Pelatihku

Pelatihku
Episode 156


__ADS_3

Ujian ilmu beladiri pun telah selesai dilaksanakan, mereka pun melanjutkan perjalanan menuju ke pos tiga. Dijalan, tangan Afrenzo dan Risda saling berpegangan satu sama lain, meskipun Risda berada dibelakangnya, akan tetapi Afrenzo memeganginya dengan sangat eratnya.


Afrenzo takut jika Risda tiba tiba terjatuh akibat pukulan sebelumnya yang dirinya terima, karena ini adalah kali pertama Risda merasakan hal tersebut selama dirinya berlatih beladiri. Afrenzo tidak pernah menguji hal itu langsung kepada siswanya, dirinya hanya mengajarkan pernafasan kepada siswanya.


"Renzo," Panggil Risda.


"Hem?" Tanya Afrenzo sambil berhedem dengan nada bertanya.


"Pukulan gue kagak terlalu keras tapi sakit banget bagi gue, pukulan yang lo terima bahkan jauh lebih keras, tapi kenapa hanya gue yang sakit?" Tanya Risda dengan panjang kali lebar.


"Nggak ada bedanya, Da. Gue udah terbiasa soal hal beginian sejak kecil, tapi lo baru saja nyoba. Jadi wajar saja jika lo kesakitan seperti itu," Ucap Afrenzo sambil menjelaskan.


"Tapi kan ini kagak adil banget, Renzo. Kenapa pelatih itu mukul lo dengan serius? Padahal pakaian lo..." Risda menggantungkan ucapannya mengingat perkataan Afrenzo sebelumnya bahwa dirinya sedang menyamar. "Ah tidak, maksud gue. Lo kan sama seperti kita,"


"Memang sama. Bedanya hanya gue yang belajar lebih awal daripada lo, itu doang kok. Kalau kemampuan, gue yakin lo bisa lebih dari gue,"


"Shittt... Jangan bercanda, Renzo. Mana mungkin gue bisa lebih hebat daripada lo?"


"Takdir kagak ada yang tau, Da. Dan takdir bisa berubah dengan tiba tiba sesuai alur cerita,"


"Gue nggak mau kalo semisal gue jauh lebih hebat daripada lo, nanti gue jadi ditakuti banyak cowok, terus gue bakal nikah sama siapa dong?"


Cletak...


Sebuah jitakkan pun meluncur dikening Risda, Risda pun langsung memekik kesakitan sekaligus terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Afrenzo itu. Dirinya ingin sekali mengeluh atas perbuatan Afrenzo keadanya, akan tetapi dirinya wurungkan ketika melihat Afrenzo menatapnya.


"Kita masih kecil, jangan bahas soal nikah. Itu nanti kalau kita udah bosan menyendiri dan sudah melakukan banyak hal dan memiliki banyak pengalaman, untuk saat ini fokus saja pada tujuan lo," Jelas Afrenzo panjang kali lebar.


"Tapi Kakak gue malah nikah sebelum lulus SMP kok, buktinya dirinya sudah punya anak satu." Risda masih saja membantah ucapan Afrenzo.


"Kalau nikah muda, kebanyakan orang menyesalinya, Da. Mereka belum puas menikmati dunia tapi sudah dibebankan dengan tanggung jawab yang besar, jadi kebanyakan dari mereka ingin kembali single seperti sebelumnya. Lagian lo wanita, apa salahnya jika belajar beladiri agar menjadi sangat hebat?"


"Kata Nyokap gue itu hal yang sia sia, Renzo. Biar bagaimanapun juga seorang wanita akan dilindungi oleh suaminya nanti, dan berakhir memegang kompor dan wajan untuk masak."


"Da. Nggak semua wanita diperlakukan baik oleh suaminya, dan nggak semua ratu diperlakukan baik oleh rajanya. Lo akan memahami ucapan gue suatu saat nanti, jangan pernah berharap kepada manusia, tidak akan ada yang membantu kita dengan tulus selain diri kita sendiri. Belajar menghargai diri sendiri, tanpa perlu meminta orang lain untuk dihargai,"


"Tapi berbeda dengan lo kan, Renzo. Pasti lo akan memperlakukan istri lo dengan baik kan?"


"Iya, jika hidup gue mampu sampai menikah."


