Pelatihku

Pelatihku
Episode 109


__ADS_3

Risda berlari sambil mengusapi air matanya, rasa sesak didadanya seakan akan menyeruak keluar. Dirinya benar benar kecewa saat ini, bahkan untuk melihat wajah Ayahnya saja dirinya tidak mau.


"Risda!" Teriak Ayahnya yang terus mengejar dan memanggil Risda berkali kali.


Tanpa terasa, Risda sudah ada ditepi jalan raya setelah berjalan cukup lama. Dirinya sudah tidak melihat Ayahnya kembali dibelakangnya, dan Risda berpikir bahwa Ayahnya tidak lagi mengejarnya.


"Ayah jahat!" Teriaknya sambil menghapus air matanya kasar.


Riska terus berlari menjauh dari tempat itu, rasa takutnya yang sebelumnya itu berubah menjadi rasa kemarahan yang sulit untuk dipadamkan. Risda sudah tidak peduli lagi dengan nasibnya selanjutnya akan seperti apa, yang dirinya pikirkan sekarang adalah pergi sejauh mungkin.


"Risda!"


Tinnnn.....


Suara klakson mobil pun berbunyi dengan nyaringnya setelah teriakan tersebut, Risda yang terkejut itu pun langsung termundurkan beberapa langkah kebelakang. Bukan hanya terkejut dengan suara klakson, dirinya pun juga terkejut mendengar teriakkan itu.


Risda yang tidak melihat jalan lebih dulu itu, langsung membuat sebuah mobil memberinya klakson yang sangat keras. Risda merasa lega bahwa dirinya tidak jadi ditabrak oleh mobil tersebut, jantungnya seakan akan berdebar dengan sangat kerasnya.


"Risda, kalau tadi sampai ketabrak mobil gimana? Emang kamu mau mati sia sia?" Omel seseorang itu yang tidak lain adalah Sandi


Kepergian diserang yang tidak bisa dicegah olehnya itu pun langsung membuatnya bergegas mengambil sepeda motornya, dirinya mau mengejar anaknya itu dan bawahnya pulang menggunakan sepeda motor tersebut.


Sesampainya di tempat itu ia begitu terkejut ketika melihat sebuah mobil melaju dengan sangat cepatnya ke arah anaknya, beruntunglah Riska yang tidak sampai tertabrak oleh mobil itu. Seandainya gadis kecil itu tertabrak, mungkin nyawanya langsung melayang karena saking cepatnya mobil tersebut.


Mendengar omelan itu hanya membuat Risda berdiam diri, bahkan pikirannya saja belum sampai memikir sejauh itu. Dirinya pun mematung di tepi jalan sambil menggenggam tangannya dengan erat, dirinya bahkan tidak ingin menatap wajah Ayahnya saat ini.


Terlalu banyak kekecewaan serta kemarahan di dalam hatinya, hati kecilnya itu ingin sekali menjerit karena apa yang dilakukan oleh Ayahnya kepadanya sebelumnya. Dirinya sama sekali tidak memedulikan sosok Sandi yang berdiri didepannya itu, ia pun langsung bergegas pergi dari sana tanpa memedulikan sosok Sandi.


"Risda! Ayah belum selesai bicara!" Teriak Sandi.


"Aku benci sama Ayah! Aku ngak mau ketemu Ayah lagi!" Teriak Risda menyahuti teriakan dari Ayahnya itu.


Hatinya begitu terluka, dia bahkan tidak mau bertemu lagi dengan sosok seperti Sandi. Dirinya pun kembali berlari jauh dari tempat itu, tanpa mempedulikan sosok Ayahnya yang harus berteriak memanggil namanya.


Sandi lalu mengejar anaknya itu, setelah jaraknya tidak terlalu jauh dengan anaknya tangannya itu langsung menyahut tangan anaknya. Dirinya pun mencengkeram dengan kuat tangan anaknya itu hingga membuat telapak tangan Risda memutih, Risda pun berteriak kesakitan atas ulah dari Ayahnya itu.


"Lepaskan!" Teriak Risda yang mencoba untuk melepaskan tangan kokoh itu.


"Biar Ayah antar sekarang,"


"Nggak mau, Risda bisa jalan sendiri,"


"Tapi kan tempatnya jauh,"


Risda pun memikirkan perkataan dari Ayahnya itu, memang tempatnya sangat jauh bahkan jika naik sepeda motor pun membutuhkan waktu kurang lebih 1 jam untuk sampai di sana. Apalagi dirinya yang hanya jalan kaki, mungkin dia akan membutuhkan waktu yang berjam jam lamanya agar sampai di tempat di mana Ibunya bekerja.


