
Risda menundukkan kepalanya dalam mendengarkan setiap apa yang disampaikan kepada mereka. Malam ini begitu dingin dan udara seakan akan memasuki tubuh melalui pori pori yang ada dikulit manusia, malam yang mencengkram menjadi sebuah isakan tangis bagi mereka yang merasa bahwa menjadi anak broken home.
Semakin malam maka akan semakin dingin pula angin malam yang dirasakan oleh mereka semua, Risda mengenggam kedua tangannya dengan erat untuk meredakan rasa dingin yang menyerangnya saat ini. Sementara yang lainnya memeluk kaki mereka masing masing untuk menghangatkan tubuh mereka.
"Semakin malam akan semakin dingin dirasa, jika kalian mengigil maka udara dingin akan terus menyerang kalian. Solusinya, biarkan udara itu masuk melalui pori pori tubuh kalian dan jangan dilawan. Semakin kalian melawan maka akan semakin kalian mengigil, kalian tidak akan mampu dan tidak akan pernah bisa untuk melawan energi dari alam semesta,"
"Apa maksudnya, gue ngak paham," Guman Risda pelan sambil terus mendengarkan.
"Energi alam terlalu besar untuk bisa kita lawan, biarkan udara itu masuk jangan dilawan. Maka, udara tersebut akan terasa sangat menghangatkan tubuh, semakin kita melawan maka udara alam akan semakin menyerang,"
Risda pun mencoba apa yang dikatakan oleh ketua panitia tersebut, ia menarik nafas dalam dalam dan sedikit membentangkan tangannya. Ia membiarkan udara dingin menyerangnya begitu saja, lama kelamaan rasa mengigilnya pun sudah tidak ia rasakan lagi, tubuhnya pun terasa sedikit hangat daripada yang sebelumnya.
Biarkan udara dingin masuk tanpa harus melawannya, udara dingin dari alam tidak akan mampu untuk dilawan oleh tubuh manusia. Dengan cara membiarkan udara dingin masuk maka tubuh akan mencerna udara itu hingga membuat tubuh manusia merasa hangat.
Tidak semua orang mengetahui teknik ini, akan tetapi semua orang bisa melakukannya, jangan biarkan tubuh kalian mengigil dan usahakan kalian bisa bernafas dengan normal. Ini bukan teknik terlarang akan tetapi teknik bertahan dilingkungan bebas, siapapun boleh mempelajarinya.
Pejamkan kedua mata anda, dan rasakan setiap pergerakan udara dingin yang ada disekitar kita. Kita akan merasakan hembusan pelan yang tercipta disekitar kita, biarkan udara itu masuk kedalam tubuh dan jangan dilawan. Dilawan dalam arti mengigil, dan jangan sampai kalian mengigil.
Kalian akan merasakan bagaimana pergerakan angin yang ada disekitar kalian saat ini, tetap santai dan ikuti saja kemana arah anginnya. Kalian coba rileks dan buang semua pikiran negatif yang ada didalam pikiran kalian.
( Author : Gunakan teknik ini ketika kalian tersesat dihutan agar tidak mati kedinginan, tapi jika kalian kedinginan karena kipas angin, mending kipasnya kalian matikan, karena akan percumah menggunakan teknik ini )
"Gue berhasil, rasanya sudah ngak dingin lagi," Ucap Risda gembira ketika merasakan keberhasilannya untuk membuat tubuhnya tidak mengigil.
"Lo kok bisa sih, Da. Gue kagak," Gerutu Mira yang masih kedinginan.
"Gue ikutin aja arahannya, coba untuk merilekskan tubuh," Jawab Risda.
"Sialan lo, Da. Seharusnya lo mengigil saat ini,"
"Bodoamat, penting gue bisa,"
Risda merasa senang karena akhinya tubuhnya tidak terlalu mengigil saat ini, akan tetapi tubuhnya jika disentuh maka kulitnya terasa dingin. Risda mampu untuk berlama lamaan ditempat itu setelah dirinya berhasil untuk membuat tubuhnya tidak mengigil lagi.
"Baiklah, karena jam sudah menunjukkan pukul 1 pagi, kalian bisa istirahat."
Mendengar suara itu pun langsung membuat mereka membubarkan diri masing masing untuk kembali ketendanya, Ada sekitar 10 orang cewek yang berada disatu tenda yang sama dengan Risda.
"Woi jangan masuk dulu!" Teriak seorang Kakak kelas mereka yang bernama Lala.
"Hah? Ngapain sih? Kita mau tidur tauk!" Teriak balik dari seorang Novi yang termasuk teman sekelas dari Lala.
"Aaaaa...." Teriak Risda ketika masuk dari pintu yang lainnya.
