Pelatihku

Pelatihku
Episode 79


__ADS_3

Disaat mereka berada dipos empat, mereka sangat diuji dengan ujian mental, bukan hanya diuji secara fisik akan tetapi mereka diuji secara mental dengan bentakkan dan bahkan cacian. Mereka juga ditanya, alasan apa yang membuat mereka ikut serta diperguruan itu, dan juga bagaimana sikap mereka yang harus diambil dalam latihan.


Karena ditempat itu agak jauh dari pemukiman warga, sehingga para senior bebas untuk bernada tinggi. Bahkan hal itu sempat membuat Vina menitihkan air matanya, sementara Risda sejak tadi hanya mengepalkan tangannya bersiap untuk melawan.


Niatnya itu langsung diurungkan olehnya karena dirinya menyadari bahwa itu adalah orang hebat beladiri yang ada didepannya, meskipun mereka tidak saling mengenal, akan tetapi Risda bisa mengetahui bahwa mereka hebat dalam beladiri.


"UNTUK APA KALIAN IKUT BELADIRI! KALO MENTAL KALIAN LEMAH SEPERTI INI!" Bentak salsh satu senior.


"Saya ngak lemah!" Sentak Risda, entah kenapa disetiap orang yang bilang dirinya lemah, Risda selalu terbawa emosi.


"Kalo begitu tunjukkan!" Sentaknya sambil mencengkeram erat baju Risda.


Risda langsung memberikan sebuah serangan beruntun yakni pukulan dan tendangan kepada senior itu. Akan tetapi, dengan mudahnya senior itu menangkis serangan dari Risda, bukannya marah akan tetapi senior lelaki itu justru tertawa.


Vina dan Affan hanya berdiam diri ketika menyaksikan Risda yang mulai melontarkan pukulan dan tendangan yang dirinya bisa. Vina sejak tadi mencoba menghapus air matanya yang hendak menetes, dirinya yang tidak pernah dibentak oleh kedua orang tuanya itu pun langsung membuatnya menitihkan air mata.


Berbeda dengan Risda yang selama ini berusaha untuk menguatkan dirinya sendiri meskipun semesta selalu mengujinya tanpa ampun. Risda yang memang selalu terkena ucapan kasar itu, entah kenapa kali ini dirinya justru merasa emosi.


"Bagus!" Seru senior tersebut sambil bertepuk tangan.


"Bagus apanya?" Tanya Risda ketika menghentikan pukulannya itu.


"Inilah yang gue harapkan diacara seperti ini, gue acungin lo jempol karena hanya lo yang berani melawan seorang senior seperti ini dari tadi. Lainnya merrka semua pada takut," Ucap senior itu sangat puas hati.


"Jadi saya lolos?" Tanya Risda dengan polosnya.


"Karena regu kalian ada yang tau maksud gue disini, kalian lolos dalam ujian ini. Silahkan jalan untuk menuju ke pos lima, kalian lurus saja nanti didepan kalian akan bertemu sebuah pertigaan dan disana juga ada pos ronda,"


"Terima kasih senior!" Jawab mereka serempak.


Risda dan yang lainnya langsung bergegas menuju kearah yang telah ditentukan. Cukup lama mereka berjalan, akhinya mereka telah sampailah disebuah pos ronda, akan tetapi ditempat itu terlihat sangat gelap karena lampunya yang dimatikan.


"Kalian regu berapa?" Tanya seseorang tiba tiba hingga membuat ketiganya sangat terkejut.


"Kami regu ke sepuluh!" Jawab mereka bersamaan karena terkejutnya.


"Untuk apa kalian datang kemari?"


Ketiganya pun berdiam diri tidak mengerti maksud dari pertanyaan itu, bukankah ini acara pelatihan malam? Tentu saja alasannya untuk mengikuti pelatihan malam, lalu apa lagi kalo bukan itu?


Dibenak mereka pun bertanya tanya tentang maksud dari pertanyaan tersebut, akan tetapi ketiganya tidak berani untuk mengungkapkan pertanyaan tersebut didepan senior beladiri itu yang merupakan adalah seorang wanita.