"Maksud lo apa'an? Lo mau ninggalin gue?"


Afrenzo hanya tersenyum tipis kearah Risda, setelahnya dirinya pun fokus ke jalan yang tengah mereka lalui saat ini. Risda hanya berdiam diri sambil menatap punggung Afrenzo dari belakang, entah mengapa perasaannya jadi sedih ketika Afrenzo mengatakan hal tersebut.


Kematian adalah sebuah takdir yang tidak dapat diketahui oleh siapapun itu, bahkan kematian adalah sebuah misteri yang bisa datang kapan saja tanpa memberitahu kepada jiwa yang akan dijemput. Disaat nyawa terjabut dalam raga, pintu taubat telah ditutup untuk selamanya.


Kita tidak akan tau kapan mati akan datang menjemput kita, detik ini kau hidup tapi mungkin saja detik selanjutnya kau mati, hari ini kau hidup tapi mungkin hari setelahnya kau akan mati. Apakah mungkin kita sempat untuk bertaubat sebelum ajal datang? Maka pikirkan sebelum bertindak.

__ADS_1


*****


"Kami dari regu lima, siap diuji!" Afrenzo memberi laporan kepada pelatih yang akan menguji mereka.


"Selamat datang di pos 3 ini, ujian kali ini adalah ujian ketahanan tubuh," Ujar pelatih yang berjaga disana.


Mendengar itu membuat Risda langsung melotot, dirinya takut jika ujian kali ini adalah tentang fisiknya dan dirinya pun takut jika dipukul ataupun ditendang oleh pelatih itu dibagian anggota tubuhnya. Rasa sakit sebelumnya saja belum hilang, dirinya tidak akan kuat jika harus ditambah lagi nantinya.


Risda tanpa sadar langsung memegangi perutnya yang tadinya terkena sebuah pukulan, akan tetapi pandangannya masih tertuju kedepan dan menatap kearah pelatih tersebut. Risda berharap bahwa ujian kali ini tidak ada yang namanya serang menyerang, karena rasa sakitnya belum sembuh.


"Ujian kali ini, kalian harus berendam diparit parit sawah."


Risda merasa lega ketika pelatih itu menyebutkan bagaimana ujiannya nanti, itu artinya mereka hanya disuruh untuk berendam saja tanpa adanya pukulan. Lokasi mereka saat ini berada ditengah tengah persawahan, lingkungan sekitarnya terlihat sangat gelap karena tidak adanya cahaya matahari maupun bulan yang menyinari tempat tersebut.


Mereka pun diminta untuk turun ke parit parit itu, seketika rasa dingin langsung menyerang mereka ketika kulit mereka bersentuhan dengan dinginnya air dimalam hari itu. Risda dan yang lainnya langsung duduk didalam parit hingga yang terlihat hanyalah kepalanya saja.


Didalam air, Risda menggerak gerakkan tangannya serasa merasakan pergerakan air didalam, dan dirinya hanya bermain main tanpa mempedulikan apa yang diucapkan oleh pelatih yang memimpinnya itu. Lama kelamaan tubuh mereka pun nampak biasa didalam air tersebut, karena tidak ada angin yang menerpa mereka sehingga rasa dingin tidak terlalu dirasakan.


Mungkin akan terlihat aneh bilamana air tersebut terasa hangat, akan tetapi itulah kenyataannya bahwa memang benar air itu hangat dan yang membuatnya dingin adalah udara yang berhembus dimalam hari. Risda bahkan tidak merasa mengigil didalam air itu, dan bahkan rasa sakit akibat pukulan itu pun mendadak menghilang tiba tiba.


"Renzo ada yang gerak gerak," Ucap Risda lirih sambil mendekatkan diri kepada Afrenzo.


Mendengar itu langsung membuat Afrenzo menoleh kearah Risda, Risda masih saja merabah apa yang dirinya rasakan itu. Seperti sebuah benda yang lunak dan terombang ambing karena arus air yang mengalir itu.


"Apa'an?" Tanya Afrenzo.


Afrenzo pun melotot kearah Risda sambil mencipratkan air diwajah Risda, dirinya sangat terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Risda. Sebuah kantung plastik yang sudah usang pun diangkat oleh Risda, ketika Risda melihatnya, dirinya pun langsung membuang jauh jauh benda itu dengan perasaan jijik.


