Pelatihku

Pelatihku
Episode 92


__ADS_3

Risda buru buru memasukkan buku bukunya kedalam tasnya, ketika jam sudah menunjukkan waktu pulang sekarang, dirinya pun langsung dengan sigap memasukkan semua barang yang dirinya punya.


Tanpa berpamitan dengan teman temannya, dirinya pun langsung bergegas untuk keluar dari kelasnya dengan terburu buru. Entah apa yang membuat gadis itu terlalu bersemangat untuk pulang, dan tidak seperti biasanya.


Bhukkk...


Karena dirinya berlari dengan tidak melihat jalan, hal itu langsung membuatnya menabrak seseorang yang ada dihadapannya saat ini. Risda rasanya seperti menabrak sebuah tembok yang cukup keras, hingga jidadnya terasa nyeri setelah menabraknya.


"Auhhh... Pusing kepala gue," Keluh Risda sambil mengusap usap kepalanya tanpa melihat siapa yang dirinya tabrak saat ini.


Meskipun dirinya mengeluh, akan tetapi orang yang ditabraknya itu tetap diam bahkan tidak mengeluarkan suara sama sekali. Risda masih melihat kearah bawah dimana sepasang kaki masih berdiri tegak dihadapannya, dirinya pun memberanikan diri untuk melihat siapa yang dirinya tabrak itu.


"Re... Re... Renzo," Ucapnya dengan terbata bata ketika melihat Afrenzo menatapnya dengan tajam, hal itu langsung membuat Risda meneguk ludahnya sendiri dengan susah payah.


"Punya mata ngak?" Tanya Afrenzo dengan dinginnya.


"Ada nih dua, lo bisa lihat kan? Kenapa masih nanya?" Tanya Risda dengan polosnya. "Tubuh lo keras banget sih, kek batu tau. Rasanya kepala gue bakalan benjolan deh,"


"Lebay."


"Hufffttt gue ngak ada waktu ngomong sama lo saat ini, babay gue mau pulang dulu. Lain kali gue ngak akan ngalah kalo mau debat sama lo, Renzo. Ingat ya?" Ucap Risda sambil berlalu pergi.


"Tumben?" Tanya Afrenzo heran dengan Risda yang saat ini begitu semangat untuk pulang kerumah.


"NYOKAP GUE PULANGGGG.....!!!" Teriak Risda dengan kerasnya sambil berlari menjauh dari Afrenzo.


Melihat kelakuan Risda itu, membuat Afrenzo hanya menggeleng gelengkan kepalanya. Dirinya pun tersenyum tipis sambil melihat Risda yang berlari menjauh darinya, melihat Risda bersemangat seperti itu membuatnya merasa senang.


Risda buru buru untuk pulang karena dirinya mendapatkan pesan dari Dewi, yang mengatakan bahwa dirinya saat ini pulang dan menunggu Risda didepan sekolahan tersebut. Dewi pulang dengan naik bus, sehingga untuk pergi kerumahnya dirinya menunggu anaknya pulang sekalian.


Risda langsung bergegas untuk keluar dari sekolahan itu setelah menaiki motornya, dirinya pun langsung bergegas meninggalkan sekolahan itu. Dirinya berhenti didepan sebuah warung yang berada didepan sekolahan itu, dirinya langsung menghampiri Ibunya dan langsung memeluknya dengan eratnya.


"Assalamualaikum, Bunda."


"Waalaikumussalam, gimana sekolahnya, Ris? Apakah semuanya lancar?" Tanya Dewi kepada anaknya.


"Lancar, Bun. Tumben kok sudah dibolehkan pulang sebelum 6 bulan? Bahkan ini masih 2 bulan," Tanya Risda dengan keheranan.


"Risda ngak mau Bunda pulang?" Tanya Dewi.


"Bukan begitu maksudku, Bun. Soalnya kan biasanya ngak dibolehin pulang sama Bos nya Bunda, kok tumben dibolehin?"


"Bosnya Bunda lagi keluar kota, jadi Bunda izin pulang eh dibolehin sama dia,"


"Ouhhh gitu ya, Bun? Baiklah ayo pulang,"


"Risda ngak mau beli apa apa dulu buat orang rumah? Mungkin cemilan atau apa gitu,"


"Boleh, Bun. Nanti ditoko makanan kita beli,"


Keduanya pun langsung naik keatas motor milik Risda itu, Risda yang mengendarai motor tersebut pun langsung menjalankan motornya menuju kearah rumahnya. Sebelum sampai dirumah, dirinya berhenti disebuah toko besar tempat jualan cemilan yang berbagai macam jenisnya.