"Kami siap diuji," Ucap Risda dengan tegasnya seorang diri.


"Jadi hanya satu saja yang siap?"


"Kami siap!" Jawab Vina dan Affan bersamaan.


"Apa yang harus saya uji untuk kalian?"


Pertanyaan itu lagi lagi langsung membuat ketiganya terdiam, mereka tidak tau harus menjawab apa saat ini. Pertanyaan pertanyaan itu seolah olah tidak masuk akal sama sekali, bahkan ketiganya tidak tau ujian apa yang akan diberikan oleh wanita itu.


"Kami tidak tau," Jawab Affan.


"PULANG!" Bentak senior wanita itu.


Memang disebuah perguruan yang paling galak adalah senior wanita, dimana pun itu Mbak Mbak senior jauh lebih menakutkan daripada Mas Mas senior yang bisa berbaik hati.


Bentakkan tersebut langsung membuat ketiganya menundukkan kepalanya bingung, entah harus seperti apa ketiganya, padahal ketiganya datang hanya untuk diuji tapi ujian apa yang akan mereka terima, mereka juga tidak tau soal itu.


"Tapi masih ada pos enam yang belom kami lewati," Ucap Risda.


"Terus kalian disini ngapain?"

__ADS_1


"Bersiap untuk menerima ujian dari anda,"


"Maka siapkan."


Ketiganya pun langsung berbaris sejajar ditempat itu dan menghadap kearah senior wanita itu. Sementara senior wanita itu hanya melipat kedua tangannya didepan dadanya, seakan akan dirinya merasa sangat sombong karena memiliki ilmu yang lebih tinggi dariada ketiganya itu.


"Kami siap diuji!" Teriak Affan sambil memberikan hormat khusus perguruan itu dan diikuti oleh Risda dan Vina.


"Mulai!" Seru senior wanita itu.


"Baik!"


"Lakukan push up 25 kali dengan benar!"


Ketiganya langsung bergegas untuk diposisi push up sesuai yang dikatakan oleh senior wanita itu, ketiganya pun melakukan push up dengan hitungan yang serempak. Dengan semampu dan sebisanya, Risda terus melakukan gerakan yang disuruh oleh seniornya.


Senior tersebut ditugaskan untuk menguji kekuatan fisik juniornya itu, dan kemampuan mereka untuk melakukan latihan fisik yang berat. Setelah hitungan ke 25 kali, Risda dan yang lainnya langsung bangkit kembali dengan posisi siap.


Mereka juga diuji dengan melakukan hal yang lain, seperti ditanya tanya mengenai fungsi dari jurus jurus yang diajari diperguruan itu selama ini. Mereka mampu untuk menjawabnya dengan benar, meskipun jawaban itu tidak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh senior wanita.


"Kalian saya anggap lolos sini,"


"Alhamdulillah..."


"Tapi jangan senang dulu, masih ada banyak ujian yang akan kalian lewati nanti."


"Kami siap melewatinya bersama sama!"


"Baiklah, kalian bisa lanjut dipos ke enam. Setelah lurus dari sini nanti kalian belok kekanan, dari situ kalian lurus saja sampai ketemu dengan senior lainnya disana,"


"Baik senior, terima kasih atas pemberitahuannya,"


Senior wanita itu hanya menganggukkan kepalanya saja, hal itu langsung membuat ketiganya segera bergegas menuju kearah yang telah ditunjukkan oleh senior wanita tersebut. Ketiganya berjalan dengan hati hati karena jalanan yang gelap gulita itu, hal itu juga membuat Vina terus berpegangan pada lengan Risda karena takut.


"Lo sendiri aja yang penakut," Ucap Risda dengan sinisnya karena Vina seakan akan menjadi beban berat baginya karena terus memegangi lengan Risda dan juga menyandarkan kepalanya disana..


"Dih bukan gue aja kali, noh Affan juga takut,"


"Gue bukan cewek yang penakut kayak lo," Jawab Affan yang bernada sama dengan Risda sebelumnya.


"Lo kan cowok anjiiirrr! Sejak kapan lo ganti gender?"