Risda saja belum sampai setengah perjalanan, tapi kakinya sudah terasa nyeri karena berjalan cukup jauh. Dia pun memikirkan bagaimana jika dirinya kehausan di tengah jalan, ataupun jika dirinya diculik oleh orang yang tidak dikenal.


Karena usianya yang masih menginjak 8 tahun, apalagi dengan kasus yang beredar di masyarakat saat ini tentang penculikan anak. Hal itulah yang membuat Risda sedikit merasa takut untuk melangkah, bagaimana tidak takut? Karena dirinya yang masih kecil dan belum bisa apa apa itu, kalaupun menculiknya akan begitu mudah ketika dirinya kelelahan di jalan.


Akhirnya Risda mau untuk diantarkan Ayahnya, akan tetapi dirinya tidak mau diantarkan ayahnya menuju ke tempat Ibunya bekerja. Risda memilih untuk diantarkan ke rumah pamannya yang berada tidak jauh dari tempat dirinya berada, dia akan meminta bantuan kepada pamannya untuk mengantarkan dirinya menuju ke tempat Ibunya.


Dia tidak mau memberi petunjuk kepada Sandi tentang keberadaan dari Dewi, karena dirinya teringat tentang ancaman yang diberikan oleh seseorang kepadanya. Risda tidak mau dipisahkan oleh orang tersebut dari Ibunya, itulah hal yang terburuk yang tidak mau dia rasakan.


Keluarganya sudah hancur lebur, hal itulah yang membuat Risda tidak mau kehilangan Ibunya. jika bukan karena Ibunya, lantas karena apalagi dirinya bertahan hidup. Keluarganya sudah hancur, bahkan di usia yang menginjak 8 tahun dirinya sudah mengalami mental down.

__ADS_1


Sebenarnya bukan di usia 8 tahun dirinya sudah down, ketika dirinya menginjakkan kakinya di bangku sekolah TK, kedua orang tuanya itu sudah sering bertengkar. Hal itu membuat dirinya sangat muak berada di rumah, masa kanak-kanak yang harusnya diisi dengan canda tawa justru tidak dengan Risda, karena dimasak anak-anaknya dirinya bahkan tidak mampu lagi merasakan kasih sayang kedua orang tuanya.


Bahkan seakan akan tidak ada yang peduli dengannya, dia bahkan tidak memiliki orang yang sangat spesial di hatinya yang bisa membuatnya bertahan hidup. Di saat seluruh teman-temannya sibuk dengan bermain justru dirinya sibuk dengan tangisannya sendiri.


Keluarganya yang dulunya terlihat harmonis hingga membuat para tetangga merasa iri, kini berubah sangat drastis. Gadis yang dulunya priang dan sering membuat keributan di desa karena tingkahnya ini berubah menjadi gadis yang pendiam bahkan berbeda dengan teman seusianya.


Mungkin para orang tua lupa tentang hal itu, bagi mereka sudah terluka karena dikhianati oleh pasangan mereka. Tanpa mereka sadari, justru yang paling menderita adalah anak anak mereka sendiri.


Korban yang sesungguhnya dari perceraian sebuah keluarga adalah seorang anak, dan bukanlah para orang tua yang melakukan perceraian. Bisa dibayangkan bagaimana nasibnya seorang anak korban dari sebuah perceraian, ketika melihat Ibunya atau Ayahnya menikah lagi, lantas bagaimana nasibnya.


Kasih sayang Ibu atau Ayah sambung, tidak akan pernah bisa menyaingi kasih sayang dari Ayah atau Ibu kandung. Jika pun Ibunya menikah lagi, belum tentu si Ayah sambung bisa menerima anak dari suami sebelumnya dengan setulus hati, kalaupun mereka dikaruniai oleh anak lagi, otomatis anak sambung tersebut akan terlupakan.


Banyak anak yang menjadi anak jalanan akibat dari perbuatan orang tuanya, jangan salahkan mereka yang liar dijalanan, tapi salahkanlah mereka yang suka membuatnya saja tanpa mau bertanggung jawab tentangnya.


Jika menikah sudah pasti jodoh, Kenapa harus ada perceraian keluarga hingga membuat anak mereka yang jadi korbannya. Apakah mereka sama sekali tidak memikirkan nasib anak anak mereka? tentang bagaimana kedepannya masa depan mereka.


Jika kalian menikah karena cinta, kenapa harus di tengah jalan kalian berpisah? Menikah itu bukan hanya setahun dua tahun saja, menikah itu sekali dalam seumur hidup. Apa kalian tidak sadar dengan apa yang kalian lakukan? Perpisahan keluarga yang menjadi korbannya adalah anak anak kalian.


Kalian mungkin merasa dikhianati oleh pasangan kalian, lantas bagaimana dengan kami (Korban perceraian keluarga)? Kalian hanya merasakan dikhianati saja, tapi tidak dengan anak broken home yang merasa dunianya hancur lebur tak tersisa sedikitpun.


