Pelatihku

Pelatihku
Episode 169


__ADS_3

Risda tengah duduk ditepi lapangan, mereka diizinkan untuk istirahat beberapa saat sebelum memulai latihan kembali. Risda menatap kearah aula beladiri karena Afrenzo tak kunjung keluar dari sana, entah siapa yang tidak sadarkan diri didalam sehingga membuat Afrenzo panik.


Risda begitu kesal dengan lelaki itu, padahal dirinya tau bahwa Afrenzo tengah menolong seseorang didalam. Akan tetapi, rasanya sangat kesal ketika melihat Afrenzo lebih mementingkan yang lain daripada dirinya yang tengah menunggu diluar.


"Fan, emang siapa yang pingsan sih?" Tanya Risda ketika melihat Fandi yang melintas didepannya.


"Kepo," Jawab Fandi singkat tanpa menoleh sedikit pun kepada Risda.


"Bang... mmmm...." Risda hendak mengumpat akan tetapi kedua tangannya langsung ia angkat untuk menutupi mulutnya itu ketika menyadari ada yang datang.


"He,em!" Dehem Afrenzo yang berada tidak jauh dari kedua orang itu.


Risda merasa bersyukur karena belum sempat untuk mengumpat didepan Afrenzo, jika sampai Afrenzo mendengarnya maka nasibnya tidak akan berujung baik. Afrenzo melangkah menuju ke tengah lapangan tanpa berhenti didepan keduanya, dan hal itu membuat Risda merasa diabaikan oleh lelaki tersebut.


"Renzo!" Teriak Risda hendak mengejarnya akan tetapi langsung dihadang oleh Fandi dengan memegangi tangan Risda.


"Ingat ini ditempat latihan, lo harus nge hormati dia sebagai pelatih bukan temen lo. Jaga sikap lo, kalau diluar jam latihan, lo bebas manggil dia apa aja terserah lo. Tapi tidak ditempat latihan," Ucap Fandi memperingatkan kepada Risda.


"Maapin," Ucap Risda sambil menyengir dan mencoba untuk melepaskan pegangan tangan Fandi dari pergelangan tangannya itu.


"Lo emang udah tua, Da. Mangkanya lo jadi pikun begitu," Gerutu Fandi.


"Sialan lo!"


Bhukkk...


Risda yang tidak terima dipanggil tua itu pun langsung melontarkan sebuah pukulan di lengan Fandi dengan sangat kerasnya, tanpa berpikir panjang terlebih dahulu. Sementara Fandi, dirinya hanya bisa berdiam diri sambil menyengir lantaran terkena pukulan dari Risda, meskipun tidak begitu menyakitkan akan tetapi cukup membuatnya terkejut.


Risda beruntung karena Fandi tidak sampai mengeluarkan refleknya, jika itu terjadi maka Risda akan menerima serangan balik dari Fandi begitu saja. Karena memang, Risda belumlah mahir dalam bela diri sehingga mampu dipukul dengan mudah tanpa bisa memukul balik.


"Semuanya kumpul!" Seru Afrenzo yang sudah duduk ditengah lapangan.


Mendengar itu membuat seluruhnya langsung berkumpul, suara Afrenzo cukup keras akan tetapi dirinya hanya menggunakannya disaat penting saja, selebihnya dirinya memilih untuk berdiam diri. Risda langsung berlari mendekat kearah Afrenzo, agar dirinya bisa duduk disebelah pelatihnya.


Di sebelah pelatih adalah posisinya, tidak boleh ada yang menggantikannya walaupun hanya sesaat saja. Seluruhnya sudah sangat hafal dengan dirinya, bahkan posisi itu selalu dibiarkan kosong kecuali Risda yang menempatinya.


"Ada yang ingin saya sampaikan kepada seluruhnya," Ucap Afrenzo memulai ketika hanya ada ke beningan diantara mereka.


"Ada apa, pelatih?" Tanya seluruhnya.


"Ini mengenai acara besok lusa yang akan diadakan. Besok hari jum'at seluruhnya berkumpul di aula beladiri untuk membahas persiapan dan sekaligus gladi bersih. Hari sabtu, yang masih bersekolah disini diberi kesempatan untuk libur sehari untuk persiapan acara."


