
Risda dengan santainya berjalan di lorong sekolah itu, karena waktu menunjukkan saatnya untuk sholat dhuhur berjama'ah. Risda menyelinap masuk ke dalam kelas lainnya, seperti biasa dirinya tidak pernah mengikuti sholat berjamaah di masjid.
Afrenzo yang paham mengenai Risda itu pun sudah menduga gerak geriknya sejak tadi, dirinya pun mengikuti Risda secara diam diam tanpa membuat Risda curiga bahwa dirinya sedang diikuti saat ini.
Afrenzo terus mengawasi gadis itu kemanapun gadis itu melangkah, bahkan di saat Risda sedang menyelinap dalam kelas, Risda sampai tidak tahu bahwa dirinya diikuti.
Padahal tidak membutuhkan waktu lama untuk melakukan sholat dzuhur berjama'ah, akan tetapi Risda sangat sulit untuk diberitahu. Bahkan hal itu sampai membuat Afrenzo paham mengenai tingkah laku Risda yang mencurigakan itu, setiap jam menunjukkan pukul 12 siang Afrenzo selalu bersiap siap untuk mengintai gadis itu.
"Untung saja cowok itu tidak ada di sini, Alhamdulillah selamat lah diriku dari dia, rezeki anak soleh," Ucap Risda merasa bersyukur karena tidak menemukan sosok Afrenzo, padahal cowok itu sudah mengikutinya sejak tadi.
Risda pun masuk ke dalam sebuah ruangan perpustakaan, di sana terlihat sangat sepi bahkan penjaga ruangan itu sudah pergi ke masjid. Hal itu membuat Risda semakin mudah untuk bersembunyi, apalagi tidak ada yang tahu bahwa dirinya bersembunyi di dalam ruangan itu.
Risda pun berjongkok untuk bersembunyi di balik lemari buku yang ada di sana, Afrenzo pun dengan diam diam masuk ke dalam ruangan itu. Bahkan di saat dirinya masuk pun Risda sama sekali tidak merasa curiga, sudah kesekian kalinya dirinya terus mengintai gerak gerik Risda.
Riska merasa masih merasa aman saat ini, karena tidak ada yang mengetahuinya bahwa dirinya telah bersembunyi di balik sebuah rak buku. bukannya tidak ada yang tahu melainkan Afrenzo yang sudah mengetahuinya akan tetapi masih berdiam diri tanpa melakukan tindakan, dengan susah payah gadis itu terus bersembunyi.
Dari kejauhan terlihat Afrenzo yang tengah berdiri sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya, dirinya terus melihat ke arah gadis itu sambil mengawasinya. Riska merasa bersyukur karena tidak menemukan keberadaan dari Afrenzo di sana, Afrenzo pun perlahan-lahan mendekat ke arahnya dan menyentuh pundaknya pelan.
"Woi lo bisa diem gak sih?" Tanya Risda lirih kepada sosok yang telah memegang pundaknya itu.
"Ngapain lo di sini?" Tanya Afrenzo.
"Jangan keras keras nanti cowok kulkas itu tahu keberadaan gue di sini," Ucapnya sambil menaruh jari telunjuknya di depan bibirnya.
Risda tidak menoleh ke arah orang yang memegang pundaknya itu, sehingga cowok kulkas yang dimaksudnya itu merasa kebingungan dengan gadis itu. disda selalu memanggil Afrenzo dengan sebutan cowok kulkas karena sikapnya yang dingin, siapa sangka cowok itu sudah berdiri di belakangnya saat ini.
Afrenzo masih tetap berdiri di belakangnya sambil memegang pundaknya itu, Risda benar benar tidak menyadari siapa yang tengah memegangnya itu. Seandainya dia tahu dirinya akan sangat terkejut setelah mengetahui siapa yang berdiri di belakangnya, Risda masih fokus menatap ke arah pintu melalui celah celah buku.
"Lo bisa diem nga....." Ucapannya menggantung disaat dirinya menoleh ke belakang dan mendapati sosok Afrenzo yang sudah berdiri dibelakangnya itu, "Renn...." Nada bicaranya seakan akan seperti tengah melihat sosok seorang hantu.
