
Risda pun larut kedalam mimpinya yang indah, didalam mimpi itu Risda dapat merasakan kasih sayang keluarganya yang selama ini dirinya harapkan. Risda bergelayut kedalam mimpi yang teramat indah setelah menangis sesenggukan, hanya Allah yang tau bagaimana perasaannya saat ini.
Didunia nyata, kasih sayang itu tidak didapatkan oleh Risda, akan tetapi dialam mimpi dia memiliki segalanya. Didunia nyata dirinya tidak akan bisa meraih kasih sayang tersebut, akan tetapi didunia mimpi Allah mengabulkan segala keinginannya.
Seorang anak broken home, mereka memang tidak beruntung memiliki keluarga yang utuh, akan tetapi mereka beruntung karena memiliki hati yang kuat. Meskipun akan dijatuhkan bagaimana pun caranya, mereka masih mampu untuk bangkit.
Karena terlalu larut dalam mimpinya, Risda pun tidak menyadari bahwa waktu sudah menunjukkan pukul 5 pagi dan saatnya untuk bersekolah. Risda langsung bangun dari tidurnya ketika alaram diponselnya berdering, bukan hanya sekali akan tetapi berkali kali.
"Hoaaammmmm... Kenapa pagi begitu cepat sih, padahal gue masih ingin bahagia sama keluarga gue," Ucap Risda sambil menguap panjang.
Risda langsung bergegas menuju kekamar mandi, dirinya pun langsung membersihkan tubuhnya dan berganti pakaian menjadi pakaian sekolah. Tanpa sarapan pagi, dirinya pun langsung bergegas untuk menuju kesekolahan, karena moodnya yang berantakan sehingga dirinya tidak sarapan pagi.
Pagi ini seperti biasa, tidak ada makanan dirumah, bahkan Tantenya tidak masak apapun, dan nasi pun masih menjadi beras. Hal itu langsung membuat Risda berangkat kesekolah tanpa sarapan pagi, dirinya benar benar badmood saat ini.
Ya beginilah nasib seorang anak broken home, mereka sama sekali tidak dipedulikan oleh orang tuanya, bukannya tidak dipedulikan akan tetapi tidak begitu diperhatikan. Untuk makan saja, jangan salahkan Risda yang memang makannya saja tidak teratur, sehingga dirinya memiliki penyakit asam lambung.
Biasanya Risda hanya akan makan dipagi hari saja, sementara sore hari dirinya biasanya menghilangkan rasa laparnya dengan tidur. Begitulah Risda, meskipun dirinya tidak baik baik saja, akan tetapi dirinya tidak pernah cerita kepada siapapun dan terus memasang wajah tersebut meskipun hatinya menangis.
Risda kini telah memasuki area sekolahnya, seperti biasa Afrenzo dan anggota OSIS lainnya pun berjaga didepan gerbang demi memeriksa kelengkapan para siswa. Risda memang bandel, bahkan dirinya sering lupa akan hal itu, dan berakhir dirinya mendapat hukuman dari Afrenzo.
Siapapun yang lupa untuk membawa perlengkapan sekolah, mereka akan disuruh berdiri didepan sekolahan sambil mengangkat satu kakinya. Risda selalu lupa untuk memakai sabuk dan dasi, hal itu selalu membuatnya dihukum berdiri didepan sekolahan.
"Lain kali jangan lupa bawa," Ucap Afrenzo sambil menjitak kepala Risda.
Risda ingin mengeluh karena dijitak begitu saja oleh Afrenzo, akan tetapi ditahannya karena dirinya juga salah. Risda pun mengusap kepalanya yang telah dijitak tersebut untuk meredakan rasa sakitnya, meskipun hal itu tidak langsung hilang begitu saja.
"Iya Renzo," Ucap Risda kesal karena sejak pagi dirinya sudah badmood.
Hanya Risda seorang yang mendapatkan jitakan dari Afrenzo, sementara lainnya mendapatkan sentakkan dari lelaki sedingin es tersebut. Wajah Risda yang sedang tidak bersahabat itu pun terlihat ditekuk, bahkan banyak yang mengira bahwa itu karena Afrenzo yang telah menjitaknya begitu saja.
Sekolah tersebut masuk tepat pukul 7 pagi, ketika menunjukkan pukul 8 pagi, mereka baru diizinkan untuk masuk kedalam kelasnya masing masing. Risda berjalan menuju kelasnya dengan menunduk lesu, dirinya pun menendang nendang keramik yang dirinya injaki tersebut.
"Lo kenapa, Da?" Tanya Rania ketika melihat Risda masuk kedalam kelasnya.
"Pengen makan orang!" Jawab Risda dengan nada yang tidak mengenakkan bagi yang mendengarnya.