"Siapa yang buang pempes disini sih!" Seru Risda sambil berkali kali membasuh tangannya yang telah memegang benda itu sebelumnya.


Kebiasaan orang orang yang tinggal didekat persawahan, mereka akan membuang benda keramat tersebut disebuah parit parit untuk ditenggelamkan. Menurut mitos, jika benda seperti itu terbakar maka pemakai sebelumnya akan terkena borokan ( Suleten kalo dijawa ). Oleh karena itu, biasanya mereka akan membuangnya diair yang mengalir seperti parit, sungai, dan lain lain.


Melihat tingkah Risda membuat teman seregunya pun tertawa, mereka menertawakan apa yang terjadi kepada Risda dengan ulahnya itu. Hal itu seketika langsung membuat Risda merasa sangat malu, hingga menutupi wajahnya menggunakan kedua tangannya.


Kurang lebih 20 menit mereka berada pada posisi seperti itu, akan tetapi hal itu sama sekali tidak membuat mereka kedinginan. Ketika pelatih tersebut menyuruh mereka berdiri, seketika itu juga udara dingin mulai kembali menyerang mereka bersebelas.


Mereka pun keluar dari dalam parit setelah mendengar aba aba dari pelatih yang berjaga disana, dengan air yang menetes dari pakaian mereka, mereka pun melanjutkan perjalanan menuju ke pos selanjutnya. Risda bersedekap dada karena merasa sangat dingin, tubuhnya tidak kuat dengan udara dingin.


"Habis ini ujiannya selesai," Ucap Afrenzo melihat Risda yang kedinginan.


"Habis ini ujiannya ngapain?" Tanya Risda.


"Lo akan tau nanti."


Risda hanya mendengus dengan kesal kepada Afrenzo, dirinya mencoba untuk membiarkan udara itu masuk kedalam pori pori kulitnya seperti hal yang pernah diajarkan kepadanya pada waktu lomba teater. Kita terlalu kecil untuk melawan alam semesta yang besar, dan kita tidak akan sanggup untuk melawannya.


Hanya hal itu yang bisa dirinya lakukan saat ini, yaitu membiarkan udara dingin dimalam hari menyerangnya tanpa dirinya melawan sedikitpun. Risda sering melakukan hal itu sehingga dirinya bisa dibilang sudah terbiasa dengan udara dingin dimalam hari, akan tetapi udara dingin karena kipas angin mampu membuatnya langsung jatuh sakit.

__ADS_1


Risda tidak suka panas, akan tetapi tubuhnya tidak kuat dengan udara dingin. Bukan hanya udara dingin yang membuatnya sakit, tapi benda yang terasa dingin saja sudah mampu membuat telapak tangannya langsung bengkak. Risda tidak akan bisa tidur dimalam hari ketika kipas yang ada dikamarnya menyala, bahkan bisa jadi hal itu langsung membuatnya termuntah muntah karena masuk angin.


"Afi itu siapa, Renzo?" Tanya Risda tiba tiba karena teringat akan hal sebelumnya.


"Nanti gue kenalin," Jawab Afrenzo.


"Ha?" Risda pun terkejut mendengarnya.


Setelah berjalan cukup jauh, akhirnya mereka menghentikan langkah kakinya karena melihat dua orang pelatih yang akan menguji mereka disana. Kenapa harus dijaga dua orang? Ujian apa yang akan diujikan nantinya jika seperti ini? Dan hal itu membuat jantung Risda berdegup dengan kencang.


"Selamat datang di pos terakhir," Ucap salah satu pelatih yang ada disana.


"Kami dari regu lima, siap untuk diuji!" Seru Afrenzo sambil memberi hormat dan langsung diikuti oleh yang lainnya.


"Baiklah, ujian kali ini adalah ujian mental."


Pelatih tersebut pun menjelaskan mengenai apa saja yang harus para peserta lakukan, dan apa yang harus mereka kerjakan jangan sampai lupa. Bukan hanya itu saja, akan tetapi mereka akan diarahkan untuk melewati jalan setapak seorang diri satu persatu, tanpa ada teman yang menemani.


Diujian seperti ini biasanya banyak arwah bertentangan yang merasa penasaran, bahkan tidak jarang dari mereka yang akan bertemu dengan arwah arwah itu. Kebanyakan yang tidak kuat mental akan pingsan bahkan kesurupan.


