
Risda kini tengah berada didalam kamarnya, dirinya saat ini sedang menangis karena tidak diizinkan untuk ikut latihan malam. Meskipun dirinya sudah menunjukkan undangan tersebut, akan tetapi Kakaknya terus memprovokasi Ibunya untuk tidak mengizinkan Risda ikut.
"Kenapa sih mereka ngak bisa ngertiin gue?" Ucap Risda dengan kesalnya sambil memukuli bantal yang dirinya pegang saat ini.
Dirinya ingin marah saat ini, entah kenapa ucapan Kakaknya justru dipercaya oleh Ibunya daripada ucapan dirinya itu. Risda tidak ingin macam macam, dirinya hanya ingin mengikuti latihan malam saja.
"Gue ngak pernah minta apapun selama ini, gue hanya ingin bahagia doang. Apakah itu terlalu sulit untuk dikabulkan? Kenapa harus gue? Kenapa?"
Dirinya pun membaringkan tubuhnya dikasur kamarnya, dirinya sangat tidak suka dengan kata tolakan yang diucapkan oleh Ibunya itu. Setelah menangis bergitu lama, akhinya Risda pun tertidur dengan lelapnya.
Tidur setelah menangis adalah sebuah tidur yang penuh dengan kenyamanan. Kalian tau kenapa tidur setelah menangis itu nyaman? Karena itu adalah sebuah kasih sayang yang Allah berikan kepada kita, Allah ingin mengistirahatkan jiwa kita yang lelah setelah menangis.
Menangis itu indah, sehat, dan simbol kejujuran. Pada saat yang tepat, menangislah sepuas-puasnya dan nikmatilah karena tidak selamanya orang bisa menangis. Orang-orang yang suka menangis sering kali dilabeli sebagai orang cengeng. Cengeng terhadap Sang Khalik adalah positif dan cengeng terhadap makhluk adalah negatif.
Orang-orang yang gampang berderai air matanya ketika terharu mengingat dan merindukan Tuhan nya, air mata itu akan melicinkannya menembus surga. Air mata yang tumpah karena menangisi dosa masa-masa lalu akan memadamkan api neraka.
Hal itu sesuai dengan hadis Nabi, bahwa ada mata yang diharamkan masuk neraka, yaitu mata yang tidak tidur semalaman dalam perjuangan fisabilillah dan mata yang menangis karena takut kepada Allah.
Seorang sufi pernah mengatakan, jika seseorang tidak pernah menangis, dikhawatirkan hatinya gersang. Salah satu kebiasaan para sufi ialah menangis. Beberapa sufi, mata dan mukanya menjadi cacat karena air mata yang selalu ber derai.
Tuhan memuji orang menangis. Dan, mereka menyungkurkan wajah sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk." (QS al-Isra' [17]:109). Nabi Muhammad SAW juga pernah berpesan. "Jika kalian hendak selamat, jagalah lidahmu dan tangisilah dosa-dosamu."
*****
Pagi harinya, Risda segera bergegas untuk menemui Afrenzo, kali ini Afrenzo tengah berada didalam kelasnya sambil membaca buku yang berada dimejanya. Risda datang dengan wajah yang ditekuk, melihat itu langsung membuat Afrenzo mendongakkan wajahnya.
"Renzo," Panggi Risda lirih dengan kedua mata yang berkaca kaca.
"Kenapa?" Tanya Afrenzo dan langsung bangkit dari duduknya.
Tidak biasanya wanita itu akan menangis seperti ini ketika menemuinya, Risda yang selalu ceria didepan semua orang itu pun tengah lemah dihadapan Afrenzo. Risda pun tidak menjawab ucapan dari Afrenzo, akan tetapi dirinya langsung menghapus air matanya dengan kedua tangannya.
"Siapa yang buat lo nangis? Katakan, Da!" Tanya Afrenzo dengan seriusnya.
"Nyokap gue ngak ngizinin gue ikut latihan malam, padahal gue ingin sekali ikut, Renzo. Kenapa sih mereka ngak pernah mau ngertiin gue?" Tangis Risda pun pecah setelah mengatakan itu.
"Kenapa ngak boleh? Alasannya apa?"
"Katanya cewek ngak boleh ikut gituan hiks.. hiks.. hiks.., Mereka bilang nanti bakalan dilecehkan sama temen temen cowok, kan yang ikut latihan malam kebanyakan adalah cowok. Jadi mereka ngak ngizinin gue ikut," Ucap Risda tersegal segal karena sedang terisak tangis.
