Pelatihku

Pelatihku
Episode 35


__ADS_3

Risda tengah sibuk mencatat apa yang telah dituliskan oleh Mira dipapan tulis, akan tetapi tiba tiba seseorang menyenggol tangannya begitu saja hingga membuat Risda langsung menggebrak mejanya sendiri, dan hal itu langsung membuat perhatian seluruhnya terarah kepada Risda.


"Lo apa apaan!" Sentak Risda kepada sosok lelaki yang telah menyenggolnya.


"Sorry, Da. Gue ngak sengaja nyenggol lo," Ucap lelaki tersebut.


"Ngak sengaja apanya! Gue lihat kalo lo emang sengaja ngelakuin itu, bilang aja kalo lo emang ngak suka sama gue," Risda yang memang sedang terbawa emosi itu pun teriak teriak.


"Gue ngak sengaja, Da. Ngapain gue nyenggol lo," Ucapnya dengan sensinya.


"Lo nantang gue ha!"


Lelaki tersebut langsung mendorong pundak Risda kebelakang begitu saja, hingga membuat Risda terjatuh duduk dibangkunya kembali. Risda semakin menatap tajam karena tidak terima dengan apa yang dilakukan oleh temannya itu.


"Gue ngak takut sama lo!"


"Mentang mentang ikut beladiri, nantang fighter. Lo baru ikut aja bangga, jangan buat masalah disini," Sindir Novita, yang kini tengah berteman dengan Wulan.


"Jangan sok tau lo, mending lo diem aja!" Sentak Risda kepada Novita.


"Huuuu... Mau sok jadi pahlawan lo disini? Baru ikut aja sok sok an nantang orang," Sorak teman lelakinya.


"Hahaha... Modelan kayak gini nih yang bakalan nangis kejer kejer dirumah,"


"Mentang mentang baru ikut beladiri aja, sudah sombongnya ngak ukur, apalagi kalo sudah jago. Pelatih pun palingan dilawan,"


"Orang seperti ini tuh biasanya hanya berani di sosmed kalo di realita palingan langsung sembunyi dibalik pundak Ibunya, sambil nangis,"


"Sono ngaduh ke Emak lo, kalo perlu sembunyi aja tuh dibalik ketiaknya,"


"Dasar anak Mama, bentar lagi palingan ngadu tuh ke Emaknya,"


Begitu banyak hinaan yang didapatkan oleh Risda saat ini, hasutan dari Wulan mampu membuat teman temannya membenci dirinya itu. Kejadian ini bisa disebut sebagai pembulian yang dialami oleh Risda, seluruh teman temannya seakan akan terus memojokkan dirinya.


Mendengar itu hanya membuat Risda menundukkan kepalanya dalam, hal itu langsung membuat Risda berubah menjadi pendiam. Risda seakan akan menjadi insecure untuk melakukan sesuatu saat ini, dia merasa serba salah didepan teman temannya.


Risda tidak bermaksud untuk menantang temannya itu karena dirinya mengikuti beladiri, akan tetapi Risda berniat untuk membuat temannya tersebut meminta maaf dengan baik baik kepadanya.


Namanya seorang anak yang tanpa didikan dari orang tuanya, tidak akan mampu untuk seperti anak anak lainnya. Mereka akan memiliki sikap keras kepala dan juga tidak suka disalahkan, akan tetapi sekali mereka salah mereka akan menjadi insecure bahkan takut untuk melakukan sesuatu yang mampu menyakiti yang lainnya.


"DIAM KALIAN SEMUA!" Bentak Risda sambil memegangi kedua telinganya menggunakan kedua tangannya itu.


"Cielah dianya marah," Ejek yang lainnya.


"Da, lo bisa kecilin suara lo apa ngak sih? Ngak usah pake teriak teriak segala kali. Kalian semua bisa diem ngak! Atau mau gue laporin ke Guru BK" Gerutu Mira yang merasa fokusnya terkecoh dari buku yang ada ditangannya itu.


