
Mereka pun tertawa bersama sama, kecuali Risda yang tidak tau tertawa karena apa. Awalnya semuanya baik baik saja dan Risda menikmati bermain bersama yang lainnya, dirinya berpegangan dengan erat diban yang telah disewa milik Arya itu.
Akan tetapi Arya mengarahkan ban tersebut lebih ketengah kolam, Risda yang memang tidak bisa berenang itu pun begitu takut dengan kedalaman air kolam itu. Risda melihat sekelilingnya yang penuh dengan air, dan bahkan kakinya sendiri pun tidak mampu untuk menyentuh lantai dibawah kolam itu.
"Arya, ayo ketepi aku takut," Ucap Risda meminta kepada Arya untuk membawanya kembali ketepi kolam karena dirinya merasa takut ketika tubuhnya mengapung dikedalam kolam itu.
"Balik aja sendiri," Ucap Arya.
Arya yang berada ditengah ban tersebut pun mencoba untuk melepaskan tangan Risda dari pegangan ban yang ia pakai itu, Risda terus berpegangan dengan eratnya karena dirinya yang tidak bisa berenang itu.
"Arya apaan sih! Aku ngak bisa berenang!" Teriak Risda yang terus mencoba untuk berpegangan pada ban tersebut.
"Lepasin ngak!"
"Aku takut, Arya. Bawa gue ketepi sekarang!"
"Bodoamat! Lepaskan!"
Arya pun langsung mencipratkan air kearah wajah Risda hingga membuatnya tidak mampu bernafas. Hal itu langsung membuat Risda melepaskan satu tangannya untuk mengusap air yang ada diwajahnya, tanpa dirinya sadari bahwa tangan Arya mencoba melepaskan pegangan tangan Risda.
Karena tidak mampu menyeimbangkan tubuhnya akhirnya Risda pun terjatuh tenggelam dikolam tersebut, ia berusaha sekuat mungkin untuk berenang ketepian meskipun dirinya tidak mampu.
Untuk berteriak saja dirinya tidak mampu karena dirinya yang tengah tenggelam itu, air pun masuk kedalam organ pernafasannya sediki, tangannya yang diangkat tinggi itu juga tidak mampu untuk keluar dari air. Hal tersebut menandakan begitu dalamnya air kolam tersebut sehingga tinggi tubuhnya tidak mampu sampai didaratan.
Risda yang kelelahan itu pun pasrah dan membiarkan tubuhnya tenggelam lebih dalam, Risda pasrah jika takdirnya akan berakhir saat ini. Anak anak dari majikan Ibunya itu begitu kejam kepadanya, sehingga membiarkan dirinya tenggelam begitu saja.
Risda mencoba untuk melambaikan tangannya untuk meminta bantuan dari orang orang yang ada ditempat tersebut, akan tetapi tidak ada yang melihatnya terjatuh didalam kolam tersebut. Bahkan tangan kecilnya tidak mampu terlihat dari luar kolam itu.
"Maafkan aku, Bun. Jika hari ini Risda meninggal, tolong iklaskan kepergian Risda saja ya, biarkan Risda pergi dengan tenang. Mungkinkah takdir Risda hanya sampai dititik ini? Risda ngak kuat, maafkan Risda jika harus pergi saat ini untuk waktu selamanya. Risda sangat sayang Bunda, Risda juga tidak ingin menjadi beban Bunda lagi. Risda pamit ya Bun, semoga kita bertemu disyurga-Nya nanti," Batin Risda menjerit lirih.
Risda perlahan lahan memejamkan kedua matanya, dirinya pasrah dengan apa yang akan terjadi kepadanya. Ia sudah berusaha sebisanya untuk menepi akan tetapi usahanya sia sia, dan dirinya hanya memasrahkan hidupnya kepada sang penciptanya itu.
Jika dirinya mati saat ini, Risda begitu iklas akan kehilangan nyawanya. Tubuh Risda perlahan lahan terombang ambing didalam kolam itu tanpa adanya perlawanan darinya, Risda merasakan pergerakan dari air tersebut yang seakan akan mendorongnya pelan menuju ketepi kolam.
Risda merasakan arus lirih dari kolam tersebut, ia mencoba untuk setenang mungkin dan tidak terlalu membuang buang tenaga yang tersisa saat ini. Dadanya terasa sakit karena tidak adanya asupan oksigen yang masuk kedalam tubuhnya itu, dengan kedua mata yang terpejam Risda mencoba untuk melangkahkan kakinya didasar kolam itu.
