
Risda dan yang lainnya menuju kearah parkiran motor setelah terdengar suara bel pulang sekolah berbunyi, mereka langsung bergegas ke sepedah motor mereka masing masing. Kelima anak itu pun menjalankan motor mereka masing masing menuju ke arah depan gerbang sekolahan tersebut, dan mencari informasi mengenai rumah dari Kartika.
"Da, ada Renzo," Ucap Mira ketika menyadari adanya Afrenzo yang berada tidak jauh dari mereka dengan melipat kedua tangannya didepan dadanya dengan bersandarkan pada tembok.
"Ngapain dia? Kan gue udah izin tadi," Guman Risda ketika melihat tatapan Afrenzo terarah kepadanya.
"Kali aja mau ngomong penting sama lo, Da. Mending lo datangi saja dia," Saran Rania.
"Ngak ah, nanti urusannya malah panjang kali lebar. Mending kita berangkat sekarang aja," Ucap Risda.
"Yakin ngak nemuin dia dulu?" Tanya Mira.
"Iya nih, lo kan sangat dekat dengannya, Da. Kali aja dia mau ngomong penting sama lo," Ucap Septia.
"Kalo dia mau ngomong sesuatu sama gue, jelas dia nemuin gue saat ini. Lah ini cuma diem aja, ya ngak mungkin mau ngomong penting,"
"Baiklah, ayo berangkat sekarang saja. Nanti keburu kesorean sampai saja, lagian rumah Kartika kan cukup jauh dari sini,"
"Baiklah, ayo berangkat."
Mereka pun dengan serempak langsung menyalakan motor masing masing, Risda dan yang lainnya langsung bergegas meninggalkan tempat itu untuk menuju kearah rumah Kartika. Melihat kepergian dari Risda, Afrenzo pun kembali masuk kedalam aula beladiri yang dirinya berada saat ini.
*****
"Keknya bener ini gang rumahnya deh," Ucap Risda sambil mengingat ingat.
"Kalo salah gimana?" Tanya Mira.
"Salah ya tanya lah, masak mau berdiam diri doang?"
"Iya juga sih,"
Kini kelimanya tengah berada disebuah gang setelah melakukan perjalanan yang cukup jauh, rumah Anna berada tidak jauh dari tempat itu sehingga Risda bisa mengetahui tempat tersebut, akan tetapi dirinya tidak mengetahui rumahnya yang mana. Risda pun mencoba untuk menghubungi Anna teman satu organisasi beladirinya itu, dan menanyakan rumah milik Kartika.
"Iya bener ini gangnya besti, tapi gue ngak tau rumahnya yang mana, disini kan banyak rumah. Bikin bingung aja," Ucap Risda sambil menatap kearah layar ponselnya itu.
"Mending tanya warga sekitar aja, Da. Daripada kebingungan terus," Saran Rania.
"Lo aja yang tanya, gue kalo berbicara sama orang asing suka gugup," Jawab Risda.
"Emang sialan lo, Da. Bener bener kagak menguntungkan lo ikut," Gerutu Mira.
"Lo mending diem aja deh, Ra. Ngak guna lo bicara," Skak mad. Hingga Mira tidak bisa menjawab ucapan dari Risda.
"Emang bangsaat lo, Da."
"Sttttt.... Sekali bicara gue buang lo disini, lo kan nebeng gue,"
"Tapi kan masih ada Rania, gue masih bisa nebeng ke dia lah,"
"Sono nebeng aja, jangan lupa bayar ongkosnya juga, gue masih miskin."
"Peritungan banget lo sama temen sendiri, emang nih anak minta ditabok malaikat maut keknya, belom tau rasanya saja dia ditabok," Ucap Septia.
"Bukan peritungan, tapi ini bisnis tau. Berhubung gue kan anaknya mandiri, jadi bisa dong ini dibuat untuk menghasilkan duit. Lagian Mira juga anak orang yang berpunya," Ucap Risda yang masih membela diri sendiri.