"Gue paham, lo izinnya ngomongnya gimana?"
"Gue izin kalo organisasi beladiri mau ngadain latihan malam, terus Nyokap gue tanya 'ceweknya ada berapa yang ikut? Beladiri kan kebanyakan cowok' gitu, lalu gue jelasin ke dia, tapi Kakak gue langsung memprovokasi Nyokap gue, Renzo. Gue benci sama Kakak gue,"
Risda terus berbicara meskipun dirinya sedang terisak tangis sesenggukan, melihat itu langsung membuat Afrenzo menggerakkan tangannya untuk mengusap pelan puncak kepala Risda. Usapan tersebut membuat Risda merasa sedikit lega daripada sebelumnya, mungkin hanya Afrenzo yang bisa membuatnya seperti itu.
"Masih ada waktu, lo coba lagi nanti, jangan nyerah gitu aja, Da. Gue yakin kalo Nyokap lo bakalan ngizinin lo nanti,"
"Terus gue harus gimana, Renzo? Mereka ngak bakalan setuju,"
"Jelasin pelan pelan, kalo memang ngak boleh ikut, ngak papa kok ngak ikut, lain waktu kita ngadain lagi."
"Tapi gue pengen ikut! Hua.... hiks.. hiks.. hiks.." Sentak Risda kepada Afrenzo, "Gue ngak pernah minta apapun ke mereka, gue hanya ingin bahagia doang, Renzo. Apakah itu sulit untuk dilakukan? Apa gue ngak pantas untuk bahagia? Kenapa harus gue yang ngalamin ini semua? Kenapa?"
"Tenang, Da. Allah ngak akan pernah menguji suatu kaum melebihi batas kesanggupannya, dan Allah ingin menguatkan pundak lo agar bisa menjadi wanita yang kuat nantinya."
"Tapi ini diluar batas kemampuan gue, Renzo. Mereka ngak tau apa yang gue alami selama ini, gimana gue mencoba bangkit sendiri tapi dengan mudahnya mereka jatuhkan kembali,"
"Sudah jangan nangis, berusaha lagi nanti."
Dengan pelannya, Afrenzo terus mengusap kepalanya dengan lembut, tangan lelaki itu bisa kasar bahkan juga bisa lembut. Risda pun mengangguk pelan setelah mendengar ucapan Afrenzo, ia pun langsung mengusapi air matanya itu.
"Eh Risda kamu kenapa?" Tanya seseorang yang tiba tiba masuk kedalam kelas tersebut, dia adalah Benni.
"Lo gigit!" Jawab Risda dengan sebalnya.
"Tapi gigiku kan ngak ada taringnya, Risda. Kapan aku gigit kamu? Kok aku ngak tau sih?"
"Udah ah, berisik amat lo!"
"Aku ngak berisik kok, aku anak yang penurut dan juga baik hati,"
"Kata siapa lo?"
"Ibuku yang bilang, aku kan anak gantengnya tersayang. Lagian katanya juga aku ini pintar,"
"Terserah lo!" Sentak Risda.
Setelah mengatakan itu, Risda pun langsung bergegas untuk keluar dari kelas tersebut. Dirinya tidak ingin berlama lama lagi disana karena adanya Benni diantara mereka, meladeni Benni diluar batasnya.
__ADS_1
"Renzo, dia kenapa?" Tanya Benni sambil memandang kepergian dari Risda.
"Bisa diem, ngak?" Tanya Afrenzo balik dengan malasnya.
"Ngak, kan aku hanya nanya saja, Renzo. Apa salahnya coba?"
"Katanya mau jadi anak yang penurut, ikuti ucapan gue!" Sentak Afrenzo di kalimat terakhirnya hingga membuat Benni bergitu terkejut.
"Renzo jangan galak galak, pantas saja ngak laku laku sejak dulu,"
Afrenzo pun mengabaikan ucapan Benni itu, dirinya kembali duduk dibangkunya tersebut dalam diamnya. Lelaki itu kebiasaan berdiam diri, sehingga semua menduga bahwa Afrenzo itu sombong, karena dia tidak suka bercanda ataupun berbicara terlalu lama.
*****
"Lo kenapa, Da?" Tanya Mira ketika melihat Risda seperti habis menangis ketika keluar dari kelas Afrenzo.
"Gue ngak papa," Jawab Risda mencoba untuk terlihat baik baik saja.
"Udah gue bilang kan? Renzo itu hanya bisa nyakitin lo doang, tapi kenapa lo masih aja deket deket sama dia? Mending lo jauhi dia sebelum terlambat, Da."