Dengan perlahan lahan Risda melangkah didasar kolam tersebut, ia tidak tau apakah itu akan berhasil atau tidaknya, akan tetapi tidak ada salahnya untuk mencobanya. Tak beberapa lama kemudian akhirnya tangannya mampu menyentuh tembok yang ada dihadapannya, Risda mencoba untuk melompat agar mampu menyentuh daratan.
Tangannya berhasil menyentuh tepi kolam tersebut, dirinya lalu berusaha untuk keluar dari kolam itu. Ternyata Allah masih menyayanginya dan pada akhirnya Allah telah menyelamatkannya dari kolam yang sangat dalam itu.
Risda pun mampu untuk duduk ditepi kolam dengan menghirup nafas dalam dalam, kedua matanya mengeluarkan air mata setelah apa yang saat itu dirinya lalui. Entah seberapa jauhnya dirinya tenggelam, akhinya Allah menyelamatkannya karana itu bukanlah akhir dari hidupnya.
"Ya Allah, ternyata Engkau masih menyayangi hamba. Hamba tidak bisa membayangkan betapa sedihnya Bunda saat hamba meninggal. Orang orang kaya itu begitu jahat, semoga saja mereka mendapatkan hidayah dari-Mu ya Allah," Ucap Risda lirih.
Ia pun tidak mau berenang lagi setelah itu, bayangan dirinya yang tenggelam pun masih terpampang jelas didalam ingatannya. Tentang rasa sakit karena tidak mampu bernafas didalam air, tentang kurangnya oksigen yang masuk kedalam tubuhnya, dan tentang kedalaman kolam itu.
Hal itu langsung membuatnya trauma terhadap air yang begitu hanyak, Risda lalu bergegas kekamar mandi untuk mengganti pakaiannya. Ia tidak mau lagi menginjakkan kakinya di kolam renang tersebut dan memilih untuk duduk dikursi penunggu.
*Flash back off*
Riasa menitihkan air matanya ketika bercerita kepada Afrenzo, Afrenzo yang sejak tadi mendengarkan ceritanya pun tanpa disadari oleh Risda sendiri tengah mengepalkan kedua tangannya. Akhinya Afrenzo paham kenapa Risda takut ketika dirinya ajak untuk berenang ditepi pantai yang indah itu.
"Sebab itu lo benci sama orang kaya?" Tanya Afrenzo.
"Iya, gue ngak suka anak anak dari orang kaya. Mereka yang selalu dituruti oleh orang tuanya pun akan berbuat semaunya demi mendapatkan tujuannya. Gue benci dengan orang yang akan menghalalkan segala cara untuk bisa mencapai apa yang diinginkannya tanpa memperdulikan perasaan orang lain."
__ADS_1
"Tapi ngak semua orang seperti itu, Da. Masih banyak kok yang punya hati,"
"Memang ngak semuanya seperti itu, Renzo. Tapi rata rata anak yang seperti itu adalah anak orang kaya, mungkin karena mereka yang punya uang banyak, kemauannya selalu dituruti sehingga merendahkan orang yang tidak mampu. Padahal semua manusia yang diciptakan itu memiliki hati, gue sangat kecewa dan karena itu gue trauma,"
"Jika lo diberi kekayaan, apa lo akan sama seperti mereka?"
"Mending gue miskin tapi punya perasaan, Renzo. Daripada harus kaya yang membuat gue lupa akan siapa pemberi kekayaan yang sebenarnya itu. Gue ngak takut miskin, karena gue hamba dari Tuhan yang Maha Kaya Raya,"
"Gue salut sama lo, Da. Mungkin hanya lo yang tidak terlalu suka dengan orang kaya, sementara diluar sana banyak yang menjilat orang kaya demi merubahnya menjadi kaya,"
"Gue ngak seperti itu, Renzo."
"Sekarang sudah ngak papa, jangan cengeng!" Ucap Afrenzo dan langsung membuat Risda mengusap matanya dengan kerasnya.
"Sekarang memang kagak papa, tapi lo tau trauma kan?"
"Gue tau."
Afrenzo pun membalikkan badannya untuk menatap kearah pantai yang indah tersebut, ia pun membentangkan tangannya untuk menghirup nafas dalam dalam. Pandangan Risda pun tertuju kepada wajah Afrenzo yang sedang memejamkan kedua matanya itu, rambut pendek Afrenzo pun bergerak kesana kemari tertiup angin pantai.
