
Hari pun berlalu dengan cepatnya, dan kini adalah waktunya untuk pergi kesekolah malam hari. Esok hari mereka akan pergi untuk melakukan tour sehingga mereka harus berangkat dimalam ini untuk menuju kesekolahan.
Risda tengah menyisakan peralatan yang akan dirinya bawa saat ini, entah apa saja yang ia bawa kali ini sehingga tas ransel miliknya pun penuh terisi, setelah itu dirinya pun berangkat kesekolah dengan diantar oleh suami Kakak itu.
Sesampainya disekolahan, Risda langsung menuju keaula sekolah tersebut untuk bergabung dengan yang lainnya. Yang ikut dalam acara tersebut hanyalah siswa baru beserta OSIS yang ada disekolahnya itu, dan juga para Guru yang akan membimbing mereka.
"Woi Da, kemari!" Ucap seseorang sambil melambaikan tangan kepada Risda ketika dirinya baru melewati pintu masuk aula.
Risda pun langsung bergegas untuk mendatangi teman temannya itu, dan bergabung bersama mereka disana. Risda pun langsung duduk didekat mereka setelah menaruh tas miliknya ditempat dimana teman temannya menaruh tas mereka.
"Kalian kok sudah ada disini aja? Berangkat jam berapa?" Tanya Risda penasaran kepada mereka.
"Gue berangkat pertama daripada dua orang ini, gue berangkat habis sholat magrib," Jawab Mira dengan bangganya.
Waktu itu menunjukkan pukul 8 malam, mereka sebenarnya diperintahkan untuk datang kesekolahan setelah selesai sholat isya', akan tetapi Mira begitu antusiasnya untuk pergi rekreasi sehingga dirinya berangkat lebih awal daripada yang lainnya.
"Aneh emang lo, gue aja jam 8 baru berangkat," Ucap Risda.
"Biasa Ris, ada yang diincer oleh dia." Ucap Rania.
"Hah? Emang siapa yang diincer sama Mira?"
"Lo tau Mas Fahmi kan? Yang anggota OSIS lama itu loh, dia kan inceran si Mira," Jawab Septia.
"Tapi dianya ngak suka sama Mira, terlalu bawel," Tambah Rania.
"Pffttt.." Risda menahan tawanya mendengar itu, dan langsung membuat ekspresi Mira terlihat begitu galaknya, "Ra, lo jangan kayak gitu deh, lo bukannya nyeremin malah bikin ngakak, anjiiirrr! Buahahaha..."
Wajah Mira pun berubah menjadi merah padam karena ucapan dari Risda, tangannya pun langsung melontarkan sebuah pukulan yang tepat mengenai punggung Risda dengan kerasnya.
Bhukk...
"Anjiiiiigggg! Sakit pe'ak!" Umpat Risda akan tetapi Risda sama sekali tidak membalas pukulannya itu.
"Mangkanya jangan ngejek gue!" Seru Mira yang merasa puas karena mampu untuk memukul Risda.
Mereka pun tertawa bersama sama dan menghabiskan malam tersebut dengan canda tawa. Tepat pukul 11 malam Risda terbangun dari tidurnya karena kepengen buang air kecil, ia pun bangkit dari tidurnya dan hendak keluar dari aula sekolahan tersebut.
Akan tetapi langkahnya berhenti ketika melihat adanya kegelapan yang menyelimuti tempat tersebut, karena memang waktunya tidur sehingga diluar aula tersebut terlihat begitu sepi. Aula itu berada dilantai dua, sementara lantai 2 tidak ada kamar mandinya sehingga dia harus turun ke lantai bawah.
"Ngeri kali lihatnya, kalo gue bangunin temen gue ngak enak juga sih. Jadi kekamar mandi ngak ya?" Guman Risda sambil menatap kekosongan yang ada diluar aula.
Para murid masih tertidur dengan lelapnya karena kelelahan, nanti jam 2 malam mereka akan dibangunkan untuk bersiap siap pergi naik bus yang telah disewa untuk rekreasi.
"Bismillah,"
Risda pun membulatkan tekadnya untuk tetap pergi kekamar mandi karena dirinya sudah tidak tahan untuk menahan hasratnya yang ingin buang air kecil itu, dengan mengucapkan basmalah dirinya pun bergegas keluar dari ruang aula tersebut untuk menuju kearah tangga.
Dengan cepatnya dirinya menuruni tangga tersebut, ruangan untuk laki laki dan wanita itu terpisah, wanita berada diruang aula sekolah sementara untuk yang laki laki berada diruang kelas yang ada dilantai bawah.