Mendengar itu langsung membuat semuanya terdiam, Risda nampak berkaca kaca saat ini. Risda pun berlari keluar dari kelasnya dengan tergesa gesa, ia ingin pergi kekamar mandi.


"Da, lo mau kemana?" Tanya Mira yang melihat Risda berlari sambil menutupi matanya yang berkaca kaca.


"Eh, Risda! Lo kenapa?" Tanya Rania dan langsung bangkit dari duduknya.


"Da, tungguin gue!" Teriak Septia.


Risda sama sekali tidak mendengarkan teriakan mereka, dirinya langsung bergegas pergi dari tempat itu, dan Septia kini tengah berusaha untuk mengejarnya. Septia tau bahwa Risda saat ini sedang tidak baik baik saja, dan dia takut kalo akan terjadi sesuatu dengan Risda.


"PUAS KALIAN SEMUA!" Sentak Rania yang selaku ketua kelas.


Mendengar sentakan tersebut membuat semuanya terdiam, mereka tidak tau kenapa Risda bisa selemah itu saat ini. Biasanya Risda akan membalas perkataan mereka, akan tetapi justru kali ini dirinya malah bergegas pergi dari kelasnya.


"Emang ada apaan?" Tanya David yang ikut serta membuli Risda sebelumnya.


"Halah gitu aja nangis," Ucap Farhan dengan entengnya.


"Emang dasarnya dia cenggeng aja," Timpal Bayu.


"Stop ngatain dia soal keluarganya, dia emang tidak seberuntung kalian semua. Kalian sudah besar, seharusnya paham bagaimana perasaan seorang anak yang tumbuh tanpa orang tuanya!" Teriak Rania.


"Maksud lo apa an?" Tanya David.


"Pikir sendiri!"


Rania pun bergegas pergi untuk menyusul Risda yang tengah berlari keluar kelas. Sementara disatu sisi, Risda merasa sangat sakit hati dengan apa yang dilakukan oleh teman temannya itu, kedua matanya kini tengah berkaca kaca dan hampir meneteskan air matanya.


"Da," Panggil seseorang sambil memegangi tangannya.


Risda pun berhenti melangkah ketika mengenali suara tersebut, iya seorang lelaki yang tengah memegangi pergelangan tangannya itu. Afrenzo yang melihat Risda berlari dengan ekspresi sedih tersebut langsung bergegas mendatanginya dan memegangi pergelangan tangan Risda.


"Lepasin! Lo mau ngehina gue juga sama seperti mereka? Dan bilang gue ini cengeng, anak Mama, tukang ngadu!" Teriak Risda dan langsung meneteskan air matanya.

__ADS_1


"Kenapa?" Tanya Afrenzo.


"Gue benci semuanya! Ngak ada orang baik didunia ini, semuanya jahat!" Teriak Risda dengan air mata yang terus bercucuran.


Risda pun mengibaskan tangannya dan berusaha untuk melepaskan tangannya dari tangan Afrenzo, akan tetapi usahanya itu sia sia saja, karena Afrenzo yang memegangi tangannya dengan sangat eratnya itu.


"Da, tungguin gue!" Teriak Septia yang tengah berlari kearah keduanya.


Tak beberapa lama kemudian sampailah Septia dimana Risda dan Afrenzo berdiri. Beberapa saat kemudian Rania pun ikut menyusul Risda, melihat kedua temannya itu langsung membuat Risda bersembunyi dibalik punggung Afrenzo untuk menumpahkan air matanya.


"Da, lo ngak papa kan?" Tanya Rania khawatir dengan perasaan Risda saat ini.


"Da, jangan dengerin ucapan mereka ya, gue ada untuk lo kok. Mungkin mereka terkena hasutan dari seseorang, gue yakin itu," Ucap Septia.


Risda pun mengenggam erat baju Afrenzo, ia sama sekali tidak mau mendengarkan ucapan dari teman temannya itu untuk saat ini, dirinya benar benar merasa kecewa dengan semuanya. Dikelas itu, dirinya merasa kembali kemasa lalu, dimana dirinya dijauhi oleh seluruh siswa yang ada dikelasnya.


