
"Akhinya kenyang juga gue, An. Ayo balik kesekolahan, nanti telat latihannya gimana?" Ajak Risda setelah selesai menghabiskan makanan yang dirinya beli sebelumnya itu.
"Giliran gini aja semangat untuk balik kesekolahan," Gerutu Anna yang masih menghabiskan sisa makanannya yang memang belum habis sepenuhnya itu.
Melihat Risda makan sendiri, membuatnya merasa tidak enak sehingga dirinya pun ikut serta membeli makanan seperti yang dimakan oleh Risda saat ini. Keduanya terlihat kenyang setelah menghabiskan makanan tersebut, dan meminum segelas es yang telah mereka pesan itu.
"Ya ya lah, gue kan emang semangat kalo berangkat latihan, ngak kayak lo, An. Selalu saja alasan kalo diajak latihan," Ucap Risda sambil terkekeh pelan.
"Iya semangat soalnya ketemu sama Renzo, lah gue? Males banget kalo bersama dengan orang seperti lo, Da. Selalu saja membuat onar,"
"Bodoamat sama lo, An. Gue semangat latihan itu karena emang ada tujuannya, gue pengen buktiin ke keluarga gue kalo gue bisa berprestasi. Bukan hanya karena adanya Afrenzo disana, kalo pun yang ngelatih bukan dia, gue juga tetep semangat latihan,"
"Alasan lo bagus banget, Da. Sampai sampai kayak beneran, padahal semua orang juga tau sendiri kali,"
"Emang apa yang diketahui oleh semua orang?"
"Jangan pura pura ngak tau deh, Da. Disekolahan itu, hanya lo yang sangat dekat dengan dia, jadi semua orang membicarakan tentang lo dan dia. Keknya bakalan jadi topik terhangat belakang ini deh,"
Mendengar itu langsung membuat Risda membelalakkan kedua matanya, memang benar sih hanya dirinya seorang yang begitu dekat dengan Afrenzo belakangan ini. Bahkan sampai ada yang memfitnah keduanya waktu itu, sehingga Afrenzo langsung dihajar oleh Papanya sendiri karena kejadian tersebut.
"Apa salahnya sih pelatih dekat dengan muridnya sendiri? Lagian kalo ngak dengan cara itu, kita sebagai murid juga ngak bakalan nyaman kalo berlatih," Ucap Risda dan langsung bangkit dari duduknya untuk membayar makanan yang telah mereka makan.
Keduanya pun langsung bergegas untuk menuju kearah dimana motor Risda terparkir dengan rapinya, Risda dan Anna pun langsung naik keatas motor tersebut. Keduanya langsung bergegas untuk kembali menuju kehalaman sekolahan SMA Bakti Negara itu, karena jaraknya tidak terlalu jauh sehingga mereka pun bisa sampai dengan tepat waktu.
"Kakak senior!" Panggil Risda ketika melihat seorang wanita yang berjalan menuju kearah aula beladiri.
Mendengar panggilan tersebut langsung membuat wanita itu menoleh kearah dimana seseorang memanggilnya. Risda langsung bergegas untuk berdiri dihadapan wanita tersebut, dirinya langsung menerbitkan sebuah senyuman kepada wanita itu.
"Ada apa?" Tanya wanita tersebut.
"Tumben anda latihan?" Tanya Risda dengan nafas yang memburu.
"Iya, mulai sekarang aku akan latihan disini. Karena Satria sudah keluar dari perguruan, aku diminta oleh pendekar besar untuk membantu Renzo melatih disini,"
Wanita tersebut masih berada 4 tingkat dibawah Afrenzo, akan tetapi karena dirinya yang aktif untuk terus berlatih sehingga dirinya diangkat untuk ikut serta dipimpinan daerah. Afrenzo pun tiap hari harus latihan ditempat pimpinan daerah, dan dirinya juga diminta untuk melatih dipimpinan cabang.
Hal itu membuat jadwal latihan Afrenzo sangat padat ketika malam hari, karena latihan dipimpinan daerah biasanya setelah adzan isya' sampai pukul 11 malam. Karena jadwalnya yang full time, sehingga membuat Afrenzo jarang berada dirumah selain waktu pulang latihan dari cabang ataupun waktu libur latihan yang ada dicabang.
"Jadi mulai sekarang, anda berlatih disini?"
