
Risda tengah fokus untuk menulis saat ini, meskipun kepalanya terasa pusing akan tetapi dirinya sama sekali tidak mengeluh, karena tugasnya belum selesai. Mira yang memerhatikan setiap ekspresi wajah Risda yang sedikit menyengir dan bahkan masih tetap fokus kepada bukunya.
"Da, gue perhatiin belakang ini lo kayak sering pusing gitu sih. Lo kenapa?" Tanya Mira kepada Risda hingga membuat Risda mendongakkan kepalanya untuk menatap kearah wajah Mira.
"Gue ngak tau juga, mungkin roh gue mau terlepas dari tubuh gue kali," Jawab Risda sambil terkekeh pelan.
"Tai lo, Da! Gue tanya serius jawaban lo malah kayak gitu, ngak ngehargain gue sebagai teman lo?"
"Bukan gitu, Ra. Sejak kebentur tembok waktu itu, gue jadi sering pusing. Bahkan rasanya kepala gue sangat berat, kadang dunia ini rasanya seperti gempa." Tatapan Risda pun lurus kedepan sambil mengadu kepada Mira.
"Kebentur tembok? Kenapa bisa, Da?" Mira pun terkejut mendengar cerita dari Risda.
"Ngak papa, hanya ngak ngelihat kalo ada tembok doang kok." Bohong Risda yang memang dirinya tidak suka menceritakan sesuatu yang bersifat pribadi kepada siapapun.
"Mata lo ada dua kan? Kok sampek ngak lihat sih, aneh emang lo itu, Da. Bisa bisanya udah sebesar ini ngak bisa lihat tembok,"
"Lo berisik amat sih, Ra. Lanjut tuh tugas lo masih banyak,"
"Gue mah santuy lah, asal bisa nyontek lo aja udah cukup banget kok bagi gue. Lo kan sukanya ngawur jawaban yang pas banget, jadi gue bisa lihat jawaban lo."
"Sialan lo, Ra. Giliran gini aja lo semangat nyontek gue, lah kalo gue kagak tau jawabannya aja malah lo suruh mikir sendiri.
"Bukannya gue nyuruh lo mikir sendiri, Da. Gue kan emang kagak tau jawabannya, masak iya gue lihatin kertas putih kosong ke lo?"
"Alasan!"
"Terserah lo aja, Da. Males gue berdebat dengan lo,"
Risda pun menjulurkan lidahnya kepada Mira untuk mengejek gadis itu, setelah itu dirinya fokus kembali kepada bukunya. Tiba tiba dirinya menjatuhkan pulpen yang ada ditangannya begitu saja, Mira pun langsung menoleh kearah Risda.
"Lo kenapa, Da?" Tanya Mira.
"Gue ngak papa kok, hanya pusing doang. Mangkanya pulpennya sampe jatuh seperti ini,"
Risda pun mengambil pulpennya kembali, dirinya pun kembali memakainya. Mungkin Mira yang terlalu berlebihan dengan dirinya, padahal hanya sekedar pulpen jatuh saja hal itu dikhawatirkan olehnya.
"Gue ke kamar mandi dulu ya," Ucap Risda sambil bangkit dari duduknya.
"Gue anterin," Ucap Mira yang ikut serta bangkit.
"Halah cuma ke kamar mandi doang aja loh, mending lo disini aja, kerjain tugas lo. Gue cuma sebentar doang,"
"Yakin lo ngak papa? Nanti lo malah pingsan lagi kayak sebelumnya, terus ngak ada yang nolongin gimana?"
"Apa hidup gue dipenuhi dengan pingsan, pingsan, dan pingsan doang? Lo terlalu berlebihan, Ra. Ya sudah gue ke kamar mandi dulu, udah ngak tahan!"
Tanpa menunggu sahutan dari Mira, Risda pun langsung berlari keluar dari kelas itu. Dirinya pun langsung bergegas menuju ke kamar mandi, dan langsung masuk kedalamnya.
*****
"Huftt lega banget deh," Ucap Risda sambil melangkah keluar dari kamar mandi.
Setelah menunaikan hajatnya yang ingin buang air itu, Risda merasa lega kembali, dirinya pun kembali bergegas menuju ke kelasnya setelah itu akan tetapi tidak dengan berlari, melainkan jalan santai.
"Woi Da!" Teriak seseorang dari kejauhan.