"Da, ayo balik ke kelas. Ada gue kok, lo tenang saja," Bujuk Rania.


"Gue ngak mau," Jawab Risda dengan isakan.


"Jelaskan!" Perintah Afrenzo kepada Rania dan Septia.


"Ini hanya salah paham saja kok, mereka ngak sengaja ngomong gitu ke lo, Da. Mereka membuli Risda dikelas,..." Rania pun menceritakan kejadian tersebut kepada Afrenzo dengan nada sedikit ketakutan karena tatapan tajam darinya.


Mendengar cerita tersebut langsung membuat Risda tidak mampu untuk menahan isak tangisnya, ia pun menangis dibalik punggung Afrenzo. Mendengar tangisan tersebut membuat Rania dan Septia ingin menenangkan hati Risda akan tetapi segera ditahan oleh Afrenzo.


"Soal Risda, biar jadi urusan gue." Putus Afrenzo dan langsung membawa Risda pergi dari tempat itu.


Rania dan Septia ingin menghentikan apa yang ingin dilakukan oleh Afrenzo, akan tetapi mereka tidak berani untuk berhadapan dengan seorang Afrenzo yang memiliki tatapan tajam tanpa adanya senyuman itu. Risda hanya pasrah ketika Afrenzo membawanya pergi dari tempat itu, Afrenzo membawanya menuju kekantin sekolah.


"Ini belum waktunya istirahat, Renzo. Nanti kalo dimarahi Guru gimana?" Tanya Risda dengan lirih sambil terisak pelan.


Afrenzo pun memesan dua minuman, satu minuman dingin dan satu lagi minuman hangat untuknya sendiri. Afrenzo memang tidak pernah meminum minuman dingin, dan berbeda dengan Risda yang sudah menjadi kebiasaan sejak kecil.


"Nangis aja kalo perlu," Ucap Afrenzo yang sama sekali tidak menjawab pertanyaan dari Risda sebelumnya.


"Renzo, apakah gue terlalu sok sok an seperti apa yang dikatakan oleh mereka? Mereka bilang kalau gue mentang mentang hebat didepan mereka, padahal bukan itu maksud gue," Ucap Risda.


"Jangan cengeng, gue paham maksud lo," Ucap Afrenzo.


"Hanya lo saja yang paham, Renzo. Kenapa lo selalu baik sama gue? Kita kan baru kenal juga," Risda masih tidak paham dengan sikap Afrenzo kepadanya belakang ini.


Mungkin hanya Risda yang bisa mendapatkan senyuman seperti itu dari seorang Afrenzo, melihat senyuman tersungging diwajah Afrenzo, membuat Risda terlihat ikut serta menampakkan senyuman diwajahnya itu.


"Maksud lo?" Tanya Risda penasaran.


"Lo ngak perlu tau soal itu, sekarang fokus saja latihanmu. Tunjukkan kalo lo bisa berprestasi dan mengubah pikiran mereka tentang lo,"


Risda pun menganggukkan kepalanya, "Tolong bimbing gue ya, hanya lo yang bisa melatih gue biar bisa meraih juara,"


"Iya,"


Akhinya pesanan mereka telah datang, Afrenzo pun memesankan beberapa makanan untuk keduanya itu. Afrenzo langsung menyodorkan minuman dingin kearah Risda dan beberapa cemilan untuk Risda.


"Minumlah," Ucap Afrenzo.


"Ini bukan hutang kan? Gue masih punya hutang sama lo, Renzo. Nanti malah beranak lagi hutang gue ke lo" Tanya Risda.


"Bukan, gue beliin untuk lo. Jangan pikirkan soal hutang, kalo sudah terkumpul nanti langsung balikin ke gue,"


"Thanks ya," Dan dijawab anggukan oleh Afrenzo.


