
Risda merasa tidak ingin pulang saat ini, dirinya sangat malas dirumah karena hari harinya selalu kesepian karena tidak memiliki teman. Dirumah pun dirinya merasa jenuh karena selalu ada didalam kamarnya karena dirinya tidak ingin menatap wajah Kakaknya itu.
Setiap harinya dirinya selalu tiduran dikamarnya, rame sedikit pun selalu dimarahi meskipun yang rame adalah suara ponsel miliknya. Akan tetapi, Kakaknya selalu menyalakan televisi dengan volume keras, mungkin beginilah jikalau hanya numpang dirumah sendiri serasa numpang dirumah orang lain.
"Da, kenapa lo nangis?" Tanya Afrenzo ketika melihat air mata Risda muncul dipelupuk matanya dan hendak menetes dipipinya.
"Gue..." Ucap Risda menggantung.
"Lo ada masalah?"
"Gue hanya rindu kasih sayang orang tua, Renzo. Gue juga ingin seperti yang lainnya, yang selalu disambut dengan hangat ketika pulang. Sementara gue? Gue..." Belum sempat Risda menyelesaikan perkataannya, kalimatnya tercekal ditenggorokkannya tanpa bisa dirinya keluarkan.
Gadis itu langsung menangis sesenggukan dihadapan Afrenzo, Afrenzo sendiri sama sekali tidak menyela perkataan itu, dan menunggu Risda untuk mengutarakan semua uneg uneg yang ada didalam pikirannya. Melihat Risda yang menangis sesenggukan, dapat diketahui bahwa gadis itu tengah menyembunyikan sakit hati yang cukup besar didalam hatinya.
"Jangankan untuk disambut dengan hangat, gue pulang ke rumah aja selalu mendapatkan omelan. Entah gue pulang cepat ataupun lambat itu sama saja, bahkan makan pun gue nggak dipedulikan, Renzo. Pagi ketika berangkat sekolah saja nggak ada nasi dirumah, dan pulang pun nasinya sudah habis,"
Kegiatan setiap harinya Risda hanyalah berangkat sekolah tanpa makan dan makan disekolahan waktu istirahat. Setelahnya, sepulang sekolah dirinya akan pergi untuk berlatih beladiri, sehabis itu dirinya langsung masuk kedalam kamar sampai esok harinya tanpa makan.
Akan tetapi yang diketahui oleh orang lain, dirinya hanya bisa menghabiskan uangnya untuk jajan sembarangan, dan dia adalah anak yang boros. Padahal yang sebenarnya, dirinya mengumpulkan uang jajannya hanya untuk membeli nasi agar dia bisa makan, akan tetapi dirinya tidak pernah bercerita apapun kepada siapapun.
Risda tidak peduli dengan omelan yang diberikan oleh Ibunya mengenai uang sakunya yang selalu habis, terkadang dirinya akan dibanding bandingkan dengan orang lain karena orang lain bisa menabung sementara dirinya tidak bisa. Risda tidak ingin bercerita kepada siapapun tentang hidupnya, karena dirinya beranggapan bahwa dia adalah orang yang sok kuat sehingga tidak memerlukan cerita kepada siapapun.
Nyatanya, hanya dihadapan Afrenzo saja dirinya mampu untuk terlihat lemah seperti saat ini. Wanita yany selalu tertawa dengan kerasnya itu pun rapuh dihadapan lelaki dingin seperti Afrenzo. Dia akan bersikap seolah semuanya baik baik saja ketika dihadapan semua orang, bahkan dirinya mampu untuk tertawa dengan kerasnya.
Memang benar kata orang, wanita yang tertawanya paling keras adalah wanita yang selalu menyimpan luka yang begitu mendalam seorang diri.