Ujian ini bertujuan untuk melatih mental mereka dengan kondisi atau situasi yang akan mereka hadapi dimasa mendatang, tentang bagaimana cara mengendalikan emosi mereka, tentang bagaimana cara menguji keberanian mereka tanpa kenal rasa takut, tentang bagaimana cara mereka menghargai orang lain, dan lain sebagainya.


Ujian ini pasti dilakukan oleh setiap perguruan silat yang ada di Indonesia maupun luar negeri sekaligus, dan dengan berbagai macam cara yang berbeda beda dalam melakukannya. Hal itu tidak jarang mampu membuat pesilat tidak kenal rasa takut, seorang pesilat pasti pernah menghadapi ujian yang seperti ini.


Kebanyakan orang tua pasti melarang anaknya untuk ikut serta dalam latihan pencak silat, karena sebagian dari mereka berpikir tentang hal buruk jika mengikuti pelatihan itu. Terkadang mereka tidak terima jika anaknya akan dibentak bahkan dihukum dengan keras oleh pelatih pencak silat, akan tetapi disatu sisi dunia memang begitu keras.


Anak yang kebanyakan dimanja, maka anak itu akan tumbuh dengan manja tanpa mau bekerja keras, karena mereka berpikir bahwa mereka akan mendapatkan itu jika meminta kepada orang tuanya. Dunia pekerjaan jauh lebih keras daripada dunia pencak silat, mau tau kejamnya manusia? Maka kerjalah disebuah pabrik, maka kau akan tau seberapa buruk dan kejinya ucapan manusia dalam memcaci maki.


Dunia pencak silat memang jika dilihat adalah dunia yang keras, memang mereka dilatih dengan keras agar mampu menghadapi kerasnya dunia. Dan kejamnya disaat latih akan terasa ketika kita memasuki area pertandingan ( Gelanggang ).


Jika kita tidak dilatih dengan keras, maka ketika digelanggang kita hanya dijadikan mainan oleh musuh yang akan kita hadapi. Akan tetapi berbeda dengan kerasnya latihan, jika kita dilatih dengan keras saat berlatih, maka digelanggang akan terlihat biasa.


"Ada yang takut dengan kegelapan?" Tanya pelatih itu.


"Tidak Pak!" Jawab mereka serempak.


Risda sendiri pun tidak takut dengan kegelapan, hidupnya yang penuh dengan kegelapan hal itu membuatnya kehilangan rasa takut terhadap gelapnya malam. Apalagi dirinya yang terbiasa keluar malam melewati cendela kamarnya itu, hanya untuk pergi bersenang senang dengan teman temannya.


"Baiklah kalian boleh duduk, dan kalian akan diuji satu persatu nantinya," Ucap pelatih itu.


"Pak, apakah ujiannya nanti urut barisnya? Atau diacak terlebih dulu?" Tanya Risda sambil mengangkat tangannya.


"Tentu urut barisannya. Ujiannya akan diawali oleh pemimpin regu dan lanjut belakangnya sampai selesai,"


Itu artinya dirinya harus menunggu sampai Afrenzo selesai melakukan ujian tersebut, karena dirinya berada dibelakang Afrenzo sehingga setelah Afrenzo diuji maka dirinyalah yang akan diuji. Risda langsung duduk ditempat itu, sementara Afrenzo langsung berjalan kearah yang telah ditunjukkan oleh pelatih yang ada disana.


Risda memandang ke arah dimana Afrenzo pergi, hingga bayangan Afrenzo tenggelam diantara kegelapan malam yang seakan akan tak berujung itu. Risda hanya menghela nafas disaat dirinya disuruh untuk menunggu, apalagi pakaiannya yang basah itu membuatnya mendadak kembali merasa dingin sekaligus risih dengan pasir yang menempel ditubuhnya saat ini.

__ADS_1


Entah bertapa kotornya dirinya saat ini, bahkan air dari parit tersebut memiliki ciri bau yang berbeda dari yang lainnya, sehingga tubuhnya terasa tercium aroma tanah yang terendam air terus menerus. Risda ingin buru buru menyelesaikan ujian kali ini, karena dirinya ingin sekali berganti pakaian dan istirahat karena sangking lelahnya dirinya.


__ADS_2