Pelatihku

Pelatihku
Episode 108


__ADS_3

Risda memperhatikan area sekitar gerbang yang terdapat teman temannya yang sedang berlari ke arah gerbang. Risda dengan antusiasnya langsung melambaikan tangannya dengan semangat ke arah teman temannya itu, teman temannya yang melihat Risda itu pun juga ikut melambaikan tangannya ke arah Risda.


Risda segera berdiri dari duduknya ketika melihat teman temannya yang sudah berjalan mendekat ke arah guru olahraga dan memberi laporan, dirinya pun langsung bergabung dengan teman temannya itu.


"Lo kok udah sampai aja sih, Da?" Tanya Mira dengan nafas yang masih memburu.


"Iya nih, padahal tadi kita sudah lari sangat cepat ya, Ra. tapi kenapa sama sekali nggak bisa ngajar Risda," Sahut Septia.


"Lo pakai jurus apaan, Da? Kok bisa cepat sampai," Tanya Rania.


"Pake jurus naga angin kali, Ran. Secara kan Risda emang badannya kerempeng," Jawab Septia sambil cekikikan.


"Iya mungkin, jangan jangan dia siluman lagi. Mangkanya bisa menghilang gitu aja," Mira pun tertawa setelah mengatakan itu.


"Siluman palalo peang? Kalian aja yang lemot larinya, masak gitu aja lama," Umpat Risda kepada ketiga temannya itu.


"Iya nih kalian apa apa'an sih, orang dia bukan siluman kok malah dibilang siluman, dia itu demit tau," Sela Septia.


Teman temannya itu langsung menertawai Risda karena jawaban dari Septia, Risda pun lalu menghafalkan tangannya dengan kuat karena saking kesalnya mendengar bahwa mereka. Tanpa sengaja pandang hari sudah pun langsung berharap kepada Afrenzo yang berada tidak jauh darinya, afrinsum menatap tajam ke arahnya hingga membuat gadis itu langsung terdiam.


Teman temannya yang tiba tiba melihat gadis itu terdiam pun, langsung menoleh ke arah di mana gadis itu menatap. Terlihat sosok Afrenzo yang berada tidak jauh dari mereka, dan sedang menatap tajam kearah Risda.


"Ternyata pawangnya galak," Ucap Rania sambil terkekeh pelan.


"Tatapanmu bagaikan pisau di hatiku, yang terlihat sangat menyayat hati, bhuahahaha..." Goda Septia kepada Risda.


Mendengar itu langsung membuat Risda seperti gelagapan, dia pun tiba tiba menggerakkan tangannya untuk memukul ke arah Septia. Karena tangan Risda terlihat begitu berat hingga pukulan sedikitpun sudah membuat Septia menyengir kesakitan, dan dirinya pun hanya memekik lirih akibat pukulan dari Risda.


"Sakit tau, Da! Emang gue samsak apa?" Keluh Septia sambil mengusap usap lengannya yang sakit akibat pukulan dari Risda.


"Maaf kata Renzo itu hanya reflek," Jawab Risda tanpa rasa bersalah.


Setelah mengatakan itu Risda pun langsung bangkit dan segera berlari dari tempat itu, menuju ke tempat di mana Afrenzo saya berada. Septia pun langsung bergegas untuk mengejar Risda, gadis tersebut langsung bersembunyi dibalik punggung Afrenzo.


"Renzo! Tolongin gue!" Teriak Risda sambil bersembunyi dibalik punggung lelaki itu.


"Nggak asik lo, Da. Beraninya cuma bersembunyi di balik punggung orang," Keluh Septia ketika melihat Risda yang bersembunyi di balik punggung lelaki itu.


"Biarin wek..." Risda pun menjulurkan lidahnya untuk mengece Septia.


"Awas lo ya nanti, bakalan gue balas," Ucap Septia sambil mengepalkan tangannya dengan erat.


Tiba tiba, Afrenzo pun menggerakkan tangannya dan memegangi telinga Risda dengan keras. Afrenzo pun menariknya agar gadis itu berjalan kedepannya saat ini.