Risda pun langsung menghentikan langkah kakinya, dirinya pun langsung menoleh kearah sumber suara dimana seseorang tengah memanggilnya. Sosok lelaki cupu dengan kacamata yang entah minus berapa itu tengah berlarian kearah Risda, Risda kebingungan melihat siswa kelas lain itu.
"Ada apa?" Tanya Risda kebingungan.
"Kamu cantik, aku suka sama kamu."
Risda pun langsung membelalakkan kedua matanya dan melotot kearah cowok itu. Entah kesambet apa'an tuh cowok sehingga berani beraninya mengatakan rasa sukanya kepada Risda, Risda pun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Sejak kapan lo suka sama gue?" Tanya Risda yang tidak tau harus ngomong apa.
"Sejak masuk sekolah ini, aku jatuh cinta banget sama kamu, Da. Aku mau kok jadi pacar kamu, kata mereka kamu ngak punya pacar,"
__ADS_1
"Mereka siapa? Sok tau banget sih jadi orang,"
"Afrenzo lah, dia kan teman baru aku dikelas,"
"Ngak ngak, dia bohong!"
"Tadi kan aku cerita sama dia, terus kata dia kalo aku suka, aku harus mengutarakannya sebelum direbut sama orang lain. Jadi aku mengatakan itu kepadamu,"
"Gue ngak suka sama lo, kenal aja kagak!" Sentak Risda dengan wajah kebingungan.
"Kenalin nama aku adalah Benni, b e be n i ni benni" Ucapnya sambil mengejah namanya sendiri.
"Ya ya ya, gue mau kembali ke kelas dulu ya, bay!"
Risda langsung kabur dari hadapan Benni itu, dirinya merasa ketakutan dengan cowok cupu itu. Entah kenapa dirinya ingin sekali menghindari cowok tersebut, dirinya langsung bergegas kembali menuju kekelasnya dengan nafas yang memburu.
Mira dan Septia yang melihat itu langsung bergegas untuk mendatanginya, mereka begitu terkejut ketika melihat Risda yang berlarian didepan kelas itu. Risda langsung masuk kekelasnya dan menutup pintu kelas tersebut dengan rapatnya.
"Lo kenapa, Da? Habis ketemu hantu?" Tanya Septia sambil memincingkan sebelah matanya.
"Lebih parah daripada hantu, gue lihat monsternya hantu anjiiirrr! Serem banget, sumpah!" Ucap Risda yang mulai mengatur nafasnya kembali.
"Emang lo lihat apa'an sih? Emang se menyeramkan itu kah?"
"Lo tau cowok cupu yang sekelas dengan Afrenzo itu? Nyeremin banget dia,"
"Nyeremin gimana? Orang wajahnya biasa biasa aja tuh, kagak ada serem seremnya sama sekali,"
"Masak iya sih dia ngutarain perasaannya sama gue, aneh emang tuh anak. Belum tau aja siapa gue,"
"ANJIIIIIRRRR! SERIUSAN LO?" Tanya Rania dengan hebohnya, dan dirinya yang mendengarkan pembicaraan mereka bertiga.
Teriaknya tersebut langsung membuat ketiganya menutup telinga mereka masing masing, apalagi Risda yang rasanya seperti kendang telinga akan jebol itu. Jarak dirinya dan Rania memang sangat dekat daripada kedua temannya yang lainnya itu, sehingga dirinya yang mendapatkan efek yang lebih parah daripada yang lainnya.
"Itu mulut atau toak masjid sih sebenarnya!" Sentak Risda sambil menutupi rapat rapat kedua telinganya menggunakan kedua tangannya.
"Bukan woi, itu mah suara sangkakala malaikat Israfil, lo tau kagak ha?" Tanya Mira dengan nada ketusnya.
"Anjiiing! Emang lo mau terompet sangkakala itu ditiup ha? Bisa modar seluruh dunia ini anjiiir, bukan hanya para planet aja. Tapi seluruh galaksi bima sakti akan modar, emang lo mau hal itu terjadi sekarang ha?" Tanya Risda sambil menyolot kearah Mira.