Bahkan mereka akan merasa sangat kesepian, tidak ada tempat di mana mereka bisa mengadu. mungkin kalian akan mengatakan lebay kepada anak yang broken home, masa gitu aja nangis? kalian memang belum merasakannya bagaimana korban broken home.


Di saat para teman-temannya saling bercanda kulau dengan kedua orang tuanya, saat itulah anak broken home merasa sesak tidak ada karena tidak bisa melakukan itu dengan orang tuanya. Mereka hanya bisa melihat teman temannya yang bahagia, tanpa bisa merasakan kebahagiaan itu sendiri.


( Ayah maafin aku ya selama ini, aku belum pernah membahagiakan ayah disisa terakhir hidup Ayah. Maafin aku, bahkan di saat Ayah pergi untuk selama lamanya aku justru pergi sejauh mungkin. Maafin aku karena tidak sempat melihatmu disisa terakhir hidupmu, semoga kau tenang di alam surga. Ayah adalah orang baik, kalau bukan karena Ayah waktu itu mungkin aku sudah mati, tapi ayah juga sangat jahat kepadaku hingga menolehkan sebuah luka yang begitu sangat besar.


Meskipun hari hari itu telah berlalu pergi, tapi rasa sakit itu masih membekas sampai sekarang. Kau telah berhasil, berhasil membuat anakmu ini hancur lebur tak tersisa. Setelah berhasil merebut semua kebahagiaan anakmu yang sama sekali tidak pernah ia dapatkan selama ini, selamat atas semuanya, semua yang terjadi di dunia ini selalu ada hikmahnya.


Kenapa aku tidak bunuh aku saja, biarkan anakmu ini pergi lebih dulu daripada dirimu. Tapi nyatanya apa? Kau justru pergi lebih dulu daripada anakmu ini. Sekarang aku benar benar merasa sendirian, kau jahat karena meninggalkanku, Cinta pertamaku telah tiada dan meninggalkan sebuah bekas luka. )


*Flash back off*


Risda pun menghapus air matanya dengan kasar, ia tidak mampu melanjutkan ceritanya itu. Mengingat itu membuatnya terasa sangat sakit, apalagi dirinya dengan beraninya menodongkan sebuah pisau ke arah ayahnya.


"Lalu setelah itu apa yang terjadi?" Tanya Afrenzo kepada Risda.


"Setelah itu gue diantar ke rumah paman gue itu, sampai di sana Bokap gue langsung dimarahi oleh paman gue. Habis itu sorenya kue langsung diantar ke rumah majikan Bunda, gue benar benar seperti kehilangan harapan hidup, Gue nggak tahu harus melangkah gimana lagi. Setelah dia memutuskan sayap gue, Gue benar benar kehilangan jati diri gue," Jawab Risda sambil menahan isak tangisnya.


"Setelahnya Bokap lo sama sekali nggak nyariin lo? Atau sekedar hubungin lo?"


"Gue nggak tahu soal itu, Renzo. setelah kejadian waktu itu Bos Nyokap gue langsung mindahin sekolah gue,"


"Jadi lo pernah pindah sekolah, Da?"


"Pernah. Lalu di sekolah baru gue itu, gue dikucilin dan selalu di-bully, karena gue hanya seorang anak pembantu. bahkan teman teman sekelas gue, nggak ada yang mau berkawan dengan gue, bahkan mereka pun sering menghina gue karena gue hanya seorang anak pembantu yang tidak pantas berkawan dengan mereka,"


Di masa itu sama sekali tidak ada yang ingin berkawan dengan Risda, dirinya selalu dipandang rendah oleh mereka karena hanya anak seorang pembantu. Bahkan di saat itu Risda selalu menyendiri, hari harinya dipenuhi dengan kesunyian dan sama sekali tidak ada canda tawa di dalam hidupnya.


Di saat itulah mentalnya benar benar down, nilai pelajarannya pun sangat merosot, tugas sekolah pun tidak pernah ia kerjakan apalagi tugas rumah, bahkan di usia seperti itu dirinya ingin sekali mengakhiri hidupnya. Hari hari itu benar benar suram baginya, bahkan karena tidak pernah patuh dengan aturan sekolah dirinya pun sampai diancam dikeluarkan dari sekolah.


"Kata mereka, anak seorang pembantu tidak pantas menjadi ratu. Gue masih ingat dengan jelas saat itu, di mana gue merasa dunia itu sempit hingga gue tidak bisa keluar dari kegelapan yang menyelimuti gue, gue pengen mati saja, Renzo. Gue sama sekali tidak memiliki harapan untuk hidup lebih lama, hingga saat itu gue mulai menyiksa diri gue sendiri,"


"Dengan cara?"