"Kanibal lo?" Tanya Mira.
"Bacooottt!" Sentak Risda dan langsung duduk dibangkunya tanpa mempedulikan mereka semua, dirinya pun membenamkan wajahnya dibangku tersebut.
Mood Risda kali ini benar benar tidak mengenakkan, sehingga hal itu membuat teman temannya tidak lagi menanyainya karena bisa jadi moodnya bakalan semakin parah nantinya. Tak beberapa lama kemudian, beberapa anggota OSIS beserta Afrenzo pun mssuk kedalam kelasnya.
"Amal jariyah," Ucap salah satu anggota OSIS sambil membawa sebuah kota amal.
Setiap minggu sekali mereka akan ditarik amal jariyah untuk membantu masyarakat yang kesusahan, bahkan hal itu sering dilakukan oleh anggota sekolahan tersebut. Mendengar itu langsung membuat Risda mendongakkan kepalanya, dirinya pun menoleh kearah Afrenzo yang berdiri didepan.
Risda lalu memasukkan tangannya kedalam saku bajunya, akan tetapi dirinya begitu terkejut ketika uang sakunya pun ketinggalan, benar benar hari yang tidak bersahabat dengannya saat ini. Dirinya pun mendengus dengan kesalnya, bahkan dia tidak sarapan pagi sebelumnya.
"Ra, gue pinjam duit lo ya buat amal jariyah, besok gue ganti," Ucap Risda.
"Ha?" Tanya Mira yang tidak paham dengan maksud dari Risda.
"Uang saku gue ketinggalan dirumah," Jawab Risda dengan kesalnya.
"Iya deh iya, gue pinjemin tapi untuk amal jariyah doang ya. Soalnya gue juga diberi uang saku cuma dikit,"
"Iya,"
Setiap minggunya, Risda hanya diberi jatah 50 ribu, sehingga dirinya harus bisa mengatur uangnya dengan baik. Kalaupun dirinya tidak bisa mengaturnya, mungkin setiap jum'at dan sabtu uang saku sekolahnya sudah tidak ada dan habis.
Bagaimana pun caranya, dirinya harus bisa menjadikan uang segitu cukup untuk seminggu bahkan uang itu juga digunakan untuk membeli bengsin. Hal itulah yang membuat Risda tidak pernah ikut teman teman sekelasnya makan diwarung karena uangnya tidak cukup.
"Mas, berdua sama Risda ya," Ucap Mira kepada salah satu anggota OSIS yang membawa kotak amal itu.
"Iya," Jawabnya.
Mira pun memasukkan uang tersebut kedalam kotak amal yang saat ini dibawa oleh seorang lelaki, dan pandangan Afrenzo pun tertuju kepada Risda yamg saat ini Risda juga telah menatap kearahnya.
Karena bangku Risda yang berada didepan sendiri, membuat Afrenzo mampu untuk mendengar percakapan antara Risda dan Mira mengenai amal jariyah tersebut. Dirinya pun menatap tajam kearah Risda hingga membuat Risda menundukkan kepalanya dalam karena ditatap seperti itu oleh Afrenzo.
__ADS_1
Memang bukan suaranya yang bisa membuat Risda takut, akan tetapi karena diamnya hingga membuat Risda merasa merinding dengan sosok lelaki seperti Afrenzo. Meskipun tanpa perkataan, akan tetapi melalui tatapannya saja sudah memberitahukan kepada Risda bahwa Afrenzo sedang tidak bersahabat dengannnya.
Risda hanya bisa mengigit bibirnya untuk mengurangi rasa canggungnya saat ini, dirinya pun menoleh kearah lain agar tidak memandangi kearah Afrenzo. Disekolahan itu hanya Afrenzo yang dirinya takuti, sementara Bapak ataupun Ibu guru yang ada disana sama sekali tidak ditakuti olehnya.
"Baiklah terima kasih atas waktunya, semoga amal jariyah ini bermanfaat bagi yang membutuhkan," Ucap salah satu anggota OSIS.
"Aamiin," Jawab mereka serempak.
Afrenzo dan lainnya langsung bergegas untuk pergi dari kelas Risda, dan hal itu langsung membuat Risda merasa lega ketika mengetahui bahwa Afrenzo telah pergi. Mendengar Risda menghembuskan nafas kasar, membuat Mira langsung menoleh kearahnya.
"Lo kenapa sih, Da? Kek dari tadi kayak badmood banget lo," Tanya Mira.
"Gue kan udah bilang, gue pengen makan orang," Jawab Risda yang masih dengan nada kesalnya.
"Kenapa ngak Renzo saja yang lo makan, Da?" Pertanyaan itu keluar dari mulut Septia.
