Pelatihku

Pelatihku
Episode 147


__ADS_3

Risda mencerucutkan bibirnya kepada Afrenzo dengan sebalnya, bisa bisanya lelaki itu mengajari hal seperti itu kepada Benni. Sementara Afrenzo hanya diam saja sambil menatap kearah Risda, mengapa mood seorang wanita mudah sekali berubah ubah.


"Kenapa kalian malah bengong sih? Bantuin aku kenapa?" Tanya Benni yang masih terduduk diatas lantai itu.


Risda dan Afrenzo langsung menoleh kearah Benni, Risda pun tertawa sangat kerasnya ketika melihat lelaki itu yang belum juga bangkit dari duduknya. Afrenzo pun menggeleng gelengkan kepalanya mendengar Risda yang tertawa dengan bahagianya, kenapa dirinya justru tertawa ketika melihat Benni yang masih setia duduk dilantai itu.


"Lo kan udah besar, masak nggak bisa bangkit sendiri sih?" Tanya Risda setelah selesai tertawa.


"Bantuin dong My beby Risda," Ucap Benni sambil mengulurkan tangannya kepada Risda.


"Nggak mau!"


"Renzo bantuin," Benni justru meminta bantuan kepada Afrenzo.


Afrenzo pun mengulurkan tangannya kepada Benni, akan tetapi sebelum Benni menerima uluran tangan itu, Risda lalu menggandeng tangan Afrenzo dengan eratnya. Risda pun memeluk tangan Afrenzo sambil mencerucutkan bibirnya kepada Benni, melihat itu membuat Benni pun menyentuh dadanya yang perih akibat cemburu.


"Jangan sentuh tangan Renzo tau," Ucap Risda dengan sensinya kepada Benni.


"Da.." Panggil Afrenzo sambil menoleh kearah Risda ketika tangannya digenggam erat oleh Risda. "Nggak baik seperti itu, kita harus tolong menolong. Jangan seperti itu ya?"


"Tapi Renzo, dia kan bisa bangun sendiri tanpa butuh bantuan. Udah besar juga,"


"Biarkan gue bantu dia,"


"Bantuin sana!" Risda pun langsung melepaskan pegangan tangannya dari tangan Afrenzo dengan kasarnya.


Risda langsung membuang muka dari hadapan Afrenzo, sementara Afrenzo lalu membantu Benni untuk berdiri. Benni langsung meraih tangan Afrenzo dan berusaha untuk bangkit berdiri dari jatuhnya itu, meskipun perutnya masih terasa sakit akibat tendangan dari Risda itu.


Tet.. Tet...


Bel masuk sekolah pun berbunyi, itu artinya sebentar lagi jam pelajaran akan dimulai disekolahan itu. Saat ini sudah begitu banyak anak yang masuk kedalam kelas, dan itu artinya mereka siap untuk menerima sebuah pelajaran.


"Gue balik ke kelas dulu ya, Da. Sudah masuk," Ucap Afrenzo.


"Ya!" Seru Risda dengan nada cueknya.


Afrenzo lalu bergegas untuk menuju kekelasnya lagi bersama dengan Benni, sementara Risda yang melihat itu pun ikut serta masuk kedalam kelasnya sendiri. Akhinya pelajaran pun dimulai dikelas mereka masing masing, dan mereka mengikutinya dengan tertib.


*****


Afrenzo tengah memakaikan sebuah body protector kepada Risda, meskipun Risda belum sepenuhnya bisa beladiri akan tetapi dirinya ingin menguji kemampuan Risda untuk bisa turun ke arena pertandingan nantinya. Risda pun merasa gemetaran ketika dipakaikan body protector tersebut, apalagi baru pertama kali dirinya memakai peralatan beladiri itu.


Risda nampak begitu gagah dengan pakaian silatnya apalagi ditambah dengan body protector yang melekat ditubuhnya. Seakan akan body protector itu menjadi sebuah baju baja untuk pergi berperang, akan tetapi body protector teksturnya begitu empuk dan tidak sekeras baju baja.


Akan tetapi tidak ada perbedaan antara body protector dengan baju baja, karena keduanya sama sama untuk melindungi tubuh area dada dan perut dari serangan lawan. Pesilat membutuhkan body protector untuk melindungi, sementara pasukan perang membutuhkan baju baja untuk melindungi juga.