"Ngapain?" Tanya Afrenzo dengan nada datarnya.
"Sembunyi," Jawab Risda jujur dengan polosnya.
"Sembunyi dari siapa?"
"Dari lo sendiri,"
"Hem... Cepat ke masjid sekarang!" Nada bicara Afrenzo langsung berubah dan menjadi bertambah tinggi.
Risda pun langsung berlari menuju kemasjid tanpa membawa mukenah yang ada didalam tasnya itu, sesampainya dihalaman luar masjid, dirinya baru menyadari akan hal itu. Risda lalu bergegas kembali menuju kedalam kelasnya untuk mengambil mukenah tersebut, ketika dirinya menginjakkan kakinya didepan kelas, sudah iqomah pun terdengar.
"Yaahhh... telat," Ucapnya dengan nada sedikit kecewa akan tetapi didalam batinnya dirinya merasa sangat senang.
Tiba tiba Afenzo datang menghampirinya, Risda hanya menyengir dihadapan Afrenzo saat ini. Gadis itu merasa sangat takut ketika melihat tatapan dari Afrenzo yang sangat menajam itu, bahkan tatapannya saja sudah mampu untuk mengintimidasi seseorang.
"Kenapa masih di sini?" Tanya Afrenzo kepada Risda.
"Percuma ke masjid juga soalnya gue sudah telat," Jawab Risda seakan akan pasrah dengan keadaan.
"Sholat sendiri,"
__ADS_1
"Tapi kenapa lo juga ngak ikut jama'ah? Padahal sholat jama'ah itu pahalanya sangat besar daripada sholat sendirian," Tanya Risda yang merasa aneh dengan lelaki itu.
"Sudah tugas gue untuk ngawasin orang yang bandel kayak lo, lo sendiri juga tahu kalau sholat berjama'ah itu pahalanya besar, tapi kenapa lo ngak mau langsung masuk ke dalam masjid sama seperti yang lainnya?"
"Tugas lo banyak banget sih, emang semuanya harus dikerjain oleh ketua OSIS gitu?"
"Bukannya jawab pertanyaan gue, malah mengalihkan pembicaraan," ucap Afrenzo dengan nada dingin.
"Lagian sudah telat, Renzo. Kalau gue ke masjid sekarang pun gue sudah ketinggalan beberapa rakaat,"
"Kalau sudah tahu bakal ketinggalan Kenapa harus sembunyi dulu?"
"Kan sudah kebiasaan."
"Kebiasaan seperti itu harusnya lo ubah menjadi kebiasaan yang baik, lo bahkan pura-pura lupa dengan pencipta lo sendiri, bagaimana bisa pencinta lo ingat sama lo suatu saat nanti di akhirat."
"Gue harus gimana sekarang?"
"Setelah semuanya kembali ke kelas lo pergi ke masjid untuk melakukan sholat, atau enggak, sekarang juga lo masuk ke dalam aula beladiri di lantai atas dan lakukan salat di sana."
"Mending gue ke aula bela diri daripada harus pergi ke masjid, setelah semuanya masuk ke dalam kelas,"
"Ya udah segera laksanakan di sana."
Risda langsung bergegas menuju ke aula bela diri, dirinya pun langsung mengambil air wudhu di sana. Afrenzo juga mengikutinya agar dirinya tidak membuat alasan lagi, Lisda pun benar-benar melaksanakan salat dengan sendiri di sana.
Setelah itu Risda segera bergegas kembali menuju kelasnya, dirinya sudah melihat teman temannya berada di dalam kelas setelah selesai melaksanakan sholat berjamaah. sementara Afrenzo masih berada di dalam aula bela diri, dirinya juga melaksanakan sholat sendiri di sana.
"Enak aja lo bilang, gue habis selesai melakukan sholat nih. Ucapin selamat dong, meskipun tanpa berjamaah gue pun sudah melaksanakannya," ucap Riska yang merasa bangga dengan apa yang dilakukannya itu.
"Horeee.... semangat Risda berubah!" Seru Septia kegirangan mendengarnya meskipun kegirangan itu hanyalah dibuat buat saja olehnya.
"Wah hebat sekali ya Risda sekarang," Ucap Mira yang terlihat seperti sedang menyinyir.
