Pelatihku

Pelatihku
Episode 164


__ADS_3

Afrenzo pun melemparkan kunci motornya ke kaki Risda, bahkan dirinya sama sekali tidak menoleh sedikitpun kepada Risda karena dia tidak mau jika Risda terus menatap kearah memarnya itu. Risda tak kunjung mengambil kunci motor itu, akan tetapi pandangannya masih terarah kepada Afrenzo yang sudah membaringkan tubuhnya membelakangi Risda.


"Pergi sekarang!" Teriak Afrenzo tanpa menoleh.


"Renzo, lo beneran nyuruh gue pergi dari sini bawa motor lo? Kan gue nggak bisa kalo nggak pake motor metik. Kalo gue sampe kecelakaan gimana?" Risda beralasan, karena dirinya tidak mau pergi dari tempat itu dan meninggalkan Afrenzo dalam keadaan seperti ini.


Mendengar pertanyaan Risda, Afrenzo hanya berdiam diri tanpa berkata apapun kepada Risda. Risda berpikir bahwa Afrenzo tidak mendengarnya, dan Afrenzo tengah tertidur saat ini sehingga tidak mendengar pertanyaan Risda.


"Kalo gue kecelakaan, kan sayang motor lo yang kena imbasnya. Gue nggak bisa ganti rugi nantinya, apalagi gue masih punya hutang sama lo. Kalo gue masih hidup bisa gue cicil, tapi kalo gue mati gimana? Yang ada gue ditagih diakhirat sama malaikat, lalu gue bayar pake apa? Kalo disiksa, gue takut."


Afrenzo masih saja berdiam diri, akan tetapi Risda takut mendekatinya karena refleks yang dimiliki oleh Afrenzo, dan refleks itu bisa menyerang siapa saja yang mendekatinya. Oleh karena itu, Risda masih tetap berdiri ditempatnya tanpa bergerak sedikitpun dari tempatnya itu.


"Yaudah kalo lo udah nggak peduli lagi sama gue." Putus Risda karena lelah berbicara sendiri tanpa direspon oleh Afrenzo.


Risda pun menghela nafasnya dengan kasar, dirinya lantas berbalik badan untuk membelakangi Afrenzo dan bersiap pergi dari sana. Akan tetapi, suara berat milik Afrenzo pun langsung menghentikan langkah kaki Risda yang hendak melangkah, dan masih melayang diudara.


"Tunggu!" Teriak Afrenzo.


Dengan senangnya, Risda pun membalikkan tubuhnya menatap kearah Afrenzo, "Lo nggak jadi nyuruh gue pergi, kan? Lo takut gue kena..."


"Biar Fandi yang mengantar lo pulang." Belum sempat Risda melanjutkan perkataannya, Afrenzo langsung memotongnya begitu saja.


"Lagi lagi Fandi, lagi lagi Fandi. Lama lama gue jengkel sama tuh orang!" Keluh Risda dengan histerisnya.


"Mau diantar Fandi atau jalan kaki?" Tanya Afrenzo.


"Mending gue ngesot!"


Risda semakin kesal dengan Afrenzo, dirinya pun menghentakkan kakinya dilantai itu beberapa kali karena sangking kesalnya dengan lelaki yang ada dihadapannya saat ini. Risda tidak tau dengan apa yang terjadi kepada lelaki itu sebelumnya, sepertinya Afrenzo terlihat habis berantem dengan seseorang.


"Minta kunci motor lo ke Mama, gue udah hubungi Mama tadi." Tanpa mempedulikan ucapan Risda, Afrenzo pun mengalihkan pembicaraan.


"Gue mati atau tetap disini?" Tanya Risda yang mencoba untuk membuat pilihan kepada Afrenzo.


"Pulanglah. Lo nggak bakal pernah ngelakuin itu karena lo punya janji sama gue, jika lo mengingkarinya bersiaplah ditagih sama malaikat."


Seketika Risda langsung kalap begitu saja, Afrenzo sekarang sudah mulai pandai untuk membalikkan perkataan Risda itu. Seakan akan Risda memiliki saingan baru untuk bermain kata kata, dan bahkan dirinya dibuat kehabisan kata kata didepan cowok itu.


"Renzo, gue nggak mau pulang tanpa lo. Gue nggak bisa ninggalin lo sendirian disini, apalagi dengan kondisi lo seperti ini sekarang. Biarin gue disini sama lo, ya? Plisss..." Dan pada akhirnya Risda pun memohon, karena dirinya akan percuma jika mencari cari alasan didepan Afrenzo.


