Pelatihku

Pelatihku
Episode 86


__ADS_3

Ketika diperjalanan menuju kerumah, Risda tidak sengaja berpapasan dengan Afrenzo yang baru selesai mengajar beladiri. Afrenzo keluar dari halaman sekolah sementara Risda tiba dari arah berlawanan menuju arah rumahnya.


Melihat adanya Afrenzo, hal itu langsung membuat Risda menghentikan laju motornya tepat didepan motor milik Afrenzo yang tengah berhenti itu.


"Hai Renzo," Sapa Risda ketika melihat Afrenzo.


"Darimana saja lo?" Tanya Afrenzo.


"Habis dari rumah Tika, kan gue udah bilang tadi," Jawab Risda.


"Hem."


Afrenzo hanya menjawab dengan berdehem saja, sementara Risda langsung menatap lekat lekat kearah cowok itu. Nampak sekali wajah kesal yang tercipta diwajahnya saat ini, entah kenapa cowok itu terlihat kesal seperti itu saat ini.


"Lo kenapa, Renzo? Kek habis kemalingan aja tuh muka, sepet banget," Tanya Risda sambil memandangi wajah Afrenzo.


"Ngak papa," Jawab Afrenzo singkat.


"Ada masalah? Kek ngak bersahabat banget deh, emang masalah apa'an?"


"Satria,"


"Emang ada apa dengan tuh orang? Buat masalah apa lagi dia?" Tanya Risda dengan nada agak tinggi.


"Ngajakin gue fight, one by one," Jawab Afrenzo.


"APA! Ngak perlu diladenin, Renzo. Jika lo ladenin dia, justu gue ngak suka kalo lo kenapa kenapa,"


"Lo jadi taruhannya, Da. Jika gue kalah, lo harus keluar dari perguruan,"


"Jadi lo setuju dengan taruhan itu? Lo bener bener tega, Renzo. Lo anggap gue apa? Lo anggap gue hanya barang bagi lo? Keterlaluan sekali lo,"


"Da, gue bisa jelasin ke lo,"


"Gue ngak butuh penjelasan lo, Renzo. Lo bener bener membuat gue kecewa dengan lo,"


Risda pun langsung menyalakan motornya itu, hal itu langsung membuat Afrenzo segera mencabut kunci motor miliknya. Afrenzo pun berdiri disamping Risda, Risda hanya membuang muka dari hadapan Afrenzo.


"Da, masalahnya ngak semudah itu, dia buat keributan dipusat beladiri untuk nantangin gue. Terpaksa pelatih gue memerintahkan gue untuk meladeninya,"


"Dan lo terima gitu aja tantangannya itu? Jika lo kalah, sama aja lo ngehancurin impian gue, Renzo. Lo tega banget sama gue,"


"Gue ngak akan biarin itu, Da."


"Gue ngak mau jadi taruhannya, Renzo. Kenapa harus gue yang jadi taruhannya?"


"Maafin gue,"


"Gue ngak terima ini, Renzo. Pokoknya lo jangan ngeladenin dia, gue ngak suka,"


"Kalo dia berbuat ulah lagi gimana?"


"Pokoknya lo ngak usah datang! Abaikan saja dia, gue akan bicara sama dia besok,"


"Tapi Da..."


"Diem lo! Jangan ngomong lagi, ngak usah tapi tapian. Jangan pernah bertarung dengan dia hanya karena gue, impian gue bukan taruhan,"


Afrenzo pun hanya menundukkan kepalanya dihadapan Risda, sementara Risda langsung mengusapi peluh membasahi membasahi pipinya itu. Mendengar bahwa dirinya menjadi taruhan, hal itu membuatnya menjadi sedih dan moodnya hilang.


"Sampai kapan pun gue ngak mau jadi taruhan," Pungkas Risda.


"Iya Da," Jawab Afrenzo.


"Awas saja sampai lo bertarung dengan dia, gue ngak akan pernah maafin lo, Renzo."


Mendengar itu hanya membuat Afrenzo berdiam diri, dirinya tidak bisa menyahuti ucapan Risda. Biar bagaimanapun juga jika wanita berdebat, bukanlah dengan logika melainkan dari hatinya, dan hati tidak bisa dibantah begitu saja.


*****


"Maksud lo apa'an!" Sentak Risda ketika dirinya kini berada dikelasnya dan berdiri dihadapan Satria.


"Lo ngomong apa sih, Da? Gue ngak ngerti," Ucap Satria yang seolah olah tidak paham dengan ucapan dari Risda.