Tanda tanda kiamat : Api Keluar dari Tanah Hejaz (HR. Bukhari) No. 6585. Shahih, Kebodohan dan Perzinaan Merebak (HR. Bukhari) No. 79. Shahih, Mengikuti Generasi Sebelumnya (HR. Bukhari) No. 6774. Shahih, Bermegah-megahan Membangun Masjid (HR. Abu Daud) [No. 449 Baitul Afkar Al-Dauliah] Shahih, Tiada Lagi umat manusia yang mengucapkan nama Allah (HR. Muslim) [No. 148 Syarh shahih Muslim] Shahih, Pembunuhan Merajalela (HR. Bukhari) [No. 7061 Fathul Bari] Shahih, Matahari terbit dari Barat, Turunnya Nabi Isa As (An-Nisa: 159).
"Gue kagak mau sih, Da. Gue kan belom nikah dan belom ngerasain nikmatnya nikah," Ucap Mira.
"Nikmat apa'an? Kalo nikah mah udah ngak sebebas ini lagi kali, emang lo mau dikurung terus? Main sama cowok lain pun kagak boleh, meskipun hanya teman doang."
"Aneh lo emang, Da. Ya kagak lah, emang lo mau suami lo nanti main sama cewek lain ha? Ya sama aja gitu, ngak ngehargain suami lo sendiri, Da. Jelas lah suami lo bakalan marah nantinya,"
"Mumpung masih muda, jangan nikah dulu lah. Kita nikmati aja masa muda kita, setelah itu baru deh kita bisa berumah tangga yang baik." Sela Rania diantara keduanya itu.
"Noh Mira dulu yang mau nikah, gue mah terakhir aja. Nunggu kalian semua nikah dulu, nanti kalo lahi unboxing jangan lupa live yak, biar gue bisa niruin nantinya."
Bhukk...
Pukulan keras dari Mira pun mendarat mulus di punggung Risda, dan hal itu langsung membuat semuanya melotot kearah Risda. Mereka benar benar tidak mempercayai apa yang tengah dikatakan oleh Risda saat ini, benar benar diluar nalar mereka.
Risda pun memekik pelan akibat pukulan dari Mira itu, ia lalu meringis sambil berusaha untuk mengusap punggungnya sendiri. Ia benar benar tidak suka bagaimana cara Mira memukulnya itu, bukan hanya rasa kebas yang ia rasakan akan tetapi juga rasa panas sekaligus nyeri.
"Sialan lo, Ra. Temen ngak ada akhlak emang lo," Keluh Risda sambil berwajah sebal kearah Mira.
"Gue mau jotos pala lo, Da. Tapi lo terus ngeluh pusing, jadi gue kagak jadi, daripada lo pusing mulu," Ucap Mira seakan akan tidak memiliki rasa bersalah sedikitpun setelah memukul Risda dengan kerasnya.
"Jotos jotos aja kali, biar makin parah sakit gue. Kalo parah kan biar cepet matinya,"
"Hussttt omongan lo, Da. Ngak baik ngomong kayak gitu, lo belakang ini atau emang dari dulu sih ucapan lo selalu tentang kematian?" Tanya Rania penasaran.
"Kepo banget dah jadi orang," Jawab Risda sambil melipat kedua tangannya itu.
__ADS_1
"Ya karena omongan lo yang semakin hari semakin ngawur pe'ak. Otak lo kagak konslet kan? Apa perlu buat di servis ganti otak?" Saran dari Rania.
"Bener banget, Ran. Mending kita segera bawa dia saja ke tukang servis, siapa tau setelah itu dirinya kembali normal," Ucap Septia membenarkan perkataan dari Rania.
"Keknya itu ide yang bagus deh, Ran. Kali aja tuh pikirannya langsung kembali jernih, seperti siaran televisi yang menggunakan antena para bola." Mira pun setuju dengan ucapan dari Rania.
"Emang ada servis otak? Kalo ada servis lah, gue juga kagak mau punya pikiran yang kayak gini. Udah mudah pusing lagi, pengen operasi ganti kepala saja,"
"Kayaknya ada deh, Da. Di pabrik sosis deh, kan sayang kalo otak lo dibuang gitu aja, mending digiling jadiin sosis."
"Dasar psikopat lo! Terus gue kagak punya otak gitu ha? Lebih mending orang gila yang ada dipinggir jalan. Gitu gitu masih ada otak, ya meskipun kagak berfungsi sih. Tapi itu jauh lebih baik woi, daripada otak kagak ada lagi," Seru Risda yang tidak terima dengan ide dari Rania.