"Da, pulanglah sekarang, sebentar lagi matahari akan tenggelam."


"Gue nggak peduli."


"Bokap gue akan kesini sebentar lagi, gue nggak mau lo kena marah olehnya, Da. Gue akan ngerasa bersalah jika lo tetap disini sama gue," Suara Afrenzo terdengar semakin memelan nan berat pertanda bahwa dirinya tengah menahan sakit yang teramat sangat.


Suara itu seketika membuat hati Risda terasa sakit, dirinya langsung berlari kearah Afrenzo, dan menjatuhkan tubuhnya didekat Afrenzo yang tengah terbaring itu. Risda pun mengangkat tangan Afrenzo dengan kedua tangannya, merasakan itu langsung membuat Afrenzo menoleh kearah Risda.


"Apa yang terjadi sama lo, Renzo? Siapa yang telah membuat lo seperti ini? Katakan kepada gue!"


"Kalo lo tau. Emang lo bisa apa, Da? Lo nggak bisa nyakitin dia, kalo lo ngelakuin itu gue yang bakalan terluka karena ngelindungin dia."


"Apa itu Bokap, lo?"


"Dia marah sama gue, Da. Sebentar lagi dia akan nyusul kesini kalo urusannya sudah selesai, mendingan lo cepetan pergi dari sini daripada lo kena imbasnya nanti."


"Emang dia marah kenapa, Renzo? Apa gara gara gue lagi yang deket sama lo?"


"Urusan pribadi, lo nggak perlu ikut campur."


Tangan Afrenzo pun meraih ponsel miliknya, dirinya pun mencoba untuk menghubungi seseorang nan jauh dari sana. Risda terus memperhatikan Afrenzo dengan rasa teramat sangat sedih, kenapa mimpinya harus ditentang oleh orang tuanya? Benar benar tidak adil baginya.


Matahari pun hampir tenggelam, ruangan itu mulai sedikit gelap akan tetapi Risda langsung bangkit untuk menyalakan lampu yang ada disana. Sedangkan Afrenzo, dirinya masih tetap berada diposisinya dengan membaringkan tubuhnya sejak tadi.


Tak beberapa lama kemudian, Fandi tiba tiba datang ketempat itu setelah dihubungi oleh Afrenzo. Fandi langsung masuk kedalam ruangan itu, melihat kedatangan Fandi, Afrenzo langsung bangkit duduk dari posisinya.


"Ada apa, Ren? Kenapa ngehubungin gue tiba tiba?" Tanya Fandi, yang memang diluar jam latihan akan memanggil nama bukan pelatih. Karena itu adalah permintaan dari Afrenzo untuk menyembunyikan identitasnya sebagai seorang pelatih.

__ADS_1


Gelar yang didapatkannya bukanlah hal yang dirinya suka pamerkan, tidak semua orang tau bahwa dirinya adalah seorang pelatih karena yang mereka tau bahwa dia adalah peserta yang sama seperti yang lainnya.


"Lo anterin dia kerumah gue sekarang, Fan. Untuk ngambil motornya dirumah gue, gue nggak bisa nganterin dia saat ini." Ucap Afrenzo dengan wajah datar untuk menyembunyikan rasa sakitnya itu.


"Kerumah lo? Lo ada masalah lagi?" Tanya Fandi yang nampak biasa, karena sudah sering melihat Afrenzo seperti itu.


Afrenzo hanya menganggukkan kepalanya saja dan langsung membuat Fandi mengerti. Fandi lantas menghela nafasnya dengan kasar dan dirinya lalu menatap kearah Risda.


"Ayo gue antar lo pulang," Ucap Fandi sambil menarik tangan Risda.


"Ihhh... Pemaksaan banget sih jadi orang! Lepasin Fanfan! Woi penyiksaan lo ya, tangan gue sakit tau! Renzo tolongin gue! Renzo, gue kagak mau pulang sama nih orang! Tolongin gue!" Teriak Risda histeris akan tetapi diabaikan oleh Afrenzo, sementara Fandi sama sekali tidak melepaskan pegangan tangan itu meskipun Risda terus memberontak.


"Bisa diem ngak sih!! KUPING GUE PANAS!" Bentak Fandi sambil melepaskan pegangan tangannya dengan kasar ketika keduanya sudah berada diparkiran motor.