"Jika lo nantangin Renzo, mending lo hadapi gue dulu! Jangan jadiin gue taruhannya, gue benci sama lo!"


Risda benar benar marah dengan Satria saat ini, sejak kemarin malam dirinya terus kepikiran dengan perkataan dari Afrenzo. Satria benar benar kelewatan, hingga dirinya menantang Afrenzo pun berduel dengannya hanya demi mempertaruhkan Risda.


"Bukan urusan lo, Da. Dan lo ngak berhak ngelarang gue," Ucap Satria dengan tatapan tajam.

__ADS_1


"Jelas jelas ini urusan gue! Kenapa harus gue yang kalian jadikan taruhan! Dan lo, jangan harap lo bisa ngemilikin gue,"


"Da!" Sentak Satria.


Plakkk...


Sentakkan tersebut langsung membuat Risda menampar pipi Satria dengan sangat kerasnya. Tamparan tersebut langsung membuat perhatian seluruh penghuni kelas kearah keduanya, tangan Satria pun terkepal dan hampir melontarkan sebuah pukulan kearah Risda akan tetapi langsung dihadang oleh teman temannya.


"Apa lo! Mau mukul gue ha? PUKUL!" Bentak Risda dengan kerasnya.


"Untung lo cewek, kalo cowok udah gue hajar lo, Da." Ucap Satria.


"Jangan kasar kasar napa sih sama cewek itu! Lo itu sebenarnya pahlawan atau banci sih?" Tanya Rania.


"Jangan ikut campur urusan gue, Ran!" Sentak Satria kepada Rania.


"Gue ngak akan ikut campur selama ini ngak ada hubungannya dengan sahabat gue,"


"Dan kami ngak akan biarin itu," Sela Septia.


"Renzo itu sahabat gue, gue juga ngak akan biarin lo apa apain sahabat gue," Ucap Risda.


"Gue ngak suka lo dekat dekat dengan dia, Da. Gue suka sama lo, tapi kenapa lo ngak mau nerima gue?"


"Gue ngak suka orang kasar seperti lo, kalo ngak ada teman teman gue, lo bakalan mukulin gue kan? Gue benci orang seperti itu,"


"Gue ngak bermaksud untuk mukul lo, Da. Gue hanya menggertak lo saja,"


"Ternyata lo sendiri yang kasar, Sat. Tapi kenapa lo nuduh Renzo?" Tanya Mira.


Mira dan Satria sudah berteman sejak lama, dulu waktu masih sekolah SMP, keduanya adalah teman sekelas hingga saat ini. Akan tetapi, Mira tidak pernah melihat Satria bersikap kasar seperti itu, apalagi dengan seorang wanita seperti Risda.


"Maksud lo apa'an, Ra?" Tanya Risda.


Risda tidak paham dengan ucapan Mira sebelumnya itu, hingga dirinya bertanya kepada Mira seperti itu. Tuduhan apa yang dimaksudkan oleh Mira itu, kenapa Afrenzo justru yang dituduh disini.


"Dia bilang kalau Afrenzo bukan orang yang baik, Da. Dia terus maksa gue untuk jauhin lo dengan Renzo, awalnya gue percaya dengan dia karana gue udah lama kenal dengan dia. Tapi, saat ini yang sebenarnya gue lihat, udah membuktikan semuanya," Jelas Mira.


"Jadi karena itu lo selama ini nyuruh gue untuk jauhin Renzo, Ra?"


"Sorry, Da. Gue ngak bermaksud seperti itu, gue hanya ngak mau lo disakiti sama orang seperti itu,"


"Lo memang belom tau dia sebenarnya gimana, Da. Dia itu jauh lebih kasar dan bahkan ngak pernah sama sekali memperdulikan perasaan orang lain. Gue ngak mau lo bernasib sama seperti wanita itu,"


"Wanita mana maksud lo?"


"Lo ngak perlu tau siapa wanita itu, Da. Mending lo jauhin Renzo, daripada lo bakalan sakit hati sama dia,"


Satria masih kekeh untuk menyuruh Risda menjauh dari Afrenzo. Risda pun teringat dengan ucapan Afrenzo tentang sosok wanita yang sangat mirip dengannya itu, akan tetapi Afrenzo mengatakannya bahwa wajahnya mirip dengan wanita yang ada didalam mimpinya.