"Emang bangsaaat lo, Vin! Kagak bisa diganti lah, orang gue sejak lahir aja udah jadi cowok,"


"Kali aja lo operasi penggantian kelam*n kan kagak ada yang tau,"


"Buang buang uang, lagian gue udah nyaman jadi cowok kenapa harus diubah jadi cewek,"


"Gue malah pengen ganti cowok, biar kagak jadi penakut kayak lo,"


"Lo yang penakut, bukan gue."


"Lo, gue bukan penakut!"


"Heleh kalian berdua pun sama sama penakut, buktinya kenapa kalian masih memegangi tangan gue seperti ini? Gue capek tau," Sela Risds.


Keduanya pun menyengir keaeah Risda, meskipun Risda tidak bisa melihatnya dengan jelas, akan tetapi keduanya masih tetap melakukan itu.


"Ya maafin lah, Da. Tangan lo emang terlalu nyaman," Ucap Vina.


"Nyaman apa'an? Orang hanya ada tulang dan kulit doang," Ucap Affan.


"Lepasin tangan gue!" Teriak Risda dan langsung mengibaskan kedua tangannya agar tangan tangan kedua orang itu terlepas dari tangannya.

__ADS_1


"Da, lo kok gitu sih?" Keluh Vina karena tangannya sedikit sakit akibat ulah dari Risda.


"Iya nih, lo ngak asik, Da." Tambah Affan.


"Kalian berdua yang ngak asik! Udah dikasih pegangan geratis eh kalain malah nyinyir mulu kerjaannya. Makan tuh nyinyiran kalian,"


Keduanya pun merasa jengkel dengan ucapan Risda hingga membuat keduanya membuang muka dari wajah Risda sambil melipat kedua tangannya didepan dadanya. Risda yang sekilas melihatnya pun terkekeh pelan, benar benar seperti anak kecil yang mudah merajuk.


Tanpa sengaja, Affan pun melihat sebuah bayangan yang melintas diantara semak semak, bukan hanya dirinya saja yang melihatnya akan menjadi Risda juga melihatnya. Hal itu langsung membuat Affan kembali memegangi tangan Risda dengan kerasnya.


"Emakkkkk!" Teriak Affan.


Teriakan itu langsung membuat Vina ikut serta memegangi tangan Risda meskipun dirinya tidak tau mengapa Affan berteriak seperti itu. Karena refleknya itu, langsung membuat Vina juga ikut berteriak ketakutan akibatnya.


"Lo lihat apa yang gue lihat kan, Da?" Tanya Affan.


"Emang lihat apa'an sih? Kan kagak ada apa apa disini," Ucap Vina.


"Gue juga lihat, Af Af. Kek bayangan hitam," Ucap Risda.


"Dimana?" Tanya Vina dan langsung menoleh kesana kemari untuk mencari apa yang tengah keduanya bicarakan itu.


Vina sama sekali tidak melihat apapun disana, yang dirinya lihat hanyalah kegelapan gulita tanpa adanya cahaya. Tiba tiba angin dingin semilir dimalam itu membuat ketiganya semakin merasa merinding, ketiganya pun saling bergandengan tangan satu sama lain karena takut.


Tidak ada hal yang lebih menakutkan selain malam ini, apa yang dilihat oleh keduanya itu pun seperti tengah bergentayangan diingatan mereka. Bagaimana tidak menakutkan? Mereka tengah berjalan dilahan kosong dan juga ditumbuhi oleh semak semak belukar yang sangat lebat, diantara semak semak itu keduanya seperti melihat sosok seseorang yang tengah melintas.


Bayangan gelap tersebut seakan akan langsung menggilang begitu saja dibalik lebatnya semak semak yang ada disana. Dengan perlahan lahan mereka pun berjalan untuk menjauh dari tempat itu, sebenarnya mereka tidak mampu untuk berjalan karena kaki mereka yang terasa sangat lemas itu.


Untuk langkah satu langkah pun mereka berusaha mati matian untuk melakukan hal itu, kaki mereka seakan akan gemetaran dan tidak bisa dikondisikan untuk melangkah menuju ke pos enam. Benar benar malam yang menakutkan, bahkan sama sekali tidak ada warga yang berjaga ataupun sekedar beronda.