Risda nampak begitu sopan dihadapan wanita tersebut, wanita itu sebenarnya sudah lulus sekolah dan melanjutkan untuk kuliah. Karena prestasi beladirinya cukup banyak, sehingga dirinya mendapat beasiswa hanya dengan cara terus berlatih beladiri dan mengikuti turnamen beladiri yang ada.
Risda kenal dengan wanita itu pun ketika adanya turnamen beladiri sebelumnya, dan wanita itu juga menjadi bagian peserta yang mengikuti perlombaan itu. Sehingga Risda begitu terkejut ketika wanita itu berada disana, sambil memakai pakaian sakral beladiri.
"Iya, sebagai tangan kanan Afrenzo."
Pernyataan tersebut sedikit membuat Risda merasa tidak nyaman, jika wanita itu yang menjadi tangan kanan Afrenzo itu artinya wanita itu akan lebih dekat dengan Afrenzo daripada dengan dirinya.
Risda pun hanya menganggukkan kepalanya sambil memaksakan diri untuk tersenyum dihadapan wanita itu. Panggil saja namanya adalah Carline, seseorang yang akan menjadi tangan kanan Afrenzo setelah ini.
"Ayo masuk, sebentar lagi kita mulai latihannya," Ajak Carline kepada Risda.
"Iya Kakak senior," Jawab Risda.
__ADS_1
Keduanya pun langsung bergegas untuk menuju keaula beladiri, sementara Anna kini tengah berada didalam kamar mandi untuk mengganti pakaiannya menjadi pakaian beladiri. Setelah berganti pakaian, dirinya pun langsung menyusul Risda yang terlebih dulu menuju kedalam aula beladiri itu.
Risda dan yang lainnya pun langsung berbaris rapi ketika melihat kedatangan dari Afrenzo, Risda selalu baris dibarisan paling depan dan berhadapan dengan Afrenzo. Afrenzo pun meminta kepada Carline untuk maju kedepan, dan berdiri disamping Afrenzo.
"Sebelum latihan dimulai, perkenalkan dirimu dihadapan semuanya," Perintah Afrenzo kepada wanita tersebut.
"Baik Pelatih,"
Carline pun menganggukkan kepalanya kepada Afrenzo, untuk menyahuti perintahnya itu. Dirinya pun menatap kearah barisan para siswa yang rapi itu, dia menatap satu persatu kepada mereka yang tengah berbaris.
"Baiklah, karena masih ada yang belum mengenal saya disini, maka saya akan memperkenalkan diri disini. Perkenalkan nama saya adalah Carline Putri, bisa kalian panggil Caca atau Lin. Umur saya sudah 20 tahun, dan saya seorang mahasiswa," Ucap Carline memperkenalkan diri.
"Kak Caca ngambil jurusan apa?" Tanya Risda.
"Saya ngambil jurusan bidang olahraga,"
Risda pun memanggut manggut mendengarnya, pantas saja wanita itu terlihat seperti sangat sehat. Tangan wanita tersebut pun terlihat sedikit berurat karena seringnya dirinya untuk berlarih, karena dia bisa mendapatkan biyaya hanya dengan cara berlatih beladiri demi mengasah kemampuannya dan bisa meraih semua prestasi terbaik.
"Caca adalah wanita segudang prestasi, dirinya juga pernah meraih prestasi tingkat internasional. Bahkan menjadi kebanggaan bagi seluruh warga Jakarta, dirinya hendak diangkat menjadi seorang pelatih tapi dia tidak mau dan memilih untuk terus berlatih," Ucap Afrenzo kepada seluruhnya.
"Kamu terlalu melebih lebihkan Pelatih, disini justru dirimu yang penuh dengan prestasi, bahkan tingkatmu pun lebih tinggi daripada diriku," Ucap Carline yang sedikit malu malu karena pujian dari Afrenzo.
Anggota beladiri adalah sebuah anggota yang menganggap setiap peserta adalah bagian dari mereka. Bahkan untuk berteman, mereka tidak akan membeda bedakan entah itu laki laki atau wanita, semuanya sama dan harus bisa melindungi satu sama lain.
"Itu kenyataan," Jawab Afrenzo singkat.
Tanpa sengaja dirinya menatap kearah Risda yang sepertinya tengah merasa kesal itu, entah kenapa gadis itu terlihat sangat kesal saat ini. Hal itu yang membuat Afrenzo membalas ucapan wanita tersebut dengan singkatnya.