"Semua akan indah pada waktunya, Da. Tiada seorang ulama' tanpa sebuah ujian yang cukup besar, meskipun seorang ulama' besar sekalipun akan diuji oleh Allah dengan ujian yang sangat berat, bahkan para nabi pun juga diuji. Sabar, hidup didunia itu memang sakit, tapi Allah menjanjikan kepada orang yang bersabar akan mendapatkan surga terindah dari-Nya. Gue tau itu menyakitkan bagi lo,"
Afrenzo mengusap pelan puncak kepala Risda agar gadis itu merasa tenang daripada sebelumnya. Bukannya tenang, justru Risda semakin terisak ketika merasakan usapan dari Afrenzo karena dirinya yang sangat merindukan kasih sayang orang tuanya.
"Renzo," Ucap Risda lirih sambil menatap kedua mata Afrenzo. "Apakah kalo gue mati, mereka semua akan bahagia?"
"Bukan bahagia, mereka justru menyesal jika kehilangan lo, Da. Karena mereka telah menyia nyiakan lo selama ini,"
"Gue pengen mati saja, Renzo. Gue lelah jika hidup terus terusan seperti ini,"
"Shuuttt... Nggak baik ngomong seperti itu, Da. Kalau malaikat Israfil mendengarnya gimana? Mau dicatat sebagai amal buruk?"
"Tapi gue lelah, Renzo. Gue capek jika terus terusan seperti ini,"
"Capek istirahat, Da. Jangan menyerah begitu saja,"
Risda pun menundukkan kepalanya dalam, beberapa kali air matanya menetes mengenai celana beladirinya itu. Afrenzo membiarkan gadis itu menangis semaunya, agar perasaanya menjadi lebih tenang setelah menangis.
Langit pun mulai terlihat gelap saat ini, karena sebentar lagi adzan magrib akan berkumandang diawang awang. Akan tetapi, Risda masih tidak ingin pulang kerumah untuk saat ini, dirinya sangat kesepian jika dirumah karena tidak memiliki teman mengobrol.
"Habis ini adzan magrib, kita pulang ya?" Afrenzo mengajak Risda untuk pulang karena sebentar lagi suasana akan menggelap disana.
"Gue males pulang, Renzo. Lo saja yang pulang, gue masih mau disini," Ucap Risda sambil membuang muka dari wajah Afrenzo.
"Gimana kalo lo kerumah gue dulu? Mungkin lo bisa lebih tenang nanti,"
Afrenzo menyarankan gadis itu untuk ikut pulang bersamanya sampai dirinya mau pulang kerumahnya sendiri. Akan tetapi, Risda menolaknya dengan cara menggeleng gelengkan kapalanya dengan cepat.
"Da, jangan bandel kalo dibilangi. Habis ini adzan magrib, apa lo nggak kasihan sama Nyokap lo?"
"Gue pengen mati,"
__ADS_1
"Kalo ada masalah cerita, jangan bertindak nekat."
"Mungkin karena usia gue yang masih kecil, jadi mereka menganggap gue sepele. Sejak kecil gue ngerasa hidup sendirian, dan sejak kecil gue sudah dipaksa untuk mandiri."
"Ambil sisi positifnya saja. Jangan terlalu diambil hati,"
Afrenzo pun terus menasehati Risda dengan caranya sendiri, dan akhinya Risda mau untuk pulang kerumahnya. Nasehat yang diberikan oleh Afrenzo mudah diterima olehnya, sehingga dirinya mau untuk kembali pulang kerumahnya.
Risda dan Afrenzo lalu bergegas untuk menuju kerumah mereka masing masing, dan keduanya berpisah ketika terdapat sebuah pertigaan. Sebelumnya Afrenzo ingin mengantarnya pulang, akan tetapi Risda menolaknya karena dirinya tau bahwa lelaki itu masih ada jadwal untuk ngelatih ditempat lain.
*****
Beberapa hari kemudian, akhinya hari minggu telah tiba. Seperti biasanya Risda akan melakukan latihan private dengan Afrenzo, keduanya kini telah berada didalam aula beladiri.
Risda dan Afrenzo kini tengah duduk bersebalahan setelah selesai melakukan latihan beladiri. Rasa lelah itu sama sekali tidak dipedulikan oleh Risda, dan bahkan dirinya masih terlihat tersenyum dengan cerahnya.