"Lo kok nyolot sih jadi orang! Lo kasar, gue nggak suka." Risda lantas membuang muka dari wajah Fandi yang sangat menyebalkan menurutnya.


"Emang gue peduli? Asal lo tau ya, gue hanya ngejalanin perintah doang."


Fandi lantas menaiki motornya dan menyuruh Risda untuk naik, akan tetapi Riska tidak mau naik juga kearah motor itu. Risda masih memikirkan tentang Afrenzo yang masih ada didalam sendirian, dia sangat takut kalau Afrenzo sampai kenapa napa.


"Gue nggak mau pulang. Kalo Renzo kenapa napa gimana?" Tanya Risda yang pandangannya mengarah ke arah pintu aula beladiri.


"Apa sih yang bisa terjadi sama tuh orang? Lo tenang aja, dia kagak bakalan mati kok."


Karena melihat Risda yang tak kunjung naik keatas motornya itu, Fandi langsung menariknya begitu saja, dengan penuh paksaan. Risda yang sangat kesal itu lantas segera naik, akan tetapi hatinya sama sekali tidak ingin pergi dari tempat itu, sementara waktu sama sekali tidak mendukungnya.


"Jangan ngebut, gue takut."


"Cewek kayak lo punya rasa takut juga ya ternyata? Gue pikir kagak punya, Da. Cemen lo!"


"Bac*t!"


"Pegangan yang erat! Wahana kecepatan akan melaju!"


"Gila lo? Awas aja ya kalo sampe naik lo ngebut. Gue bisa pukul lo dari belakang!"


*****


Sesampainya didepan rumah Afrenzo, Risda nampak begitu marah dengan wajah yang memerah padam. Dirinya pun menatap nyalang kearah Fandi, sementara Fandi sendiri hanya bersikap bodoamat kepadanya.


"Buruan sono ambil motor lo, bosen gue lihat wajah lo." Usir Fandi kepada Risda yang tengah berdiri didepannya saat ini.


"Asem lo, Fan. Gara gara lo nih kerudung gue berantakan kayak gini, udah jarum pentulnya ilang lagi. Si*lan emang lo, udah gue bilang jangan ngebut masih aja ngebut. Breng*ek lo!" Sentak Risda sekaligus mengomel ngomel kepada Fandi hingga membuat Fandi menutup kedua telinganya dengan tangannya.


"Lo bisa nggak berhenti ngomel? Bosen gue dengernya dari tadi."


"Kagak bisa! Lo harus tanggung jawab cariin gue jarum pentul yang lo ilangin itu!"


"Rempong banget sih jadi cewek!"


Fandi pun langsung mengacak acak jilbab yang digunakan oleh Risda, entah apa yang ingin dirinya lakukan saat ini. Fandi pun mengikat ujung jilbab dengan ujung yang lainnya dan membuatnya menjadi pengganti jarum pentul yang hilang.


"Nah selesai, gitu aja repot."


Mendengar jawab dari Fandi, Risda langsung mendekat kearah spion milik Fandi yang ada disepedah motornya itu. Dirinya pun bercermin disana, ikatan Fandi begitu rapi hingga tidak terlihat bahwa dirinya tidak memakai jarum pentul disana.


"Huaa....." Risda pun menangis sambil menjerit. "Lo apa'in jilbab gue? Udah kayak mak mak tau ngak sih! Hiks... Hiks... Hiks..."


"Astaghfirullah nih anak. Jangan sampe orang orang sini berpikir kalo gue aniaya lo! Bisa diem nggak sih? Atau mau gue sumpel pake sandal mulut lo itu?"


"Biar semua orang tau kalo lo itu jahat! Pake mau nyumpel pake sandal lagi."


"Udah deh, jangan kayak anak kecil lah. Berisik gue dengernya."


"Udah salah nggak mau disalahin, dasar keturunan Fir'aun!"


"Lo keturunan Abu lahab!"

__ADS_1


"Lo keturunan Abu jahal!"


"Lo penerus Juhainah!"


"Gue kagak seperti juhainah tau! Enak saja lo bilang!"


Keduanya pun terlihat sangat ribut didepan rumah Afrenzo, hingga tiba tiba seorang wanita keluar dari halaman rumah itu dan membukakan pintu gerbang tersebut. Kedatangan wanita itu langsung membuat keduanya berhenti saling berdebat, dan keduanya langsung membisu begitu saja tanpa ada kata kata yang keluar.


