Pelatihku

Pelatihku
Episode 33


__ADS_3

Risda bangun dari tidurnya dengan kedua mata yang sulit untuk terbuka, setelah menangis semalam sehingga membuat kedua matanya nampak bengkak. Risda dengan malasnya langsung bangkit dari tidurnya, rasanya berat akan tetapi dia harus bangun untuk berangkat sekolah.


Tumben sekali hari ini Indah tidak membangunkannya dengan kasar, entah kemana sosok Kakak yang sangat menyebalkan itu. Risda langsung bangkit dan bergegas menuju kekamar mandinya dengan malas, ia ingin membolos saat ini akan tetapi dirinya terus teringat dengan ucapan dari Dewi.


Dewi juga melarang Risda untuk berteman dengan Wulan, karena Wulan yang telah menyebarkan kabar mengenai Risda yang tidak pernah masuk sekolah. Mendengar itu Risda sangat kecewa dengan sahabatnya, dengan tega sahabatnya sendiri yang telah memfitnah dirinya dengan kejam dan hampir bunuh diri.


Risda mengepalkan tangannya disaat teringat akan hal itu, bagaimana bisa seorang sahabat justru menyatakan hal seperti itu didepan banyak orang dan karena perkataan itu membuat Risda menjadi bahan pembicaraan yang buruk didesanya.


Benar benar nama baik Risda telah tercoret didesa tersebut, dengan kerasnya Risda meninju tembok yang ada disebelahnya itu. Risda sama sekali tidak peduli dengan rasa sakit yang ia rasakan saat ini, hatinya benar benar terluka mengingat perkataan itu.


"Lo jahat banget sama gue, Lan. Gue pikir bahwa lo adalah temen baik gue, yang ada disaat gue butuh lo, yang selalu baik sama gue. Tapi nyatanya apa? Lo justru nusuk gue dari belakang. Lo temen gue sejak bayi, tapi lo berkhianat terhadap gue. Lan. Gue bener bener kecewa sama lo, ku pikir karena nasih kita sama sehingga bisa saling mengerti, tapi nyatanya gue sama sekali ngak ngerti jalan pikiran lo itu,"


Risda benar benar kecewa terhadap sahabat masa kecilnya itu, karena kejadian waktu itu membuatnya merasa sangat dikhianati. Risda sudah menjemputnya dirumah akan tetapi Wulan memilih untuk tidak sekolah, tapi entah kenapa dirinya justru bilang libur kepada semua orang sehingga disini Risda lah yang dituduh sebagai tukang bolos.


Beberapa hari yang lalu, Wulan berangkat sekolah dengan mengendarai sepedah milik tetangganya, akan tetapi untuk saat ini Wulan ingin kembali menebeng dengan Risda. Pagi ini Wulan mengirim pesan kepada Risda untuk menjemputnya berangkat sekolah, tapi Risda mengabaikan itu.


*****


"Bangsaat lo, Da! Kemana aja lo semalaman ha? Gue kan udah bilang, kabarin gue nanti! Kenapa lo ngak ngelakuin itu?" Suara Mira yang menggema ketika Risda melangkah masuk kedalam kelasnya.


"Lo ngak papa kan, Da? Kenapa lo ngak balas pesan dari kita kita? Ditelpon pun ngak dijawab, kita khawatir sama lo tau ngak sih," Tanya Septia dengan nada tinggi kepada Risda.


"Maafin gue, bukannya gue ngak berniat untuk balas pesan kalian. Tapi gue, gue ngak mood untuk pegang hp," Jawab Risda sambil menundukkan kepalanya didepan dua sahabat barunya itu.


"Seharusnya lo balas, Da!" Sentak Mira.


"Betul tuh, gue semalam ngak bisa tidur tau, Da. Gue kepikiran sama lo," Imbuh Septia.


"Kalian ngak akan percaya dengan apa yang gue katakan ini, sahabat gue sendiri tega memfitnah gue," Ucap Risda yang kembali mengeluarkan air matanya.


"What! Jadi Wul..."


Belum sempa Mira berteriak akan tetapi Septia langsung menutup mulutnya itu. Pandangan seluruh siswa terarah kepada Mira dan Septia, sementara Risda langsung bergegas untuk duduk dibangkunya dan membenamkan wajahnya diantara kedua tangannya itu.


"Lo serius, Da?" Tanya Septia yang tidak percaya.


"Tega bener temen lo itu, Da. Sumpah gue baru tau ada sahabat yang kayak gitu, mending lo jauhin aja," Ucap Mira.