Risda buru buru keluar dari dalam tenda tersebut, teriakannya itu langsung membuat perhatian teman temannya tertuju kepadanya. Risda pun langsung berdiri tepat didepan Mira dan Wulan dengan nafas yang tergesa gesa.
"Lo kenapa Da?" Tanya Wulan.
"Mata gue ternodai anjiiirrr!" Umpat Risda.
"Emang ada apaan didalam?" Tanya Mira penasaran.
"Woi Kakak kelas! Bisa ngak sih kalo ganti baju itu dikamar mandi, jangan didalam tenda!" Teriak Risda sambil menatap kearah pintu tendanya.
"Berisik lo Adek kelas. Gue kagak berani kekamar mandi, gue takut sendirian," Ucap Lala dari dalam tenda.
"Ya elah, yang ada demitnya yang takut sama lo Kakel. Udah besar pun takut sama gituan," Ucap Risda dengan tertawa mengejek.
"Namanya takut ngak bisa ditahan woi! Emang lo berani?"
"Ya beranilah, jam segini kekuburan juga berani. Masak anda yang sebesar gajah pun takut, kalo nanti muncul ya tinggal duduki aja, palingan langsung penyet,"
"Gila emang lo, lo ngatain fisik gue?"
"Bukan ngatain, tapi aneh aja. Bagaimana bisa lo takut sama hal yang begituan,"
"Dasar temennya Setaan!"
Mendengar umpatan itu langsung membuat Risda dan yang lainnya tertawa, memang diantara mereka hanya ada Lala yang memiliki tubuh paling berisi daripada yang lainnya. Dan dari saat itu, Risda mengetahui bahwa Kakak kelasnya paling takut dengan sosok hantu yang sama sekali tidak pernah ia lihat, palingan lihat cuma dividio dan lain lainnya.
Lala pun keluar dari dalam tenda dengan wajah cemberutnya karena mendengar tawa dari Risda dan yang lainnya. Lala mempersilahkan mereka untuk masuk kedalam tenda untuk istirahat, dan hal itu membuat semuanya pun masuk kedalam tenda.
"Da, lo bawa powerbank? Hp gue mati nih," Tanya Wulan kepada Risda.
"Gue ngak punya, tapi gue bawa cas kok. Lo mau pinjem?"
__ADS_1
"Terus ngecasnya dimana woi? Disini ngak ada stop kontak, mau dicolokin dihidung lo?"
"Ya kita cari dikelas kelas lah, dikelas kita akan ada,"
"Lo temenin ya," Ucap Wulan dengan nada manjanya.
"Giliran gini aja manja, yaudah gue temenin. Tapi kita kesananya diem diem an aja, takutnya malah akan dimarahi sama panitianya,"
"Beres, ayo."
Keduaya pun bergegas pergi dari tendanya tanpa sepengetahuan siapapun. Sementara yang lainnya sudah pada tidur dan ada juga yang masih bermain hp untuk menghubungi kerabatnya ataupun pacarnya.
Dengan diam diam, Risda dan Wulan akhinya telah sampai dikelas mereka. Ternyata kelas mereka tidak memiliki lampu sehingga nampak terlihat sangat gelap gulita, Risda dengan percaya dirinya pun masuk kedalam kelasnya tersebut.
Risda melihat sosok bayangan hitam didalam kelas itu, bayangan hitam yang terkena cahaya dari luar kelas membuat bayangan tersebut terlihat sangat menyeramkan. Wulan yang baru saja masuk pun langsung berteriak kencang ketika melihat sosok tersebut.
"Anjiiirrrr! Demit!" Teriak Wulan.
Wulan hendak berlari keluar dari kelasnya tersebut akan tetapi langsung dipegangi oleh Risda. Risda terlihat sedang berdiam diri karena keterkejutannya itu, kakinya seakan akan berat untuk melangkah pergi dari tempat tersebut.
"Woi ayo lari, Anjiing!" Umpat Wulan.
"Bangsaattt!! Lo siapa?" Tanya Risda dengan mengumpat kearah sosok itu.
"Berisik lo, mau gue sumpelin sama gombal?" Ucap sosok tersebut.
"Eh ternyata orang hehe," Ucap Risda terkekeh pelan.
"Bukan, gue demit penunggu kelas ini. Kalian berdua ngapain disini? Seharusnya kalian tidur sekarang, jangan keluyuran dimalam malam. Digondol hantu baru tau rasa kalian berdua, cepat kembali ketenda!"
"Kakak panitia ya? Kenapa ngak gabung dengan yang lainnya? Kok ada dikelas gue sih," Gerutu Risda bertanya.
"Gue jaga disini, biar ngak ada yang keluar dari sekolahan. Kelas lo kan berada dipaling depan, balik sana ke tenda!"