"Ngak enak, dia ngak bisa diajak bercanda," Ucap Risda ketus.
Risda pun kembali membenamkan wajahnya diantara kedua tangannya yang dirinya letakkan diatas mejanya itu. Dirinya ingin sekali mengeluh saat ini, akan tetapi hal itu tidak akan meringankan beban pikirannya sejak tadi.
Dirinya merasa lapar saat ini, bahkan dia tidak fokus dalam pelajaran kali ini. Tak terasa waktu pun menunjukkan saatnya istirahat disekolah itu, Risda memilih untuk stay dikelasnya sementara teman temannya menuju kekantin sekolah biasanya, bahkan ada yang kekoprasi sekolah untuk membeli minuman dan makanan ringan.
"Da," Panggil seseorang dan langsung membuat Risda mendongakkan kepalanya.
"Ngapain lo disini?" Tanya seseorang yang berada tidak jauh dari Risda ketika melihat orang yang telah memanggil Risda.
Risda pun langsung bangkit dari duduknya ketika melihat sosok Afrenzo berdiri dihadapannya, sementara beberapa langkah dari Risda terlihat sosok Satria yang memandang tidak bersahabat dengan Afrenzo.
"Bukan urusan lo," Ucap Afrenzo dengan nada dinginnya.
Sejak tadi, Risda ingin sekali emosi dan meluapkan emosinya tersebut. Melihat kedua orang itu membuat kepalanya langsung terasa pusing, apalagi keduanya sama sama ahli beladiri, jika bertarung pun dirinya tidak akan mampu untuk memisahkan keduanya.
"Risda temen sekelas gue, jadi wajar gue tanya," Satria pun langsung bergegas untuk menghampiri Risda.
"Risda murid gue, gue berhak menemuinya," Jawab Afrenzo.
"Dia ngak butuh lo disini, mending lo keluar dari sini," Usir Satria kepada Afrenzo.
Perdebatan itu membuat Risda semakin pusing, kedua lelaki itu jika bertemu, keduanya saling beradu tanpa ada akurnya sedikitpun itu. Risda pun langsung menengahi keduanya, dan berdiri diantara keduanya.
"Kenapa kalian terus berantem sih? Ngak ada bosannya atau gimana? Bikin muak aja," Ucap Risda dengan kesalnya kepada keduanya, dirinya pun langsung berjalan keluar dari kelasnya itu.
"Da!" Panggil Afrenzo dan Satria bersamaan.
"Ngak usah ganggu gue, kalian berdua!" Sentak Risda.
Risda terlalu jenuh ketika melihat kedua orang tersebut bertengkar, dirinya ingin mencari ketenangan dengan cara keluar dari kelas tersebut. Melihat itu membuat Afrenzo segera mengejarnya begitupun dengan Satria yang tidak mau kalah.
"Da!" Panggil keduanya sambil bergegas untuk menyusul Risda.
"Apalagi sih!" Risda benar benar merasa kesal saat ini.
Perutnya yang terasa lapar itu pun membuatnya semakin merasa kesal saat ini, tanpa aba aba Afrenzo langsung menarik tangan kanannya. Tidak mau kalah begitu saja, Satria pun menarik tangan kiri Risda, merasakan itu langsung membuat Risda menghempaskan kedua tangannya untuk melepaskan pegangan tangan keduanya.
"Bisa ngak sih beri gue waktu sehari untuk tenang? Gue capek lihat kalian terus berantem seperti ini," Keluh Risda.
"Sorry, Da. Salah Renzo, dia duluan yang bikin gara gara," Ucap Satria.
"Lo," Ucap Afrenzo dengan dinginnya.
"DIAM!" Bentak Risda kepada keduanya hingga keduanya berhenti untuk berdebat.
Risda pun memandangi satu persatu diantara keduanya, Satria nampak begitu risih ketika adanya Afrenzo diantara keduanya itu. Sementara Afrenzo hanya membuang muka dari hadapan Satria, dan tidak memedulikan lelaki tersebut.
"Lo mau apa nemuin gue?" Tanya Risda kepada Afrenzo.
"Ikut gue bentar," Ucap Afrenzo langsung kembali menggandeng tangan Risda.
"Ngak usah pegang pegang!" Sentak Satria sambil melepaskan pegangan Afrenzo kepada tangan Risda.
__ADS_1
"Bodoamat!" Sentak Afrenzo.
"Lo!"
"Ayo ikut gue," Afrenzo pun kembali menggandeng tangan Risda dan langsung membawa gadis itu untuk pergi bersamanya.