Lorong untuk menuju kekamar mandi pun terlihat menyeramkan meskipun telah diterangi oleh lampu disetiap teras yang akan dilaluinya. Risda pun nampak begitu ragu untuk melangkah maju, tapi karena hasratnya tersebut dirinya mencoba untuk memberanikan diri.
Ia merasa ada seseorang yang tengah mengikutinya dari belakang, Risda pun takut untuk menoleh kebelakang. Bayangan film film yang menyeramkan yang pernah ia tonton itu pun mulai bergentayangan didalam ingatannya.
"Mbak kunti, Paman pocong, Om Genderuwo, Nenek lampir, tolong jangan ganggu saya ya, pliss.. saya mau pipis dulu." Ucap Risda menyebutkan sekawanan mereka sebagai saudara.
Tiba tiba seekor burung hantu pun terbang kearah atap bangunan yang ada didepan bangunan tempat Risda berdiri. Melihat itu pun langsung membuat Risda menutup kedua matanya karena terkejutnya, burung hantu itu pun menatap tajam kearah Risda hingga membuat Risda melototkan kedua matanya.
"Ngapain lo melototin gue!" Teriak Risda meneriaki burung tersebut, "Lo berani sama gue ha? Maju lo sekarang dasar burung brukutut!"
Risda pun mengangkat tangannya kearah burung itu untuk menantangnya, akan tetapi tiba tiba pundaknya dipegangi oleh seseorang dari belakangnya. Risda yang merasakan itu pun tidak mampu untuk bergerak, dirinya pun terpaku karena takut untuk melihat kearah seseorang yang memegangi pundaknya tersebut.
"Setaan ya?" Tanya Risda lirih tapi dirinya tidak berani untuk menoleh ke belakangnya.
"Risda," Panggil orang tersebut dengan nada yang mengerikan hingga membuat bulu kuduknya berdiri dan merinding ketakutan.
"Aaaa....." Teriak Risda dan orang yang ada dibelakangnya secara bersamaan ketika Risda menoleh kebelakang.
Teriakan keduanya pun berhenti ketika Risda menyadari siapa yang tengah berdiri dibelakangnya itu, wajahnya yang ketakutan sebelumnya kini berubah menjadi wajah jengkel kepada seseorang itu. Orang itu adalah Satria yang melihat Risda keluar dari ruang aula, memang dirinya dan yang lainnya belum tidur, dan memilih untuk begadang sampai bus datang.
"Lo ngagetin aja anjiiirrr!" Umpat Risda kepada Satria.
__ADS_1
"Ngapain lo malem malem disini? Mau digondol sama Mak lampir?"
"Omongan lo! Gue pengen kekamar mandi tau, lo sendiri kenapa belom tidur? Mau ngintipin gue ha?" Tanya Risda yang sedikit sensi kepada Satria.
"Ya elah, Da Da. Pikiran lo selalu buruk aja sama gue, gue lihat lo keluar aula sendirian, gue curiga sama lo kalo mau ngintipin cowok cowok yang lagi tidur. Mangkanya itu gue ikutin lo,"
"Sialan lo, Sat. Ngapain gue ngintipin cowok? Ngak ada gunanya buat gue,"
Meskipun mereka terlihat ramai akan tetapi tidak seorang pun yang mendengarnya, karena semuanya berada diaula dan ruang kelas yang ada didepan, sementara kamar mandi disekolahan itu memang ada dibelakang sehingga keributan itu tidak ada yang mendengarnya.
"Lo yakin mau kekamar mandi sendirian? Lo ngak ngeri apa, Da? Denger denger nih kamar mandi disekolah ini itu berhantu, apalagi kamar mandi cewek. Yang jaga disana itu adalah suster ngesot, kalo lo teriak sekalipun tidak ada yang denger,"
"Beneran lo? Terus gue mau kencing dimana anjiiirr! Lo nakut nakutin aja sat bangsaat!"
"Gue ngak nakuti nakutin, anjiing! Gue ngomong kayak gini buat memperingati lo biar ngak digondol sama tuh penunggu disana. Mau gue anterin?"
"Ogah, lo pasti mau ngintipin gue kan? Ngomong aja lo, siapa juga yang mau lo anterin?"
"Pikiran lo terlalu buruk tentang gue, Da. Emang lo mau kesana sendirian? Terus kalo lo digentayangin sama penghuni sana emang lo mau apa?"
Bener juga sih apa yang dikatakan Satria, tapi masak iya sih gue harus dianterin sama nih orang. Batin Risda.
