
Risda dan yang lainnya berkumpul disebuah lapangan, setelah mendapatkan aba aba untuk berkumpul. Baris antara laki laki dan perempuan dipisah, sehingga tempat Risda berada sangat jauh dari Afrenzo, karena Risda berada diujung kiri sementara Afrenzo berada diujung kanan.
Mereka langsung diminta untuk mengambil lontaran, jarak antar siswa masing masing sekitar 1 meter entah itu kedepan ataupun kesamping. Barisan mereka begitu sangat rapi, sehingga terlihat dengan jelas siapa saja yang bergerak ataupun siap ditempat.
Risda melihat deretan orang orang bersabuk hitam dan biru yang sedang baris didepan, hitam melambangkan bahwa kedudukan mereka paling tinggi diantara yang lainnya, sementara biru melambangkan kedudukannya dibawah sabuk hitam.
Kedudukan sabuk berwarna hitam dibedakan lagi dengan adanya sebuah garis strip diujungnya, semakin banyak garis tersebut artinya semakin tinggi pula kedudukannya. Bukan hanya orang yang bersabuk hitam yang memiliki sebuah garis strip, akan tetapi sabuk biru dan putih pun memilikinya.
Sabuk putih melambangkan siswa dasar, atau siswa yang baru mengikuti latihan beladiri akan tetapi pernah melakukan ujian kenaikan sabuk. Sementara yang pemula seperti Risda dan yang lainnya, mereka masih belum memiliki sabuk akan tetapi sudah memiliki sakral ( pakaian silat ).
Afrenzo sendiri sudah memiliki sabuk biru, dan bahkan usianya paling muda daripada yang lainnya. Kebanyakan yang masih bersabuk biru usianya sekitar 30 sampai 40 tahunan, sementara dirinya hanya masih belasan tahun sudah memiliki sabuk biru.
Siapapun yang sudah memiliki sabuk biru, maka mereka diizinkan untuk menjadi pelatih dalam sebuah latihan beladiri ( tergantung perguruannya / organisasinya ). Risda pun tidak mendapati adanya Afrenzo diantara mereka, dirinya tidak tau kemana perginya lelaki tersebut.
Mereka pun langsung memulai pemanasan dengan dipimpin oleh salah satu diantara mereka yang sudah bersabuk biru, dan langsung diikuti oleh yang lainnya. Setelah melakukan pemanasan, mereka pun diminta untuk berlari memutari halaman tersebut secara serempak.
Keringat pun mulai bercucuran di kening Risda, nafasnya mulai memburu setelah melakukan beberapa kali putaran, dan juga kakinya terlihat lemas saat ini. Mereka pun melakukan sebuah gerakan jurus secara serempak hingga waktu menunjukkan saatnya sholat magrib, mereka memulai latihan itu disaat selesai sholat ashar.
"Setelah ini kalian sholat berjama'ah, habis itu kalian boleh istirahat dan makan. Nanti ada pemberitahuan untuk kumpul kembali," Ucap salah satu pelatih yang ada disana.
"Baik pelatih!" Jawab seluruhnya secara serempak.
Mereka semua pun langsung membubarkan diri dari tempat tersebut menuju keruangan mereka masing masing, begitupun juga dengan para pelatih yang ada disana yang melakukan hal yang sama seperti murid muridnya. Seluruhnya langsung bergegas menuju keruangan yang telah disediakan, hingga membuat lapangan itu kembali terasa sepi dan sunyi.
Risda langsung bergegas menuju keruangan yang telah disediakan untuk mereka, dan langsung merebahkan tubuhnya dengan berbantalan tas ransel yang dirinya bawa. Dirinya begitu kelelahan ketika berlatih dengan pelatih yang berbeda cabang, sehingga dirinya tidak berani untuk mengeluh dan berbeda lagi jika Afrenzo yang melatihnya.
"Capek, Da?" Tanya Anna yang baru saja masuk kedalam ruangan itu.
"Pake nanya segala lagi. Emang lo kagak capek?" Tanya Risda balik.
"Lemah lo, Da. Lihat noh pacar lo lagi adu jotos didepan, tapi masih kuat aja tuh. Beda jauh sama lo," Ucap Anna.
"Bangk*k lo! Adu jotos sama siapa dia?"
"Pendekar."