"Renzo, apa gue ini beban?" Tanya Risda tiba tiba dan langsung membuat Afrenzo menatap kearahnya.
"Lo bukan beban, Da. Gue nggak pernah nganggap lo itu beban," Jawab Afrenzo.
"Gue pengen cerita sama lo tenang hidup gue, tapi gue nggak sanggup. Gue nggak bisa lama lama nyimpen masalah gue sendirian, lo mau kan dengerin gue?"
"Cerita saja, gue dengerin kok."
"Tapi gue ragu,"
"Jangan ragu," Ucap Afrenzo sambil mengenggam tangan Risda untuk menguatkan gadis itu.
"Waktu itu gue masih kelas 6 SD..." Risda pun memulai ceritanya.
*Flash back on*
Gurunya dengan lantang berbicara, " Dia muridku yang paling patuh sekarang, sudah mau mengerjakan tugas, anak yang sangat penurut."
Risda berubah 90° daripada sebelumnya, setelah kejadian itu membuat gurunya bersikap baik kepadanya bahkan membimbingnya dan memberitahukan mana yang salah dan benar kepadanya. Bahkan anak anak didalam kelasnya tidak berani untuk membully nya lagi karena dirinya terus dibela oleh guru itu, akan tetapi Risda masih saja suka menyendiri sampai detik ini.
Tak seorang pun yang bisa mengetahui karakter aslinya seperti apa, karena yang mereka tau hanyalah Risda adalah anak yang pendiam dan tidak suka bergaul dengan yang lainnya. Tapi siapa sangka, kedamaian yaitu tidak berlangsung lama.
Ifah adalah seorang janda yang memiliki 2 anak laki laki, setelah dirinya menikah dengan lelaki yang memiliki 4 anak, pembantu yang dimiliki oleh lelaki itu ikut pulang kerumah Ifah. Panggil saja nama pembantu itu adalah Ruroh, Ruroh adalah seorang wanita yang memiliki 1 orang anai perempuan, dan juga bisa dikatakan dia masih tetangga Dewi.
Ruroh rumahnya berada didekat rumah orang tua Dewi, sehingga setelah Dewi menikah mereka tidak lagi menjadi tetangga. Ruroh selalu memfitnah Risda, dan bahkan Risda sampai harus mendapatkan omelan dari Dewi karenanya.
Risda yang memang anaknya pendiam, dirinya sama sekali tidak membela dirinya sendiri ketika disalahkan. Dia bahkan tidak peduli dengan hidupnya karena dirinya rasanya seperti telah kehilangan jati dirinya, bahkan dia tidak peduli banyaknya masalah yang ada didalam hidupnya.
Seorang anak yang masih berusia puluhan tahun harus menerima begitu besarnya masalah, membuatnya seakan akan menatap kosong kedepan tanpa memedulikan hal apapun yang akan menimpa hidupnya. Jika ada makanan yang hilang dirumah itu, Ruroh akan menuduh Risda yang telah mengambilnya dan memakannya.
Risda waktu itu memang tengah ikut Ibunya bekerja, sehingga gadis polos itu mudah sekali dijadikan kambing hitam dalam hal yang dilakukan oleh Ruroh. Ibunya selalu memberinya yang jajan, sehingga dirinya tidak perlu mengambil hak milik orang lain hanya karena rasa kepengennya.
"Risda tidak mungkin melakukan itu, aku percaya dengan Risda. Jika dirinya mau, dia tidak perlu mengambilnya dengan diam diam,"
Dewi terus membela Risda, sementara Risda hanya berdiam diri tanpa peduli dengan apa yang terjadi. Hingga akhinya, Dewi memutuskan untuk keluar dari pekerjaan itu karena dia tidak mau jika anaknya terus disalahkan ditempat itu.
Ifah tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut, karena dirinya masih bisa membeli makanan yang lainnya daripada harus mempermasalahkan soal makanan. Meskipun Ifah terus menenangkan Dewi agar tidak keluar dari pekerjaannya, akan tetapi Dewi sudah memiliki keputusan yang bulat hingga tidak bisa diganggu gugat.