Body protector melindungi seorang pesilat dari serangan tendangan pukulan dan juga bantingan dari lawan tandingnya, begitupun juga dengan pasukan perang yang melindungi tubuh mereka dari sedangan berupa benda tajam.


"Renzo, gue nggak bakalan mati kan?" Tanya Risda lirih kepada Afrenzo.


"Tergantung," Jawab Afrenzo.


"Gue tanya beneran. Nanti kalo gue mati gimana?"


"Bukannya lo selalu pengen mati, ya? Kenapa sekarang malah takut?"

__ADS_1


"Ini beda lagi ceritanya tau, kalo yang itu mah urusan yang lainnya."


"Nggak mati kok, palingan cuma is dead doang,"


"Renzo! Gue serius tau."


"Dan gue nggak bercanda."


Risda langsung terdiam seribu bahasa setelahnya, nada bicara Afrenzo memang tidak pernah bercanda dan selalu serius dalam ucapannya. Risda yang baru pertama kali menggunakan itu, membuatnya merasa gugup ketika Afrenzo memasangkannya ditubuh Risda dan mengikatnya dengan kuat.


Risda kini berhadapan dengan Eni, dan Afrenzo menduga bahwa nantinya keduanya akan menjadi satu kelas tanding karena berat badan keduanya sama. Kelas tanding didalam pertandingan pencak silat dibedakan dari berat badan peserta, dimulai dari kelas A dan seterusnya.


Tingkat SMA dibagi menjadi beberapa kelas sesuai dengan berat badan. Yakni, kelas A terdiri dari siswa yang berat badannya 39 kg sampai 42 kg, Kelas B terdiri dari siswa yang berat badannya 43 kg sampai 46 kg, Kelas C terdiri dari siswa yang berat badannya 47 kg sampai 49 kg, Kelas D terdiri dari siswa yang berat badannya 50 kg sampai 53 kg, dan seterusnya.


Risda masuk kedalam kategori tanding putri kelas C, karena berat badannya yang hanya 49 kg saja. Tapi siapa sangka bahwa Afrenzo sendiri pun memiliki berat badan yang sama dengan Risda, kadang kala berat badan mereka berdua memang naik turun terkadang 50 kg, dan terkadang juga 49 kg.


Risda sama sekali tidak mempercayai apa yang dikatakan oleh Afrenzo mengenai berat badannya itu, akan tetapi dirinya baru percaya ketika Afrenzo berdiri diatas timbangan berat badan itu. Didalam aula itu memang disediakan timbangan digital untuk mengukur berat badan setiap anggota, karena itu sangat diperlukan untuk menentukan sebuah kelas tanding didalam pertandingan beladiri.


Ketika bertanding, mereka akan dikumpulkan sesuai dengan berat badan mereka masing masing, dan barang siapa yang berat badannya tidak sesuai dengan data diri yang dikumpulkan maka mereka akan tereliminasi. Oleh karena itu, timbangan berat badan itu sangat penting, apalagi untuk menentukan tingkatan mereka.


"Kalian bebas nyerang dengan serangan apapun, entah itu pukulan atau tendangan. Yang harus kalian hindari adalah serangan pada bagian kepala, leher, ********, persendian, dan kalian hanya boleh menyerang dibagian body protector saja. Setiap pukulan, tangkisan dan tendangan memiliki poin masing masing," Jelas Afrenzo kepada keduanya.


Keduanya pun langsung mengangguk kepala yakin, mereka hanya perlu berkonsentrasi dalam hal menyerang dan menangkis saja. Risda dan Eni saling menatap saat ini, meskipun tanpa berbicara keduanya paham akan maksud dari tatapan itu.


"Jangan membuat rencana untuk menyerang bergantian, apalagi tidak serius. Anggap ini adalah pertandingan sungguhan," Ucap Afrenzo lagi yang paham dengan maksud dari tatapan kedua gadis remaja itu.


"Renzo... Ini sangat sulit tau," Keluh Risda sambil mencerucutkan bibirnya.


"Serius atau hukuman?" Tanya Afrenzo dengan tegasnya dan juga tatapannya menajam kearah Risda.


"Nggak ada pilihan ke tiga?" Cicit Risda pelan sambil memainkan kedua tangannya.


"Ada."


"Apa itu?" Tanya Risda yang langsung berubah menjadi wajah antusiasnya.