"Gue ngak mau! Renzo tidak seperti apa yang lo bilang, Ra. Kalo lo maksa seperti ini, gue makin ngak suka dengan lo,"
Risda pun langsung bergegas untuk pergi meninggalkan Mira, Mira pun merasa aneh dengan Risda kali ini, karena tidak biasanya gadis itu akan bersikap seperti itu kepadanya.
Risda langsung bergegas masuk kedalam kelasnya itu, pertengkaran itu terjadi didepan pintu kelas mereka sehingga teman teman yang lainnya pun tau. Melihat itu langsung membuat mereka semua juga terkejut, tidak biasanya Risda akan terbawa emosi seperti ini.
"Lo berantem sama Mira, Da? Kenapa?" Tanya Rania.
"Tanya aja sendiri," Jawab Risda dengan kesalnya.
Risda seakan akan tidak mau menatap kearah Mira, melihat itu langsung membuat Mira mengambil tas miliknya dan pergi untuk duduk jauh dari Risda. Risda tidak peduli dengan hal itu, kini dirinya hanya duduk sendirian disebuah bangku.
Sejak saat itu mereka pun bertengkar, dan Risda lebih memilih untuk berteman dengan Kartika daripada keempat sahabat barunya itu. Mereka semua bingung dengan apa yang dilakukan oleh Risda itu, bahkan Risda juga menjauhi mereka semua dan lebih memilih untuk bersama dengan Kartika.
Bahkan untuk menatap muka mereka saja, Risda terlihat sangat muak. Meskipun sedang bersisipan jalan, Risda menganggap mereka seperti orang asing yang tidak dikenal olehnya.
*****
Risda mencoba berbagai macam cara untuk bisa membujuk Ibunya agar mengizinkan dirinya untuk pergi latihan malam disaat sabtu malam minggu nanti. Akan tetapi, Ibunya masih saja tidak menyetujuinya untuk ikut, dan dirinya takut kalau anaknya kenapa kenapa.
Risda pun lalu mengirim pesan kepada Afrenzo melalui ponselnya, akhinya dirinya mendapat nomor telpon milik Afrenzo juga
...----------------...
^^^Hay^^^
Siapa?
^^^Lo lupa sama gue, Renzo?^^^
Hem?
^^^Gue Risda! Lo sendiri yang ngasih nomer ini ke gue^^^
Kenapa?
^^^Ngak direal ngak di chat, masih aja cuek^^^
^^^Gue masih ngak diizinkan untuk ikut, gimana nih?^^^
^^^Lo bisa ngasih saran ngak?^^^
Bujuk lagi yang bener
^^^Udah tapi tetep kagak percaya^^^
Bilang aja suruh kesekolah nanti
^^^Baiklah^^^
...----------------...
Risda pun mendapatkan sebuah ide yang bagus, dirinya pun langsung mengirim pesan dilayar ponselnya kepada Ibunya. Hal itu langsung membuat Ibunya segera menelponnya saat itu juga.
"Risda?" Ucap Ibunya ketika sambungan telpon tersebut telah terhubung.
"Kenapa, Bun? Bukannya Bunda udah ngak peduli dengan Risda?" Tanya Risda dengan nada yang dibuat seolah olah tengah bersedih.
"Kenapa Risda ngomong kayak gitu? Bunda ngelarang karena Bunda ngak mau Risda kenapa kenapa, Risda sudah besar kenapa masih saja tidak mengerti maksud dari Bunda?"
__ADS_1
"Risda udah besar, dan Risda tau mana yang benar dan salah. Risda bener bener pengen ikut latihan itu, Bun. Kenapa Bunda ngak bisa ngertiin perasaan Risda sih?"
"Terus kamu apa sekarang?"
"Izinin Risda ikut, atau Risda bakalan pergi dari rumah ini nanti."
"Terserah,"
"Yaudah Risda tetep ikut latihan,"
"Hem."
"Uang sakunya mana?"
"Ngak ada,"
"Bunda jahat banget, Risda beneran pergi nih,"
"Iya, nanti Bunda transfer,"
"Makasih Bunda,"
Risda pun memutuskan sambungan telpon tersebut, sebelumnya Risda mengancam Ibunya bahwa Risda akan pergi dari rumsh itu. Hal itu langsung membuat Ibunya bergegas untuk menelpon dirinya, karena takut kalau ancaman Risda benar benar terjadi.