"Eh kalian itu bukannya ucapin selamat dengan baik malah menyindir lagi, seharusnya kalian bangga sama gue,"
"Bangga apanya, Da? Kalau bukan karena Renzo lo nggak bakalan pergi untuk salat kan? mana mungkin Risda melakukan itu kalau bukan karena si pawangnya galak," Sela Rania yang mendengarnya.
Mereka sama sekali tidak merasa aneh jika Risda pergi untuk melakukan sholat dhuhur, karena mereka semua tahu apa penyebabnya Risda melakukan itu. Biar bagaimanapun wajah Afrenzo terlihat sangat menyeramkan baginya, sehingga Riska dengan terpaksa melakukan itu.
Tidak heran lagi apa penyebabnya, mereka baru akan heboh jika Riska melakukan itu tanpa rasa takut dengan sosok Afrenzo. Kalau masih dalam pengawasan cowok itu, mereka sama sekali tidak terkejut ataupun kagum dengan Risda.
"Rupanya lo terlalu ngawasin gue ya, Ran. sampai sampai lo hafal bener tentang gue,"
"Gue kan pengintai yang baik, Da. Meskipun tanpa lo bilang sekalipun itu gue sudah tahu kalau lo emang takut dengan cowok itu, eh bukan takut deh tapi lebih tepatnya lu jatuh hati kan sama dia?"
"Jatuh hati apanya? Boro borojatuh hati sama dia hatiku berpindah aja gue udah mati gimana bisa hati gue sampai jatuh,"
"Maksud gue bukan itu, Da. jatuh hati itu bukan hati lo itu jatuh ke lantai astagfirullah, ngomong sama lu itu kayak ngomong sama anak bayi tahu kagak mudeng sama sekali."
"Kan emang gue masih bayi,"
__ADS_1
"Lo itu bukan bayi lagi, Da. Lo itu udah besar dan bau tanah tahu,"
"Kayak tahu aja kalau gue bawa tanah? Emang lo tau nyium bau gue? Boro boro nyium bau gue, orang lo nya aja nggak pernah tuh peluknpeluk gue, astagfirullah. Kenapa gue jadi gini sih? Lesbi tahu,"
”Sudah sudah, ayo bubar sebentar lagi jam masuk sekolah tiba, emang kalian mau dimarahi guru kalau kalian masih tetap ngerumpi di sini? kalau gue sih ogah mending balik aja kebangku masing masing," Sela Nanda yang sejak tadi mendengarkan pertikaian mereka.
Mendengar itu langsung membuat semuanya membubarkan diri dari tempat itu dan langsung duduk ke tempat masing-masing, mereka juga tidak mau bahwa mereka akan dihukum oleh para guru karena berada di tempat duduk lainnya.
*****
Waktu pulang sekolah pun tiba, seluruh siswa pun mempedulikan diri ke ke rumah masing masing. Karena hari ini tidak ada jadwal latihan sehingga Rania mengajak teman-temannya itu pergi ke rumah Abdul, Risda yang memang merasa tidak nyaman di rumah itu pun langsung bergegas ikut serta bersama teman temannya.
Rania dan Abdul sudah resmi berpacaran, sehingga hal itu membuat Rania sering main ke rumah Abdul, dan kedua orang Abdul sudah mengenal Rania dengan baik. Rumahnya berada tidak jauh dari halaman sekolahan, sehingga dalam waktu beberapa puluh menit mereka sudah sampai di tempat itu dengan menggunakan sepeda motor.
Sesampainya di sana mereka langsung disambut oleh kedua orang tua Abdul, ibunya Abdul membuka sebuah warung makan yang berada di sebelah rumahnya. Hal itulah yang membuat rumah Abdul terlihat sangat ramai, bahkan dirinya juga membuka sebuah warung kopi dengan wi-fi gratis.
Banyak anak-anak yang masih berusia belasan tahun di sana untuk menikmati wi-fi tersebut, hal itulah yang membuat rumahnya itu sangat ramai, apalagi anak-anak yang bermain game yang berbicara sendiri.
dengan sebuah ponsel yang ada di tangan mereka dan juga sebuah game yang sangat seru, mereka pun terkadang mengomel ngomel sendiri. melihat itu kadang kala membuat Risda tersenyum dengan sendirinya, bagaimana tidak mereka yang kalah kenapa orang lain juga yang diomeli.