"Lalu butuh berapa tahun Kakak meraih prestasi sebelumnya?" Tanya Risda balik.
Hanya Risda seorang yang berani untuk melontarkan pertanyaan tersebut kepadanya dua orang itu, Risda pengen tau butuh waktu berapa lama untuk berlatih agar bisa meraih juara yang dirinya harapkan itu.
"Satu tahun setelah berlatih itu juga sudah ikut turnamen beladiri, tapi gagal dan terus gagal. Berapa kali ikut turnamen beladiri selalu membawa kekecewaan bagi pelatih, selama 1 tahun ikut turnamen ngak pernah meraih prestasi. 2 tahun latihan beladiri pun Alhamdulillah sudah bisa meraih prestasi meskipun hanya juara 3, tapi tidak menyerah begitu saja, setiap adanya pertandingan selalu ikut dan terus berjuang. Sampai akhirnya ditawari untuk mendapatkan beasiswa," Ucapnya.
Risda pun semakin bimbang, orang yang berprestasi banyak pun mengalami kegagalan yang begitu banyak. Dirinya ingin meraih mimpinya untuk menjadi juara itu pun terlihat ragu untuk terus melangkah.
Tanpa adanya kegagalan, tidak akan pernah ada yang namanya hasil yang memuaskan. Kegagalan mengajarkan kepada kita untuk terus berjuang, sementara keberhasilan mengajarkan kepada kita bahwa buah dari perjuangan itu akan terasa lebih manis daripada yang tidak pernah mengalami kegagalan sama sekali.
"Baiklah, latihan dimulai!" Seru Afrenzo kepada seluruhnya.
Setelah memperkenalkan diri, Carline pun langsung kembali menuju ketempatnya sebelumnya. Dirinya pun diperintahkan oleh Afrenzo untuk memimpin pemanasan para siswa yang ada disana.
Risda begitu kagum ketika melihat tubuh Carline begitu lentur dan bahkan sangat berbeda jauh dengan dirinya yang masih sangat kaku itu. Carline sudah berlatih beladiri selama 5 tahun, sehingga tubuhnya bisa terlihat sangat lentur akan tetapi bertenaga.
Setelah pemanasan, mereka pun langsung disuruh untuk berlari memutari lapangan tersebut sebanyak 25 kali putaran. Setiap latihan akan selalu ditambah 1 kali putaran, akan tetapi tepat diputaran ke 25 kalinya, putaran mereka pun tidak pernah ditambah lagi.
Bahkan Risda pun kalah cepat untuk berlari dengan Carline, bahkan nafas Risda yang sudah memburu itu pun memperlihatkan bahwa Carline lebih kuat untuk berlari daripada dirinya itu.
Latihan kali ini benar benar membuat Risda kesal sekaligus kagum, bahkan Carline lebih baik untuk melatih daripada senior lainnya. Afrenzo pun tidak ikut melatih dilapangan itu, dirinya melatih para senior didalam aula beladiri.
"Kamu ini cewek apa cowok? Lemah banget pukulanmu," Ucap Carline kepada salah satu siswa laki laki yang ada disana.
Lelaki tersebut pun menambah kekuatan pukulannya yang memukul angin itu, Carline pun langsung menangkisnya begitu saja. Tangan Carline terlihat sangat kuat bahkan hingga menimbulkan bekas rasa sakit ditangan lelaki tersebut.
__ADS_1
Karena seringnya berlatih dan melakukan gerakan push up, hal itu membuat Carline terlihat sangat kuat untuk menangkisnya. Bahkan seperti wanita itu sama sekali tidak merasakan sakit ketika menangkis tangan lelaki tersebut sebelumnya itu.
"Lebih keras lagi, jangan lembek kayak cewek," Sindir Carline kepada lelaki tersebut.
Hal itu langsung membuat lelaki itu menambah kecepatan pukulannya dan bahkan diisi dengan tenaga penuh yang dirinya punya. Dia seakan akan tidak terima jika dikatakan lembek seperti seorang wanita, sehingga dirinya pun menambah kekuatan pukulannya itu.
"Kamu juga, latihan kenapa pake perhiasan?" Tanya Carline kepada siswa putri yang tengah memakai sebuah cincin dijari manisnya.
