
Risda dan Afrenzo kini tengah duduk berdua dilapangan yang ada disamping aula beladiri, keduanya menatap kearah langit yang sama. Tepat dimana bintang bintang mulai menampakkan dirinya dengan indahnya, langit lama itu begitu sangat indah karena terlibat bintang bintang yang bertebaran dilangit.
"Renzo, lo tau perasaan gue saat ini? Setiap kali melihat bintang gue ngerasa bahagia bahkan rasanya pengen menangis. Dulu waktu gue masih kecil, gue digendong sama Bokap gue untuk melihat bintang diluar rumah waktu gue nangis, dan gue tiba tiba teringat disaat saat itu terjadi. Rasanya gue pengen kembali dimasa lalu tapi gue takut untuk kembali terluka karena hal yang sama,"
Afrenzo pun mendengarkan disetiap ucapan dari Risda itu, dirinya pun menatap kearah yang sama dimana Risda menatap sambil membaringkan tubuhnya didekat Risda agar memudahkannya untuk menatap kearah langit menjelang dipagi hari itu. Sementara Risda hanya duduk sambil memeluk kakinya dengan erat dihadapan sebuah api unggun yang berada tidak jauh darinya.
Suasana disana pun terasa begitu damai tanpa ada kericuhan, apalagi ditambah dengan seluruhnya kini tengah tertidur hanya tersisa Afrenzo dan Risda yang masih terjaga disana. Rasanya ini adalah waktu yang sangat tepat untuk bercerita keluh dan kesal dikala lelahnya hari hari yang dijalaninya.
"Renzo, lo tidur?" Tanya Risda karena tidak mendapatkan sahutan dari Afrenzo.
"Gue dengerin kok, Da. Ngomong aja," Ucap Afrenzo.
"Gue ngak tau harus ngomong apa, Renzo. Semakin bertambah hari, rasanya seperti semakin banyak beban yang harus gue tanggung, sepertinya gue tidak ditakdirkan untuk bahagia didunia. Gue ingin nyerah gitu aja, tapi gue ngak ingin ninggalin Nyokap gue sendirian."
"Da. lo tau apa yang bikin gue semangat hidup?" Tanya Afrenzo.
"Apa?"
"Sebelum manusia lahir didunia, mereka telah diperlihatkan bagaimana masa depan mereka, dan sebanyak 77 kali sehari malaikat bertanya kepada kita apakah kita sanggup untuk hidup didunia yang kejam ini. Tapi nyatanya gue nekat untuk lahir didunia ini, entah ada sesuatu yang begitu indah yang membuat gue untuk nekat lahir."
"Jadi semuanya sudah tertulis sebelum kita lahir? Lalu kenapa gue harus nekat untuk lahir? Kalo gue sudah tau bakalan jadi seperti ini,"
"Pasti ada sesuatu yang sepesial yang membuat lo nekat untuk lahir, mungkin sekarang belum waktunya untuk mencapai hal yang indah itu. Tapi semuanya sudah dipersiapkan untuk kita sebagai umat manusia,"
"Tapi Renzo, sesuatu seperti apa itu? Kenapa prosesnya begitu sangat berat hingga membuat gue nyaris bunuh diri?"
"Da, tidak ada proses yang mudah dan instan untuk bisa mendapatkan hasil yang sempurna. Pisau yang tajam pun butuh untuk ditumbuk berkali kali agar mendapatkan hasil yang sempurna, begitupun juga hidup, butuh tekanan dan coba'an agar bisa menjadi manusia yang kuat dan hebat."
"Lo bener, Renzo. Seorang pandai besi pun akan menumbuknya berkali kali agar mencapai hasil yang memuaskan, tapi apakah bisa manusia disamakan dengan besi itu?"