"Gue ngak mau, lo ngak bisa maksa gue, Sat. Hidup gue, bukan urusan lo,"


"Da, gue lakuin ini itu demi kebaikan lo,"


"Kebaikan apa yang lo maksud? Kebaikan gue atau kebaikan lo sendiri?"


"Sudah berapa kali gue bilang, Da? Kenapa lo sama sekali ngak paham dengan maksud gue,"


"Dia itu pelatih lo sendiri, Sat. Bisa bisanya lo nuduh dia seperti itu, dia yang ngajarin lo agar bisa beladiri dan lo sendiri justru merusak nama baiknya. Murid macam apa dirimu itu? Jangan bilang hanya karena gue, lo ngelakuin semua ini, Sat. Justru gue curiga sama lo,"


"Dia emang pelatih gue dulu, Da. Sekarang bukan lagi, gue udah keluar dari organisasi itu,"


"Pelatih lo dulu? Apa yang diberikan oleh Renzo, apa bisa lo kembalikan kepadanya? Sehingga lo bilang dia mantan pelatih lo,"


Risda pun langsung bergegas untuk meninggalkan tempat tersebut, dirinya tidak habis pikir dengan kelakuan dari Satria itu. Kini waktunya istirahat, sehingga dirinya bisa keluar kelas dengan semaunya.


Risda langsung bergegas untuk menuju kekantin sekolah, karena biasanya Afrenzo sudah ada disana sambil menikmati minuman yang dirinya beli. Sesampainya disana, Risda tidak melihat keberadaan dari Afrenzo, dirinya pun duduk ditempat biasanya dia dan Afrenzo bertemu.


"Siapa wanita yang dimaksud itu? Apa hubungannya wanita itu dengan gue?" Tanya Risda lirih dan entah kepada siapa.


Dirinya merasa penasaran dengan sosok wanita yang dibicarakan oleh Satria sebelumnya, akan tetapi Afrenzo bilang bahwa dirinya mirip dengan wanita yang ada didalam mimpinya itu. Tak beberapa lama kemudian, Afrenzo datang dengan membawa segelas coklat panas, seperti biasa dirinya paling anti dengan yang namanya es ataupun dingin.


"Renzo," Ucap Risda ketika melihat Afrenzo duduk dihadapannya itu.


"Kenapa lo sedih?" Tanya Afrenzo ketika melihat wajah Risda seakan akan tengah menyimpan rasa sedih.


"Gue boleh tanya sesuatu ngak? Tapi lo harus jawab dengan jujur," Ucap Risda.


"Hemm," Afrenzo pun berdehem sambil mengangguk kepalanya pelan beberapa kali.

__ADS_1


Risda agak takut untuk mengatakannya, akan tetapi dirinya begitu sangat penasaran dengan wanita yang dibicarakan oleh Satria sebelumnya itu. Wanita itu sepertinya telah membuat Satria mengarang cerita untuk menjelekkan Afrenzo.


"Tapi lo jangan marah ya," Ucap Risda lagi.


"Iya,"


"Siapa wanita yang pernah lo maksud mirip dengan gue? Dan kenapa lo baik sama gue?"


Mendengar pertanyaan itu, Afrenzo mengerutkan keningnya. Kenapa Risda tiba tiba membahas soal wanita itu, dirinya seakan akan tidak bisa menjawab pertanyaan dari Risda. Risda terus menunggu jawaban dari Afrenzo, sementara lelaki itu hanya berdiam diri saja.


"Wanita yang mana?" Justru pesertanya itu malah dijawab dengan pertanyaan oleh Afrenzo.


"Wanita yang dikatakan oleh Satria, gue hanya pengen tau siapa wanita itu. Kenapa lo tiba tiba baik sama gue? Apa karena wajah gue yang lo bilang mirip dengannya? Renzo, jawab pertanyaan gue!"


"Sebenarnya, dia juga murid gue, Da. Satria sangat menyukai wanita itu, tapi..."


"Tapi kenapa? Lo juga suka dengan dia? Dan sekarang nasib gue bakalan sama dengan wanita itu?"


"Ngak, Da. Satria berpikir gue mau merebut wanita itu darinya, gue hanya menganggap dia sebagai murid saja. Karena kesalah pahaman itu, wanita itu pergi entah kemana dengan keluarganya, dan kabarnya tidak diketahui lagi sampai saat ini. dan kini lo hadir dalam hidupnya. Dia ngak mau lo juga pergi nantinya,"


"Jadi karena itu Satria nuduh lo? Terus dia berpikir kalo gue dan lo ...."