"Lo tampan," Ucap Risda tanpa dirinya sadari tengah mengagumi sosok Afrenzo.
Mendengar ucapan tersebut langsung membuat Afrenzo membuka kembali kedua matanya, ia pun menoleh kearah Risda yang ada disebelahnya. Untuk pertama kalinya Afrenzo mendapatkan pujian dari Risda meskipun kaliman itu terlontarkan begitu saja.
"Lo muji gue?" Tanya Afrenzo.
"Kagak, jangan ke gr an lo. Gue muji pantainya kok, bukan lo," Ucap Risda yang langsung menjadi salah tingkah dihadapan Afrenzo.
"Ngak usah bohong."
"Siapa juga yang muji lo, Orang gue kagum sama tuh pantai kok. Gue ngak pernah main dipantai selama ini, jadi ngelihat pantai seperti ini membuat gue sangat bahagia dan damai."
"Kalian berduaan mulu dari tadi, kagak ada capeknya apa?" Tanya Mira.
"Eh, apa jangan jangan kalian sudah jadian ya? Kapan nembaknya?" Tanya Septia dengan antusiasnya.
"Kalo ditembak, mati dong gue nya?" Ucap Risda dan langsung memegangi tangan keduanya itu.
"Lo jadian sama Renzo ngak ngasih kita pajak jadian, Da. Temen macam apa'an lo?" Tanya Mira.
"Siapa juga yang pacaran?" Tanya Risda yang tidak terima dengan ucapan Mira.
"Pacaran itu haram." Seru Afrenzo dan langsung bergegas pergi dari tempat itu untuk meninggalkan Risda beserta kedua gadis itu.
Afrenzo pun memilih untuk menepi dari pantai tersebut dan menikmati es kelapa muda yang ada didekat pantai itu, sementara Risda dan teman temannya pun bermain pasir dengan bahagianya. Risda dan yang lainnya berlarian dipantai yang indah itu dengan bahagianya.
Risda seakan akan merasakan sebuah kehidupan disana, jiwanya yang telah lama tidak merasakan bahagia itu pun nampak begitu damainya. Risda seperti tengah hidup kembali saat ini, tidak ada hal yang membahagiakan selain hari ini baginya.
"Bunda! Ayah! Risda bahagia saat ini!" Teriak Risda kearah pantai itu.
Kebahagiaan itu membuat air mata kebahagiaan diwajah Risda pun mengalir sambil menatap indahnya pantai tersebut, dengan kasarnya Risda lalu menghapus air matanya.
Teman temannya yang berada disebelahnya itu pun merasakan betapa sedihnya Risda selama ini. Bahkan hanya hari biasa seperti ini pun membuat Risda merasa bahagia, mendengar teriakannya itu pun membuat teman temannya merasa sedih karena dibalik teriakan tersebut tersimpan luka yang teramat sangat mendalam.
"Tuhan! Terima kasih karena telah membiarkan kebahagiaan datang kepadaku saat ini! Terima kasih!" Teriaknya lagi.
__ADS_1
Entah seberapa banyaknya tetesan air mata yang mengalir dari kedua matanya itu, teriakan tersebut seakan akan menyayat hatinya. Afrenzo yang mendengar terisak tersebut sangat tau seberapa besar kesedihan yang ditanggung gadis itu, meskipun dia mengatakan bahwa dirinya bahagia akan tetapi tidak dengan kebebasannya.
"Gue masih bisa tahan, tapi tidak dengan seorang gadis seperti dia." Ucapnya lirih sambil memandang kearah Risda.
Melihat air mata yang ada dipelupuk mata Risda, langsung membuat kedua temannya tersebut memeluknya dengan erat. Keduanya tidak tau masalah apa yang dihadapi oleh Risda karena Risda tidak pernah menceritakan masalahnya terhadap siapapun, akan tetapi dari teriakannya tersebut mampu membuat keduanya merasa bersedih.
"Da, lo ngak papa kan?" Tanya Mira.
"Da, Kenapa lo berteriak seperti itu?" Tanya Septia.
"Gue ngak papa kok, adanya kalian disebelah gue saat ini, itu sudah cukup bagi gue. Kalian teman yang baik bagi gue, dan menjadi penyemangat gue untuk terus bertahan hidup didunia ini. Mungkin gue ngak akan pernah bisa merasakan kebahagiaan keluarga, dan gue tidak ditakdirkan untuk itu, tapi adanya kalian gue bisa merasakan kebahagiaan bersama kalian," Ucap Risda sambil membalas pelukan teman temannya.