Risda tidak tau lagi nasibnya akan seperti apa, apalagi dirinya yang masih terikat sekolah ditempat itu. Dewi kenal dengan seseorang yang baru pindahan disebelah rumah Ifah, sehingga dirinya menitipkan Risda disana, apalagi pemilik rumah itu memiliki seorang Adik yang dekat dengannya.
Namanya Lasmi, seorang Ibu rumah tangga yang memiliki Adik laki laki seorang duda. Adiknya itu memiliki hubungan yang dekat dengan Dewi beberapa bulan ini, sehingga Dewi yakin untuk menitipkan Risda kepadanya sampai Risda lulus sekolah.
__ADS_1
"Mulai sekarang Risda bisa tinggal sama Bude," Ucap Lasmi kepada Risda.
Risda sendiri merasa tidak enak jika harus berpisah dengan Ibunya, apalagi dirinya harus tinggal dengan orang yang baru dikenalnya itu. Risda ingin sekali menolak, akan tetapi Ibunya terus menasehatinya agar dia bisa tetap sekolah hingga lulus.
"Mbak, ini ada uang 1 juta untuk kebutuhan Risda selama 1 bulan sekaligus biaya untuk makannya disini," Ucap Dewi kepada Lasmi.
Melihat ada uang 1 juta didepan mata, Lasmi pun merasa senang sehingga dirinya bisa menerima Risda tinggal ditempat itu, dan bersikap baik kepada Risda. Risda dititipkan dirumah itu dan dirinya tidur dikamar paling belakang.
Risda pun melepas kepergian dari Ibunya dengan berat hati, ini adalah hari pertamanya tinggal bersama dengan orang asing. Dengan tangisan, dirinya mengiringi kepergian dari Ibunya itu, barang barang yang dibutuhkan oleh Risda pun telah dipindahkan dirumah tersebut.
Disanalah penderitaannya akan dimulai. Setelah kepergian dari Dewi, mendadak sikap dari Lasmi berubah total. Risda pun diperlakukan layaknya seperti seorang pembantu, dirinya harus membersikan rumah itu dan juga melakukan apapun dengan sendiri.
Diusia yang baru menginjak 12 tahun, dirinya sudah melakukan semuanya sendiri termasuk juga dengan mencuci pakaian, setelika baju, menyapu rumah itu, dan bahkan dirinya mencuci piring sendiri dirumah besar itu. Nyatanya kebiasaanya jarang sarapan pagi sudah dirinya lakukan semenjak tinggal bersama dengan Lasmi, karena Lasmi tidak pernah bagun pagi dan dia akan bangun ketika waktu menunjukkan pukul setengah 8 pagi.
"Jangan pernah ngadu sama Ibumu, atau kamu ingin Ibumu kehilangan pekerjaannya? Dia baru saja bekerja ditempat lain, jangan menyusahkan jadi anak," Ucap Lasmi setiap kali Risda menangis karena ulahnya.
Risda benar benar diperlakukan layaknya seorang pembantu, bahkan dianggap sebagai beban baginya saat ini. Dia bahkan jarang makan nasi baru, dan biasanya dirinya akan makan nasi sisa kemarin yang sengaja dipanaskan oleh Lasmi.
"Bude, Risda minta uang untuk biaya les komputer disekolah," Ucap Risda kepada Lasmi.
"Bude nggak punya uang, Ibumu belum ngirim uang sama sekali," Ucapnya dengan nada kasar.
"Tapi Bude, katanya Ibu sudah menitipkan uang di Bude waktu itu," Ucap Risda sambil mengingat ingat.
"SUDAH DIBILANGIN MASIH AJA NGEYEL!" Bentak Lasmi kepada Risda hingga membuat Risda terdiam.
Ingin sekali dirinya mengadu kepada Ibunya, akan tetapi Lasmi selalu mengancamnya. Karena anak yang masih berusia belasan tahun, akan ketakutan jika diancam seperti itu oleh orang yang lebih dewasa darinya.