"Da, bisa jalan lebih cepat ngak?" Tanya Affan yang masih tetap memegangi tangan Risda.


"Kagak bisa, kaki gue rasanya lemas banget."


"Sama, kenapa harus sekarang sih lemasnya, kenapa ngak nanti nanti aja," Ucap Vina yang menyahuti ucapan Risda.


"Emang hal itu bisa dinegosiasikan sebelumnya apa? Kalo bisa gue udah lakuin sejak tadi, Vin. Lo aneh aneh aja," Ucap Risda.


Mereka dengan perlahan lahan pun terus melangkah menjauh dari tempat itu, cukup lama mereka berjalan dengan perlahan lahan akhinya mereka telah sampai dipos ke enam, yakni tempat yang berada ditengah tengah ladang penduduk yang ada disana.


Ketika mereka bertiga sampai di pos ke enam, mereka pun langsung disambut oleh tiga orang senior. Ketiganya pun terlihat sangat galak, dan ketiganya adalah seorang senior laki laki. Ujian kali ini, mereka akan diuji seberapa cintanya terhadap tanah air Indonesia itu.


Mereka ditanyai beberapa pertanyaan seputar tentang dunia prasejarah, termasuk juga tentang siapa presiden pertama Indonesia, bagaimana proses kemerdekaan, siapa perumus undang undang dasar, siapa pembuat sumpah pemuda, dan lain sebagainya.


Ketika jawaban mereka salah, mereka akan mendapatkan tendangan diperut mereka. Sebelum ditendang, mereka akan disuruh untuk melakukan pernafasan perut terlebih dulu, seperti apa yang telah diajarkan oleh Afrenzo sebelumnya.


Risda sudah mendapatkan 5 kali tendangan, dan hal itu rasanya seperti langsung membuat perut mereka merasa sakit. Mereka pun langsung disuruh untuk duduk didalam selokan yang ada di ladang penduduk itu.


Selokan tersebut tengah dialiri oleh air yang banyak, meskipun tempatnya kecil akan tetapi cukup untuk mereka duduk, bahkan air yang mengalir itu cukup deras hingga membuat tubuh ketiganya tenggelam diair hingga hanya terlihat kepala mereka saja.


Malam malam seperti ini dengan udara yang dingin, membuat mereka begitu sangat kedinginan akan tetapi anehnya air disana justru terasa hangat. Mungkin kalian tidak percaya dengan fakta ini, tapi ini benar benar terjadi, bukan karena airnya yang hangat akan tetapi karena udaranya yang begitu dingin hingga membuat air itu terasa hangat.


Ketiganya disuruh untuk jalan merayap untuk menyusuri selokan itu, hingga akan sampai ditempat tujuan yakni pos ke tujuh. Mereka terus merayap pelan pelan, karena salah satu senior dari mereka kini sedang mengikuti mereka dibelakang untuk menjaga mereka agar tidak melakukan kecurangan.


"Gue takut ada ular," Ucap Risda lirih sambil memperhatikan sekitarnya.


"Gue malah takut ada lintah," Ucap Vina menanggapi ucapan Risda.


"Bisa ular kagak mempan dengan kalian berdua, omongan kalian malah lebih berbisa daripada bisa ular," Ucap Affan dengan sensinya.


Hal itu langsung membuat keduanya hanya mendengus kesal kepada Affan, meskipun berbicara seperti itu mereka tetaplah melakukan tugas mereka yakni merayap menuju kehilir selokan itu. Senior yang mengawasi mereka sama sekali tidak menegur mereka ketika mereka berbicara, dan bahkan dirinya hanya menggeleng gelengkan kepalanya.


Sebelum acara itu, mereka telah mempersiapkan semuanya, mereka bahkan ada yang memeriksa selokan tersebut agar terhindar dari benda asing berupa pecahan kaca, tanaman duri, dan lain lain. Sehingga tempat itu dikatakan aman dari bahaya seperti itu akan tetapi tidak dengan hewan hewan melata yang lewat disana.

__ADS_1


__ADS_2