"Galak amat Bang, galak galak nanti ngak laku loh. Minggir, batrai temen gue habis, mau ngecas,"
"Ngak ada aturan lo? Berani sekali kalian ngusir gue dari sini, kalian ini peserta kenapa ngak ngehormatin panitia disini sih!"
"Lo panitia? Panitia kok mainan hp, emang ada?"
"Pergi yang jauh ya, Bang. Jangan kembali," Ucap Risda yang merasakan kemenangan.
Lelaki tersebut langsung bergegas keluar dari kelas milik Risda itu, sementara Risda dan Wulan langsung bergegas kearah meja tempat dimana terdapat sebuah stop kontak. Kelas yang gelap itupun terlihat sangat menyeramkan akan tetapi tidak untuk Risda yang memang menyukai kegelapan sejak saat perpisahan kedua orang tuanya.
Risda sama sekali tidak takut dengan hantu dan yang lain sebagainya, sejak kecil dirinya sudah belajar mandiri dan melakukan apapun sendiri. Meskipun dirinya ketakutan akan tetapi dirinya tidak memiliki siapapun yang bisa menemani saat itu, sehingga dirinya melawan ketakutannya sendiri tanpa membutuhkan orang lain yang ada disebelahnya.
"Da, lo jangan pergi ya. Temenin gue disini sampai batrai gue penuh," Ucap Wulan berharap.
"Iya, lo tenang saja. Gue temenin kok disini, lagian gue juga kagak ngantuk saat ini,"
"Bagus deh. Oh iya, maafin gue untuk yang beberapa hari lalu ya, gue sempet benci sama lo, Da. Lo mau kan maafin gue?"
"Yang berlalu biarlah berlalu, Lan. Lagian gue juga ngak pernah kok marah sama lo, sebelum lo minta maaf ke gue, gue udah maafin lo."
"Thanks ya, Da. Lo emang temen baik gue,"
"Kita kan senasib, Lan. Kita saling menguatkan saja, lo juga punya Kakak yang egois, dan Bokap lo juga kagak pernah pulang. Bedanya hanya, lo ditemenin sana nyokap lo, dan gue ditemenin sama kalian semua, teman teman gue."
"Iya Da. Lo harus tetap semangat ya, lo denger kan tadi apa yang dikatakan oleh ketua panitia?"
"Iya, gue denger kok. Lo tenang saja, gue sudah mulai terbiasa dengan ini semua,"
Keduanya pun saling melontarkan sebuah senyuman yang menyejukkan hati dan pikiran. Mendengar Wulan sudah tidak marah lagi kepadanya, hal itu membuat Risda merasa sangat senang, akhinya teman masa kecilnya itupun kembali akur dengannya.
*****
Tanpa terasa keduanya tertidur dibangku tersebut bersamaan, keduanya pun menyadari bahwa mereka terlelap semalaman disana. Ketika Risda membuka kedua matanya, Risda menyadari bahwa matahari sudah sedikit naik keatas.
Risda langsung membangunkan Wulan dari tidurnya itu, setelah Wulan terbangun. Risda dan Wulan langsung menuju ketendanya kembali, disanalah sudah terlihat sangat ramai anak anak yang sedang mengolah masakan dengan peralatan seadanya.
"Lo dari mana saja, Da?" Tanya Mira yang melihat kedatangan Risda dan Wulan.
"Ketiduran dikelas," Jawab Risda jujur.
"Lo enak enakan tidur dikelas ha? Sialan lo, Da. Gue aja ngak bisa tidur semalaman gara gara banyak nyamuk, lah lo malah tidur dikelas. Ini semua ngak adil,"
__ADS_1
"Maafin lah, gue nganterin Wulan ngecas hpnya, eh ngak tau sejak kapan gue bisa tertidur disana,"
"Karena lo enak enakan tidur, sekarang lo masak deh. Kami semua lapar, Da"
"Masak? Masak apa woi, gue kagak pernah masak dan gue ngak bisa masak."
"Anjiiir lo, Da. Lo cewek tapi ngak bisa masak, mau lo kasih apa anak dan suami lo nantinya ha?"
"Kasih gragal banyak, makan pake daun juga bisa buat lalap," Jawab Risda singkat dan langsung masuk kedalam tendanya.
Risda pun membuka tasnya dan mengambil pakaiannya untuk membersihkan tubuhnya saat ini. Risda lalu berjalan kearah kamar mandi tanpa mempedulikan Mira yang tengah mengomel kepadanya itu, memang Risda tidak bisa untuk dibilangi sehingga dirinya sangat sulit untuk diatur.
Risda kembali ketenda dengan tubuh yang sudah terlihat segar, dirinya pun langsung duduk diantara teman temannya untuk memakan makanan yang telah dimasak. Mereka membuat telur dadar untuk dimakan bersama sama, hanya itu saja yang bisa mereka buat ditempat tersebut untuk mengisi perut mereka.