Satria hendak menghentikan keduanya, akan tetapi niatnya itu diurungkan ketika mendengar suara Risda, "Jangan ikut campur urusan gue! Lo ngak berhak ngelarang gue sama siapapun itu,"
Ucapan tersebut langsung membuat Satria berdiam diri ditempatnya dengan wajah kesalnya, ketika melihat kepergian keduanya dari tempat itu. Risda hanya menurut ketika Afrenzo membawanya pergi dari tempat tersebut, keduanya pun menuju kearah kantin sekolah.
"Renzo, gue ngak bawa uang," Ucap Risda sambil menghentikan langkah kakinya.
"Jangan bantah gue!"
Afrenzo pun langsung menarik tangan milik Risda untuk masuk kedalam kantin sekolah itu, Afrenzo pun menyuruh Risda untuk duduk ditempat biasanya keduanya duduk itu. Meskipun ramai, akan tetapi tempat duduk tersebut selalu kosong dan selalu dipakai oleh keduanya itu.
Sebenarnya tidak ada yang melarang orang lain untuk duduk ditempat itu, akan tetapi karena Afrenzo adalah pelatih disekolah itu sehingga tidak ada yang berani menempati tempat tersebut.
"Diem disini, jangan kemana mana," Ucap Afrenzo.
"Baik Bos!" Seru Risda sambil mengangkat tangannya hormat kepada Afrenzo.
Afrenzo pun pergi untuk memesan makanan, sementara Risda duduk ditempat itu sambil melihat siswa siswi yang berlalu lalang didepannya itu. Dirinya merasa bosan jika hanya berdiam diri tanpa berbuat apa apa, tak sengaja Rania menghampiri dirinya itu.
"Lo bilang uang saku lo ketinggalan, Da. Lo kesini ngapain?" Tanya Rania.
"Gue lagi cuci baju," Jawab Risda dengan ketus.
"Tapi lo kan ngak bawa baju kotor sekarang. Ini itu kantin sekolah, Da. Tempat untuk membeli makanan, bukan cuci baju,"
"Sudah tau pake nanya lagi,"
"Lo lagi pms, Da? Dari tadi marah mulu,"
"Gue lapar pengen makan orang!"
Tak beberapa lama kemudian, Afrenzo datang sambil membawa semangkuk soto ayam dan dua minuman. Afrenzo lalu memberikannya kepada Risda, dan diletakkan dihadapan Risda. Melihat adanya Afrenzo pun membuat Rania menganggukkan kepalanya paham, dan tersenyum kearah Risda.
"Oh ternyata ada pawangnya, pantesan nurut mulu nih bocah," Sindir Rania kepada Risda.
"Pergi lo dari sini, ganggu aja," Usir Risda kepada Rania sambil mendorong Rania untuk pergi dari tempat itu.
"Selamat kencan berdua, gue ngak mau jadi obat nyamuk, maka dari itu gue akan pergi dari sini. Jangan lupa traktirannya kalo sudah jadian,"
Bhukkk...
Sebuah pukulan dari Risda pun melayang mengenai pundak Rania, pukulan itu tidak terlalu sakit sehingga membuat Rania terkekeh pelan dan langsung bergegas untuk pergi dari tempat itu sekarang juga.
"Makan!" Perintah Afrenzo kepada Risda.
"Lo ngak ikut makan, Renzo? Kenapa hanya beli satu mangkuk?" Tanya Risda.
"Gue ngak lapar, lo yang belum sarapan pagi. Jadi makanlah,"
"Kok lo bisa tau sih? Jangan jangan lo itu dukun ya?"
"Perut lo bunyi beberapa kali saat dilapangan,"
"Astaga, lo memperhatikan itu dengan detail? Keknya gue ngak akan bisa bohong depan lo deh, Renzo. Lo bener bener aneh,"
"Kenapa ngak sarapan?"
"Biasalah, ngak ada nasi dirumah. Jadi gue langsung berangkat sekolah saja,"
"Hem.." Jawab Afrenzo hanya berdehem.
"Tante gue belom masak, jadi gue ngak bisa makan. Masak gue harus makan beras mentah sih?"
"Cepat makan, sebelum dingin." Afrenzo seakan akan mengalihkan pembicaraan itu, dan menyuruh Risda untuk memakan soto tersebut.
__ADS_1
Risda tidak bisa membantah lagi, biar bagaimanapun juga dirinya tengah kelaparan saat ini. Istirahat sekolah pun tepat dipukul 10 pagi sehingga sejak saja dirinya sudah lapar apalagi disiang hari itu.
Risda pun menikmati soto tersebut, rasanya hangat hingga membuat perutnya terasa nyaman. Dengan semangatnya, Risda pun memakan soto yang telah dibeli oleh Afrenzo itu.