Mendengar pengumuman itu, membuat seluruhnya langsung berteriak kegirangan, karena libur adalah hal yang di nanti nantikan oleh seluruh siswa. Risda sendiri pun tidak kalah hebohnya, dirinya ingin pamer kepada teman sekelasnya bahwa dirinya diizinkan untuk libur sementara yang lainnya masih masuk untuk mengikuti pelajaran.


"Jangan senang dulu. Kalian di minta untuk bantu bantu dalam persiapan besok lusa, menyiapkan panggung, kursi, meja, dan sebagainya." Mendengar lanjutan dari Afrenzo, sontak seluruhnya langsung terdiam begitu saja.


"Apa cewek juga ikut bantu bantu?" Tanya Risda dengan kedua mata yang melebar, seakan akan tidak percaya dengan ucapan Afrenzo.


"Tanpa terkecuali. Mau cewek atau cowok sama saja, yang cewek bantu bantu senior cewek untuk menyiapkan kue kue buat acara."


"Asikk... Masak masak dong!" Risda pun bertepuk tangan dengan senangnya.


"Emang lo bisa masak, Da?" Pertanyaan dari Fandi langsung membuat Risda terdiam begitu saja.


Risda tidak bisa masak, bahkan dirinya hanya bisa makan saja tanpa memasaknya. Sejak kecil dirinya tidak pernah belajar memasak, apapun yang dirinya coba masak pun hasilnya akan tetap sama yakni gosong. Meskipun dirinya mandiri, akan tetapi masak bukanlah hal yang bisa dirinya lakukan.


Bukan dirinya yang tidak mau belajar untuk memasak, akan tetapi dirinya tidak mau membuat siapapun marah kepadanya karena menggunakan kompor gas yang dimana gas terasa begitu mahal baginya. Dirinya juga sering mendengar kakaknya marah marah hanya karena gas dirumahnya habis, apalagi menyangkut soal uang yang tidak ada barangnya.


Oleh sebab itu, Risda tidak mau mengambil resiko apapun ketika dirinya ingin belajar memasak. Jangankan untuk membeli gas dan membantu Kakaknya, untuk makan saja dirinya harus bisa menghemat pengeluaran uang jajan. Bagaimanapun juga, dirinya merasa percuma jika ikut membeli gas, karena berangkat sekolah saja tidak dimasakkan oleh mereka semua.


Padahal, setiap bulan sekali Bundanya selalu memberikan uang kepada mereka, meskipun tidak banyak akan tetapi cukup untuk membeli lauk pauk selama sebulan. Risda masihlah tanggung jawab dari keluarga Ayahnya, karena Ayahnya tidak pernah memberinya nafkah sehingga sudah menjadi kewajiban dari orang tua Ayahnya untuk menghidupinya.


"Dasar, sok sok an biasa masak aja lo, Da. Nyatannya kagak," Ejek Fandi dengan senyuman yang seakan akan merendahkan dirinya.


"Pelatih lihat tuh Fandi, masak aku dikatain begitu," Bukannya menjawab, akan tetapi Risda justru mengadu kepada Afrenzo.

__ADS_1


"Fan..." Tegur Afrenzo sambil melirik kearah Fandi. "Nggak baik bicara seperti itu, nggak bisa masak bukan berarti nggak bisa selamanya, Risda masih bisa belajar nantinya."


"Maaf pelatih, nggak sengaja tadi." Fandi langsung menundukkan kepalanya ketika melihat tatapan Afrenzo yang seakan akan mencengkeramnya.


"Denger tuh," Seloroh Risda.


"Sudah. Sesama saudara tidak boleh bertengkar," Sela Afrenzo sambil menatap keduanya.


"Dia bukan sodaraku, pelatih. Tapi dia..." Risda tidak mampu melanjutkan perkataannya karena tatapan tajam dari Afrenzo.


"Kamu masuk ke organisasi ini itu artinya sudah menjadi saudara kita semua," Jelas Afrenzo setelah terdiam cukup lama sambil menatap ke arah Risda.


"Denger tuh Adik Risda yang nggak ada akhlaq, seharusnya kau lebih menghormati Kakakmu yang tampan ini. Kau kan Adikku juga, jadi disini kau tanggung jawab dari Kakak Kakak seniormu," Ucap Fandi dengan bangganya sambil membusungkan dadanya seraya menepuknya pelan.


