepada Afrenzo.
"Sini biar gue hapus,"
"RENZO! Awas lo ya, gue bakalan balas!" Teriak Risda.
Risda pun melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh Afrenzo itu, kini telapak tangannya sepenuhnya berwarna hitam untuk membalaskan dendam kepada Afrenzo. Afrenzo pun langsung berlari menghindari Risda, sementara Risda terus mengejarnya hingga dapat, karena tidak bisa menangkap Afrenzo, Risda pun meluruh ke paving yang ada dilapangan beladiri itu.
"Auah gue marah sama lo," Ucap Risda sambil berjongkok karena capek berlari.
"Iya deh iya, gue minta maaf," Ucap Afrenzo.
"Bantuin berdiri," Ucap Risda sambil menjulurkan kedua tangannya kepada Afrenzo.
Afrenzo pun mendekat kearah Risda untuk membantunya berdiri, dirinya pun meraih uluran tangan Risda itu, tiba tiba Risda pun menariknya hingga dirinya jatuh berjongkok dihadapan Risda. Tidak tinggal diam begitu saja, Risda lalu mengusapi wajah Afrenzo dengan menggunakan kedua tangannya.
Afrenzo pun hanya bisa pasrah sambil memejamkan kedua matanya, dirinya membiarkan Risda melakukan hal yang diinginkannya itu. Setelah sepenuhnya wajah Afrenzo berubah menjadi hitam, Risda pun menghentikan aksinya.
"Buahahahaha... Lo tampan banget sih, Renzo. Udah kayak pangeran Flynn Rider yang ada difilm Disney princess,"
"Dan lo putri Rapunzel nya,"
"Emang gue dikurung dalam menara? Rambut gue aja kagak sepanjang dia sampai bisa dipakai buat tali untuk naik keatas menara,"
"Bukan dikurung dalam menara, lo dikurung dalam rumah,"
"Dan lo penyusupnya yang buat gue keluar dari rumah,"
Keduanya pun tertawa bersama sama, untuk pertama kalinya Afrenzo tertawa bersama dengan Risda, Risda mampu untuk meluluhkan bekunya hati Afrenzo, sehingga membuatnya mampu tertawa bersamanya seperti saat ini. Afrenzo pun membaringkan tubuhnya diatas paving yang tengah dirinya duduki sebelumnya itu.
"Gue lelah ketawa, Da." Ucap Afrenzo dengan ngos ngosan padahal hanya tertawa saja, dan bukan melakukan aktivitas fisik yang berat.
__ADS_1
"Untuk pertama kalinya lo tertawa seperti ini sama gue, Renzo. Rasanya Renzo yang dulu telah pergi, dan Renzo yang sekarang sangat menyenangkan. Gue pengen lo selalu seperti ini sama gue, biar gue ngak flu deket deket lo yang dingin,"
"Gue rasanya lupa jati diri gue sendiri, Da. Semenjak lo hadir, rasanya gue seperti dulu waktu kecil,"
"Kita berdua aneh ya? Nasib gue dan lo itu sama, sama sama broken home. Ngak taunya dipertemukan diwaktu SMA, jadi kita berdua bisa berbagi perasaan satu sama lain,"
"Iya, Da. Takdir memang misteri dan tidak ada yang tau kedepannya akan seperti apa,"
Risda pun terkekeh pelan, "Dan gue ngak tau gimana pulangnya nanti, sepedah gue belom lo benerin tau, gue ngak bisa pulang," Risda menatap nanar kearah sepedah motornya yang terparkir tidak berdaya itu.
"Didorong aja sampai rumah,"
"Bisa bisa tinggal tulang dan kulit. Rumah gue jauh dari sini tau,"
"Bawa aja kayak siput,"
"Kalo gue bisa pasti udah dari dulu gue bawa, Renzo. Yah nanti diomelin lagi deh kalo telat pulang,"
Risda justru tertawa setelah mengatakan itu, mungkin karena dirinya yang biasanya diomeli itu pun merasa seperti telah biasa. Apalagi semenjak kenal dengan Afrenzo, hal itu membuatnya semangat dalam menjalani hidupnya dan dirinya tidak peduli dengan omelan omelan yang diberikan oleh Kakaknya itu.