"Jarang makan, makan yang asam asam dan yang bisa membuat sakit, dan akhirnya gue memiliki riwayat sakit lambung. Kata orang orang, sakit lambung bisa menyebabkan kematian, sehingga hal itu membuatku ingin sekali cepat mati."

__ADS_1


"Apa yang lo dapatin? Sudah mati?"


"Belom sih. Mungkin lo punya cara yang lainnya, kasih tau gue,"


"Ada satu cara,"


"Apa'an?" Tanya Risda dengan antusiasnya.


Sebuah jitakkan pun meluncur begitu saja dikening Risda, pelakunya tidak lain adalah sosok pria yang ada di depannya itu. Bukannya memberi solusi, lelaki tersebut justru memberinya sebuah jitakan yang sangat keras.


"Biar pikiran lo sadar, dunia tidak sesempit apa yang lo lihat," Ucap Afrenzo setelahnya.


"Iya ya gue tahu, tapi nggak usah njitak njitak gue lagi! Udah tahu tanggal lo itu berat, sakit tahu nih pala," Keluh Risda sambil mengusap usap keningnya yang terasa panas akibat cetakan dari Afrenzo.


"Sepertinya lo harus cuci otak deh,"


"Mungkin. Pikiran gue kan udah agak konslet, mungkin lo tahu caranya gimana cuci otak, beritahu gue dong,"


"Mau diruqiah?"


"Pikiran gue yang konslet, bukan karena demit. jadi kagak perlu di ruqiah,"


Risda pun teramat kesal karena jawaban dari sosok lelaki yang ada di depannya itu, bukan menjadikannya solusi justru lelaki itu malah menjerumuskannya. Risda pun langsung meluruh ke sebuah meja yang ada di depannya itu, dirinya terlihat kacau balau setelah menceritakan masa kelam dalam hidupnya kepada sosok Afrenzo.


"Sudah selesai dongengnya?" Tanya Afrenzo.


"Gue nggak sanggup untuk ngelanjutin, Renzo. Sekarang pikiran gue masih agak belum tenang, gue jadi keingat waktu gue pindah sekolah dulu,"


"Emang waktu itu nggak ada guru yang belain lo?"


"Jangankan belain gue, justru mereka sering ngomelin gue karena nilai gue yang jelek. bahkan ada guru wanita yang sampai menarik rambut gue dan memukul kue dengan sebuah penggaris panjang, karena gue yang nggak sengaja kakak ngerjain tugas,"


"Kalau soal itu Nyokap lo tahu nggak?"


"Nggak ada yang tahu, Renzo. Gue nggak pernah cerita apapun ke nyokap gue selama ini, hal yang gue lalui pun mereka tidak ada yang tahu. Bahkan di tempat ngaji gue dulu, gue juga di bully oleh siswa yang ada di depan ngaji itu karena mereka terkena hasutan dari teman sekelas gue yang ikut ngaji di sana,"


"Lalu guru ngaji lo itu diam saja gitu? Kalau mereka diam saja mereka tidak pantas disebut sebagai guru, meskipun mereka adalah guru ngaji tapi sama saja mereka membiarkan seorang anak direndahkan oleh yang lainnya,"


"Mereka langsung memarahi anak anak itu, Bu Umi selalu membela. Tapi gue menjadi trauma, dan sejak saat itu gue udah nggak mau ngaji lagi dan memilih untuk ngaji di rumah saja,"


"Dari cerita lo, lo sangat hebat, Da. Lo bisa melewati masa masa itu sehingga mampu bertahan hingga sekarang, mungkin orang lain akan menyerah tapi lo tidak. Kalau seperti ini, seharusnya lo lebih kuat untuk menghadapi ujian yang akan datang bukan menyerah begitu saja,"


"Namanya juga manusia Renzo, pasti mereka juga memiliki di mana mereka mempunyai titik terlemahnya sendiri. Tidak selalu orang yang kuat bisa menghadapi semua ujian, mereka juga bisa lemah dan mereka juga bisa menyerah,"


"Mulai sekarang jangan pernah menyerah lagi ya? Kita memiliki ujian masing masing, Allah tidak akan menguji suatu kaum melebihi kesanggupannya sendiri. Jadi apapun masalah ke depannya, lo jangan sampai menyerah begitu saja,"


"Insya Allah ya, gue juga ngak tau kesanggupan gue sampai dititik apa,"


"Semangat, Da. Gue yakin lo bisa,"


"Kalo gue gagal?"


"Coba lagi dan coba lagi sampai berhasil."


Risda pun tersenyum ke arah cowok itu, cowok itu begitu yakin bahwa dia sudah mampu melalui semuanya. Keyakinan itulah yang membuat Risda mampu untuk bangkit kembali, meskipun dirinya beberapa kali dijatuhkan dengan kerasnya.

__ADS_1


__ADS_2