Akhinya, Risda mendapatkan izin juga dari Ibunya itu, meskipun dirinya harus berpura pura untuk menangis. Ia pun menatap kearah layar ponselnya itu, dan tidak sengaja melihat foto profil dari Afrenzo.
Sebuah foto kartun yang teramat lucu dan menggemaskan, mungkinkan Afrenzo sangat menyukai tokoh kartun atau bagaimana. Risda pun tersenyum melihat foto tersebut, biar bagaimanapun juga kartun itu bertolak belakang dengan karakter asli seorang Afrenzo.
"Aneh emang, baru pertama kali gue ngelihat cowok aneh seperti dia."
*****
Bhukk... Bhukk... Brakkk...
"BANGUN LO!"
Bhukk... Dhukk....
"JANGAN LO PIKIR SELAMA INI GUE DIEM KARENA GUE TAKUT SAMA LO, GUE SAMA SEKALI NGAK TAKUT SAMA LO!"
Terlihat dua orang lelaki sedang bertarung dan salah satu dari mereka nampak begitu unggul, sehingga satunya lagi terlihat tidak berdaya karena mendapatkan begitu banyak pukulan yang tidak bisa dirinya hindari.
Bhuuuukkkkk....
Tendangan yang sangat keras pun langsung mengenai perut milik seorang lelaki yang terlihat lemah itu, hingga membuatnya terpental beberapa langkah mundur, dan langsung memegangi perutnya yang terasa sakit.
"Gue ngak akan pernah biarin lo bahagia, Renzo!" Teriaknya setelah terjatuh sambil memegangi perutnya.
"GUE NGAK PEDULI! BANGUN LO SEKARANG!"
Lelaki tersebut pun langsung mencengkeram erat kerah baju pemuda yang terbaring ditanah itu. Dirinya pun dengan paksanya langsung menarik tubuh lelaki itu hingga bangkit berdiri dan langsung menghujaninya dengan beberapa pukulan hingga membuatnya terjatuh.
"Setelah ini lo ngak bakalan selamat, Renzo. Bokap lo bakalan ngehajar lo,"
"Gue ngak peduli! Lo boleh ngak suka sama gue, tapi jangan bawa bawa Bokap gue untuk ngelakuin ini!"
Bhuukkk...
Lelaki itu pun langsung meninju dengan kerasnya pipi pemuda yang ada dihadapan, hingga membuat pemuda itu termuntahkan darah akibat ujung bibir yang sobek dan salah satu gigi yang terlepas.
"Renzo Renzo, selama gue masih ada, lo ngak bakalan tenang. Gue ngak akan biarin lo hidup lebih lama lagi,"
"Gue ngak pernah ikut campur dalam urusan lo, tapi kenapa lo punya dendam ke gue!" Sentaknya.
"Gue ngak suka dengan lo, karena lo, gue dipandang rendah keluarga gue sendiri. Mereka selalu menyanjung lo daripada gue, dan gue ngak akan biarin lo bahagia."
"KENAPA NGAK LO BUNUH SEKALIAN! BIAR GUE CEPET PERGI DARI DUNIA INI!" Bentak seorang Afrenzo.
Kedua lelaki yang sedang bertarung itu adalah Afrenzo dan Bagas. Keduanya adalah saudara sepupu akan tetapi mereka saling membenci, Bagas tidak suka dengan kehadiran dari Afrenzo didunia ini.
Bagi Bagas, Afrenzo adalah penghalangnya untuk mendapatkan kasih sayang dari keluarganya. Oleh karena itu, Bagas sangat membenci Afrenzo, karena sering dibanding bandingkan oleh kedua orang tuanya.
Mereka sangat kagum dengan Afrenzo, sehingga memaksa anaknya untuk bisa seperti Afrenzo. Akan tetapi, karena paksaan itu membuat anaknya sangat membenci Afrenzo, dan bahkan tidak akan membiarkan dirinya untuk bahagia walaupun hanya sebentar saja.
"Gue ngak mau ngotorin tangan gue sendiri,"
"Tapi bukan berarti, lo bisa nyuruh Bokap gue untuk ngelakuin itu, Gas! Kesabaran gue ada batasnya, jadi jangan uji kesabaran gue seperti ini!"
Bhukkkkk...
__ADS_1
Lagi lagi Bagas mendapatkan sebuah pukulan yang dilontarkan oleh Afrenzo, lagi lagi tubuh Bagas pun berbenturan dengan tanah yang ia pinjak saat ini. Melihat Bagas yang sudah tidak berdaya, hal itu langsung membuat Afrenzo bergegas untuk meninggalkan dirinya itu.