"Udah mulai bandel ya?" Tanya Afrenzo kepada Risda.


"Ampun pelatih! Gue janji ngak bakal mengulanginya lagi," Teriak Risda sambil berusaha melepaskan pegangan tangan Afrenzo itu.


"Hukum aja tuh orang, bikin keributan mulu deh," Mulut kompor milik Mira yang tiba tiba ikut menyahutinya.


"Bener tuh, hukum yang berat biar dia tau rasa," Ucap Septia yang membenarkan perkataan Mira.


"Renzo, sakit tau telinga gue. Jangan dengarkan mereka, mereka dulu yang memulai tadi, masak gue dikatain siluman sih. Jelas jelas gue kan manusia," Ucap Risda sambil membela dirinya.


"Lo duluan kali, Da. Masak ngatain kita kita lemot sih, mentang mentang tiba disekolahan lebih awal," Bela Mira.


"Da..." Ucap Afrenzo sambil menatap tajam kearah Risda.


"Ngak sengaja, Renzo. Beneran, gue ngak bohong," Risda pun mengangkat dua jarinya, jari telunjuk dan tengahnya sebagai tanda cis.


"Ngak sengaja tapi nyeseknya didalam dada tau,"


"Iya deh iya, Maaf."


Mendengar itu langsung membuat Mira dan Septia tertawa karena merasakan kemenangan. Kedua gadis itu langsung melakukan tos ria ketika melihat Risda sengsara dibuat oleh Afrenzo, tawa itu langsung membuat Risda cemberut.


"Yang sudah tiba dihalaman sekolah, bisa meninggalkan halaman ini untuk istirahat," Ucap Guru tersebut dan langsung membuat seluruh siswa berteriak kegirangan.


Seluruh teman temannya pun bergegas untuk meninggalkan halaman sekolah itu, mereka pun langsung bergegas menuju kearah kantin yang ada didalam sekolahan itu.


"Eh eh... kalian mau kemana?" Tanya Risda ketika melihat teman temannya pergi akan tetapi Afrenzo masih memegangi telinganya itu.


"Ke kantin lah, Da. Ngapain juga kita kita ada disini, yang ada malah kek obat nyamuk," Jawab Mira.


"Mending kita makan, kan? Daripada disini yang bakalan kagak dianggap," Ucap Rania yang baru bergegas untuk mendatangi Mira dan Septia.


"Selamat bersenang senang dengan sang pawang, Risda. Kita pergi dulu ya, bay bay...." Ucap Septia dan langsung menggandeng tangan Mira dan Rania untuk pergi dari tempat itu.


"Kita tunggu dikelas, kalo lo bisa kembali!" Seru Mira dengan semangatnya.

__ADS_1


"Disitu saja lo, Da. Lebih baik gitu daripada keluyuran kagak jelas,"


Teman temannya itu langsung melangkah pergi dari tempat tersebut, ketiganya pun langsung pergi sambil bergandengan tangan satu sama lain. Melihat itu langsung membuat Risda nampak sangat kesal, dia semakin kesal karena Afrenzo yang tidak melepaskan pegangan tangannya itu.


"Bangsaattt!" Umpat Risda dengan kesalnya.


"He,em..." Dehem Afrenzo ketika mendengar umpatan dari Risda.


Risda bahkan sampai lupa dengan cowok itu, sehingga dirinya mengumpat langsung didepan cowok tersebut. Mendengar deheman itu langsung membuat Risda menutup mulutnya rapat rapat dengan kedua tangannya, Afrenzo nampak begitu menyeramkan saat ini.


"Udah berapa kali gue bilang? Jangan pernah mengumpat," Ucap Afrenzo dengan nada dinginnya kepada Risda.


"Gue nggak sengaja, Renzo. Gue kelepasan tadi," Cicit Risda pelan.


"Lo harus gue hukum."


Afrenzo pun langsung melepaskan pegangan tangannya dari telinga Risda, dirinya pun langsung memegangi tangan gadis itu, dan langsung membawanya pergi dari tempat itu.