Risda pun memilih beberapa cemilan yang dirinya sukai, sementara Dewi pun melakukan hal yang sama. Alhasil, sepedah itu pun kini tengah penuh dengan beberapa kantung plastik yang berisikan makanan, melihat itu hanya membuat Risda mengangguk kepalanya yang tidak gatal karena dirinya bingung harus naik motornya bagaimana jika bawaannya sebanyak itu.


"Biar Bunda aja yang nyetir," Ucap Dewi dan langsung mengambil kunci motor yang ada ditangan Risda.


"Baiklah," Jawab Risda dengan senangnya.

__ADS_1


Risda lalu naik keatas motor tersebut, lalu keduanya pun bergegas untuk menuju kerumah. Dugaan Risda benar benar terjadi, para tetangga yang hanya menjilat itu pun pada berdatangan kerumahnya setelah Ibunya pulang. Risda merasa tidak nyaman dengan kehadiran dari mereka, bukan karena tempat tinggalnya kini ramai orang, akan tetapi karena mereka datang hanya berpura pura sok baik didepan Ibunya itu.


Setelah sampai dirumah, waktu sudah menunjukkan pukul 4 sore, hal itu langsung membuat Risda segera bergegas untuk mandi tanpa memedulikan orang orang yang berdatangan kerumahnya. Sehabis mandi, dirinya langsung masuk kedalam kamarnya tanpa ikut nimbrung diruang tamu bersama dengan Ibunya.


"Da, kenapa didalam mulu? Keluar sana gabung sama yang lainnya didepan," Tanya Neneknya yang masuk kedalam kamar Risda, dirinya pun melihat Risda yang tengah memainkan sebuah game diponselnya.


"Risda capek, pengen istirahat saja, Nek. Lagian Risda juga ngak tau harus ngomong apa didepan," Jawab Risda tanpa menoleh kearah Neneknya itu.


"Kamu udah makan?"


"Belom, nanti aja sekalian sama Bunda, Nek."


"Baiklah."


Neneknya itu pun langsung bergegas pergi dari kamar Risda, Risda pun sepertinya tengah mengabaikan dirinya itu. Risda kembali fokus kepada game yang ada diponselnya itu, sebuah game plants vs zombie yang menurutnya sangat seru.


"Mending main ponsel, daripada harus bergabung dengan mereka yang hanya mengunggulkan diri sendiri tanpa introspeksi. Wajah wajah penjilat ya seperti itu," Guman Risda pelan sambil terus fokus kepada ponselnya.


Disaat Risda membutuhkan bantuan dari mereka, tidak ada yang mau untuk membantunya, bahkan dirinya harus berusaha sendiri dengan kemampuan yang dirinya bisa. Mengandalkan orang lain, hanyalah hal yang sia sia bagi Risda.


Hal itulah yang membuat Risda jarang sekali berinteraksi dengan para tetangganya yang hanya bisa mengomentari apa yang dirinya lakukan, bahkan dirinya pun selalu salah bagi para tetangganya itu.


Mereka sepertinya tidak ada habisnya untuk mengomentari apa yang dirinya lakukan, bahkan hal sekecil apapun itu mereka selalu membicarakan dirinya dibelakang. Risda pun akhirnya menutup dirinya sendiri untuk berinteraksi dengan sekitarnya, hal itulah yang membuat dirinya bahkan tidak mengenali tetangganya sendiri.


Risda sama sekali tidak mengenali mereka, bahkan ketika tetangganya meninggal pun dirinya tidak mengetahuinya. Justru dirinya tau ketika ada nasi kotak yang diantar dirumahnya untuk 7 harinya si almarhum, sebegitu tertutupnya kah dirinya itu?


"Da, kenapa didalam sendirian?"


Risda pun terkejut ketika mendengar suara Ibunya yang sudah berada didalam kamarnya, karena dirinya yang begitu fokus dengan ponselnya. Risda pun langsung mematikan ponselnya, dan duduk ditepi kasurnya untuk membiarkan Ibunya duduk disampingnya.


"Ngak papa kok, Bun. Risda lebih nyaman sendirian daripada kumpul dengan orang orang," Jawab Risda sambil tersenyum.