Risda lalu meminum minuman yang telah dipesankan oleh Afrenzo itu, ia pun tersenyum dengan cerahnya kearah Afrenzo. Afrenzo terlalu baik untuknya, dan sampai sekarang dirinya belum mengetahui maksud dari Afrenzo yang selalu baik itu, jika ditanya jawabannya akan tetap sama.


"Nanti latihan jangan telat," Ucap Afrenzo.


"Sorry soal yang kemaren, gue laper jadi gue beli makan dulu. Eh sampai disana, warungnya sangat rame, jadi gue sama Anna antri dulu,"


"Makanlah," Ucap Afrenzo sambil menyodorkan sepiring makanan kearah Risda.


"Lo ngak ikut makan?" Tanya Risda.


"Gue sudah kenyang," Jawab Afrenzo singkat.


"Oh iya, gue kok ngak pernah lihat lo makan selama ini? Palingan cuma lihat lo minum doang,"


"Ngak penting."


Risda pun mendengus pelan mendengar jawaban dari Afrenzo, bukannya menjawab pertanyaan tersebut akan tetapi Afrenzo justru mengatakan hal yang lain. Risda bahkan tidak bisa mengetahui tentang jati diri sebenarnya dari seorang Afrenzo, yang dirinya ketahui hanyalah sosok pemuda yang dingin dan sangat sulit untuk tertawa.

__ADS_1


"Renzo," Panggil Risda pelan.


"Hem," Jawab Afrenzo hanya berdehem.


"Lo mau jadi temen gue?" Tanya Risda dengan pelan.


"Anggap aja seperti itu,"


"Jadi mulai sekarang kita berteman? Lo satu satunya temen cowok gue, Renzo. Pertama kali ini gue dapat temen cowok kayak lo," Risda merasa senang ketika Afrenzo mau berteman dengannya.


"Iya."


"Sebagai teman, tidak boleh ada rahasia diantara kita. Kalo lo dalam masalah, gue akan bantu lo, tapi lo harus jujur sama gue,"


"Iya,"


"Jangan iya iya mulu lah, gue pengen tau, kenapa lo bilang bahwa kita senasib? Padahal waktu itu, Mama lo sangat baik, dan keluarga lo masih lengkap."


"Itu menurut lo?" Tanya Afrenzo balik.


"Iya, Renzo. Gue yakin kalo keluarga lo emang baik baik saja, ngak kayak gue,"


"Anggap aja seperti itu,"


"Terus, senasibnya dari mana? Jelas jelas kita berbeda, lo anak dari orang kaya sementara gue hanya seorang anak pembantu. Keluarga lo lengkap, sementara keluarga gue entah kemana,"


"Sama sama hidup,"


Mendengar itu langsung membuat Risda tertawa, Afrenzo sama sekali tidak berniat untuk ngelawak akan tetapi justru jawaban itu langsung membuat Risda tertawa dengan kerasnya. Menyadari tentang tawanya itu, langsung membuat Risda menutup mulutnya rapat rapat.


"Maafin gue, gue kelepasan tertawanya. Gue ngak ada maksud untuk ngetawain lo, tapi jawaban lo sangat lucu,"


"Ngak papa,"


"Lo baik, meskipun sangat dingin, tapi gue ngerasa bahwa lo sebenernya hangat. Lo sangat berbeda dari yang lainnya, Renzo. Gue ngerasa senang ada didekat lo,"


*****


Risda kini berada didepan pintu kelasnya bersama dengan Afrenzo, ia sangat ragu untuk masuk kedalam kelasnya itu. Akan tetapi, Afrenzo terus meyakinkan kepadanya bahwa semuanya akan baik baik saja, dengan ragunya dirinya mulai membuka ruang kelas tersebut.


"Woi dia...." Ucap seseorang ketika Risda membuka pintu kelasnya itu, dan langsung berhenti ketika melihat sosok Afrenzo berada dibelakang Risda.


Afrenzo pun ikut serta masuk kedalam kelas tersebut dan berdiri didepan, sementara Risda langsung bergegas untuk duduk dibangkunya yang memang berada didepan meja Guru itu.