"Ogah!" Jawab Risda.
"Yaudah, pergi saja Sono sendirian. Tapi hati hati, soalnya kamar mandinya dibelakang,"
Risda pun membalikkan badannya dan memandangi lorong yang teramat panjang baginya itu. Tiba tiba seseorang memegangi pundak Satria, hingga lelaki itu langsung diam mematung bagaikan batu karana dipegangi oleh seseorang tiba tiba.
Merasakan bahwa Satria hanya diam saja membuat Risda kembali membalikkan badannya, ia terkejut menatap sesuatu yang ada dibelakang Satria sehingga tatapan Risda membulat sempurna, melihat tatapan Risda seperti itu langsung membuat Satria semakin merinding.
Satria pun memberanikan diri untuk menoleh kebelakang, melihat keberadaan dari Afrenzo langsung membuatnya terkejut bukan main, ia pun tersentak kebelakang karena sangking terkejutnya itu.
"Re.. Re.. Renzo.." Ucap Satria terbata bata.
"Ngapain kalian berdua keluyuran dijam segini?" Tanya Afrenzo dengan nada dingin yang paling dingin kepada keduanya.
"Kita ngak ngapa ngapain, Renzo. Lo jangan salah paham," Ucap Satria.
"Kembali ke aula sekarang!" Perintah Afrenzo yang memang tidak mau dibantah.
"Renzo, gue mau kekamar mandi. Dia nih nakut nakutin gue, hantu itu kan kagak ada kan?" Tanya Risda yang memang tidak mau kembali ke aula karena hasratnya yang pengen buang air kecil.
"Buruan."
"Tapi gue takut, gara gara nih bocah," Ucapnya sambil menunjuk tidak suka kearah Satria.
"Gue kan berbaik hati sama lo, Da. Gue mau nawarin lo untuk gue anterin kekamar mandi, tapi lo nya malah berburuk sangka sama gue," Ucap Satria.
"Gue ngak yakin sama lo, Sat. Jangan jangan emang lo mau bermaksud lain sama gue,"
"Ya ampun, Da. Kan lo yang terus berburuk sangka sama gue, padahal gue ini niatnya baik sama lo loh."
"Ngak! Gue curiga sama lo, bagaimana bisa lo tau kalo gue keluar dari aula? Jangan jangan emang lo mau mata matain gue ya? Ngaku lo!"
"Buruan, gue anterin," Ucap Afrenzo untuk menengahi keduanya yang tengah berdebat.
Afrenzo pun bergegas melangkah menuju kearah kamar mandi, melihat itu langsung membuat Risda bergegas untuk menyusulnya. Satria yang menyaksikan kepergian keduanya pun mendengus kesal karena Afrenzo yang tiba tiba datang untuk membawa Risda.
"Renzo, jalan lo cepet amat sih, bisa pelan dikit kagak?" Keluh Risda yang kalah cepat dengan langkah Afrenzo.
Mendengar keluhan dari Risda itu pun langsung membuat langkah Afrenzo sedikit memelan daripada sebelumnya, kini Risda sudah berada disampingnya. Risda menatap kearah wajah Afrenzo yang terlihat tanpa ekspresi itu.
"Renzo, tadi tidak seperti yang lo lihat kok, beneran deh. Gue ngak tau apa apa soal tadi, lo jangan salah paham ya," Ucap Risda yang masih saja merinding ketika melihat wajah Afrenzo yang tanpa ekspresi.
"Sudah sampek, cepetan masuk!" Perintah Afrenzo kepada Risda yang tidak menyadari bahwa kini keduanya sudah berada didepan kamar mandi cewek.
"Lo yakin kagak ada hantu disini kan? Gue takut banget, Renzo. Ini beneran aman kan?" Tanya Risda yang merasa ngeri dilingkungan sekitarnya itu.
"Aman," Jawab Afrenzo singkat.
"Jangan kemana mana, jangan tinggalin gue disini ya. Awas aja sampek lo ninggalin gue, gue bakalan marah besar sama lo," Ancam Risda kepada Afrenzo.
__ADS_1
"Gue janji."
"Baiklah, gue masuk dulu."
Risda pun bergegas masuk kedalam kamar mandi itu, dan menutup pintunya dengan rapat. Afrenzo masih tetap ditempatnya tanpa bergerak, ia menunggu Risda diluar kamar mandi dan tidak memedulikan para nyamuk yang tengah mengigitinya itu.
"Renzo!" Teriak Risda dari dalam.