Risda langsung bergegas untuk keluar dari ruangan itu, dirinya merasa penasaran dengan ucapan dari Anna. Ia tahu bahwa yang dimaksud dengan pacarnya adalah Afrenzo, karena mereka semua beranggapan bahwa keduanya telah resmi pacaran akan tetapi mereka salah besar.
Risda pun berhenti disebuah lorong yang menghubungkannya langsung dengan lapangan, dirinya pun melihat dua orang yang saling bertukar jurus. Gerakan Afrenzo memang terlihat santai, akan tetapi serangan yang diberikannya bukanlah main main.
Disanalah Risda menemukan sebuah keanehan, pakaian yang dipakai oleh Afrenzo bukanlah sakral miliknya begitupun juga dengan sabuknya, yang dimana saat ini Afrenzo memakai sabuk putih polos.
Selama 15 menit mereka saling menyerang dan menangkis, dan akhirnya mereka pun berhenti melakukan itu setelah merasa kekuatan mereka seimbang tanpa bisa menjatuhkan satu sama lain. Afrenzo terlihat seperti sedang mengusap keringat yang ada dikeningnya, sementara lelaki tersebut justru terkekeh pelan kearahnya.
"Memang tidak diragukan lagi kalo kau memang layak untuk menjadi pelatih, Renzo. Pendekar Hajirohman memang tidak salah untuk memilih murid terbaiknya," Ucap seorang lelaki yang saat ini memakai sabuk biru, sambil menepuk pundak Afrenzo pelan.
"Anda terlalu berlebihan dalam memuji, bukan aku yang hebat akan tetapi guruku yang berhasil mendidikku. Aku adalah murid kalian semua, kalian juga berjasa dalam mendidikku sebelum naik sebagai pelatih," Ucap Afrenzo.
Lelaki itu justru terkekeh mendengar jawaban dari Afrenzo, "Kami semua menghargai keputusanmu untuk menjadi peserta diacara ini, jangan mengeluh nanti jika ujianmu lebih berat daripada yang lain. Bukankah kami bebas untuk mengujimu?"
"Apapun ujiannya nanti, aku terima dengan sepenuh hati, Pak. Aku bukanlah tipe orang yang mudah mengeluh,"
"Bagus bagus... Setelah ini kau mengimami shalat magrib berjama'ah, bersihkan dirimu dan ku tunggu di musholla."
"Loh... Kenapa jadi aku?"
"Ini termasuk ujiannya, jangan mengeluh."
"Ujian akhirat ini namanya, Pak. Dan aku belum layak untuk itu, apalagi banyak sesepuh yang bisa menjadi imam."
"Jangan banyak membantah, kesempatan tidak datang dua kali. Jadi, jangan menunggu kesempatan habis,"
__ADS_1
Lelaki itu pun menepuk pelan lagi pundak Afrenzo, dan dirinya pun langsung bergegas untuk meninggalkan Afrenzo ditempat itu. Afrenzo hanya menganggukkan kepalanya pelan, meskipun anggukan itu tidak dilihat oleh lelaki tersebut.
"Lantas bagaimana pendapat mereka jika diimami oleh anak kecil seperti gue? Kalau dua atau tiga orang kagak masalah, tapi ini..." Guman Afrenzo pelan.
"Bukan masalah," Ucap Risda yang tiba tiba muncul didekat Afrenzo, hingga Afrenzo tidak melanjutkan lagi gumanannya itu.
"Sejak kapan lo disini?" Tanya Risda dengan nada dinginnya tanpa menoleh kearah Risda.
Mungkin dirinya merasa malu karena Risda telah mendengar gumamannya sebelumnya, dirinya tidak pernah melakukan itu sebelumnya sehingga membuatnya merasa tidak enak apalagi sampai didengar oleh Risda sendiri.
"Wajah lo kok berubah gitu sih, Renzo? Emang ada yang salah dalam ucapan gue?" Tanya Risda sambil mencerucutkan bibirnya.
"Hemmm..." Bukannya menjawab dengan perkataan, Afrenzo justru berdehem saja kearah Risda.
"Renzo, gue salah apa?"
Afrenzo pun tidak menjawab ucapan Risda, akan tetapi langsung bergegas untuk meninggalkan Risda ditempat itu. Sebelum dirinya melangkah begitu jauh, tangan Risda langsung menggenggam erat pergelangan tangannya hingga membuat Afrenzo menghentikan langkahnya.