Risda pun pasrah dan kembali kedalam kamarnya, dirinya pun menutup pintu kamarnya dari dalam. Risda pun menangis sesenggukan didalam kamarnya karena bentakkan tersebut, rasanya sakit sekali ketika menerima bentakkan dari seseorang apalagi diusia Risda yang masih kecil.
Sejak kecil dirinya sudah mendapatkan tekanan mental, bahkan impiannya untuk bahagia tidak dapat dirinya rasakan. Beruntunglah dirinya yang masih memiliki uang cadangan yang diberikan oleh Ayahnya setiap hari ketika dirinya pergi mengaji, Ayahnya akan memberikan yang sebanyak 10 ribu setiap harinya.
Ayahnya hanya bisa menemuinya ketika Risda sedang berangkat mengaji disebuah TPQ Shofia An-Nur. Risda pun menyimpan rapat rapat uangnya itu agar tidak ada yang tau bahwa dirinya memiliki uang cadangan, karena uang yang diberikan oleh Ibunya tidak pernah sampai kepadanya.
Risda jarang sekali menjajankan uangnya itu, sehingga uangnya itu terkumpul untuk biaya les private yang dirinya ikuti. Karena les tersebut sangat wajib bagi seluruhnya, sehingga mau tidak mau mereka harus mengikutinya ketika menginjakkan kaki dibangku kelas 6 SD.
Risda menangis sesenggukan didalam kamar yang sempit itu, karena hatinya yang sangat terluka membuatnya tidak mampu untuk mengkondisikan air matanya. Sehingga akibat dari tangisannya itu, langsung membuat dirinya tertidur dengan pulasnya.
Ketika bangun, dirinya pun merasa lapar. Risda pun bergegas untuk menuju kedapur untuk mencari sesuatu yang bisa dirinya makan, akan tetapi tidak menemukannya. Lalu dirinya beralih menuju ke kemari es untuk mencari sesuatu yang bisa dimakan, dan dirinya melihat 1 cengkeh pisang yang gemuk.
Tanpa berpikir panjang dirinya pun lalu mengambil pisang itu 1 buah, akan tetapi tiba tiba Lasmi langsung menyambar buah yang ada ditangan Risda itu. Risda pun langsung terkejut karena hal itu, karena tiba tiba pisang yang ada ditangannya diambil oleh Lasmi dengan cara kasar.
"NGAPAIN KAMU!" Bentak Lasmi dengan kerasnya kepada Risda.
"Bude, aku minta buahnya satu saja. Aku lapar banget," Ucap Risda memohon.
"Nggak ada! Jangan pernah makan makananku sembarangan, oh jadi tuduhan itu benar ya? Emang dasar maling,"
"Aku tidak pernah maling," Ucap Risda lirih.
"Terus ini apa buktinya? Emang buah ini milikmu? Enak aja main ngambil sembarangan, jangan macam macam dirumah ini ya, aku bisa saja melakukan apapun yang aku mau. Tidak ada yang bisa menolongmu disini, ingat itu!"
Lasmi lalu meremat buah pisang yang ada ditangannya itu, dirinya pun langsung membuangnya dikaki Risda. Risda pun merasa sayang ketika buah itu dibuang begitu saja, padahal dirinya merasa sangat lapar saat ini.
"Makan itu!" Sentak Lasmi kepada Risda.
Setelah mengatakan itu, Lasmi pun langsung pergi dari hadapan Risda. Setetes air mata Risda pun jatuh ketika menatap nanar kearah buah pisang itu, lebih baik dirinya makan tadi sehingga tidak terbuang begitu saja tapi sekarang buah tersebut terbuang dengan mubazir.
__ADS_1
"Sayang sekali kalau dibuang, lagian dalamnya juga tidak kotor," Guman Risda lirih sambil memungut buah pisang itu.
Risda pun membawanya menuju kekamarnya, dirinya lalu memakannya dengan perlahan lahan untuk mengurangi rasa laparnya itu. Dirinya tidak peduli dengan kotor atau bersihnya buah itu, asalkan rasa laparnya bisa terkurangi.