"Kalo perlu tuker aja tuh, kan untung dapat cabe sekilo daripada sahabat kayak gitu,"


"Lo bener, Tia. Kalo gue sih udah gue tuker tambah tuh orang kayak gitu,"


"Kenapa lo diam aja sih, Da. Harus lo kasih pelajaran saja tuh orang, tonjok sampai bonyok baru gue puas,"


"Jangan bahas! Gue pusing sekarang, kalian mau gue usir dari sini ha?" Sentak Risda yang merasa pusing karena kehebohan dari kedua sahabatnya itu.


"Terus kemaren kenapa lo ngak balas pesan dari kita? Lo kemana aja, Da?"


"Gue ngak kemana mana," Jawab Risda singkat.


Belum sempat Mira berkata, akan tetapi tiba tiba bel bunyi masuk kelas sudah berbunyi. Mereka semua pun langsung duduk dibangkunya masing masing, tiba tiba Wulan pun masuk kedalam kelasnya dengan nafas yang tergesa gesa karena dirinya terlambat masuk kedalam kelasnya.


Risda menatap kearah Wulan dengan salah satu tangannya yang terkepalkan tanpa diketahui orang lain, sementara Wulan menatap tidak suka kearah Risda karena dirinya terlambat datang kesekolah kali ini.


Melihat itu langsung membuat Mira menggenggam erat tangan Risda yang terkepalkan itu, merasakan genggaman tangan Mira, hal itu membuat Risda langsung menoleh kearah Mira.


"Gue tau lo marah saat ini, tapi ini bukan waktu yang tepat," Ucap Mira lirih dan hanya mampu didengar oleh Risda seorang.


"Gue tau tentang emosi gue sendiri, lo ngak perlu khawatir tentang itu, Ra. Dan gue jauh lebih tau daripada lo," Jawab Risda.


"Gue ngak ngerti tentang jalan pikiran lo, Da. Sabar saja, semuanya sudah diatur oleh Yang Maha Kuasa,"


"Tumben omongan lo bijak? Habis kesambet apaan lo?"


"Sialan lo, Da. Gue nasehatin bukannya makasih malah ngata ngatain lagi,"

__ADS_1


"Thanks pencerahannya, tapi gue gelap."


Risda pun tersenyum tipis kearah Mira, sementara Mira bingung harus mengatakan apa lagi dengan sangat sosok Risda, tak beberapa lama kemudian guru pelajaran pertama pun masuk dikelas mereka.


*****


Disaat pergantian jam, Risda masih fokus kepada buku yang ada dimejanya saat ini. Sementara, Wulan yang duduk dibangku paling belakang itu pun memperhatikan Risda dengan tatapan yang tidak suka dengan gadis itu.


"Lo musuhan sama Risda, Lan?" Tanya Novi yang saat ini duduk bersebelahan dengan Wulan.


"Iya, dianya dulu yang ninggal gue. Gara gara dia, gue sampai telat hari ini dan dihukum jongkok didepan, parah kan?" Ucap Wulan.


"Lah padahal kalian kan sahabat? Kok gitu ya?"


"Risda itu ngak pantas dijadikan sahabat, orang seperti itu mana bisa memiliki sahabat. Tadi aja gue udah kirim pesan kedia kalo gue mau nebeng, eh malah ditinggalin gitu aja, siapa cobak yang ngak kesal?" Ucap Wulan dengan kerasnya.


Mendengar ucapan tersebut langsung membuat Mira dan Septia menoleh kearah Wulan dengan tatapan yang tidak suka. Dengan mudahnya Wulan membolak balikkan fakta yang sebenarnya, yang sebenarnya justru dirinya yang memfitnah Risda.


Mendengar itu langsung membuat Mira mengebrak mejanya sendiri dan langsung bangkit dari duduknya. Mira ingin mendatangi meja Wulan akan tetapi langsung dicegah oleh Risda, Risda tidak ingin tercipta adanya keributan saat ini.


"Gue ngak bisa diem aja, Da. Ini ngak benar," Ucap Mira dengan kesalnya.


"Biarlah, dia membicarakan keburukan orang lain tapi disini gue merasa dia membicarakan aibnya sendiri," Ucap Risda.


"Kenapa lo bisa ngomong kayak gitu, Da? Disini lo yang difitnah, gue ngak habis pikir dengan lo,"


"Biarin, gue ngak papa. Yang jelas gue sendiri sudah paham siapa yang benar dan salah, akan sulit untuk meyakinkan lalat bahwa bunga lebih indah daripada sampah,"


"Lo yakin, Da? Gue yang dengar aja panas, apalagi lo,"


"Gue juga panas, tapi gue ngak terlalu terluka. Gue sudah biasa menghadapi hal seperti ini," Ucap Risda.