Risda sama sekali tidak bisa melawan lelaki itu, dirinya pun hanya pasrah ketika lelaki itu menarik tangannya untuk pergi dari tempat itu. Afrenzo pun membawanya menuju kearah perpustakaan, dirinya pun mengambil sebuah buku tentang hadist hadist dan memberikannya kepada Risda.


"Baca dan hafalkan," Ucap Afrenzo.


"Gue ngak suka menghafalkan, Renzo. Bagaimana gue bisa hafal tentang ini semua? Apalagi dengan otak gue yang kemampuannya hanya 2GB ini. Ya setidaknya lo jelasin ke gue, kalo cuma baca gue kagak bakalan nyambung,"


"Pelajari,"


"Renzo!"


"Jangan membantah,"


Risda dengan sebalnya itu langsung duduk disebuah bangku yang ada didalam perpustakaan itu, dirinya pun sangat malas jika disuruh untuk membaca dan mempelajari tulisan yang ada dibuku itu. Sementara Afrenzo, dirinya pun langsung mengambil sebuah buku dan membacanya disebelah Risda.


"Renzo, bisa ngak hukuman gue diberi keringanan?" Tanya Risda dengan pelan sambil membujuk lelaki itu.


"Ngak," Jawab Afrenzo singkat dan masih tetap fokus pada bukunya.


"Gue dongeng in deh nanti,"


"Dongeng apa'an?"


"Tentang seorang malaikat kecil, yang dipatahkan sayapnya begitu saja,"


"Lo mau kan dengerin gue cerita? Tapi lo harus hilangin hukuman gue ini, kalo soal baca baca hadist gue ngak bakalan paham, Renzo. Dan itu sama saja hal yang sia sia,"


"Hem..." Dehem Afrenzo yang masih memikirkan soal permintaan Risda itu.


"Ayolah, Renzo. Kalo soal itu lo jelasin pelan pelan aja biar gue mudah mengingat, kalo langsung begini, gue kagak bakalan paham,"


"Baiklah."


"Waktu dulu...."


*Flash back on*


Seorang gadis kecil yang berusia masih 8 tahun itu, kini tengah menangis didalam kamarnya seorang diri, keadaan rumah itu benar benar hancur berantakan. Pecahan kaca seakan akan memenuhi seluruh rumahnya, barang barang pun berceceran dimana mana, seakan akan rumah tersebut terkena sebuah badai yang dahsyat.


Gadis itu kini tengah duduk dipojokan kamarnya dengan memeluk dengan erat kaki yang ditekuknya itu, dirinya benar benar merasa ketakutan saat ini. Apalagi dengan kondisi kamar yang gelap meskipun disiang hari, meskipun gelap akan tetapi dirinya masih mampu melihat dengan jelas sekitarnya.


Ibumu sudah aku kirim pergi ke kota yang jauh dari sini, kamu tidak akan bisa bertemu lagi dengan Ibumu. Ayah dan Ibumu sudah pisah, mereka tidak bisa bersatu lagi!


Teriakan itu terus menggema ditelinga gadis kecil itu. Dirinya terus terbayang bayangkan dengan teriakan itu, ia berusaha untuk mengusir suara itu akan tetapi suara tersebut terus menggema ditelinganya hingga membuatnya sangat ketakutan dan tubuhnya gemetaran.


"Ngak! Itu ngak mungkin terjadi," Teriaknya ketakutan.


Ia tidak tau maksud dari kata pisah disana, keadaan gadis kecil itu benar benar kacau bagaikan terombang ambing dilautan lepas. Dirinya pun menutupi kedua telinganya dengan kedua tangannya seakan akan tidak mau mendengarkan perkataan itu lagi.


Dirinya pun terlihat sedang mengacak acak rambutnya sekaligus menariknya dengan keras, dirinya berharap bahwa suara itu tidak lagi terdengar dikepalanya, akan tetapi teriakan itu terus menghantuinya.