"Lo jangan sedih lagi ya, lo boleh kok anggap Nyokap gue sebagai Nyokap lo sendiri. Gue mau kok berbagi dengan lo, Da. Gue bahkan udah anggap lo kayak Kakak gue sendiri," Ucap Mira.
"Denger lo teriak seperti itu membuat gue sakit hati, Da. Kalo ada masalah lo bisa cerita ke kita kita,"
"Gue ngak papa kok, gue hanya ingin berpesan kepada kalian berdua. Jika sudah siap nikah suatu saat nanti, pilihlah orang yang benar benar mencintai kalian dengan tulus. Jangan sampai adanya perceraian dikeluarga kalian, karena yang menjadi korban yang sebenarnya bukanlah kalian berdua, akan tetapi anak anak kalian.
Menikah itu sekali dalam seumur hidup, meskipun nantinya ada ketidak cocokan diantara pasangan jangan sampai ada kata cerai. Kalian sudah memutuskan untuk menikah artinya telah siap untuk menerima kekurangan masing masing, kalian siap menikah artinya siap untuk menanggung resikonya."
"Iya, Da. Gue ngak akan biarkan adanya perceraian dikeluarga gue nantinya," Seru Septia.
"Disaat anak anak kalian diberatkan dua pilihan antara ikut Ayah atau Ibunya, disaat itulah hati anak kalian akan hancur berkeping keping. Ingat Ibu tiri maupun Ayah tiri tidak akan mampu menyayangi kita lebih dari Ibu kandung atau Ayah kandung. Menikah itu mudah, tapi mempertahankan hingga ajal menjemput itu yang susah,
Pada akhinya, menikah bukanlah tentang cinta. Tapi tentang tanggung jawab dan mampu menerima kekurangan masing masing,"
"Iya Da. Gue ngak tau seberapa beratnya hari hari yang lo alami selama ini, gue yang kalo minta sesuatu ke orang tua gue aja ngak suka ditunda. Kalo Nyokap gue kagak ada dirumah aja gue sudah risau dan nangis nangis, apalagi lo yang sejak kecil ditinggal kerja," Ucap Mira.
"Berat atau ngaknya, kalian ngak perlu tau itu. Dan gue akan terus berdoa kepada Allah semoga kalian tidak merasakan apa yang gue rasakan, biar gue saja yang merasakannya, kalian jangan."
"Lo cukup tegar, Da. Tapi gue yakin kalo lo emang ngak setegar itu, lo pasti merasa sangat terluka saat ini kan? Tapi lo paksakan untuk terus tertawa."
"Tau apa lo tentang gue?"
"Gue ngak tau tentang lo, lo aja kagak pernah cerita kepada kita kita,"
"Sudah ah, ayo main lagi!" Seru Septia.
Mereka pun melanjutkan bermainnya ditepi pantai itu, Risda pun tertawa dengan kerasnya saat ini. Semakin keras seseorang tertawa maka semakin besar beban dan luka yang tengah ia tanggungnya.
Orang yang biasanya tegar, tidak mudah menangis, suka tertawa bahkan blak blakan. Biasanya mereka sering menangis ketika sendiri, bahkan mereka begitu rapuh dan tidak seperti apa yang semuanya bayangkan.
Mereka rapuh akan tetapi mampu untuk memasang wajah bahagia didepan semua orang, tapi ketika mereka sendiri bahkan air mata saja tidak mampu untuk mereka tahan.
...****************...
...Menikah adalah nasib, mencintai adalah takdir. ...
...Kau bisa merencanakan menikah dengan siapa tapi tak bisa kau rencanakan takdirmu untuk siapa....
Risda : Bunda, ini adalah kisah anakmu. maafkan aku yang tidak pernah menceritakan ini semua kepadamu. Karena kau tidak perlu tau seberapa hancurnya anakmu saat ini, yang perlu kau tau hanyalah senyumannya yang terpampang jelas diwajahnya saja. Risda sayang Bunda.
...Jangan lupa like, komen, dan vote ya...
...Dukung author untuk terus berkarya agar mampu menyebarkan pengalaman...
__ADS_1
...Semoga kalian semua tidak akan pernah merasakan apa yang Risda rasakan, Risda selalu berdoa yang terbaik untuk kalian...
......Yang sudah dukung auhor, terima kasih banyak......