Keduanya pun kembali fokus pada bukunya yang ada dimeja, karena Risda belom mengerjakan tugas sehingga Risda harus buru buru untuk mengerjakannya disekolahan sebelum dirinya kena hukuman.


*****


"Gue sudah kayak pahlawan anjiiir, ganteng banget," Guman Risda seraya memperhatikan postur tubuhnya yang menggunakan sakral akan tetapi tidak dengan sabuknya.


"Lo beneran kayak cowok, Da. Gue kagum sama lo, jilbab juga lo masukin kedalam baju," Ucap Anna yang berada disamping Risda.


"Lo cobak aja, An. Siapa tau lo juga keren sama kayak gue," Ucap Risda dengan bangganya.


"Ngak ah, lo emang sudah makan, Da? Gue laper nih, ayo cari mie ayam." Ajak Anna.


"Gue juga belom makan, An. Ayo lah, sambil isi perut," Risda pun setuju dengan ucapan Anna.


Keduanya lalu bergegas untuk menuju ke parkiran motor, Risda dan Anna saling bergoncengan untuk mencari warung mie ayam terdekat. Tak beberapa lama kemudian mereka sampailah disebuah warung yang cukup ramai pengunjungnya karena cita rasa mienya yang enak.


"Makan disini aja yuk," Ucap Anna.


"Kalo rame kayak gini, gue takut nanti telat latihannya, An. Gimana kalo kita dihukum nanti sama si pelatih itu," Risda nampak terlihat kebingungan ketika hendak masuk ketempat itu atau tidak.


Karena aroma dari mie ayam tersebut cukup menggoda akhinya keduanya pun masuk kedalam, setelah cukup lama menunggu akhinya pesanan mereka telah sampai juga. Risda dan Anna pun menikmati mie ayam tersebut dengan santainya, hingga tidak menyadari jam berapa sekarang.


Karena asiknya makan mie ayam itu, Risda dan Anna sampai lupa waktu untuk latihan. Sebuah pesan pun masuk kedalam ponsel Risda hingga membuat Risda langsung menoleh kearah ponselnya dan melihat waktu yang tertera disana.


"An, kita udah telat 15 menit, gimana nih?" Ucap Risda dengan terkejutnya tanpa mempedulikan pesan yang masuk dari Mira.


"Oh my god, yang bener lo, Da. Terus kita harus gimana dong? Kalo datang nanti malah kena marah, kalo ngak datang malah kena marah dobel," Anna pun nampak kebingungan.


"Lo udah selesai belom makannya? Kalo udah langsung datang aja, daripada besok kita berurusan dengan Renzo disekolahan," Putus Risda.


"Gue udah kok. Nih uang gue, bayarin." Anna pun menyerahkan uang miliknya ke Risda.


Risda pun langsung mengeluarkan uangnya sendiri dan membayarnya dengan segera. Keduanya pun langsung bergegas menuju ketempat latihan, entah hukuman seperti apa yang akan keduanya dapatkan nantinya.

__ADS_1


Sesampainya disana, dirinya melihat teman temannya yang sudah berlatih jurus, akan tetapi dikejauhan Risda sudah mampu melihat tatapan tajam dari seorang Afrenzo. Risda menarik nafas dalam dalam dan mendekat kearah Afrenzo dengan memberanikan dirinya, dan diikuti oleh Anna dibelakangnya.


"Kenapa telat?" Tanya Afrenzo dengan nada tegasnya sekaligus begitu dingin yang mampu untuk mengintimidasi kedua gadis itu.


"Maaf pelatih, gue..." Risda nampak ragu untuk melanjutkan perkataannya itu.


"Jelaskan!" Sentak Afrenzo yang membuat Risda semakin bergidik ngeri dihadapan si dingin Afrenzo.


"Gu.. Gue dan Anna per.. pergi beli makan dulu," Ucap Risda dengan terbata bata karena takut dengan sosok Afrenzo kali ini.


"Kalian berdua, sesuai dengan aturan diperguruan ini, kalian telat selama 25 menit. Maka kalian harus lari memutari lapangan sebanyak 50 kali, sekarang!"


Risda dan Anna langsung membelalakkan kedua matanya, 20 kali putaran saja sudah membuatnya kelelahan dan habis nafas, akan tetapi kali ini justru mendapat 50 kali putaran. Tatapan tajam dari Afrenzo langsung membuat Risda menarik tangan Anna untuk bergegas berlari memutari lapangan itu.