"Pulang atau lanjut latihan."


"Hufttt... Sama aja, itu pun berat banget," Risda pun menghela nafasnya dengan kasar setelah mendengar jawaban dari Afrenzo.


Risda akhirnya pasrah tanpa bisa membujuk Afrenzo untuk menghentikan pertandingan kali ini, dirinya masih belum siap untuk bertarung apalagi dirinya belum sepenuhnya mengerti tentang beladiri.


Afrenzo menengahi keduanya untuk menjadi wasit juri dalam hal itu, Risda dan Eni segera memasang kuda kuda untuk siap tarung. Afrenzo pun memulainya, Risda dan Eni pun langsung saling melontarkan sedangan asal asalan, karena memang keduanya tidak tau harus melakukan apa.


"Berhenti!" Seru Afrenzo untuk menghentikan keduanya.


Baru juga beberapa detik saja, akan tetapi nafas keduanya mulai ngos ngosan. Afrenzo dapat melihatnya dengan cara bagaimana keduanya bernafas menggunakan mulut mereka, dan kegiatan itu sangat menyita energi keduanya.


"Jangan bernafas pakai mulut, kendalikan pernafasan kalian dengan hidung. Sebisa mungkin kalian harus menghemat tenaga," Afrenzo pun memberi arahan kepada keduanya.


Risda dan Eni pun langsung mengikuti apa yang dikatakan oleh Afrenzo, begitu sangat sulit untuk bernafas dengan hidung dalam keadaan seperti itu. Akan tetapi jika mereka berdua masih bernafas menggunakan mulut, takutnya mereka akan terasa sesak setelahnya.


Risda pun merasa pergelangan tangannya itu sangat sakit, karena dirinya menggunakan tangannya untuk menangkis tendangan sebelumnya. Baru segini saja dirinya sudah ingin menyerah, dan dirinya bingung bagaimana ketika dirinya akan tanding nantinya jika seperti ini.


"Renzo, apa gue terlalu lemah?" Tanya Risda kepada Afrenzo.

__ADS_1


"Kalian hanya belom terlatih. Perlahan lahan kalian akan bisa melakukannya," Jawab Afrenzo.


Risda pun menganggukkan kepalanya, dirinya berpikir bahwa Afrenzo sebelumnya juga seperti dirinya yang tidak bisa bertanding, akan tetapi saat ini Afrenzo telah jago beladiri. Tidak ada hasil yang instan, latihan beladiri memerlukan waktu yang lama sekaligus pendirian yang kuat.


Makanan yang mengolahnya sendiri jauh lebih sehat daripada makanan instan, oleh karena itu mereka perlu untuk ditepa agar mereka menjadi ahlinya beladiri. Ibarat sebuah pisau, jika tumpul maka tidak akan bisa dipakai dengan nyaman, akan tetapi jika tajam maka penggunanya harus berhati hati agar tidak terkena tangan.


Jika pikiran kita tumpul mengenai ilmu beladiri, maka seperti apapun kita tidak akan berhasil. Oleh karena itu, seorang pelatih mendidik muridnya agar pikiran mereka menjadi tajam dan pandai dalam beladiri.


Jika sudah tajam, maka mereka perlu berhati hati dalam memakainya karena didunia luar jauh lebih berbahaya daripada zona nyaman. Kita tidak tau pikiran setiap orang maka dari itu jangan sombong, meskipun kita berada diatas akan tetapi ada yang jauh lebih kuat dari kita.


Dilangit masih ada langit, maka dari itu sehebat hebatnya kita masih ada yang lebih hebat diatas kita. Meskipun sudah pandai beladiri, akan tetapi harus saling mengormati agar tidak ada yang ingin berniat buruk kepada kita. Tidak jarang didunia real live sering terjadinya tawuran, karena mereka merasa bahwa merekalah yang hebat sementara yang lain lemah.


"Gimana caranya agar gue bisa menyerang tanpa ragu?" Tanya Risda yang kebingungan mengenai penjelasan dari Afrenzo.


"Hanya perlu dilatih lagi. Kalau ragu jangan maju, kalo sudah maju jangan ada kata ragu," Ucap Afrenzo.