"Maaf Kak senior, ini pemberian dari Ibuku dan harus dipakai," Jawab gadis itu ketika ditanya oleh Carline.
"Saat latihan, dilarang pakai perhiasan apapun kecuali anting. Mulai besok jangan pakai perhiasan, kalo bisa ditaruh dirumah saja kalo mau latihan,"
"Iya Kak,"
Gadis itu nampak begitu murung ketika dirinya diperintahkan untuk menaruh perhiasannya itu dirumah, dan tidak boleh memakainya ketika sedang berada di area latihan beladiri.
Sebanarnya perhiasan yang dipakai ditangan akan menghambat proses latihan, cincin akan menghambat pukulan mereka tanpa tidak disadari bahkan akan melukai mereka jika mereka menggunakan samsak tinju sebagai media latihan pukulan.
Jika memakai gelang, maka akan menghambat proses latihan tangkisan, karena lawan mereka akan sakit jika menangkisnya disaat latihan. Bukan hanya itu saja, akan tetapi itu juga mampu untuk melukai mereka sendiri, jika gelang tersebut terbentur maka tangan mereka otomatis juga merasakan sakit akibatnya.
"Kuda kudanya harus kuat!" Teriak Carline kepada seluruhnya.
Mereka pun langsung menuatkan kuda kuda mereka masing masing, bagi sebagian siswa yang ada disana lebih memilih Afrenzo untuk melatihnya daripada Carline. Meskipun Afrenzo dingin, akan tetapi Carline terlihat seperti angkuh akibat banyaknya prestasi yang dirinya raih itu.
Satu persatu dari mereka pun dipotes oleh Carline, mulai dari perhiasan yang dipakainya, pakaian yang digunakan oleh mereka yang belum memiliki sakral beladiri, jilbab mereka yang mereka gunakan ataupun warna jilbab mereka yang terang.
Bukan tanpa sebab wanita itu memprotesnya, akan tetapi itu juga demi keberlangsungan proses latihan, warna jibab yang tidak sesuai itu pun bukan karena cocok atau tidaknya dengan sakral beladiri. Akan tetapi, warna jilbab yang terang akan disayangkan jika kotor terkena tanah ketika digunakan.
Warna jilbab yang terang, akan memberikan kesan bahwa jilbab itu akan sangat kotor dan sulit untuk dibersihkan karena menimbulkan bekas. Sementara warna jilbab yang gelap, tidak akan terlalu terlihat jika kotor, mereka yang mengerti akan paham sementara yang tidak mengerti akan salah paham.
Cukup lama mereka berlatih, akhirnya latihan tersebut selesai dilaksanakan, Kini Risda dan yang lainnya langsung bergegas untuk menuju kearah parkiran yang ada disamping aula beladiri itu. Mereka semua pun terlihat kelelahan setelah berlatih, karena Carline begitu serius dalam melatih mereka.
"Da," Panggil seseorang hingga membuat Risda menoleh.
"Iya, ada apa?" Tanya Risda ketika melihat orang yang memanggilnya itu.
"Gue capek banget, Da. Rasanya kayak habis mengangkat beban yang amat berat" Keluh orang tersebut yang tidak lain adalah Vina.
"Emang lo aja yang capek? Gue juga capek tau," Ucap Risda dengan nada sensinya.
"Hem... Kenapa sih hsrus wanita itu yang ngelatih? Kan gue jadi ngerasa ngak bebas,"
"Ya ngak tau, tanya aja noh sama Renzo sendiri. Lagian menurut gue enak juga dilatih oleh wanita itu, soalnya kan dia pernah meraih prestasi yang bsnyak,"
"Lo saja yang enak, gue mah engak enak,"
"Sudah sudah, ayo pulang! Kalian ngak mau pulang apa?" Sela Anna keadaan keduanya itu.
"Gass rumah!!" Ucap Vina sambil meninju angin.
Risda pun nampak malas jika harus pulang kerumah yang sama sekali tidak ada kehangatan didalamnya itu, dia bahkan merasa sedikit kecewa jika latihan selesai dilaksanakan, sehingga dirinya harus pulang kerumah.
Mereka pun langsung menyalakan motor mereka masing masing, dan mereka pun langsung bergegas untuk meninggalkan halaman aula beladiri tersebut untuk menuju kerumah mereka masing masing.
__ADS_1