"Ngak tau, Risda ngerasa ngak enak aja gitu kalo gabung dengan lainnya. Mungkin karena usia Risda yang paling kecil diantara mereka pasti,"


"Ya sudah kalo begitu, cemilannya ngak dimakan? Nanti habis loh,"


"Nanti aja, Bun. Risda masih healing dengan main game,"


"Kalo begitu, Bunda keluar dulu ya? Nanti kalo pengen nyemil, kamu ambil sendiri diluar."


"Iya, Bun."


Risda pun kembali menyalakan ponselnya, dan melanjutkan main gamenya. Sementara Dewi langsung bergegas keluar dari kamar Risda, kamar Risda yang hanya bertutupkan dengan kelambu itu pun mudah untuk orang keluar masuk dari sana.


Risda sebenarnya ingin kamarnya dipasang pintu, agar dirinya merasa ada ruangan untuk privasinya sendiri. Akan tetapi, Indah menolaknya karena dirinya tidak mau kalo Risda sampai mengurung diri didalam kamarnya seperti dirinya dulu.


Waktu dulu, Indah mengurung diri didalam kamarnya tanpa makan dan minum. Indah ingin menikah dengan seorang pemuda yang menjadi Kakak kelasnya itu, Dewi sebenarnya tidak setuju karena usia Indah waktu itu masih 16 tahun, dia menginginkan anaknya untuk melanjutkan sekolahnya akan tetapi dirinya tidak mau.


Indah berhenti sekolah ketika dirinya duduk dibangku kelas 2 SMP, dirinya ingin menikah karena merasa jatuh cinta dengan seorang pemuda itu. Dirinya mengurung diri didalam kamarnya, dan sampai sampai harus didobrak oleh Dewi agar dirinya mau membuka pintu kamarnya itu.


Dewi pun menyuruhnya untuk pergi bekerja dan menyenangkan dirinya sendiri, Indah pun melakukannya sesuai dengan ucapan Ibunya, dan dirinya bekerja selama beberapa bulan saja. Merasa bahwa dirinya sudah punya uang, akhirnya dirinya pun menikah dengan orang yang menurutnya paling dicintainya.


Karena usianya yang kurang dari standar syarat nikah, akhinya dirinya membeli umur agar bisa menikah diusia dini. Jadi, ketika dirinya menginjak umur 17 tahun, dirinya sudah mempunyai 1 anak, sementara teman temannya masih sibuk bersekolah.


Ketika dinasehati Dewi, Indah selalu menjawab "Biar Risda saja yang Bunda besarkan sampai sekolah SMA, aku pengen nikah sekarang. Aku takut dia dimiliki orang lain," Begitulah jawabannya.


Bodoh! Pemikiran seperti itulah yang tidak perlu dipikirkan. Jika Allah ingin menyatukan dua hati, maka Bliau akan menggerakkan keduanya bukan salah satunya. Jodoh sudah ditentukan, meskipun kita genggam dengan erat jika bukan takdirnya maka akan terlepas juga. Begitupun sebalinya, meskipun kita biarkan dia terlepas, jika memang jodoh, maka dirinya akan kembali dengan sendirinya bagaimanapun caranya itu.

__ADS_1


Dengan sangat terpaksa, akhinya Dewi mau tidak mau pun langsung menikahkan anaknya itu. Sebenarnya, sangat disayangkan ketika usia dini sudah menikah seperti itu, karena setelah menikah tidak akan bisa bersenang senang kembali dengan teman seperjuangan, dan kebebasannya akan terenggut begitu saja.


Dewi tidak mau anaknya seperti itu, akan tetapi keputusan Indah sendiri yang membuatnya harus merelakan masa depan anaknya terenggut. Menikah bukan hanya setahun dan dua tahun saja, akan tetapi seumur hidup, mangkanya menikah itu disebut ibadah terlama yang ada.


Waktu pun menunjukkan pukul 9 malam, saat itu Dewi masuk kedalam kamar Risda untuk istirahat. Risda pun masuk kedalam pelukannya ketika ingin tidur, begitu nyaman jika dipeluk seperti itu oleh Ibunya.


Tak beberapa lama kemudian, Risda pun terlelap dalam tidurnya itu. Keduanya pun mulai bergelayut kedalam mimpinya masing masing, keduanya tidur dengan sangat nyamannya saat ini.


*****


"Risda mau beli sandal yang mana?"