"Anggap saja ini sebagai istilah, Da. Tidak ada hal yang mudah untuk mencapai hasil yang luar biasa, bahkan seorang pesilat yang mendapatkan juara dunia pun melakukan proses yang tidak mudah. Seorang pesilat harus berlatih dengan giat, tanpa lelah, tanpa menyerah, bahkan tanpa mengeluh untuk mendapatkan hasil yang diinginkan. Menyerah memang mudah, tapi seorang pesilat sejati dia tidak akan pernah menyerah, dan bahkan akan menerobos semua tantangan yang menghalanginya, Manusia yang kuat bukanlah manusia yang tidak pernah jatuh, tapi manusia yang kuat adalah manusia yang jatuh berkali kali akan tetapi masih berusaha untuk bangkit kembali,"
"Renzo, gue ngak habis pikir sama jalan pikiran lo, bagaimana bisa ada orang sekuat lo yang bisa ngehadapi semuanya sendirian. Seandainya gue jadi lo, mungkin gue udah nyerah lebih awal, apalagi sampai dipukuli oleh Bokap lo seperti itu,"
"Hidup itu kadang aneh, Da. Buktinya lo pun masih bertahan sampai detik ini kan? Tidak semua wanita bisa sekuat lo, Da. Lihatlah temen temen lo yang selalu ada disekitar lo, mereka pun ngak akan bisa sanggup untuk jadi diri lo walaupun hanya sesaat,"
"Kadang gue juga ngerasa iri sama mereka, Renzo. Mereka bisa bahagia bersama dengan keluarga mereka masing masing, tapi kadang gue juga merasa beruntung, beruntung karena memiliki seorang Ibu seperti Nyokap gue, dan sahabat seperti lo. Dari lo gue bisa belajar banyak hal, bahwa hidup tidak akan lengkap tanpa masalah, tapi gue juga kadang rapuh dan pengen mengakhiri semuanya,"
"Dengan cara lo mengakhiri hidup, apa lo yakin bakalan bahagia diakhirat nanti? Sekarang bukan waktunya untuk memikirkan perasaan, Da. Tapi sekarang waktunya untuk mengumpulkan amal ibadah untuk bekal nanti diakhirat. Orang yang paling hina adalah orang yang memiliki sedikit bekal diakhirat nanti, bukan orang yang memiliki pekerjaan yang dipandang hina didunia,"
"Lo bener, Renzo. Harta itu bisa menjadi keberuntungan dan bisa juga menjadi bumerang bagi diri sendiri, harta yang berharga adalah mendapatkan seorang sahabat yang baik, karena itu adalah pemberian dari Allah. Tidak semua orang bisa memiliki sahabat yang baik,"
"Dan rezeki paling berharga adalah rasa sabar, semua orang bisa kaya tapi tidak semua orang memiliki rasa sabar. Karena kesabaran adalah pemberian terindah dari Allah untuk umat manusia,"
Keduanya pun mengutarakan uneg uneg mereka, ternyata berbicara dengan seorang Afrenzo begitu nyaman ketika sudah kenal dengan dekatnya. Bagi semua orang, Afrenzo tetaplah orang yang pendiam dan tidak banyak bergaul, akan tetapi bagi Risda, Afrenzo adalah teman curhat yang cukup asik dan bisa memberikan saran saran yang baik untuk dirinya.
Dibawah taburan bintang bintang, keduanya tengah berbincang bincang, Afrenzo tidur dilapangan itu dengan berbantalan kedua tangannya. Sementara Risda tengah sibuk untuk menghangatkan tubuhnya didepan api unggun yang dibuat oleh Afrenzo sebelumnya untuk membakar jagung.
Malam itu menjadi malam yang sangat panjang bagi keduanya yang memutuskan untuk terus berjaga, tidak ada hal yang menyenangkan selain mengobrol berdua untuk mengutarakan isi hatinya. Risda merasa sangat damai saat ini, ditempat yang sunyi sekaligus agak gelap itu membuatnya merasa sangat tentram damai.
"Da, lo ngak ngantuk?" Tanya Afrenzo tiba tiba.
"Gue belum ngantuk, Renzo. Kalo lo ngantuk, lo tidur saja, lagian kemarin lo tidak sadarkan diri sampai dibawa kerumah sakit,"
__ADS_1
"Kalo gue tidur, gue takut ngak bisa bangun, Da. Jadi gue pengen berjaga aja,"
"Kenapa gitu? Lo tau, gue bahkan ingin bangun lebih pagi dan memastikan lo masih bernafas, Renzo. Lo ngak akan pernah ninggalin gue sendirian kan? Lo akan baik baik saja kan?"
"Gue akan baik baik saja kok, Da. Dan gue akan terus bernafas sampai takdir menjemput gue,"
"Lo harus baik baik saja bagaimana itu, kita sama, Renzo. Kita harus saling menyemangati untuk bisa bertahan hidup, gue nyemangati lo, sementara lo nyemangati gue. Jadi, lo ngak boleh duluan,"
"Lo lihat bintang itu, Da?"