"Tuduhan lo benar, didalam perguruan tidak boleh ada yang namanya pacaran sesama anggota, atau akan ada perpisahan didalamnya. Jika adanya hal itu, maka ketika putus, mereka akan meninggalkan perguruan begitu saja,"


Afrenzo menjelaskannya kepada Risda dengan nada sabarnya, sehingga suaranya itu sangat enak ketika didengarkan. Risda mudah paham dengan ucapannya itu, tanpa harus berkata kasar kepadanya.


"Terus karena wajah gue mirip dengan dia, jadi lo baik sama gue?"


"Wajah kalian beda, dan lo mirip orang yang ada didalam mimpi gue,"


Mendengar itu, langsung membuat Risda terdiam. Dirinya tidak tau lagi apa yang harus dia katakan saat ini, mulutnya seakan akan tidak mau untuk mengeluarkan suaranya dihadapan Afrenzo. Meskipun Afrenzo sudah menjelaskannya, akan tetapi didalam hatinya masih penuh dengan tanda tanya.


"Da, soal Satria ...."


"Diem lo, gue masih marah dengan lo soal itu. Bisa bisanya gue dijadiin taruhan, emang gue barang apa?"


"Maaf," Ucap Afrenzo sepertinya tengah benar benar merasa bersalah.


"Awas saja kalo kalian berantem hanya karena gue, gue ngak akan pernah maafin kalian berdua nanti. Damaikan indah, kenapa harus berantem?"


"Gue ngak akan berantem,"


"Janji?"


"Janji."


Risda pun menerbitkan sebuah senyuman kepada Afrenzo, mungkin hanya Risda saja yang percaya dengan Afrenzo, sementara yang lainnya percaya dengan ucapan dari Satria. Hanya Risda saja yang selalu ada didekat Afrenzo, dan Afrenzo mulai sedikit terbuka hanya dengan Risda seorang.


"Renzo,"


"Hem?"


"Jangan pernah tinggalin gue, ya? Lo harus bimbing gue sampai jadi juara nanti, gue ingin tunjukkan kepada semuanya bahwa gue bisa meraih prestasi. Cukup anggota keluarga gue yang mengatakan bahwa gue ngak berguna, lo jangan."


"Asal lo janji sama gue, jangan pernah menyerah untuk terus latihan, dan jangan sampai lo nekat bunuh diri lagi,"


"Selama ada lo, gue ngak bisa nekat, Renzo. Gue akan selalu percaya sama lo, meskipun semua orang tidak percaya dengan lo,"


"Thanks, Da."


"Kita kan sahabat, jadi harus percaya satu sama lain. Uang bisa dicari, tapi kepercayaan tidak bisa dibeli. Jangan sia sialan kepercayaan yang telau gue berikan,"


"Lo ngak makan?"


"Gue ngak laper, gue kesini hanya mau nemuin lo doang, bukan untuk beli makanan. Kalo gitu, gue balik kekelas dulu," Risda pun bangkit dari duduknya.


"Tunggu, Da!" Afrenzo pun menghentikan langkah kaki dari Risda hingga membuat Risda menoleh kearahnya.


"Ada apa?" Tanya Risda.


"Jangan telat makan, nanti asam lambung lo kambuh,"


"Iya, tadi gue udah beli roti juga kok,"


Afrenzo pun mengangguk mendengar jawaban dari Risda, Risda pun langsung bergegas untuk pergi dari tempat itu meninggalkan Afrenzo. Sementara Afrenzo, kembali menikmati minumannya itu.


"Kenapa orang sebaik Renzo harus dituduh seperti itu? Renzo itu orang baik, kalaupun dia berpura pura baik untuk mendapatkan pujian orang lain. Kenapa dia membantu gue diam diam tanpa banyak bicara? Sepertinya gue belum mengenalinya dengan mendalam, luka apa yang lo rasakan hingga membuat lo jadi dingin seperti itu? Gue bener bener ngak bisa memahami lo, Renzo. Diri lo itu cukup misterius," Tanya Risda entah kepada siapa.


Dirinya kini sedang memperhatikan apa yang dilakukan oleh Afrenzo dari kejauhan, dan dibalik sebuah tanaman hias yang ada disana. Afrenzo sebenarnya baik, akan tetapi sikap dinginnya itu yang membuat orang lain mengira bahwa dirinya sombong dan angkuh.

__ADS_1


__ADS_2