"Ada apa?" Tanya Afrenzo dan langsung mendekat kearah pintu tersebut.
"Jangan tinggalin gue ya! Tungguin gue diluar, dan jangan kemana mana,"
Mendengar itu hanya membuat Afrenzo menghela nafasnya, ia pikir terjadi sesuatu dengan Risda akan tetapi nyatanya hanya ucapan seperti itu yang keluar dari mulut Risda untuk memastikan keberadaan dari Afrenzo.
"Iya, gue jaga disini."
"Jangan kemana mana, gue takut."
Afrenzo pun masih berdiri didepan kamar mandi tersebut, cukup lama Risda didalam kamar mandi tersebut hingga membuatnya memejamkan kedua matanya sambil berdiri dan bersandar disebuah tembok yang berada tidak jauh darinya.
Tak beberapa lama kemudian akhinya Risda keluar dari kamar mandi itu, suara pintu yang terbuka langsung membuat Afrenzo membuka kedua matanya kembali. Risda langsung menghampiri dimana Afrenzo berdiri saat ini, akhinya hasratnya telah terlaksana.
"Maafin ya lama, soalnya perut gue agak mules tadi," Ucap Risda yang merasa tidak enak karena Afrenzo menunggunya terlalu lama.
"Ngak papa, ayo kembali ke aula," Ajaknya kepada Risda.
"Ayo,"
Keduanya pun berjalan kembali menuju keaula, lorong yang sepi tersebut pun hanya terdengar suara langkah kaki dari keduanya. jarak antara kamar mandi dan aula cukup jauh sehingga membuat Risda merasa tidak enak dengan Afrenzo, dan dia berpikir bahwa dirinya telah merepotkan Afrenzo saat ini.
"Renzo, menurut lo hantu itu ada atau ngak?" Tanya Risda tiba tiba.
"Ada," Jawabnya singkat.
"Lo pernah lihat mereka? Wajah mereka gimana? Apakah menyeramkan?" Tanya Risda dengan antusiasnya.
"Mereka cantik, dan tidak selalu menakutkan."
"Bagaimana mungkin? Biasnaya di film film yang pernah gue tonton selalu menyeramkan dan selalu datang tiba tiba begitupun dengan menghilang,"
"Dunia ini tidak hanya ada alam yang dapat dilihat, tapi juga alam yang tidak bisa dilihat oleh manusia. Mereka cantik, mirip seperti manusia, tapi mereka punya kekuatan sihir yang mampu merubah wujud mereka seperti apa yang mereka mau," Jelas Afrenzo panjang lebar kepada Risda.
"Lo bisa melihat mereka? Kenapa lo bisa mengatakan hal seperti itu?"
"Bisa, semakin lo penasaran dengan mereka, maka mereka akan semakin sering muncul dihadapan lo,"
Setelah mengucapkan itu, Afrenzo pun menambah kecepatan berjalannya, dan hal itu langsung membuat Risda berlari mengejarnya dan memegangi tangannya dengan erat karena takutnya. Risda merasa merinding ketika Afrenzo mengatakan hal itu kepadanya saat ini, dan hal itu membuat Risda tidak mau melepaskan pegangan tangannya dari tangan Afrenzo.
"Setelah ini tidur, sudah jam 12 malam. Jangan kelayapan," Ucap Afrenzo.
"Gue masih takut, Renzo. Gimana kalo mereka menampakkan diri dihadapan gue nantinya?"
"Pukul aja pake tangan, atau tendangan. Mereka bakalan ngilang sendiri nanti,"
"Gue ngak seberani lo, Renzo. Ya kali gue berani sama mahluk seperti mereka yang bisa ngilang sendiri, nanti gue dibawa pergi sama mereka gimana? Terus Nyokap gue kalo nyari gue dimana?"
"Ngak akan, selama lo punya pegangan ilmu agama."
"Ngaji aja kagak pernah, sholat pun jarang. Pegangan ilmu agama seperti apa?"
"Mangkanya banyakin ngaji, sholatnya ditekuni."
"Gue akan usahakan,"
"Omongannya dijaga, jangan kebanyakan mengumpat. Ngak baik,"
"Kenapa lo jadi bawel seperti Nyokap gue sih? Kayak bukan Renzo yang gue kenal deh, Renzo kan dingin."
"Demi kebaikan lo,"
Keduanya pun telah sampai didepan pintu aula, Afrenzo lalu menyuruh Risda untuk masuk dan tidur. Risda pun hanya menurutinya dan bergegas meninggalkan Afrenzo untuk masuk kedalam kelasnya.
__ADS_1