Risda langsung menoleh kearah bintang yang paling terang diantaranya dan bintang itu yang ditunjuk oleh Afrenzo. Bintang tersebut cukup indah dan lebih besar daripada yang lainnya, sehingga menarik perhatian dari Afrenzo.
"Ada apa dengan bintang itu?" Tanya Risda penasaran.
"Meskipun dia tidak memiliki sinar sendiri dan harus dibantu oleh matahari, dia tetap terlihat indah dan menarik perhatian. Lo harus seperti itu, Da. Meskipun tanpa semangat dari keluarga, lo harus tetap semangat untuk menyinari orang orang yang ada disekitar lo dengan kebaikan yang lo punya. Seperti bintang itu yang membawa kedamaian, lo juga harus membawa kedamaian untuk orang yang ada disekitar lo,"
"Gue akan coba untuk ngelakuin itu, Renzo. Gue akan berusaha untuk membuat orang orang bahagia, jika gue tidak ditakdirkan bahagia itu artinya gue harus bisa untuk membahagiakan orang lain,"
"Tapi lo harus sayangi diri lo sendiri, kalo bukan diri sendiri lantas siapa lagi, Da? Tidak semua orang peduli dengan kita, selain diri kita. Mungkin didepan mereka akan bersikap seolah olah peduli, akan tetapi kita tidak tau dibelakangnya,"
"Iya Renzo, lo juga harus begitu, Renzo. Jangan nyerah gitu aja, lo adalah penyemangat gue, kalo lo sendiri lemah lantas bagaimana dengan gue? Apa gue akan makin hancur nantinya tanpa lo?"
"Itulah kenapa, lo berbeda dari yang lainnya, Da."
*****
Tanpa terasa waktu begitu cepat berlalu, kini Risda dan yang lainnya tengah menjalankan sholat subuh berjama'ah dimasjid yang ada disana. Setelah terdengar adzan subuh dari kejauhan, Risda dan Afrenzo yang tengah menatap kearah bulan sebelumnya itu pun langsung bangkit dari tempat mereka untuk membangunkan yang lainnya.
Risda langsung bergegas untuk menuju kelantai atas untuk membangunkan teman teman ceweknya, sementara Afrenzo menuju ke aula sekolah untuk membangun para siswa laki lakinya. Setelah melakukan sholat subuh, setelahnya mereka langsung berganti pakaian, mereka pun melakukan sebuah pemanasan untuk memulai aktivitas mereka selanjutnya.
Setelahnya mereka pun berbaris panjang untuk bergegas berlari pelan dengan rute yang telah ditentukan. Barisan yang ada didepan sendiri adalah barisan beberapa senior yang akan menunjukkan jalan, sementara dibelakang pun ada beberapa senior dan Afrenzo yang mengawasi mereka dari belakang.
Setelah beberapa saat berlari cukup jauh dan lama, mereka pun berhenti ditepi ladang yang ada dihalaman belakang sekolahan itu. Terlihat cukup banyak orang yang ikut diacara latihan malam itu, para senior yang berkumpul itu saja sudah membuat tempat itu terasa sangat ramai.
"Kemarin lo tidur dimana, Da?" Tanya Vina ketika tanpa sengaja berpapasan dengan Risda.
"Gue ngak tidur, gue ngak ngantuk," Jawab Risda.
"Emang bisa ya, ngak tidur semalaman tapi ngak punya rasa ngantuk? Lo emang aneh, Da. Lebih aneh dari yang paling aneh,"
"Emang gue seaneh apa'an? Orang gue biasa biasa aja tuh, gue tuh males kalo tidur, lagian kalo tidur nanti juga bangun lagi, terus untuk apa tidur jika bangun lagi?"
"Emang lo mau, bangun bangun udah ada didalam tanah dan dikubur? Gue ngak bisa bayangin dimana lo didalam kuburan nanti, Da. Emang lo mau sendirian disana?"
"Ya gue bakalan ajak lo juga kali, ya kali gue masuk sendirian tanpa teman. Kalo ada lo kan jadi gue kagak kesepian lagi,"
"Dih gue mah ogah, bakso aja masih enak kok kenapa harus buru buru mati,"
"Mati itu enak tau, bisa bermain main disyurga-Nya nanti,"
"Emang lo yakin bisa masuk surga? Gue ngak yakin soal itu, Da. Secara kan lo begitu orangnya, kasar dan tidak berperikemanusiaan adil dan beradab,"
"Gue boleh ngomong ngak?"