Memang berdebat dengan Risda tidak akan mungkin pernah bisa menang, apalagi Risda yang pandai berbicara itu. Jangankan menang, bahkan sekali saja dirinya tidak mau kalah jika berdebat dengan orang lain. Risda memang pintar untuk menjawab ucapan orang lain, akan tetapi itu hanya berlaku untuk sahabatnya saja, sementara orang rumahnya sama sekali tidak pernah berbicara dengan dirinya.
Jangankan berbicara dengan orang rumah, Risda bahkan tidak pernah bertegur sapa kepada Indah bahkan mereka itu masih seatap. Risda hanya akan berbicara seperlunya saja, selain itu dirinya hanya akan berdiam diri tanpa berkata, dia tidak akan berbicara sebelumnya diajak bicara.
"Berpunya matamu! Nyokap gue aja pelit kalo buat jajan gue, harus ini lah itu lah terlebih dulu, kalo gue ngak mau jadi gue ngak dikasih duit," Ucap Mira.
"Salah lo sendiri kalo soal itu, lo sih ngak nurut sama orang tua," Ucap Risda.
"Sudah sudah, kalo berdebat terus kapan urusannya akan selesai? Emang mau disini terus panas panasan gini? Gue sih mending pulang saja," Sela Rania yang memang anti panas itu, dirinya tidak suka jika kepanasan seperti saat ini.
"Nda, mending lo saja yang tanya, ngandelin Risda mah kagak ada habisnya," Ucap Septia kepada Nanda.
"Yoi, bentar gue tanya dulu,"
__ADS_1
Nanda langsung turun dari motornya, dirinya pun bergegas untuk mendekati kearah seorang Bapak Bapak yang berada ditepi jalan, dirinya pun bertanya tentang rumah dari Kartika. Entah apa yang mereka bicarakan saat ini, Risda dan yang lainnya pun tidak mendengarnya karena jaraknya cukup jauh dari Nanda. Tak beberapa lama kemudian, Nanda pun kembali bergegas untuk mendatangi tempat dimana teman temannya berada itu.
"Gimana?" Tanya Risda ketika melihat Nanda sudah datang.
"Rumahnya masih agak jauh dari sini, Da. Gang ini masih lurus sampai ada masjid nanti, terus depan masjid ada gang kecil nah setelah itu rumahnya," Jelas Nanda kepada mereka.
"Baiklah, yok gas kesana!"
Risda pun kembali menyalakan sepedah motornya itu, hal itu langsung diikuti oleh yang lainnya. Mereka pun kembali melanjutkan perjalanannya untuk menuju kelokasi tujuan mereka, tak lama kemudian sampailah mereka didepan sebuah masjid yang cukup besar. Mereka pun memarkirkan motornya masing masing disana, karena masuk kedalam gang itu tidak muat jika dilewati oleh motor.
"Baiklah, yok kita turun sekarang." Ajak Rania.
Mereka pun turun dari motor mereka masing masing, karena habis hujan ditempat itu sehingga tanah tempat dimana mereka berpijak itu pun terlihat becek. Akan tetapi, hal itu tidak membuat mereka menyerah untuk datang kerumah Kartika.
"Eh kalian cari siapa ya?" Tanya seorang wanita paruh baya, yang mereka duga adalah Nenek dari Kartika yang sering dirinya ceritakan.
"Kartika nya ada, Nek?" Tanya Risda.
"Ada didalam, dia ngak bisa masuk sekolah tadi, katanya perutnya sakit. Kalian masuk saja,"
Wanita paruh baya itu pun mempersilahkan mereka untuk masuk kedalam rumah tersebut, sementara wanita itu langsung bergegas untuk memanggilkan Kartika. Kelimanya pun duduk disebuah kursi yang ada ditempat itu, sambil menunggu kedatangan dari Kartika yang sedang dipanggilkan oleh Neneknya itu.
"Ngapain kalian?" Tanya Kartika dengan nada yang tidak enak ketika melihat kedatangan kelima teman sekelasnya itu.
"Urusan kita belom selesai," Ucap Rania.
"Gue akan ganti, tapi ngak disini. Jangan sampai orang rumah tau soal ini, mereka ngak ada yang tau,"
"Kenapa? Lo takut kebongkar semuanya dikeluarga lo tentang kelakuan lo? Semua orang juga tau disini, Tik. Kami berlima datang mau meminta pertanggungjawaban dari lo," Ucap Risda sambil melipat kedua tangannya didepan dadanya.