"Ya. Mulai sekarang panggil diriku Adik!" Ucap Risda sambil mengepalkan tangannya meninju ke langit.


"Kau juga harus panggil Kakak atau Mas atau Abang gitu kek, masak sih harus panggil Fan Fan. Lagian lebih tua diriku daripada kau," Sindir Fandi.


"Emang kau kelahiran taun berapa?"


"Aku 2001 lah, di tahun 2018 ini umurku sudah 17 tahun tau."


"Berarti tua'an kau setahun, aku 2002."


"Bulan?"


"Sudah sudah, kembali ke posisi baris," Sela Afrenzo dan langsung bangkit dari duduknya.


Risda yang tanpa menjawab pertanyaan dari Fandi langsung bergegas untuk bangkit dari duduknya, bahkan dirinya segera berlari untuk berbaris ditempatnya sebelumnya. Mereka pun kembali ke posisi semula sebelum istirahat, Afrenzo kembali melanjutkan pelatihannya itu.


*****


Risda tengah sibuk memainkan ponselnya didalam kamar, dirinya tidak ikut membantu masak masak karena sudah lebih dari cukup yang membantu di acara itu. Sehingga Risda diperbolehkan untuk pulang dan istirahat, rasanya sangat lelah dan enak sekali ketika membaringkan tubuhnya di kasur kamarnya yang empuk dan lembut.


"Mbak, ada Mbah buk diluar," Tiba tiba Adifa, adik keponakan dari Risda. Masuk kedalam kamar Risda dan duduk di sebelahnya.


"Mbah buk pulang?" Tanya Risda heran.


"Iya."


"Tumben nggak ngabari dulu kalo pulang,"


"Nggak tau,"


Risda pun membenarkan rambutnya yang berantakan, dirinya menyisirnya dengan cepat dan mengikatnya dengan asal asala. Risda yang memang sukanya blak blakan pun masih memakai celana setinggi harapan keluarga, tanpa berganti terlebih dulu, Risda langsung bergegas untuk menemui Ibunya.


"Bunda pulang tumben nggak ngabarin dulu," Ucap Risda ketika melihat Ibunya dan beberapa orang pria tengah duduk dikursi tamu.


Melihat adanya Risda, Dewi langsung bangkit dari duduknya dan bergegas mendatangi Risda. Risda sendiri langsung bergegas untuk memeluk Ibunya itu, itulah kebiasaan Risda jika bertemu dengan Ibunya yang telah sekian lama tidak pernah bertemu.


"Bunda bawakan motor baru untuk Risda," Ucap Dewi sambil menunjuk kearah luar rumah.


"Motor baru?" Tanya Risda dengan antusiasnya dan langsung bergegas keluar rumah.


Sebuah motor honda beat tengah terparkir didepan rumahnya, motor hitam dengan garis merah di setiap sisinya. Motor itu nampak begitu berkilau seperti telah dibersihkan dengan baik, meskipun second akan tetapi rasanya masih terlihat baru.


"Ini motor Risda?" Tanya Risda.


"Iya, ini untuk Risda," Jawab Dewi dengan senyuman yang mekar merekah.


Risda nampak begitu senang melihat motor tersebut, akan tetapi hatinya sangat sulit untuk diutarakan antara senang maupun sedih. Risda sendiri tidak tau mengapa perasaan itu hadir didalam hatinya, hati kecilnya ingin sekali menolak motor tersebut akan tetapi ia sangat butuh untuk berangkat sekolah.


"Ini tukar tambah?" Tanya Risda lagi.


"Iya."

__ADS_1


Risda pun mendekat ke arah motornya itu, dirinya pun melihat lihat bagian dari motor barunya tersebut. Terlihat sangat mengkilap seperti baru, bahkan hampir tidak ada goresan sedikitpun, akan tetapi jika diteliti dengan benar maka ada bekas sebuah goresan yang tidak terlalu jelas.


Diantara tiga lelaki tersebut terlihat sosok Abie yang tengah menyeruput kopi dengan sedikit gula itu, Risda tidak terlalu memperhatikan lelaki tersebut karena sibuk dengan motor barunya. Tak beberapa lama, dua orang lelaki yang duduk bersebelahan dengan Abie pun berpamitan pulang, akan tetapi dengan membawa motor lama Risda bersama dengan keduanya.