Risda pun mengangguk paham, itu artinya dirinya harus berusaha lebih keras lagi agar bisa mendapatkan sebuah gelar juara beladiri pencak silat. Itu adalah impiannya sejak dirinya pertama kali mengikuti latihan beladiri, dirinya tidak mau jika impiannya itu hanyalah sebuah mimpi tanpa bisa diraih olehnya.


Risda dan Eni kembali pasang untuk siap tarung, hal selanjutnya yang dilakukan oleh Risda membuat Afrenzo tercengang. Keduanya melakukan serangan secara bergantian, Risda menendang sementara Eni menangkis, begitupun sebaliknya secara bergantian.


"Nggak begitu caranya! Kenapa kalian malah main main? Serangannya yang serius, kalau digelanggang nanti gimana? Apa kalian akan melakukan hal itu? Iya kalo musuh kalian itu teman sendiri, kalo orang lain?" Omel Afrenzo.


Seorang pelatih tidak akan bisa diam saja ketika sedang melatih, justru dengan marahnya seorang pelatih akan membuat siswa yang dilatihnya akan jauh lebih disiplin daripada dilatih oleh orang yang pendiam dan hebat. Afrenzo memang mulutnya tidak bisa diam ketika dirinya sedang melatih, bahkan dia akan menjadi seseorang yang paling bawel ketika melatih muridnya.


Jika Afrenzo sudah marah seperti itu, maka Risda akan sulit untuk menenangkan lelaki itu. Oleh karena itu, Risda langsung menghentikan aksinya itu, dan dirinya pun langsung berdiri dengan tegaknya tanpa berbicara sedikitpun kepada siapapun.


"Yang serius kalo menyerang dan menangkis," Ucap Afrenzo lagi.


"Renzo, tangan gue sakit habis nangkis. Lihat nih sampe merah merah begini," Risda pun menunjukkan bekas merah dipergelangan tangannya kepada Afrenzo.


"Kenapa bisa sakit? Lo yang nangkis, kenapa lo sendiri yang sakit?" Tanya Afrenzo dengan tatapan tajam.


"Kulit gue ini dari daging, kalo daging buat nangkis tulang ya sakit lah."


"Emang lo nggak punya tulang? Seharusnya yang lo tangkis itu yang sakit, bukannya lo."


"Iya ya gue paham, teknik gue emang salah. Jadi sakit sendiri,"


Risda menyadari apa yang dikatakan oleh Afrenzo, akhinya dirinya pun mengakui bahwa teknik menangkis yang dirinya lakukan memang salah. Ada teknik tersendiri agar bisa menangkis, dan juga dibutuhkan sebuah latihan untuk memperkuat tulang ditangan.


"Baiklah, gantian dengan yang lainnya." Pungkas Afrenzo.


Afrenzo pun langsung membantu Risda untuk melepaskan body protector yang melekat ditubuhnya itu, sementara Eni dibantu oleh Fandi untuk melepaskannya. Afrenzo langsung memasangkan body protector yang ada ditangannya itu kepada siswa yang lainnya, melihat siswa wanita yang dipasangkan body protector oleh Afrenzo, seketika langsung membuat Risda cemberut.


"Awas aja kalo gue udah hebat beladiri nanti, tuh cewek bakalan jadi musuh pertama gue. Lihat aja nanti," Guman Risda pelan sambil mengepalkan tangannya dengan eratnya.


Risda pun menyaksikan pertarungan itu tanpa banyak bicara, Afrenzo melakukan hal yang sama kepada wanita itu dan memarahinya karena gerakan yang diajarkannya tidak sesuai dengan gerakan yang diperaktekkan oleh wanita itu.


Mencintai seorang pesilat apalagi pelatih, memiliki resiko yang besar untuk cemburu, karena seorang pelatih beladiri akan lebih dekat dengan siswanya. Maka dari itu, mencintai seorang pelatih harus bisa menahan rasa cemburu, atau tidak maka rasa itu akan membesar dan akan terciptanya sebuah pertengkaran.


"Kalian semua perhatikan dan simpan baik baik dalam ingatan kalian, tentang kesalahan apa saja dan jangan sampai dibawa kedalam arena gelanggang. Aku tidak mau jika sampai perguruan yang akan malu nantinya," Ucap Afrenzo kepada seluruhnya.


"Baik pelatih!" Jawab mereka serempak.


"Latihan selesai. Kalian boleh pulang," Ucap Afrenzo dan langsung bergegas untuk meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


__ADS_2