Ditengah tengah keduanya berlari, Afrenzo kini melatih siswa yang lainnya. Afrenzo memberikan arahan sebuah gerakan untuk menangkis dan menjelaskan apa fungsi dari gerakan tersebut dan bagaimana cara untuk melakukan gerakan itu.


"Menangkis keatas jangan diletakkan diatas kepala pas, kalian harus lebih mengangkat tangan untuk sedikit menjauh dari kepala. Sasaran dari pukulan atas adalah ubun ubun, jadi kalian harus melindungi itu," Ucap Afrenzo.


Risda yang sudah berlari sebanyak 15 kali pun merasa bahwa perutnya sedang sakit saat ini, setelah makan dan meminum banyak es akan membuat seseorang yang melakukan gerakan lari akan merasa sakit dibagian perutnya.


Karena Risda tidak mau membuat Afrenzo marah, dirinya pun sama sekali tidak memedulikan rasa sakit itu. Akan tetapi, rasa sakit yang kini ia rasakan semakin lama akan semakin terasa nyerinya, hal itulah yang membuat Risda berhenti untuk berlari.


"Kenapa berhenti!" Sentak Afrenzo.


"Perut gue sakit, gue izin istirahat ya?" Tanya Risda sambil menundukkan kepala dalam, ia benar benar sangat takut untuk menatap mata Afrenzo saat ini.


"Mending ngak usah latihan sekalian," Ucap Afrenzo dengan dingin.


"Maaf pelatih. Baiklah, gue akan lari lagi," Ucap Risda dan langsung melanjutkan larinya.


Risda berlari sambil memegangi perutnya dengan kedua tangannya itu, perutnya benar benar terasa nyeri saat ini. Sementara Anna, dirinya terus berlari untuk menghindari kemarahan dari seorang Afrenzo, yang akan terlihat sangat menyeramkan baginya.


Kepala Risda pun nampak begitu pusing saat ini, sejak kemarin dirinya mudah sekali pusing akibat benturan yang tengah terjadi kepadanya. Ia pun langsung terjatuh duduk dan hal itu langsung membuat Afrenzo berlari kearahnya.


"Kalo sakit jangan dipaksa!" Sentak Afrenzo sambil memegangi pundak Risda.


"Maafin gue. Gue masih sanggup kok, gue hanya pusing doang," Risda langsung berusaha bangkit dari duduknya kembali.


"Pulang sekarang!" Perintah Afrenzo.


Mendengar teriakan itu langsung membuat Risda meneteskan air matanya, entah mengapa setiap Afrenzo nampak marah seperti itu akan selalu membuat dirinya ketakutan.


"Jangan usir gue, Pelatih. Gue masih mau berlatih beladiri disini, gue masih sanggup kok,"


"Pulang sekarang dan istirahat, atau lo mau gue keluarkan dari perguruan ini?" Tanya Afrenzo dengan tegasnya.


"Jangan," Risda menatap kearah Afrenzo dengan tatapan penuh harap kepada lelaki itu. "Gue masih ingin belajar beladiri disini, tolong beri gue kesempatan sekali lagi,"


"Baiklah, lo duduk saja. Perhatikan yang lainnya,"


"Makasih,"


Risda pun menampakkan sebuah senyuman kearah Afrenzo, Risda pun langsung berjalan kearah sebuah pohon yang tidak jauh dari mereka berlatih saat ini. Sementara Anna, ketika sudah melewati putaran ke 25 Afrenzo langsung menyuruhnya untuk baris ditempat.


"Jangan ulangi kesalahan kalian lagi, atau kalian akan dihukum lebih berat daripada ini," Ucap Afrenzo.


"Baik Pelatih," Jawab Risda dan Anna bersamaan.


"Ini berlaku untuk semuanya!" Ucap Afrenzo dengan tegasnya dan mampu didengar oleh semua anak yang ada disana.


"Baik Pelatih!" Jawab mereka secara bersmaaan.


Mereka pun kembali melanjutkan latihan disore hari itu, sementara Risda duduk bersandar dibawah pohon sambil memperhatikan arahan yang diberikan oleh Afrenzo saat ini. Entah mengapa dirinya merasa kagum dengan lelaki dingin itu.


"Ternyata masih ada lelaki yang baik didunia ini, dia berbeda dari yang lainnya," Guman Risda pelan.

__ADS_1


__ADS_2