"Emang rumah lu biasanya gini, banyak bocil bocil? Emang lu nggak risih mendengar teriak teriakannya itu yang kalah game saja sudah berteriak gitu apalagi kalau dalam hidup," Tanya Risda dengan penasarannya kepada Abdul.
"Ya beginilah kondisi rumah gue, kadang aja sampai tengah malam baru sepi di tempat. apalagi datangnya orang tua mereka sambil membawa sapu," Jawab Abdul.
"Kasihan banget sih lo, Dul."
"Demi uang, Da. Kalau seperti ini kan uang terus ngalir, meskipun gak kemana mana pun uang itu selalu ada dan datang sendiri."
"Iya juga sih apa kata lo, gue yang tidak terlalu suka keramaian pun pasti sudah pindah dari sini. keponakan gue yang rame aja udah gue usir dari kamar gue, apalagi ini,"
"Enak tau dah kalau rumah itu rame banyak anak kecil, kalau seperti ini kan nggak akan ngerasain kesendirian," Ucap Rania yang mendukung Abdul.
"Nah bener tuh apa kata Rania, gue yang anak satu-satunya yang masih belum nikah pun pengen seperti ini. pengen rumah gue ramai penuh canda tawa," Sela Septia, Septia adalah anak terakhir dari dua bersaudara dan kakaknya itu sudah menikah beberapa tahun yang lalu.
Septia kalau di rumah dirinya merasa sangat sendirian karena tidak memiliki teman untuk bermain, bahkan kedua orang tuanya yang seorang petani itu pun jarang di rumah. Hal itulah yang membuat Septia merasa sangat kesepian, mereka semua beberapa kali sudah mendatangi rumah Abdul sementara Risda baru kali ini mengikuti mereka untuk datang ke rumah Abdul.
Septia dan lainnya pun sudah terbiasa dengan suasana yang ada di rumah Abdul itu, sementara Risda yang baru kali ini datang itu pun harus menyesuaikan diri dengan keramaian yang ada di sana.
Memang sih hanya Risda saja yang tidak menyukai keramaian, Riska memilih untuk menyendiri daripada ikut ramai dengan teman-temannya selama ini. Hal itulah yang membuat kita harus menyesuaikan diri di tempat itu, meskipun dirinya sangat tidak nyaman di sana akan tetapi dia berusaha semaksimal mungkin untuk menghormati teman temannya.
"Mending sepi, Tia. Daripada ramai orang akan tetapi terus disalah salahkan tanpa tahu apa penyebabnya, kalau gue pribadi sih begitu gue lebih suka kesenian daripada keramaian,"
"Hiduplah terlalu menyendiri banget sih, Da. mending lo rubah saja kebiasaan lo itu, Bagaimana jika nantinya lu tinggal bersama dengan mertua lo? Apa lo terus bersembunyi di dalam kamar ketika saudara saudara aku datang? Lalu apa yang akan mereka katakan tentang lo."
"Gue mah nggak ngurus orang mau bilang apa, kalau kita terus mendengarkan ucapan orang kita tidak akan bisa jadi diri sendiri. begini salah, begitu salah, semuanya salah dan lo harus terpaksa untuk mengikuti mereka, terpaksa diatur oleh mereka lantas gimana cara untuk menemukan jati diri lo?"
"Iya juga sih, Da. Tapi kan sebagai menantu kalau di kamar terus kan juga nggak baik, bisa-bisa lo akan mendapatkan omelan dari calon mertua lo itu. kita kan seorang wanita jadi tidak sebaiknya untuk menutup diri terus-terusan seperti itu, kita juga butuh untuk berubah menjadi yang lebih baik,"
"Nah seperti itu lah. gue itu paling males kalau disuruh bersih bersih rumah. gue aja nggak bisa bersihin rumah gue sendiri, bagaimana aku bisa membersihkan rumah mertua? Mangkanya itu gue nggak mau nikah dulu karena kebiasaan gue masih buruk."
"Terserah lo, Da. Pokoknya jangan sampai salto di jalanan,"
__ADS_1