"Kalian bedua kenapa ribut disini?" Tanya wanita itu yang tidak lain adalah Ibu dari Afrenzo.


"Dia yang duluan, Tante. Enak saja ngatain orang," Risda pun menyahuti ucapan Rahma sambil menundukkan kepalanya.


"Fan," Ucap Rahma.


"Maaf sudah bikin keributan disini, Tante. Saya cuma mau nganterin nih anak kesini untuk ngambil motornya saja, kalo begitu saya pamit dulu."


"Nggak mampir dulu kedalam?"


"Lain kali aja, Tan. Kasihan Renzo disana sendirian,"


"Ya sudah. Jaga anak Tante, ya?"


"Iya Tante."


Fandi pun langsung meraih tangan Rahma dan mencium tangannya untuk berpamitan, setelahnya dirinya pun bergegas meninggalkan tempat itu dengan memakai motornya tersebut.


"Motor kamu ada di garasi, biar Tante ambilin kuncinya dulu. Ayo masuk," Ajak Rahma kepada Risda dengan sebuah senyuman yang menengkan.


"Iya makasih, Tan. Maaf ngerepotin,"


"Nggak papa."


Risda pun mengekori Rahma, dirinya pun langsung menuju ke arah bagasi dan mengeluarkan motornya dari sana. Sambil menunggu Rahma mengambilkan kunci motornya, dirinya pun duduk ditepi sebuah kolam ikan koi yang ada dihalaman rumah Afrenzo itu.


Risda memperhatikan ikan ikan yang tengah berenang renang didalamnya, sangking fokusnya ssmpai sampai dirinya tidak menyadari bahwa Rahma sudah duduk didekatnya sambil menatap dirinya.


"Ikannya tinggal dikit habis kena banjir beberapa bulan yang lalu. Mangkanya nggak ramai lagi seperti dulu," Ucap Rahma yang tiba tiba dan langsung membuat Risda terkejut.


"Tante suka ikan?" Tanya Risda.


"Bukan. Renzo suka memelihara ikan, bahkan dengan hewan sekalipun dirinya sangat penyayang. Mangkanya Papanya membuatkan dia kolam ikan didepan rumah, karena dia sangat menyukainya dan damai melihatnya."


"Jadi Papanya sangat menyayanginya? Tapi kenapa dia sering memukul Renzo?"


"Banyak hal yang sulit dijelaskan diantara hubungan keduanya. Tante dengar dari Renzo, kalau kamu sering menganggunya, tapi dia suka."


"Bohong itu Tante!" Sontak Risda langsung berseru begitu saja, "Mana ada diriku mengganggunya, yang ada dirinya yang selalu muncul tiba tiba." Cicit Risda pelan ketika menyadari nada bicaranya sebelumnya kepada Rahma.


Rahma pun tersenyum sambil mengusap puncak kepala Risda, hal yang sering dilakukan oleh Afrenzo kepadanya. Tiba tiba terdengar suara adzan magrib yang berkumandang, mendengar itu sontak langsung membuat Risda berpamitan untuk pulang.


"Kenapa buru buru? Ini masih adzan, ngak baik diperjalanan ketika adzan magrib berkumandang." Tanya Rahma kepada Risda.


"Nanti keluarga saya marah, Tante. Apalagi sampai pulang telat,"


"Ya sudah, hati hati dijalan."


"Iya Tante, assalamualaikum."


"Waalaikumussalam."


Risda pun meraih tangan Rahma dan menciumnya untuk berpamitan pulang, setelahnya dirinya pun menyalakan motornya untuk bersiap siap pergi dari rumah Afrenzo itu. Sebelum memutar gas motornya, Risda menoleh terlebih dahulu untuk melihat ikan ikan yang berenang itu.


Dirinya pun menganggukkan kepalanya kepada Rahma, dan dibalas senyuman oleh Rahma. Setelahnya dirinya pun memutar gas motor miliknya itu, dan dirinya pun melaju meninggalkan tempat tersebut.


Rahma terus memperhatikan Risda yang mengendarai motornya, hingga pandangan Risda itu pun lenyap karena terhalang bangunan bangunan rumah yang ada disana.


"Begitu banyak kesedihan yang disembunyikan gadis itu, tapi terlihat jelas diwajahnya, semoga saja dia kuat menjalani kehidupannya."

__ADS_1


__ADS_2