"Gue punya jiwa psikopat sejak dulu, Da. Gue udah bunuh beribu ribu nyawa nyamuk yang telah ngambil darah gue tanpa izin sejak kecil. Gue ngak akan segan segan untuk menggintes sampe halus tubuhnya itu, dan gue juga pernah bunuh semut tanpa gue sadari lagi." Rania pun membeberkan apa kelakuan keji yang pernah dirinya lakukan.
"Gue juga psikopat berarti, gue pernah nangkap ikan kecil lalu gue belah belah jadi 10. Gue juga pernah matahin sayap capung biar dia ngak terbang tinggi waktu kecil, gue juga jahat dong?" Tanya Mira yang ikut serta mengaku sebagai psikopat.
"Gue juga gue juga!" Teriak Septia sambil mengacungkan tangannya dihadapan ketiganya.
"Emang lo apa'an?" Tanya Risda.
"Kagak terlalu seperti kalian sih, tapi gue pernah."
"Iya apa'an pe'ak!" Sentak Risda.
"Gue pernah dicubit sama kepiting, setelah itu gue tumbuk tumbuk tuh tubuh kepiting sampai hancur."
Ketiganya langsung menatap malas kearah Septia, kalau didesa hal seperti itu biasanya akan dibuat sebagai makanan, dan warga desa biasanya suka membuat hal seperti itu.
"Itu mah dibuat bobor kepiting sawah anjiiir!" Umpat Rania.
"Kayak gue dong, baik hati dan tidak sombong." Risda pun menepuk dadanya dua kali dengan rasa bangganya itu.
"Omong kosong lo, baik dari mana lo?" Tanya Mira.
"Dih, gue kan ngak se psikopat lo lo pada, gue ini baik. Bahkan gue penolong, buktinya ikan yang tenggelam di sungai pun gue tolong dan bawa kedaratan. Gimana? Baikkan gue?" Tanya Risda dengan bangganya.
"Pe'ak lo, yang ada ikan itu mati lah, orang emang ikan hidupnya diair malah lo bawa kedaratan."
"Daripada kalian semua, hewan yang hidup didunia nyata aja lo bawa ke akhirat gitu aja. Emang ngak ada akhlak kalian semua," Risda pun melontarkan sebuah lirikan tajam.
"Emang lo kagak? Lo ada kaca kagak sih dirumah? Nanti gue belikan deh, biar lo sadar diri nantinya. Lo jauh lebih kejam daripada kita tau,"
"Lebih kejaman kalian lah, sampai hancur lebur malahan,"
"Tapi kan hewan hewan itu langsung mati, Da. Dari pada lo nunggu ngap dulu baru mati, sakitnya makin lama daripada yang digintes,"
"Iya juga sih, halah kenapa bahas ginian sih? Mending kembali ngerjain tugas nanti dikumpulkan, daripada ngomong terus sama kalian kagak ada hasilnya."
Risda pun langsung duduk dibangkunya kembali, dirinya pun kembali mengeluarkan buku yang tadinya ia masukkan kedalam laci mejanya itu. Risda kembali berkutik dengan buku dan pulpen yang ada ditangannya itu, melihat itu langsung membuat teman temannya mendengus pelan.
"Hufftt tumben lo rajin banget, Da? Biasanya aja lo ngak pernah ngerjain tugas selama ini," Tanya Septia sambil berdiri didepan bangku Risda.
"Gue pemalas lo komenin, gue rajin lo komenin lagi. Emang mau lo gue seperti apa, Tia? Aneh lo emang,"
"Ya jangan rajin rajin amat kayak gitulah, Da. Ini kan waktunya sholat. Nanti aja dilanjutkan, yok ke masjid!" Ajak Septia yang melihat siswa kelas lain berbondong bondong untuk menuju kemasjid yang ada disekolahan itu.
"Gue halangan!" Sentak Risda.
"Perasaan halangan lo tiap hari deh, Da. Emang itu mu kagak papa apa gimana? Gue yang tiap bulan tiga hari aja rasanya kagak enak, lah dirimu malah tiap hari." Septia pun merasa keheranan dengan jawaban dari Risda.
"Emang temennya iblis dia, biasalah. Risda mah kagak halangan, dia hanya alasan," Ucap Mira.
"Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan loh, emang lo mau dapat dosa yang berlipat lipat ganda?" Tanya Risda sambil meletakkan pulpennya.
"Bohong dosanya lebih besar lo, emang lo mau masuk neraka karena bohong?"
"Urusanmu ya urusanmu, urusanku ya gue urus sendiri."
__ADS_1
"Terarah lo,"