Afrenzo adalah ketua OSIS disekolahan itu sehingga dirinya berhak masuk kedalam kelas untuk memberitahukan apa yang ingin ia katakan itu. Kasus ini sama saja dengan pembulian disekolahan, dan dirinya pun ikut terseret untuk menyelesaikan masalah tersebut.


"Kalau sampai ada pembulian lagi disekolahan ini, saya selaku ketua OSIS akan menghukum dengan berat orang yang melakukan itu, dan bahkan tidak segan segan memberi skor agar pelaku dikeluarkan dari sekolah! Siapapun itu, saya tidak peduli entah itu anak Guru, ataukah pemilik yayasan sekalipun itu" Ucap Afrenzo dengan tegasnya dengan tatapan tajam, menatap satu persatu siswa yang ada dikelas itu.


Ucapan Afrenzo sama sekali tidak main main kepada siswa yang ada dikelas itu, mendengar itu membuat seluruhnya hanya berdiam diri. Afrenzo adalah ketua OSIS sekaligus Guru beladiri disekolahan itu, hal itu membuatnya sangat ditakuti dan disegani oleh semuanya.


"Ini sebagai peringatan pertama untuk kalian semua, terima kasih." Ucapnya lagi dan langsung bergegas untuk keluar dari kelas itu.


Setelah kepergian dari Afrenzo, hal itu membuat semuanya tidak ada yang bersuara untuk memojokkan Risda lagi. Mira dan Rania yang menyaksikan itu langsung segera mendekat kearah Risda, tidak lupa juga dengan Septia yang langsung berdiri didekat Risda.


"Renzo galak banget ya, Da. Lo ngak di apa apain kan sama dia?" Tanya Mira penasaran.


"Lo habis dari mana sama Renzo, Da? Kok lama banget, lo juga kok udah bisa ketawa lagi," Tanya Septia dengan antusiasnya.


"Cie, udah nemuin pawang ya?" Ucap Rania dengan senangnya.


"Gue ngak diapa apain kok, tadi hanya diajak kekantin untuk makan doang. Emang dia dingin sih, tapi gue ngerasa dia baik,"


"Semoga jodoh yak, lo cocok sama dia, Da. Lo nya ngak bisa diam dan dianya yang ngak bisa berisik seperti lo, gue yakin kalo kalian itu pasangan yang serasi nantinya," Ucap Mira dengan mantapnya.


Mendengar ucapan dari keempatnya langsung membuat wajah Wulan mendadak berubah menjadi tidak suka, entah kenapa harus Risda yang mendapatkan perhatian dari orang yang ia incar sebelumnya itu. Wulan merasa iri dengan Risda yang mampu mendapatkan perhatian dari Afrenzo, hal itu semakin membuat Wulan tidak menyukai sosok Risda.


"Mana mungkin, Ra. Renzo anak orang kaya, mana mau sama gue yang hanya anak seorang pembantu," Ucap Risda menepis perkataan dari Mira.


"Jodoh ngak ada yang tau, Da. Mungkin bisa jadi lo emang berjodoh dengan dia," Ucap Septia.


"Kalo jodoh gue adalah maut, gimana? Kan itu juga ngak ada yang tau," Jawab Risda.


"Bisa ngak sih, sekali aja jangan ucapkan hal seperti itu. Allah ngak suka sama hamba-Nya yang putus asa," Terang Rania.


"Gue ngak putus saja, yang lebih dekat dengan kita adalah maut kita sendiri. Kapan pun dan dimanapun malaikat maut bisa menjemput kita,"


"Gue tau itu, Da. Tapi plis jangan katakan soal maut, gue takut,"


"Jangan takut, ini emang kenyataannya, Ran. Kita didunia ini hanyalah mengantri untuk dipanggil oleh malaikat maut,"

__ADS_1


"Lo bener, tapi gue ngak mau bahas soal maut untuk saat ini."


__ADS_2