"Habis ini sholat magrib, bersiap siaplah." Afrenzo pun melepaskan pegangan tangan Risda setelah mengatakan itu, hingga membuat Risda merasa sangat kesal dengan lelaki itu.
"Tapi Renzo, gue..."
"Nggak bawa mukenah?" Tanya Afrenzo yang langsung memotong ucapan Risda begitu saja.
"Bukan. Tiap hari gue bawa mukenah kok, cuma alasan aja kalo nggak bawa,"
Afrenzo langsung menatap nyalang kearah Risda, bagaikan seekor elang yang tengah mengincar mangsanya. "Jadi tiap hari lo bohong?"
"Gue hanya lelah."
"Astaghfirullah hal azim... Mau jadi apa kamu, Da? Sholat aja males, gimana mau dikabulin permintaan lo sementara lo malah ngejauhin pencipta lo?"
"Da, nggak baik berpikiran seperti itu. Allah belum mengabulkan permintaan lo, itu artinya bahwa Allah telah menyiapkan hal yang lebih baik daripada apa yang lo minta. Allah tengah menguji kesabaran lo, dan mengajarkan lo cara bersyukur atas apa yang lo miliki. Mengulang ulang doa ibarat mengayuh sepeda, lama kelamaan akan sampai kepada tujuan."
"Gue minta maaf," Cicit Risda pelan sambil menundukkan kepalanya.
"Nanti diulang lagi, nggak?"
"Iya... Eh nggak nggak," Tanpa sadar dirinya menganggukkan kepala dan langsung sadar akan jawabannya itu.
"Awas nanti kalau diulang lagi, gue bakalan ngasih hukuman berat ke lo."
"Selalu saja memberi hukuman, emang hidupku tidak pernah lepas dari hukuman. Dikit dikit dihukum, dikit dikit dihukum," Gerutu Risda jengkel mendengar kata hukuman.
"Kapan berubahnya?"
"Merubah kebiasaan yang sudah lama itu tidaklah mudah, Renzo. Semua orang hanya memaksa gue untuk berubah, tapi mereka sama sekali tidak menemani gue untuk berubah. Dari kecil gue sudah terbiasa, dan kalau merubahnya pun sangat sulit bagi gue."
"Gue ada disamping lo, Da. Kita berusaha untuk berubah bersama sama, bukankah itu bagus?"
"Lo nggak bakal ninggalin gue kan? Nanti lo kesel sendiri karena ulah gue,"
"Nggak masalah."
"Renzo..."
"Habis ini sholat magrib, mending lo siap siap dan ajak yang lainnya juga."
Afrenzo pun bergegas untuk meninggalkan Risda ditempat itu, sementara Risda hanya menatap kepergian dan langsung bergegas untuk menuju keruangannya. Risda pun langsung mengambil mukenahnya, dan langsung bergegas untuk ke mushola yang dimaksud itu.
*****
__ADS_1
Risda pun tanpa sengaja berpapasan dengan Afrenzo didepan musholla, Afrenzo yang selesai mengambil air wudhu tersebut terlihat sangat tampan. Sementara Risda belum mengambil air wudhu dan baru saja sampai di musholla yang dimaksudkan itu.
Afrenzo menundukkan kepalanya untuk membenahkan lengan bajunya sehingga tidak melihat adanya Risda didepannya, cowok itu benar benar terlihat sangat indah bahkan tatapannya penuh dengan kesejukkan bagi siapapun yang memandangnya.
Pandangan Risda seakan akan tidak bisa terlepas dari wajah Afrenzo, hingga lelaki itu pergi meninggalkan tempat tersebut untuk masuk kedalam musholla. Karena Risda yang berjalan tanpa melihat jalannya sangking fokusnya dengan Afrenzo, sehingga dirinya pun menabrak sebuah tiang yang ada disana.
Bhukk...
"Akh... Siapa sih yang naruh tiang ini disini? Bikin kepala gue benjol aja," Keluhnya.
Bukan hanya rasa sakit yang dirinya dapatkan, akan tetapi rasa malu yang teramat sangat pun dirinya rasakan. Bagaimana tidak malu? Disana begitu banyak orang yang melihatnya, bahkan sebagian dari mereka pun menertawakannya begitu saja.
Wajah Risda pun berubah menjadi memerah karena malu, dirinya pun langsung berlari menuju ke tempat wudhu wanita. Risda berharap bahwa mereka yang menertawakan akan segera lupa dengan kejadian itu, kalau tidak maka dirinya tidak akan bisa melupakan kejadian barusan.