Pagi ini Risda, Dewi, Indah beserta anaknya itu pergi ke pasar untuk berbelanja. Risda dihadapkan dengan beberapa model sandal yang ingin dirinya beli saat ini, Risda kebingungan harus milih yang mana karena semuanya terlihat bagus baginya.


"Risda bingung kalo soal beginian, Bun."


Jujur saja, karena Risda yang tidak tertarik dalam bidang fashion seperti wanita ada umumnya itu pun tidak mampu untuk membedakan mana yang bagus dan kurang bagus. Yang dirinya tau hanyala bentuk yang lucu dan imut jika dipakai olehnya.


Risda tidak terlalu suka berbelanja soal pakaian, alas kaki, tas, make up, bahkan pakaian dalam pun Ibunya yang ngatur bukan dirinya. Yang dirinya tau hanyalah memakainya saja, tanpa ingin tau bagaimana sulitnya untuk memilih mode yang cocok untuk dirinya.


Jika bukan Ibunya yang membelikannya baju atau yang lainnya, Risda akan memakai pakaian itu itu aja sampai warnanya berubah menjadi kusut.


Mengetahui bahwa anaknya kesulitan untuk memilih, akhirnya Dewi pun membantunya untuk memilih sandal yang cocok untuk anaknya itu. Pilih Dewi untuk Risda itu, sama sekali tidak ditolak oleh Risda, dan bagi Risda masalahnya kali ini telah selesai.


Cukup lama mereka memutari pasar tersebut, hingga membuat Risda merasa sangat pusing bahkan ingin sekali dirinya pulang dan tidur dengan nyenyaknya dirumah. Soal berbelanja, dirinya tidak menyukainya dan bahkan dia dianggap sebagai wanita aneh karena tidak suka dengan fashion.


"Bun, udah belom belanjanya? Risda capek," Keluh Risda sambil membawa beberapa kantung plastik ditangan kanan dan kirinya.


"Bentar lagi, Bunda masih lihat lihat nih," Jawab Dewi sambil melihat lihat pakaian yang dipajang disebuah lapak.


"Hoaaammmm.... Lama banget," Risda pun sampai menguap dengan lebarnya karena dirinya yang sudah mengantuk.


"Bentar lagi,"


"Bun, Risda lapar. Pengen makan sesuatu,"


"Risda mau apa?"


"Noh buah yang disana," Risda pun menunjuk kearah seseorang yang tengah membawa sekeranjang buah merah kecil yang terlihat begitu segar.


Buah strawberry adalah buah yang tidak boleh ketinggalan untuk dibeli ketika Risda pergi kepasar, buah itu adalah buah kesukaan dari Risda sejak kecil. Buahnya memang rasanya sangat asam, karena Risda suka yang asam asam sehingga buah tersebut terlihat segar baginya.


Soal makanan, jangan ditanya lagi, Risda lah jagonya untuk menghabiskan makanan. Risda memang kalau makan selalu banyak, akan tetapi tubuhnya sama sekali tidak bisa gemukkan dan terlihat seperti seorang yang kurang gizi.


Mungkin kondisi itu akibat dari dirinya yang sering stress karena hal hal yang membuat moodnya hancur. Risda yang selalu memikirkan kedepannya akan seperti apa pun membuatnya banyak kepikiran dengan hal hal yang seharusnya tidak dipikirkan itu.


Mereka pun lalu mendekat kearah penjual buah strawberry itu, dan Dewi pun membelikannya untuk anaknya itu. Setelah membeli, mereka pun bergegas untuk keluar pasar, dan masuk kedalam sebuah warung bakso yang berada dipinggir jalanan.


"Apa itu orangnya?" Tanya Dewi kepada Indah.


"Sepertinya iya, Bun. Kok jelek gitu sih, kek gosong," Jawab Indah.


"Kabur aja kabur,"


Risda yang memang kurang paham maksud dari keduanya itu pun tidak terlalu memperhatikan percakapan antara Ibu dan Kakaknya itu. Dirinya kini tengah fokus dengan makanannya yang sudah dipesan sebelumnya itu, dan sangat menikmatinya.


Tiba tiba seorang lelaki pun mendekat kearah mereka, dirinya pun terlihat sedang mengobrol dengan Dewi dengan begitu akrabnya. Awalnya Risda tidak peduli dengan mereka karana memilih fokus dengan baksonya, akan tetapi lelaki itu membuat perhatiannya tertuju kepada lelaki itu.

__ADS_1


"Om siapa?" Tanya Risda


"Dia...."


__ADS_2