Kedua mata yang membengkak, rambut panjang yang terlihat acak acakan, dan bahkan seakan akan penuh dengan ketakutan itu pun membuat gadis kecil tersebut terlihat sangat memperihatinkan.


Gadis kecil itu sendiri tidak lain adalah Risda kecil, dimana kebahagiaannya telah direnggut darinya sejak dirinya masih kecil. Bahkan dirinya sudah mengalami tekanan batin sejak kecil, hingga membuatnya hampir depresi karena penuh dengan ketakutan.


"DIMANA IBUMU!!" Bentak seseorang kepada Risda kecil itu.


Bentakkan tersebut langsung membuat Risda begitu sangat ketakutan, bahkan dirinya bagaikan seorang gadis yang terkena trauma yang sangat mendalam. Pikirannya benar benar kacau, bahkan dirinya terlihat gemetaran karena sangking takutnya dirinya saat ini.


"Aku ngak tau, Yah!" Teriaknya dengan tubuh yang gemetaran sekaligus berteriak dingin.


Brakkkk....

__ADS_1


Sebuah almari yang tidak jauh darinya itu pun dipukul dengan sangat kerasnya oleh Sandi. Hingga hal itu langsung membuat Risda memejamkan matanya rapat karena sangking takutnya dirinya saat ini.


Jika kau sampai memberitahukan dimana keberadaan dari Ibumu, aku pastikan kau tidak akan bisa bertemu dengannya lagi diseumur hidupmu. Aku ngak peduli jika harus memisahkan hubungan antara anak dan Ibunya, ingat ucapanku ini, sekali kau buka suara aku pastikan ucapanku akan terjadi saat itu juga.


Suara yang sama itu pun langsung menggema kembali ditelinganya, hingga membuat gadis kecil tersebut memegangi kepalanya. Jika dibiarkan seperti itu maka mentalnyalah yang akan rusak nantinya, dirinya tidak bisa hidup dengan normal seperti anak anak pada umumnya.


Bukannya Risda tidak tau dimana keberadaan dari Ibunya itu, Risda sangat tau tempatnya karena sebelumnya dirinya pernah mendatanginya dengan pamannya. Dan dirinya menghafalkan jalan menuju kesana sebelumnya, sehingga dirinya bisa mengetahuinya meskipun sedikit lupa.


"Ngak.. Ngak boleh! Ini ngak boleh terjadi... Arrgghhhhh..." Teriak Risda karena sangking fustasinya sekarang.


"Apanya yang ngak boleh terjadi? Cepat katakan!"


"Ngak... Ngak akan.."


Risda kecil pun langsung bangkit dari duduknya, dirinya pun berdiri dengan tegaknya dihadapan Ayahnya. Risda mencoba untuk melawan rasa takutnya sendiri, dirinya pun langsung bergegas untuk menuju kearah dapur yang memang kamarnya dan dapur itu bersebalahan.


Risda pun mengambil sebuah pisau yang ada sangat tajam, dirinya pun mengarahkan pisau itu kearah Ayahnya sendiri. Ayahnya begitu sangat terkejut, ketika melihat anak gadisnya menodongkan sebuah pisau kearahnya.


"Taruh pisaunya Risda!" Sentak Sandi kepada Risda.


"NGAKKKKK!" Bentak Risda kepada Ayahnya.


"RISDA!" Bentak Sandi sambil berjalan mendekat kearah Risda tanpa mempedulikan pisau yang dibawa oleh anak gadisnya itu.


"Jangan mendekat! Ayah atau aku yang akan mati!" Teriak Risda yang masih tetap mengangkat pisau tersebut kearah Sandi.


"Jika kamu tidak mau memberitahukan dimana Ibumu beranda, lebih baik kau pergi dari sini!" Usir Sandi.


"Ayah mengusirku?" Tanya Risda tidak percaya dengan apa yang dirinya dengar saat ini.