"Tunggu Om," Ucap Risda yang langsung menghentikan keduanya.


"Ada apa, Ris?" Tanya Dewi yang keheranan dengan Risda.


"Om, boleh kembalikan bandul kuncinya? Itu kesukaanku," Ucap Risda memohon.


Sebuah bandul dari manik manik berwarna biru yang dirakit berbentuk seperti cicak, bandul yang paling disukai oleh Risda. Rakitan yang indah membuatnya tak henti hentinya ingin terus menatapnya, kilauan yang tercipta tak mampu membuat Risda terlepas dari indahnya rakitan tersebut.



Memang terlihat sepele bagi kebanyakan orang, akan tetapi tidak dengan Risda yang sangat menyukainya. Lelaki tersebut pun menganggukkan kepalanya pelan untuk mengiyakan, bagaimana pun juga Risda masih berhak untuk memintanya kembali karena itu kesayangan Risda.


"Tentu, bentar Om lepaskan dulu dari kuncinya."


Setelah melepasnya, lelaki itu langsung memberikannya kepada Risda. Risda dengan senang hati langsung menerimanya, ia pun mengenggamnya dengan sangat eratnya seakan akan takut kehilangan.


Setelahnya, kedua lelaki itu langsung bergegas pergi dengan membawa motor lama Risda. Risda yang melihatnya hanya bisa menghela nafas pelan, bahkan rasanya ia tidak mau motornya itu dibawa pergi oleh mereka akan tetapi dia sudah mendapatkan yang baru.


"Ada apa dengan bandul ini, Da?" Tanya Dewi setelah keramaian itu lenyap, dan kini hanya ada Indah, Dewi, Abie, dan Risda saja.


"Bandul ini adalah pemberian dari Bunda, bagaimana mungkin aku berikan kepada orang lain? Aku nggak mau kehilangan bandul ini."


"Begitu berartikah?"


"Sangat."


Dewi pun tersenyum kepada anaknya itu, melihat senyuman Ibunya yang merekah membuat Risda juga ikut tersenyum kepada Ibunya. Ada hal yang mengganjal didalam hatinya saat ini, entah apa yang membuat Risda merasa sedemikian rupanya.


"Bandulnya dipasang di kunci motor Risda yang baru saja," Ucap Dewi tiba tiba.


"Nggak mau, Bun. Aku nggak mau bandulnya nanti hilang," Ucap Risda tanpa dirinya sadari.


"Kok hilang? Kan yang akan pakai motor itu kan Risda, bagaimana bisa hilang?"


"Nggak tau juga, Bun. Rasanya aku merasa seperti itu,"


"Sudah. Hilangkan perasaan itu, sini biar Bunda yang pasang."


Risda pun dengan terpaksa menyerahkan bandul kesayangannya itu kepada Dewi, dan Dewi pun segera memasangkannya kepada kunci motor milik Risda. Risda hanya bisa tersenyum kecut melihatnya, sedangkan Abie sedari tadi hanya berdiam diri tanpa ada kata kata yang keluar.


"Ris, belikan gorengan sama es kelapa muda," Ucap Ibunya setelah selesai memasang bandul itu.


"Pake motor baru?" Tanya Risda.


"Iya, ini kan motor Risda, jadi Risda harus berusaha untuk mengendalikannya."


"Iya Bunda, uangnya mana?"


"Nih," Dewi pun menyerahkan selembar uang seratus ribu kepada Risda.


"Difa ikut," Ucap Adifa yang sedari tadi hanya berdiam diri sambil menyimak pembicaraan mereka.


"Bisa?" Tanya Dewi kepada Risda.


"Bisa Bun, sudah biasa kalo Difa mau ikut."


"Ya sudah, hati hati dijalan ya Ris."


"Siap Bun."


Risda langsung naik keatas motornya dan disusul oleh Adifa di belakangnya, Adifa duduk didepan Risda sambil berpegangan dua spion yang ada dimotor tersebut. Setelahnya Risda pun menjalankan motornya itu untuk bergegas pergi dari tempat tersebut, dan sedikit memutar gasnya agar lajunya tidak terlalu cepat karena ada Adifa yang ikut bersamanya.

__ADS_1


__ADS_2