"Masakan siapa ini?" Tanya Risda.
"Tinggal makan aja repot amat sih, Da. Untung aja ada yang masakin, kalo ngak emang lo mau mati kelaparan?" Tanya Mira.
"Gue nanya anjaay, kali aja gue bisa belajar bikin ini dirumah. Kan lumayan gue bisa masak," Jawab Risda berbangga diri.
"Gampang, larutin aja tuh tepung terigu pake air, lalu ceplokin telurnya, Da. Jangan lupa kasih masako atau roiko, lalu digoreng deh,"
"Kok lo tau sih, Ra? Lo belajar dari mana woi!"
"Gue yang masak anjiiirrr, enak ya masakan gue?"
"Ngak enak, porsinya kurang."
Mendengar jawaban dari Risda langsung membuat Mira mengepalkan tangannya, ia ingin sekali memukul kepala temannya itu. Mereka pun menikmati masakan yang dibuat oleh Mira karena kelaparan, biasanya mereka akan makan dijam 6 pagi sebelum sekolah. Akan tetapi, kali ini mereka makan di jam 9 pagi, karena baru selesai masak dan menanak nasi.
Mereka memakan beralasankan daun pisang sehingga mereka tidak perlu untuk mencuci piring. Disekolahan itu terdapat beberapa pohon pisang yang ditanam, sehingga mudah sekali bagi mereka untuk mengambil daun tersebut.
Setelah makan mereka pun berkumpul dilapangan sesuai dengan arahan dari ketua panitia. Risda dan yang lainnya langsung bergegas menuju ketengah lapangan untuk bergabung dengan yang lainnya, mereka memperhatikan apa yang disampaikan oleh ketua panitia dengan baik sebelum mereka dipulangkan kerumah.
Acara telah selesai dilaksanakan. Begitu banyak pelajaran yang dapat Risda ambil dari acara tersebut, setelah mereka berkumpul, ketua panitia pun meminta mereka untuk membersihkan tempat yang telah mereka pakai tanpa meninggalkan satupun sampah dilingkungan tersebut.
"Da, lo langsung pulang setelah ini?" Tanya Mira.
"Ngak tau juga sih," Jawab Risda.
Karena hari itu adalah hari senin, sehingga sekolahan tersebut pun masuk. Para guru mengizinkan siswa yang ikut dalam perlombaan teater untuk libur dihari itu, sehingga Mira, Risda, dan Wulan sudah diizinkan untuk pulang.
"Lo pulang atau tetap disini, Da?" Tanya Wulan.
"Pulang aja deh, gue capek." Putus Risda.
"Jangan pulang dulu lah, gue belom dijemput nih. Nunggu gue dijemput dulu ya, kita kan temen,"
"Yaudah gue temenin disini sampai lo dijemput," Ucap Risda kepada Mira.
"Kalo gitu, gue duluan ya. Da, besok jangan lupa jemput gue ya, ini sepedah agak rewel soalnya,"
"Iya Lan, kalo gue inget. Biasalah, gue suka lupaan soalnya,"
"Iya."
Wulan pun bergegas meninggalkan keduanya ditempat tersebut, Risda dan Mira langsung bergegas untuk menuju kehalaman depan sekolahannya itu sambil menunggu Mira dijemput oleh Ayahnya. Risda dan Mira kini tengah duduk diatas sepedah Risda, dan keduanya kini berada didepan gerbang sekolah.
"Rumah lo emang jauh, Ra?" Tanya Risda yang sejak tadi menunggu kedatangan Ayah dari Mira.
"Agak jauh sih, Da. Dekat flyover sana," Jawab Mira.
"Pantesan lama banget, itukan sangat jauh."
"Nah mangkanya itu, gue minta lo nemenin gue biar gue ngak sendirian disini,"
"Kenapa ngak bawa motor sendiri sih?"
"Gue masih takut dijalan raya, Da. Apalagi banyak yang kecelakaan disana,"
"Ngeri juga sih. Oh iya, apa itu bokap lo?"
Risda pun menunjuk kearah seseorang yang tengah menyebrang jalan sambil menaiki sepedah motor, melihat itu langsung membuat Mira mengangguk. Keduanya pun melakukan tos untuk perpisahan sejenak itu, Risda tersenyum ketika melihat Mira yang dibonceng motor oleh Ayahnya.
"Kapan gue bisa seperti itu," Gumannya pelan.
__ADS_1
Risda pun melajukan motonya untuk meninggalkan tempat tersebut, dirinya langsung menuju kearah rumahnya setelah melihat kepergian dari Mira dan juga Ayahnya Mira itu.