Risda lalu menghapus air matanya dengan kasarnya, dirinya masih tetap menyodorkan pisau tersebut kearah Sandi. Risda lalu bergegas untuk kekamarnya kembali dan mengambil tas ransel miliknya, karena dirinya yang masih kecil itu langsung memasukkan mainan kesukaannya didalam tasnya dan sedikit baju.


Sandi pun mencoba untuk mencegah kepergian dari Risda, akan tetapi Risda tidak bisa dicegah karena dirinya yang masih membawa pisau ditangannya.


"Kamu mau kemana?" Tanya Sandi.


"Mau ikut Ibu saja!" Teriak Risda.


"Biar Ayah antar ke Ibumu,"


Sandi masih mencoba untuk membujuk Risda agar gadis itu mau memberitahukan dimana keberadaan dari Dewi saat ini. Kedua orang tua Risda belum benar benar cerai saat ini, sehingga Sandi masih mencari istrinya itu.


"Ngak usah! Risda ngak butuh Ayah sepertimu!" Teriak Risda.


"Jangan pergi sendirian, diluar bahaya."


"Risda ngak peduli! Ayah mau Risda mati sekarang?"


Risda pun mengarahkan pisau itu kearah pergelangan tangannya sendiri, dirinya sendiri bahkan tidak menyadari apa yang ia lakukan saat ini. Dirinya yang pernah menonton film yang ada diacara televisi itu pun, seakan akan tengah mengikuti sebuah adegan didalamnya.


"Risda!" Sentak Sandi.


Seorang anak adalah sebuah malaikat kecil bagi orang tuanya, kedua orang tuanya begitu sangat kejamnya sehingga kedua sayap yang dimiliki oleh malaikat itu pun dipotong begitu saja, sehingga tidak membiarkan malaikat itu bisa terbang tinggi.


Risda tidak mau lagi mendengarkan ucapan dari Sandi, dirinya pun langsung bergegas untuk pergi dari tempat itu. Sandi pun mengejarnya, tiba tiba Risda melemparkan pisau tersebut kepada Sandi, beruntungnya Sandi karena tidak terkena lemparan dari anaknya.


Kau tidak akan bisa lagi bertemu dengan Ibumu, kalian tidak akan bisa bersama lagi...


Suara itu terus menggema didalam ingatan Risda kecil, dirinya langsung menutupi telinganya dengan kedua tangannya karena dia tidak mau mendengarkan suara itu lagi. Dirinya bahkan seperti orang gila, yang penuh dengan tekanan batin, begitu banyak yang dirinya pikirkan saat ini.


"Risda!" Teriak Ayahnya yang terus mengejarnya saat ini.


Pergelangan tangan Risda pun langsung diraih oleh Sandi, karana tangan Risda yang lebih kecil daripada tangan Sandi, hal itu membuat Risda tidak mampu melepaskan tangan kokoh milik Ayahnya itu.


"Lepasin!" Teriak Risda.


Tiba tiba seorang wanita paruh baya pun menghampiri keduanya, wanita itu adalah Ibu dari Sandi dan Nenek dari Risda sendiri.


"Ada apa ini, San?" Tanya wanita itu kepada Sandi.


"Dia mau nyusul Ibunya," Jawab Sandi.


"Risda mau ikut Ibu saja, Nek. Risda sudah diusir sama Ayah, Risda ngak mau tinggal sama Ayah lagi! Hiks.. hiks.. hiks.." Tangisan Risda pun pecah begitu saja.


"Ya Allah, Sandi! Apa yang kamu katakan?!" Wanita itu terlihat sangat marah saat ini.


"Sandi hanya ingin tau dimana keberadaan dari Dewi saja, Bu. Dia saja yang ngak mau ngasih tau,"


Risda langsung melepaskan pegangan tangan Ayahnya itu, dirinya pun kembali berlari pergi dari tempat tersebut. Gadis itu sama sekali tidak mudah untuk dibujuk ketika marah, karena sifat keras kepala Ayahnya menurun kepadanya, sehingga bisa dibilang Risda adalsh fersi cewek dari Sandi.

__ADS_1


__ADS_2