"Iya iya, gue ganti tapi ngak sekarang, gue ngak punya uang."
"Terus hp Nyokap gue dimana? Balikin sekarang," Ucap Nanda.
"Ngak ada, mending kalian pulang saja. Ngak guna kalian disini," Usir Kartika kepada mereka.
"Maksud lo apa'an?" Tanya Kartika dengan nyolotnya.
Ditempat itu hanya ada mereka berenam saja, sementara Nenek dan Tantenya Kartika tengah berada di dapurnya sehingga tidak mendengar ucapan dari mereka. Risda hanya tersenyum miring kepada Kartika, disini justru Risda yang seakan akan memulai perkelahian bukannya malah menenagkan mereka.
"Apa kurang jelas ucapan gue? Mau gue teriak disini?" Tanya Risda balik akan tetapi dengan nada santainya.
"Kenapa jadi lo yang panas sih, Da. Seharusnya kan Nanda yang marah, bukan lo," Ucap Mira mendengar keduanya bertengkar.
"Gue sih santai, dianya aja yang panas," Ucap Risda.
"Sebenarnya gue punya masalah apa sih sama lo, Da? Perasaan sebelumnya gue kagak punya masalah sama lo, kenapa jadi lo yang nyebelin disini?" Tanya Kartika kepada Risda.
"Lo ngak punya salah ke gue, Tapi gue ngak suka orang yang merebut dengan lancang harta milik orang lain, menurut lo gampang cari duit ha?"
"Bukannya lo juga pernah sama, Da? Lo bilang kalo lo juga pernah mencuri kan?"
"Itu hanya karangan gue, Tik. Asal lo tau, gue itu suka ngarang cerita,"
"Awas saja lo, Da. Gue akan bikin perhitungan sama lo nanti,"
"Oh tentu, lo bisa nemuin gue kapanpun yang lo mau. Gue ngak takut sama lo,"
"Pergi kalian dari sini!" Usir Kartika.
Kartika pun menarik tangan Risda dan juga Rania untuk keluar dari dalam rumahnya itu, sementara yang lainnya ikut serta diusir oleh Kartika dari tempat itu. Risda pun mengibaskan tangannya dengan kuatnya hingga membuat pegangan tangan Kartika terlepas begitu saja.
"Tanpa lo usir sekalipun, gue juga males disini," Ucap Risda yang terlihat jijik ketika disentuh oleh Kartika.
"Iya nih, kita juga punya kaki tau, dan masih bisa jalan sendiri. Tanpa lo usir kita juga kagak pengen ada disini sama orang kayak lo," Ucap Rania.
"Ngak guna ngomong sama orang seperti ini, yuk pergi aja temen temen," Ajak Mira.
"Emang ngak guna sekali, mending kita makan makan dicafe daripada dirumah orang seperti ini," Tambah Rania.
__ADS_1
Risda pun mengawalinya untuk pergi dari tempat itu, dirinya pun lalu diikuti oleh teman temannya untuk pergi dari tempat tersebut. Bukannya disambut dengan baik layaknya teman sekelas, justru mereka diusir dari tempat tersebut dan seakan akan tidak memiliki dosa ketika mengusir teman temannya itu.
Tanpa berpamitan mereka pun langsung bergegas untuk meninggalkan tempat tersebut, bahkan tanpa bertemu dulu dengan anggota keluarga Kartika. Mereka pun langsung mengendarai motor mereka masing masing untuk pergi dari tempat itu.
"Setelah ini langsung pulang masing masing?" Tanya Risda ketika sedang mengendarai motornya dengan kecepatan pelan, seperti teman temannya. Hingga suara dari Risda itu pun terdengar oleh mereka.
"Makan makan dulu yuk sebelum pulang," Ajak Mira.
"Makan dimana?" Tanya Septia yang kini mengendarai motornya dibelakang Risda yang berboncengan dengan Mira.
"Warung mie ayam!" Seru Risda.
"Setuju!" Jawab mereka serempak.