Siapa suruh dirinya memandang terlalu lama orang yang bukan mahramnya, mungkin ini adalah karmanya karena melakukan itu hingga menimbulkan rasa malu yang teramat sangat. Ingin sekali dirinya menenggelamkan wajahnya itu, akan tetapi dia tidak tau untuk melakukan itu dimana.
"Da. Ngapain lo disini?" Tanya seseorang yang sedang menghampirinya.
"Lo sendiri ngapain disini?" Tanya Risda.
Bukannya langsung berwudhu ditempat itu, justru Risda masih berjongkok dipojokkan yang tersembunyi disana. Anna yang tidak sengaja melihat bayangan Risda pun langsung mendekatinya, dan menemukan bahwa Risda sedang bersembunyi.
"Gue mau wudhu, tapi nggak sengaja lihat lo disini. Emang lo ngapain sembunyi seperti ini, Da?"
"Berisik lo, lo nggak tau apa gue malu banget. Dasar tukang nggak ada ahlak,"
"Sudah sudah. Buruan wudhu habis ini sudah dimulai,"
Anna pun mendengar suara iqomah, itu artinya sholat akan segera dimulai ditempat itu. Risda sendiri pun langsung berdiri dari jongkoknya, dan langsung memberikan mukenah miliknya kepada Anna.
"Sial.. Gue nggak bakalan dapat shof paling depan kalo seperti ini, jadi nggak bisa denger suara Renzo yang mengimami," Dengan segera Risda langsung mengambil air wudhunya.
"Eh yang ngimami si Renzo? Bagaimana lo tau itu, Da?"
Risda dengan cepatnya segera menyesuaikan wudhunya, karena dirinya tidak ingin terlalu lama dan bahkan menyebabkan dirinya telat untuk mengikuti sholat berjama'ah nantinya.
"Emang Renzo imamnya sekarang, mangkanya itu gue harus cepet cepet," Ucap Risda setelah wudhu.
"Terus lo ngapain sejak tadi kagak wudhu wudhu, Da?"
"Berisik. Jangan sampe lo bikin gue telat, atau gue aduin lo ke Renzo."
Serba salah jika berhadapan dengan Risda, karena pada dasarnya Risda tidak mau disalahkan dan justru akan menyalahkan orang lain. Anna yang mulai terbiasa dengan kelakuan Risda pun hanya menghela nafasnya, karena bagaimanapun juga Risda adalah teman baiknya.
Keduanya pun langsung bergegas untuk masuk kedalam musholla tempat untuk wanita, dan benar mereka mendapatkan shof paling belakang karena terlambat masuk kedalam musholla. Bahkan Afrenzo sendiri pun sudah membaca surat Al Fatihah saat ini, hingga membuat Risda dan Anna buru buru untuk memakai mukenahnya dan langsung mengikuti imam.
Bacaan surat tersebut sangat indah dan menenangkan hati, suara Afrenzo terdengar sangat merdu bagi Risda. Bacaan demi bacaan di lantunkan oleh Afrenzo, hingga Risda tidak menyadari bahwa mereka telah selesai melakukan sholat magrib yang hanya 3 rakaat itu.
"Calon imam idaman," Suara seseorang yang berada didekat Risda.
Risda pun langsung menoleh kearah siapa yang berbicara itu, terlihat seorang gadis yang memiliki tubuh lebih besar daripada Risda. Gadis itu tidak gemuk hanya saja postur tubuhnya lebih besar dan juga terlihat sangat kuat.
"Suaranya merdu banget ya, emang siapa dia?" Tanya seseorang yang ada disamping gadis itu.
"Nggak kenal juga, tapi dari suaranya sudah menjelaskan kalau dia sangat tampan," Jawab gadis tersebut sambil tersenyum cerah.
"Katanya sih yang ngimamin itu dari cabang SMA Bakti Negara tau,"
"Iya kah? Gue harus pepet pake jalur langit kalo begitu, mungkin dia adalah jodohku yang belum ditemukan. Ya Allah jodohkanlah hamba dengan dia,"
Mendengar perkataan itu membuat Risda merasa cemburu, dirinya tidak rela jika nama Afrenzo masuk kedalam doa orang lain apalagi doa menginginkan dirinya menjadi jodoh orang lain. Risda sangat kesal mendengarnya, tapi dirinya tidak mau membuat keributan di rumah Allah.
__ADS_1