"Gue juga pasti dihajar nanti, karena telat pulang,"
Afrenzo pun kembali bangkit berdiri dari terbaringnya itu, dirinya pun bergegas untuk mendatangi sepedah motor Risda yang terparkir disana. Dirinya kembali berusaha untuk menyalakan sepedah motor tersebut, setelah cukup lama berusaha akhinya sepedah itu pun mau menyala lagi.
"Bisa Da," Ucap Afrenzo.
"Lo punya cuci muka ngak? Gue mau bersihin muka gue karena ulah lo," Tanya Risda.
"Ngak punya,"
"WHAT!!! Terus gue bersihinnya gimana? Ngak mungkin kan gue pulang dengan wajah belepotan kayak gini? Terus gue harus gimana? Masak lo ngak bawa cuci muka sih?" Risda pun nampak begitu panik, karena takut wajahnya tidak bisa bersih.
"Ada kok, Da. Ambil aja dilantai atas,"
"Nah gitu dong, jangan bohong, bikin gue panik aja lo, Renzo. Untung kagak sampai jantungan,"
Risda pun langsung bangkit dari duduknya untuk masuk kedalam aula beladiri, dirinya langsung bergegas menuju kelantai atas untuk mengambil sabun cuci muka yang dimaksud oleh Afrenzo itu. Setelah sampai, dirinya pun langsung menuju kearah laci yang ada disana, dia pun langsung membukanya dan menemukan sabun cuci muka milik Afrenzo.
"Cowok juga ngak mau kalah glowingnya ya," Guman Risda ketika melihat sabun cuci wajah, dan juga pelembab dan lain sebagainya.
Risda pun tertawa pelan melihatnya, dirinya pun langsung bergegas untuk mengambil sabun cuci wajah, karena dirinya tidak terlalu hafal dengan skincare sehingga dirinya membaca petunjuknya terlebih dulu dan kegunaannya yang tertera didalam lebel yang melekat dibotol kemasannya itu.
Setelah menemukan sabun cuci muka, Risda pun langsung bergegas untuk menuju kekamar mandi untuk membasuh wajahnya itu. Begitu sulit untuk menghapus noda tersebut akan tetapi Risda sama sekali tidak menyerah begjtu saja. Entah habis seberapa banyak sabun itu, akhinya wajahnya pun kembali bersih seperti sebelumnya dan bahkan jauh lebih bersih.
Risda pun bergegas untuk keluar kembali dari aula beladiri itu untuk menemui Afrenzo, dirinya pun menyerahkan sabun cuci mukanya itu kepada Afrenzo. Afrenzo membuka matanya lebar lebar ketika merasakan bahwa beban yang dimiliki oleh sebotol cuci muka itu berkurang cukup banyak.
"Maaf, habisnya sulit sekali sih hilangnya," Ucap Risda sambil menyengir kearah Afrenzo.
"Buruan pulang, motor lo udah nyala,"
"Thanks ya, Renzo. Sudah mau bantuin gue untuk nyalain motor gue,"
"Jangan lupa diservis,"
"Iya iya, nanti gue bilang Nyokap gue agar gue dikirimi uang untuk pergi ke tukang servis,"
"Hem."
Risda pun langsung naik keatas motornya setelah menaruh barang barang miliknya itu diatas motornya. Dirinya pun mencoba untuk menyalakannya, setelahnya dirinya langsung berpamitan kepada Afrenzo untuk pulang kerumahnya.
__ADS_1
Afrenzo hanya menganggukkan kepalanya sebagai tanda telah mengizinkan Risda untuk pulang, Risda pun melajukan motornya untuk menjauh dari halaman aula beladiri itu. Sementara Afrenzo, dirinya langsung bergegas untuk masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan wajahnya juga.