"Gue tau tempat mie ayam yang paling lezat disini," Ucap Risda dan langsung menambah kecepatan laju motornya hingga dirinya berada dibarisan paling depan daripada yang lainnya.
Risda memimpin mereka untuk bergegas pergi dari tempat itu, dirinya pun melaju paling depan dari yang lainnya. Cukup lama perjalanan akhinya sampailah mereka disebuah warung yang ramai pembelinya, Risda lalu memarkirkan motornya diparkiran yang ada diarea warung tersebut.
"Apakah disini rasanya enak, Da? Tanya Mira.
"Enak banget, bahkan sering kehabisan." Jawab Risda.
"Benar kah?"
"Iya, gue sering beli disini sama Anna waktu sebelum latihan. Jadi ini salah satu warung yang gue sukai,"
"Baiklah ayo masuk,"
Risda dan yang lainnya pun masuk kedalam warung tersebut, mereka pun langsung memesan apa yang dijual disana. Risda juga telah memesan segelas minuman jus jeruk segar, sementara yang lainnya memesan es teh. Karena Risda tidak suka dengan teh, sehingga pesanannya berbeda dari yang lainnya itu.
"Gue masih ngak habis pikir, bisa bisanya dia ngusir kita seperti itu. Dia yang salah justru kita seperti yang disalahkan disini," Ucap Risda kepada teman temannya itu.
"Semakin lama kita disana, justru kita akan terpojok, Da. Gue juga sudah ngomong ke Nyokap gue tentang ini, katanya sih sudah biarkan saja ganjaran orang ngak tau kapan tibanya. Begitu, Da. Tapi gue masih ngak ikhlas,"
"Jika dibiarkan begitu saja, dia bakalan makin ngelunjak. Mungkin sekarang hp Nyokap lo yang dicuri, dulu aja yang kas sekarang hp Nyokap lo. Besok besok apa'an lagi ya?"
"Bisa bisa nyawa lo, Da. Harta yang berharga yang ada didiri lo itu kan cuma nyawa lo, lainnya kosong."
"Sialan lo!"
Tak beberapa lama kemudian, pesanan mereka telah selesai dibuat, dan mereka pun langsung menikmatinya. Mereka sedang berbincang bincang, akan tetapi tidak dengan Risda yang justru tengah sibuk untuk memakannya.
Makanan Risda itu pun habis paling cepat daripada yang lainnya, dirinya lalu segera meminum es jeruk hingga tandas tak tersisa.
"Kalian ini dari tadi ngomong terus, kapan habisnya coba?" Tanya Risda sambil menatap satu perstu wajah teman temannya itu.
"Tahun depan, Da. Makanlah yang banyak sebelum memakan makan makanan itu kembali dilarang,"
"Emang siapa yang ngelarang? Pak Presiden aja diem diem aja dari kemarsn kemaren,"
"Kali aja peraturan terbaru dari Pak presiden, kan gue juga harus nyetok didalam perut,"
"Ya elah, itu pun bakalan habis kalo lo sampai rumah, nanti juga bakalan lapar kan? Emang lo unta yang bisa menyimpan makanannya didalam perutnya?"
"Gue Nyokapnya unta tau, mangkanya gue paham tentang hal begonoan,*
"Heleh,"
Mereka pun kembali melanjutkan makannya ysng belom selesai itu, sementara Risda justu tengah sibuk dengan ponsel miliknya itu. Dirinya berharap adanya sebuah notifikasi sehingga ada teman yang bisa untuk diajak berteman.
"Lama banget sih kalian makannya? Kayak habis 5 tahun kagak makan aja,"
"Kalo 5 tahun lagi, kita bisa is dead doang. Jangankan sehari, beberapa jangan jam tidak makan saja perut udah minta untuk diisi, apalagi dalam waktu 5 tahun. Mungkin bisa bisa langsung dipendam didalam tanah,"
Mereka pun akhinya menghabiskan pesanan mereka. Setelah itu mereka segera bergegas menuju kerumah mereka masing mssing ketika jarum jam menunjukkan pukul 4 sore.
"Bener juga sih, kapan lo pintarnya?"
"Ngece lo?
__ADS_1