__ADS_1
"Ya elah, kalo mau ngomong ya tinggal ngomong aja kali, ngapaino harus izin segala kagak gitu? Kek sedang rapat aja,"
"Syurga menolak orang orang yang kayak lo, Vin. Karena lo suka ngerendahin orang,"
"Gue ngak bakat masuk surga, Da. Tapi kalo gue mssuk neraka lo juga harus ikut gue, soalnya lo yang ngajarin gue sesat,"
"Gila lo!"
Sebuah jitakan pun meluncur begitu saja dikening Risda, pelakunya tidak lain adalah Afrenzo yang tidak sengaja mendengar perkataan keduanya itu. Risda pun mengusap kepalanya yang sakit akibat jitakan dari Afrenzo itu, ingin sekali dirinya protes kepada Afrenzo akan tetapi dirinya juga salah karena mengatakan itu didepan Afrenzo.
"Siapa suruh kalian ngobrol disini?" Tanya Afrenzo dengan nada dinginnya.
"Lo sih, Vin. Malah ngajakin gue ngobrol, kan jadi dimarahin sama pelatih dingin ini," Gerutu Risda kepada Vina.
"Itu gara gara jawaban lo, Da. Gue kan tanya baik baik eh malah lo jawab kek gitu," Ucap Vina dengan lirihnya.
"Gue kan cuma bercanda, ngapain lo bikin serius sih, Vin. Ngak asik lo,"
"Bercanda lo kelewatan batas, Da. Pake bawa bawa surga neraka lagi,"
"Lo saja yang bikin ini jadi masalah, Vin. Emang kagak bisa diajak bercanda lo,"
Afrenzo pun melipat kedua tangannya didepan dadanya itu, dirinya terus mendengarkan perkataan dari keduanya, seakan akan keduanya tengah saling menyalahkan didepan Afrenzo. Sudah tau pelatihnya ada didepannya saat ini, eh keduanya masih saja saling tuduh menuduh.
"Sudah selesai ngomongnya?" Tanya Afrenzo yang melihat keduanya seakan akan diam.
"Sudah," Jawab Risda sambil memanggut manggutkan kepalanya.
"Karena kalian berdua yang ngomong sejak tadi, kalian akan mendapatkan hukuman,"
"Apa!" Teriak keduanya bersama sama.
"Push up 40 kali diladang yang basah itu sekarang!" Perintah Afrenzo yang tidak mau untuk dibantah.
Keduanya pun langsung bergegas untuk menuju ketempat yang telah ditentukan itu tanpa banyak berbicara karena masih merasa takut untuk membantah ucapan Afrenzo. Keduanya langsung bergegas kedalam posisi push up tanpa mempedulikan pakaian mereka yang kotor karena tanah.
Sementara para peserta lainnya justru disuruh untuk guling guling ditanah tersebut hingga membuat warna baju mereka sepenuhnya berubah menjadi coklat akibat dari tanah basah yang menempel dibaju mereka masing masing.
"37,"
"38,"
"39,"
"40,"
"Hufftt.. Akhinya selesai juga,"
Risda dan Vina pun langsung bangkit dari posisi push up mereka, hal itu juga dibarengi dengan teman temannya yang bangkit dari posisi berguling guling. Pakaian mereka kini telah sama, akan tetapi bedanya Vina dan Risda hanya pakaian depan saja yang kotor, sementara punggung mereka masih tetap bersih karena tidak menyentuh dengan tanah.
"Setelah ini, kalian diminta untuk merayap di parit parit yang ada disana, dari hulu sampai hilir. Tanpa boleh berdiri ataupun berjongkok,"
"Baik pelatih!"
__ADS_1
Mereka pun langsung bergegas untuk menuju ketempat yang telah ditunjukkan oleh Afrenzo sebelumnya. Bukan hanya junior saja yang melakukannya, akan tetapi juga para senior yang ikut serta merayap didalam parit parit itu.
Dihadapan Afrenzo, tidak ada perbedaan diantara mereka, yang membedakan hanyalah lamanya latihan dan bukan siapa yang lebih dulu berlatih. Meskipun siswa yang telah lama berlatih itu pun belum tentu lebih hebat dari siswa yang baru berlatih akan tetapi dirinya begitu giat untuk berlatih.